Dini hari setelah kejadian itu, Radit memberikan kejutan baru dalam mimpinya. Ia mengatakan bahwa batu besar yang seharusnya melewati planet Terra pada minggu besok ternyata tidak jadi. Hal ini dikarenakan para peneliti salah menghitung kecepatan laju batu besar. Benarkah begitu? Untuk ukuran peradaban maju yang sudah melakukan eksplorasi luar angkasa, kesalahan tersebut cukup aneh.
Tunggu, kenapa nama benda itu terus berganti? Batu besar, komet, dan asteroid? Benda tersebut sangat aneh, mirip seperti bongkahan batu super duper besar yang terlihat seperti asteroid namun juga mengeluarkan cahaya seperti komet. Buku awal ini tidak menjelaskan detail mengenai ini.
---
Kesampingkan hal itu. Waktu terus berlalu. Pada pagi hari, sekitar jam 7, semua anggota klub seni bela diri sudah terbangun dari tidurnya, begitu juga klub penolong. Leonardo membimbing mereka menuju ruang aula makanan yang besar. Semua tamu hotel dan apartemen berkumpul di sana untuk sarapan.
Di pagi hari itu, mereka semua berbincang satu sama lain.
"Wuih...! Hm... semua makanan di sini enak sekali!" ujar Fauzan sambil makan.
"Hei, bocah, berhentilah berbicara sembari makan," tegur Amelia.
"Tidak kusangka aku akan makan makanan mewah seperti ini," ujar Laras dengan mimik wajah sedikit terkejut.
"Ano... Radit?" tanya Hana, melihat Radit.
"Kenapa, Hana?" jawab Radit.
"Piringmu penuh sekali isinya. Apa kamu mengambil semua lauk pauknya?" tanya Hana yang melihat piring Radit yang penuh dengan makanan.
"Tidak semuanya kok, ada beberapa makanan yang tidak kusuka," jawab Radit sambil masih melirik beberapa makanan.
"Makanan kebanyakan tidak baik untuk perut, loh, Radit," ujar Hana.
"Hahaha... tidak apa kok. Mumpung makanan bintang lima ini sedang gratis, sayang jika tidak dicoba. Lalu kamu kenapa mengambil makanannya sedikit sekali? Nanti kamu lemas pas latihan kalau makannya sedikit begitu," ujar Radit.
Hana hanya tersenyum saja sambil melihat makanannya yang bingung bagaimana menjelaskan kepada Radit. "Khmm... Radit, pahamlah sedikit..." ujar Laras, menatap Radit.
"Paham?" tanya Radit, bingung.
"Hei, Radit! Kamu ini emang payah ya? Masa gitu aja gak tahu?" ujar Amelia.
"Hahaha... sudah-sudah, sepertinya teman kita satu ini memang kurang paham soal wanita," ujar Raka.
"Aku tidak mengerti maksud kalian apa?" tanya Radit.
"Ya, walaupun dijelaskan, pasti kau tidak akan mengerti. Lanjutkan saja makan," ujar Raka.
"Kalian ini berisik sekali ya, huh..." ujar Leonardo. Radit hanya kebingungan karena tidak bisa memahami maksud dari perkataan Raka.
Lalu, setelah menyelesaikan makan, Leonardo berdiri dari tempat duduknya. "Setelah makan dan berganti baju, menujulah ke lantai dasar. Setelah itu, kita akan pergi sekolah menggunakan bus yang telah disediakan," ujar Leonardo.
"Wah, gila, sekarang kita punya bus pribadi untuk pergi sekolah," ujar Fauzan yang kagum.
Beberapa perempuan dari anggota klub seni bela diri terpesona dengan kekayaan Leonardo. "Memang benar, aku harus menikahinya," ujar salah satu perempuan itu.
Amelia yang mendengar pujian-pujian ke arah Leonardo merasa tidak senang. "Cih, dasar perempuan matre," gumam Amelia.
"Kau bicara apa, Mel?" tanya Hana yang mendengar suara pelan tidak begitu jelas dari Amelia.
"Tidak ada. Hanya bicara sendiri," jawab Amelia dengan wajah mengkerut karena kesal.
---
Setelah menyelesaikan makanannya, para anggota klub kembali satu per satu ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap pergi sekolah. Setelah beberapa waktu, mereka semua sudah berkumpul di lantai bawah gedung dan menuju parkiran untuk menaiki bus yang telah disediakan Leonardo.
Karena anggotanya cukup banyak, bus yang disediakan terdapat dua buah, masing-masing berkapasitas 25 orang.
Semua anggota klub seni bela diri dan klub penolong berjumlah 48 orang. Mereka semua pergi ke sekolah menggunakan bus tersebut. Dalam perjalanan, mereka semua berbincang-bincang satu sama lain dan setelah beberapa waktu, mereka tiba di sekolah pukul 8.45 AM.
Sekolah tersebut masuk pada jam 09.00 AM. Jam istirahat pertama mulai dari pukul 11.55 AM sampai 00.25 PM, dan jam istirahat kedua dari jam 02.30 PM sampai 03.00 PM. Jam sekolah berakhir pada pukul 4.30 PM.
Waktu telah berlalu, dan mereka telah menyelesaikan sekolah mereka. Mereka langsung menuju bus yang dinaiki tadi pagi. Setelah mereka menaiki bus dan menuju penginapan, mereka semua pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat sejenak.
Selama perjalanan pulang di bus, Leonardo menginformasikan bahwa ketika mereka sampai di penginapan, mereka harus beristirahat untuk memulihkan tenaga untuk berlatih. Lalu, pada pukul 06.00 PM, Leonardo memberitahu untuk berkumpul di Aula Olahraga di lantai 24 dan juga memberikan instruksi untuk mengganti pakaian seni bela diri mereka di Aula tersebut saja.
---
Waktu berlalu, dan mereka semua sudah berkumpul di aula tersebut dan mulai mengganti pakaian mereka dengan pakaian seni bela diri. Untuk klub penolong, baju mereka dipinjamkan oleh klub seni bela diri.
Di dalam ruang ganti pria, Raka berkata, "Hei, Steven!"
Steven menoleh.
"Kau tidak ada niatan mengintip ruang ganti perempuan? Mereka ada di sebelah kita, loh. Lihat bagian atas ruangan, ada celah terbuka," ujar Raka sambil menyeringai. Para lelaki di dalam ruangan itu langsung melihat ke arah Raka.
"Jika kau mengintip, kau akan dibunuh oleh Amel, bro! Iya, bukan dia saja, mungkin semua perempuan di sana akan menjadikanmu samsak tinju," ujar Steven.
Leonardo menjawab, "Eh, si perempuan cerewet itu jika diintip pasti malu-malu seperti kucing," ujarnya.
"Ayolah kalian, di pikiran kalian hanya mengintip mulu," ujar Radit, berbicara seperti layaknya pria berwibawa.
"Hei, hei, Radit, kau ini gimana sih? Di samping kita ini adalah ruang ganti perempuan, surga dunia laki-laki. Di ruang sebelah ini adalah dunia yang belum dijelajahi oleh kita dan tersimpan harta yang sangat banyak di dalamnya. Masa insting laki-laki-mu tidak bergerak? Apakah kau bukan seorang pria?" ujar Raka.
Radit hanya terlihat sedikit kesal mendengar itu dan malas sekali menjawabnya.
"Hei, hei, Raka, tak usah diceramahi seperti itu. Dia memang begini, jika ada kesempatan dia hanya kaku saja," ujar Leonardo.
Raka pun diam sesaat dan berkata, "Ah, benar juga. Jadi ingat." Setelah beberapa menit, para lelaki selesai mengganti pakaian dan keluar.
Namun Radit dan beberapa laki-laki lainnya benar-benar ingin melihat isi ruangan sebelah. Karena celah ruang tersebut cukup tinggi, mereka pertama-tama mendengarkan pembicaraan dari ruang sebelah, dan ruang ganti laki-laki seketika sunyi.
Leonardo, Steven, dan beberapa laki-laki lainnya melihat Raka yang bertingkah aneh. "Aku tahu kau ingin mengintip, tapi tidak kusangka kau sangat bernafsu sekali," ujar Leonardo.
"Hei, diamlah, sini ikutan dengar!" bisik Raka dengan suara pelan. "Aku keluar saja. Aku masih ingin hidup," ujar Steven.
"Sini, ini benar-benar kedengaran suaranya mantap!" bisik Raka. Leonardo tiba-tiba mengikuti tingkah laku Raka. Steven dengan rasa penasarannya akhirnya ikut melakukan tindakan itu.
Suara-suara terdengar dari pemandian sebelah.
---
"Hei, punyamu semakin besar saja? Kau makan terus, ya?... Kulitmu halus sekali... Hei, kau sudah punya cowok? Haduh, di pinggangku terlihat ada lipatan lemak, huhu... Kemarin aku melihatmu dengan pacarmu di dalam masuk ke dalam bioskop. Kamu lakukan apa saja di dalam sana?... Hei, aku melihatmu waktu itu malam-malam di taman dengan pacarmu. Kamu melakukan hal aneh-aneh, ya?... Aku tidak melakukan apa pun di sana!... Hei, jangan sentuh bagian itu!... Tidak, ah..."
Suara-suara di dalam ruang ganti perempuan yang terdengar sampai ke ruang laki-laki.
---
"Aku selalu bingung, kenapa para wanita itu selalu lama berganti pakaian? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Dengan mendengar suaranya itu, pasti hal vulgar," ujar beberapa laki-laki dari klub bela diri.
Leonardo merasakan firasat buruk dan berkata sambil meninggalkan lokasi, "Oke, aku duluan." Raka, Steven, dan beberapa laki-laki dari klub seni bela diri yang masih ada di ruangan mulai semakin beringas. Mereka mulai saling menaiki pundak, membentuk tiang tinggi untuk dapat melihat ke sebelah.
Mendengar ucapan Raka, Radit dan Fauzan jadi ingin melakukannya juga. Ketika Radit dan Fauzan sudah masuk kembali ke dalam ruangan dan ingin ikut bergabung dengan laki-laki lainnya...
---
Di dalam ruang wanita, Laras berkata, "Aku mendengar suara di depan tembok ini." Seketika para wanita di dalam sedikit terdiam.
"Oho... sepertinya ada laki-laki yang ingin mati," ujar Amelia. Para wanita itu bergegas memakai pakaian.
Lalu Amelia dan perempuan lainnya yang segera pergi ke depan pintu ruang ganti laki-laki, lalu menendang pintu sekuat tenaga. Para laki-laki yang sedang mulai mengintip tersebut langsung melihat ke arah pintu dan berteriak, "Ah... cabul, kalian mengintip kami!" ujar para lelaki tersebut.
"WOI... harusnya itu yang kami ucapkan itu! Para perempuan, serbu mereka!" ujar Amelia sambil menatap Raka dan Steven.
Raka dan Steven hanya bisa menelan ludah dan berkata, "Terima kasih atas suara gaib hebatnya tadi."
Dengan tangan dikepal, para perempuan mulai meninju para laki-laki tersebut. Para laki-laki yang panik gara-gara perempuan mulai menuju ke mereka. Pondasi tangga saling injak bahu untuk membentuk tiang manusia yang tinggi akhirnya rubuh.
---
Lalu Amelia menatap ke Radit dan Fauzan. Fauzan refleks berbicara, "Ka... Ka... Kami tidak melakukannya kok, kami tadi sudah keluar dan kami masuk lagi untuk ambil sabuk kami, benarkan Radit?" ujar Fauzan dengan panik. Radit yang mendengar ucapan Fauzan langsung refleks mengangguk.
"Mana mungkin aku percaya dengan kalian yang berdiri di depan pintu ini saat kejadian," ujar Amelia, melihat wajah Radit dan Fauzan yang panik.
Setelah itu, para laki-laki yang ada di ruangan tersebut semuanya keluar dan mereka semua duduk dengan kepala menunduk.
---
"Amelia, Radit dan Fauzan sepertinya tidak ikut mengintip kok, aku percaya. Benarkan, Hana?" ujar Laras.
Wajah Radit dan Fauzan sesaat menjadi sangat bahagia karena mendapatkan pertolongan.
"Ya, Radit dan Fauzan tak akan ikut mengintip kita kok, tapi... mungkin!" ujar Hana.
Seketika hati Radit dan Fauzan remuk karena mendengar kata 'mungkin' dari Hana.
Amelia memandang Radit dan Fauzan dengan serius lalu berkata, "Baiklah, aku percaya. Beruntunglah kalian karena Hana dan Laras membela kalian," ujarnya.
Raut wajah Radit dan Fauzan terlihat tenang dan mereka menghela nafas lega.
Raka berbicara, "Amel, pria di sana tadi juga ikutan, loh!" sambil menunjuk Leonardo.
Saat itu, Leonardo mendengarnya, lalu cemas dan menengok ke belakang, berkata dalam hati, "SIAL, KAU RAKA!" ujar Leonardo. Raka pun menyeringai sambil berkata, "Nikmati neraka ini dengan kami juga."
Amelia dan beberapa perempuan lainnya yang mendengar itu menatap tajam ke Leonardo, dan pada akhirnya Leonardo pun juga ikut duduk.
Setelah itu, para perempuan langsung menceramahi mereka.
---
Para pelatih yang baru tiba melihat mereka mengatakan, "Dasar anak muda," ujar salah satu pelatih yang bekerja di keluarga Leonardo.
Lalu, setelah itu, mereka melakukan kegiatan latihan bela diri.
Kegiatan klub terus berulang hingga minggu berikut. Waktu berlalu dan sudah tidak terasa satu minggu telah berlalu untuk menolong klub seni bela diri yang bermasalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Youngman
Mantap
2022-12-12
9
anan
semangat💪💪💐
2022-12-08
9