Radit yang tiba-tiba kehilangan kesadaran membuat teman-temannya bingung dan panik. Di ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah) sekolah, Radit terbaring tidur. Jam 3 sore, Radit terbangun dan bingung tentang apa yang telah terjadi dengan dirinya.
Radit menatap sekitar ruangan, lalu sadar bahwa dirinya berada di ruang UKS. Saat itu, pintu ruangan UKS terbuka dan muncullah Raka, Leonardo, dan Laras mendekati Radit.
---
“Radit, kamu sudah bangun,” ujar Raka.
“Syukurlah kau sudah sadar diri,” ujar Laras. “Owh, si gila ini sudah sadar rupanya. Hari pertama masuk dan langsung pingsan lagi,” ujar Leonardo.
“Kau ini kenapa sih? Apakah masih ada yang sakit? Perlu kita hubungi Dokter George lagi?” ujar Laras dengan muka bingung. Raka dan Leonardo menatap Radit dengan tatapan serius.
“Ah, tidak apa-apa, hanya saja kepalaku sangat sakit dan aku seperti berusaha mengingat sesuatu tapi tidak bisa,” ujar Radit.
“Memangnya apa yang kau ingat?” ujar Laras.
“Tidak tahu, aku hanya seperti melihat potongan ingatan saja. Semakin aku ingat, semakin sakit rasanya di kepala,” ujar Radit dengan nada heran.
“Sebaiknya memang harus panggil Dokter George,” ujar Raka sambil mengirim pesan ke Dokter George untuk membuat janji pertemuan.
“Jangan, Raka, mungkin dia sedang sibuk,” ujar Radit.
"Terlambat, aku sudah mengirim pesannya," ujar Raka. Beberapa detik kemudian, suara pesan masuk terdengar di smartphone Raka.
"Nah, langsung dibalas, sepertinya dia tidak sibuk. Aku lihat isi pesannya (membaca pesan)... dia mengatakan bisa untuk malam ini. Jadi sekarang ayo kita pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi lagi," ujar Raka.
Radit, Raka, Laras, dan Hana pergi ke rumah sakit. Setibanya mereka, langsung menuju ruang konsultasi Dokter George.
"Jadi, kau pingsan lagi?" ujar Dokter George.
"Apa!? Kenapa Dokter bisa tahu?" ujar Radit terkejut.
"Kau tahu, aku memiliki kekuatan super yang terpendam, loh, hehehe..." ujar Dokter George sambil menyeringai.
"Eh...!?" ujar Radit bingung.
"Hiya...hiya...hiya... Radit, dia sudah kuberitahu lewat pesan," ujar Raka.
Dokter George tertawa dan Radit terlihat kesal dengan tingkah Dokter.
"Ada apa dengan laki-laki ini," ujar Laras.
"Ah... entahlah," ujar Hana.
Setelah itu, Dokter George memulai kembali percakapan yang serius. "Ok, jadi kau pingsan lagi. Apa ada yang sakit? Kepala? Badan? Atau lainnya?" ujar Dokter George.
"Itu di kepala. Kepalaku sangat sakit sekali," ujar Radit.
"Hm..." Dokter George memegang kepala Radit dan menekannya secara perlahan-lahan dan hati-hati.
"Apakah ada yang sakit ketika saya tekan begini?" ujar Dokter George.
Radit pun menggelengkan kepala karena tidak ada yang terasa sakit ketika dipegang kepalanya oleh Dokter George.
"Coba kita ke ruangan sebelah untuk lakukan CT scan," kata Dokter George. Mereka semua pun pindah ke ruangan sebelah untuk memindai otak.
Setelah melakukan CT scan, Dokter pun bingung dan sepertinya biasa saja. "Hasil dari pemindaian otak ini sepertinya tidak ada masalah, semuanya terlihat normal. Hm... apakah sebelum pingsan kamu melakukan aktivitas berat?" tanya Dokter George.
"Tidak," ujar Radit dan Dokter George bingung.
"Ah... sebelumnya dia pingsan, kamu sempat menonton televisi di ruang klub," ujar Laras.
"Televisi? Lalu dia pingsan menonton suatu acara?" ujar Dokter George.
"Hm... tidak tahu," ujar Laras.
"Ah... saat kami menonton televisi, kami juga membahasnya, dan setelah itu Radit juga bilang kalau dia seperti melihat potongan ingatan begitu, Dokter," ujar Hana.
"Acara apa memangnya?" ujar Dokter George.
"Ah, itu hanya... sebuah berita tentang kasus pembunuhan, korupsi, dan lain-lain," ujar Raka.
"Hm... trauma kah? Atau lainnya?" ujar Dokter George sambil berpikir.
"Hm... aku tidak tahu bagaimana aku akan berikan obat nyeri dan penenang ini. Makan ini bila kepalamu sakit kembali dan bila pingsan, hubungi aku lagi," ujar Dokter George sambil menulis resep obat.
"Baik, Dokter, terima kasih," ujar Radit.
Setelah mengambil obat dan membayarnya, mereka semua kembali ke rumah masing-masing.
Selama perjalanan menuju stasiun KRL, suasana pun hening, tidak ada yang memulai percakapan. Disaat keadaan hening, Radit memulai pembicaraan lagi.
Dia mengungkap mimpinya ketika dia tidak sadar yang tidak dia sebutkan ke Dokter George.
“Hei… saat aku tak sadarkan diri, aku bermimpi aneh,” ujar Radit.
“Mimpi aneh? Ah... kenapa kau tidak bilang juga ke dokter tadi?” ujar Raka yang marah.
"Ah... itu sedikit memalukan dan rasanya percaya terhadap mimpi dan bilang ke dokter untuk alasan sakit kepala," ujar Radit.
"Yah... walau masuk akal dan aneh, tapi itu membuatku kesal. Jadi, mimpi apa itu?" ujar Raka.
“Mimpi seperti nyata. Aku bermimpi kalau nanti besok, guru matematika kita akan memberi PR sebanyak 15 nomor,” ujar Radit sambil melihat Raka dan Leonardo.
“Ah... setelah pingsan lalu bangun, tiba-tiba meramal masa depan melalui mimpi, hebat sekali,” ujar Laras.
"Kamu baik-baik saja, Radit? Sepertinya kamu perlu banyak istirahat. Sesampainya di rumah, kamu tidur ya," ujar Hana yang khawatir.
"Tidur ya... tapi semua soal tugas sekolahku (PR), bagaimana?" ujar Radit yang merenungkan diri.
Hana pun membuka tasnya dan memberikan buku hasil tugas soal yang telah dikerjakan. "Ini kuberikan padamu untuk kali ini saja," ujar Hana tersenyum ke Radit.
"Sial, dia manis sekali. Kalau rambutnya panjang, dia semakin cantik. Apa dia ras malaikat?" ujar Radit melihat Hana yang membuatnya terpesona dengan suara pelan.
Raka dan Laras yang mendengar suara pelannya dan melihatnya berkata, "Dasar bucin."
---
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Malam pun berlalu, Radit terbangun. Seperti kegiatan orang umumnya, dia membersihkan kamarnya, lalu dirinya, setelah itu makan bersama keluarganya, dan baru setelah itu pergi berangkat sekolah.
Sesampainya di sekolah, kawan-kawan Radit yang telah datang lebih dulu telah berkumpul di mejanya, lalu Radit menuju ke sana.
“Hei-hei, ada apa ini? Ramai-ramai tumben sekali,” ujar Radit dengan bingung.
“Kau sudah baik, kan? Apakah sehat-sehat saja?” ujar Amelia.
“Ah santai, aku baik-baik saja,” ujar Radit.
“Hei bro, jadi malam kemarin kau bermimpi indah? Pasti kau bermimpi 'anuan' dengan dia, bukan?" ujar Leonardo melirik Hana.
Hana yang mendengarkan lalu berpikir sejenak dan tiba-tiba dia mengerti ucapannya dan tersipu malu.
"Mau kupukul, dasar mesum!" ujar Amelia.
"Eh... kenapa aku yang salah jadinya?" ujar Leonardo.
"Hei Leo, hentikan, jangan menggunakan kata 'anu, anu', itu kata yang mengandung seribu arti,” ujar Raka menenangkan suasana.
"Oh iya, kemarin kamu bercerita tentang mimpi aneh, bisa kamu ceritakan lagi?" ujar Laras.
“Eh, mimpi? Apa itu, cepat dong, ceritain, nanti keburu datang nih gurunya,” ujar Amelia yang gelisah.
“Ok, ok, tenanglah kalian. Saya seperti diinterogasi saja. Lagi pula, kenapa kalian penasaran sekali dengan mimpi, itu kan hanya…” ujar Radit yang belum selesai perkataannya dipotong oleh Amelia, “Buruan!”
“Ok, ok, kamu tidak perlu teriak-teriak seperti itu,” ujar Radit dengan nada meledek dan melanjutkan, "Kemarin aku sudah mengatakannya pada Raka, Hana, dan Laras tentang mimpi ketika aku pingsan. Aku bermimpi kalau hari ini, guru matematika kita akan memberi PR sebanyak 15 nomor," ujar Radit sedikit serius.
“Oh, hm... keren sekali sampai bisa memimpikan guru matematika yang seksi itu dan memberikan tugas yang banyak. Kau tipe orang yang suka disiksa ya... selera-mu bagus juga,” ujar Leonardo yang serius.
Laras dan Amelia langsung memukul kepala Leonardo karena kesal dengan tingkahnya. Radit yang melihat itu bingung harus berkata apa dan menatap Hana.
Hana pun melihat Radit dengan tatapan malu-malu. "Kamu suka yang begituan ya, Radit?" ujar Hana dengan suara pelan yang malu-malu.
Radit yang melihat dan mendengar Hana mengucapkan itu langsung terkena serangan kritis di hatinya dan memperlihatkan muka yang sedikit mesum karena memikirkan ucapan Leonardo.
Radit terhenti menghayal karena merasakan ancaman bahaya dari Amelia dan Laras. "Mau ganti kita pukul?" ujar Amelia dan Laras.
Radit pun langsung menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak terima kasih. Aku tidak mau masuk rumah sakit lagi," ujar Radit.
"Jadi hanya itu yang kamu mimpikan?" ujar Raka untuk melanjutkan cerita yang dibahas.
"Ya, itu saja, tapi tadi malam aku juga bermimpi lagi dan itu seperti aku sudah pernah melaluinya kemarin.
Aku tidak begitu ingat tentang mimpi itu, namun dalam mimpi itu nanti ada anak baru yang akan mendaftar di klub kita saat jam istirahat,” ujar Radit dengan serius. Suasana menjadi tegang.
“Jadi, ada anak baru nanti di klub kita. Lalu, dia itu laki-laki atau perempuan, dan jam istirahat ke 1 atau ke 2 dia datang?” ujar Leonardo dengan penasaran.
“Aku tidak begitu tahu, tapi sepertinya laki-laki dan perempuan,” ujar Radit.
“Woah... jadi penasaran aku,” ujar Hana.
“Ya, sama, aku juga penasaran. Siapa ya orang itu, apa dia seangkatan dengan kita, atau senior, atau adik kelas kita?” ujar Laras.
“Tidak usah terlalu berharap, kita belum pasti itu benar atau tidak,” ujar Raka.
“Tidak sadar diri, kamu sendiri serius sekali menanggapinya,” ujar Amelia.
“Hahaha… aku sedikit tertarik. Jika itu adalah kenyataan nanti, pasti keren sekali, bukan, Amel?” ujar Raka.
“Iya sih, keren. Aku juga penasaran,” ujar Amelia.
“Semoga semua itu tidak nyata,” ujar Radit dengan berharap.
Jam pertama pun dimulai. Laras dan Amelia kembali ke kelasnya. Lalu tiba waktunya istirahat jam pertama. Semua berkumpul di klub, lalu membersihkan ruangan dan mempersiapkan cemilan untuk anggota baru nanti. Setelah selesai, mereka duduk dan menunggu dengan penasaran. Selang beberapa menit, pintu ruang klub terbuka, dan arah mata mereka semua langsung tertuju ke pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
范妮·廉姆
lanjut kak .
2023-01-04
8