Perjalanan

Arya Pethak menatap ke arah Begawan Tirta Wening sejenak, lalu melangkah menuju tempat tidur nya di sebelah batu.

"Kalung ini adalah punya ku. Orang tua ku yang memberikannya, meski aku tidak tahu siapa orang tua ku", jawab Arya Pethak dengan acuh tak acuh. Dia segera menyelimuti tubuh nya dengan kain tebal yang merupakan pembungkus baju nya.

"Apa maksud mu anak muda? Kau tidak tahu orang tua mu? Apakah mereka sudah tidak ada?", tanya Begawan Tirta Wening dengan penuh penasaran. Kakek tua itu segera mendekati Arya Pethak dan duduk di sebelah nya.

"Iya, mereka sudah tidak ada.

Orang tua angkat ku yang membesarkan ku, kakek tua. Aku di suruh mencari orang yang mungkin tahu siapa orang tua ku", ujar Arya Pethak sambil menatap langit malam yang bertaburan bintang.

Hemmmm

"Aku sedikit tahu sesuatu tentang bandul kalung mu itu, anak muda", ucap Begawan Tirta Wening yang langsung membuat Arya Pethak menoleh ke arah nya.

Segera Arya Pethak bangun dari tidur nya.

"Apa yang kau tahu kakek tua? Coba ceritakan kepada ku", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Begawan Tirta Wening.

"Aku pernah mendengar, bahwa dulu ada sebuah ikatan persaudaraan di kalangan dunia persilatan.

Mereka dikenal sebagai Lima Naga, yaitu Naga Putih, Naga Merah, Naga Hijau, Naga Biru dan Naga Hitam.

Sebenarnya mereka adalah para bangsawan Kadiri yang memilih untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan istana, dan menjalani kehidupan layaknya rakyat jelata. Walaupun sudah hidup sebagai rakyat biasa, namun mereka tetap di hormati oleh masyarakat karena ilmu kanuragan dan kebatinan yang mereka miliki.

Jika melihat dari kalung mu, kau adalah seorang keturunan dari Naga Putih, Pangeran Panji Wijayakrama dari Kadiri", ujar Begawan Tirta Wening sambil tersenyum simpul.

"Lantas dimana keturunan Lima Naga yang lain, kakek tua?

Apa mereka juga sudah tidak ada di dunia ini?", tanya Arya Pethak segera.

"Lima Naga dibentuk saat Maharaja Kertajaya dari Kadiri bertahta di Daha. Saat Kadiri runtuh di tangan Ranggah Rajasa, Lima Naga mengasingkan diri ke daerah di wilayah Kadiri. Namun keberadaan mereka dianggap ancaman oleh para penguasa Tumapel, sehingga mereka selalu dicurigai akan memberontak terhadap Tumapel.

Aku dengar salah satu keturunan Lima Naga yang masih hidup, adalah Jayakatwang yang menjadi Bupati Gelang-gelang. Dia adalah keturunan dari Sastrajaya, Si Naga Hitam.

Kalau yang lain aku tidak tahu, mungkin mereka masih hidup atau bisa juga sudah habis", ujar Begawan Tirta Wening sambil mengelus jenggotnya.

Hemmmm

"Terima kasih atas penjelasannya kakek tua. Nanti saat sampai di Kadiri, akan ku tanyakan ini pada orang yang akan ku temui", Arya Pethak tersenyum tipis. Sedikit cerita tentang orang tua kandungnya membuat dia bersemangat untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi pada mereka.

Malam semakin larut.

Api unggun sudah mengecil, menyisakan bara api yang masih menyala dengan asap mengepul.

Pagi menjelang tiba di wilayah Pakuwon Palah. Mentari pagi mulai terbit di ufuk timur dengan rona merah yang indah. Suara kokok ayam jantan bersahutan terdengar dari sebuah pemukiman yang jauh.

Arya Pethak menggeliat dari tempat tidur nya. Pemuda tampan itu segera mengucek matanya sambil menguap beberapa kali. Dengan mata masih sedikit mengantuk, dia melihat keadaan sekelilingnya.

Para murid Perguruan Kembang Biru masih tertidur, sementara Gayatri nampak juga baru bangun.

Paramita yang baru mencuci muka di sungai kecil, berjalan mendekati Begawan Tirta Wening yang sedang duduk bersemedi.

"Eyang,

Kita searah dengan mereka. Apa sebaiknya kita berjalan bersama mereka atau kita berjalan sendiri?", tanya Paramita pada Begawan Tirta Wening yang segera membuka mata nya. Dia sangat berharap bisa bersama dengan Arya Pethak.

Pemuda tampan itu sangat menarik perhatian Paramita.

"Kita bisa berjalan dengan mereka cucuku. Setidaknya selama beberapa hari. Aku juga ingin lebih mengenal Arya Pethak", ujar Begawan Tirta Wening sambil tersenyum tipis.

Senyum manis segera tersungging di bibir Paramita.

Pagi itu setelah selesai bersiap-siap, mereka segera melanjutkan perjalanan. Karena Arya Pethak belum pintar mengendarai kuda, maka dia berkuda dengan Mahesa Cemeng agar perjalanan mereka lebih cepat sampai ke Kadiri.

Mereka terus berkuda menyusuri jalanan yang melewati Pakuwon Randu.

Masa keemasan Singhasari, semua daerah di wilayah Negeri itu benar benar makmur. Di bawah pemerintahan Sri Kertanegara semua daerah di Jawa maju dalam pertanian dan perdagangan.

Kota Pakuwon Randu ramai dengan para pedagang dan orang yang berlalu lalang di jalan raya yang membelah kota itu menjadi dua bagian sama besar.

Karena pagi belum sempat mengisi perut, Lembu Supa mengajak rombongannya untuk makan pagi lebih dulu.

Di sebuah warung makan sederhana yang ada di salah satu sudut kota, mereka menghentikan langkah kuda mereka.

Usai menambatkan kuda pada geladakan yang ada di halaman samping warung makan, mereka semua masuk ke warung makan.

"Berikan kami makanan yang paling enak pelayan", ujar Lembu Supa pada pelayan warung makan itu.

Si pelayan warung segera mengangguk mengerti.

Tak berapa lama kemudian, si pelayan warung datang dengan membawa beberapa jenis makanan seperti ayam panggang dan beberapa jenis sayuran. Nasi putih hangat juga terhidang di meja makan yang di duduki mereka.

Murid Perguruan Kembang Biru duduk di satu meja, sedangkan Arya Pethak, Begawan Tirta Wening dan Paramita duduk di meja yang lain.

Dari arah luar, datang beberapa orang berpakaian hitam yang nampaknya bukan orang baik-baik.

Seorang lelaki berwajah seram bertubuh gempal dengan memanggul pedang besar tampak mendelik sejenak pada Begawan Tirta Wening lalu duduk tak jauh dari meja yang diduduki Begawan Tirta Wening dan Arya Pethak.

Raut wajah Begawan Tirta Wening langsung memburuk melihat kedatangan orang itu.

"Mahesa Pungging,

Rupanya kau mengejar ku sampai kemari. Bukankah sudah kukatakan padamu agar menerima kenyataan bahwa nyawa kakak mu bukan tanggung jawab ku?", ujar Begawan Tirta Wening dengan cepat.

"Dewa Obat dari Selatan,

Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu, tapi yang pasti akan ku kirim kau menemani kakak ku di Swargaloka hari ini", Lelaki yang bernama Mahesa Pungging itu menyeringai lebar.

Phuihhhh

"Sombong sekali kau, orang jelek!

Kau pikir nyawa eyang ku bisa kau cabut seenak udel mu? Hadapi aku dulu sebelum kau berpikir kesana", sahut Paramita dengan tangan yang sudah memegang gagang pedang nya.

"Gadis bau kencur!

Setelah ku bunuh kakek tua sialan itu, kau akan ku jadikan gundik ku biar bisa merasakan bagaimana kekuatan Mahesa Pungging di atas ranjang hahahaha", Mahesa Pungging tertawa terpingkal-pingkal. Para pengikutnya juga ikut tertawa terbahak bahak.

Mendengar jawaban itu, Paramita langsung tersulut emosinya. Ia segera melesat cepat kearah Mahesa Pungging sambil menyabetkan pedang nya.

Mahesa Pungging dengan cepat menangkis sabetan pedang Paramita dengan pedang besarnya.

Tranggg!!

Bunga api kecil tercipta saat dua senjata itu beradu. Melihat serangan nya tertangkis, Paramita segera melayangkan tendangan keras kearah perut Mahesa Pungging.

Pria berwajah seram itu berkelit ke samping kanan. Akibatnya tendangan keras Paramita langsung menghantam meja makan di belakang Mahesa Pungging.

Bruakkk!!

Meja makan hancur berantakan akibat tendangan dari Paramita yang dilambari tenaga dalam. Keseimbangan Paramita goyah. Melihat itu, Mahesa Pungging dengan cepat menghantam punggung Paramita dengan keras.

Bukkkkk

Ougghhh

Paramita langsung jatuh tengkurap di atas meja makan yang hancur berantakan tadi. Mahesa Pungging segera melayangkan tendangan kearah kepala Paramita.

Namun sebelum kaki Mahesa Pungging menghajar kepala Paramita, sebuah piring makan melesat cepat kearah kaki Mahesa Pungging.

Whuuussshh

Braakkkk

Mahesa Pungging yang tidak menyadari kalau serangan nya berhasil di tangkis, hanya bisa mengaduh saat betis kirinya di lempari piring makan.

Pria bertubuh gempal itu mundur selangkah karena betisnya bagai di hantam batu besar. Rasanya sakit sekali.

Sambil mengelus betisnya yang sakit, Mahesa Pungging melotot ke arah meja makan yang di duduki Arya Pethak.

Sejak Paramita menyerang, semua orang memang memilih untuk menepi ke pinggir ruangan warung makan. Hanya Arya Pethak yang masih asyik mengunyah daging ayam panggang kesukaannya.

"Hei keparat!

Kalau jagoan, sini kau! Jangan cuma bisa membokong orang yang tidak siap", teriak Mahesa Pungging dengan keras.

Arya Pethak tidak menjawab, malah terus asyik menggerogoti tulang rawan pada dada ayam panggang nya.

Mahesa Pungging langsung naik darah. Dia merasa di sepelekan. Dengan cepat, dia meraih sepiring ayam bakar yang ada di meja di dekatnya dan melemparkannya ke arah Arya Pethak.

Whuuuuttt

Namun pemuda tampan itu dengan gerakan yang sukar diikuti oleh mata biasa, segera menangkap piring yang berisi ayam bakar.

Shhaaakkk..

Arya Pethak tersenyum lebar.

"Aku masih makan, jenggot lebat.

Kalau mau bertarung, tunggu aku selesai makan", ujar Arya Pethak sambil menggigit ayam bakar yang baru di lemparkan oleh Mahesa Pungging.

Mahesa Pungging murka. Dengan cepat dia melesat ke arah Arya Pethak sambil mengayunkan pedang besarnya mengincar kepala.

Whuuussshh

Arya Pethak segera menggeser posisi kursi kayu tempat duduknya sambil tetap memegang piring berisi ayam bakar.

Sabetan pedang besar Mahesa Pungging hanya membelah angin dan dengan keras menghajar meja makan.

Bruakkk!!

Meja makan langsung hancur berantakan. Arya Pethak dengan cepat menjejak pinggang Mahesa Pungging.

Bukkkkk

Tubuh besar Mahesa Pungging terlempar dan menabrak dinding kayu warung makan sedangkan Arya Pethak terdorong mundur beberapa langkah namun tetap duduk di kursi tempat duduknya. Pemuda itu terus menyantap ayam bakar tanpa mempedulikan Mahesa Pungging yang bangkit dengan penuh kemarahan. Dengan kasar, Mahesa Pungging mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.

Sementara itu, Paramita yang baru di tolong Begawan Tirta Wening dan Gayatri, menatap ke arah Arya Pethak dengan penuh kekaguman.

Mahesa Pungging segera menoleh ke arah 3 kawannya. Serempak, mereka mencabut senjata mereka.

Mereka segera menerjang maju ke arah Arya Pethak.

Namun Arya Pethak telah bersiap menghadapi mereka. Dengan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak melesat cepat bagai kilat kearah mereka.

Arya Pethak segera menyikut ulu hati seorang pria kurus berbaju yang bersenjatakan golok.

Deshhhh

Arrgghhhh

Si pria kurus itu langsung menganga, Arya Pethak segera menjejali mulut pria itu dengan sepotong ayam bakar. Lalu Arya Pethak merubah gerakan tubuhnya dan mengayunkan dengkul pada perut seorang lelaki bertubuh gempal yang menyerang dari samping kanan.

Bukkkkk

Ougghhh

Melihat mulut lawan terbuka, Arya Pethak segera menyumpal mulutnya dengan sayap ayam bakar.

Arya Pethak terus bergerak gesit. Dengan satu kaki kanan menghantam dada Mahesa Pungging, satu tangan kanannya masih bisa menampar pipi si pria paruh baya yang menyerang dari samping kiri.

Desh Deshhhh!!!

Empat orang yang mengeroyok Arya Pethak langsung terjungkal bersamaan.

Semua orang langsung terpana melihat itu semua.

Arya Pethak yang masih memegang sepotong paha ayam bakar, berjalan mendekati Mahesa Pungging dan kawannya yang masih terbaring di lantai rumah makan.

"Masih mau dilanjutkan, jenggot lebat?", tanya Arya Pethak dengan senyum tipis terukir di wajahnya.

Dengan menahan sakit di dadanya, Mahesa Pungging segera berdiri.

"Kau menang kali ini anak muda, lain kali akan ku balas kekalahan ku ini", ujar Mahesa Pungging yang segera melangkah keluar dari warung makan diikuti oleh ketiga kawannya yang berjalan dengan tertatih.

Begawan Tirta Wening segera mendekati Arya Pethak.

"Kau hebat anak muda..

Bisa membuat Mahesa Pungging babak belur seperti itu", ujar Begawan Tirta Wening sambil tersenyum.

"Kau juga berilmu tinggi, Kakek tua. Kenapa kau masih tidak membantu cucu mu saat dia dalam bahaya?

Kau ini aneh sekali", ucap Arya Pethak sambil meletakkan piring makan nya.

"Hehehe...

Kalau sering di bantu, nanti dia terbiasa untuk tidak mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya, Pethak..

Aku melatih nya agar dia mandiri dan mampu melindungi diri", jawab Begawan Tirta Wening sambil tertawa kecil.

"Pendekar muda,

Terimakasih atas bantuannya. Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah mati", ujar Paramita sambil membungkukkan badannya.

"Sudahlah,

Sesama kawan perjalanan kita harus saling menolong. Nah tadi kau sudah aku tolong, sekarang ganti kau tolong aku", Arya Pethak melempar tulang ayam yang sudah bersih dari daging ke sudut warung makan itu.

"Menolong apa Saudara Pethak?", tanya Paramita dengan antusias.

"Bayarkan makanan dan kerusakan warung makan ini..

Kasian pemilik nya kalau disuruh menanggung biaya pembangunan tempat ini lagi", jawab Arya Pethak dengan cepat.

"Pasti, pasti ku lakukan saudara Pethak", Paramita langsung tersenyum tipis.

Usai mereka membayar makanan sekaligus biaya kerusakan warung makan., Arya Pethak dan kawan-kawannya segera meninggalkan tempat itu.

Sepanjang perjalanan Gayatri diam-diam mencuri pandang ke arah Arya Pethak, sedangkan Paramita lebih terang-terangan mendekati Arya Pethak.

Di tepi hutan kecil di utara Pakuwon Randu, mereka berhenti di tepi sungai kecil yang menjadi batas wilayah Pakuwon Randu dan Sengkapura.

Tiba-tiba...

Blammmmm!!!

Terdengar suara ledakan keras dari arah timur hutan kecil. Seperti suara orang beradu ilmu kanuragan tingkat tinggi.

Seorang lelaki tua berbaju hitam tampak bertarung melawan seorang lelaki paruh baya yang berdandan seperti seorang pertapa.

"Brengsek kau, Dandang Gendis..

Hari ini, akan ku kirim kau ke neraka", ujar si lelaki tua berbaju hitam sambil mengacungkan kerisnya.

"Kau pikir aku takut melawan mu, Sukmajati?

Sekalipun kau memegang Keris Mpu Gandring di tangan mu itu, aku tidak takut", teriak si lelaki paruh baya yang di panggil dengan sebutan Dandang Gendis.

Kembali terjadi pertarungan antara dua orang sakti itu, sementara Arya Pethak dan kawan-kawannya hanya melihat itu semua dari jarak yang cukup jauh.

"Keris Mpu Gandring?

Kog aneh?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁

Selamat membaca 🙏🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

fatih rizkiahmad

fatih rizkiahmad

maaf. dandang gendis itu nama kecil dari raja kertawijaya raja kediri terakhir. mungkin bagus sih dan sah sah saja dipakai. tpi ya fantasi nya jangan kebablasan jugalah. alur cerita sudah bagus, tpi penggunaan beberapa nama dalam karya ini maaf agak merendahkan saya kira. ya walaupun bebas berekspresi. klo bisa pakai nama lain. berkekpresi dalam berkarya dengan menghargai budaya tanpa merendahkannya.

2024-03-26

0

Putra_Andalas

Putra_Andalas

kata TUA gk usah disebut juga kale..ckup kata KEK aja gt..

2023-07-26

0

rajes salam lubis

rajes salam lubis

mantap mantap mantap

2022-10-11

1

lihat semua
Episodes
1 Korban Kutukan Ketujuh
2 Wafatnya Apanji Tohjaya
3 Tapa Ngalong
4 Ajian Tapak Brajamusti
5 Sudah Saatnya
6 Ujian Pertama Topo Ngrame
7 Dewa Obat dari Selatan
8 Perjalanan
9 Pencuri Kuda
10 Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11 Sapu Tangan Merah
12 Ajian Lembu Sekilan
13 Tugas Dari Patih Pranaraja
14 Jagoan Kampung
15 Sepasang Pisau Racun
16 Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17 Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18 Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19 Nawala
20 Hantu Desa Karangan
21 Hantu Desa Karangan 2
22 Jimat Lulang Kebo Landoh
23 Iblis Golok Pucat
24 Kenapa Buru-buru Pergi?
25 Hutan Kali Mati
26 Racun Ular Kuning
27 Nyamuk Pengganggu
28 Ajian Badai Laut Selatan
29 Tiga Gadis Desa
30 Walet Merah
31 Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32 Murid Perguruan Pedang Setan
33 Katumenggungan Kurawan
34 Katumenggungan Kurawan 2
35 Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36 Pertapaan Giri Lawu
37 Ajian Mata Dewa
38 Tiga Resi
39 Keributan di Warung Makan
40 Dewi Ular Siluman
41 Perguruan Pedang Perak
42 Malaikat Maut Mu
43 Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44 Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45 Melawan Si Mata Malaikat
46 Anjani
47 Penginapan Kembang Sore
48 Penginapan Kembang Sore 2
49 Delapan Setan Pencabut Nyawa
50 Sayembara
51 Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52 Begawan Pasopati
53 Karawitan Langen Sari
54 Kisah Masa Silam
55 Menuju Ke Kadiri
56 Pengemis Tapak Darah
57 Pengemis Tapak Darah 2
58 Misteri Gunung Penanggungan
59 Nyi Ratu Bulan Darah
60 Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61 Batu Inti Naga
62 Kekuatan Baru
63 Ratapan Di Tengah Hujan
64 Giliran
65 Selamatkan Rara Larasati
66 Dua Putri Lurah Lwaram
67 Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68 Dendam Kesumat
69 Persetubuhan Setan
70 Ajian Iblis Neraka
71 Kutuk Pasu
72 Dalang
73 Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74 Senjata untuk Klungsur
75 Rampok Bajing Ireng
76 Pertarungan Dua Wanita Cantik
77 Tolong Aku
78 Curahan Hati Sang Putri Adipati
79 Rajapati Pisau Perak
80 Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81 Menuju Saunggalah
82 Istana Atap Langit
83 Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84 Ajian Halimun
85 Di Kaki Gunung Pojoktiga
86 Uji Kemampuan Beladiri
87 Uji Kemampuan Beladiri 2
88 Uji Kemampuan Beladiri 3
89 Uji Kemampuan Beladiri 4
90 Uji Kemampuan Beladiri 5
91 Pendekar Muda Nomer Satu
92 Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93 Lembah Seribu Bunga
94 Balas Dendam
95 Sinar Rembulan
96 Setan Dari Neraka
97 Utusan
98 Dedemit Desa Randublatung
99 Kadipaten Bojonegoro
100 Kitab Pusaka Sabda Buana
101 Resi Mpu Dharma
102 Iri Hati Sang Ibu Tiri
103 Delapan Malaikat Pembunuh
104 Berebut Perahu Penyeberangan
105 Bajak Laut
106 Adipati Arya Wiraraja
107 Cinderamata Dari Pulau Madura
108 Penunggang Kuda di Tengah Malam
109 Menuju Kotaraja Singhasari
110 Nyi Lapat dan Rukmini
111 Sirep
112 Pendekar Sabit Berdarah
113 Sepasang Pedang Gunung Kawi
114 Gorawangsa
115 Pertarungan Tiga Bidadari
116 Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117 Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118 Jodoh Masa Kecil
119 Rencana Selanjutnya
120 Rahasia Nyi Sekati
121 Prajurit Gelang-gelang
122 Selir
123 Gembel Tua Berseruling Perak
124 Kitab Ilmu Seruling Neraka
125 Kawan Seperjalanan Baru
126 Anak Buah Raden Ronggo
127 Pertapaan Sapta Arga
128 Resi Candramaya
129 Musuhnya Musuh Adalah Teman
130 Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131 Kematian Akuwu Surenggono
132 Supit Urang
133 Menggempur Kota Wengker
134 Menggempur Kota Wengker 2
135 Kota Wengker Jatuh
136 Adipati Warok Singo Pethak
137 Siasat Raden Ronggo
138 Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139 Perang Akhir
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Korban Kutukan Ketujuh
2
Wafatnya Apanji Tohjaya
3
Tapa Ngalong
4
Ajian Tapak Brajamusti
5
Sudah Saatnya
6
Ujian Pertama Topo Ngrame
7
Dewa Obat dari Selatan
8
Perjalanan
9
Pencuri Kuda
10
Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11
Sapu Tangan Merah
12
Ajian Lembu Sekilan
13
Tugas Dari Patih Pranaraja
14
Jagoan Kampung
15
Sepasang Pisau Racun
16
Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17
Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18
Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19
Nawala
20
Hantu Desa Karangan
21
Hantu Desa Karangan 2
22
Jimat Lulang Kebo Landoh
23
Iblis Golok Pucat
24
Kenapa Buru-buru Pergi?
25
Hutan Kali Mati
26
Racun Ular Kuning
27
Nyamuk Pengganggu
28
Ajian Badai Laut Selatan
29
Tiga Gadis Desa
30
Walet Merah
31
Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32
Murid Perguruan Pedang Setan
33
Katumenggungan Kurawan
34
Katumenggungan Kurawan 2
35
Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36
Pertapaan Giri Lawu
37
Ajian Mata Dewa
38
Tiga Resi
39
Keributan di Warung Makan
40
Dewi Ular Siluman
41
Perguruan Pedang Perak
42
Malaikat Maut Mu
43
Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44
Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45
Melawan Si Mata Malaikat
46
Anjani
47
Penginapan Kembang Sore
48
Penginapan Kembang Sore 2
49
Delapan Setan Pencabut Nyawa
50
Sayembara
51
Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52
Begawan Pasopati
53
Karawitan Langen Sari
54
Kisah Masa Silam
55
Menuju Ke Kadiri
56
Pengemis Tapak Darah
57
Pengemis Tapak Darah 2
58
Misteri Gunung Penanggungan
59
Nyi Ratu Bulan Darah
60
Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61
Batu Inti Naga
62
Kekuatan Baru
63
Ratapan Di Tengah Hujan
64
Giliran
65
Selamatkan Rara Larasati
66
Dua Putri Lurah Lwaram
67
Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68
Dendam Kesumat
69
Persetubuhan Setan
70
Ajian Iblis Neraka
71
Kutuk Pasu
72
Dalang
73
Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74
Senjata untuk Klungsur
75
Rampok Bajing Ireng
76
Pertarungan Dua Wanita Cantik
77
Tolong Aku
78
Curahan Hati Sang Putri Adipati
79
Rajapati Pisau Perak
80
Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81
Menuju Saunggalah
82
Istana Atap Langit
83
Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84
Ajian Halimun
85
Di Kaki Gunung Pojoktiga
86
Uji Kemampuan Beladiri
87
Uji Kemampuan Beladiri 2
88
Uji Kemampuan Beladiri 3
89
Uji Kemampuan Beladiri 4
90
Uji Kemampuan Beladiri 5
91
Pendekar Muda Nomer Satu
92
Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93
Lembah Seribu Bunga
94
Balas Dendam
95
Sinar Rembulan
96
Setan Dari Neraka
97
Utusan
98
Dedemit Desa Randublatung
99
Kadipaten Bojonegoro
100
Kitab Pusaka Sabda Buana
101
Resi Mpu Dharma
102
Iri Hati Sang Ibu Tiri
103
Delapan Malaikat Pembunuh
104
Berebut Perahu Penyeberangan
105
Bajak Laut
106
Adipati Arya Wiraraja
107
Cinderamata Dari Pulau Madura
108
Penunggang Kuda di Tengah Malam
109
Menuju Kotaraja Singhasari
110
Nyi Lapat dan Rukmini
111
Sirep
112
Pendekar Sabit Berdarah
113
Sepasang Pedang Gunung Kawi
114
Gorawangsa
115
Pertarungan Tiga Bidadari
116
Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117
Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118
Jodoh Masa Kecil
119
Rencana Selanjutnya
120
Rahasia Nyi Sekati
121
Prajurit Gelang-gelang
122
Selir
123
Gembel Tua Berseruling Perak
124
Kitab Ilmu Seruling Neraka
125
Kawan Seperjalanan Baru
126
Anak Buah Raden Ronggo
127
Pertapaan Sapta Arga
128
Resi Candramaya
129
Musuhnya Musuh Adalah Teman
130
Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131
Kematian Akuwu Surenggono
132
Supit Urang
133
Menggempur Kota Wengker
134
Menggempur Kota Wengker 2
135
Kota Wengker Jatuh
136
Adipati Warok Singo Pethak
137
Siasat Raden Ronggo
138
Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139
Perang Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!