Pencuri Kuda

"Apa maksud mu Anak muda? Apanya yang aneh?", tanya Begawan Tirta Wening sambil menatap ke arah Arya Pethak yang tengah mengamati jalannya pertarungan antara dua kakek tua yang bernama Resi Sukmajati dan Dandang Gendis itu.

"Tidak apa-apa kakek tua,

Hanya aku pernah melihat Keris Mpu Gandring di tangan orang lain, bukan kakek tua yang ada di sana itu", jawab Arya Pethak segera.

"Apa benar yang kau katakan?

Selama ini kakek tua terkenal karena memiliki keris Mpu Gandring di tangan nya", ujar Begawan Tirta Wening setengah tak percaya mendengar ucapan Arya Pethak.

"Aku tidak pernah diajari untuk berbohong kepada orang tua oleh ayah ku, kakek tua.

Percaya atau tidak itu bukan urusan ku, yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya", Arya Pethak terus melihat kearah pertarungan antara Resi Sukmajati dan Dandang Gendis.

"Selama ini, dunia persilatan hanya mengetahui bahwa Resi Sukmajati lah pemegang pusaka penebar petaka itu, Pethak.

Tapi beberapa waktu terakhir ini juga muncul seorang gadis muda yang juga memegang senjata yang konon katanya adalah keris Mpu Gandring.

Aku semakin bingung memikirkan berbagai macam kemungkinan munculnya pusaka pusaka palsu ini.

Sepertinya ada yang sengaja membuat keonaran di dunia persilatan. Karena Keris Mpu Gandring adalah salah satu lambang pemegang kekuasaan tertinggi di takhta kerajaan Singhasari", ujar Begawan Tirta Wening yang matanya terus menatap ke arah pertarungan Resi Sukmajati dan Dandang Gendis.

Resi Sukmajati melesat cepat sambil menyabetkan keris nya kearah Dandang Gendis.

Sreeeetttt

Serangkaian sinar merah kekuningan menerabas cepat kearah Dandang Gendis. Namun pria paruh baya itu bukan orang sembarangan. Dengan cepat, Dandang Gendis melompat tinggi ke udara menghindari sinar yang berasal dari keris pusaka di tangan Resi Sukmajati.

Whuuuummmm...

Blammmmm!!!

Sinar merah kekuningan dari keris pusaka itu menghantam pohon waru yang ada di belakang Dandang Gendis. Pohon waru langsung meledak dan terbakar saat sinar merah kekuningan itu menghantamnya.

Melihat lawan bisa menghindar dari serangan nya, Resi Sukmajati terus memburu.

Serangan demi serangan Resi Sukmajati berhasil di hindari oleh Dandang Gendis.

Sudah puluhan jurus andalan mereka keluarkan, tapi tak satupun yang menunjukkan tanda akan kalah.

Resi Sukmajati kembali mengayunkan keris pusaka nya.

Whuuuuttt

Sinar merah kekuningan menerabas cepat kearah Dandang Gendis. Lagi lagi pria paruh baya itu bergerak cepat menghindari sinar dari keris pusaka itu.

Sialnya, sinar merah kekuningan itu melesat cepat kearah Arya Pethak dan kawan-kawannya yang tengah melihat pertarungan antara dua jagoan tangguh dunia persilatan.

"Awas!!!", teriak Arya Pethak sambil menyambar tubuh Paramita dan Gayatri menghindari sinar merah kekuningan yang melabrak kearah mereka. Begawan Tirta Wening melompat menjauh sementara Lembu Supa segera menarik tangan Badrawati dan Mahesa Cemeng menghindari serangan nyasar.

Blammmmm!!!

Kemunculan Arya Pethak dan kawan-kawannya membuat perhatian dua orang yang sedang bertempur itu terpecah. Mereka segera menghentikan pertarungan dengan mengambil jarak sejauh 4 tombak.

"Rupanya ada beberapa cecunguk yang mengintip pertarungan kita, Dandang Gendis.

Kau kenal mereka?", tanya Resi Sukmajati pada Dandang Gendis yang juga menatap ke arah kawanan yang baru muncul itu.

"Kakek tua,

Bukankah kau Dewa Obat dari Selatan?", Dandang Gendis menatap ke arah Begawan Tirta Wening yang tengah berjalan di dekat Arya Pethak. Pemuda tampan itu baru saja menurunkan Paramita dan Gayatri.

"Kalau iya kenapa?

Sembarangan main serang orang tanpa berpikir panjang", gerutu Begawan Tirta Wening sambil melotot ke arah Resi Sukmajati.

"Hehehe..

Maaf Dewa Obat, aku tadi mengincar kepala si Dandang Gendis keparat itu. Tidak melihat jika kau ada disana", ujar Resi Sukmajati yang terkekeh kecil melihat kekesalan Begawan Tirta Wening.

"Huh dasar Resi Pikun..

Nyaris mencelakai orang tapi malah ketawa seenak udel nya. Kalian ini sudah tua bangka tapi masih seperti bocah kecil saja.

Apa yang kalian perebutkan hingga sampai mengadu nyawa seperti itu ha?", bentak Begawan Tirta Wening pada Resi Sukmajati yang masih memegang keris pusaka nya.

"Tanya saja pada Dandang Gendis,

Dia sudah membuat ku kesal setengah mati dari kemarin", sungut Resi Sukmajati sambil menatap tajam ke arah Dandang Gendis yang masih bersiaga penuh.

"Tua bangka itu memaksa ku untuk ikut di pertemuan para pendekar di Gunung Gangsir purnama besok, Dewa Obat.

Sudah ku bilang kalau aku ada urusan penting ke Kadiri, eh dia tetap memaksaku untuk menemaninya", ujar Dandang Gendis yang geram karena merasa terganggu.

"Pertemuan pendekar?

Bukankah itu sudah dilarang untuk diadakan? Seingat ku sudah 2 warsa lebih pertemuan itu dilarang oleh Sri Maharaja Kertanegara", ujar Dewa Obat dari Selatan sambil mengelus jenggotnya yang sudah memutih. Dahinya mengernyit heran mendengar berita itu.

"Ada berita yang menyebutkan bahwa Padepokan Pedang Langit mengadakan pertemuan atas seijin yuwaraja Kadiri yang baru.

Karena itu semua pendekar diundang untuk hadir di acara itu.

Tapi sebenarnya bukan pertemuan itu yang menarik perhatian ku, Dewa Obat", Resi Sukmajati segera menyarungkan keris pusaka nya.

"Lantas apa yang membuat mu ingin hadir di sana, Resi tua?", tanya Begawan Tirta Wening sambil menatap ke arah Resi Sukmajati yang berjalan mendekati nya.

"Aku mendengar bahwa belakangan ini, muncul seorang pendekar wanita yang memegang Keris Mpu Gandring. Kabarnya dia adalah murid dari Padepokan Bukit Lanjar di Utara.

Tak hanya itu, ada pula berita yang menyebutkan bahwa Pendekar Gunung Wilis, Gubar Winongan memiliki sebilah keris pusaka yang mirip dengan keris Mpu Gandring.

Ini membingungkan ku, Dewa Obat..

Keris Mpu Gandring selama ini di tangan ku, tapi kenapa banyak bermunculan beberapa pusaka dengan mengatasnamakan Keris Mpu Gandring?", ujar Resi Sukmajati sambil menatap ke arah Begawan Tirta Wening.

Hemmmm

"Bukan kau saja yang melihat kekacauan ini, Resi tua..

Pemuda itu juga melihat ada orang lain yang memegang sebilah keris pusaka yang merupakan Keris Mpu Gandring.

Ini semakin membuat tanda tanya besar dalam pikiran ku, Resi tua. Sepertinya ada yang sedang memancing ikan di air keruh", ucap Begawan Tirta Wening sambil menunjuk ke arah Arya Pethak yang tengah membenarkan buntalan kain berisi pakaian miliknya.

Baik Resi Sukmajati maupun Dandang Gendis segera menoleh ke arah Arya Pethak.

"Anak muda, kemari kau", panggil Dandang Gendis pada Arya Pethak. Pemuda tampan itu segera berjalan mendekati ketiga kakek tua itu.

"Ada apa paman tua?

Ada yang perlu kita bicarakan?", tanya Arya Pethak dengan sopan.

"Aku dengar, kau pernah melihat orang yang memiliki Keris Mpu Gandring.

Kau melihat dimana?", Dandang Gendis menatap wajah Arya Pethak. Sejenak dia mengerutkan keningnya, seakan bertemu dengan seseorang yang dia kenal.

"Dulu, di kaki Bukit Kahayunan, aku pernah melihat seseorang memiliki keris pusaka yang sama dengan yang di miliki oleh kakek tua itu.

Waktu aku tanya, dia bilang itu adalah Keris Mpu Gandring", jawab Arya Pethak segera. Meski dia tidak berterus-terang tapi dia menjaga diri dari segala situasi yang mungkin terjadi.

"Kau tau siapa nama orang itu?", sahut Resi Sukmajati yang ikut menatap ke arah Arya Pethak.

"Aku tidak tahu siapa namanya, kakek tua. Yang jelas dia memakai pakaian layaknya pertapa dengan jenggot lebat yang sudah tumbuh uban", Arya Pethak segera menoleh ke arah Paramita yang sedang berjalan mendekati nya.

Hemmmm

"Rupanya ada yang ingin mengacaukan dunia persilatan di tanah Jawa.

Munculnya beberapa keris Mpu Gandring palsu ini akan menjadikan dunia persilatan keruh kembali.

Ini tidak bisa dibiarkan", gumam Dandang Gendis seraya menatap langit yang cerah.

"Itu urusan kalian, aku tidak ada sangkut pautnya.

Sekarang aku permisi, ada hal penting yang perlu ku kerjakan", ujar Dewa Obat dari Selatan alias Begawan Tirta Wening sambil melangkah menuju kuda nya.

"Tunggu Dewa Obat,

Kau mau kemana?", tanya Resi Sukmajati segera.

"Aku mau ke Pejarakan, Resi tua.

Ada urusan penting dengan Mahesa Parut. Kenapa? Kau mau ikut?", Begawan Tirta Wening segera melompat ke atas kuda nya.

Phuihhhh

"Tidak sudi aku bertemu dengan orang tidak tahu terima kasih seperti dia.

Aku akan ke Gunung Gangsir, Dewa Obat. Kalau ada waktu susul aku kesana", ujar Resi Sukmajati sambil berbalik arah.

"Tua bangka,

Aku ikut dengan mu", Dandang Gendis segera menyusul langkah kaki cepat Resi Sukmajati yang melesat cepat bagai terbang di udara. Laki laki paruh baya itu segera menghilang dari pandangan semua orang kearah perginya Resi Sukmajati.

Sementara itu, Begawan Tirta Wening dan Paramita segera menggebrak kuda mereka melintasi jalan raya yang menuju ke Pejarakan.

Anak murid Perguruan Kembang Biru mengekor di belakang mereka, bersama Arya Pethak.

Sesampainya di kota Sengkapura, Lembu Supa membelikan seekor kuda untuk tunggangan Arya Pethak agar perjalanan mereka lebih cepat ke Kadiri.

"Berapa harga kuda ini, paman?", tanya Arya Pethak pada Lembu Supa.

"Tidak mahal, hanya 5 kepeng perak. Kita beruntung bisa memiliki kuda sebagus ini dengan harga murah.

Biasanya harganya bisa 10 kepeng perak, tapi mungkin pemilik nya tadi butuh uang makanya dia menjual setengah harga", jawab Lembu Supa sambil tersenyum simpul.

Arya Pethak segera mengelus kepala kuda itu. Entah kenapa kuda hitam itu langsung jinak pada Arya Pethak.

Mereka segera melanjutkan perjalanan. Di sisi barat kota Pakuwon Sengkapura, mereka singgah di sebuah warung makan yang cukup ramai.

Usai menambatkan kuda pada geladakan yang ada di samping halaman warung makan, mereka segera masuk dan menikmati hidangan yang disajikan warung makan itu.

Usai membayar makanan, mereka keluar dari warung makan itu.

Seorang lelaki bertubuh gemuk dengan pakaian bagus dengan hiasan layaknya seorang yang kaya raya, berdiri di luar warung makan. Matanya terus menatap ke arah kuda Arya Pethak yang masih terikat di geladakan. 4 orang lelaki bertubuh gempal yang sepertinya adalah pengawal si lelaki gemuk menatap bengis kearah Arya Pethak yang berjalan mendekati kuda yang baru di beli Lembu Supa.

"Jadi kau yang mencuri kuda ku, pemuda tengik?

Masih muda sudah jadi maling", teriak si lelaki gemuk itu segera.

Arya Pethak segera menoleh ke arah si lelaki gemuk itu dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Apa maksud ucapan mu, sapi bunting?

Jangan sembarang bicara", ujar Arya Pethak sambil mendelik pada si lelaki bertubuh gemuk itu.

"Siapa yang sembarangan bicara? Kuda yang kau pegang itu milik ku, semalam hilang dari kandangnya.

Kalau kau bukan pencuri nya, apa aku harus menuduh orang lain?", Lelaki bertubuh gemuk itu tak mau kalah.

"Paman Supa membelinya dari seseorang di timur kota Pakuwon Sengkapura.

Jadi hati-hati dengan mulut mu, jika tidak ingin di hajar orang", hardik Arya Pethak yang mulai geram.

"Benar Pethak,

Seenaknya saja main tuduh sembarangan. Apa buktinya kalau ini adalah kuda mu? Aku membelinya dengan uang ku", timpal Lembu Supa yang ikut panas mendengar ucapan si lelaki gemuk itu.

"Tampaknya mereka berkomplot, Juragan Karto.

Kita hajar saja mereka, bagaimana?", bisik seorang pengawal lelaki bertubuh gemuk yang dipanggil juragan Karto.

"Baik,

Kalian berempat, tangkap pencuri kuda itu. Nanti aku akan beri hadiah untuk kalian", ucap Juragan Karto segera.

Mendengar kata hadiah, empat orang pengawal Juragan Karto segera melompat ke arah Arya Pethak dan Lembu Supa sambil mencabut senjata mereka masing-masing.

Si gempal yang memakai pedang, langsung merangsek ke arah Arya Pethak. Pedangnya terayun ke arah batang leher putra Mpu Prawira itu dengan cepat.

Sreeeetttt

Arya Pethak segera tundukkan kepala sambil berputar menghindar sabetan pedang. Dengan cepat, pemuda tampan itu segera mengayunkan siku tangan kanannya ke arah ulu hati si gempal.

Deshhhh

Ougghhh

Si gempal terhuyung mundur. Ulu hati nya terasa mau pecah. Melihat kawannya mundur, si brewok segera menyabetkan goloknya, mengincar kepala Arya Pethak yang baru membuat si gempal mundur.

Whuuuuttt

Arya Pethak berkelit ke samping kanan, kemudian dengkul pemuda tampan itu melesat cepat kearah perut si brewok.

Deshhhh

Aaarrghhh

Si brewok terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Perutnya seperti tertimpa balok kayu besar, sakit bukan main.

Sementara itu, Lembu Supa juga berhasil merobohkan lawan lawannya.

Melihat anak buahnya berjatuhan, raut wajah Juragan Karto pucat seketika.

"Pethak,

Mau kita apakan sapi bunting ini?", tanya Lembu Supa sambil tersenyum sinis.

"Kita kuliti saja dia paman..

Biar tidak asal main tuduh sembarangan. Kuda bisa sama warna, menuduh orang seenaknya layak mendapat pelajaran", jawab Arya Pethak sambil menyeringai lebar.

Mendengar jawaban itu, Juragan Karto langsung mengompol saking takutnya. Pria bertubuh gemuk itu segera berlutut mohon pengampunan.

"Ampuni aku, pendekar..

Aku salah menuduh orang. Mohon ampuni aku. Aku berjanji tidak akan sembarangan menuduh orang tanpa bukti", ujar Juragan Karto sambil bersujud kepada Arya Pethak dan Lembu Supa.

Saat mereka masih asyik bermain dengan Juragan Karto, dari belakang terdengar suara.

"Sudah puas belum bermainnya?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

Yang suka silahkan tinggalkan komentar 🗣️, like 👍, vote dan favorit 💙 nya agar author terus semangat untuk menulis 😁

Selamat membaca 🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

rajes salam lubis

rajes salam lubis

lanjutkan

2022-10-11

1

pranacitra

pranacitra

ini nama² daerahnya mirip yg ada di Probolinggo,,Lumbang,sengkapuro

2022-06-06

3

LD. RAHMAT IKBAL

LD. RAHMAT IKBAL

pethak dan supa kayakx berjodoh jadi paman dan kemenakan hehehe

2022-05-30

2

lihat semua
Episodes
1 Korban Kutukan Ketujuh
2 Wafatnya Apanji Tohjaya
3 Tapa Ngalong
4 Ajian Tapak Brajamusti
5 Sudah Saatnya
6 Ujian Pertama Topo Ngrame
7 Dewa Obat dari Selatan
8 Perjalanan
9 Pencuri Kuda
10 Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11 Sapu Tangan Merah
12 Ajian Lembu Sekilan
13 Tugas Dari Patih Pranaraja
14 Jagoan Kampung
15 Sepasang Pisau Racun
16 Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17 Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18 Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19 Nawala
20 Hantu Desa Karangan
21 Hantu Desa Karangan 2
22 Jimat Lulang Kebo Landoh
23 Iblis Golok Pucat
24 Kenapa Buru-buru Pergi?
25 Hutan Kali Mati
26 Racun Ular Kuning
27 Nyamuk Pengganggu
28 Ajian Badai Laut Selatan
29 Tiga Gadis Desa
30 Walet Merah
31 Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32 Murid Perguruan Pedang Setan
33 Katumenggungan Kurawan
34 Katumenggungan Kurawan 2
35 Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36 Pertapaan Giri Lawu
37 Ajian Mata Dewa
38 Tiga Resi
39 Keributan di Warung Makan
40 Dewi Ular Siluman
41 Perguruan Pedang Perak
42 Malaikat Maut Mu
43 Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44 Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45 Melawan Si Mata Malaikat
46 Anjani
47 Penginapan Kembang Sore
48 Penginapan Kembang Sore 2
49 Delapan Setan Pencabut Nyawa
50 Sayembara
51 Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52 Begawan Pasopati
53 Karawitan Langen Sari
54 Kisah Masa Silam
55 Menuju Ke Kadiri
56 Pengemis Tapak Darah
57 Pengemis Tapak Darah 2
58 Misteri Gunung Penanggungan
59 Nyi Ratu Bulan Darah
60 Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61 Batu Inti Naga
62 Kekuatan Baru
63 Ratapan Di Tengah Hujan
64 Giliran
65 Selamatkan Rara Larasati
66 Dua Putri Lurah Lwaram
67 Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68 Dendam Kesumat
69 Persetubuhan Setan
70 Ajian Iblis Neraka
71 Kutuk Pasu
72 Dalang
73 Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74 Senjata untuk Klungsur
75 Rampok Bajing Ireng
76 Pertarungan Dua Wanita Cantik
77 Tolong Aku
78 Curahan Hati Sang Putri Adipati
79 Rajapati Pisau Perak
80 Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81 Menuju Saunggalah
82 Istana Atap Langit
83 Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84 Ajian Halimun
85 Di Kaki Gunung Pojoktiga
86 Uji Kemampuan Beladiri
87 Uji Kemampuan Beladiri 2
88 Uji Kemampuan Beladiri 3
89 Uji Kemampuan Beladiri 4
90 Uji Kemampuan Beladiri 5
91 Pendekar Muda Nomer Satu
92 Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93 Lembah Seribu Bunga
94 Balas Dendam
95 Sinar Rembulan
96 Setan Dari Neraka
97 Utusan
98 Dedemit Desa Randublatung
99 Kadipaten Bojonegoro
100 Kitab Pusaka Sabda Buana
101 Resi Mpu Dharma
102 Iri Hati Sang Ibu Tiri
103 Delapan Malaikat Pembunuh
104 Berebut Perahu Penyeberangan
105 Bajak Laut
106 Adipati Arya Wiraraja
107 Cinderamata Dari Pulau Madura
108 Penunggang Kuda di Tengah Malam
109 Menuju Kotaraja Singhasari
110 Nyi Lapat dan Rukmini
111 Sirep
112 Pendekar Sabit Berdarah
113 Sepasang Pedang Gunung Kawi
114 Gorawangsa
115 Pertarungan Tiga Bidadari
116 Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117 Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118 Jodoh Masa Kecil
119 Rencana Selanjutnya
120 Rahasia Nyi Sekati
121 Prajurit Gelang-gelang
122 Selir
123 Gembel Tua Berseruling Perak
124 Kitab Ilmu Seruling Neraka
125 Kawan Seperjalanan Baru
126 Anak Buah Raden Ronggo
127 Pertapaan Sapta Arga
128 Resi Candramaya
129 Musuhnya Musuh Adalah Teman
130 Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131 Kematian Akuwu Surenggono
132 Supit Urang
133 Menggempur Kota Wengker
134 Menggempur Kota Wengker 2
135 Kota Wengker Jatuh
136 Adipati Warok Singo Pethak
137 Siasat Raden Ronggo
138 Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139 Perang Akhir
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Korban Kutukan Ketujuh
2
Wafatnya Apanji Tohjaya
3
Tapa Ngalong
4
Ajian Tapak Brajamusti
5
Sudah Saatnya
6
Ujian Pertama Topo Ngrame
7
Dewa Obat dari Selatan
8
Perjalanan
9
Pencuri Kuda
10
Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11
Sapu Tangan Merah
12
Ajian Lembu Sekilan
13
Tugas Dari Patih Pranaraja
14
Jagoan Kampung
15
Sepasang Pisau Racun
16
Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17
Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18
Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19
Nawala
20
Hantu Desa Karangan
21
Hantu Desa Karangan 2
22
Jimat Lulang Kebo Landoh
23
Iblis Golok Pucat
24
Kenapa Buru-buru Pergi?
25
Hutan Kali Mati
26
Racun Ular Kuning
27
Nyamuk Pengganggu
28
Ajian Badai Laut Selatan
29
Tiga Gadis Desa
30
Walet Merah
31
Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32
Murid Perguruan Pedang Setan
33
Katumenggungan Kurawan
34
Katumenggungan Kurawan 2
35
Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36
Pertapaan Giri Lawu
37
Ajian Mata Dewa
38
Tiga Resi
39
Keributan di Warung Makan
40
Dewi Ular Siluman
41
Perguruan Pedang Perak
42
Malaikat Maut Mu
43
Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44
Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45
Melawan Si Mata Malaikat
46
Anjani
47
Penginapan Kembang Sore
48
Penginapan Kembang Sore 2
49
Delapan Setan Pencabut Nyawa
50
Sayembara
51
Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52
Begawan Pasopati
53
Karawitan Langen Sari
54
Kisah Masa Silam
55
Menuju Ke Kadiri
56
Pengemis Tapak Darah
57
Pengemis Tapak Darah 2
58
Misteri Gunung Penanggungan
59
Nyi Ratu Bulan Darah
60
Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61
Batu Inti Naga
62
Kekuatan Baru
63
Ratapan Di Tengah Hujan
64
Giliran
65
Selamatkan Rara Larasati
66
Dua Putri Lurah Lwaram
67
Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68
Dendam Kesumat
69
Persetubuhan Setan
70
Ajian Iblis Neraka
71
Kutuk Pasu
72
Dalang
73
Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74
Senjata untuk Klungsur
75
Rampok Bajing Ireng
76
Pertarungan Dua Wanita Cantik
77
Tolong Aku
78
Curahan Hati Sang Putri Adipati
79
Rajapati Pisau Perak
80
Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81
Menuju Saunggalah
82
Istana Atap Langit
83
Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84
Ajian Halimun
85
Di Kaki Gunung Pojoktiga
86
Uji Kemampuan Beladiri
87
Uji Kemampuan Beladiri 2
88
Uji Kemampuan Beladiri 3
89
Uji Kemampuan Beladiri 4
90
Uji Kemampuan Beladiri 5
91
Pendekar Muda Nomer Satu
92
Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93
Lembah Seribu Bunga
94
Balas Dendam
95
Sinar Rembulan
96
Setan Dari Neraka
97
Utusan
98
Dedemit Desa Randublatung
99
Kadipaten Bojonegoro
100
Kitab Pusaka Sabda Buana
101
Resi Mpu Dharma
102
Iri Hati Sang Ibu Tiri
103
Delapan Malaikat Pembunuh
104
Berebut Perahu Penyeberangan
105
Bajak Laut
106
Adipati Arya Wiraraja
107
Cinderamata Dari Pulau Madura
108
Penunggang Kuda di Tengah Malam
109
Menuju Kotaraja Singhasari
110
Nyi Lapat dan Rukmini
111
Sirep
112
Pendekar Sabit Berdarah
113
Sepasang Pedang Gunung Kawi
114
Gorawangsa
115
Pertarungan Tiga Bidadari
116
Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117
Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118
Jodoh Masa Kecil
119
Rencana Selanjutnya
120
Rahasia Nyi Sekati
121
Prajurit Gelang-gelang
122
Selir
123
Gembel Tua Berseruling Perak
124
Kitab Ilmu Seruling Neraka
125
Kawan Seperjalanan Baru
126
Anak Buah Raden Ronggo
127
Pertapaan Sapta Arga
128
Resi Candramaya
129
Musuhnya Musuh Adalah Teman
130
Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131
Kematian Akuwu Surenggono
132
Supit Urang
133
Menggempur Kota Wengker
134
Menggempur Kota Wengker 2
135
Kota Wengker Jatuh
136
Adipati Warok Singo Pethak
137
Siasat Raden Ronggo
138
Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139
Perang Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!