Namun lagi lagi Arya Pethak seperti menghilang dari pandangan saat sepasang pisau besar dari Sepasang Pisau Racun hampir mengenai kulit sang pemuda tampan.
Sepasang Pisau Racun kebingungan dengan menghilang nya Arya Pethak.
Tiba-tiba saja Arya Pethak muncul di samping Pendekar Pedang Merah alias Gajah Wiru yang kaget dengan kemunculannya.
"Setan alas,
Kau mengagetkan ku", teriak Gajah Wiru yang sampai berjingkrak karena kekagetannya.
"Hanya sekedar lewat,
Apa perlu dua orang tengik itu aku hajar sampai babak belur sobat?", tanya Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
"Terserah padamu,
Urusan ku hanya orang dungu itu", jawab Si Pendekar Pedang Merah sambil menunjuk ke arah Kebo Biru yang masih belum berpindah dari tempat berdirinya.
Arya Pethak segera mengangguk dan melesat cepat kearah Si Pisau Racun Merah yang paling dekat dengan nya.
Si Pisau Racun Merah segera menyabetkan pisau besar nya saat Arya Pethak mendekati nya. Namun itu hanya siasat Arya Pethak untuk membuat saudara seperguruan Pisau Racun Merah lengah.
Kembali Arya Pethak menghilang dan satu tendangan keras menghajar dada Si Pisau Racun Hitam.
Deshhhh..
Aaarrghhh!!
Si Pisau Racun Hitam menjerit keras saat tendangan keras kaki kanan Arya Pethak yang tiba-tiba muncul di hadapannya telak menghajar dada kanan nya. Laki laki paruh baya terpental ke belakang dan menghantam dinding kayu warung makan.
Dia muntah darah segar seketika.
Saat Si Pisau Racun Merah melotot melihat adik seperguruan nya muntah darah segar, tiba-tiba saja Arya Pethak sudah muncul di hadapan dan melayangkan pukulan keras kearah pipi kiri nya.
Brakkkk!!
Aauuggghhhh!
Empat gigi Si Pisau Racun Merah langsung tanggal akibat pukulan keras Arya Pethak. Pria itu langsung roboh dengan mulut mengeluarkan darah. Namun sebelum menyentuh lantai warung makan, dia melempar sebuah pisau kecil berwarna merah kearah Arya Pethak.
Whuuuuttt..!!
Namun Arya Pethak dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata biasa, segera menyambar potongan kayu meja makan yang hancur dan melemparkannya ke arah pisau kecil berwarna merah itu.
Potongan kayu menangkis laju pergerakan pisau kecil berwarna merah itu. Akibat nya, pisau berbelok arah pada Si Pisau Racun Hitam yang tengah berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.
Creeppp!!
Ougghhh!!
Pisau kecil berwarna merah itu dengan cepat menancap di dada Si Pisau Racun Hitam. Pria itu menjerit keras saat pisau beracun keji itu menembus kulit nya. Rasa panas menyengat segera melingkupi seluruh tubuh Pisau Racun Hitam. Tak berapa lama kemudian dia tewas dengan mulut berbusa dan mata melotot menahan sakit.
Melihat adik seperguruan nya tewas, Pisau Racun Merah langsung melemparkan puluhan pisau kecil berwarna merah kearah Arya Pethak.
Whuuuuttt whutttt!!
Arya Pethak yang tidak bisa menghindar karena tepat di belakang nya ada Paramita, langsung merapal Ajian Lembu Sekilan nya.
Tubuh pemuda tampan itu segera diliputi oleh sinar biru keemasan.
Tringgggg!!
Puluhan pisau kecil berwarna merah itu langsung berhenti melesat dan rontok ke tanah setelah membentur tubuh Arya Pethak.
Semua orang terkejut melihat kekuatan yang dimiliki oleh Arya Pethak, tak terkecuali Si Pendekar Pedang Merah.
'Hemmmmmm..
Aji Lembu Sekilan. Pemuda itu bukan pria sembarangan', batin Gajah Wiru sambil menatap ke arah Arya Pethak.
Pisau Racun Merah terkejut bukan main melihat lawan bisa menangkis lemparan pisau mereka tanpa tergores sedikitpun. Keterkejutan pria itu langsung berubah menjadi pucat pasi saat tiba-tiba saja Arya Pethak muncul di hadapan nya.
Whuuuuttt..
Hantaman tangan Arya Pethak yang di barengi dengan tenaga dalam telak menghajar dada Pisau Racun Merah.
Deshhhh
Aaarrghhh!!
Pisau Racun Merah menjerit keras. Tubuhnya melayang terbang ke belakang. Belum sempat menghantam dinding kayu warung makan, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah Pisau Racun Merah yang langsung menghujamkan pedang ke dada Pisau Racun Merah.
Jleepppp!!
Tubuh Pisau Racun Merah langsung menghantam lantai warung makan. Dia tewas dengan luka menganga di dada.
Paramita segera mencabut pedangnya dari dada mayat Pisau Racun Merah dan segera mengusapkan darah yang membasahi pedangnya pada baju lelaki itu.
Kebo Biru yang segera tersadar bahwa nyawanya dalam bahaya, segera melompat kabur dari warung makan.
Pendekar Pedang Merah alias Gajah Wiru tersenyum simpul melihat lawan nya melarikan diri. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengejar nya.
Gajah Wiru segera mendekati Arya Pethak yang masih berdiri tegak.
"Terima kasih atas bantuannya, Kisanak.
Perkenalkan, aku Gajah Wiru. Orang biasa memanggil ku Pendekar Pedang Merah", ujar Gajah Wiru sambil tersenyum tipis.
"Aku hanya benci waktu makan ku di ganggu dua cecunguk itu tadi, sama sekali tidak ada niat untuk membantu mu pendekar, karena kau sudah pasti mampu mengalahkan mereka.
Kau suka sekali bercanda.
Aku Arya Pethak dari Bukit Kahayunan", Arya Pethak mengangguk perlahan.
"Sungguh rendah hati,
Aku suka dengan sikap mu yang rendah hatimu.
Aku lihat kalian hendak pergi jauh. Boleh ku tahu kalian akan kemana?", tanya Gajah Wiru saat melihat Paramita, Sekarwangi dan Klungsur mendekati Arya Pethak.
"Kami ingin ke Kurawan, saudaraku", jawab Arya Pethak segera.
"Apa boleh aku ikut?
Aku ingin berkelana mencari pengalaman, saudaraku. Pria itu tidak akan menjadi bijaksana jika hanya berada di tempat yang sama", pinta Gajah Wiru sambil tersenyum tipis.
Arya Pethak segera menoleh ke arah Sekarwangi untuk meminta jawaban.
"Semua terserah padamu Kakang Pethak.
Karena kau pemimpin rombongan ini", ujar Sekarwangi alias Si Ragil Kuning sembari tersenyum manja.
"Baiklah, saudara Wiru.
Kau boleh ikut asal mematuhi peraturan kami. Apa kau sanggup?", tanya Arya Pethak sambil menatap wajah Gajah Wiru.
"Tentu saja, saudaraku.
Seperti kata wanita cantik ini, kau adalah pemimpin rombongan ini", jawab Gajah Wiru sambil mengangguk mengerti.
Usai membayar makanan mereka juga sedikit uang untuk kerusakan warung makan, rombongan Arya Pethak segera meninggalkan tempat itu. Kini mereka menjadi berlima dengan tambahan Gajah Wiru sebagai pengikut baru.
Usai meninggalkan Pakuwon Randu Blatung, rombongan Arya Pethak terus menyusuri jalan raya yang menghubungkan Pakuwon Pakuwon di wilayah Anjuk Ladang.
Usai berkuda seharian, menjelang sore, rombongan Arya Pethak menghentikan langkah kuda mereka di tepi sungai yang mengalir di bawah bukit yang menjadi perbatasan wilayah Anjuk Ladang dan Kurawan.
Bukit itu bernama Bukit Penampihan.
Gajah Wiru segera melompat turun dari kudanya mengikuti langkah Arya Pethak yang telah lebih dulu turun. Mereka segera menambatkan kuda mereka pada pohon perdu yang ada di tepi bebatuan yang ada di timur sungai kecil itu.
Klungsur langsung melompat ke arah sungai usai menambatkan kuda nya. Badan nya yang letih usai perjalanan mereka, terasa segar saat di basuh air sungai yang jernih.
Saat asyik mandi, seekor ikan tiba tiba masuk ke celana Klungsur.
"Loh loh loh...
Apa ini kog gerak gerak di dalam celana?", ujar Klungsur yang kegelian karena ikan itu masuk ke dalam celana nya.
Dengan cepat, tangan Klungsur segera menangkap ikan itu dan mengeluarkan dari dalam celana nya.
"Woh ikan semprul,
Ini bukan tempatnya kau boleh masuk. Nanti malam ku bakar kau", gerutu Klungsur sambil membanting ikan itu ke batu. Ikan langsung mati.
Klungsur terus bergerak mencari tambahan ikan yang hidup di sungai kecil itu.
Paramita yang sudah biasa berkelana, nampak tidak kerepotan menata tempat untuk istirahat. Lain halnya dengan Sekarwangi yang baru pertama kali akan tidur di tempat terbuka. Gadis cantik itu terlihat kebingungan dengan apa yang harus di lakukan.
Menjelang senja, Klungsur, Gajah Wiru dan Arya Pethak sudah kembali ke tempat mereka bermalam dengan membawa hasil buruan masing-masing.
Klungsur membawa serenteng ikan emas dan gabus yang dia dapat dari kali tempat mandinya tadi. Gajah Wiru membawa setandan pisang raja yang matang juga beberapa buah pepaya matang sedangkan Arya Pethak menenteng 5 ekor ayam hutan yang gemuk.
Malam itu mereka berkumpul melingkar di depan api unggun yang mereka tata sedemikian rupa untuk membakar buruan mereka.
Cahaya bulan yang redup menerangi membuat suasana semakin sahdu.
Arya Pethak terus membolak balik ayam hutan bakar nya diatas api unggun, begitu pula Klungsur yang memanggang ikan hasil tangkapannya.
Aroma wangi makanan segera menyebar ke sekeliling tempat itu.
Tanpa disadari oleh semua orang, aroma wangi makanan itu menarik perhatian seseorang yang tengah lewat di dekat tempat itu secara tak sengaja.
Dia adalah Mpu Lunggah.
Pria paruh baya berbadan tegap itu adalah pertapa di bukit Penampihan. Dia mendiami sisi Utara bukit itu dengan seorang istri nya, Nyi Parwati.
Melihat mereka, Mpu Lunggah segera melesat cepat kearah mereka yang tentu saja membuat mereka kaget bahkan Klungsur sampai jatuh terjengkang.
Whuuussshh..
Taph taphhh!!
"Maaf mengagetkan kalian kisanak..
Apakah kalian pengelana dari jauh?", tanya Mpu Lunggah dengan halus.
"Uh dasar kakek tua,
Kalau mau bergabung ya bilang saja, tak perlu mengagetkan kami", omel Klungsur sambil meniup ikan gabus nya yang kotor karena jatuh ke abu api unggun.
"Hehehe maaf kisanak maaf..
Kalau kalian tidak keberatan, kalian bisa pindah ke tempat ku dari pada membeku kedinginan di tempat ini. Udara malam di wilayah sini sangat dingin", tawar Mpu Lunggah dengan ramah.
Sekarwangi yang merasa dirinya tersiksa sejak tadi segera mendekati Arya Pethak.
"Ayo Kakang, kita terima tawaran dari kakek tua itu. Daripada kedinginan disini", bujuk Si Ragil Kuning alias Sekarwangi dengan penuh harap.
"Baiklah orang tua,
Kami terima tawaran mu. Biarkan teman teman ku membereskan semua perlengkapan kami dulu", jawab Arya Pethak sambil menatap ke arah Mpu Lunggah sambil mengambil buntalan kain berisi pakaian nya.
Mereka berlima segera mengikuti langkah Mpu Lunggah menembus malam yang baru saja turun di lereng Bukit Penampihan.
Klungsur yang kerepotan membawa ikan bakarnya nampak menggerutu dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di rumah kediaman Mpu Lunggah yang ada di sisi Utara bukit itu. Sebuah rumah yang terbuat dari kayu dengan atap alang-alang yang rapi. Cahaya sentir lampu minyak jarak tampak menyala di dalam rumah.
Tok tok tok..
"Nyi, buka pintu nya Nyi...", ucap Mpu Lunggah dengan sedikit keras. Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuju pintu rumah.
Dan...
Krieetttthhhh!
Pintu rumah terbuka lebar dan wajah seorang wanita paruh baya menyembul dari balik daun pintu.
"Kakang,
Kau bersama siapa??"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat membaca 🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Thomas Andreas
ada² aja
2023-05-20
1
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-10-12
1
rajes salam lubis
makan besar,mantap
2022-10-12
1