"Nawala?
Dari Patih Kadiri? Jadi kalian orang-orang istana Kadiri?", tanya Tumenggung Jaran Gandi sambil menatap seksama rombongan Arya Pethak yang ada di depannya.
"Benar Gusti Tumenggung.
Kami memang utusan dari Gusti Patih Pranaraja untuk menghadap pada Gusti Adipati Lembu Panoleh di Kurawan", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kalian ikut bergabung dengan rombongan kami ke Kurawan. Semakin banyak orang, semakin kecil pula bahaya yang mungkin menghadang.
Kalian tau, situasi di Kurawan saat ini tengah keruh karena ulah kelompok pengacau Kelabang Ireng. Mereka merampok beberapa pedagang yang melintas di wilayah Kurawan. Akibatnya para pedagang memilih untuk menghindari masuk ke wilayah kami karena menganggap wilayah Kurawan berbahaya", ujar Tumenggung Jaran Gandi sambil menghela nafas panjang.
Pikiran lelaki bertubuh gempal dengan jambang lebat itu menerawang jauh. Sementara itu Arya Pethak menoleh ke arah Sekarwangi alias Si Ragil Kuning seakan meminta persetujuan dari putri Patih Kadiri itu. Saat Sekarwangi mengangguk, Arya Pethak tersenyum simpul.
"Terimakasih atas tawaran Gusti Tumenggung. Kami akan patuh pada ucapan Gusti Tumenggung Jaran Gandi untuk bergabung bersama", ucap Arya Pethak yang membuat Tumenggung Jaran Gandi manggut-manggut senang.
Malam semakin larut. Suara lolongan serigala hutan semakin menambah suasana sepi yang menakutkan di hutan kecil tempat Arya Pethak dan kawan-kawan menghabiskan malam bersama para prajurit Kadipaten Kurawan.
Pagi menjelang tiba di kawasan hutan kecil itu dengan mendung tebal menggelayut di langit. Sinar matahari pagi perlahan mulai menembus sela sela mendung untuk menghangatkan seisi bumi. Meski begitu, suara kokok ayam hutan terdengar bersahutan dari dalam hutan. Burung burung berkicau riuh di ranting ranting pohon semakin menambah suasana ceria.
Klungsur nampak sibuk mengikat buntalan kain berisi bekal perjalanan nya. Satu buntalan kain yang lebih kecil sudah terikat di punggungnya.
"Ndoro Pethak,
Kita jadi ikut bergabung dengan rombongan orang orang Kurawan itu?", tanya Klungsur sambil mengikat kuat buntalan perbekalan nya ke pelana kuda tunggangan nya.
"Ya jadi Sur,
Kita kan memang bertujuan untuk sampai di Kurawan. Lebih aman jika bersama mereka", jawab Arya Pethak sambil memeriksa keadaan pelana kuda tunggangan nya.
"Saya sih tidak masalah Ndoro, cuma saya tidak suka dengan si bekel prajurit itu.
Lagaknya sok bangsawan saja padahal sama gedibal nya seperti saya", ucap Klungsur sambil mencebikkan bibirnya ke arah Bekel Menjangan Kalung yang tengah berkacak pinggang menunggu prajurit nya membenarkan pelana kuda tunggangan nya yang berwarna coklat kehitaman itu.
"Sudahlah Sur,
Semua orang punya tabiat sendiri sendiri. Orang lain tidak akan selalu bisa bersikap sama seperti kita. Mereka semua punya nalar dan pemikiran yang berbeda. Tidak semua bisa menyukai tindak tanduk kita Sur..
Contoh nya sederhana. Meskipun kamu baik dan lugu tapi tidak semua orang suka dengan sikapmu yang apa adanya bukan? Nah karena itu, asal tidak merugikan hidup mu ya biarkan saja Sur", tutur Arya Pethak sambil tersenyum tipis dan geleng geleng kepala mendengar penuturan Klungsur yang lugu dan polos.
Setelah persiapan untuk melanjutkan perjalanan selesai, Arya Pethak dan kawan-kawan mengikuti rombongan Tumenggung Jaran Gandi menuju ke arah kota Kadipaten Kurawan.
Usai melintasi jalan setapak yang memotong hutan kecil itu, rombongan itu sampai di sebuah desa kecil di perbatasan antara Pakuwon Kacir dan Pakuwon Binangun yang masuk wilayah Kadipaten Kurawan.
Saat memasuki desa kecil yang bernama Desa Karangan itu, seorang jagabaya dan beberapa anak buah nya yang berjaga di pintu masuk desa langsung mencegat rombongan Tumenggung Jaran Gandi.
"Maaf Kisanak sekalian,
Setiap orang yang keluar masuk Desa Karangan ini harus di periksa. Itu aturan dari Lurah kami.
Kalau boleh tau, siapa kisanak ini? Dan mau apa melewati jalan desa kami?", tanya si jagabaya dengan tegas. Pandangan pria bertubuh gempal dengan kumis tipis itu menyelidik pada seluruh orang di rombongan itu.
Bekel Menjangan Kalung segera melompat turun dari kudanya dan mendekati jagabaya.
"Aku Menjangan Kalung, bekel prajurit Kadipaten Kurawan. Yang diatas kuda itu adalah junjungan ku, Tumenggung Jaran Gandi dari Kurawan.
Kami dalam perjalanan pulang ke Kurawan. Apa ada lagi yang perlu kau ketahui?", ujar Bekel Menjangan Kalung dengan angkuhnya.
Mendengar jawaban itu, Jabatan Desa Karangan segera berjongkok dan menyembah pada Tumenggung Jaran Gandi.
"Ampun beribu ampun Gusti Bekel..
Mohon maaf atas kelancangan hamba. Kami hanya menjalankan tugas dari Ki Lurah", ucap Jagabaya yang langsung ketakutan.
"Antarkan kami ke tempat Lurah mu, Jagabaya.
Aku ingin bertamu ke rumah nya", ujar Tumenggung Jaran Gandi yang segera membuat Jagabaya Desa Karangan itu segera berdiri kemudian menjadi petunjuk jalan ke arah rumah Lurah Karangan.
Rombongan itu disambut oleh Lurah Desa Karangan dengan penuh sukacita. Pria sepuh itu begitu gembira dengan kedatangan para prajurit Kadipaten Kurawan.
Di rumah Ki Lurah Tondowongso, segera hidangan sederhana tersaji di depan para tamu. Singkong rebus, pisang rebus dan kendi air minum menjadi hidangan pembuka untuk para tamu yang hadir disana.
Sementara di dapur, Nyi Lurah dan beberapa pembantu nya menyiapkan aneka masakan untuk para tamu. Beberapa orang sudah memotong ayam yang rencananya akan di jadikan sebagai hidangan istimewa. Termasuk putri Lurah Tondowongso yang bernama Rara Saraswati. Gadis cantik yang baru menginjak usia remaja itu terlihat bersemangat membantu menyiapkan makanan.
Sambil menunggu makanan di siapkan, Ki Lurah Tondowongso bercakap cakap dengan Tumenggung Jaran Gandi di balai desa Karangan.
"Kami bersyukur sekali dengan kedatangan Gusti Tumenggung beserta rombongan ke tempat kami.
Desa kecil kami sedang tertimpa masalah Gusti Tumenggung", ujar Ki Lurah Tondowongso seraya mengelus jenggotnya yang mulai memutih.
"Masalah apa, Ki Lurah? Bilang saja terus terang pada ku", ucap Tumenggung Jaran Gandi segera. Pria berkumis tebal dan jambang lebat itu terlihat penasaran dengan omongan Ki Lurah Tondowongso.
"Begini Gusti Tumenggung,
Selama sepekan lebih terakhir, desa kami kedatangan hantu yang mengganggu ketentraman hati masyarakat desa ini. Jika malam hari tiba, para penduduk tidak ada yang berani keluar rumah karena takut menjadi korban selanjutnya", ujar Ki Lurah Tondowongso sambil menghela nafas berat.
"Hantu?
Hantu apa yang muncul di desa ini, Ki Lurah?", tanya Tumenggung Jaran Gandi semakin penasaran dengan apa yang di ceritakan oleh pemimpin Desa Karangan itu.
"Menurut orang yang pernah melihat nya, hantu ini berwujud mahkluk hitam dengan wajah menyeramkan dengan tanduk besar dan mata merah. Dia terbang dan bergerak cepat bagai kilat.
Dua belas warga Desa Karangan ini sudah menjadi korban keganasan hantu itu Gusti Tumenggung. Mereka di bunuh hantu itu karena berani menantang nya", cerita Ki Lurah Tondowongso seraya menatap jauh ke langit biru di luar balai desa.
"Kalau begitu, malam ini aku akan bermalam di tempat ini Lurah Tondowongso. Aku ingin melihat kebenaran omongan mu mengenai hantu yang meresahkan masyarakat Desa Karangan ini", ujar Tumenggung Jaran Gandi sambil menyeruput secangkir wedang gula aren yang tersaji di depan nya.
"Tondowongso menghaturkan beribu terimakasih atas kesediaan Gusti Tumenggung Jaran Gandi menyelesaikan keresahan masyarakat Desa Karangan ini.
Mohon maaf sudah merepotkan Gusti Tumenggung", Ki Lurah Tondowongso tersenyum simpul seraya menghormat pada Tumenggung Jaran Gandi.
Menjelang tengah hari, aneka masakan yang di olah para abdi Lurah Desa Karangan sudah selesai. Para pelayan segera menyajikan aneka masakan itu ke hadapan rombongan pasukan Kurawan beserta rombongan Arya Pethak.
Hadirnya seorang gadis remaja cantik dalam menghidangkan makanan membuat mata para prajurit Kurawan nyaris tak berkedip tak terkecuali Klungsur dan Gajah Wiru. Hanya Arya Pethak saja yang seolah tak peduli dengan kehadiran Rara Saraswati di tempat itu.
"Cantik sekali ya Ndoro Pethak,
Coba saja perempuan secantik itu jadi istri ku. Bakalan betah aku di rumah", bisik Klungsur pada Arya Pethak.
"Jaga mulut mu Sur,
Kita ini sedang bertamu di rumah orang", Arya Pethak mengingatkan Klungsur. Namun dasar Klungsur, di ingatkan malah semakin keras omongannya. Arya Pethak dengan cepat menginjak jempol kaki Klungsur.
"Tapi kan benar Ndoro Pethak, kalau perempuan itu.... Waaadddduuuhhhh!!!", Klungsur yang hendak mengoceh tentang perempuan itu langsung menjerit membuat semua orang di dalam balai Desa Karangan itu menatap ke arah nya. Segera Arya Pethak membekap mulutnya. Lantas meminta maaf kepada semua orang karena telah mengganggu mereka.
Siang itu mereka makan enak karena masakan orang orang Desa Karangan itu sangat terkenal di kalangan sekitar Pakuwon Binangun.
Menjelang sore, Arya Pethak memutuskan untuk berjalan sekitar desa untuk mengusir bosan. Klungsur mengikuti langkah sang putra angkat Mpu Prawira itu menyusuri jalan jalan kecil di desa itu.
Saat hendak kembali ke rumah Ki Lurah Tondowongso, mata Arya Pethak tertegun sejenak menatap sosok Rara Saraswati yang tengah membagikan makanan kepada para warga desa yang hidupnya kekurangan.
Klungsur yang tidak melihat Arya Pethak berhenti di depan nya langsung menabrak tubuh lelaki itu. Akibatnya dia jatuh terjengkang.
"Aduuuuhhhh Ndoro Pethak,
Kalau berhenti ngomong dong. Ini lihat bokong ku jadi sakit", keluh Klungsur sambil berusaha berdiri dari tempat jatuhnya. Pria bogel itu mengelus bokongnya yang sakit.
"Sssssttttttttt diam kau Sur", perintah Arya Pethak sambil meletakan jari telunjuknya ke bibir pertanda dia melarang Klungsur untuk bersuara keras.
"Eh Ndoro Pethak lihat apa sih?", imbuh Klungsur yang penasaran dengan hal yang mengundang perhatian Arya Pethak.
Pendekar muda dari Bukit Kahayunan itu tidak menjawab melainkan menunjuk ke sebuah rumah reyot yang mana Rara Wulandari tengah membagikan makanan.
"Huuuu....
Tadi tidak tertarik, sekarang eh malah melotot memandang anak Lurah itu. Dasar tidak setia", omel Klungsur yang langsung di bekap mulutnya oleh Arya Pethak karena tiba-tiba Rara Saraswati menoleh ke arah nya. Buru buru Arya Pethak menarik Klungsur untuk bersembunyi dibalik pagar pohon perdu.
Mereka segera bergegas pergi kembali ke rumah Lurah Desa Karangan karena langit barat telah memerah pertanda malam akan segera tiba.
Saat malam mulai menutupi wilayah Desa Karangan, suasana di desa itu langsung berubah menjadi sunyi. Seluruh warga desa buru buru menutup pintu rumah dan jendela. Jalan desa terasa lengang, seperti desa mati.
Di rumah Ki Lurah Tondowongso, Tumenggung Jaran Gandi memerintahkan kepada para prajurit dan Bekel Menjangan Kalung untuk meronda bersama malam hari itu. Dia begitu penasaran dengan hantu yang menakuti warga.
Untung saja malam itu hujan tidak turun meski di langit nampak mendung tebal menggantung. Bulan sabit terlihat di langit barat seperti mata yang mengawasi seisi mayapada.
Perlahan pasukan Kadipaten Kurawan bergerak meninggalkan rumah Ki Lurah Tondowongso untuk meronda keliling desa.
Suasana desa begitu sunyi. Hanya terdengar suara bunyi jangkrik dan belalang yang terdengar.
Saat sampai di ujung desa, tiba-tiba saja terdengar suara lolongan serigala yang membuat bulu kuduk para peronda berdiri tegak. Semilir angin yang berhembus perlahan membuat para prajurit Kadipaten Kurawan yang diikuti oleh Arya Pethak, Gajah Wiru dan Klungsur ciut nyalinya.
Tiba-tiba...
Sebuah bayangan berkelebat di hadapan para prajurit Kadipaten Kurawan membuat kaget semua orang. Lalu dengan cepat bayangan menghilang di pohon besar di salah satu sudut jalan.
"Setan alas!
Tunjukkan wujud mu, jangan cuma bersembunyi", maki Bekel Menjangan Kalung yang sudah mencabut keris pusaka nya.
Seketika itu juga, terdengar lengking suara yang membuat sakit gendang telinga.
"I-itu hantu nya.. I-itu....", ujar anak buah Jagabaya yang ikut meronda bersama mereka sambil menunjuk ke sebuah pohon wadang. Semua orang segera menoleh kearah sana.
Dan benar saja, seorang makhluk hitam tinggi besar dengan mata merah menyala menatap ke arah rombongan peronda.
"Siapa kau?
Kenapa kau menyatroni tempat ini?", tanya Tumenggung Jaran Gandi sambil menatap tajam ke arah mahluk menakutkan itu.
Tak dinyana, tiba-tiba saja mahkluk itu melesat cepat kearah Bekel Menjangan Kalung. Pimpinan prajurit Kadipaten Kurawan itu segera menyabetkan keris pusaka nya saat mahkluk itu ada dalam jangkauan nya.
Namun anehnya, mahkluk hitam itu dengan mudahnya menghindari tusukan keris Bekel Menjangan Kalung. Kemudian ia menghantam punggung pria bertubuh gempal itu dengan keras.
Dhiiieeeessshh
Aaaarrrgggggghhhhh!
Bekel prajurit Kurawan itu terjungkal ke depan. Punggung nya seperti di timpa batu besar. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar.
Sementara itu mahkluk hitam itu bergerak cepat menghajar para prajurit Kurawan satu persatu. Hanya dalam sekejap mata, 15 prajurit Kurawan sudah terkapar di tanah. Menyisakan Tumenggung Jaran Gandi yang masih bersiap. Meski terlihat tenang, sesungguhnya hati kecil punggawa istana Kadipaten Kurawan itu ngeri melihat keganasan mahkluk hitam di depannya.
Mahluk menakutkan itu melesat cepat kearah Tumenggung Jaran Gandi. Tangan nya yang berkuku panjang mengarah pada leher sang punggawa.
Saat serangan mahkluk hitam itu hampir mengenai Tumenggung Jaran Gandi, Arya Pethak yang sedari tadi berdiam diri langsung melesat cepat menghadang laju pergerakan si mahkluk hitam.
Cepat nya gerakan Arya Pethak membuat mahkluk hitam itu terperanjat. Gerakan tubuh Arya Pethak yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin memang seperti terbang di udara.
Buru-buru mahkluk hitam itu mengarahkan kuku panjang nya pada wajah tampan Arya Pethak. Namun sebelum itu terjadi, sebuah tendangan keras kaki kanan pendekar Bukit Kahayunan itu lebih dulu menghajar perut si mahkluk hitam.
Bhuuukkkhhh
Ougghhh!!
Sebuah lengguhan kesakitan terdengar oleh telinga Arya Pethak. Seketika dia menyadari bahwa mahkluk hitam itu bukan hantu tapi manusia yang berpakaian menakutkan.
Si makhluk hitam terpental ke belakang namun gerakan tubuhnya berubah hingga dia tidak jatuh ke tanah. Dengan ringan nya, dia berdiri di atas pohon pepaya yang ada di pekarangan rumah salah seorang warga Desa Karangan.
Arya Pethak dengan cepat memburu mahkluk hitam itu. Ajian Langkah Dewa Angin nya lagi lagi mengejutkan si mahkluk hitam. Pertarungan sengit antara mereka membuat semua orang termasuk Tumenggung Jaran Gandi terkesima. Dia tidak menyangka bahwa pemuda tampan yang nampak sopan itu berilmu tinggi.
Buru-buru dia mendekati Klungsur yang nyaris mengompol karena ketakutan tadi.
"Teman mu itu ternyata berilmu tinggi rupanya.
Katakan padaku, siapa dia sebenarnya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian semua dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Efendi Siantar
mendung tebal, tapi bulan sabit kelihatan. ini terasa aneh, Thor
2024-02-02
0
arumazam
juosss
2023-07-19
2
glanter
tumenggung jaran goyang....😂😂😂😂
2023-07-08
2