Arya Pethak menatap ke arah Begawan Tirta Wening sejenak, lalu melangkah menuju tempat tidur nya di sebelah batu.
"Kalung ini adalah punya ku. Orang tua ku yang memberikannya, meski aku tidak tahu siapa orang tua ku", jawab Arya Pethak dengan acuh tak acuh. Dia segera menyelimuti tubuh nya dengan kain tebal yang merupakan pembungkus baju nya.
"Apa maksud mu anak muda? Kau tidak tahu orang tua mu? Apakah mereka sudah tidak ada?", tanya Begawan Tirta Wening dengan penuh penasaran. Kakek tua itu segera mendekati Arya Pethak dan duduk di sebelah nya.
"Iya, mereka sudah tidak ada.
Orang tua angkat ku yang membesarkan ku, kakek tua. Aku di suruh mencari orang yang mungkin tahu siapa orang tua ku", ujar Arya Pethak sambil menatap langit malam yang bertaburan bintang.
Hemmmm
"Aku sedikit tahu sesuatu tentang bandul kalung mu itu, anak muda", ucap Begawan Tirta Wening yang langsung membuat Arya Pethak menoleh ke arah nya.
Segera Arya Pethak bangun dari tidur nya.
"Apa yang kau tahu kakek tua? Coba ceritakan kepada ku", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Begawan Tirta Wening.
"Aku pernah mendengar, bahwa dulu ada sebuah ikatan persaudaraan di kalangan dunia persilatan.
Mereka dikenal sebagai Lima Naga, yaitu Naga Putih, Naga Merah, Naga Hijau, Naga Biru dan Naga Hitam.
Sebenarnya mereka adalah para bangsawan Kadiri yang memilih untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan istana, dan menjalani kehidupan layaknya rakyat jelata. Walaupun sudah hidup sebagai rakyat biasa, namun mereka tetap di hormati oleh masyarakat karena ilmu kanuragan dan kebatinan yang mereka miliki.
Jika melihat dari kalung mu, kau adalah seorang keturunan dari Naga Putih, Pangeran Panji Wijayakrama dari Kadiri", ujar Begawan Tirta Wening sambil tersenyum simpul.
"Lantas dimana keturunan Lima Naga yang lain, kakek tua?
Apa mereka juga sudah tidak ada di dunia ini?", tanya Arya Pethak segera.
"Lima Naga dibentuk saat Maharaja Kertajaya dari Kadiri bertahta di Daha. Saat Kadiri runtuh di tangan Ranggah Rajasa, Lima Naga mengasingkan diri ke daerah di wilayah Kadiri. Namun keberadaan mereka dianggap ancaman oleh para penguasa Tumapel, sehingga mereka selalu dicurigai akan memberontak terhadap Tumapel.
Aku dengar salah satu keturunan Lima Naga yang masih hidup, adalah Jayakatwang yang menjadi Bupati Gelang-gelang. Dia adalah keturunan dari Sastrajaya, Si Naga Hitam.
Kalau yang lain aku tidak tahu, mungkin mereka masih hidup atau bisa juga sudah habis", ujar Begawan Tirta Wening sambil mengelus jenggotnya.
Hemmmm
"Terima kasih atas penjelasannya kakek tua. Nanti saat sampai di Kadiri, akan ku tanyakan ini pada orang yang akan ku temui", Arya Pethak tersenyum tipis. Sedikit cerita tentang orang tua kandungnya membuat dia bersemangat untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi pada mereka.
Malam semakin larut.
Api unggun sudah mengecil, menyisakan bara api yang masih menyala dengan asap mengepul.
Pagi menjelang tiba di wilayah Pakuwon Palah. Mentari pagi mulai terbit di ufuk timur dengan rona merah yang indah. Suara kokok ayam jantan bersahutan terdengar dari sebuah pemukiman yang jauh.
Arya Pethak menggeliat dari tempat tidur nya. Pemuda tampan itu segera mengucek matanya sambil menguap beberapa kali. Dengan mata masih sedikit mengantuk, dia melihat keadaan sekelilingnya.
Para murid Perguruan Kembang Biru masih tertidur, sementara Gayatri nampak juga baru bangun.
Paramita yang baru mencuci muka di sungai kecil, berjalan mendekati Begawan Tirta Wening yang sedang duduk bersemedi.
"Eyang,
Kita searah dengan mereka. Apa sebaiknya kita berjalan bersama mereka atau kita berjalan sendiri?", tanya Paramita pada Begawan Tirta Wening yang segera membuka mata nya. Dia sangat berharap bisa bersama dengan Arya Pethak.
Pemuda tampan itu sangat menarik perhatian Paramita.
"Kita bisa berjalan dengan mereka cucuku. Setidaknya selama beberapa hari. Aku juga ingin lebih mengenal Arya Pethak", ujar Begawan Tirta Wening sambil tersenyum tipis.
Senyum manis segera tersungging di bibir Paramita.
Pagi itu setelah selesai bersiap-siap, mereka segera melanjutkan perjalanan. Karena Arya Pethak belum pintar mengendarai kuda, maka dia berkuda dengan Mahesa Cemeng agar perjalanan mereka lebih cepat sampai ke Kadiri.
Mereka terus berkuda menyusuri jalanan yang melewati Pakuwon Randu.
Masa keemasan Singhasari, semua daerah di wilayah Negeri itu benar benar makmur. Di bawah pemerintahan Sri Kertanegara semua daerah di Jawa maju dalam pertanian dan perdagangan.
Kota Pakuwon Randu ramai dengan para pedagang dan orang yang berlalu lalang di jalan raya yang membelah kota itu menjadi dua bagian sama besar.
Karena pagi belum sempat mengisi perut, Lembu Supa mengajak rombongannya untuk makan pagi lebih dulu.
Di sebuah warung makan sederhana yang ada di salah satu sudut kota, mereka menghentikan langkah kuda mereka.
Usai menambatkan kuda pada geladakan yang ada di halaman samping warung makan, mereka semua masuk ke warung makan.
"Berikan kami makanan yang paling enak pelayan", ujar Lembu Supa pada pelayan warung makan itu.
Si pelayan warung segera mengangguk mengerti.
Tak berapa lama kemudian, si pelayan warung datang dengan membawa beberapa jenis makanan seperti ayam panggang dan beberapa jenis sayuran. Nasi putih hangat juga terhidang di meja makan yang di duduki mereka.
Murid Perguruan Kembang Biru duduk di satu meja, sedangkan Arya Pethak, Begawan Tirta Wening dan Paramita duduk di meja yang lain.
Dari arah luar, datang beberapa orang berpakaian hitam yang nampaknya bukan orang baik-baik.
Seorang lelaki berwajah seram bertubuh gempal dengan memanggul pedang besar tampak mendelik sejenak pada Begawan Tirta Wening lalu duduk tak jauh dari meja yang diduduki Begawan Tirta Wening dan Arya Pethak.
Raut wajah Begawan Tirta Wening langsung memburuk melihat kedatangan orang itu.
"Mahesa Pungging,
Rupanya kau mengejar ku sampai kemari. Bukankah sudah kukatakan padamu agar menerima kenyataan bahwa nyawa kakak mu bukan tanggung jawab ku?", ujar Begawan Tirta Wening dengan cepat.
"Dewa Obat dari Selatan,
Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu, tapi yang pasti akan ku kirim kau menemani kakak ku di Swargaloka hari ini", Lelaki yang bernama Mahesa Pungging itu menyeringai lebar.
Phuihhhh
"Sombong sekali kau, orang jelek!
Kau pikir nyawa eyang ku bisa kau cabut seenak udel mu? Hadapi aku dulu sebelum kau berpikir kesana", sahut Paramita dengan tangan yang sudah memegang gagang pedang nya.
"Gadis bau kencur!
Setelah ku bunuh kakek tua sialan itu, kau akan ku jadikan gundik ku biar bisa merasakan bagaimana kekuatan Mahesa Pungging di atas ranjang hahahaha", Mahesa Pungging tertawa terpingkal-pingkal. Para pengikutnya juga ikut tertawa terbahak bahak.
Mendengar jawaban itu, Paramita langsung tersulut emosinya. Ia segera melesat cepat kearah Mahesa Pungging sambil menyabetkan pedang nya.
Mahesa Pungging dengan cepat menangkis sabetan pedang Paramita dengan pedang besarnya.
Tranggg!!
Bunga api kecil tercipta saat dua senjata itu beradu. Melihat serangan nya tertangkis, Paramita segera melayangkan tendangan keras kearah perut Mahesa Pungging.
Pria berwajah seram itu berkelit ke samping kanan. Akibatnya tendangan keras Paramita langsung menghantam meja makan di belakang Mahesa Pungging.
Bruakkk!!
Meja makan hancur berantakan akibat tendangan dari Paramita yang dilambari tenaga dalam. Keseimbangan Paramita goyah. Melihat itu, Mahesa Pungging dengan cepat menghantam punggung Paramita dengan keras.
Bukkkkk
Ougghhh
Paramita langsung jatuh tengkurap di atas meja makan yang hancur berantakan tadi. Mahesa Pungging segera melayangkan tendangan kearah kepala Paramita.
Namun sebelum kaki Mahesa Pungging menghajar kepala Paramita, sebuah piring makan melesat cepat kearah kaki Mahesa Pungging.
Whuuussshh
Braakkkk
Mahesa Pungging yang tidak menyadari kalau serangan nya berhasil di tangkis, hanya bisa mengaduh saat betis kirinya di lempari piring makan.
Pria bertubuh gempal itu mundur selangkah karena betisnya bagai di hantam batu besar. Rasanya sakit sekali.
Sambil mengelus betisnya yang sakit, Mahesa Pungging melotot ke arah meja makan yang di duduki Arya Pethak.
Sejak Paramita menyerang, semua orang memang memilih untuk menepi ke pinggir ruangan warung makan. Hanya Arya Pethak yang masih asyik mengunyah daging ayam panggang kesukaannya.
"Hei keparat!
Kalau jagoan, sini kau! Jangan cuma bisa membokong orang yang tidak siap", teriak Mahesa Pungging dengan keras.
Arya Pethak tidak menjawab, malah terus asyik menggerogoti tulang rawan pada dada ayam panggang nya.
Mahesa Pungging langsung naik darah. Dia merasa di sepelekan. Dengan cepat, dia meraih sepiring ayam bakar yang ada di meja di dekatnya dan melemparkannya ke arah Arya Pethak.
Whuuuuttt
Namun pemuda tampan itu dengan gerakan yang sukar diikuti oleh mata biasa, segera menangkap piring yang berisi ayam bakar.
Shhaaakkk..
Arya Pethak tersenyum lebar.
"Aku masih makan, jenggot lebat.
Kalau mau bertarung, tunggu aku selesai makan", ujar Arya Pethak sambil menggigit ayam bakar yang baru di lemparkan oleh Mahesa Pungging.
Mahesa Pungging murka. Dengan cepat dia melesat ke arah Arya Pethak sambil mengayunkan pedang besarnya mengincar kepala.
Whuuussshh
Arya Pethak segera menggeser posisi kursi kayu tempat duduknya sambil tetap memegang piring berisi ayam bakar.
Sabetan pedang besar Mahesa Pungging hanya membelah angin dan dengan keras menghajar meja makan.
Bruakkk!!
Meja makan langsung hancur berantakan. Arya Pethak dengan cepat menjejak pinggang Mahesa Pungging.
Bukkkkk
Tubuh besar Mahesa Pungging terlempar dan menabrak dinding kayu warung makan sedangkan Arya Pethak terdorong mundur beberapa langkah namun tetap duduk di kursi tempat duduknya. Pemuda itu terus menyantap ayam bakar tanpa mempedulikan Mahesa Pungging yang bangkit dengan penuh kemarahan. Dengan kasar, Mahesa Pungging mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.
Sementara itu, Paramita yang baru di tolong Begawan Tirta Wening dan Gayatri, menatap ke arah Arya Pethak dengan penuh kekaguman.
Mahesa Pungging segera menoleh ke arah 3 kawannya. Serempak, mereka mencabut senjata mereka.
Mereka segera menerjang maju ke arah Arya Pethak.
Namun Arya Pethak telah bersiap menghadapi mereka. Dengan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak melesat cepat bagai kilat kearah mereka.
Arya Pethak segera menyikut ulu hati seorang pria kurus berbaju yang bersenjatakan golok.
Deshhhh
Arrgghhhh
Si pria kurus itu langsung menganga, Arya Pethak segera menjejali mulut pria itu dengan sepotong ayam bakar. Lalu Arya Pethak merubah gerakan tubuhnya dan mengayunkan dengkul pada perut seorang lelaki bertubuh gempal yang menyerang dari samping kanan.
Bukkkkk
Ougghhh
Melihat mulut lawan terbuka, Arya Pethak segera menyumpal mulutnya dengan sayap ayam bakar.
Arya Pethak terus bergerak gesit. Dengan satu kaki kanan menghantam dada Mahesa Pungging, satu tangan kanannya masih bisa menampar pipi si pria paruh baya yang menyerang dari samping kiri.
Desh Deshhhh!!!
Empat orang yang mengeroyok Arya Pethak langsung terjungkal bersamaan.
Semua orang langsung terpana melihat itu semua.
Arya Pethak yang masih memegang sepotong paha ayam bakar, berjalan mendekati Mahesa Pungging dan kawannya yang masih terbaring di lantai rumah makan.
"Masih mau dilanjutkan, jenggot lebat?", tanya Arya Pethak dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
Dengan menahan sakit di dadanya, Mahesa Pungging segera berdiri.
"Kau menang kali ini anak muda, lain kali akan ku balas kekalahan ku ini", ujar Mahesa Pungging yang segera melangkah keluar dari warung makan diikuti oleh ketiga kawannya yang berjalan dengan tertatih.
Begawan Tirta Wening segera mendekati Arya Pethak.
"Kau hebat anak muda..
Bisa membuat Mahesa Pungging babak belur seperti itu", ujar Begawan Tirta Wening sambil tersenyum.
"Kau juga berilmu tinggi, Kakek tua. Kenapa kau masih tidak membantu cucu mu saat dia dalam bahaya?
Kau ini aneh sekali", ucap Arya Pethak sambil meletakkan piring makan nya.
"Hehehe...
Kalau sering di bantu, nanti dia terbiasa untuk tidak mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya, Pethak..
Aku melatih nya agar dia mandiri dan mampu melindungi diri", jawab Begawan Tirta Wening sambil tertawa kecil.
"Pendekar muda,
Terimakasih atas bantuannya. Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah mati", ujar Paramita sambil membungkukkan badannya.
"Sudahlah,
Sesama kawan perjalanan kita harus saling menolong. Nah tadi kau sudah aku tolong, sekarang ganti kau tolong aku", Arya Pethak melempar tulang ayam yang sudah bersih dari daging ke sudut warung makan itu.
"Menolong apa Saudara Pethak?", tanya Paramita dengan antusias.
"Bayarkan makanan dan kerusakan warung makan ini..
Kasian pemilik nya kalau disuruh menanggung biaya pembangunan tempat ini lagi", jawab Arya Pethak dengan cepat.
"Pasti, pasti ku lakukan saudara Pethak", Paramita langsung tersenyum tipis.
Usai mereka membayar makanan sekaligus biaya kerusakan warung makan., Arya Pethak dan kawan-kawannya segera meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan Gayatri diam-diam mencuri pandang ke arah Arya Pethak, sedangkan Paramita lebih terang-terangan mendekati Arya Pethak.
Di tepi hutan kecil di utara Pakuwon Randu, mereka berhenti di tepi sungai kecil yang menjadi batas wilayah Pakuwon Randu dan Sengkapura.
Tiba-tiba...
Blammmmm!!!
Terdengar suara ledakan keras dari arah timur hutan kecil. Seperti suara orang beradu ilmu kanuragan tingkat tinggi.
Seorang lelaki tua berbaju hitam tampak bertarung melawan seorang lelaki paruh baya yang berdandan seperti seorang pertapa.
"Brengsek kau, Dandang Gendis..
Hari ini, akan ku kirim kau ke neraka", ujar si lelaki tua berbaju hitam sambil mengacungkan kerisnya.
"Kau pikir aku takut melawan mu, Sukmajati?
Sekalipun kau memegang Keris Mpu Gandring di tangan mu itu, aku tidak takut", teriak si lelaki paruh baya yang di panggil dengan sebutan Dandang Gendis.
Kembali terjadi pertarungan antara dua orang sakti itu, sementara Arya Pethak dan kawan-kawannya hanya melihat itu semua dari jarak yang cukup jauh.
"Keris Mpu Gandring?
Kog aneh?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
fatih rizkiahmad
maaf. dandang gendis itu nama kecil dari raja kertawijaya raja kediri terakhir. mungkin bagus sih dan sah sah saja dipakai. tpi ya fantasi nya jangan kebablasan jugalah. alur cerita sudah bagus, tpi penggunaan beberapa nama dalam karya ini maaf agak merendahkan saya kira. ya walaupun bebas berekspresi. klo bisa pakai nama lain. berkekpresi dalam berkarya dengan menghargai budaya tanpa merendahkannya.
2024-03-26
0
Putra_Andalas
kata TUA gk usah disebut juga kale..ckup kata KEK aja gt..
2023-07-26
0
rajes salam lubis
mantap mantap mantap
2022-10-11
1