"Pethak,
Kemari kau Bocah Bagus", panggil Mpu Prawira pada Arya Pethak yang sedang berlatih menggunakan ilmu silat yang diajarkan oleh Mpu Prawira.
Pemuda tampan dengan tubuh tegap berotot kekar itu segera mendekati Mpu Prawira.
"Ada apa Romo? Mengapa kau memanggilku kemari?", tanya Arya Pethak yang keheranan dengan panggilan itu. Sebab selama ini, Mpu Prawira selalu menunggu Arya Pethak menyelesaikan latihan nya jika ingin menyuruh melakukan sesuatu.
"Ngger, kau sudah dewasa..
Selama 18 tahun ini, aku sudah berusaha merawat mu dengan baik. Sekarang duduklah disini dan dengar cerita Romo mu ini baik baik", ujar Mpu Prawira sambil menepuk batu pipih yang ada di dekat tempat duduknya.
Arya Pethak segera duduk bersila di samping Mpu Prawira.
"Dulu, 18 tahun yang lalu, saat aku sedang melewati sebuah desa yang bernama Mondoluku, aku melihat sebuah pemukiman penduduk yang hancur lebur oleh serangan kelompok perampok Kelabang Ireng. Aku mengenal mereka yang memiliki tanda bandul kalung berukir kelabang.
Disana kudengar suara tangis bayi laki-laki tampan diantara mayat mayat penduduk. Ada bandul kalung berukir kepala naga, dan sehelai kain sutra putih yang membungkus tubuh bayi itu. Aku yang tak tega melihatnya, memungut anak itu dan ku bawa pulang ke bukit ini.
Anak itu adalah kau, Pethak", ujar Mpu Prawira sambil mengeluarkan sebuah bandul kalung berukir kelabang dan menyerahkannya pada Arya Pethak.
Arya Pethak terkejut bukan main mendengar ucapan Mpu Prawira. Apalagi dia tahu bahwa bandul kalung berukir kepala naga itu selama ini tak lepas dari leher pemuda tampan itu.
"Jadi aku bukan putra kandung Romo dan Biyung?", tanya Arya Pethak dengan nada suara sedih.
Mata sepuh Mpu Prawira berkaca-kaca saat menggeleng perlahan menjawab pertanyaan Arya Pethak.
Air mata Arya Pethak langsung tumpah seketika. Ternyata selama ini, orang yang merawatnya bukan orang tua kandungnya. Dia begitu menyesal karena sering berbuat seenaknya sendiri, bahkan sering membuat Mpu Prawira kesal dengan ulah nya.
Meski bukan orang tua kandungnya, tapi Arya Pethak sangat menyayangi Mpu Prawira dan Nyi Ratih yang telah bersusah payah membesarkan Arya Pethak dengan penuh kasih sayang.
"Boleh kah aku tetap menganggap mu sebagai Romo ku?", tanya Arya Pethak dengan berlinang air mata.
"Kau selalu menjadi putra ku Ngger Cah Bagus,
Kau selalu menjadi putra kesayanganku", ujar Mpu Prawira yang segera memeluk tubuh Arya Pethak.
"Terimakasih Romo, terima kasih..
Aku akan tetap menjadi anak Romo dan Biyung untuk selamanya", Arya Pethak memeluk tubuh Mpu Prawira dengan erat.
"Tapi kau harus janji Ngger,
Jangan sampai Biyung mu tau kalau kau sudah tahu rahasia ini. Biarkan semua seperti biasanya. Kau mengerti?", pinta Mpu Prawira sambil menatap ke arah Arya Pethak.
"Pethak mengerti Romo", jawab Arya Pethak sambil mengangguk.
"Romo memberi tahu mu, karena sebentar lagi kau harus topo ngrame. Tegakkan keadilan di muka bumi ini sebagai ujian mu menjadi pendekar pilih tanding.
Kau harus menemukan orang yang menghancurkan desa mu dan membunuh orang tua mu, Pethak.
Kejar mereka, dan kau akan tahu jati diri mu yang sebenarnya.
Pimpinan Perampok Kelabang Ireng bernama Mahesa Jenar. Ku dengar markas besar ada di lereng gunung Ngliman. Tapi sebelum kau kesana, kau akan ku bekali dengan pegangan hidup agar kau menjadi pendekar pilih tanding", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum tipis.
"Apa maksudnya itu Romo?", tanya Arya Pethak yang kebingungan mendengar pegangan hidup yang di bicarakan Mpu Prawira.
"Ayo Ngger Cah Bagus,
Ikuti aku", perintah Mpu Prawira yang segera melesat cepat kearah puncak Bukit Kahayunan.
Arya Pethak segera menyusul Mpu Prawira.
Dua orang itu melesat cepat bagai terbang diatas pepohonan yang tumbuh di lereng Bukit Kahayunan.
Taphhh!!
Mpu Prawira melompat turun ke sebuah tebing batu yang ada sisi selatan Bukit Kahayunan. Arya Pethak ikut menjajari ayah angkat sekaligus guru nya itu.
Kaki Mpu Prawira segera melangkah menuju ke semak belukar yang ada di bawah tebing batu itu. Arya Pethak terus mengekor di belakangnya.
Di balik semak belukar itu, Mpu Prawira kemudian menggeser sebuah batu besar yang ada di bawah tebing batu itu.
Gludhhuuukkk!!
Saat batu besar tergeser, ada sebuah pintu goa menganga di sana. Mpu Prawira segera melangkah masuk ke dalam goa diikuti oleh Arya Pethak.
Di ruangan goa terdalam, Mpu Prawira menghentikan langkahnya. Pada sebuah batu, tertancap sebuah keris pusaka. Mpu Prawira menatap ke arah Arya Pethak sesaat sebelum berbicara.
"Ngger,
Ini adalah pegangan hidup yang aku maksud kan. Berjodoh atau tidak dengan mu, itu tergantung pada kehendak Hyang Tunggal.
Cobalah mencabut nya", perintah Mpu Prawira pada Arya Pethak.
Sesaat Arya Pethak menatap ke arah keris yang sudah nampak usang itu. Perlahan Arya Pethak menyembah pada keris ini, lantas menahan nafas beberapa saat sebelum menggerakkan tangan kanannya ke gagang keris.
Dengan sekuat tenaga, Arya Pethak menarik keris pusaka itu dari batu.
Zrrrrrttttth!
Keris Mpu Gandring tercabut dari batu, kemudian mengeluarkan cahaya biru kekuningan di tangan Arya Pethak.
Mpu Prawira tersenyum simpul melihat itu semua. Batin nya gembira melihat perubahan warna pamor sinar dari pusaka itu.
"Rupanya Keris Mpu Gandring ini berjodoh dengan mu Pethak..
Satu pesan ku, jangan sembarang menunjukkan keris pusaka ini pada setiap orang yang kau temui.
Semua orang yang tau kau memiliki Keris Mpu Gandring, pasti akan berusaha untuk merebut nya. Berhati-hatilah", ujar Mpu Prawira sambil menyerahkan warangka keris Mpu Gandring yang baru diambil dari balik batu di sebelahnya.
Arya Pethak segera menerima warangka keris dan segera menyarungkan Keris Mpu Gandring. Setelah itu, dia menyelipkan keris pada pinggang kiri nya.
Setelah itu mereka berdua segera turun menuju ke rumah kediaman Mpu Prawira.
Nyi Ratih sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga saat Mpu Prawira dan Arya Pethak masuk ke dalam rumah.
"Nyi, kemarilah..
Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan mu", panggil Mpu Prawira setelah duduk bersila di serambi rumah bersama Arya Pethak.
Dari dalam dapur, Nyi Ratih melangkah ke serambi depan sambil membawa sebuah nampan yang sudah terisi makanan.
"Ada apa Kakang? Kelihatan nya penting sekali", ujar Nyi Ratih sambil meletakkan nampan.
"Begini Nyi,
Besok Arya Pethak akan melakukan topo ngrame, sekaligus aku suruh menemui Kakang Pranaraja di Kadiri.
Mohon doa mu Nyi, semoga Jagat Dewa Batara melindungi perjalanan putra kita", ucap Mpu Prawira sambil tersenyum tipis.
"Kenapa secepat itu Kakang?", ada nada tidak rela pada suara Nyi Ratih.
"Tidak apa-apa Nyi. Seorang pendekar harus mencari pengalaman di dunia luar, jangan hanya menjadi jago kandang saja", sahut Mpu Prawira yang segera menatap wajah sepuh istri nya itu.
"Baiklah Kakang,
Aku doakan semoga perjalanan topo ngrame mu selalu dalam lindungan Hyang Tunggal Ngger..
Sesampainya di Kadiri, sampaikan salam ku pada Kakang Pranaraja", ujar Nyi Ratih yang nampak sedih karena harus berpisah dengan Arya Pethak yang telah menemani nya selama 18 tahun. Perempuan itu segera memeluk tubuh Arya Pethak.
"Iya Biyung, nanti setelah sampai di Kadiri akan ku sampaikan kepada Gusti Patih Pranaraja", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Malam itu adalah malam terakhir Arya Pethak tinggal di Bukit Kahayunan.
Pagi menjelang tiba di Bukit Kahayunan. Sinar matahari pagi begitu hangat menerpa pucuk pucuk daun yang tumbuh lebat di sana. Suara riuh burung berkicau seakan menemani langkah Arya Pethak meninggalkan tempat itu.
Berbekal sebuntal baju dan sekantong kepeng perak, Arya Pethak melakukan topo ngrame nya.
Mpu Prawira dan Nyi Ratih terus menatap kepergian Arya Pethak yang kemudian menghilang di balik rimbun pepohonan jalan setapak yang membelah lereng Bukit Kahayunan.
Langkah pertama Arya Pethak menginjak dunia persilatan dimulai hari itu. Dengan penuh semangat, dia ingin menuju ke Kadiri.
Setelah melewati sebuah persawahan yang luas, Arya Pethak sedang duduk sambil memperhatikan keadaan sekitar nya, tiba-tiba terdengar suara pertarungan yang sengit.
Arya Pethak segera melompat ke atas pohon nangka besar yang sedang berbuah lebat untuk mencari sumber suara.
Tak jauh dari pohon tempat nya berada, 2 orang pria paruh baya berbaju biru tua dan dua orang gadis muda berbaju sama sedang di kepung oleh belasan orang berbaju merah.
Orang orang berbaju biru tua itu terlihat terpojok karena kalah jumlah.
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis jarang langsung menendang perut si pria berbaju biru tua yang menahan tebasan pedang nya dengan sepasang pedang pendek nya.
Bukkkkk
Aauuggghhhh
Si lelaki paruh baya berbaju biru tua itu meraung keras dan terpental ke belakang saat tendangan keras si pria berbaju merah itu telak mengenai perutnya.
Sang gadis muda yang ada disebelahnya buru buru melompat ke atas lelaki berbaju biru tua itu.
"Paman Lembu Supa,
Kau tidak apa-apa??", tanya si gadis muda itu segera.
Lelaki paruh baya berbaju biru tua yang bernama Lembu Supa itu terbatuk-batuk sesaat. Perut nya sakit bukan main.
"Aku tidak apa-apa, Gayatri", jawab Lembu Supa pada Gayatri yang mencemaskan keadaan nya.
Hahahaha
"Supa,
Menyerahlah. Kau tidak akan menang melawan kami", lelaki bertubuh gempal itu tertawa terbahak bahak menatap wajah Lembu Supa yang meringis menahan sakit saat berdiri dengan di bantu Gayatri.
"Bedebah!
Lebih baik aku mati, Kebo Rukma daripada menyerahkan keponakan ku pada putra Resi tak bermoral seperti mu", umpat Lembu Supa sambil mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. Tangan kanannya mengacungkan pedang pendek pada Kebo Rukma.
"Dasar tidak tahu diuntung!
Walang Saru, Mendha Kuning..
Habisi mereka sekarang!!", teriak Kebo Rukma dengan keras.
Walang Saru yang bertubuh kurus dan Mendha Kuning yang berjenggot panjang segera menerjang maju ke arah Lembu Supa dan Gayatri.
Sawung Cemeng dan Badrawati, saudara seperguruan Lembu Supa dan Gayatri segera bersiap menghadapi terjangan anak buah Kebo Rukma. Meski mereka sudah kelelahan bertarung melawan anak murid Padepokan Randu Alas, tapi demi nama baik dan kehormatan Perguruan Kembang Biru, mereka siap mengorbankan nyawa.
Saat yang menegangkan itulah tiba-tiba sebuah biji nangka melesat cepat menghantam pelipis kiri Mendha Kuning.
Clakkkkk!
Arrgghhhh....!!
Mendha Kuning terhuyung menabrak tubuh Walang Saru yang bertubuh kurus. Mereka berdua terjatuh sebelum sempat mendekati anak murid Perguruan Kembang Biru. Mendha Kuning pingsan.
Semua orang terkaget sejenak.
Mata Kebo Rukma melotot melihat pelipis Mendha Kuning yang gosong seperti baru di bakar.
Pun anak murid Perguruan Kembang Biru juga tak kalah kagetnya. Mereka saling berpandangan sejenak.
Kebo Rukma segera mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu. Matanya terpaku pada seorang pemuda yang sedang asyik mengunyah buah nangka matang diatas cabang besar pohon itu.
"Heiii..
Kau yang mencelakai orang ku?", tuding Kebo Rukma pada Arya Pethak yang masih asyik dengan buah nangka nya.
"Kau tidak bisa menuduh orang tanpa bukti.
Aku dari tadi disini, tidak kemana-mana. Bagaimana bisa aku mencela orang mu?", sahut Arya Pethak acuh tak acuh.
"Kurang ajar!
Biji nangka itu adalah bukti nya. Cepat turun sini keparat", Kebo Rukma mendelik tajam ke arah Arya Pethak.
"Kalau kau meminta ku turun untuk kau hajar, aku tidak mau.
Kalau kau bisa, coba turunkan aku dari sini. Dari tadi aku bingung bagaimana cara turunnya", ujar Arya Pethak sambil mengusap-usap mulut nya yang terkena getah nangka.
"Bedebah!
Mati saja kau disana!", teriak Kebo Rukma sambil menghantamkan tangan kanannya yang dilambari tenaga dalam kearah Arya Pethak.
Whuuussshh
Sinar hijau menerabas cepat kearah Arya Pethak. Namun sebelum menyentuh kulit Arya Pethak, pemuda tampan itu sudah melompat tinggi ke udara menghindari sinar hijau dari Kebo Rukma yang langsung melabrak pohon nangka besar itu.
Blllaaaaarrrrr!!
Pohon nangka besar itu hancur. Arya Pethak dengan gerakan ringan mendarat tak jauh dari Gayatri dan Lembu Supa.
Melihat itu, Kebo Rukma melotot ke arah Arya Pethak. Gerakan cepat dan ringan jelas tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
"Hooohh..
Ada jagoan rupanya disini. Pemuda tengik, mundurlah. Jangan ikut campur dengan urusan ku", teriak Kebo Rukma dengan keras.
Melihat Kebo Rukma yang sedikit takut, Lembu Supa segera mendekati Arya Pethak.
"Pendekar muda,
Sudi lah kiranya membantu kami melawan penindasan mereka. Anak murid Perguruan Kembang Biru akan selalu mengingat budi baikmu", ujar Lembu Supa meminta bantuan kepada pemuda tampan itu.
Hemmmm
"Apa untungnya bagiku membantu kalian?", tanya Arya Pethak pada Lembu Supa.
"Ehhh begini,
Kalau kau bisa mengalahkan Kebo Rukma dan anak buahnya, kau akan ku nikahkan dengan Gayatri", jawab Lembu Supa tanpa berpikir panjang.
HAAAAHHHHHHH!!!
Gayatri, Sawung Cemeng dan Badrawati terkejut mendengar ucapan Lembu Supa. Mereka tidak menyangka Lembu Supa akan berkata demikian. Bahkan Kebo Rukma pun terkaget sejenak.
"Paman,
Kenapa kau berikan aku pada pemuda itu sebagai bayaran pertolongannya?", tanya Gayatri dengan nada tidak terima.
"Daripada kau dinikahi begundal tak bermoral itu, lebih baik kau ku nikahkan dengan pendekar muda yang tampan ini", jawab Lembu Supa dengan cepat.
Gayatri segera melirik kearah Arya Pethak. Dan benar saja, pemuda itu memang tampan. Jantung Gayatri langsung berdetak kencang.
Arya Pethak terkekeh geli melihat mereka.
"Sudahlah,
Tanpa di bayar pun aku akan membantu kalian sebagai ujian pertama topo ngrame ku", senyum tipis terukir di wajah Arya Pethak.
"Dan kau Kebo Rukma,
Ayo kita mulai saja pertarungan kita".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca kak 🙏🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
fatih rizkiahmad
hemm.. betul betul berfantasi. semua tokoh tokoh lintas generasi. baik fiksi dan asli masuk. out the box. walaupun sambil mikir
2024-03-26
0
irfan caul
Wira Saksana Alias Wiro Sableng Anak dari Raden Ranaweleng dan ibu Suci Bintari🤣🤣
2023-09-06
1
glanter
dimana ada lembu disitu ada kebo....😂😂😂😂
2023-07-07
2