Para pengawal setia Apanji Tohjaya terus berlari menuju kearah timur. Luka Apanji Tohjaya terus mengeluarkan darah. Di desa Katang Lumbang, para pengawal setia Apanji Tohjaya yang dipimpin oleh Tumenggung Menjangan Puguh menghentikan pelarian mereka di rumah Lurah Katang Lumbang yang bernama Ki Ranapati.
"Ki Lurah,
Cepat cari seorang tabib untuk mengobati luka Gusti Apanji Tohjaya", ujar Pengalasan dari Mula yang terus menemani Apanji Tohjaya. Dia sudah menjadi abdi dalem Tohjaya sejak masih di Tumapel.
"Baik Ki,
Akan ku usahakan secepatnya", ujar Ki Lurah Ranapati sambil mundur dari serambi kediaman nya.
Pria paruh baya itu setengah berlari menuju ke rumah seorang tabib yang bernama Banyak Kapuk dengan di temani seorang pelayan.
Di depan rumah Banyak Kapuk, Ki Ranapati segera menggedor pintu rumah tabib desa itu.
Dok dokk dokkk!
Terdengar suara langkah kaki menuju pintu, dan saat pintu terbuka seorang lelaki paruh baya dengan kumis yang memutih menyambut kedatangan Ki Ranapati.
"Ada apa Ki Lurah? Kog tumben pagi buta kemari?", ujar Banyak Kapuk sambil menatap heran ke Lurah Katang Lumbang itu.
"Jangan banyak tanya. Cepat kau bawa peralatan pengobatan mu dan ikut ke rumah ku sekarang", perintah Lurah Katang Lumbang itu dengan cepat.
Mendengar jawaban itu, Banyak Kapuk segera berlari menuju ke dalam rumah. Tak berapa lama lagi dia sudah kembali dengan membawa kotak obat yang terbuat dari kayu jati berukir.
Mereka bertiga pun segera bergegas menuju ke rumah kediaman Lurah Katang Lumbang.
Melihat kedatangan mereka, Pengalasan dari Mula tersenyum lega. Harapan untuk menyelamatkan nyawa Apanji Tohjaya semakin besar.
Banyak Kapuk segera menjalankan tugas nya sesuai arahan dari Lurah Katang Lumbang. Melihat luka di tangan kanan dan di perut Apanji Tohjaya, Banyak Kapuk dengan hati hati membersihkan sekitar luka.
Dengan perlahan Banyak Kapuk menabur obat ke luka Apanji Tohjaya. Kemudian dia membungkus luka dengan kain putih dengan di bantu oleh Pengalasan dari Mula, abdi setia Apanji Tohjaya.
Menjangan Puguh menarik nafas lega. Meskipun luka Apanji Tohjaya terus mengeluarkan darah, tapi dengan perawatan ini memberi harapan kesembuhan untuk junjungan nya.
Sementara itu, Pasukan Tumapel terus mengendus keberadaan Apanji Tohjaya yang menghilang seperti ditelan bumi.
Setelah hampir dua pekan mencari, akhirnya sebuah titik terang mereka temukan dari seorang pedagang yang melihat puluhan prajurit Kediri berada di Katang Lumbang.
Dengan dipimpin oleh Narajaya alias Mahesa Campaka, pasukan Tumapel bergerak menuju ke Katang Lumbang.
Selama sepuluh hari ini, keadaan Apanji Tohjaya terus memburuk. Luka tusukan Keris Mpu Gandring terus mengeluarkan darah. Dari pagi Apanji Tohjaya sudah tidak sadarkan diri dua kali.
Ketiga kalinya, Apanji Tohjaya tak sadarkan diri. Putra Ken Arok itu akhirnya meninggal dunia di Katang Lumbang.
Saat yang bersamaan, Mahesa Campaka datang ke Katang Lumbang dengan membawa pasukan Tumapel.
Melihat Pengalasan dari Mula tertunduk diam juga raut wajah kusut dari Menjangan Puguh, Mahesa Campaka yang cerdas langsung menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Apanji Tohjaya.
Para pengawal setia Apanji Tohjaya yang melihat kedatangan Mahesa Campaka dan pasukan Tumapel sama sekali tidak bernafsu untuk menghadapi mereka. Mereka malah membuang senjata mereka ke tanah.
"Katakan apa yang sedang terjadi, Menjangan Puguh?", tanya Mahesa Campaka pada Menjangan Puguh yang duduk di bawah pohon sawo pada halaman rumah Lurah Katang Lumbang.
"Gusti Apanji Tohjaya sudah meninggal dunia Narajaya, dia sudah meninggal", jawab bekas tumenggung Kadiri itu dengan lesu.
"Kalau begitu, adakan upacara penyucian jiwa untuk nya. Bagaimanapun, dia adalah kerabat dekat istana Tumapel.
Sudah selayaknya dia mendapatkan penghormatan untuk terakhir kalinya", ujar Mahesa Campaka sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih Narajaya, terima kasih.
Sekalipun aku harus mati, aku rela asal Gusti Apanji Tohjaya mendapatkan tempat yang layak sebagaimana mestinya", mata Menjangan Puguh berkaca-kaca mendengar ucapan Mahesa Campaka.
Hari itu, upacara penyucian jiwa Apanji Tohjaya dilaksanakan di Katang Lumbang. Mahesa Campaka yang menyaksikan perabuan itu, menghela nafas lega.
'Dengan ini, Bumi Tumapel akan lebih tentram dan damai ke depannya. Selamat jalan Paman Tohjaya', batin Mahesa Campaka sambil terus menatap api yang membakar jasad Apanji Tohjaya.
Setelah perabuan, 50 prajurit setia Tohjaya juga Pengalasan dari Mula dan Tumenggung Menjangan Puguh di bawa ke Kadiri untuk adili. Sedangkan Lurah Katang Lumbang yang membantu mereka, di bebaskan karena dia sama sekali tidak tahu menahu tentang pergantian pucuk pimpinan di istana Kadiri.
Tahun 1250 M, kerajaan Kadiri yang sempat memisahkan diri dari Tumapel saat Anusapati naik takhta Kerajaan Tumapel, di satukan kembali ke Tumapel setelah Seminingrat yang sebelumnya telah menikahi putri sulung Mahesa Wong Ateleng atau Batara Parameswara yang bernama Dewi Waning Hyun.
Dengan penyatuan ini, wilayah Tanah Jawa kembali menjadi tenang. Pun dunia persilatan menjadi kacau karena hilangnya Keris Mpu Gandring sudah menjadi rahasia umum. Mereka terus mencoba melacak keberadaan keris pusaka itu, tapi keris pusaka itu bagai hilang di telan bumi.
Sementara itu di lereng Bukit Kahayunan, Nyi Ratih terlihat begitu senang dengan kehadiran bayi laki-laki tampan yang dibawa oleh Mpu Prawira tempo hari. Dia merasakan kenikmatan menjadi seorang ibu yang selama ini sangat ingin dia rasakan.
Nyi Ratih memberi nama bocah itu Arya Pethak karena kulitnya yang putih dan wajah nya yang tampan.
Mpu Prawira terus menatap ke arah istri nya yang nampak bahagia itu dengan senyum tipis. Dia tak menduga bahwa tugas yang di bebankan kepada nya, menjadi awal kebahagiaan untuk istrinya.
17 tahun kemudian.
Seorang pemuda tampan sedang memanggul dua jun dari bambu betung berjalan melewati tangga di jalan menuju ke sebuah rumah yang ada di lereng Bukit Kahayunan.
Tubuh berotot dan kekarnya menjadi pertanda bahwa dia melatih tubuhnya selama bertahun-tahun lamanya.
Pemuda itu adalah Arya Pethak, putra angkat Mpu Prawira dan Nyi Ratih.
Jalan setapak itu begitu sepi, karena hanya ada satu rumah yang ada disana. Mpu Prawira dan Nyi Ratih memang sengaja menyepi dari ramainya dunia.
Sepasang kupu-kupu terbang menemani langkah Arya Pethak yang terus melangkah ke menuju ke rumah yang ada di lereng Bukit Kahayunan itu.
Tiba-tiba..
Sringg!!
Sebuah anak panah melesat cepat kearah Arya Pethak. Pemuda itu yang sadar bahaya mengancam nyawa segera menjejak tanah, lalu melenting tinggi ke udara menghindari anak panah. Panah melesat cepat dan menancap pada sebatang pohon randu yang ada di samping jalan setapak.
Creeppp!!
Arya Pethak mendarat turun dengan cepat, dari rimbun pohon seorang bayangan hitam berkelebat cepat dengan mengayunkan tongkatnya ke arah leher Arya Pethak.
Whuuussshh
Seketika Arya Pethak berguling ke tanah menghindari gebukan tongkat, tapi dengan cepat si penyerang memburunya dengan serangan yang berbahaya.
Si bayangan hitam kembali mengincar dada Arya Pethak tapi pemuda itu terus bergerak gesit dengan melenting tinggi ke udara. Melihat lawan bisa menghindar dari serangan nya, si bayangan hitam dengan cepat hantamkan tangan ke arah Arya Pethak.
Whuuuuttt
Angin kencang berhawa panas menerabas cepat kearah Arya Pethak. Dengan gesit pemuda tampan itu melompat tinggi ke udara dan balas menghantamkan tangan kanannya yang di lapisi tenaga dalam kearah si bayangan hitam.
Dengan cepat si bayangan hitam menyongsong hantaman tangan Arya Pethak dengan tapak nya.
Blarrrr!!!
Si bayangan hitam terdorong mundur selangkah sedangkan Arya Pethak terlempar jauh ke belakang.
Si bayangan hitam segera membuka topeng kayu nya, dan wajah Mpu Prawira yang muncul dari balik topeng kayu itu tersenyum simpul.
"Bagus Pethak..
Tak sia-sia aku mendidik mu untuk menjadi pendekar tangguh. Gerakan mu sudah cepat, hanya kurang tenaga dalam.
Mulai besok, kau harus bertapa selama 40 hari untuk meningkatkan tenaga dalam mu. Jika setelah bertapa, tenaga dalam mu meningkat, maka kau akan ku ajari ajian andalan ku", ujar Mpu Prawira dengan penuh kasih sayang. Jenggot putih nya yang lebat tampak berkibar di tiup angin.
"Terimakasih Romo..
Aku akan patuh dengan semua K
ajaran dari Kanjeng Romo", jawab Arya Pethak yang baru berdiri dari tempat jatuhnya.
"Sekarang ambil air lagi untuk biyung mu, Pethak. Dia pasti sudah menunggu kedatangan mu", Mpu Prawira segera melesat cepat kearah rumahnya.
'Dasar Romo,
Dia yang menyebabkan masalah, eh malah aku yang dapat getahnya', gumam Arya Pethak sambil melompat turun ke belik kecil yang ada di kaki Bukit Kahayunan.
Nyi Ratih berkacak pinggang di depan rumah saat Arya Pethak datang dengan membawa 2 jun dari bambu betung di punggungnya.
"Kenapa lama sekali, Pethak?
Bukankah sudah ku suruh cepat ambil air nya?", tanya Nyi Ratih dengan sedikit kesal.
"Maaf biyung,
Tadi waktu jalan pulang, Pethak tersandung akar pohon jadi air yang Pethak bawa tumpah. Jadi terpaksa ambil lagi", jawab Arya Pethak sambil menunduk.
Hemmmm
"Dasar bocah ceroboh,
Lain kali hati-hati to Ngger. Ya sudah mana airnya? Biyung mu mau masak untuk makan kita nanti malam", ucap Nyi Ratih dengan nada yang lembut pada Arya Pethak yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.
Arya Pethak segera membawa jun dari bambu betung itu ke dapur dan menuangkan air ke dalam gentong dari tanah liat.
Malam itu, usai makan bersama dengan menu sederhana, mereka bercakap-cakap dengan hangat di serambi depan rumah mereka.
"Nyi, besok aku akan membawa Pethak bertapa di puncak Bukit Kahayunan ini selama 40 hari.
Untuk membentuk dan menata tenaga dalam nya sebagai pendekar di masa depan", kata Mpu Prawira pada istri nya itu.
"Itu terserah Kakang, yang penting Pethak menjadi orang yang berguna untuk negeri ini. Aku sebagai istri hanya bisa taat pada apa yang menjadi kemauan kakang sebagai suami ku", Nyi Ratih menatap wajah tampan Arya Pethak yang terlihat bersemangat untuk segera mengikuti perintah Mpu Prawira.
Keesokan paginya, saat mentari sepenggal naik di ufuk timur, Mpu Prawira dan Arya Pethak melangkah menuju ke puncak Bukit Kahayunan untuk mulai melakukan pertapaan selama 40 hari.
Di sebuah ceruk batu yang cukup dalam dan lebar, Mpu Prawira menyuruh Arya Pethak untuk masuk dan bertapa di sana. Dengan patuh, Arya Pethak mengikuti semua perintah Mpu Prawira.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari tempat itu Pethak. Sekalipun ada suara aneh ataupun makhluk apapun yang terlihat, jangan pernah melangkah dari ceruk batu ini", ujar Mpu Prawira pada Arya Pethak yang mulai duduk bersila di dalam ceruk batu.
"Aku mengerti Kanjeng Romo", jawab Arya Pethak sambil memejamkan mata, menata hati dan pikirannya.
Selama 40 hari lamanya, Arya Pethak harus menahan lapar, haus dan perubahan cuaca yang terjadi di ceruk batu itu.
Pada hari ke 41, Mpu Prawira datang ke ceruk batu itu untuk membangunkan Arya Pethak dari pertapaan nya.
"Putra ku Arya Pethak, bangunlah..
Masa pertapaan mu sudah usai. Waktunya kau menerima ilmu ku", perintah Mpu Prawira pada Arya Pethak yang dengan perlahan membuka mata nya.
Dengan tubuh yang masih lemah karena tidak makan berhari-hari, Arya Pethak dengan lemah keluar dari ceruk batu tempat pertapaan nya. Dengan langkah gontai, pemuda tampan itu mendekati Mpu Prawira.
Kakek tua berjenggot lebat itu tersenyum dan segera memapah tubuh Arya Pethak. Dengan cepat Mpu Prawira mendudukkan tubuh Arya Pethak kemudian memberikan sejumlah makanan pada putra nya itu.
Arya Pethak segera memakan makanan itu dengan lahap.
Setelah usai makan, perlahan tenaga Arya Pethak pulih kembali.
Mpu Prawira segera memeriksa nadi dan tenaga dalam Arya Pethak. Wajah sepuh pria berjenggot lebat itu langsung cerah setelah mengetahui bahwa tenaga dalam Arya Pethak mulai tertata lewat pertapaan kemarin.
"Tak salah perkiraan ku. Kau memang calon pendekar pilih tanding, putraku", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum penuh arti.
"Mulai hari ini akan ku turunkan ajian ajian andalan ku. Yang pertama Ajian Langkah Dewa Angin yang akan membuat mu mampu bergerak cepat bagai kilat dan seringan bulu burung merpati.
Mulai malam ini kau harus ngalong (bergantung seperti kelelawar) sebagai langkah awal kau menata nafas dan denyut nadi mu, Pethak", imbuh Mpu Prawira kemudian.
"Pethak akan siap Kanjeng Romo, tapi sebelum kita mulai, aku ingin bertemu biyung lebih dulu Romo. Aku kangen sekali padanya", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Hehehe
"Dasar anak biyung. Ayo kita temui biyung mu Ngger", Mpu Prawira tertawa kecil kemudian segera melompat turun menuju rumah mereka yang ada di lereng bawah Bukit Kahayunan.
Arya Pethak segera menyusul kemudian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca kak 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Windy Veriyanti
akan menjadi pendekar pilih tanding 👍
2024-05-05
0
Efendi Siantar
👍
2024-01-30
0
Roni Sakroni
sejarah Indonesia... mantap
2024-01-27
0