Visual Ragata
.
.
Kedua telapak tangan besar yang kekar milik Pak Imanuel sedang sibuk membalutkan sehelai perban panjang di kedua tangan Aura yang terluka. Pak Imanuel terlihat cukup lihai saat melakukan pertolongan pertama untuk luka Aura, ya memang tidak terlalu parah tapi kelihaian Pak Imanuel cukup bisa membuat Aura terkesan.
Manik mata Aura sekarang tertuju pada visual wajah dan bentuk tubuh Pak Imanuel yang sangat seksi, dia dikenal sebagai dosen terganteng di kampus bergengsi ini. Tapi ketika memandang lelaki ini secara lebih dekat, membuat Aura sadar bahwa gelar itu memang pantas disandang oleh pria seperti Pak Imanuel.
Pembawaannya yang kelem dan tutur katanya yang lembut serta postur tubuh dan wajahnya yang sangat sempura, pasti membuat semua wanita mau menyerahkan segalanya untuk lelaki ini.
"Ku rasa kau harus pergi ke rumah sakit untuk merawat lukamu!" kata Pak Imanuel.
"Nggak usah Pak, saya baik-baik saja kok!" kata Aura sopan, Aura tak mungkin tak sopan pada dosennya.
"Kau yakin?" tanya Pak Imanuel lagi.
"Yakin Pak, yakin banget!" kata Aura.
"Ohhhh iyaaa! Apa Bapak tadi mencariku?" tanya Aura.
Aura jadi lupa tujuannya datang ke ruangan ini, karena Bayangan Hitam tadi yang telah mengalihkan perhatiannya. Serta visual Pak Imanuel yang tak wajar di depannya membuat otaknya sedikit bergeser ke arah kiri.
"Emmmm iya! Saya memang mencarimu!" kata Pak Imanuel.
Lelaki gagah itu telah selesai membalutkan perban di kedua telapak tangan Aura. Pak Imanuel berdiri dan berjalan ke arah mejanya dia mengambil sebuah kertas dan memberikannya pada gadis tomboy yang sekarang masih duduk di salah satu kursi di ruangan kantor Pak Imanuel itu.
Aura hanya memandangi kertas itu dengan seksama.
"Kau bisa membuat karya itu di pameran nanti!" kata Pak Imanuel.
Aura masih memperhatikan kertas itu, dia tak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh dosennya itu.
"Asal kau mau membantuku!" kata Pak Imanuel.
Aura segera mendongak memandang mata tajam yang indah milik Pak Imanuel, kedua mata Pak Imanuel juga tengah memandang Aura dengan sama tajamnya.
"Akhir-akhir ini saya selalu diganggu mahluk seperti tadi!" jelas Pak Imanuel.
"Maaf pak saya...!"
Belum sempat Aura melanjutkan perkataanya, Pak Imanuel segera menyela kalimat Aura.
"Kau bisa melakukan apa pun, asal mahluk itu pergi dari ku!" kata Pak Imanuel.
Dilihat dari ekspresi wajahnya, Pak Imanuel pasti sudah cukup lama diganggu mahluk bayangan tadi.
"Saya tak bisa Pak, tapi ayah saya mungkin bisa membantu Bapak!" kata Aura.
"Kau bisa membawa ayah mu ke sini?" tanya Pak Imanuel.
"Bisa, Pak!" kata Aura.
.
.
Aura berjalan gontai dengan wajah tertekuk lesu, dia kembali berteriak kesal dan mengacak-acak rambutnya yang hari ini tak dia ikat.
Kenapa dia menyodorkan ayahnya yang ilmu hitamnya tak bisa dipercaya, kenapa dia dengan begonya mengatakan ayahnya bisa melakukannya.
Semoga saja ayahnya kini tak membuat kesalahan dan membuatnya malu, Pak Imanuel itu dosennya. Harusnya Aura tak mengusulkan ayahnya untuk mengusir Mahluk Kiriman itu.
Di tengah pergulatan batin yang tak berfaedah itu, tanpa Aura sadari sebuah tangan kekar menariknya ke dalam sebuah ruangan. Aura bisa mengenali pria yang menariknya dari aroma tubuhnya.
"Lepaskan aku, Raga!!!" teriak Aura.
Raga segera membalik tubuhnya dan menempatkan telapak tangannya di mulut Aura dan tangan satunya sudah mendekap perut ramping Aura, lelaki itu terus menyeret Aura sampai ke dalam ruangan gelap di samping mereka.
"Ngapain elu di ruangan Pak Imanuel?" tanya Ragata dengan nada kasar yang tertahan.
Aura tak bisa bergerak karena lelaki yang sudah dia kenal selama 6 tahun ini masih menyumpal mulutnya dengan telapak tangannya, dan salah satu tangan kekar Ragata menekan bahu kanan Aura yang kecil ke arah dinding.
"Gue akan buka! tapi elu jangan teriak!" kata Ragata.
Tangan kekar itu perlahan menurunkan level tekanannya dan bergeser perlahan, tapi tubuh Aura masih ditekan oleh salah satu lengan Ragata.
"Bukan urusanmu!" kata Aura, matanya segera memerah karena dikuasai amarah.
"Gis! Gue sama sekali enggak tau apa yang terjadi sama Ratih, kenapa elu nggak mau percaya sama gue!" kata Ragata, nada bicara lelaki itu tampak terdengar sangat frustasi.
"Kenapa elu enggak dateng!!! Kenapa?! Jika malam itu elu mau datang nemuin Ratih, Ratih nggak akan mati!!!" kata Aura, dia mengatakan perkataannya itu dengan nada marah yang tertahan.
"Kenapa elu nggak mau peduli sama perasaan gue?!" Kata Ragata, dia melepaskan tubuh Aura, dan kini Ragata duduk di kursi yang tertanam di belakangnya.
Ruangan kelas kosong itu sangat sepi, tapi kini suara isakan tangisan Ragata memenuhi ruangan itu.
Aura yang menyaksikan emosi Ragata yang begitu meluap-luap cukup merasa tercengang. Pria yang dikenal paling kuat di jurusan seni kampus ini, Ragata yang tak bisa dikalahkan, Ragata yang tak punya rasa takut itu kini tengah menangis di depan matanya.
"Gue juga tersiksa karena kematian Ratih, tapi gue yakin elu lebih tersiksa!" kata Ragata.
"Gue harap elu bisa hidup tanpa bayangan Ratih lagi!" imbuh Ragata.
"Siapa lue, sok ngatur gue!" kata Aura, dia berusaha menyembunyikan suara paraunya. Gadis tomboy ini juga merasakan kesedihan yang sama di hatinya.
"Gue cowok yang sangat cinta sama elu! Tapi gue juga cowok yang selalu nyakitin elu,!" kata Ragata.
Lelaki itu berdiri dari kursinya dan kembali mendekat ke arah tubuh Aura yang masih bersandar di tembok.
Sebuah kecupan mesra telah mendarat di kening Aura, "Gue masih cinta sama elu Aura Magisna!" kata Ragata. Lelaki itu tak berani melakukan tindakan mesra lebih dari itu, dia tak mau gadis di depannya akan lebih membencinya.
"Jadi jangan ngelarang gue untuk nunjukin perasaan gue ke elu! Terserah elu mau suka ke gue apa enggak...yang gue tau gue suka sama elu!" jelas Ragata.
"Dan hindari Pak Imanuel, dia tak sebaik yang lu kira!" nasehat Ragata.
Lelaki bertubuh tinggi itu segera meninggalkan Aura, sendiri di tempat sepi itu membuat Aura terbawa suasana.
Matanya tak henti menitikan air mata, dan suara isakan tangisan keluar begitu saja dari dalam kerongkongannya. Tangis gadis tomboy itu semakin menjadi tak kala sebuah bayangan berputar di otaknya. Bayangan kenangan bahagia bersama sahabatnya Ratih.
Kenangan yang ingin Aura pendam, kekelaman yang ingin dia simpan. Luka itu kembali terkoyak tak kala manik matanya menemukan wajah Ragata Arkana di ospek mahasiswa baru 2 tahun yang lalu.
Mereka hanya saling berpandangan tanpa senyuman, mereka hanya saling tak menghiraukan ketika berpapasan. Hal itu membuat Aura tenang untuk sejenak dengan keberadaan Ragata di jurusannya.
Tapi kenapa hari ini Ragata ingin ikut campur lagi akan kelangsungan hidupnya, kenapa pria yang pernah Aura pacari secara diam-diam itu mengatakan masih mencintainya.
Mungkin kenyataan itu benar, bahwa Ragata masih mencintai Aura. Tapi sebuah kenyataan telah memutus perasaan mesra itu dari hati Aura. Sebuah kenyataan bahwa sidik jari Ragata dan teman-temannya ditemukan di mayat Ratih yang sudah tak bisa dikenali lagi.
Kenyataan yang membuat Aura menuduh Ragata sebagai pembunuh Ratih, meski Ragata dan teman-temannya telah dinyatakan tak bersalah oleh hakim. Tapi Aura masih menganggap Ragata adalah pembunuh Ratih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Ratih temen aura dibunuh? Apa ada hubungan dengan dosennya Pak Imanuel tentang kematian Ratih? Teka Teki dan penasaran betul🤔🙏
2024-11-19
0
aas
waduuuh ragatanya jang ki yong 😂 pilihan yg sulit 😂😂😂
2025-03-08
0