Dewa Obat dari Selatan

Mendengar jawaban omongan Arya Pethak, Gayatri langsung kesal. Tak dinyana bahwa kecantikan nya sama sekali tidak membuat Arya Pethak tertarik sama sekali. Kebo Rukma yang sudah mempunyai 2 istri saja, masih tergila gila kepadanya, tapi pemuda berambut panjang dengan ikat kepala dari kain hitam itu kelihatan nya tidak mengindahkannya.

Kebo Rukma yang mendapat tantangan Arya Pethak segera bersiap untuk bertarung. Meski sedikit takut, tapi juga memperhitungkan bahwa dia memiliki kawan yang pasti akan membantu nya jika dia dalam masalah.

Setelah menjejak tanah dengan keras, Kebo Rukma segera melesat cepat kearah Arya Pethak. Tangan kanannya mengarah pada wajah pemuda itu.

Sreeeetttt

Arya Pethak segera mundur setengah langkah, kemudian memutar tubuhnya dan segera balas menyerang dengan sikut pada punggung Kebo Rukma.

Bukkkkk

Lelaki bertubuh gempal itu terhuyung-huyung ke depan, dan dengan cepat merendahkan tubuhnya lalu membuat sapuan pada kaki kanan lawan nya.

Arya Pethak meloncat ke atas menghindari serangan, lalu turun dengan cepat sambil melayangkan dengkul nya kearah kepala Kebo Rukma yang hendak berdiri.

Dengan sedikit terkejut, Kebo Rukma menghantam dengkul Arya Pethak yang mengincar kepalanya.

Braakkkk

Benturan dua tenaga dalam itu membuat dua orang itu terdorong mundur dua langkah.

Kebo Rukma segera berdiri, begitu juga Arya Pethak yang sudah bersiap untuk melanjutkan pertarungan.

Dari benturan tadi, masing-masing mengukur tingkat kemampuan tenaga dalam masing-masing.

Kebo Rukma tau, bahwa tenaga dalam Arya Pethak 2 atau 3 tingkat lebih tinggi diatasnya.

Hemmmm

'Pemuda tengik ini hebat. Aku harus berhati-hati', batin Kebo Rukma sambil menyiapkan jurus andalan nya.

Tangan Kebo Rukma yang bersilangan di depan dada segera terkepal erat. Dari kedua tangan, sebuah asap tipis berwarna putih mengepul perlahan. Rupanya dia menggunakan Ajian Tapak Beku, ajian terkenal dari Padepokan Randu Alas.

Melihat lawan yang menggunakan ilmu andalannya, Arya Pethak segera bersiap.

Kebo Rukma segera melompat tinggi sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Arya Pethak. Sinar putih disertai angin dingin menerabas cepat kearah Arya Pethak.

Siiiiiuuuuuuutttt

Putra angkat Mpu Prawira itu langsung merapal Ajian Langkah Dewa Angin nya. Gerakan tubuhnya seketika bertambah cepat seperti terbang. Saat sinar putih disertai angin dingin datang, mendadak tubuh Arya Pethak menghilang dari pandangan.

Blammmmm!!

Ledakan keras tercipta di tanah saat sinar putih disertai angin dingin itu menghantam tanah tempat Arya Pethak berdiri.

Tiba tiba...

Deshhhh

Aaaarrrggghhhh!!

Kebo Rukma tidak bisa menghindar saat pukulan keras Arya Pethak yang tiba-tiba muncul di hadapannya menghajar perut putra pemimpin Padepokan Randu Alas itu.

Pria bertubuh gempal itu hanya bisa meraung kesakitan saat tubuhnya terpental 1 tombak ke belakang dan ambruk ke tanah.

Semua orang terkejut melihat Kebo Rukma tumbang di tangan Arya Pethak.

Melihat Kebo Rukma jatuh, 7 orang pengikutnya segera mengepung Arya Pethak.

"Mau main keroyokan ya?

Hemmmm...

Boleh juga lah", ujar Arya Pethak dengan tenangnya.

"Kurang ajar!

Akan ku bunuh kau bocah kecil", teriak seorang lelaki bertubuh tegap sambil mengayunkan pedangnya.

Whuuussshh

Lagi lagi tubuh Arya Pethak menghilang. Semua pengeroyok kebingungan.

Deshhh

Aughhhh

Plakkkkk

Ougghh

Dengan gerakan cepat yang sukar untuk diikuti oleh mata biasa, Arya Pethak terus menendang, memukul, menyikut dan menampar orang orang yang mengeroyoknya.

Dalam sekejap mata, 7 orang itu roboh dengan luka memar di bagian tubuhnya.

Lembu Supa, Mahesa Cemeng, Gayatri dan Badrawati melongo melihat anak buah Kebo Rukma jatuh bergelimpangan di tanah, sedang Arya Pethak hanya tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk tangan nya.

Kebo Rukma dengan tertatih mencoba untuk berdiri. Perut nya sakit seperti baru ditimpa kayu besar.

Mata Kebo Rukma merah menahan marah.

Selama ini tidak ada yang bisa menjatuhkan diri nya di wilayah Pakuwon Palah, bahkan Akuwu Palah pun harus hormat pada dirinya. Dia adalah jagoan yang di takuti di wilayah itu.

"Pemuda bangsat!

Bersiaplah untuk menghadapi ajalmu!", teriak Kebo Rukma yang segera merentangkan kedua tangannya ke samping. Perlahan tangan Kebo Rukma menangkup di depan dada.

Hawa dingin menakutkan segera tercipta di sekitar tubuh Kebo Rukma. Dia selama ini tidak pernah memakai ilmu itu, karena sangat berbahaya bagi tubuh nya sendiri.

Itu adalah ilmu puncak Tapak Beku yang bernama Ajian Tapak Neraka Beku.

Sinar putih berhawa dingin menusuk tulang tercipta di tangan kanan Kebo Rukma.

Arya Pethak menghela nafas panjang.

Sebenarnya dia tidak mau menggunakan Ajian Tapak Brajamusti, tapi melihat lawan berniat membunuhnya, Arya Pethak langsung merapal mantra ajian ini.

Sinar biru terang segera menyelimuti seluruh tubuh Arya Pethak.

Melihat itu, semua orang berusaha menjauhi arena pertarungan.

Kebo Rukma menarik tangan kanannya ke belakang, dan menghantamkan tangan kanannya ke arah Arya Pethak.

Whuuuuttt

Sinar putih disertai angin dingin yang membekukan apa saja yang di lewati nya menerabas cepat kearah Arya Pethak. Putra angkat Mpu Prawira itu segera menyambut nya dengan Ajian Tapak Brajamusti yang berhawa panas menyengat.

Sinar biru terang segera menyongsong sinar putih dari Ajian Tapak Neraka Beku.

Dhuuuaaaaarrrrrr!!

Ledakan keras mengguncang seisi tempat itu akibat benturan dua ajian berbeda unsur ini. Saking kuatnya, Arya Pethak terdorong mundur 1 tombak ke belakang akibat gelombang kejut yang tercipta.

Sedangkan Kebo Rukma lebih parah. Tubuh gempal nya terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.

Huuoogghh!

Putra Resi Mpu Ludra itu muntah darah segar akibat terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam.

Jangankan untuk berdiri, untuk bangun pun Kebo Rukma tidak mampu.

Arya Pethak tersenyum tipis sambil menata nafas nya yang sempat terengah-engah menahan gelombang kejut yang baru saja terjadi.

Anak buah Kebo Rukma yang masih bisa berdiri segera mendekati Kebo Rukma dan memapah jagoan Padepokan Randu Alas itu pergi.

Melihat itu semua, Lembu Supa, Gayatri, Mahesa Cemeng dan Badrawati segera mendekati Arya Pethak yang hendak melangkah pergi.

"Tunggu pendekar muda,

Tunggu...", ucap Lembu Supa yang segera menghentikan langkah Arya Pethak.

"Ada apa lagi Paman? Bukankah mereka yang menggangu mu sudah pergi?", tanya Arya Pethak sambil memicingkan matanya.

"Eh bukan begitu pendekar muda. Kami hanya ingin berterimakasih kepada mu karena kau sudah menolong nyawa kami.

Kalau tidak ada kau, pasti kami sudah menjadi bulan bulanan anak buah Kebo Rukma", jawab Lembu Supa dengan cepat.

"Ah sudahlah Paman,

Aku hanya kebetulan saja lewat sini. Lain kali berhati-hatilah jika bertemu mereka lagi", Arya Pethak segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan nya.

"Tunggu dulu pendekar muda,

Kenapa kau terburu-buru sekali? Kita belum sempat berkenalan.

Nah, kenalkan aku Lembu Supa, ini adik seperguruan ku Mahesa Cemeng. Ini adalah dua keponakan ku, putri dari pemimpin Perguruan Kembang Biru namanya Gayatri dan Badrawati.

Siapa nama mu pendekar muda?", Lembu Supa tampak bersemangat untuk mengetahui nama Arya Pethak.

"Aku Arya Pethak. Dari Bukit Kahayunan.

Nah sekarang aku sudah boleh pergi bukan?", tanya Arya Pethak segera.

"Haduh kenapa sih kau terburu-buru sekali.

Dengar Pethak, sudah lazim orang menolong mendapat upah. Karena kau sudah menolong nyawa kami, kau akan mendapat upah", ujar Lembu Supa sambil tersenyum tipis.

"Apa upahnya? Perempuan ini?

Aku tidak mau", ujar Arya Pethak sambil menunjuk Gayatri.

"Kau...

Jangan mentang-mentang sudah menolong kami, jadi kau bisa seenak jidat mu menghina ku ya", Gayatri marah mendengar ucapan Arya Pethak.

"Gayatri, diam..

Pethak jangan marah. Keponakan ku memang seperti itu. Ngomong ngomong, kau mau kemana?", tanya Lembu Supa sambil tersenyum tipis.

"Aku mau ke Kadiri Paman, ada surat yang harus ku sampaikan pada seseorang yang ada di istana Kadiri", jawab Arya Pethak sambil menatap ke arah langit barat laut.

"Nah kebetulan sekali..

Kami juga mau kesana. Bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama? Selain untuk saling menolong jika ada kesulitan, juga untuk teman berbincang.

Bagaimana?", tawar Lembu Supa seraya tersenyum simpul.

Hemmmm

'Apa sebenarnya mau orang ini? Romo menyuruhku untuk berhati-hati dalam memilih kawan. Baiklah, akan ku ikuti dulu kemauannya', batin Arya Pethak.

"Baiklah, aku bersedia untuk berjalan bersama kalian.

Tapi aku tidak mau dekat-dekat dengan perempuan itu", jawab Arya Pethak sambil menunjuk ke arah Gayatri.

Cihhhh

"Siapa juga yang mau dekat-dekat dengan manusia berhati batu seperti mu? Melihat mu saja membuat ku kehilangan nafsu makan ku", sahut Gayatri sambil melengos pergi dari dekat Arya Pethak.

Dan begitulah akhirnya, Arya Pethak bergabung bersama rombongan Lembu Supa yang hendak menuju ke arah Kadiri.

Sepanjang perjalanan, Gayatri terus bertengkar dengan Arya Pethak meski Lembu Supa sudah memarahinya berulang kali.

Menjelang sore, mereka terpaksa harus bermalam di tepi hutan kecil yang ada di perbatasan wilayah Pakuwon Palah dan Pakuwon Randu.

Langit mulai memerah di ufuk barat.

"Sepertinya kita harus bermalam disini, Pethak", ujar Lembu Supa yang lantas meletakkan buntalan kain berisi pakaian dan bekalnya diatas sebuah batu besar.

"Tidak apa-apa paman,

Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini", ujar Arya Pethak yang kemudian melesat cepat kedalam hutan kecil itu. Mahesa Cemeng, Badrawati dan Lembu Supa segera mencari kayu bakar untuk berdiang nanti malam, sedangkan Gayatri menyiapkan bekal perjalanan untuk makan malam mereka.

Tak berapa lama waktu, Arya Pethak sudah kembali membawa setandan pisang matang dan tiga ekor ayam hutan.

Setelah menurunkan tandan pisang, Arya Pethak lalu menuju ke arah sungai kecil yang ada di dekat batu besar tempat mereka berhenti.

Dengan telaten, pemuda tampan itu membersihkan ayam hutan yang baru dia tangkap.

Senja segera berganti malam yang gelap.

Lembu Supa segera menyalakan api pada kayu bakar yang mereka kumpulkan tadi sore. Arya Pethak yang baru selesai membersihkan ayam hutan, langsung memanggangnya diatas api yang menyala.

Lembu Supa, Mahesa Cemeng, Gayatri dan Badrawati memakan bekal perjalanan mereka yang berupa ketela pohon yang sudah direbus dan dikeringkan. Mengolah nya pun tinggal merendam nya dengan air bersih, setelah lunak baru dimakan. Tidak enak memang, tapi lebih baik daripada kelaparan di perjalanan. Arya Pethak menolak saat mereka menawarinya. Dia lebih suka makan pisang dan menunggu ayam hutan nya matang.

Beberapa saat kemudian aroma wangi tercium dari ayam hutan yang dipanggang Arya Pethak.

Segera Arya Pethak menyambar seekor ayam hutan yang paling awal matangnya. Saat pemuda tampan itu mulai menggigit kepala ayam hutan panggang, tiba-tiba terdengar suara aneh.

Krriiiuuuukkkkkk

Semua orang segera menoleh ke arah sumber suara, dan Gayatri segera tertunduk malu karena itu adalah suara perutnya yang masih lapar.

"Kau mau?", tanya Arya Pethak pada Gayatri yang menunduk.

Mendengar pertanyaan itu, Gayatri segera mendongak menatap ke arah Arya Pethak dan dengan cepat mengangguk.

Arya Pethak segera memuntir paha ayam hutan gemuk itu dan memberikannya kepada Gayatri.

Gadis itu buru-buru menyambar paha ayam hutan yang di acungkan Arya Pethak padanya. Dengan cepat, ia mengunyah daging ayam hutan.

Arya Pethak tersenyum simpul melihat ulah Gayatri, lalu meneruskan makan nya.

Aroma wangi dari ayam hutan itu rupanya juga sampai pada seorang kakek tua dan seorang gadis muda yang tengah kemalaman di jalan.

Mereka melihat api unggun yang menyala di tepi hutan kecil itu segera mendekat.

Srek srek sreekkk!!!

Suara langkah kaki mereka membuat Arya Pethak menghentikan acara makan malam nya. Matanya terus menatap ke arah suara langkah kaki yang semakin mendekat.

Lembu Supa dan Mahesa Cemeng segera memegang gagang pedang mereka, sementara Badrawati yang penakut segera memeluk tubuh Gayatri.

Dari gelap malam, muncul dua orang berbeda usia mendekati mereka. Seorang gadis cantik berbaju merah dan seorang kakek tua berjenggot putih berbaju putih lusuh seperti pertapa beriringan menuju ke arah api unggun.

"Permisi Kisanak,

Mohon maaf jika kami mengganggu. Ijinkan kami ikut bermalam bersama kalian disini", pinta si gadis cantik berbaju merah itu dengan sopan.

"Silahkan nisanak,

Kami tidak keberatan jika kalian ingin bergabung bersama kami", ujar Lembu Supa yang segera menghela nafas lega.

Gadis cantik berbaju merah itu segera membuka kain buntalan yang berisi kain untuk alas tidur dia dan kakek tua berjenggot putih itu di dekat api unggun yang masih menyala.

Mahesa Cemeng melempar kayu kering untuk menjaga api kembali menyala saat cahayanya mulai meredup. Sementara Arya Pethak masih asyik membolak balik ayam hutan panggang yang belum matang.

"Nisanak ini mau kemana sebenarnya? Kenapa sampai kemalaman di jalan seperti ini?", tanya Lembu Supa sambil membuka telapak tangannya di depan api unggun.

"Kami mau ke Pejarakan, kisanak.

Eyang ku diminta untuk mengobati orang yang sedang sakit disana", ujar gadis cantik itu sambil sesekali melirik ke arah Arya Pethak yang tampak tak peduli dengan kehadirannya.

"Oh begitu..

Sebagai salam perkenalan, namaku Lembu Supa dari Kembang Biru.

Nisanak siapa?", tanya Lembu Supa dengan sopan.

"Nama ku Paramita. Ini eyang ku Begawan Tirta Wening, kami dari Gunung Kidul di wilayah Lodaya", jawab gadis cantik yang ternyata bernama Paramita itu.

"Hemmmm..

Sepertinya aku pernah mendengar nama Begawan Tirta Wening, tapi dimana ya??..

Hehhhh..

Bukankah itu nama orang yang dijuluki sebagai Dewa Obat dari Selatan?", mata Lembu Supa melotot seketika.

"Pengetahuan mu rupanya luas juga, Saudara Supa.

Namaku dikenal orang juga sampai di daerah sini rupanya hehehe", si kakek tua berjenggot putih itu tersenyum simpul.

"Salam hormat, Begawan.

Maafkan jika saya tidak sopan tadi. Kami dari Perguruan Kembang Biru sangat menghormati pandita sakti seperti anda. Perkenalkan ini Mahesa Cemeng, itu Gayatri dan dia Badrawati", ujar Lembu Supa segera.

"Kalau dia?", Paramita menunjuk kepada Arya Pethak yang asyik mengunyah daging paha ayam hutan nya.

"Aku bukan siapa-siapa", sahut Arya Pethak dengan acuh tak acuh sambil berdiri hendak menuju tempat tidur nya. Pandangan Begawan Tirta Wening langsung tertuju pada leher Arya Pethak.

"Anak muda,

Darimana kau peroleh kalung mu itu?".

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁

Selamat membaca kak 🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

irfan caul

irfan caul

Kamu nanyeaaaa,,, kamu bertanya tanyaaaa🤣🤣🤣

2023-09-07

0

glanter

glanter

ada paramita rusadi....😍😍😍😍

2023-07-07

3

glanter

glanter

awas phetak jgn spi main petak umpet dg gayatri....😂😂😂😂

2023-07-07

3

lihat semua
Episodes
1 Korban Kutukan Ketujuh
2 Wafatnya Apanji Tohjaya
3 Tapa Ngalong
4 Ajian Tapak Brajamusti
5 Sudah Saatnya
6 Ujian Pertama Topo Ngrame
7 Dewa Obat dari Selatan
8 Perjalanan
9 Pencuri Kuda
10 Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11 Sapu Tangan Merah
12 Ajian Lembu Sekilan
13 Tugas Dari Patih Pranaraja
14 Jagoan Kampung
15 Sepasang Pisau Racun
16 Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17 Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18 Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19 Nawala
20 Hantu Desa Karangan
21 Hantu Desa Karangan 2
22 Jimat Lulang Kebo Landoh
23 Iblis Golok Pucat
24 Kenapa Buru-buru Pergi?
25 Hutan Kali Mati
26 Racun Ular Kuning
27 Nyamuk Pengganggu
28 Ajian Badai Laut Selatan
29 Tiga Gadis Desa
30 Walet Merah
31 Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32 Murid Perguruan Pedang Setan
33 Katumenggungan Kurawan
34 Katumenggungan Kurawan 2
35 Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36 Pertapaan Giri Lawu
37 Ajian Mata Dewa
38 Tiga Resi
39 Keributan di Warung Makan
40 Dewi Ular Siluman
41 Perguruan Pedang Perak
42 Malaikat Maut Mu
43 Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44 Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45 Melawan Si Mata Malaikat
46 Anjani
47 Penginapan Kembang Sore
48 Penginapan Kembang Sore 2
49 Delapan Setan Pencabut Nyawa
50 Sayembara
51 Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52 Begawan Pasopati
53 Karawitan Langen Sari
54 Kisah Masa Silam
55 Menuju Ke Kadiri
56 Pengemis Tapak Darah
57 Pengemis Tapak Darah 2
58 Misteri Gunung Penanggungan
59 Nyi Ratu Bulan Darah
60 Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61 Batu Inti Naga
62 Kekuatan Baru
63 Ratapan Di Tengah Hujan
64 Giliran
65 Selamatkan Rara Larasati
66 Dua Putri Lurah Lwaram
67 Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68 Dendam Kesumat
69 Persetubuhan Setan
70 Ajian Iblis Neraka
71 Kutuk Pasu
72 Dalang
73 Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74 Senjata untuk Klungsur
75 Rampok Bajing Ireng
76 Pertarungan Dua Wanita Cantik
77 Tolong Aku
78 Curahan Hati Sang Putri Adipati
79 Rajapati Pisau Perak
80 Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81 Menuju Saunggalah
82 Istana Atap Langit
83 Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84 Ajian Halimun
85 Di Kaki Gunung Pojoktiga
86 Uji Kemampuan Beladiri
87 Uji Kemampuan Beladiri 2
88 Uji Kemampuan Beladiri 3
89 Uji Kemampuan Beladiri 4
90 Uji Kemampuan Beladiri 5
91 Pendekar Muda Nomer Satu
92 Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93 Lembah Seribu Bunga
94 Balas Dendam
95 Sinar Rembulan
96 Setan Dari Neraka
97 Utusan
98 Dedemit Desa Randublatung
99 Kadipaten Bojonegoro
100 Kitab Pusaka Sabda Buana
101 Resi Mpu Dharma
102 Iri Hati Sang Ibu Tiri
103 Delapan Malaikat Pembunuh
104 Berebut Perahu Penyeberangan
105 Bajak Laut
106 Adipati Arya Wiraraja
107 Cinderamata Dari Pulau Madura
108 Penunggang Kuda di Tengah Malam
109 Menuju Kotaraja Singhasari
110 Nyi Lapat dan Rukmini
111 Sirep
112 Pendekar Sabit Berdarah
113 Sepasang Pedang Gunung Kawi
114 Gorawangsa
115 Pertarungan Tiga Bidadari
116 Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117 Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118 Jodoh Masa Kecil
119 Rencana Selanjutnya
120 Rahasia Nyi Sekati
121 Prajurit Gelang-gelang
122 Selir
123 Gembel Tua Berseruling Perak
124 Kitab Ilmu Seruling Neraka
125 Kawan Seperjalanan Baru
126 Anak Buah Raden Ronggo
127 Pertapaan Sapta Arga
128 Resi Candramaya
129 Musuhnya Musuh Adalah Teman
130 Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131 Kematian Akuwu Surenggono
132 Supit Urang
133 Menggempur Kota Wengker
134 Menggempur Kota Wengker 2
135 Kota Wengker Jatuh
136 Adipati Warok Singo Pethak
137 Siasat Raden Ronggo
138 Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139 Perang Akhir
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Korban Kutukan Ketujuh
2
Wafatnya Apanji Tohjaya
3
Tapa Ngalong
4
Ajian Tapak Brajamusti
5
Sudah Saatnya
6
Ujian Pertama Topo Ngrame
7
Dewa Obat dari Selatan
8
Perjalanan
9
Pencuri Kuda
10
Sepasang Pendekar Pemetik Bunga
11
Sapu Tangan Merah
12
Ajian Lembu Sekilan
13
Tugas Dari Patih Pranaraja
14
Jagoan Kampung
15
Sepasang Pisau Racun
16
Mpu Lunggah dari Bukit Penampihan
17
Munculnya Pusaka Penebar Petaka
18
Lembu Pangenggar dan Anak Murid Padepokan Gagar Mayang
19
Nawala
20
Hantu Desa Karangan
21
Hantu Desa Karangan 2
22
Jimat Lulang Kebo Landoh
23
Iblis Golok Pucat
24
Kenapa Buru-buru Pergi?
25
Hutan Kali Mati
26
Racun Ular Kuning
27
Nyamuk Pengganggu
28
Ajian Badai Laut Selatan
29
Tiga Gadis Desa
30
Walet Merah
31
Keributan di Pasar Kadipaten Kurawan
32
Murid Perguruan Pedang Setan
33
Katumenggungan Kurawan
34
Katumenggungan Kurawan 2
35
Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng
36
Pertapaan Giri Lawu
37
Ajian Mata Dewa
38
Tiga Resi
39
Keributan di Warung Makan
40
Dewi Ular Siluman
41
Perguruan Pedang Perak
42
Malaikat Maut Mu
43
Rahasia Pedang Perak dan Pedang Setan
44
Masa Depan Perguruan Pedang Perak
45
Melawan Si Mata Malaikat
46
Anjani
47
Penginapan Kembang Sore
48
Penginapan Kembang Sore 2
49
Delapan Setan Pencabut Nyawa
50
Sayembara
51
Arya Pethak Melawan Tumenggung Jaran Sembrani
52
Begawan Pasopati
53
Karawitan Langen Sari
54
Kisah Masa Silam
55
Menuju Ke Kadiri
56
Pengemis Tapak Darah
57
Pengemis Tapak Darah 2
58
Misteri Gunung Penanggungan
59
Nyi Ratu Bulan Darah
60
Segel Suci Empat Arah Lima Pancer
61
Batu Inti Naga
62
Kekuatan Baru
63
Ratapan Di Tengah Hujan
64
Giliran
65
Selamatkan Rara Larasati
66
Dua Putri Lurah Lwaram
67
Kemampuan Beladiri Yang Tersembunyi
68
Dendam Kesumat
69
Persetubuhan Setan
70
Ajian Iblis Neraka
71
Kutuk Pasu
72
Dalang
73
Terbongkarnya Rahasia Dewi Sekar Rinonce
74
Senjata untuk Klungsur
75
Rampok Bajing Ireng
76
Pertarungan Dua Wanita Cantik
77
Tolong Aku
78
Curahan Hati Sang Putri Adipati
79
Rajapati Pisau Perak
80
Orang Bodoh Yang Tidak Tolol
81
Menuju Saunggalah
82
Istana Atap Langit
83
Bertemu Ki Buyut Mangun Tapa
84
Ajian Halimun
85
Di Kaki Gunung Pojoktiga
86
Uji Kemampuan Beladiri
87
Uji Kemampuan Beladiri 2
88
Uji Kemampuan Beladiri 3
89
Uji Kemampuan Beladiri 4
90
Uji Kemampuan Beladiri 5
91
Pendekar Muda Nomer Satu
92
Rahasia Jati Diri Nay Kemuning
93
Lembah Seribu Bunga
94
Balas Dendam
95
Sinar Rembulan
96
Setan Dari Neraka
97
Utusan
98
Dedemit Desa Randublatung
99
Kadipaten Bojonegoro
100
Kitab Pusaka Sabda Buana
101
Resi Mpu Dharma
102
Iri Hati Sang Ibu Tiri
103
Delapan Malaikat Pembunuh
104
Berebut Perahu Penyeberangan
105
Bajak Laut
106
Adipati Arya Wiraraja
107
Cinderamata Dari Pulau Madura
108
Penunggang Kuda di Tengah Malam
109
Menuju Kotaraja Singhasari
110
Nyi Lapat dan Rukmini
111
Sirep
112
Pendekar Sabit Berdarah
113
Sepasang Pedang Gunung Kawi
114
Gorawangsa
115
Pertarungan Tiga Bidadari
116
Mpu Prawira dan Nyi Ratih
117
Pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning
118
Jodoh Masa Kecil
119
Rencana Selanjutnya
120
Rahasia Nyi Sekati
121
Prajurit Gelang-gelang
122
Selir
123
Gembel Tua Berseruling Perak
124
Kitab Ilmu Seruling Neraka
125
Kawan Seperjalanan Baru
126
Anak Buah Raden Ronggo
127
Pertapaan Sapta Arga
128
Resi Candramaya
129
Musuhnya Musuh Adalah Teman
130
Kisruh Istana Pakuwon Sendang
131
Kematian Akuwu Surenggono
132
Supit Urang
133
Menggempur Kota Wengker
134
Menggempur Kota Wengker 2
135
Kota Wengker Jatuh
136
Adipati Warok Singo Pethak
137
Siasat Raden Ronggo
138
Pertarungan di Barat Pakuwon Tapan
139
Perang Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!