Wafatnya Apanji Tohjaya

Para pengawal setia Apanji Tohjaya terus berlari menuju kearah timur. Luka Apanji Tohjaya terus mengeluarkan darah. Di desa Katang Lumbang, para pengawal setia Apanji Tohjaya yang dipimpin oleh Tumenggung Menjangan Puguh menghentikan pelarian mereka di rumah Lurah Katang Lumbang yang bernama Ki Ranapati.

"Ki Lurah,

Cepat cari seorang tabib untuk mengobati luka Gusti Apanji Tohjaya", ujar Pengalasan dari Mula yang terus menemani Apanji Tohjaya. Dia sudah menjadi abdi dalem Tohjaya sejak masih di Tumapel.

"Baik Ki,

Akan ku usahakan secepatnya", ujar Ki Lurah Ranapati sambil mundur dari serambi kediaman nya.

Pria paruh baya itu setengah berlari menuju ke rumah seorang tabib yang bernama Banyak Kapuk dengan di temani seorang pelayan.

Di depan rumah Banyak Kapuk, Ki Ranapati segera menggedor pintu rumah tabib desa itu.

Dok dokk dokkk!

Terdengar suara langkah kaki menuju pintu, dan saat pintu terbuka seorang lelaki paruh baya dengan kumis yang memutih menyambut kedatangan Ki Ranapati.

"Ada apa Ki Lurah? Kog tumben pagi buta kemari?", ujar Banyak Kapuk sambil menatap heran ke Lurah Katang Lumbang itu.

"Jangan banyak tanya. Cepat kau bawa peralatan pengobatan mu dan ikut ke rumah ku sekarang", perintah Lurah Katang Lumbang itu dengan cepat.

Mendengar jawaban itu, Banyak Kapuk segera berlari menuju ke dalam rumah. Tak berapa lama lagi dia sudah kembali dengan membawa kotak obat yang terbuat dari kayu jati berukir.

Mereka bertiga pun segera bergegas menuju ke rumah kediaman Lurah Katang Lumbang.

Melihat kedatangan mereka, Pengalasan dari Mula tersenyum lega. Harapan untuk menyelamatkan nyawa Apanji Tohjaya semakin besar.

Banyak Kapuk segera menjalankan tugas nya sesuai arahan dari Lurah Katang Lumbang. Melihat luka di tangan kanan dan di perut Apanji Tohjaya, Banyak Kapuk dengan hati hati membersihkan sekitar luka.

Dengan perlahan Banyak Kapuk menabur obat ke luka Apanji Tohjaya. Kemudian dia membungkus luka dengan kain putih dengan di bantu oleh Pengalasan dari Mula, abdi setia Apanji Tohjaya.

Menjangan Puguh menarik nafas lega. Meskipun luka Apanji Tohjaya terus mengeluarkan darah, tapi dengan perawatan ini memberi harapan kesembuhan untuk junjungan nya.

Sementara itu, Pasukan Tumapel terus mengendus keberadaan Apanji Tohjaya yang menghilang seperti ditelan bumi.

Setelah hampir dua pekan mencari, akhirnya sebuah titik terang mereka temukan dari seorang pedagang yang melihat puluhan prajurit Kediri berada di Katang Lumbang.

Dengan dipimpin oleh Narajaya alias Mahesa Campaka, pasukan Tumapel bergerak menuju ke Katang Lumbang.

Selama sepuluh hari ini, keadaan Apanji Tohjaya terus memburuk. Luka tusukan Keris Mpu Gandring terus mengeluarkan darah. Dari pagi Apanji Tohjaya sudah tidak sadarkan diri dua kali.

Ketiga kalinya, Apanji Tohjaya tak sadarkan diri. Putra Ken Arok itu akhirnya meninggal dunia di Katang Lumbang.

Saat yang bersamaan, Mahesa Campaka datang ke Katang Lumbang dengan membawa pasukan Tumapel.

Melihat Pengalasan dari Mula tertunduk diam juga raut wajah kusut dari Menjangan Puguh, Mahesa Campaka yang cerdas langsung menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Apanji Tohjaya.

Para pengawal setia Apanji Tohjaya yang melihat kedatangan Mahesa Campaka dan pasukan Tumapel sama sekali tidak bernafsu untuk menghadapi mereka. Mereka malah membuang senjata mereka ke tanah.

"Katakan apa yang sedang terjadi, Menjangan Puguh?", tanya Mahesa Campaka pada Menjangan Puguh yang duduk di bawah pohon sawo pada halaman rumah Lurah Katang Lumbang.

"Gusti Apanji Tohjaya sudah meninggal dunia Narajaya, dia sudah meninggal", jawab bekas tumenggung Kadiri itu dengan lesu.

"Kalau begitu, adakan upacara penyucian jiwa untuk nya. Bagaimanapun, dia adalah kerabat dekat istana Tumapel.

Sudah selayaknya dia mendapatkan penghormatan untuk terakhir kalinya", ujar Mahesa Campaka sambil tersenyum tipis.

"Terima kasih Narajaya, terima kasih.

Sekalipun aku harus mati, aku rela asal Gusti Apanji Tohjaya mendapatkan tempat yang layak sebagaimana mestinya", mata Menjangan Puguh berkaca-kaca mendengar ucapan Mahesa Campaka.

Hari itu, upacara penyucian jiwa Apanji Tohjaya dilaksanakan di Katang Lumbang. Mahesa Campaka yang menyaksikan perabuan itu, menghela nafas lega.

'Dengan ini, Bumi Tumapel akan lebih tentram dan damai ke depannya. Selamat jalan Paman Tohjaya', batin Mahesa Campaka sambil terus menatap api yang membakar jasad Apanji Tohjaya.

Setelah perabuan, 50 prajurit setia Tohjaya juga Pengalasan dari Mula dan Tumenggung Menjangan Puguh di bawa ke Kadiri untuk adili. Sedangkan Lurah Katang Lumbang yang membantu mereka, di bebaskan karena dia sama sekali tidak tahu menahu tentang pergantian pucuk pimpinan di istana Kadiri.

Tahun 1250 M, kerajaan Kadiri yang sempat memisahkan diri dari Tumapel saat Anusapati naik takhta Kerajaan Tumapel, di satukan kembali ke Tumapel setelah Seminingrat yang sebelumnya telah menikahi putri sulung Mahesa Wong Ateleng atau Batara Parameswara yang bernama Dewi Waning Hyun.

Dengan penyatuan ini, wilayah Tanah Jawa kembali menjadi tenang. Pun dunia persilatan menjadi kacau karena hilangnya Keris Mpu Gandring sudah menjadi rahasia umum. Mereka terus mencoba melacak keberadaan keris pusaka itu, tapi keris pusaka itu bagai hilang di telan bumi.

Sementara itu di lereng Bukit Kahayunan, Nyi Ratih terlihat begitu senang dengan kehadiran bayi laki-laki tampan yang dibawa oleh Mpu Prawira tempo hari. Dia merasakan kenikmatan menjadi seorang ibu yang selama ini sangat ingin dia rasakan.

Nyi Ratih memberi nama bocah itu Arya Pethak karena kulitnya yang putih dan wajah nya yang tampan.

Mpu Prawira terus menatap ke arah istri nya yang nampak bahagia itu dengan senyum tipis. Dia tak menduga bahwa tugas yang di bebankan kepada nya, menjadi awal kebahagiaan untuk istrinya.

17 tahun kemudian.

Seorang pemuda tampan sedang memanggul dua jun dari bambu betung berjalan melewati tangga di jalan menuju ke sebuah rumah yang ada di lereng Bukit Kahayunan.

Tubuh berotot dan kekarnya menjadi pertanda bahwa dia melatih tubuhnya selama bertahun-tahun lamanya.

Pemuda itu adalah Arya Pethak, putra angkat Mpu Prawira dan Nyi Ratih.

Jalan setapak itu begitu sepi, karena hanya ada satu rumah yang ada disana. Mpu Prawira dan Nyi Ratih memang sengaja menyepi dari ramainya dunia.

Sepasang kupu-kupu terbang menemani langkah Arya Pethak yang terus melangkah ke menuju ke rumah yang ada di lereng Bukit Kahayunan itu.

Tiba-tiba..

Sringg!!

Sebuah anak panah melesat cepat kearah Arya Pethak. Pemuda itu yang sadar bahaya mengancam nyawa segera menjejak tanah, lalu melenting tinggi ke udara menghindari anak panah. Panah melesat cepat dan menancap pada sebatang pohon randu yang ada di samping jalan setapak.

Creeppp!!

Arya Pethak mendarat turun dengan cepat, dari rimbun pohon seorang bayangan hitam berkelebat cepat dengan mengayunkan tongkatnya ke arah leher Arya Pethak.

Whuuussshh

Seketika Arya Pethak berguling ke tanah menghindari gebukan tongkat, tapi dengan cepat si penyerang memburunya dengan serangan yang berbahaya.

Si bayangan hitam kembali mengincar dada Arya Pethak tapi pemuda itu terus bergerak gesit dengan melenting tinggi ke udara. Melihat lawan bisa menghindar dari serangan nya, si bayangan hitam dengan cepat hantamkan tangan ke arah Arya Pethak.

Whuuuuttt

Angin kencang berhawa panas menerabas cepat kearah Arya Pethak. Dengan gesit pemuda tampan itu melompat tinggi ke udara dan balas menghantamkan tangan kanannya yang di lapisi tenaga dalam kearah si bayangan hitam.

Dengan cepat si bayangan hitam menyongsong hantaman tangan Arya Pethak dengan tapak nya.

Blarrrr!!!

Si bayangan hitam terdorong mundur selangkah sedangkan Arya Pethak terlempar jauh ke belakang.

Si bayangan hitam segera membuka topeng kayu nya, dan wajah Mpu Prawira yang muncul dari balik topeng kayu itu tersenyum simpul.

"Bagus Pethak..

Tak sia-sia aku mendidik mu untuk menjadi pendekar tangguh. Gerakan mu sudah cepat, hanya kurang tenaga dalam.

Mulai besok, kau harus bertapa selama 40 hari untuk meningkatkan tenaga dalam mu. Jika setelah bertapa, tenaga dalam mu meningkat, maka kau akan ku ajari ajian andalan ku", ujar Mpu Prawira dengan penuh kasih sayang. Jenggot putih nya yang lebat tampak berkibar di tiup angin.

"Terimakasih Romo..

Aku akan patuh dengan semua K

ajaran dari Kanjeng Romo", jawab Arya Pethak yang baru berdiri dari tempat jatuhnya.

"Sekarang ambil air lagi untuk biyung mu, Pethak. Dia pasti sudah menunggu kedatangan mu", Mpu Prawira segera melesat cepat kearah rumahnya.

'Dasar Romo,

Dia yang menyebabkan masalah, eh malah aku yang dapat getahnya', gumam Arya Pethak sambil melompat turun ke belik kecil yang ada di kaki Bukit Kahayunan.

Nyi Ratih berkacak pinggang di depan rumah saat Arya Pethak datang dengan membawa 2 jun dari bambu betung di punggungnya.

"Kenapa lama sekali, Pethak?

Bukankah sudah ku suruh cepat ambil air nya?", tanya Nyi Ratih dengan sedikit kesal.

"Maaf biyung,

Tadi waktu jalan pulang, Pethak tersandung akar pohon jadi air yang Pethak bawa tumpah. Jadi terpaksa ambil lagi", jawab Arya Pethak sambil menunduk.

Hemmmm

"Dasar bocah ceroboh,

Lain kali hati-hati to Ngger. Ya sudah mana airnya? Biyung mu mau masak untuk makan kita nanti malam", ucap Nyi Ratih dengan nada yang lembut pada Arya Pethak yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.

Arya Pethak segera membawa jun dari bambu betung itu ke dapur dan menuangkan air ke dalam gentong dari tanah liat.

Malam itu, usai makan bersama dengan menu sederhana, mereka bercakap-cakap dengan hangat di serambi depan rumah mereka.

"Nyi, besok aku akan membawa Pethak bertapa di puncak Bukit Kahayunan ini selama 40 hari.

Untuk membentuk dan menata tenaga dalam nya sebagai pendekar di masa depan", kata Mpu Prawira pada istri nya itu.

"Itu terserah Kakang, yang penting Pethak menjadi orang yang berguna untuk negeri ini. Aku sebagai istri hanya bisa taat pada apa yang menjadi kemauan kakang sebagai suami ku", Nyi Ratih menatap wajah tampan Arya Pethak yang terlihat bersemangat untuk segera mengikuti perintah Mpu Prawira.

Keesokan paginya, saat mentari sepenggal naik di ufuk timur, Mpu Prawira dan Arya Pethak melangkah menuju ke puncak Bukit Kahayunan untuk mulai melakukan pertapaan selama 40 hari.

Di sebuah ceruk batu yang cukup dalam dan lebar, Mpu Prawira menyuruh Arya Pethak untuk masuk dan bertapa di sana. Dengan patuh, Arya Pethak mengikuti semua perintah Mpu Prawira.

"Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari tempat itu Pethak. Sekalipun ada suara aneh ataupun makhluk apapun yang terlihat, jangan pernah melangkah dari ceruk batu ini", ujar Mpu Prawira pada Arya Pethak yang mulai duduk bersila di dalam ceruk batu.

"Aku mengerti Kanjeng Romo", jawab Arya Pethak sambil memejamkan mata, menata hati dan pikirannya.

Selama 40 hari lamanya, Arya Pethak harus menahan lapar, haus dan perubahan cuaca yang terjadi di ceruk batu itu.

Pada hari ke 41, Mpu Prawira datang ke ceruk batu itu untuk membangunkan Arya Pethak dari pertapaan nya.

"Putra ku Arya Pethak, bangunlah..

Masa pertapaan mu sudah usai. Waktunya kau menerima ilmu ku", perintah Mpu Prawira pada Arya Pethak yang dengan perlahan membuka mata nya.

Dengan tubuh yang masih lemah karena tidak makan berhari-hari, Arya Pethak dengan lemah keluar dari ceruk batu tempat pertapaan nya. Dengan langkah gontai, pemuda tampan itu mendekati Mpu Prawira.

Kakek tua berjenggot lebat itu tersenyum dan segera memapah tubuh Arya Pethak. Dengan cepat Mpu Prawira mendudukkan tubuh Arya Pethak kemudian memberikan sejumlah makanan pada putra nya itu.

Arya Pethak segera memakan makanan itu dengan lahap.

Setelah usai makan, perlahan tenaga Arya Pethak pulih kembali.

Mpu Prawira segera memeriksa nadi dan tenaga dalam Arya Pethak. Wajah sepuh pria berjenggot lebat itu langsung cerah setelah mengetahui bahwa tenaga dalam Arya Pethak mulai tertata lewat pertapaan kemarin.

"Tak salah perkiraan ku. Kau memang calon pendekar pilih tanding, putraku", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum penuh arti.

"Mulai hari ini akan ku turunkan ajian ajian andalan ku. Yang pertama Ajian Langkah Dewa Angin yang akan membuat mu mampu bergerak cepat bagai kilat dan seringan bulu burung merpati.

Mulai malam ini kau harus ngalong (bergantung seperti kelelawar) sebagai langkah awal kau menata nafas dan denyut nadi mu, Pethak", imbuh Mpu Prawira kemudian.

"Pethak akan siap Kanjeng Romo, tapi sebelum kita mulai, aku ingin bertemu biyung lebih dulu Romo. Aku kangen sekali padanya", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.

Hehehe

"Dasar anak biyung. Ayo kita temui biyung mu Ngger", Mpu Prawira tertawa kecil kemudian segera melompat turun menuju rumah mereka yang ada di lereng bawah Bukit Kahayunan.

Arya Pethak segera menyusul kemudian.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung kak 😁

Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁

Selamat membaca kak 🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Windy Veriyanti

Windy Veriyanti

akan menjadi pendekar pilih tanding 👍

2024-05-05

0

Efendi Siantar

Efendi Siantar

👍

2024-01-30

0

Roni Sakroni

Roni Sakroni

sejarah Indonesia... mantap

2024-01-27

0

lihat semua
Episodes
1 Korban Kutukan Ketujuh
2 Wafatnya Apanji Tohjaya
3 Tapa Ngalong
4 Ajian Tapak Brajamusti
5 Sudah Saatnya
6 Ujian Pertama Topo Ngrame
7 Dewa Obat dari Selatan
8 Perjalanan
9 Pencuri Kuda
10 Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11 Sapu Tangan Merah
12 Ajian Lembu Sekilan
13 Tugas Dari Patih Pranaraja
14 Jagoan Kampung
15 Sepasang Pisau Racun
16 Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17 Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18 Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19 Nawala
20 Hantu Desa Karangan
21 Hantu Desa Karangan 2
22 Jimat Lulang Kebo Landoh
23 Iblis Golok Pucat
24 Kenapa Buru-buru Pergi?
25 Hutan Kali Mati
26 Racun Ular Kuning
27 Nyamuk Pengganggu
28 Ajian Badai Laut Selatan
29 Tiga Gadis Desa
30 Walet Merah
31 Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32 Murid Perguruan Pedang Setan
33 Katumenggungan Kurawan
34 Katumenggungan Kurawan 2
35 Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36 Pertapaan Giri Lawu
37 Ajian Mata Dewa
38 Tiga Resi
39 Keributan di Warung Makan
40 Dewi Ular Siluman
41 Perguruan Pedang Perak
42 Malaikat Maut Mu
43 Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44 Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45 Melawan Si Mata Malaikat
46 Anjani
47 Penginapan Kembang Sore
48 Penginapan Kembang Sore 2
49 Delapan Setan Pencabut Nyawa
50 Sayembara
51 Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52 Begawan Pasopati
53 Karawitan Langen Sari
54 Kisah Masa Silam
55 Menuju Ke Kadiri
56 Pengemis Tapak Darah
57 Pengemis Tapak Darah 2
58 Misteri Gunung Penanggungan
59 Nyi Ratu Bulan Darah
60 Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61 Batu Inti Naga
62 Kekuatan Baru
63 Ratapan Di Tengah Hujan
64 Giliran
65 Selamatkan Rara Larasati
66 Dua Putri Lurah Lwaram
67 Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68 Dendam Kesumat
69 Persetubuhan Setan
70 Ajian Iblis Neraka
71 Kutuk Pasu
72 Dalang
73 Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74 Senjata untuk Klungsur
75 Rampok Bajing Ireng
76 Pertarungan Dua Wanita Cantik
77 Tolong Aku
78 Curahan Hati Sang Putri Adipati
79 Rajapati Pisau Perak
80 Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81 Menuju Saunggalah
82 Istana Atap Langit
83 Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84 Ajian Halimun
85 Di Kaki Gunung Pojoktiga
86 Uji Kemampuan Beladiri
87 Uji Kemampuan Beladiri 2
88 Uji Kemampuan Beladiri 3
89 Uji Kemampuan Beladiri 4
90 Uji Kemampuan Beladiri 5
91 Pendekar Muda Nomer Satu
92 Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93 Lembah Seribu Bunga
94 Balas Dendam
95 Sinar Rembulan
96 Setan Dari Neraka
97 Utusan
98 Dedemit Desa Randublatung
99 Kadipaten Bojonegoro
100 Kitab Pusaka Sabda Buana
101 Resi Mpu Dharma
102 Iri Hati Sang Ibu Tiri
103 Delapan Malaikat Pembunuh
104 Berebut Perahu Penyeberangan
105 Bajak Laut
106 Adipati Arya Wiraraja
107 Cinderamata Dari Pulau Madura
108 Penunggang Kuda di Tengah Malam
109 Menuju Kotaraja Singhasari
110 Nyi Lapat dan Rukmini
111 Sirep
112 Pendekar Sabit Berdarah
113 Sepasang Pedang Gunung Kawi
114 Gorawangsa
115 Pertarungan Tiga Bidadari
116 Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117 Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118 Jodoh Masa Kecil
119 Rencana Selanjutnya
120 Rahasia Nyi Sekati
121 Prajurit Gelang-gelang
122 Selir
123 Gembel Tua Berseruling Perak
124 Kitab Ilmu Seruling Neraka
125 Kawan Seperjalanan Baru
126 Anak Buah Raden Ronggo
127 Pertapaan Sapta Arga
128 Resi Candramaya
129 Musuhnya Musuh Adalah Teman
130 Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131 Kematian Akuwu Surenggono
132 Supit Urang
133 Menggempur Kota Wengker
134 Menggempur Kota Wengker 2
135 Kota Wengker Jatuh
136 Adipati Warok Singo Pethak
137 Siasat Raden Ronggo
138 Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139 Perang Akhir
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Korban Kutukan Ketujuh
2
Wafatnya Apanji Tohjaya
3
Tapa Ngalong
4
Ajian Tapak Brajamusti
5
Sudah Saatnya
6
Ujian Pertama Topo Ngrame
7
Dewa Obat dari Selatan
8
Perjalanan
9
Pencuri Kuda
10
Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11
Sapu Tangan Merah
12
Ajian Lembu Sekilan
13
Tugas Dari Patih Pranaraja
14
Jagoan Kampung
15
Sepasang Pisau Racun
16
Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17
Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18
Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19
Nawala
20
Hantu Desa Karangan
21
Hantu Desa Karangan 2
22
Jimat Lulang Kebo Landoh
23
Iblis Golok Pucat
24
Kenapa Buru-buru Pergi?
25
Hutan Kali Mati
26
Racun Ular Kuning
27
Nyamuk Pengganggu
28
Ajian Badai Laut Selatan
29
Tiga Gadis Desa
30
Walet Merah
31
Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32
Murid Perguruan Pedang Setan
33
Katumenggungan Kurawan
34
Katumenggungan Kurawan 2
35
Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36
Pertapaan Giri Lawu
37
Ajian Mata Dewa
38
Tiga Resi
39
Keributan di Warung Makan
40
Dewi Ular Siluman
41
Perguruan Pedang Perak
42
Malaikat Maut Mu
43
Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44
Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45
Melawan Si Mata Malaikat
46
Anjani
47
Penginapan Kembang Sore
48
Penginapan Kembang Sore 2
49
Delapan Setan Pencabut Nyawa
50
Sayembara
51
Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52
Begawan Pasopati
53
Karawitan Langen Sari
54
Kisah Masa Silam
55
Menuju Ke Kadiri
56
Pengemis Tapak Darah
57
Pengemis Tapak Darah 2
58
Misteri Gunung Penanggungan
59
Nyi Ratu Bulan Darah
60
Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61
Batu Inti Naga
62
Kekuatan Baru
63
Ratapan Di Tengah Hujan
64
Giliran
65
Selamatkan Rara Larasati
66
Dua Putri Lurah Lwaram
67
Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68
Dendam Kesumat
69
Persetubuhan Setan
70
Ajian Iblis Neraka
71
Kutuk Pasu
72
Dalang
73
Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74
Senjata untuk Klungsur
75
Rampok Bajing Ireng
76
Pertarungan Dua Wanita Cantik
77
Tolong Aku
78
Curahan Hati Sang Putri Adipati
79
Rajapati Pisau Perak
80
Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81
Menuju Saunggalah
82
Istana Atap Langit
83
Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84
Ajian Halimun
85
Di Kaki Gunung Pojoktiga
86
Uji Kemampuan Beladiri
87
Uji Kemampuan Beladiri 2
88
Uji Kemampuan Beladiri 3
89
Uji Kemampuan Beladiri 4
90
Uji Kemampuan Beladiri 5
91
Pendekar Muda Nomer Satu
92
Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93
Lembah Seribu Bunga
94
Balas Dendam
95
Sinar Rembulan
96
Setan Dari Neraka
97
Utusan
98
Dedemit Desa Randublatung
99
Kadipaten Bojonegoro
100
Kitab Pusaka Sabda Buana
101
Resi Mpu Dharma
102
Iri Hati Sang Ibu Tiri
103
Delapan Malaikat Pembunuh
104
Berebut Perahu Penyeberangan
105
Bajak Laut
106
Adipati Arya Wiraraja
107
Cinderamata Dari Pulau Madura
108
Penunggang Kuda di Tengah Malam
109
Menuju Kotaraja Singhasari
110
Nyi Lapat dan Rukmini
111
Sirep
112
Pendekar Sabit Berdarah
113
Sepasang Pedang Gunung Kawi
114
Gorawangsa
115
Pertarungan Tiga Bidadari
116
Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117
Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118
Jodoh Masa Kecil
119
Rencana Selanjutnya
120
Rahasia Nyi Sekati
121
Prajurit Gelang-gelang
122
Selir
123
Gembel Tua Berseruling Perak
124
Kitab Ilmu Seruling Neraka
125
Kawan Seperjalanan Baru
126
Anak Buah Raden Ronggo
127
Pertapaan Sapta Arga
128
Resi Candramaya
129
Musuhnya Musuh Adalah Teman
130
Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131
Kematian Akuwu Surenggono
132
Supit Urang
133
Menggempur Kota Wengker
134
Menggempur Kota Wengker 2
135
Kota Wengker Jatuh
136
Adipati Warok Singo Pethak
137
Siasat Raden Ronggo
138
Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139
Perang Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!