Mendengar jawaban omongan Arya Pethak, Gayatri langsung kesal. Tak dinyana bahwa kecantikan nya sama sekali tidak membuat Arya Pethak tertarik sama sekali. Kebo Rukma yang sudah mempunyai 2 istri saja, masih tergila gila kepadanya, tapi pemuda berambut panjang dengan ikat kepala dari kain hitam itu kelihatan nya tidak mengindahkannya.
Kebo Rukma yang mendapat tantangan Arya Pethak segera bersiap untuk bertarung. Meski sedikit takut, tapi juga memperhitungkan bahwa dia memiliki kawan yang pasti akan membantu nya jika dia dalam masalah.
Setelah menjejak tanah dengan keras, Kebo Rukma segera melesat cepat kearah Arya Pethak. Tangan kanannya mengarah pada wajah pemuda itu.
Sreeeetttt
Arya Pethak segera mundur setengah langkah, kemudian memutar tubuhnya dan segera balas menyerang dengan sikut pada punggung Kebo Rukma.
Bukkkkk
Lelaki bertubuh gempal itu terhuyung-huyung ke depan, dan dengan cepat merendahkan tubuhnya lalu membuat sapuan pada kaki kanan lawan nya.
Arya Pethak meloncat ke atas menghindari serangan, lalu turun dengan cepat sambil melayangkan dengkul nya kearah kepala Kebo Rukma yang hendak berdiri.
Dengan sedikit terkejut, Kebo Rukma menghantam dengkul Arya Pethak yang mengincar kepalanya.
Braakkkk
Benturan dua tenaga dalam itu membuat dua orang itu terdorong mundur dua langkah.
Kebo Rukma segera berdiri, begitu juga Arya Pethak yang sudah bersiap untuk melanjutkan pertarungan.
Dari benturan tadi, masing-masing mengukur tingkat kemampuan tenaga dalam masing-masing.
Kebo Rukma tau, bahwa tenaga dalam Arya Pethak 2 atau 3 tingkat lebih tinggi diatasnya.
Hemmmm
'Pemuda tengik ini hebat. Aku harus berhati-hati', batin Kebo Rukma sambil menyiapkan jurus andalan nya.
Tangan Kebo Rukma yang bersilangan di depan dada segera terkepal erat. Dari kedua tangan, sebuah asap tipis berwarna putih mengepul perlahan. Rupanya dia menggunakan Ajian Tapak Beku, ajian terkenal dari Padepokan Randu Alas.
Melihat lawan yang menggunakan ilmu andalannya, Arya Pethak segera bersiap.
Kebo Rukma segera melompat tinggi sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Arya Pethak. Sinar putih disertai angin dingin menerabas cepat kearah Arya Pethak.
Siiiiiuuuuuuutttt
Putra angkat Mpu Prawira itu langsung merapal Ajian Langkah Dewa Angin nya. Gerakan tubuhnya seketika bertambah cepat seperti terbang. Saat sinar putih disertai angin dingin datang, mendadak tubuh Arya Pethak menghilang dari pandangan.
Blammmmm!!
Ledakan keras tercipta di tanah saat sinar putih disertai angin dingin itu menghantam tanah tempat Arya Pethak berdiri.
Tiba tiba...
Deshhhh
Aaaarrrggghhhh!!
Kebo Rukma tidak bisa menghindar saat pukulan keras Arya Pethak yang tiba-tiba muncul di hadapannya menghajar perut putra pemimpin Padepokan Randu Alas itu.
Pria bertubuh gempal itu hanya bisa meraung kesakitan saat tubuhnya terpental 1 tombak ke belakang dan ambruk ke tanah.
Semua orang terkejut melihat Kebo Rukma tumbang di tangan Arya Pethak.
Melihat Kebo Rukma jatuh, 7 orang pengikutnya segera mengepung Arya Pethak.
"Mau main keroyokan ya?
Hemmmm...
Boleh juga lah", ujar Arya Pethak dengan tenangnya.
"Kurang ajar!
Akan ku bunuh kau bocah kecil", teriak seorang lelaki bertubuh tegap sambil mengayunkan pedangnya.
Whuuussshh
Lagi lagi tubuh Arya Pethak menghilang. Semua pengeroyok kebingungan.
Deshhh
Aughhhh
Plakkkkk
Ougghh
Dengan gerakan cepat yang sukar untuk diikuti oleh mata biasa, Arya Pethak terus menendang, memukul, menyikut dan menampar orang orang yang mengeroyoknya.
Dalam sekejap mata, 7 orang itu roboh dengan luka memar di bagian tubuhnya.
Lembu Supa, Mahesa Cemeng, Gayatri dan Badrawati melongo melihat anak buah Kebo Rukma jatuh bergelimpangan di tanah, sedang Arya Pethak hanya tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk tangan nya.
Kebo Rukma dengan tertatih mencoba untuk berdiri. Perut nya sakit seperti baru ditimpa kayu besar.
Mata Kebo Rukma merah menahan marah.
Selama ini tidak ada yang bisa menjatuhkan diri nya di wilayah Pakuwon Palah, bahkan Akuwu Palah pun harus hormat pada dirinya. Dia adalah jagoan yang di takuti di wilayah itu.
"Pemuda bangsat!
Bersiaplah untuk menghadapi ajalmu!", teriak Kebo Rukma yang segera merentangkan kedua tangannya ke samping. Perlahan tangan Kebo Rukma menangkup di depan dada.
Hawa dingin menakutkan segera tercipta di sekitar tubuh Kebo Rukma. Dia selama ini tidak pernah memakai ilmu itu, karena sangat berbahaya bagi tubuh nya sendiri.
Itu adalah ilmu puncak Tapak Beku yang bernama Ajian Tapak Neraka Beku.
Sinar putih berhawa dingin menusuk tulang tercipta di tangan kanan Kebo Rukma.
Arya Pethak menghela nafas panjang.
Sebenarnya dia tidak mau menggunakan Ajian Tapak Brajamusti, tapi melihat lawan berniat membunuhnya, Arya Pethak langsung merapal mantra ajian ini.
Sinar biru terang segera menyelimuti seluruh tubuh Arya Pethak.
Melihat itu, semua orang berusaha menjauhi arena pertarungan.
Kebo Rukma menarik tangan kanannya ke belakang, dan menghantamkan tangan kanannya ke arah Arya Pethak.
Whuuuuttt
Sinar putih disertai angin dingin yang membekukan apa saja yang di lewati nya menerabas cepat kearah Arya Pethak. Putra angkat Mpu Prawira itu segera menyambut nya dengan Ajian Tapak Brajamusti yang berhawa panas menyengat.
Sinar biru terang segera menyongsong sinar putih dari Ajian Tapak Neraka Beku.
Dhuuuaaaaarrrrrr!!
Ledakan keras mengguncang seisi tempat itu akibat benturan dua ajian berbeda unsur ini. Saking kuatnya, Arya Pethak terdorong mundur 1 tombak ke belakang akibat gelombang kejut yang tercipta.
Sedangkan Kebo Rukma lebih parah. Tubuh gempal nya terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.
Huuoogghh!
Putra Resi Mpu Ludra itu muntah darah segar akibat terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam.
Jangankan untuk berdiri, untuk bangun pun Kebo Rukma tidak mampu.
Arya Pethak tersenyum tipis sambil menata nafas nya yang sempat terengah-engah menahan gelombang kejut yang baru saja terjadi.
Anak buah Kebo Rukma yang masih bisa berdiri segera mendekati Kebo Rukma dan memapah jagoan Padepokan Randu Alas itu pergi.
Melihat itu semua, Lembu Supa, Gayatri, Mahesa Cemeng dan Badrawati segera mendekati Arya Pethak yang hendak melangkah pergi.
"Tunggu pendekar muda,
Tunggu...", ucap Lembu Supa yang segera menghentikan langkah Arya Pethak.
"Ada apa lagi Paman? Bukankah mereka yang menggangu mu sudah pergi?", tanya Arya Pethak sambil memicingkan matanya.
"Eh bukan begitu pendekar muda. Kami hanya ingin berterimakasih kepada mu karena kau sudah menolong nyawa kami.
Kalau tidak ada kau, pasti kami sudah menjadi bulan bulanan anak buah Kebo Rukma", jawab Lembu Supa dengan cepat.
"Ah sudahlah Paman,
Aku hanya kebetulan saja lewat sini. Lain kali berhati-hatilah jika bertemu mereka lagi", Arya Pethak segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan nya.
"Tunggu dulu pendekar muda,
Kenapa kau terburu-buru sekali? Kita belum sempat berkenalan.
Nah, kenalkan aku Lembu Supa, ini adik seperguruan ku Mahesa Cemeng. Ini adalah dua keponakan ku, putri dari pemimpin Perguruan Kembang Biru namanya Gayatri dan Badrawati.
Siapa nama mu pendekar muda?", Lembu Supa tampak bersemangat untuk mengetahui nama Arya Pethak.
"Aku Arya Pethak. Dari Bukit Kahayunan.
Nah sekarang aku sudah boleh pergi bukan?", tanya Arya Pethak segera.
"Haduh kenapa sih kau terburu-buru sekali.
Dengar Pethak, sudah lazim orang menolong mendapat upah. Karena kau sudah menolong nyawa kami, kau akan mendapat upah", ujar Lembu Supa sambil tersenyum tipis.
"Apa upahnya? Perempuan ini?
Aku tidak mau", ujar Arya Pethak sambil menunjuk Gayatri.
"Kau...
Jangan mentang-mentang sudah menolong kami, jadi kau bisa seenak jidat mu menghina ku ya", Gayatri marah mendengar ucapan Arya Pethak.
"Gayatri, diam..
Pethak jangan marah. Keponakan ku memang seperti itu. Ngomong ngomong, kau mau kemana?", tanya Lembu Supa sambil tersenyum tipis.
"Aku mau ke Kadiri Paman, ada surat yang harus ku sampaikan pada seseorang yang ada di istana Kadiri", jawab Arya Pethak sambil menatap ke arah langit barat laut.
"Nah kebetulan sekali..
Kami juga mau kesana. Bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama? Selain untuk saling menolong jika ada kesulitan, juga untuk teman berbincang.
Bagaimana?", tawar Lembu Supa seraya tersenyum simpul.
Hemmmm
'Apa sebenarnya mau orang ini? Romo menyuruhku untuk berhati-hati dalam memilih kawan. Baiklah, akan ku ikuti dulu kemauannya', batin Arya Pethak.
"Baiklah, aku bersedia untuk berjalan bersama kalian.
Tapi aku tidak mau dekat-dekat dengan perempuan itu", jawab Arya Pethak sambil menunjuk ke arah Gayatri.
Cihhhh
"Siapa juga yang mau dekat-dekat dengan manusia berhati batu seperti mu? Melihat mu saja membuat ku kehilangan nafsu makan ku", sahut Gayatri sambil melengos pergi dari dekat Arya Pethak.
Dan begitulah akhirnya, Arya Pethak bergabung bersama rombongan Lembu Supa yang hendak menuju ke arah Kadiri.
Sepanjang perjalanan, Gayatri terus bertengkar dengan Arya Pethak meski Lembu Supa sudah memarahinya berulang kali.
Menjelang sore, mereka terpaksa harus bermalam di tepi hutan kecil yang ada di perbatasan wilayah Pakuwon Palah dan Pakuwon Randu.
Langit mulai memerah di ufuk barat.
"Sepertinya kita harus bermalam disini, Pethak", ujar Lembu Supa yang lantas meletakkan buntalan kain berisi pakaian dan bekalnya diatas sebuah batu besar.
"Tidak apa-apa paman,
Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini", ujar Arya Pethak yang kemudian melesat cepat kedalam hutan kecil itu. Mahesa Cemeng, Badrawati dan Lembu Supa segera mencari kayu bakar untuk berdiang nanti malam, sedangkan Gayatri menyiapkan bekal perjalanan untuk makan malam mereka.
Tak berapa lama waktu, Arya Pethak sudah kembali membawa setandan pisang matang dan tiga ekor ayam hutan.
Setelah menurunkan tandan pisang, Arya Pethak lalu menuju ke arah sungai kecil yang ada di dekat batu besar tempat mereka berhenti.
Dengan telaten, pemuda tampan itu membersihkan ayam hutan yang baru dia tangkap.
Senja segera berganti malam yang gelap.
Lembu Supa segera menyalakan api pada kayu bakar yang mereka kumpulkan tadi sore. Arya Pethak yang baru selesai membersihkan ayam hutan, langsung memanggangnya diatas api yang menyala.
Lembu Supa, Mahesa Cemeng, Gayatri dan Badrawati memakan bekal perjalanan mereka yang berupa ketela pohon yang sudah direbus dan dikeringkan. Mengolah nya pun tinggal merendam nya dengan air bersih, setelah lunak baru dimakan. Tidak enak memang, tapi lebih baik daripada kelaparan di perjalanan. Arya Pethak menolak saat mereka menawarinya. Dia lebih suka makan pisang dan menunggu ayam hutan nya matang.
Beberapa saat kemudian aroma wangi tercium dari ayam hutan yang dipanggang Arya Pethak.
Segera Arya Pethak menyambar seekor ayam hutan yang paling awal matangnya. Saat pemuda tampan itu mulai menggigit kepala ayam hutan panggang, tiba-tiba terdengar suara aneh.
Krriiiuuuukkkkkk
Semua orang segera menoleh ke arah sumber suara, dan Gayatri segera tertunduk malu karena itu adalah suara perutnya yang masih lapar.
"Kau mau?", tanya Arya Pethak pada Gayatri yang menunduk.
Mendengar pertanyaan itu, Gayatri segera mendongak menatap ke arah Arya Pethak dan dengan cepat mengangguk.
Arya Pethak segera memuntir paha ayam hutan gemuk itu dan memberikannya kepada Gayatri.
Gadis itu buru-buru menyambar paha ayam hutan yang di acungkan Arya Pethak padanya. Dengan cepat, ia mengunyah daging ayam hutan.
Arya Pethak tersenyum simpul melihat ulah Gayatri, lalu meneruskan makan nya.
Aroma wangi dari ayam hutan itu rupanya juga sampai pada seorang kakek tua dan seorang gadis muda yang tengah kemalaman di jalan.
Mereka melihat api unggun yang menyala di tepi hutan kecil itu segera mendekat.
Srek srek sreekkk!!!
Suara langkah kaki mereka membuat Arya Pethak menghentikan acara makan malam nya. Matanya terus menatap ke arah suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Lembu Supa dan Mahesa Cemeng segera memegang gagang pedang mereka, sementara Badrawati yang penakut segera memeluk tubuh Gayatri.
Dari gelap malam, muncul dua orang berbeda usia mendekati mereka. Seorang gadis cantik berbaju merah dan seorang kakek tua berjenggot putih berbaju putih lusuh seperti pertapa beriringan menuju ke arah api unggun.
"Permisi Kisanak,
Mohon maaf jika kami mengganggu. Ijinkan kami ikut bermalam bersama kalian disini", pinta si gadis cantik berbaju merah itu dengan sopan.
"Silahkan nisanak,
Kami tidak keberatan jika kalian ingin bergabung bersama kami", ujar Lembu Supa yang segera menghela nafas lega.
Gadis cantik berbaju merah itu segera membuka kain buntalan yang berisi kain untuk alas tidur dia dan kakek tua berjenggot putih itu di dekat api unggun yang masih menyala.
Mahesa Cemeng melempar kayu kering untuk menjaga api kembali menyala saat cahayanya mulai meredup. Sementara Arya Pethak masih asyik membolak balik ayam hutan panggang yang belum matang.
"Nisanak ini mau kemana sebenarnya? Kenapa sampai kemalaman di jalan seperti ini?", tanya Lembu Supa sambil membuka telapak tangannya di depan api unggun.
"Kami mau ke Pejarakan, kisanak.
Eyang ku diminta untuk mengobati orang yang sedang sakit disana", ujar gadis cantik itu sambil sesekali melirik ke arah Arya Pethak yang tampak tak peduli dengan kehadirannya.
"Oh begitu..
Sebagai salam perkenalan, namaku Lembu Supa dari Kembang Biru.
Nisanak siapa?", tanya Lembu Supa dengan sopan.
"Nama ku Paramita. Ini eyang ku Begawan Tirta Wening, kami dari Gunung Kidul di wilayah Lodaya", jawab gadis cantik yang ternyata bernama Paramita itu.
"Hemmmm..
Sepertinya aku pernah mendengar nama Begawan Tirta Wening, tapi dimana ya??..
Hehhhh..
Bukankah itu nama orang yang dijuluki sebagai Dewa Obat dari Selatan?", mata Lembu Supa melotot seketika.
"Pengetahuan mu rupanya luas juga, Saudara Supa.
Namaku dikenal orang juga sampai di daerah sini rupanya hehehe", si kakek tua berjenggot putih itu tersenyum simpul.
"Salam hormat, Begawan.
Maafkan jika saya tidak sopan tadi. Kami dari Perguruan Kembang Biru sangat menghormati pandita sakti seperti anda. Perkenalkan ini Mahesa Cemeng, itu Gayatri dan dia Badrawati", ujar Lembu Supa segera.
"Kalau dia?", Paramita menunjuk kepada Arya Pethak yang asyik mengunyah daging paha ayam hutan nya.
"Aku bukan siapa-siapa", sahut Arya Pethak dengan acuh tak acuh sambil berdiri hendak menuju tempat tidur nya. Pandangan Begawan Tirta Wening langsung tertuju pada leher Arya Pethak.
"Anak muda,
Darimana kau peroleh kalung mu itu?".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca kak 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
irfan caul
Kamu nanyeaaaa,,, kamu bertanya tanyaaaa🤣🤣🤣
2023-09-07
0
glanter
ada paramita rusadi....😍😍😍😍
2023-07-07
3
glanter
awas phetak jgn spi main petak umpet dg gayatri....😂😂😂😂
2023-07-07
3