"Klungsur,
Kau memaki ku ya?", hardik Sekarwangi sambil menatap tajam ke arah abdi nya itu.
"Ti-tidak Ndoro,
Berani sumpah samber gledek deh kalau aku berani memaki Ndoro Putri", jawab Klungsur dengan tergagap.
'Duh, bagaimana sih caranya perempuan itu tau kalau aku menggerutu?', batin Klungsur sambil menunduk.
"Kalau sampai kau berani memaki ku, bersiap lah untuk ku penggal kepala mu", ancam Sekarwangi sambil melangkah mendekati Arya Pethak yang tampak sedang membersihkan bajunya yang kotor.
"Sebaiknya kita beristirahat Kakang, pasti kau sudah capek setelah bertarung", ujar Sekarwangi dengan lembut. Senyum manis terukir di wajah cantiknya.
"Iya Ndoro Putri,
Sebaiknya kita segera beristirahat. Badan ku juga lelah" jawab Arya Pethak yang segera melangkah menuju ke dalam rumah kediaman Ki Sentanu. Sekarwangi segera mengikuti langkah Arya Pethak ke dalam rumah bersama Paramita dan Ki Sentanu.
"Huuuuuuuu...
Kalau sama Ndoro Pethak saja, gaya nya sok lembut. Kalau sama aku, mirip macan beranak. Galaknya minta ampun. Beda wajah memang beda perlakuan rupanya.
Nasib... Nasib", gumam Klungsur sambil berjalan mengekor di belakang mereka.
Malam itu, mereka beristirahat dengan tenang sampai pagi tiba di dermaga penyeberangan sungai Brantas.
Sinar matahari pagi mulai menampakkan diri di langit timur. Cahaya nya menghangatkan seisi bumi dari dinginnya malam. Burung burung berkicau riang di ranting pohon menambah keindahan suasana pagi itu.
Usai memberikan upah menginap pada Ki Sentanu, mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah Kurawan. Berbekal petunjuk dari Ki Sentanu, mereka menggebrak kudanya menelusuri jalan raya yang menghubungkan antara wilayah Anjuk Ladang dan Kurawan.
Setelah hampir setengah hari perjalanan, mereka sampai di barat Pakuwon Randu Blatung. Di sebuah warung makan yang terlihat ramai, mereka menghentikan langkah kuda mereka.
Arya Pethak, Sekarwangi, Paramita dan Klungsur segera melompat turun dari kudanya dan segera menuntun tunggangan mereka itu ke geladakan yang ada di samping halaman warung makan.
Mereka berempat segera masuk kesana. Seorang pelayan warung makan menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
"Selamat datang Kisanak,
Mari silahkan duduk", ujar sang pelayan warung makan dengan sopan. Mereka segera mengikuti langkah sang pelayan menuju ke sebuah meja kosong yang ada di sudut ruangan.
"Mau pesan apa Kisanak?", tanya sang pelayan warung segera.
"Aku mau makan ayam. Sama lalapan mentimun dan daun kemangi", jawab Klungsur dengan cepat.
Sekarwangi segera melotot ke arah Klungsur.
"Kau tidak pernah diajari sopan santun ya Sur?
Apa hak mu memesan makanan lebih dulu?", hardik Sekarwangi sambil mendelik pada Klungsur.
"Duh salah lagi,
Maaf Ndoro Putri maaf. Saya lapar. Tadi pagi di rumah Ki Sentanu saya cuma makan sedikit", ucap Klungsur yang segera menunduk.
"Kau...", belum sempat Sekarwangi menyelesaikan omongannya, Arya Pethak segera memotong ucapan nya.
"Sudah jangan ribut, lupakan sopan santun dan tata krama. Waktunya kita makan.
Pelayan,
Samakan saja dengan pesanan kawan ku ini menjadi 4 wadah ya. Agak cepat sedikit kalau bisa", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah sang pelayan warung makan itu.
Lelaki itu segera mengangguk mengerti dan bergegas menuju ke arah dapur warung.
Kedatangan Arya Pethak dan ketiga pengikutnya menarik perhatian seorang lelaki paruh baya berjenggot lebat yang memakai caping dari anyaman bambu. Dari dandanan nya, bisa di lihat bahwa ia adalah seorang pendekar. Sebuah pedang menggantung di punggungnya.
Beberapa kali, lelaki bertubuh tegap itu menatap ke arah meja makan Arya Pethak.
Tak berapa lama kemudian, si pelayan warung makan segera datang dengan membawa nampan yang berisi makanan pesanan Arya Pethak dan kawan-kawannya.
Klungsur langsung menyambar paha ayam bakar ada di piring nya. Perutnya yang keroncongan membuat dia tidak mau menunda waktu lagi.
Meski Sekarwangi terlihat kesal, tapi dia mencoba untuk menahan diri untuk tidak mengomel karena Arya Pethak yang duduk di sebelah nya tersenyum simpul melihat ulah Klungsur.
Saat mereka sedang asyik menikmati hidangan yang disajikan, dari arah pintu warung makan seorang lelaki bertubuh gempal dengan bekas luka di wajah nya masuk ke dalam warung makan. Di temani dua orang lelaki yang berwajah menyeramkan dan sedikit aneh pakaiannya, mata lelaki berkepala plontos dengan janggut panjang itu menyapu sekeliling warung. Mata lelaki itu berhenti pada si lelaki bercaping yang duduk sendirian di meja yang ada di dekat dinding warung makan.
"Bajingan tengik!
Bersembunyi di sini kau rupanya", teriak si lelaki berwajah codet itu dengan lantang sambil menunjuk ke arah si pria bercaping yang membuat seisi warung makan menoleh ke arah nya.
Melihat itu, seisi warung makan langsung berhamburan keluar dari tempat itu, menyisakan Arya Pethak, Paramita, Sekarwangi, Klungsur dan si lelaki bercaping.
Klungsur yang tengah menggerogoti tulang ayam langsung menghentikan acara makan nya.
"Ndoro Pethak,
Ayo kita keluar", ucap Klungsur dengan raut muka penuh ketakutan.
"Sudah, teruskan saja makan mu. Itu bukan urusan kita", ujar Arya Pethak sambil terus menyuapkan potongan daging ayam ke mulutnya.
Klungsur pun hanya bisa patuh dengan semua omongan Arya Pethak.
Si lelaki bercaping itu segera berdiri dari tempat duduknya. Wajah nya yang tidak terlalu jelas karena tertutup caping, menyunggingkan senyuman tipis.
"Ada apa kau mencari ku, Kebo Biru?
Apa belum puas kau menerima kekalahan mu tempo hari?", ujar si lelaki bercaping itu pada lelaki berwajah codet yang di panggil Kebo Biru.
"Bangsat!
Kemarin aku memang kalah dari mu, Gajah Wiru. Hari ini akan ku balas penghinaan mu kepada ku", teriak Kebo Biru pada Gajah Wiru yang perlahan melepaskan caping yang menutupi sebagian wajahnya.
"Huhhhhh..
Kau selalu besar mulut, Kebo Biru. Berulang kali kalah, masih tetap saja jumawa", ucap Gajah Wiru sambil mencebikkan bibir nya.
Si pelayan warung makan segera mendekati Kebo Biru. Dengan ketakutan, dia mencoba untuk berbicara pada lelaki berwajah codet itu.
"Maaf Pendekar..
Tolong jangan ribut di tempat saya. Ini tempat saya mencari makan. Tolong kasihanilah saya", ujar si pelayan warung makan itu dengan penuh harap.
"Banyak omong!", teriak Kebo Biru yang segera menendang si pelayan warung makan itu dengan keras.
Bukkkkk
Ougghhh
Si pelayan warung makan itu terpental ke arah meja Arya Pethak. Sebelum menghantam meja makan, Arya Pethak segera menangkap tubuh kurus si pelayan warung makan itu tanpa beranjak dari kursi kayu tempat duduknya.
Whuuuggghhh
"Terima kasih atas bantuan mu Kisanak", ujar si pelayan warung makan itu dengan wajah menahan sakit akibat tendangan keras dari Kebo Biru setelah di turunkan ke lantai warung makan. Lelaki bertubuh ceking itu segera berlari menuju ke arah dapur warung makan nya.
Kebo Biru melotot ke arah Arya Pethak sedang Gajah Wiru sedikit terkejut melihat itu semua.
"Hooooooohhh..
Ada jagoan rupanya disini. Apa kau ingin campur urusan ku ha?", hardik Kebo Biru sambil mendelik tajam ke Arya Pethak.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian. Disini kami hanya membeli makanan. Sedangkan kau mengganggu waktu makan ku.
Selesaikan urusan kalian tapi jangan mengganggu orang lain", ucap Arya Pethak sambil menoleh ke arah Kebo Biru.
"Baik,
Setelah ku hajar Gajah Wiru, akan ku buat kau menyesali kata kata mu baru saja", ujar Kebo Biru pada Arya Pethak. Pria berwajah codet itu segera mengalihkan pandangannya pada Gajah Wiru yang terkenal dengan sebutan Pendekar Pedang Merah.
"Gajah Wiru,
Bersiaplah untuk mati!", usai berkata demikian Kebo Biru melesat cepat kearah Gajah Wiru yang masih berdiri tenang di dekat meja makan nya. Dia mencabut pedangnya.
Pendekar Pedang Merah dengan cepat segera menendang sebuah kursi kayu yang menjadi tempat duduknya.
Whuuussshh..
Kursi kayu melayang ke arah Kebo Biru yang dengan cepat membabatkan pedang nya ke arah kursi kayu yang menghadang laju pergerakan nya.
Tranggg..
Bruakkk!!
Kursi kayu hancur berantakan akibat sabetan pedang Kebo Biru. Namun gerakan Kebo Biru menjadi melambat saat itu karena terganggu oleh kursi kayu.
Namun demikian, Kebo Biru dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan segera melayangkan tendangan ke arah Gajah Wiru.
Whuuuuttt!
Gajah Wiru melompat ke samping kanan, dan tendangan keras Kebo Biru menghantam meja makan yang ada di dekat nya.
Braakkkk!!
Meja makan hancur berantakan beserta piring makan yang ada di atasnya. Melihat lawan bisa menghindar, dengan penuh ***** membunuh, Kebo Biru kembali menerjang ke arah Gajah Wiru yang tetap tenang saja menghadapi amukan Kebo Biru.
Gerakan Kebo Biru dengan cepat menghancurkan semua perkakas yang ada di dalam warung makan. Menyisakan satu meja makan yang di kelilingi oleh rombongan Arya Pethak. Mata Arya Pethak terus mengamati gerak-gerik dua orang berwajah menyeramkan yang mengiringi Kebo Biru.
Saat Kebo Biru kehilangan keseimbangan tubuhnya akibat tendangan nya bisa di hindari oleh Gajah Wiru, sebuah sikutan cepat mengarah ke ulu hati Kebo Biru.
Duuukkkkkhhh....
Ougghhh!
Kebo Biru terhuyung huyung ke belakang. Melihat itu, salah seorang lelaki berwajah menyeramkan yang mengiringi Kebo Biru diam diam mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tersimpan di lengan baju nya. Dengan cepat ia melempar pisau kecil itu kearah Gajah Wiru yang tengah membelakanginya.
Shrrrinnngggg!
Pisau kecil berwarna kebiruan itu segera melesat cepat kearah Gajah Wiru. Belum sempat mengenai tubuh Gajah Wiru, sepotong kayu yang hancur akibat hantaman Kebo Biru melayang cepat menyongsong pisau kecil itu.
Chrreeeppphh!
Pisau itu langsung terjatuh ke lantai warung makan. Si pria berwajah menyeramkan itu melotot melihat serangan nya di mentahkan oleh lemparan kayu, segera dia menoleh ke arah Arya Pethak.
Gajah Wiru yang juga melihat kejadian itu segera menoleh ke arah Arya Pethak yang masih belum berpindah dari tempat duduknya.
"Kenapa kau ikut campur, anak muda? Apa kau ingin mencoba kemampuan Sepasang Pisau Racun?", ujar si lelaki berwajah menyeramkan yang memakai ikat kepala merah itu sambil mendengus marah.
"Aku hanya tidak mau melihat seorang pengecut membokong lawan yang tidak siap.
Bersikaplah jantan, Kakek tua", ucap Arya Pethak yang segera membuat si lelaki berwajah menyeramkan itu marah besar.
"Bangsat!
Rupanya kau ingin menjajal kemampuan Pisau Racun Merah. Baik akan ku kabulkan keinginan mu", teriak lelaki yang memanggil dirinya dengan sebutan Pisau Racun Merah.
Pria itu segera melompat sambil melempar 3 pisau kecil berwarna biru gelap kearah Arya Pethak. Sekarwangi, Paramita dan Klungsur segera menyelamatkan diri dengan menjauhi Arya Pethak.
Setelah melihat kawannya jauh, Arya Pethak segera berdiri dan menendang kursi kayu tempat duduknya untuk menghentikan laju pisau kecil itu.
Creeppphhh creeppp creeppp!!
Pisau kecil segera menancap pada kursi kayu yang di tendang Arya Pethak. Kursi kayu terus melesat ke arah dua orang pengiring Kebo Biru. Si lelaki berwajah menyeramkan yang sedari tadi hanya diam, langsung menghantam kursi kayu.
Bruakkkhh!!!
"Bedebah!
Kau menghina ku bangsat", ujar si Pisau Racun Merah yang segera melempar dua pisau berwarna merah darah kearah Arya Pethak. Segera dia mencabut sepasang pisau besar yang ada di pinggangnya dan melesat cepat kearah Arya Pethak.
Pemuda tampan itu segera merapal Ajian Langkah Dewa Angin nya. Dengan kecepatan yang sukar untuk diikuti oleh mata biasa, Arya Pethak melesat cepat kearah si Pisau Racun Merah. Dengan cepat ia menghindari pisau beracun yang mengarah ke padanya dan dengan cepat menghantam perut si Pisau Racun Merah.
Deshhhh!!
Aaarrghhh!
Si Pisau Racun Merah terpelanting ke belakang dan menghantam dinding kayu warung makan.
Brookk!
Pria paruh baya itu muntah darah segar. Melihat adik seperguruan nya jatuh, Si Pisau Racun Hitam segera melesat cepat kearah Arya Pethak. Dengan cepat ia mencabut pisau besar nya dan menyabetkan nya ke dada Arya Pethak yang baru saja memutar tubuh.
Whuuuuttt!
Arya Pethak lagi lagi menghilang dari pandangan semua orang dan kemudian terdengar suara jerit kesakitan.
Si Pisau Racun Hitam terpelanting ke belakang dan menghantam lantai warung makan dengan keras saat tendangan keras Arya Pethak menghajar perutnya.
Semua orang yang ada di situ melotot melihat kejadian itu tak terkecuali Pendekar Pedang Merah dan Kebo Biru.
Sepasang Pisau Racun adalah dua pendekar golongan hitam yang cukup mempunyai nama di dunia persilatan. Anak murid Dewa Racun Barat itu terkenal dengan ilmu racun nya yang telah membuat beberapa pendekar kehilangan nyawa. Nama besar mereka di takuti di dunia persilatan karena pernah membuat satu perguruan kecil di wilayah Anjuk Ladang musnah akibat racun yang mereka keluarkan.
Namun hari ini, mereka dengan mudah di pecundangi oleh seorang pendekar muda yang baru turun gunung.
Sepasang Pisau Racun menatap bengis kearah Arya Pethak. Perut mereka berdua terasa sakit luar biasa.
Mereka berdua segera berdiri dari tempat jatuhnya. Setelah saling berpandangan sejenak, mereka melesat cepat kearah Arya Pethak yang sudah bersiap menghadapi mereka.
Dengan jurus Sepasang Pisau Memotong Dewa, Si Pisau Racun Hitam mengarahkan pisau besar nya ke arah leher Arya Pethak.
"Mampus kau!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak ya 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Bobi Kampus
Kebo, lembu, walang sdh ada. Tinggal menunggu wedhus muncul /Grin/
2024-01-30
0
irfan caul
Warna Biru dan warna Wiru🤔🤔
2023-09-09
0
Putra_Andalas
Beda WAJAH ,Beda NASIB 😂
2023-07-27
0