Arya Pethak dan Lembu Supa segera menoleh ke arah belakang. Gayatri melotot melihat tingkah mereka berdua yang mempermainkan Juragan Karto seperti mainan anak-anak.
"Kau tidak usah marah marah Gayatri, pria angkuh ini layak mendapat pelajaran", ujar Lembu Supa sambil tersenyum simpul.
"Tapi paman Supa, kita tidak boleh membuang waktu. Aku tidak mau kalau sampai kita bermalam di hutan lagi hanya karena paman asyik mengganggu pria gendut itu", omel Gayatri dengan cepat.
"Ya sudah kalau begitu, kita segera berangkat.
Pria gemuk, kemari kau", panggil Lembu Supa pada Juragan Karto yang masih berlutut di tanah.
"Iya pendekar iya,
Ada yang bisa aku lakukan?", tanya Juragan Karto yang segera berlari menuju ke arah Lembu Supa.
"Karena kau sudah membuat perjalanan kami terganggu, kau harus ganti rugi.
Sekarang berikan uang kepada kami. Cepat!", ujar Lembu Supa sambil menengadahkan tangan kanannya ke arah Juragan Karto. Pria gemuk itu segera merogoh kantong baju nya dan kemudian mengulurkan sekantong besar kepeng perak kepada Lembu Supa.
Dengan senyum tipis, Lembu Supa menimang-nimang kantong kain berisi uang di tangan kanannya itu.
"Ini pelajaran buat mu, agar kau tidak seenaknya saja menuduh orang lain tanpa bukti yang jelas.
Kali ini kau ku ampuni. Lain waktu jangan harap. Sekarang pergilah", usir Lembu Supa segera.
Juragan Karto segera berlari menjauhi Lembu Supa. Dengan nafas ngos-ngosan, dia terus berlari. Walaupun terengah-engah, dia bersyukur Lembu Supa dan Arya Pethak tidak menyiksanya.
Rombongan Arya Pethak segera menggebrak kudanya menuju ke arah Pejarakan.
Arya Pethak dengan cepat bisa berkuda. Pemuda tampan itu mampu mengendalikan kuda tunggangan nya mengikuti Lembu Supa dan anak murid Perguruan Kembang Biru yang memimpin di depan.
Debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka.
Setelah melewati hutan yang cukup lebat, mereka akhirnya memasuki wilayah Desa Pejarakan yang masuk wilayah Pakuwon Kunjang.
Desa itu terlihat cukup ramai dengan banyaknya pedagang dan orang berlalu lalang di jalan raya desa Pejarakan. Di tempat itu, yang menjadi lurah adalah Mahesa Parut, bekas prajurit Seminingrat yang ingin berhenti dari dunia keprajuritan. Mahesa Parut memiliki beberapa orang anak dari Ken Sati, istrinya. Diantaranya adalah Setyawati yang menjadi kembang desa dari Desa Pejarakan.
Karena kecantikannya, banyak pemuda dari desa sekitar maupun dari wilayah Pakuwon Kunjang berusaha mengambil hati Setyawati, namun usaha mereka sia sia belaka. Setyawati tetap tidak bergeming dengan bujuk rayu yang datang kepadanya.
Sepekan yang lalu, seorang lelaki muda berwajah tampan datang ke Pejarakan. Dia bermaksud meminang Setyawati namun laki laki itu juga di tolak halus oleh Setyawati. Si lelaki marah besar kemudian melemparkan sebuah bubuk berwarna kuning beraroma wangi pada Setyawati, yang membuat Setyawati langsung roboh dan pingsan. Awalnya Mahesa Parut tidak khawatir, tapi setelah sehari semalam Setyawati tidak bangun juga, Mahesa Parut mulai panik.
Beberapa tabib di sekitar wilayah Pejarakan bahkan sampai di Pakuwon Kunjang, tidak ada yang mampu mengobati sakit Setyawati. Setelah mendengar saran dari seorang teman, akhirnya Mahesa Parut mengutus seseorang untuk memanggil Begawan Tirta Wening alias Dewa Obat dari Selatan dari Gunung Kidul.
Paramita dan Begawan Tirta Wening terus memacu kudanya menuju ke rumah Mahesa Parut yang ada di tengah desa Pejarakan. Di belakangnya, Arya Pethak dan para anak murid Perguruan Kembang Biru mengikuti mereka.
Di halaman rumah yang luas dengan kentongan besar di sudut halaman, mereka menghentikan langkah kuda mereka.
Begawan Tirta Wening segera melompat turun dari kudanya diikuti oleh teman seperjalanan nya.
"Maaf kisanak. Apa benar ini rumah Mahesa Parut?", tanya Paramita pada seorang lelaki bertubuh gempal yang tampak berjaga-jaga di sekitar tempat itu.
"Benar. Kalian siapa?", tanya lelaki bertubuh gempal itu dengan tatapan mata menyelidiki.
"Aku Begawan Tirta Wening. Mahesa Parut memanggil ku kemari.
Beritahu dia tentang kedatangan ku", ujar Begawan Tirta Wening sambil mengelus jenggotnya.
Pria gempal itu tidak menjawab namun segera masuk ke dalam rumah kediaman Mahesa Parut. Tak berapa lama kemudian, Mahesa Parut keluar dari dalam rumah diikuti oleh si pria gempal itu.
"Puja Dewa Wisnu,
Syukurlah kau sudah datang Dewa Obat. Mari mari silahkan masuk", ujar Mahesa Parut segera.
"Kakek tua,
Karena kau sudah sampai di tempat yang kau tuju, sebaiknya kita berpisah disini. Mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Kadiri", ujar Arya Pethak sambil membungkuk hormat pada Dewa Obat dari Selatan itu.
"Oh tidak bisa,
Kau harus menemani ku semalam disini dulu, Pethak. Lanjutkan perjalanan mu esok pagi. Aku yakin Lembu Supa tidak keberatan", ucap Begawan Tirta Wening sambil menatap ke arah Lembu Supa.
Anggota Perguruan Kembang Biru itu langsung mengangguk mengerti. Dia tidak berani menolak keinginan kakek tua itu. Selain ahli pengobatan, Begawan Tirta Wening terkenal dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi nya.
Mau tidak mau, Arya Pethak terpaksa menuruti kemauan Begawan Tirta Wening.
Begawan Tirta Wening segera masuk ke rumah mengikuti langkah Mahesa Parut bersama Paramita dan Arya Pethak. Sedangkan Lembu Supa, Mahesa Cemeng, Gayatri dan Badrawati memilih menunggu di serambi kediaman Lurah Pejarakan itu.
Di dalam kamar Setyawati, tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Dia adalah Ken Sati, istri Mahesa Parut. Perempuan itu masih mengipasi tubuh Setyawati yang nampak seperti tidur.
"Silahkan Begawan,
Silahkan periksa keadaan putri ku", ujar Mahesa Parut dengan penuh pengharapan.
Begawan Tirta Wening segera berjalan mendekati ranjang Setyawati. Tangan kakek tua itu segera memegang pergelangan tangan putri Mahesa Parut.
Hemmmm
"Racun keji. Ini adalah gejala Racun Dewi Tidur yang terbuat dari bunga kecubung es dan ulat api", ujar Begawan Tirta Wening sambil menoleh kearah Mahesa Parut yang terus menatap ke arah putri bungsu nya itu.
"Jadi putri ku di racun orang Dewa Obat?", tanya Mahesa Parut yang terkejut mendengar jawaban Begawan Tirta Wening.
"Benar Mahesa Parut,
Seingat ku hanya Gajah Wiru yang terkenal dengan sebutan Racun Sesat yang memiliki kemampuan meracik racun ini", jawab Begawan Tirta Wening sambil meletakkan pergelangan tangan Setyawati di ranjangnya.
"Apakah ada obat untuk menyembuhkan racun ini, Dewa Obat? Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan putri ku", ucap Mahesa Parut dengan penuh kecemasan.
"Kau menghina ku, Mahesa Parut?
Racun ini bukan sesuatu yang istimewa. Cuma masalahnya bagaimana bisa putri mu terkena racun ini?", Begawan Tirta Wening mendelik ke arah Lurah Pejarakan itu.
Mahesa Parut lalu menceritakan tentang kejadian yang menimpa Setyawati. Begawan Tirta Wening manggut-manggut saja mendengar cerita.
Hemmmm
"Begitu rupanya..
Paramita,
Ambilkan kotak obat yang ada di buntalan kain merah. Aku akan mengobati anak Mahesa Parut itu", perintah Begawan Tirta Wening.
Paramita segera melakukan perintah kakeknya itu.
"Mahesa Parut,
Aku butuh air panas, gendok tanah liat, sejumput garam dan kain bersih", ujar Dewa Obat itu segera. Nyi Ken Sati segera menuju ke arah dapur untuk mengambilkan apa yang diminta oleh Begawan Tirta Wening.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa nampan berisi barang yang diminta.
"Paramita,
Bantu aku. Dan kau Pethak, sebaiknya kau keluar dari kamar ini dulu", ucap Begawan Tirta Wening yang mulai meracik obat untuk Setyawati.
Arya Pethak segera melangkah keluar dari kamar tidur anak Lurah Pejarakan itu. Di serambi rumah, para anak murid Perguruan Kembang Biru sedang asyik berbincang tentang rencana kedepannya.
"Paman Supa,
Besok kita sampai di Kadiri. Kalau boleh tau, sebenarnya paman ini mau mencari siapa?", tanya Arya Pethak sambil menatap wajah Lembu Supa.
"Sebenarnya aku ingin menemui Gusti Patih Pranaraja, Pethak.
Sekaligus ingin mengantar Gayatri menemui pamannya itu", ucap Lembu Supa dengan perlahan.
"Paman? Jadi dia keponakan Patih Pranaraja?", tanya Arya Pethak sambil menunjuk ke arah Gayatri.
"Benar, Pethak..
Jadi ayah Gayatri yang menjadi pemimpin Perguruan Kembang Biru adalah adik Patih Pranaraja", ujar Lembu Supa sambil tersenyum tipis.
"Oh begitu rupanya..
Pantas saja dia galak sekali", sindir Arya Pethak yang disambut pelototan mata Gayatri.
"Kau sendiri ke Kadiri mau menemui siapa?", tanya Gayatri dengan nada sedikit tinggi.
"Aku juga mau menemui Patih Pranaraja. Aku di utus ayah ku untuk memberikan surat padanya", jawab Arya Pethak dengan jujur.
"Ahh ternyata tujuan kita pun sama. Kita memang berjodoh", ucap Lembu Supa dengan wajah gembira.
Saat mereka masih berbincang, Begawan Tirta Wening dan Paramita keluar dari kamar tidur Setyawati di temani Mahesa Parut.
Siang itu Mahesa Parut menghidangkan pelbagai jenis makanan kepada para tamunya.
Seusai makan, Arya Pethak ingin melihat sekitar wilayah Pejarakan dengan jalan kaki.
"Aku ikut Pethak, aku bosan duduk terus disini", ujar Gayatri yang segera berlari mengejar langkah Arya Pethak.
Melihat itu, hati Paramita langsung tersulut api cemburu. Cucu Dewa Obat dari Selatan itu segera melesat menyusul dua orang itu.
Mereka bertiga berjalan keliling desa Pejarakan. Hijau nya persawahan dan musim buah mangga yang mulai matang di beberapa tempat membuat perjalanan mereka menjadi menyenangkan.
Saat mereka sedang asyik menikmati keindahan alam, tiba tiba muncul dua orang lelaki berbaju biru dan kuning dengan wajah tampan.
Siuuttt..
Jlegg!!
Kemunculan dua orang itu membuat Arya Pethak, Gayatri dan Paramita terkejut.
"Siapa kalian? Mau apa menghalangi jalan kami?", tanya Gayatri dengan cepat.
"Kami adalah Sepasang Pendekar Pemetik Bunga. Aku Paksi Kuning dan dia Walet Biru.
Apa kalian sudah pernah mendengar nama kami?", ujar Paksi Kuning sambil tersenyum cabul. Dua orang itu memang sepasang pendekar cabul yang suka memperkosa perempuan. Nama mereka tersohor di dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuh dan perbuatan bejatnya. Selama beberapa tahun terakhir mereka menjadi buronan pemerintah Singhasari, tapi selalu berhasil lolos dari sergapan para prajurit.
Paramita dan Gayatri langsung mundur selangkah di belakang Arya Pethak. Mereka merasa takut.
"Memangnya siapa mereka, Gayatri? Kenapa kau ketakutan begitu?", tanya Arya Pethak yang heran melihat tingkah Gayatri dan Paramita.
"Mereka itu pendekar mesum, suka memperkosa wanita, Pethak", jawab Gayatri yang diam-diam mulai meraba gagang pedang nya.
"Oh jadi kalian yang suka berbuat mesum itu?
Kebetulan sekali, akan ku anggap ini sebagai ujian topo ngrame ku yang kedua", ujar Arya Pethak yang segera bersiap-siap.
"Mengalahkan pemuda ingusan seperti mu adalah perkara mudah.
Walet Biru,
Kau bisa mengatasi pemuda itu dengan cepat, bukan? Aku sudah tidak sabar untuk bercinta dengan gadis berbaju biru itu", ucap Paksi Kuning sambil tersenyum mesum.
Walet Biru segera melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan pedangnya. Kecepatan nya luar biasa seperti terbang ke arah Arya Pethak yang masih terlihat tenang.
Sreeeetttt
Dengan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak segera menghindari sabetan pedang Walet Biru yang mengincar nyawanya. Melihat lawan dengan mudah menghindari sabetan pedang nya, Walet Biru terkejut bukan main. Selama ini kecuali tokoh dedengkot dunia persilatan jarang ada yang mampu menghindari sabetan pedang nya.
Walet Biru segera memutar tubuhnya dan dengan cepat kembali menyabetkan pedang nya ke arah leher Arya Pethak.
Whuuuummmm
Namun, lagi lagi Arya Pethak dengan mudah berkelit dari serangan Walet Biru yang mematikan.
Paksi Kuning memandang pertarungan itu dengan mata terbelalak lebar.
Setelah sepuluh jurus terlewati, sabetan pedang Walet Biru kembali menyerang tempat kosong. Arya Pethak segera memutar tubuhnya dan dengan cepat menghantam dada Walet Biru yang lengah.
Deshhhh
Ougghhh
Kerasnya pukulan Arya Pethak membuat tubuh Walet Biru terpelanting ke belakang sejauh beberapa tombak dan jatuh ke tanah dengan keras.
Melihat adik seperguruan nya jatuh, Paksi Kuning segera melesat cepat kearah Arya Pethak yang sudah bersiap untuk melanjutkan pertarungan.
Sabetan pedang Paksi Kuning mengincar leher Arya Pethak. Dengan kecepatan luar biasa, Arya Pethak mundur selangkah dan kembali melayangkan pukulan ke arah Paksi Kuning.
Whuuuuttt
Paksi Kuning segera menangkis hantaman tangan Arya Pethak dengan tangan kiri nya.
Blarrrr!
Ledakan terdengar dari benturan dua tenaga dalam antara Arya Pethak dan Paksi Kuning. Dua orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Paksi Kuning merasakan tangan kiri nya kebas dan ngilu sedangkan Arya Pethak hanya tersenyum tipis.
Dari benturan tadi, Paksi Kuning tau kalau tenaga dalam nya ada di bawah Arya Pethak.
'Bangsat ini berilmu tinggi rupanya,
Aku harus hati-hati', batin Paksi Kuning dalam hati.
Paksi Kuning segera melirik ke arah Walet Biru yang sudah berdiri. Melihat lirikan mata Paksi Kuning, Walet Biru segera melesat cepat sambil kembali membabatkan pedang nya. Paksi Kuning pun dengan cepat melakukan hal yang sama.
Whuuuuttt whutttt..
Sabetan pedang dari Sepasang Pendekar Pemetik Bunga itu benar-benar berbahaya. Arya Pethak segera memutar tubuhnya, sambil menghindari sabetan pedang dari dua arah yang berlainan.
Dengan cepat Arya Pethak merapal Ajian Tapak Brajamusti nya. Tangan kanannya yang diliputi oleh sinar biru terang dengan cepat dia hantamkan ke arah dada Walet Biru.
Blammmmm!!!
Arrgghhhh..!
Kembali Walet Biru terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Kali ini dia tidak bangun lagi karena Tapak Brajamusti menghancurkan dada Walet Biru. Dia tewas seketika.
Melihat adik seperguruan nya tewas, Paksi Kuning segera melesat cepat kearah Arya Pethak sambil menghantamkan tangan kanan nya yang sudah dilambari Ajian Penghancur Tulang nya. Dengan cepat, Arya Pethak segera memapak serangan itu dengan Ajian Tapak Brajamusti nya.
Dhuuuaaaaarrrrrr!!
Paksi Kuning terlempar jauh ke belakang dan menghantam pohon beringin yang memiliki dahan lancip karena baru ditebang.
Jresshhhh!!
Ougghhh
Paksi Kuning menjerit seketika setelah dahan pohon beringin itu menancap di pinggangnya. Tak lama kemudian dia tewas dengan tubuh menancap di batang pohon beringin.
Arya Pethak yang terdorong mundur dua tombak, menghantam tanah dengan keras.
Huuoogghh
Pemuda tampan itu muntah darah segar pertanda dia menderita luka dalam cukup serius.
Melihat itu Gayatri dan Paramita segera mendekati Arya Pethak. Dengan cepat mereka memapah tubuh Arya Pethak menuju ke rumah kediaman Lurah Pejarakan.
"Eyang..
Tolong Kakang Pethak!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca 🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
rajes salam lubis
mantap
2022-10-11
1
rajes salam lubis
lha,ilmu pethak masih cetek,cemen
2022-10-11
1
rajes salam lubis
hebat
2022-10-11
1