Tapa Ngalong

Nyi Ratih begitu gembira melihat kedatangan Arya Pethak dan Mpu Prawira. Satu purnama lebih tidak melihat anak angkatnya itu membuat perempuan berambut putih itu begitu kesepian dan merindukan sosok Arya Pethak yang patuh dan tidak banyak bicara. Nyi Ratih terus memperhatikan keadaan Arya Pethak yang terlihat kurus tapi masih terlihat tampan seperti biasanya.

"Nyi,

Mulai besok malam putra kita akan tapa ngalong selama 7 hari. Tidak akan jauh dari rumah, cukup di hutan bambu di belakang itu.

Jadi kau bisa mengunjungi setiap hari. Setiap pagi dan sore kau bisa mengantar makanan untuk nya tapi hanya buah-buahan saja", ujar Mpu Prawira pada Nyi Ratih.

"Kenapa kau keras sekali pada putra ku Kakang?

Berilah dia jeda waktu untuk memulihkan tubuhnya yang kurus itu", Nyi Ratih mencoba untuk menunda tapa ngalong Arya Pethak.

"Tapi Nyi, kita harus menyiapkan Arya Pethak sebagai pendekar untuk membela yang lemah.

Jangan anggap enteng masalah ini", sergah Mpu Prawira sambil mengelus jenggotnya yang banyak ditumbuhi uban berwarna putih.

"Aku tahu kakang, tapi keadaan Kerajaan Tumapel yang sekarang bukankah sudah tentram.

Kakang Pranaraja juga sudah menjadi Patih di Kadiri. Negara juga dalam keadaan makmur.

Apa yang kita takutkan?", timpal Nyi Ratih dengan sedikit menyanggah.

Memang, selama masa pemerintahan raja Wisnuwardhana yang adil dan bijaksana keadaan Kerajaan Tumapel yang telah berpindah ibukota ke Singhasari begitu makmur.

Perdagangan dengan wilayah manca negara seperti Pakuan Pajajaran, Buleleng, Sriwijaya, Tanjungpura bahkan Kerajaan Champa dan dinasti Song di Tiongkok berlangsung lancar.

Semua bersahabat baik dengan Kerajaan Tumapel yang akhirnya lebih dikenal sebagai kerajaan Singhasari.

Masa pemerintahan nya, banyak mendirikan bangunan suci untuk para raja yang telah mangkat. Pertanian maju secara besar-besaran di beberapa wilayah.

Kertanegara yang menjadi Yuwaraja di Kadiri memerintah dengan baik. Tidak ada pajak yang memberatkan masyarakat, juga keamanan yang terjaga dengan baik. Pranaraja yang menjadi Patih juga mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik, meski masih ada gangguan kecil keamanan tapi secara keseluruhan masih terjaga.

"Iya aku mengerti Nyi, keamanan di wilayah Negeri Kadiri sudah membaik. Tapi apakah kamu pernah mendengar kalau Maharaja Seminingrat mulai memburuk keadaan nya?", tanya Mpu Prawira sambil menatap wajah sepuh istri nya itu.

"Aku tidak pernah keluar jauh dari tempat ini Kakang, jadi mana aku tahu ada desas-desus seperti itu?

Memangnya kenapa Kakang?", Nyi Ratih balik bertanya kepada Mpu Prawira.

Hemmmm

"Kertanegara adalah pengawas utama di wilayah yang terdekat dengan Kadiri Nyi..

Semua orang takut melawan dia.

Tapi kalau sampai Maharaja Seminingrat mangkat dan Kertanegara menjadi Maharaja Singhasari tentu pengawasan terhadap daerah bawahan Kadiri akan melonggar dan itu sangat berbahaya.

Aku dengar, Jayakatwang yang di angkat Maharaja Seminingrat sebagai Bupati Gelang-gelang sudah lama tidak suka dengan Kertanegara.

Bibit permasalahan ini suatu saat akan meletus. Maka dari itu, kita harus cepat menyiapkan Arya Pethak sebagai penolong masyarakat saat pemerintahan menjadi kacau", jawab Mpu Prawira sambil menatap langit biru di barat Bukit Kahayunan.

"Aku mengerti kekhawatiran mu Kakang, tapi kita juga tidak bisa memaksa Arya Pethak memikul beban itu sendirian.

Bagaimanapun dia juga harus menemukan jalan hidupnya sendiri.

Jadi sekarang aku minta berikan waktu untuk ku bersama putra ku untuk bersama. Dan kali ini Kakang tidak boleh menolak", ujar Nyi Ratih dengan sedikit memaksa.

Hari itu Nyi Ratih memasak enak untuk menyambut kedatangan putra nya itu. Dia bahkan menyembelih ayam untuk menu makan siang mereka.

Selama seharian itu, Nyi Ratih tidak membiarkan Arya Pethak jauh dari nya. Kemanapun dia pergi, Arya Pethak harus ikut bersamanya. Mpu Prawira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istri nya itu.

Keesokan harinya, dimulailah tapa ngalong Arya Pethak.

Sebatang bambu diikat dengan tali pada kedua ujungnya kemudian kedua tali diikat pada dua pohon bambu betung setinggi 4 tombak di atas tanah.

Arya Pethak harus berada diatas bambu betung itu selama tujuh hari tanpa boleh turun menyentuh tanah. Selain itu, dia juga hanya boleh makan buah-buahan seperti kalong atau kelelawar yang hanya memakan buah.

Setelah semua siap, Mpu Prawira menyuruh Arya Pethak melompat ke atas bambu yang menjadi tempat nya bertapa.

"Sekarang naiklah kesana, jangan sampai jatuh atau turun sebelum 7 hari", perintah Mpu Prawira sambil tersenyum tipis.

"Baik Kanjeng Romo", Arya Pethak mengangguk mengerti dengan apa yang di perintahkan oleh Mpu Prawira. Pemuda tampan itu segera melompat tinggi ke udara dan mendarat di atas bambu yang terikat tali.

Arya Pethak nyaris jatuh, tapi dengan cepat dia menyeimbangkan nya. Selanjutnya dia dengan cepat menata nafas dan pikirannya.

Selanjutnya dia harus menahan diri dari dingin dan panas cuaca yang menghantam tubuhnya. Berada di udara terbuka, di tempat tinggal benar benar menyiksa tubuh nya untuk mampu beradaptasi dalam segala situasi.

Nyi Ratih secara teratur memberikan makanan berupa buah-buahan yang tumbuh di sekitar bukit tempat tinggal mereka.

Dengan menata nafas dan tenaga dalam nya, Arya Pethak merasa tubuhnya semakin ringan hingga tidak merasa tersiksa menghadapi kerasnya cuaca dingin di Bukit Kahayunan.

Tak terasa sudah 7 hari Arya Pethak menjalani tapa ngalong nya.

Malam itu, tiba-tiba saja hujan deras mengguyur wilayah Bukit Kahayunan. Di tengah hujan yang deras, Nyi Ratih menatap keluar jendela rumah nya dengan penuh perasaan khawatir. Naluri keibuannya memikirkan keadaan Arya Pethak yang masih menjalani tapa ngalong nya.

"Kakang Prawira,

Apa putra ku akan baik-baik saja? Hujan deras begini, dan dia harus berbasah-basah tapa ngalong", suara Nyi Ratih dengan nada cemas.

"Doakan saja semoga putra mu baik baik saja Nyi.

Percayalah bahwa Arya Pethak mampu menghadapi ini semua", Mpu Prawira tersenyum simpul pada istrinya itu. Laki laki sepuh itu tau bagaimana perasaan Nyi Ratih saat ini.

Hujan deras terus mengguyur Bukit Kahayunan. Sesekali petir menyambar langit malam yang gelap.

Jlegeeerrrr!!!

Nyi Ratih berkomat kamit membaca doa, berharap agar putranya baik-baik saja.

Arya Pethak tetap tak bergeming dari tempatnya duduk. Meski hujan deras terus mengguyur, namun tidak menggoyahkan tapa ngalong nya.

Menjelang pagi, hujan deras itu berhenti. Berganti angin semilir yang datang dari selatan. Udara terasa semakin dingin menusuk tulang. Arya Pethak terus bersemedi di atas batang bambu yang menjadi tempat bertapa nya.

Saat sinar matahari pagi mulai terbit, Arya Pethak membuka mata nya. Sinar matahari menghangatkan tubuh nya yang basah kuyup oleh hujan deras semalam. Arya Pethak terus menata nafas dan pikirannya, tubuhnya terasa begitu ringan seperti kapuk randu yang beterbangan di tiup angin.

Saat matahari terbit sepenggal naik, Mpu Prawira mendekati tempat tapa ngalong Arya Pethak. Sekali loncat, tubuh kakek tua bertubuh tegap itu sudah ada disamping Arya Pethak.

Taphhh!!

Melihat kedatangan Mpu Prawira, Arya Pethak tersenyum simpul. Tak di duga Mpu Prawira malah mengayunkan tongkatnya menyerang Arya Pethak.

Whuuuuttt

Dengan cepat, Arya Pethak segera menghindar dari serangan ayah angkatnya itu.

Melihat serangan nya di hindari, Mpu Prawira kembali mengayunkan tongkatnya ke arah dada Arya Pethak. Namun dengan sekali pijakan kaki yang halus, Arya Pethak melenting tinggi dan mendarat di ujung bambu tempat bertapa nya.

Pagi itu mereka segera bertarung diatas bambu yang menjadi tempat bertapa nya Arya Pethak.

Gerakan cepat dan ringan dari dua orang itu benar benar terlihat seperti pertarungan 2 jagoan dunia persilatan.

Namun Mpu Prawira yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan bukan lawan yang mudah dihadapi Arya Pethak.

Saat Arya Pethak sedikit lengah, sabetan tongkat kayu Mpu Prawira berhasil memukul kaki kanan Arya Pethak yang baru melompat menghindari sepakan keras dari kakek tua itu.

Deshhhh

Arya Pethak terpelanting dan terjatuh dari bambu tempat bertapa nya. Namun sebelum menyentuh tanah, dia memutar gerakan tubuhnya dan turun ke tanah dengan sempurna.

Mpu Prawira lantas segera menyusul turun ke samping Arya Pethak.

"Bagus sekali Ngger,

Gerakan mu sudah semakin cepat dan ringan. Tinggal aku menurunkan Ajian Langkah Dewa Angin kepadamu.

Sekarang kau duduk di atas batu besar yang ada disana itu", ucap Mpu Prawira sambil menunjuk sebuah batu besar yang ada di barat hutan bambu betung di samping pohon bendo yang rindang.

Arya Pethak segera mengangguk mengerti dan menuruti perintah Mpu Prawira.

Pemuda tampan itu segera duduk bersila di atas batu besar itu sambil memejamkan matanya. Mpu Prawira dengan cepat melesat ke samping Arya Pethak.

"Kosongkan pikiran mu, atur jalan nafas dan tenaga dalam mu Ngger", perintah Mpu Prawira pada Arya Pethak. Pemuda itu dengan cepat segera melakukan perintah Mpu Prawira.

Setelah memejamkan mata sejenak, tiba-tiba tangan kanan Mpu Prawira mengeluarkan asap tipis berwarna putih dengan sinar biru terang. Lalu tangan kanannya itu di letakkan pada ubun-ubun kepala Arya Pethak.

Zzzrrrrrttttthhh!

Sinar biru terang segera menyelimuti seluruh tubuh Arya Pethak. Seluruh pori pori tubuh nya terasa sejuk, dan tenaga dalam nya meningkat cepat.

Arya Pethak memutar kedua telapak tangannya, untuk membantunya mempercepat penyerapan Ajian Langkah Dewa Angin.

Setelah cukup, Mpu Prawira menarik tangan kanannya dari ubun-ubun kepala Arya Pethak.

Arya Pethak segera membuka mata nya, saat Ajian Langkah Dewa Angin merasuk sempurna ke tubuh nya.

"Ilmu Ajian Langkah Dewa Angin sudah masuk sempurna ke tubuh mu Pethak.

Kini kau memiliki tubuh seringan kapas kapuk randu. Sekarang cobalah ambil buah nangka yang ada disana Ngger", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum tipis sambil menunjuk ke buah nangka matang yang ada di pucuk pohon nangka yang lumayan tinggi.

"Baik Romo, akan aku coba", Arya Pethak mengangguk dan segera melesat cepat kearah buah nangka matang yang di tunjukkan kepada nya.

Hanya dalam sekejap mata, Arya Pethak sudah sampai di pohon nangka dan segera berbalik arah menuju ke arah Mpu Prawira. Gerakan cepat seperti terbang diatas udara.

Mpu Prawira tersenyum simpul. Arya Pethak memang berbakat menjadi pendekar tangguh.

"Hebat!

Romo bangga pada mu Ngger. Sekarang ayo kita temui ibu mu. Dia dari semalam mencemaskan keadaan mu", ajak Mpu Prawira yang segera melesat cepat kearah kediama. nya. Arya Pethak segera mengejar langkah ayah angkat sekaligus guru nya itu.

**

Sementara itu, nun jauh di Utara tepatnya di bukit Lanjar.

Seorang gadis muda berbaju hijau sedang memainkan pedangnya dengan lincah dan gesit.

Seorang wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat cantik, terus menatap gerakan gadis muda berbaju hijau itu dengan tatapan penuh arti.

Gerakan si gadis muda berbaju hijau itu sangat indah, seperti sedang menari meski dengan tujuan yang mematikan.

"Larasati,

Cukup untuk hari ini. Nanti sore kita lanjutkan lagi latihan mu", ujar si perempuan paruh baya itu sambil berdiri dari tempat duduknya di atas batu besar.

"Tapi guru, Laras masih ingin berlatih beberapa jurus lagi", ujar gadis muda berbaju hijau yang bernama Rara Larasati itu.

"Sudah jangan keras kepala. Kita lanjutkan nanti sore saja.

Hari ini Guru besar akan keluar dari pertapaan nya. Semua murid Padepokan Bukit Lanjar harus bersiap menyambut nya", ujar wanita paruh baya itu sambil melangkah menuju ke rumah kediaman nya. Perempuan itu bernama Nyi Sawitri atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Lengan Seribu dari Bukit Lanjar.

Padepokan Bukit Lanjar berdiri di bekas Padepokan Anggrek Bulan, yang hancur saat terjadi akhir perang 60 tahun antara Jenggala dan Panjalu.

Guru besar mereka, Dewi Bukit Lanjar sangat terkenal sebagai pendekar wanita pilih tanding pada masa lalu.

Dewi Bukit Lanjar memiliki belasan murid hebat dan tersohor di wilayah Negeri Singhasari. Salah satu murid kesayangannya adalah Nyi Sawitri yang dikenal sebagai Dewi Lengan Seribu. Julukan itu bukan hanya omong kosong belaka, kehebatan Nyi Sawitri terletak pada kemampuan beladiri berpedang nya yang mampu membuat perhatian lawan terpecah karena ilusi tangan nya yang bisa terlihat berjumlah ratusan bayangan.

Nyi Sawitri hanya mempunyai seorang murid, Rara Larasati. Berbeda dengan kakak kakak seperguruannya yang memiliki setidaknya 5 murid.

Larasati segera menghentikan latihan nya. Gadis muda itu segera mengejar langkah sang guru menuju ke arah kediaman nya.

Pagi itu di Padepokan Bukit Lanjar, semua orang sibuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan guru besar mereka.

Seorang wanita sepuh berjalan masuk ke dalam serambi utama Padepokan Bukit Lanjar. Langkahnya yang pelan di bantu tongkat kayu galih asem tampak anggun menuju kursi pemimpin padepokan. Semua murid Padepokan Bukit Lanjar segera membungkuk hormat pada Dewi Bukit Lanjar yang kemudian duduk.

"Selamat datang kembali Guru", ujar Kuda Laleyan, murid pertama Dewi Bukit Lanjar dengan penuh hormat.

"Sudah cukup, duduklah dengan tenang", ujar Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum tipis.

Semua murid dan cucu murid yang ada di serambi kediaman utama segera duduk bersila di hadapannya.

Dewi Bukit Lanjar menatap ke arah murid murid Padepokan Bukit Lanjar. Kemudian ia berkata dengan penuh wibawa,

"Murid Padepokan Bukit Lanjar semuanya,

Hari ini ada sesuatu yang penting untuk ku sampaikan kepada kalian semua.

Sudah saatnya aku mundur dari dunia persilatan".

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung kak 😁

Ikuti terus kisah selanjutnya yah 👍

Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis 😁

Selamat membaca 🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Mely Kanzafaiz

Mely Kanzafaiz

like 👍

2024-11-02

0

arumazam

arumazam

mantap

2023-07-15

3

Syarif Muhamad

Syarif Muhamad

lengkap...siap berpasangan

2022-10-12

1

lihat semua
Episodes
1 Korban Kutukan Ketujuh
2 Wafatnya Apanji Tohjaya
3 Tapa Ngalong
4 Ajian Tapak Brajamusti
5 Sudah Saatnya
6 Ujian Pertama Topo Ngrame
7 Dewa Obat dari Selatan
8 Perjalanan
9 Pencuri Kuda
10 Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11 Sapu Tangan Merah
12 Ajian Lembu Sekilan
13 Tugas Dari Patih Pranaraja
14 Jagoan Kampung
15 Sepasang Pisau Racun
16 Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17 Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18 Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19 Nawala
20 Hantu Desa Karangan
21 Hantu Desa Karangan 2
22 Jimat Lulang Kebo Landoh
23 Iblis Golok Pucat
24 Kenapa Buru-buru Pergi?
25 Hutan Kali Mati
26 Racun Ular Kuning
27 Nyamuk Pengganggu
28 Ajian Badai Laut Selatan
29 Tiga Gadis Desa
30 Walet Merah
31 Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32 Murid Perguruan Pedang Setan
33 Katumenggungan Kurawan
34 Katumenggungan Kurawan 2
35 Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36 Pertapaan Giri Lawu
37 Ajian Mata Dewa
38 Tiga Resi
39 Keributan di Warung Makan
40 Dewi Ular Siluman
41 Perguruan Pedang Perak
42 Malaikat Maut Mu
43 Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44 Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45 Melawan Si Mata Malaikat
46 Anjani
47 Penginapan Kembang Sore
48 Penginapan Kembang Sore 2
49 Delapan Setan Pencabut Nyawa
50 Sayembara
51 Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52 Begawan Pasopati
53 Karawitan Langen Sari
54 Kisah Masa Silam
55 Menuju Ke Kadiri
56 Pengemis Tapak Darah
57 Pengemis Tapak Darah 2
58 Misteri Gunung Penanggungan
59 Nyi Ratu Bulan Darah
60 Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61 Batu Inti Naga
62 Kekuatan Baru
63 Ratapan Di Tengah Hujan
64 Giliran
65 Selamatkan Rara Larasati
66 Dua Putri Lurah Lwaram
67 Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68 Dendam Kesumat
69 Persetubuhan Setan
70 Ajian Iblis Neraka
71 Kutuk Pasu
72 Dalang
73 Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74 Senjata untuk Klungsur
75 Rampok Bajing Ireng
76 Pertarungan Dua Wanita Cantik
77 Tolong Aku
78 Curahan Hati Sang Putri Adipati
79 Rajapati Pisau Perak
80 Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81 Menuju Saunggalah
82 Istana Atap Langit
83 Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84 Ajian Halimun
85 Di Kaki Gunung Pojoktiga
86 Uji Kemampuan Beladiri
87 Uji Kemampuan Beladiri 2
88 Uji Kemampuan Beladiri 3
89 Uji Kemampuan Beladiri 4
90 Uji Kemampuan Beladiri 5
91 Pendekar Muda Nomer Satu
92 Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93 Lembah Seribu Bunga
94 Balas Dendam
95 Sinar Rembulan
96 Setan Dari Neraka
97 Utusan
98 Dedemit Desa Randublatung
99 Kadipaten Bojonegoro
100 Kitab Pusaka Sabda Buana
101 Resi Mpu Dharma
102 Iri Hati Sang Ibu Tiri
103 Delapan Malaikat Pembunuh
104 Berebut Perahu Penyeberangan
105 Bajak Laut
106 Adipati Arya Wiraraja
107 Cinderamata Dari Pulau Madura
108 Penunggang Kuda di Tengah Malam
109 Menuju Kotaraja Singhasari
110 Nyi Lapat dan Rukmini
111 Sirep
112 Pendekar Sabit Berdarah
113 Sepasang Pedang Gunung Kawi
114 Gorawangsa
115 Pertarungan Tiga Bidadari
116 Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117 Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118 Jodoh Masa Kecil
119 Rencana Selanjutnya
120 Rahasia Nyi Sekati
121 Prajurit Gelang-gelang
122 Selir
123 Gembel Tua Berseruling Perak
124 Kitab Ilmu Seruling Neraka
125 Kawan Seperjalanan Baru
126 Anak Buah Raden Ronggo
127 Pertapaan Sapta Arga
128 Resi Candramaya
129 Musuhnya Musuh Adalah Teman
130 Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131 Kematian Akuwu Surenggono
132 Supit Urang
133 Menggempur Kota Wengker
134 Menggempur Kota Wengker 2
135 Kota Wengker Jatuh
136 Adipati Warok Singo Pethak
137 Siasat Raden Ronggo
138 Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139 Perang Akhir
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Korban Kutukan Ketujuh
2
Wafatnya Apanji Tohjaya
3
Tapa Ngalong
4
Ajian Tapak Brajamusti
5
Sudah Saatnya
6
Ujian Pertama Topo Ngrame
7
Dewa Obat dari Selatan
8
Perjalanan
9
Pencuri Kuda
10
Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11
Sapu Tangan Merah
12
Ajian Lembu Sekilan
13
Tugas Dari Patih Pranaraja
14
Jagoan Kampung
15
Sepasang Pisau Racun
16
Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17
Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18
Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19
Nawala
20
Hantu Desa Karangan
21
Hantu Desa Karangan 2
22
Jimat Lulang Kebo Landoh
23
Iblis Golok Pucat
24
Kenapa Buru-buru Pergi?
25
Hutan Kali Mati
26
Racun Ular Kuning
27
Nyamuk Pengganggu
28
Ajian Badai Laut Selatan
29
Tiga Gadis Desa
30
Walet Merah
31
Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32
Murid Perguruan Pedang Setan
33
Katumenggungan Kurawan
34
Katumenggungan Kurawan 2
35
Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36
Pertapaan Giri Lawu
37
Ajian Mata Dewa
38
Tiga Resi
39
Keributan di Warung Makan
40
Dewi Ular Siluman
41
Perguruan Pedang Perak
42
Malaikat Maut Mu
43
Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44
Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45
Melawan Si Mata Malaikat
46
Anjani
47
Penginapan Kembang Sore
48
Penginapan Kembang Sore 2
49
Delapan Setan Pencabut Nyawa
50
Sayembara
51
Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52
Begawan Pasopati
53
Karawitan Langen Sari
54
Kisah Masa Silam
55
Menuju Ke Kadiri
56
Pengemis Tapak Darah
57
Pengemis Tapak Darah 2
58
Misteri Gunung Penanggungan
59
Nyi Ratu Bulan Darah
60
Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61
Batu Inti Naga
62
Kekuatan Baru
63
Ratapan Di Tengah Hujan
64
Giliran
65
Selamatkan Rara Larasati
66
Dua Putri Lurah Lwaram
67
Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68
Dendam Kesumat
69
Persetubuhan Setan
70
Ajian Iblis Neraka
71
Kutuk Pasu
72
Dalang
73
Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74
Senjata untuk Klungsur
75
Rampok Bajing Ireng
76
Pertarungan Dua Wanita Cantik
77
Tolong Aku
78
Curahan Hati Sang Putri Adipati
79
Rajapati Pisau Perak
80
Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81
Menuju Saunggalah
82
Istana Atap Langit
83
Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84
Ajian Halimun
85
Di Kaki Gunung Pojoktiga
86
Uji Kemampuan Beladiri
87
Uji Kemampuan Beladiri 2
88
Uji Kemampuan Beladiri 3
89
Uji Kemampuan Beladiri 4
90
Uji Kemampuan Beladiri 5
91
Pendekar Muda Nomer Satu
92
Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93
Lembah Seribu Bunga
94
Balas Dendam
95
Sinar Rembulan
96
Setan Dari Neraka
97
Utusan
98
Dedemit Desa Randublatung
99
Kadipaten Bojonegoro
100
Kitab Pusaka Sabda Buana
101
Resi Mpu Dharma
102
Iri Hati Sang Ibu Tiri
103
Delapan Malaikat Pembunuh
104
Berebut Perahu Penyeberangan
105
Bajak Laut
106
Adipati Arya Wiraraja
107
Cinderamata Dari Pulau Madura
108
Penunggang Kuda di Tengah Malam
109
Menuju Kotaraja Singhasari
110
Nyi Lapat dan Rukmini
111
Sirep
112
Pendekar Sabit Berdarah
113
Sepasang Pedang Gunung Kawi
114
Gorawangsa
115
Pertarungan Tiga Bidadari
116
Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117
Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118
Jodoh Masa Kecil
119
Rencana Selanjutnya
120
Rahasia Nyi Sekati
121
Prajurit Gelang-gelang
122
Selir
123
Gembel Tua Berseruling Perak
124
Kitab Ilmu Seruling Neraka
125
Kawan Seperjalanan Baru
126
Anak Buah Raden Ronggo
127
Pertapaan Sapta Arga
128
Resi Candramaya
129
Musuhnya Musuh Adalah Teman
130
Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131
Kematian Akuwu Surenggono
132
Supit Urang
133
Menggempur Kota Wengker
134
Menggempur Kota Wengker 2
135
Kota Wengker Jatuh
136
Adipati Warok Singo Pethak
137
Siasat Raden Ronggo
138
Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139
Perang Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!