Nyi Ratih begitu gembira melihat kedatangan Arya Pethak dan Mpu Prawira. Satu purnama lebih tidak melihat anak angkatnya itu membuat perempuan berambut putih itu begitu kesepian dan merindukan sosok Arya Pethak yang patuh dan tidak banyak bicara. Nyi Ratih terus memperhatikan keadaan Arya Pethak yang terlihat kurus tapi masih terlihat tampan seperti biasanya.
"Nyi,
Mulai besok malam putra kita akan tapa ngalong selama 7 hari. Tidak akan jauh dari rumah, cukup di hutan bambu di belakang itu.
Jadi kau bisa mengunjungi setiap hari. Setiap pagi dan sore kau bisa mengantar makanan untuk nya tapi hanya buah-buahan saja", ujar Mpu Prawira pada Nyi Ratih.
"Kenapa kau keras sekali pada putra ku Kakang?
Berilah dia jeda waktu untuk memulihkan tubuhnya yang kurus itu", Nyi Ratih mencoba untuk menunda tapa ngalong Arya Pethak.
"Tapi Nyi, kita harus menyiapkan Arya Pethak sebagai pendekar untuk membela yang lemah.
Jangan anggap enteng masalah ini", sergah Mpu Prawira sambil mengelus jenggotnya yang banyak ditumbuhi uban berwarna putih.
"Aku tahu kakang, tapi keadaan Kerajaan Tumapel yang sekarang bukankah sudah tentram.
Kakang Pranaraja juga sudah menjadi Patih di Kadiri. Negara juga dalam keadaan makmur.
Apa yang kita takutkan?", timpal Nyi Ratih dengan sedikit menyanggah.
Memang, selama masa pemerintahan raja Wisnuwardhana yang adil dan bijaksana keadaan Kerajaan Tumapel yang telah berpindah ibukota ke Singhasari begitu makmur.
Perdagangan dengan wilayah manca negara seperti Pakuan Pajajaran, Buleleng, Sriwijaya, Tanjungpura bahkan Kerajaan Champa dan dinasti Song di Tiongkok berlangsung lancar.
Semua bersahabat baik dengan Kerajaan Tumapel yang akhirnya lebih dikenal sebagai kerajaan Singhasari.
Masa pemerintahan nya, banyak mendirikan bangunan suci untuk para raja yang telah mangkat. Pertanian maju secara besar-besaran di beberapa wilayah.
Kertanegara yang menjadi Yuwaraja di Kadiri memerintah dengan baik. Tidak ada pajak yang memberatkan masyarakat, juga keamanan yang terjaga dengan baik. Pranaraja yang menjadi Patih juga mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik, meski masih ada gangguan kecil keamanan tapi secara keseluruhan masih terjaga.
"Iya aku mengerti Nyi, keamanan di wilayah Negeri Kadiri sudah membaik. Tapi apakah kamu pernah mendengar kalau Maharaja Seminingrat mulai memburuk keadaan nya?", tanya Mpu Prawira sambil menatap wajah sepuh istri nya itu.
"Aku tidak pernah keluar jauh dari tempat ini Kakang, jadi mana aku tahu ada desas-desus seperti itu?
Memangnya kenapa Kakang?", Nyi Ratih balik bertanya kepada Mpu Prawira.
Hemmmm
"Kertanegara adalah pengawas utama di wilayah yang terdekat dengan Kadiri Nyi..
Semua orang takut melawan dia.
Tapi kalau sampai Maharaja Seminingrat mangkat dan Kertanegara menjadi Maharaja Singhasari tentu pengawasan terhadap daerah bawahan Kadiri akan melonggar dan itu sangat berbahaya.
Aku dengar, Jayakatwang yang di angkat Maharaja Seminingrat sebagai Bupati Gelang-gelang sudah lama tidak suka dengan Kertanegara.
Bibit permasalahan ini suatu saat akan meletus. Maka dari itu, kita harus cepat menyiapkan Arya Pethak sebagai penolong masyarakat saat pemerintahan menjadi kacau", jawab Mpu Prawira sambil menatap langit biru di barat Bukit Kahayunan.
"Aku mengerti kekhawatiran mu Kakang, tapi kita juga tidak bisa memaksa Arya Pethak memikul beban itu sendirian.
Bagaimanapun dia juga harus menemukan jalan hidupnya sendiri.
Jadi sekarang aku minta berikan waktu untuk ku bersama putra ku untuk bersama. Dan kali ini Kakang tidak boleh menolak", ujar Nyi Ratih dengan sedikit memaksa.
Hari itu Nyi Ratih memasak enak untuk menyambut kedatangan putra nya itu. Dia bahkan menyembelih ayam untuk menu makan siang mereka.
Selama seharian itu, Nyi Ratih tidak membiarkan Arya Pethak jauh dari nya. Kemanapun dia pergi, Arya Pethak harus ikut bersamanya. Mpu Prawira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istri nya itu.
Keesokan harinya, dimulailah tapa ngalong Arya Pethak.
Sebatang bambu diikat dengan tali pada kedua ujungnya kemudian kedua tali diikat pada dua pohon bambu betung setinggi 4 tombak di atas tanah.
Arya Pethak harus berada diatas bambu betung itu selama tujuh hari tanpa boleh turun menyentuh tanah. Selain itu, dia juga hanya boleh makan buah-buahan seperti kalong atau kelelawar yang hanya memakan buah.
Setelah semua siap, Mpu Prawira menyuruh Arya Pethak melompat ke atas bambu yang menjadi tempat nya bertapa.
"Sekarang naiklah kesana, jangan sampai jatuh atau turun sebelum 7 hari", perintah Mpu Prawira sambil tersenyum tipis.
"Baik Kanjeng Romo", Arya Pethak mengangguk mengerti dengan apa yang di perintahkan oleh Mpu Prawira. Pemuda tampan itu segera melompat tinggi ke udara dan mendarat di atas bambu yang terikat tali.
Arya Pethak nyaris jatuh, tapi dengan cepat dia menyeimbangkan nya. Selanjutnya dia dengan cepat menata nafas dan pikirannya.
Selanjutnya dia harus menahan diri dari dingin dan panas cuaca yang menghantam tubuhnya. Berada di udara terbuka, di tempat tinggal benar benar menyiksa tubuh nya untuk mampu beradaptasi dalam segala situasi.
Nyi Ratih secara teratur memberikan makanan berupa buah-buahan yang tumbuh di sekitar bukit tempat tinggal mereka.
Dengan menata nafas dan tenaga dalam nya, Arya Pethak merasa tubuhnya semakin ringan hingga tidak merasa tersiksa menghadapi kerasnya cuaca dingin di Bukit Kahayunan.
Tak terasa sudah 7 hari Arya Pethak menjalani tapa ngalong nya.
Malam itu, tiba-tiba saja hujan deras mengguyur wilayah Bukit Kahayunan. Di tengah hujan yang deras, Nyi Ratih menatap keluar jendela rumah nya dengan penuh perasaan khawatir. Naluri keibuannya memikirkan keadaan Arya Pethak yang masih menjalani tapa ngalong nya.
"Kakang Prawira,
Apa putra ku akan baik-baik saja? Hujan deras begini, dan dia harus berbasah-basah tapa ngalong", suara Nyi Ratih dengan nada cemas.
"Doakan saja semoga putra mu baik baik saja Nyi.
Percayalah bahwa Arya Pethak mampu menghadapi ini semua", Mpu Prawira tersenyum simpul pada istrinya itu. Laki laki sepuh itu tau bagaimana perasaan Nyi Ratih saat ini.
Hujan deras terus mengguyur Bukit Kahayunan. Sesekali petir menyambar langit malam yang gelap.
Jlegeeerrrr!!!
Nyi Ratih berkomat kamit membaca doa, berharap agar putranya baik-baik saja.
Arya Pethak tetap tak bergeming dari tempatnya duduk. Meski hujan deras terus mengguyur, namun tidak menggoyahkan tapa ngalong nya.
Menjelang pagi, hujan deras itu berhenti. Berganti angin semilir yang datang dari selatan. Udara terasa semakin dingin menusuk tulang. Arya Pethak terus bersemedi di atas batang bambu yang menjadi tempat bertapa nya.
Saat sinar matahari pagi mulai terbit, Arya Pethak membuka mata nya. Sinar matahari menghangatkan tubuh nya yang basah kuyup oleh hujan deras semalam. Arya Pethak terus menata nafas dan pikirannya, tubuhnya terasa begitu ringan seperti kapuk randu yang beterbangan di tiup angin.
Saat matahari terbit sepenggal naik, Mpu Prawira mendekati tempat tapa ngalong Arya Pethak. Sekali loncat, tubuh kakek tua bertubuh tegap itu sudah ada disamping Arya Pethak.
Taphhh!!
Melihat kedatangan Mpu Prawira, Arya Pethak tersenyum simpul. Tak di duga Mpu Prawira malah mengayunkan tongkatnya menyerang Arya Pethak.
Whuuuuttt
Dengan cepat, Arya Pethak segera menghindar dari serangan ayah angkatnya itu.
Melihat serangan nya di hindari, Mpu Prawira kembali mengayunkan tongkatnya ke arah dada Arya Pethak. Namun dengan sekali pijakan kaki yang halus, Arya Pethak melenting tinggi dan mendarat di ujung bambu tempat bertapa nya.
Pagi itu mereka segera bertarung diatas bambu yang menjadi tempat bertapa nya Arya Pethak.
Gerakan cepat dan ringan dari dua orang itu benar benar terlihat seperti pertarungan 2 jagoan dunia persilatan.
Namun Mpu Prawira yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan bukan lawan yang mudah dihadapi Arya Pethak.
Saat Arya Pethak sedikit lengah, sabetan tongkat kayu Mpu Prawira berhasil memukul kaki kanan Arya Pethak yang baru melompat menghindari sepakan keras dari kakek tua itu.
Deshhhh
Arya Pethak terpelanting dan terjatuh dari bambu tempat bertapa nya. Namun sebelum menyentuh tanah, dia memutar gerakan tubuhnya dan turun ke tanah dengan sempurna.
Mpu Prawira lantas segera menyusul turun ke samping Arya Pethak.
"Bagus sekali Ngger,
Gerakan mu sudah semakin cepat dan ringan. Tinggal aku menurunkan Ajian Langkah Dewa Angin kepadamu.
Sekarang kau duduk di atas batu besar yang ada disana itu", ucap Mpu Prawira sambil menunjuk sebuah batu besar yang ada di barat hutan bambu betung di samping pohon bendo yang rindang.
Arya Pethak segera mengangguk mengerti dan menuruti perintah Mpu Prawira.
Pemuda tampan itu segera duduk bersila di atas batu besar itu sambil memejamkan matanya. Mpu Prawira dengan cepat melesat ke samping Arya Pethak.
"Kosongkan pikiran mu, atur jalan nafas dan tenaga dalam mu Ngger", perintah Mpu Prawira pada Arya Pethak. Pemuda itu dengan cepat segera melakukan perintah Mpu Prawira.
Setelah memejamkan mata sejenak, tiba-tiba tangan kanan Mpu Prawira mengeluarkan asap tipis berwarna putih dengan sinar biru terang. Lalu tangan kanannya itu di letakkan pada ubun-ubun kepala Arya Pethak.
Zzzrrrrrttttthhh!
Sinar biru terang segera menyelimuti seluruh tubuh Arya Pethak. Seluruh pori pori tubuh nya terasa sejuk, dan tenaga dalam nya meningkat cepat.
Arya Pethak memutar kedua telapak tangannya, untuk membantunya mempercepat penyerapan Ajian Langkah Dewa Angin.
Setelah cukup, Mpu Prawira menarik tangan kanannya dari ubun-ubun kepala Arya Pethak.
Arya Pethak segera membuka mata nya, saat Ajian Langkah Dewa Angin merasuk sempurna ke tubuh nya.
"Ilmu Ajian Langkah Dewa Angin sudah masuk sempurna ke tubuh mu Pethak.
Kini kau memiliki tubuh seringan kapas kapuk randu. Sekarang cobalah ambil buah nangka yang ada disana Ngger", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum tipis sambil menunjuk ke buah nangka matang yang ada di pucuk pohon nangka yang lumayan tinggi.
"Baik Romo, akan aku coba", Arya Pethak mengangguk dan segera melesat cepat kearah buah nangka matang yang di tunjukkan kepada nya.
Hanya dalam sekejap mata, Arya Pethak sudah sampai di pohon nangka dan segera berbalik arah menuju ke arah Mpu Prawira. Gerakan cepat seperti terbang diatas udara.
Mpu Prawira tersenyum simpul. Arya Pethak memang berbakat menjadi pendekar tangguh.
"Hebat!
Romo bangga pada mu Ngger. Sekarang ayo kita temui ibu mu. Dia dari semalam mencemaskan keadaan mu", ajak Mpu Prawira yang segera melesat cepat kearah kediama. nya. Arya Pethak segera mengejar langkah ayah angkat sekaligus guru nya itu.
**
Sementara itu, nun jauh di Utara tepatnya di bukit Lanjar.
Seorang gadis muda berbaju hijau sedang memainkan pedangnya dengan lincah dan gesit.
Seorang wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat cantik, terus menatap gerakan gadis muda berbaju hijau itu dengan tatapan penuh arti.
Gerakan si gadis muda berbaju hijau itu sangat indah, seperti sedang menari meski dengan tujuan yang mematikan.
"Larasati,
Cukup untuk hari ini. Nanti sore kita lanjutkan lagi latihan mu", ujar si perempuan paruh baya itu sambil berdiri dari tempat duduknya di atas batu besar.
"Tapi guru, Laras masih ingin berlatih beberapa jurus lagi", ujar gadis muda berbaju hijau yang bernama Rara Larasati itu.
"Sudah jangan keras kepala. Kita lanjutkan nanti sore saja.
Hari ini Guru besar akan keluar dari pertapaan nya. Semua murid Padepokan Bukit Lanjar harus bersiap menyambut nya", ujar wanita paruh baya itu sambil melangkah menuju ke rumah kediaman nya. Perempuan itu bernama Nyi Sawitri atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Lengan Seribu dari Bukit Lanjar.
Padepokan Bukit Lanjar berdiri di bekas Padepokan Anggrek Bulan, yang hancur saat terjadi akhir perang 60 tahun antara Jenggala dan Panjalu.
Guru besar mereka, Dewi Bukit Lanjar sangat terkenal sebagai pendekar wanita pilih tanding pada masa lalu.
Dewi Bukit Lanjar memiliki belasan murid hebat dan tersohor di wilayah Negeri Singhasari. Salah satu murid kesayangannya adalah Nyi Sawitri yang dikenal sebagai Dewi Lengan Seribu. Julukan itu bukan hanya omong kosong belaka, kehebatan Nyi Sawitri terletak pada kemampuan beladiri berpedang nya yang mampu membuat perhatian lawan terpecah karena ilusi tangan nya yang bisa terlihat berjumlah ratusan bayangan.
Nyi Sawitri hanya mempunyai seorang murid, Rara Larasati. Berbeda dengan kakak kakak seperguruannya yang memiliki setidaknya 5 murid.
Larasati segera menghentikan latihan nya. Gadis muda itu segera mengejar langkah sang guru menuju ke arah kediaman nya.
Pagi itu di Padepokan Bukit Lanjar, semua orang sibuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan guru besar mereka.
Seorang wanita sepuh berjalan masuk ke dalam serambi utama Padepokan Bukit Lanjar. Langkahnya yang pelan di bantu tongkat kayu galih asem tampak anggun menuju kursi pemimpin padepokan. Semua murid Padepokan Bukit Lanjar segera membungkuk hormat pada Dewi Bukit Lanjar yang kemudian duduk.
"Selamat datang kembali Guru", ujar Kuda Laleyan, murid pertama Dewi Bukit Lanjar dengan penuh hormat.
"Sudah cukup, duduklah dengan tenang", ujar Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum tipis.
Semua murid dan cucu murid yang ada di serambi kediaman utama segera duduk bersila di hadapannya.
Dewi Bukit Lanjar menatap ke arah murid murid Padepokan Bukit Lanjar. Kemudian ia berkata dengan penuh wibawa,
"Murid Padepokan Bukit Lanjar semuanya,
Hari ini ada sesuatu yang penting untuk ku sampaikan kepada kalian semua.
Sudah saatnya aku mundur dari dunia persilatan".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung kak 😁
Ikuti terus kisah selanjutnya yah 👍
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Mely Kanzafaiz
like 👍
2024-11-02
0
arumazam
mantap
2023-07-15
3
Syarif Muhamad
lengkap...siap berpasangan
2022-10-12
1