Tok tok tok
Ketukan pelan itu terdengar di telinga Utari yang sedang meneliti penampilannya pagi ini dari pantulan sebuah cermin yang cukup besar di depannya.
"Siapa?!" tanya gadis cantik itu.
Utari menebak bahwa itu hanyalah Erika, gadis pemandu karoke yang menyewa kamar di sebelah kamarnya.
Utari tanpa pikir panjang segera berjalan ke arah pintu dan memutar kunci berbahan besi kuningan yang masih menancap di lubangnya dengan jemari lentiknya. Tak lupa Utari juga menurunkan gagang pintu, wajahnya seketika langsung dipenuhi kebahagiaan.
"Ku pikir kau tak akan datang!?" kata Utari, dengan nada yang sopan tapi manja.
"Mana mungkin aku tak datang!" itu adalah suara serak yang berat seorang lelaki.
Seorang lelaki masuk ke dalam kamar kos Utari, dia segera memeluk tubuh ramping Utari dengan penuh cinta.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang!" desah lelaki itu pelan.
"Aku juga!" kata Utari.
Lelaki berpakaian rapi, dengan kemeja putih lengan panjang serta celana formal berwarna abu-abu berpotongan slim fit.
Lelaki bertubuh tinggi dan kekar itu perlahan mendorong tubuh Utari yang ramping ke arah dinding. Utari pun mendongak untuk menyambut kecupan-kecupan mesra bibir lelaki itu di wajah ayunya.
Semakin lama bibir lelaki itu semakin lincah menyusuri setiap senti bibir Utari, gerakannya semakin membuat Utari kehabisan nafas. Leher jenjang gadis sunda itu juga tak luput dari kenakalan sentuhan bibir lelaki itu.
Perjalanan rangsangan itu semakin ke bawah, dres abu-abu yang tadinya dikenakan Utari pun sudah melorot di bawah kakinya.
******* dan jeritan kenikmatan sudah menguasai desiran udara pagi ini di kamar kontrakan mungil Utari.
.
.
.
.
Aura berjalan santai menuju kampusnya dengan sepatu olahraga hitam, kaki jenjangnya terus menyusuri aspal jalanan. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan ekspresi semangat, dia sekarang seperti manusia di dalam pengawasan.
Tentu saja cuma ada satu hal yang tak disukai oleh Aura di dunia yang luas ini, diikuti oleh hantu meski yang mengikutinya kini adalah hantu yang berparas tampan.
Aura sangat kesal karena dia tak bisa menghabisi hantu yang kini tengah mengikutinya, dan Hantu Tampan itu sepertinya tak mau melepaskannya.
"Jadi kau seorang mahasiswi?" tanya Hantu Tampan pada Aura.
Karena sadar yang bertanya adalah hantu, Aura hanya diam dan tak menjawab pertanyaan receh Si Hantu Tampan. Dia terus meneruskan langkahnya dan berlagak tak peduli dengan mahluk tampan yang selalu mengikutinya kini.
"Kelihatannya kau sama sekali tak menyukaiku!?" Hantu Tampan ini terlihat cukup cerewet dan suka bercanda, meski tak dihiraukan oleh Aura dia tetap saja melontarkan pertanyaan pada gadis tomboy itu.
"Kau hanya perlu diam saat ku cium, saat ingatanku sudah kembali aku akan melepaskanmu!" kata hantu itu lagi.
Kini Aura sudah memasuki area kampusnya, dia dan Hantu Tampan dikagetkan dengan teriakkan Utari yang berada tak jauh di belakang mereka.
"Oyyyy, cinong!" pangil Utari pada Aura.
Aura segera berbalik, karena dia sudah ahli dalam membedakan suara hantu dan manusia.
"Cinong?! Apaan tuh?" tanya Aura pada Utari.
Gadis tomboy itu segera menyambut pelukan hangat dari Utari yang langsung memeluknya begitu saja.
"Jijik banget sih lu, Ut!!!" pekik Aura yang merasa jijik dengan tingkah absrut sahabatnya itu.
"Gue lagi heppy, Nong!" kata Utari, akhirnya dia melepas tubuh Aura.
"Jadi hari ini nama gue, Cinong?" tanya Aura.
"Iya!" senyuman meringis pun ditorehkan di wajah cantik Utari.
"Ok, asal elu bahagia!" kata Aura, dia sudah jengah untuk berdebat dengan mulut si Utari. Sebab kalau sedang berargumen, bahasa yang digunakan Utari suka campur aduk tak jelas. Antara bahasa Sunda dan Indonesia.
"Gue lagi nyusun persentasi buat minggu depan, elu udah punya ide belum?" tanya Utari pada Aura.
Mereka kini berjalan bergandengan dengan posisi Utari menggelayut mesra di lengan kiri Aura.
"Elu udah dapat temanya?" tanya Utari.
Aura tampak syok karena tak biasanya Utari si mahasiswi seni paling malas di jurusannya, sudah mendapat ide untuk karyanya.
"Cinta dan cemburu!" kata Utari dengan nada lantang.
"Klise banget!" protes Aura.
"Pokoknya gue mau buat yang berani!" imbuh Utari.
"Los Keun!" kata Aura masih stay dengan nada malasnya.
"Elu yakin belom ada ide?" tanya Utari.
"Gue mau buat sesuatu dengan logam rosokan,!" kata Aura.
"Yakin lu?" tanya Utari, dia tampak tak percaya jika sahabatnya itu akan membuat sesuatu yang baru.
"Kelihatannya menarik, tapi gue belum punya ide apa pun!" desah Aura.
"Mungkin kau terinspirasi karena ciuman ku!" kata si Hantu Tampan yang tiba-tiba nyeletuk di samping Aura.
Aura yang sudah sangat tersinggung pun mengarahkan bidikan matanya yang tajam ke arah Hantu Tampan, yang masih tersenyum mesum ke padanya.
"Elu harus pikirin, kalo elu terlambat lu nggak akan dapat asisten nanti!" kata Utari.
"Siapa?! Gue ngak dapat asisten!!! Kutukan macam itu? Nggak berlaku buat gue!" kata Aura dengan pedenya.
"Bener! Aura Magisna nggak dapat asisten itu cumak mitos!" timpal Utari.
Aura dan Utari pergi ke gedung lain, mereka harus mengikuti kelas yang mengharuskan mereka berada di ruangan normal seperti kelas mahasiswa pada umumnya. Aura dan Utari duduk di kursi yang berdekatan, dan Si Hantu Tampan dia tak ikut masuk. Sopan sekali dia tak mau menggangu kosentrasi Aura di dalam kelas.
"Kak Aura, saya Mahendra adik kelas kakak!" seorang lelaki bertubuh tinggi dengan wajah manis menjulurkan tangan kanannya ke arah Aura.
"Ohhhh!" kata Utari, yang segera menyambut uluran tangan pria muda itu.
"Ada urusan apa?" tanya Utari.
"Oyyyy Junior, keluar lu!" kata seorang pria lain yang duduk di kursi paling belakang ruangan itu.
Lelaki muda di hadapan Aura tampak memasang ekspresi wajah kesal, tapi dia tak akan berani melawan Ragata. Cowok paling tampan di jurusan seni dan paling berbakat serta paling suka huru-hara.
"Nanti aku temui kakak di ruangan kakak ya!" kata pria muda itu, sambil mendadakan telapak tangannya pada Aura.
"Berani lu muncul di kelas Aura, gue goreng lu bocil!!!" kata Ragata dengan nada tinggi, pria tampan itu sedang mengancam Juniornya.
Aura sama sekali nggak mengubris apa yang Ragata perdebatkan dengan Junior itu, dia terus berfikir untuk mencari ide untuk karyanya.
Pekerjaan barunya telah memecah kosentrasinya, Aura sama sekali tak bisa memikirkan karya apa pun sekarang.
.
.
"Ra, Ragata kayaknya suka dech sama elu!" kata Utari, mereka sedang duduk di meja kantin menikmati makan pertama mereka di siang hari ini.
"Si iblis itu!" celetuk Aura.
"Iblis?" tanya Utari, dia tak menyangka bahwa Aura akan sangat membenci Ragata yang berasal dari kota yang sama dengan Aura.
"Emang tu cowok jahat?" tanya Utari.
"Entah!"
"Kok elu panggil dia, Iblis?"
"Mulut gue, napa?"
"Ih... elu ngeselin!"
"Aura Magisna, emang punya bakat membuat semua orang kesel sama dia!" kata Ragata yang baru saja muncul, dan tiba-tiba duduk di sebelah Aura.
Cowok tampan itu menggeser salah satu kursi dan duduk menghadap ke Aura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Mungkin hantu taman itu belum mati, tapi dalam keadaan koma. Mungkin ingin mencari tahu penyebab dia koma itu dibikin orang atau sakit ya?🤔🙏👍
2024-11-19
0
Phoenix
kaya nya tuh Hantu cowok tampan bkn hantu.(orang meninggal) .tp semacam ruh/ sukma yg kluar dr tubuhnya yg lg koma,& gk bs pulang krna hlng ingatan...entah lah...Lanjutt...
2021-09-22
1