"Apa maksud mu Anak muda? Apanya yang aneh?", tanya Begawan Tirta Wening sambil menatap ke arah Arya Pethak yang tengah mengamati jalannya pertarungan antara dua kakek tua yang bernama Resi Sukmajati dan Dandang Gendis itu.
"Tidak apa-apa kakek tua,
Hanya aku pernah melihat Keris Mpu Gandring di tangan orang lain, bukan kakek tua yang ada di sana itu", jawab Arya Pethak segera.
"Apa benar yang kau katakan?
Selama ini kakek tua terkenal karena memiliki keris Mpu Gandring di tangan nya", ujar Begawan Tirta Wening setengah tak percaya mendengar ucapan Arya Pethak.
"Aku tidak pernah diajari untuk berbohong kepada orang tua oleh ayah ku, kakek tua.
Percaya atau tidak itu bukan urusan ku, yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya", Arya Pethak terus melihat kearah pertarungan antara Resi Sukmajati dan Dandang Gendis.
"Selama ini, dunia persilatan hanya mengetahui bahwa Resi Sukmajati lah pemegang pusaka penebar petaka itu, Pethak.
Tapi beberapa waktu terakhir ini juga muncul seorang gadis muda yang juga memegang senjata yang konon katanya adalah keris Mpu Gandring.
Aku semakin bingung memikirkan berbagai macam kemungkinan munculnya pusaka pusaka palsu ini.
Sepertinya ada yang sengaja membuat keonaran di dunia persilatan. Karena Keris Mpu Gandring adalah salah satu lambang pemegang kekuasaan tertinggi di takhta kerajaan Singhasari", ujar Begawan Tirta Wening yang matanya terus menatap ke arah pertarungan Resi Sukmajati dan Dandang Gendis.
Resi Sukmajati melesat cepat sambil menyabetkan keris nya kearah Dandang Gendis.
Sreeeetttt
Serangkaian sinar merah kekuningan menerabas cepat kearah Dandang Gendis. Namun pria paruh baya itu bukan orang sembarangan. Dengan cepat, Dandang Gendis melompat tinggi ke udara menghindari sinar yang berasal dari keris pusaka di tangan Resi Sukmajati.
Whuuuummmm...
Blammmmm!!!
Sinar merah kekuningan dari keris pusaka itu menghantam pohon waru yang ada di belakang Dandang Gendis. Pohon waru langsung meledak dan terbakar saat sinar merah kekuningan itu menghantamnya.
Melihat lawan bisa menghindar dari serangan nya, Resi Sukmajati terus memburu.
Serangan demi serangan Resi Sukmajati berhasil di hindari oleh Dandang Gendis.
Sudah puluhan jurus andalan mereka keluarkan, tapi tak satupun yang menunjukkan tanda akan kalah.
Resi Sukmajati kembali mengayunkan keris pusaka nya.
Whuuuuttt
Sinar merah kekuningan menerabas cepat kearah Dandang Gendis. Lagi lagi pria paruh baya itu bergerak cepat menghindari sinar dari keris pusaka itu.
Sialnya, sinar merah kekuningan itu melesat cepat kearah Arya Pethak dan kawan-kawannya yang tengah melihat pertarungan antara dua jagoan tangguh dunia persilatan.
"Awas!!!", teriak Arya Pethak sambil menyambar tubuh Paramita dan Gayatri menghindari sinar merah kekuningan yang melabrak kearah mereka. Begawan Tirta Wening melompat menjauh sementara Lembu Supa segera menarik tangan Badrawati dan Mahesa Cemeng menghindari serangan nyasar.
Blammmmm!!!
Kemunculan Arya Pethak dan kawan-kawannya membuat perhatian dua orang yang sedang bertempur itu terpecah. Mereka segera menghentikan pertarungan dengan mengambil jarak sejauh 4 tombak.
"Rupanya ada beberapa cecunguk yang mengintip pertarungan kita, Dandang Gendis.
Kau kenal mereka?", tanya Resi Sukmajati pada Dandang Gendis yang juga menatap ke arah kawanan yang baru muncul itu.
"Kakek tua,
Bukankah kau Dewa Obat dari Selatan?", Dandang Gendis menatap ke arah Begawan Tirta Wening yang tengah berjalan di dekat Arya Pethak. Pemuda tampan itu baru saja menurunkan Paramita dan Gayatri.
"Kalau iya kenapa?
Sembarangan main serang orang tanpa berpikir panjang", gerutu Begawan Tirta Wening sambil melotot ke arah Resi Sukmajati.
"Hehehe..
Maaf Dewa Obat, aku tadi mengincar kepala si Dandang Gendis keparat itu. Tidak melihat jika kau ada disana", ujar Resi Sukmajati yang terkekeh kecil melihat kekesalan Begawan Tirta Wening.
"Huh dasar Resi Pikun..
Nyaris mencelakai orang tapi malah ketawa seenak udel nya. Kalian ini sudah tua bangka tapi masih seperti bocah kecil saja.
Apa yang kalian perebutkan hingga sampai mengadu nyawa seperti itu ha?", bentak Begawan Tirta Wening pada Resi Sukmajati yang masih memegang keris pusaka nya.
"Tanya saja pada Dandang Gendis,
Dia sudah membuat ku kesal setengah mati dari kemarin", sungut Resi Sukmajati sambil menatap tajam ke arah Dandang Gendis yang masih bersiaga penuh.
"Tua bangka itu memaksa ku untuk ikut di pertemuan para pendekar di Gunung Gangsir purnama besok, Dewa Obat.
Sudah ku bilang kalau aku ada urusan penting ke Kadiri, eh dia tetap memaksaku untuk menemaninya", ujar Dandang Gendis yang geram karena merasa terganggu.
"Pertemuan pendekar?
Bukankah itu sudah dilarang untuk diadakan? Seingat ku sudah 2 warsa lebih pertemuan itu dilarang oleh Sri Maharaja Kertanegara", ujar Dewa Obat dari Selatan sambil mengelus jenggotnya yang sudah memutih. Dahinya mengernyit heran mendengar berita itu.
"Ada berita yang menyebutkan bahwa Padepokan Pedang Langit mengadakan pertemuan atas seijin yuwaraja Kadiri yang baru.
Karena itu semua pendekar diundang untuk hadir di acara itu.
Tapi sebenarnya bukan pertemuan itu yang menarik perhatian ku, Dewa Obat", Resi Sukmajati segera menyarungkan keris pusaka nya.
"Lantas apa yang membuat mu ingin hadir di sana, Resi tua?", tanya Begawan Tirta Wening sambil menatap ke arah Resi Sukmajati yang berjalan mendekati nya.
"Aku mendengar bahwa belakangan ini, muncul seorang pendekar wanita yang memegang Keris Mpu Gandring. Kabarnya dia adalah murid dari Padepokan Bukit Lanjar di Utara.
Tak hanya itu, ada pula berita yang menyebutkan bahwa Pendekar Gunung Wilis, Gubar Winongan memiliki sebilah keris pusaka yang mirip dengan keris Mpu Gandring.
Ini membingungkan ku, Dewa Obat..
Keris Mpu Gandring selama ini di tangan ku, tapi kenapa banyak bermunculan beberapa pusaka dengan mengatasnamakan Keris Mpu Gandring?", ujar Resi Sukmajati sambil menatap ke arah Begawan Tirta Wening.
Hemmmm
"Bukan kau saja yang melihat kekacauan ini, Resi tua..
Pemuda itu juga melihat ada orang lain yang memegang sebilah keris pusaka yang merupakan Keris Mpu Gandring.
Ini semakin membuat tanda tanya besar dalam pikiran ku, Resi tua. Sepertinya ada yang sedang memancing ikan di air keruh", ucap Begawan Tirta Wening sambil menunjuk ke arah Arya Pethak yang tengah membenarkan buntalan kain berisi pakaian miliknya.
Baik Resi Sukmajati maupun Dandang Gendis segera menoleh ke arah Arya Pethak.
"Anak muda, kemari kau", panggil Dandang Gendis pada Arya Pethak. Pemuda tampan itu segera berjalan mendekati ketiga kakek tua itu.
"Ada apa paman tua?
Ada yang perlu kita bicarakan?", tanya Arya Pethak dengan sopan.
"Aku dengar, kau pernah melihat orang yang memiliki Keris Mpu Gandring.
Kau melihat dimana?", Dandang Gendis menatap wajah Arya Pethak. Sejenak dia mengerutkan keningnya, seakan bertemu dengan seseorang yang dia kenal.
"Dulu, di kaki Bukit Kahayunan, aku pernah melihat seseorang memiliki keris pusaka yang sama dengan yang di miliki oleh kakek tua itu.
Waktu aku tanya, dia bilang itu adalah Keris Mpu Gandring", jawab Arya Pethak segera. Meski dia tidak berterus-terang tapi dia menjaga diri dari segala situasi yang mungkin terjadi.
"Kau tau siapa nama orang itu?", sahut Resi Sukmajati yang ikut menatap ke arah Arya Pethak.
"Aku tidak tahu siapa namanya, kakek tua. Yang jelas dia memakai pakaian layaknya pertapa dengan jenggot lebat yang sudah tumbuh uban", Arya Pethak segera menoleh ke arah Paramita yang sedang berjalan mendekati nya.
Hemmmm
"Rupanya ada yang ingin mengacaukan dunia persilatan di tanah Jawa.
Munculnya beberapa keris Mpu Gandring palsu ini akan menjadikan dunia persilatan keruh kembali.
Ini tidak bisa dibiarkan", gumam Dandang Gendis seraya menatap langit yang cerah.
"Itu urusan kalian, aku tidak ada sangkut pautnya.
Sekarang aku permisi, ada hal penting yang perlu ku kerjakan", ujar Dewa Obat dari Selatan alias Begawan Tirta Wening sambil melangkah menuju kuda nya.
"Tunggu Dewa Obat,
Kau mau kemana?", tanya Resi Sukmajati segera.
"Aku mau ke Pejarakan, Resi tua.
Ada urusan penting dengan Mahesa Parut. Kenapa? Kau mau ikut?", Begawan Tirta Wening segera melompat ke atas kuda nya.
Phuihhhh
"Tidak sudi aku bertemu dengan orang tidak tahu terima kasih seperti dia.
Aku akan ke Gunung Gangsir, Dewa Obat. Kalau ada waktu susul aku kesana", ujar Resi Sukmajati sambil berbalik arah.
"Tua bangka,
Aku ikut dengan mu", Dandang Gendis segera menyusul langkah kaki cepat Resi Sukmajati yang melesat cepat bagai terbang di udara. Laki laki paruh baya itu segera menghilang dari pandangan semua orang kearah perginya Resi Sukmajati.
Sementara itu, Begawan Tirta Wening dan Paramita segera menggebrak kuda mereka melintasi jalan raya yang menuju ke Pejarakan.
Anak murid Perguruan Kembang Biru mengekor di belakang mereka, bersama Arya Pethak.
Sesampainya di kota Sengkapura, Lembu Supa membelikan seekor kuda untuk tunggangan Arya Pethak agar perjalanan mereka lebih cepat ke Kadiri.
"Berapa harga kuda ini, paman?", tanya Arya Pethak pada Lembu Supa.
"Tidak mahal, hanya 5 kepeng perak. Kita beruntung bisa memiliki kuda sebagus ini dengan harga murah.
Biasanya harganya bisa 10 kepeng perak, tapi mungkin pemilik nya tadi butuh uang makanya dia menjual setengah harga", jawab Lembu Supa sambil tersenyum simpul.
Arya Pethak segera mengelus kepala kuda itu. Entah kenapa kuda hitam itu langsung jinak pada Arya Pethak.
Mereka segera melanjutkan perjalanan. Di sisi barat kota Pakuwon Sengkapura, mereka singgah di sebuah warung makan yang cukup ramai.
Usai menambatkan kuda pada geladakan yang ada di samping halaman warung makan, mereka segera masuk dan menikmati hidangan yang disajikan warung makan itu.
Usai membayar makanan, mereka keluar dari warung makan itu.
Seorang lelaki bertubuh gemuk dengan pakaian bagus dengan hiasan layaknya seorang yang kaya raya, berdiri di luar warung makan. Matanya terus menatap ke arah kuda Arya Pethak yang masih terikat di geladakan. 4 orang lelaki bertubuh gempal yang sepertinya adalah pengawal si lelaki gemuk menatap bengis kearah Arya Pethak yang berjalan mendekati kuda yang baru di beli Lembu Supa.
"Jadi kau yang mencuri kuda ku, pemuda tengik?
Masih muda sudah jadi maling", teriak si lelaki gemuk itu segera.
Arya Pethak segera menoleh ke arah si lelaki gemuk itu dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apa maksud ucapan mu, sapi bunting?
Jangan sembarang bicara", ujar Arya Pethak sambil mendelik pada si lelaki bertubuh gemuk itu.
"Siapa yang sembarangan bicara? Kuda yang kau pegang itu milik ku, semalam hilang dari kandangnya.
Kalau kau bukan pencuri nya, apa aku harus menuduh orang lain?", Lelaki bertubuh gemuk itu tak mau kalah.
"Paman Supa membelinya dari seseorang di timur kota Pakuwon Sengkapura.
Jadi hati-hati dengan mulut mu, jika tidak ingin di hajar orang", hardik Arya Pethak yang mulai geram.
"Benar Pethak,
Seenaknya saja main tuduh sembarangan. Apa buktinya kalau ini adalah kuda mu? Aku membelinya dengan uang ku", timpal Lembu Supa yang ikut panas mendengar ucapan si lelaki gemuk itu.
"Tampaknya mereka berkomplot, Juragan Karto.
Kita hajar saja mereka, bagaimana?", bisik seorang pengawal lelaki bertubuh gemuk yang dipanggil juragan Karto.
"Baik,
Kalian berempat, tangkap pencuri kuda itu. Nanti aku akan beri hadiah untuk kalian", ucap Juragan Karto segera.
Mendengar kata hadiah, empat orang pengawal Juragan Karto segera melompat ke arah Arya Pethak dan Lembu Supa sambil mencabut senjata mereka masing-masing.
Si gempal yang memakai pedang, langsung merangsek ke arah Arya Pethak. Pedangnya terayun ke arah batang leher putra Mpu Prawira itu dengan cepat.
Sreeeetttt
Arya Pethak segera tundukkan kepala sambil berputar menghindar sabetan pedang. Dengan cepat, pemuda tampan itu segera mengayunkan siku tangan kanannya ke arah ulu hati si gempal.
Deshhhh
Ougghhh
Si gempal terhuyung mundur. Ulu hati nya terasa mau pecah. Melihat kawannya mundur, si brewok segera menyabetkan goloknya, mengincar kepala Arya Pethak yang baru membuat si gempal mundur.
Whuuuuttt
Arya Pethak berkelit ke samping kanan, kemudian dengkul pemuda tampan itu melesat cepat kearah perut si brewok.
Deshhhh
Aaarrghhh
Si brewok terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Perutnya seperti tertimpa balok kayu besar, sakit bukan main.
Sementara itu, Lembu Supa juga berhasil merobohkan lawan lawannya.
Melihat anak buahnya berjatuhan, raut wajah Juragan Karto pucat seketika.
"Pethak,
Mau kita apakan sapi bunting ini?", tanya Lembu Supa sambil tersenyum sinis.
"Kita kuliti saja dia paman..
Biar tidak asal main tuduh sembarangan. Kuda bisa sama warna, menuduh orang seenaknya layak mendapat pelajaran", jawab Arya Pethak sambil menyeringai lebar.
Mendengar jawaban itu, Juragan Karto langsung mengompol saking takutnya. Pria bertubuh gemuk itu segera berlutut mohon pengampunan.
"Ampuni aku, pendekar..
Aku salah menuduh orang. Mohon ampuni aku. Aku berjanji tidak akan sembarangan menuduh orang tanpa bukti", ujar Juragan Karto sambil bersujud kepada Arya Pethak dan Lembu Supa.
Saat mereka masih asyik bermain dengan Juragan Karto, dari belakang terdengar suara.
"Sudah puas belum bermainnya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan komentar 🗣️, like 👍, vote dan favorit 💙 nya agar author terus semangat untuk menulis 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-10-11
1
pranacitra
ini nama² daerahnya mirip yg ada di Probolinggo,,Lumbang,sengkapuro
2022-06-06
3
LD. RAHMAT IKBAL
pethak dan supa kayakx berjodoh jadi paman dan kemenakan hehehe
2022-05-30
2