"Kakang Bandem,
Perempuan berbaju kuning itu sangat menarik. Pasti Gusti Kebo Danu akan sangat senang jika kita bisa mempersembahkan padanya", ujar seorang lelaki bertubuh kurus dengan kumis tebal sambil terus menatap ke arah rombongan Arya Pethak yang baru saja turun dari perahu penyeberangan.
"Benar, Walang Garing..
Kalau kita bisa menangkap perempuan itu, hadiah besar pasti menanti kita. Tapi pemuda itu sepertinya seorang pendekar,Garing..
Sebaiknya kita mengajak Kakang Genggong untuk membantu kita. Aku yakin Kakang Genggong bisa mengatasi pemuda itu", jawab seorang lelaki bertubuh gempal yang bernama Tanu Bandem itu sambil menunjuk ke arah Arya Pethak yang ada diantara rombongan.
"Kalau yang berkumis laler menclok itu Kang?", tanya Walang Garing sambil menunjuk Klungsur yang ada di belakang Arya Pethak.
"Ah, dia cuma orang bodoh..
Coba lihat tingkahnya yang seperti orang tidak waras itu", ucap Tanu Bandem yang menyilangkan jari telunjuk nya di depan dahi.
Walang Garing manggut-manggut saja mendengar ucapan Tanu Bandem. Mereka terus mengawasi rombongan Arya Pethak.
Paramita menatap langit sore yang berwarna kemerahan. Setelah mempertimbangkan sejenak, dia segera mendekati Arya Pethak yang tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
"Kakang,
Sebaiknya kita bermalam disini saja. Jika kita nekat berangkat, kemungkinan besar kita akan bermalam di hutan.
Lihat,
Sebentar lagi senja akan segera berganti malam", ujar Paramita sambil menunjuk langit yang semakin memerah di ufuk barat.
"Benar Kakang Pethak,
Aku setuju usulan Paramita. Lebih baik besok saja kita melanjutkan perjalanan, sebentar lagi malam akan tiba", timpal Ragil Kuning alias Sekarwangi yang berjalan mendekati mereka berdua.
"Baiklah,
Ku ikuti saran kalian. Sebaiknya kita mencari tempat menginap dulu di sekitar tempat ini", jawab Arya Pethak segera.
Klungsur yang ada di belakang segera berlari menuju ke depan Arya Pethak.
"Biar Klungsur saja yang tanya ke orang, Ndoro.
Urusan begini biar Klungsur yang mengatasi", ujar pemuda bogel itu dengan cepat. Arya Pethak, Ragil Kuning dan Paramita tersenyum tipis melihat tingkah laku Klungsur yang lucu.
Segera Klungsur mendekati seorang wanita paruh baya yang tengah menata barang dagangannya. Sepertinya dia hendak menutup lapak dagangan nya.
"Permisi, Mbok Ayu..
Saya mau tanya, sekitar tempat ini ada tempat menginap dimana ya?", tanya Klungsur sambil tersenyum.
"Oh mau cari tempat menginap?
Di rumah Ki Sentanu bisa. Disana lebih murah dan nyaman di banding penginapan yang disana itu", ujar wanita paruh baya itu sambil menunjuk ke sebuah penginapan besar yang ada di barat dermaga penyeberangan itu.
"Itu rumah Ki Sentanu ada dimana Mbok Ayu? Saya bukan orang sini soalnya", ujar Klungsur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ikuti saya,
Rumah Ki Sentanu di dekat tempat tinggal ku. Ayo ikut, sebelum kesorean", ajak si wanita paruh baya itu sambil menggendong keranjang bambu yang menjadi wadah barang dagangannya.
Klungsur segera bersiul kencang. Arya Pethak, Paramita dan Ragil Kuning segera menoleh ke arah Klungsur dan mengikuti langkah abdi dalem Kepatihan itu.
Rombongan Arya Pethak berhenti di sebuah rumah yang cukup besar di barat dermaga penyeberangan. Mereka menghentikan langkah mereka setelah mendapat isyarat dari wanita paruh baya yang mereka ikuti.
Si wanita paruh baya itu segera masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama kemudian dia kembali dengan diikuti oleh seorang lelaki paruh baya yang masih kelihatan gagah. Ki Sentanu namanya. Lelaki tua berambut campur uban itu mengerutkan keningnya seakan ingin mengetahui rombongan Arya Pethak. Setelah merasa yakin bahwa mereka orang baik-baik, senyum segera terukir di bibir lelaki tua itu.
"Mari silahkan masuk, Kisanak..
Ayo jangan malu-malu. Anggap saja seperti rumah sendiri.
Soma,
Masukkan kuda mereka ke dalam kandang ya. Kasih makan rumput yang segar", ujar Ki Sentanu dengan ramah sambil memerintahkan pelayan nya untuk memasukkan kuda rombongan Arya Pethak ke dalam kandang. Mereka segera mengikuti langkah Ki Sentanu.
Dua orang yang mengikuti langkah mereka langsung berbalik arah setelah melihat rombongan Arya Pethak menginap di rumah Ki Sentanu.
Dengan semangat untuk mendapatkan hadiah, Tanu Bandem dan Walang Garing menuju ke tempat Nala Genggong, seorang kepala kelompok berandal yang mendiami sebuah pondok kayu yang ada di selatan dermaga penyeberangan itu.
Sesampainya di kediaman Nala Genggong, mereka berdua segera disambut oleh 2 orang pengikut Nala Genggong.
"Tanu Bandem,
Mau apa kau kemari?", tanya seorang lelaki bertubuh gempal yang memakai pakaian serba hitam.
"Aku ingin bertemu dengan Kakang Nala Genggong,
Ada urusan penting yang bisa menghasilkan uang dengan nya", jawab Tanu Bandem dengan senyum lebar.
Mendengar jawaban itu, si lelaki bertubuh gempal itu segera melangkah menuju ke pintu pondok kayu.
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu pondok kayu itu terdengar keras. Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ke pintu. Saat pintu terbuka lebar, seorang lelaki bertubuh tegap dengan otot otot yang menghiasi lengan nya. Si lelaki bertubuh tegap itu menatap ke arah sang pengetuk pintu dengan tatapan mata kesal.
"Ada apa kau mengganggu istirahat ku, Sampung?", tanya si lelaki bertubuh tegap yang bernama Nala Genggong itu dengan keras. Jambang lebatnya yang panjang tampak membuat wajahnya menyeramkan.
"Bandem mencari mu Kakang,
Ada urusan dengan duit katanya", jawab lelaki bertubuh gempal yang di panggil Sampung itu dengan penuh hormat.
Hemmmm
Pandangan Nala Genggong langsung melotot ke arah Tanu Bandem dan Walang Garing yang berdiri di halaman pondok.
"Katakan apa yang kau mau, Bandem?", tanya Nala Genggong sambil berkacak pinggang di depan pondok nya.
"Aku punya tawaran kerjasama dengan mu, Kakang.
Kalau berhasil, hadiah besar dari Gusti Kebo Danu sudah menunggu kita", jawab Tanu Bandem dengan senyum lebar nya.
"Langsung saja, jangan berbelit-belit Bandem", teriak Nala Genggong yang mulai gusar.
"Begini Kakang,
Dua orang wanita muda yang cantik sedang menginap di rumah Ki Sentanu. Kalau kita berhasil membawanya ke Gusti Kebo Danu, kita akan mendapat hadiah besar", jawab Tanu Bandem dengan sedikit bergetar. Nyali nya langsung ciut mendengar teriakan Nala Genggong.
Mendengar itu Nala Genggong tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Baiklah,
Malam ini kita berangkat ke sana. Kalau dapat duit dari Gusti Kebo Danu, aku akan bersenang-senang di tempat Nyi Kenanga", ujar Nala Genggong yang kemudian tertawa terbahak bahak. Tempat Nyi Kenanga adalah rumah pelacuran yang ada di Utara dermaga penyeberangan.
Keempat orang itu segera tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Nala Genggong.
Senja kemerahan segera berganti malam yang gelap. Cahaya bulan purnama membuat pandangan menjadi jelas.
Lima bayangan hitam bergerak cepat menuju ke arah rumah Ki Sentanu.
Arya Pethak sedang asyik bercakap dengan Ki Sentanu di serambi rumah saat Klungsur yang sedang membakar kayu kering untuk berdiang di kagetkan oleh kedatangan kelima bayangan hitam itu.
"Hyaaaaaaaahhhh...
Ada hantu!", teriak Klungsur yang segera berlari masuk ke dalam serambi kediaman Ki Sentanu. Karena kecerobohan nya, kaki Klungsur menendang kendi air minum yang ada di dekat Arya Pethak.
Kendi air minum melayang ke arah Arya Pethak.
Whuuuuttt
Dengan cekatan, Arya Pethak segera menangkap kendi air minum.
"Klungsur,
Kalau lari lihat lihat dong", omel Arya Pethak sambil meletakkan kendi air minum di dekat dinding kayu rumah.
"A-ada hantu Ndoro,
Hantu nya ada lima", jawab Klungsur yang ketakutan seraya memekarkan jemari tangan kanannya.
"Kau jangan bercanda,
Mana ada hantu bisa rombongan begitu?", ujar Arya Pethak yang segera menatap wajah Klungsur yang pucat pasi.
"Sumpah Ndoro, berani samber gledek aku.
Kalau tidak percaya, tuh lihat sendiri di halaman rumah", ujar Klungsur sambil menunjuk ke arah halaman rumah. Arya Pethak dan Ki Sentanu segera menoleh ke arah halaman rumah.
Paramita dan Ragil Kuning yang baru dari dapur membawa singkong rebus langsung ikut menoleh ke arah halaman.
Benar saja. Di halaman rumah nampak lima bayangan hitam tampak berdiri.
Arya Pethak segera melangkah keluar dari rumah sambil menatap ke arah lima bayangan hitam itu. Ragil Kuning dan Paramita mengekor di belakangnya bersama Ki Sentanu. Klungsur yang ketakutan mengintip dari balik kayu dinding rumah yang berlubang.
"Maaf kisanak,
Ada perlu apa kalian kemari?", tanya Arya Pethak dengan sopan.
Phuihhhh
"Kalau kau ingin hidup, serahkan dua perempuan cantik itu pada kami. Kalau tidak, akan ku antar kau malam ini ke neraka", ujar si bayangan hitam yang tak lain adalah Nala Genggong.
"Kau pikir kami barang yang bisa kau minta seenaknya?
Bajingan,
Maju kau akan ku penggal kepala mu", teriak Paramita dengan galaknya.
"Hahahaha,
Kucing liar. Gusti Kebo Danu pasti suka. Kawan kawan, tangkap perempuan itu", ujar Nala Genggong sambil memberikan isyarat kawan kawan nya untuk maju.
Keempat kawan Nala Genggong menerjang maju. Paramita segera mencabut pedangnya dan menyongsong terjangan lawan.
Tanu Bandem yang maju paling awal, langsung menunduk saat sabetan pedang Paramita mengarah ke leher nya.
Whuuuuttt...
Pria bertubuh gempal itu langsung berguling ke tanah untuk menghindar. Paramita langsung melayangkan tendangan keras kearah dada Walang Garing yang ada di sebelah Tanu Bandem.
Deshhhh
Ougghhh
Pria kurus itu langsung terpelanting ke belakang. Dadanya seperti dihantam batu besar.
'Brengsek,
Perempuan ini punya kemampuan beladiri rupanya. Aku harus hati-hati', batin Tanu Bandem yang segera berdiri dari tempat berguling nya. Dia segera mencabut pedang yang ada di pinggangnya.
Di sisi lain Ragil Kuning alias Sekarwangi langsung menerjang ke arah seorang anak buah Nala Genggong. Perempuan cantik itu segera memutar tubuhnya saat serangan nya berhasil di hindari.
Sikut perempuan cantik itu langsung mengarah ke ulu hati lawan dengan cepat.
Bukkkkk
Ougghhh
Si pria berbaju hitam itu langsung tersungkur ke tanah. Seorang lagi mencoba untuk menangkap tubuh Ragil Kuning namun sebuah tendangan keras membuat nya jatuh terpental ke belakang.
Arya Pethak yang dari tadi melihat situasi, menatap ke arah lelaki bertubuh besar yang baru di tendang nya itu.
Nala Genggong langsung melesat maju saat anak buah nya mulai tumbang.
Dengan cepat ia menghantamkan tangan kanannya ke arah kepala Arya Pethak.
Whhhuuuggghhhh!!
Arya Pethak miringkan kepala ke kiri dan dengan cepat memutar tubuhnya seraya menghantam dada Nala Genggong.
Mendapat serangan balasan, Nala Genggong berusaha berkelit ke samping. Pukulan Arya Pethak menghantam udara kosong.
Dengan sedikit merubah gerakan, kembali Arya Pethak melayangkan dengkulnya kearah perut Nala Genggong yang baru saja berkelit.
Deshhhh
Ougghhh
Nala Genggong terhuyung mundur saat dengkul Arya Pethak menghantam perutnya. Perut Nala Genggong sakit bukan main. Jagoan kampung itu menggeram marah sambil memegangi perutnya.
"Bangsat!
Ku bunuh kau!!!", teriak Nala Genggong yang segera mencabut golok di pinggangnya.
Pria berwajah seram itu segera melesat ke arah Arya Pethak sambil membabatkan golok nya.
Whuuussshh
Golok melayang mengincar leher Arya Pethak. Pemuda tampan itu mundur setengah langkah kemudian merendahkan tubuhnya kemudian melayangkan tendangan keras seraya memutar tubuhnya.
Dashhh!!
Nala Genggong kembali terhuyung mundur akibat kerasnya tendangan Arya Pethak. Saat tubuhnya kembali tegak, Nala Genggong kembali melesat maju ke arah Arya Pethak. Namun tiba-tiba saja Arya Pethak seperti menghilang karena Ajian Langkah Dewa Angin nya. Saat Nala Genggong kebingungan mencari Arya Pethak, sebuah hantaman keras menghajar dadanya.
Bukkkkk!!!
Aaarrghhh!
Nala Genggong meraung keras. Tubuh berotot nya tak mampu menahan kerasnya hantaman Arya Pethak. Pria itu tumbang ke belakang. Dia muntah darah segar. Dadanya sesak bukan main.
Huuuoooogggghhh!!
Melihat lawan sudah tak berdaya, Arya Pethak menghentikan gerakannya.
"Apa masih mau dilanjutkan?", Arya Pethak mendengus dingin menatap ke arah Nala Genggong yang terus muntah darah.
"A-ampun pendekar muda ampun..
Aku menyerah. Ampuni aku", ucap Nala Genggong sambil memegangi dadanya yang sakit.
"Ku ampun nyawa mu kali ini,
Kalau lain kali aku melihat kalian berbuat seenaknya sendiri seperti ini, maka itu adalah akhir riwayat mu", jawab Arya Pethak segera.
Tanu Bandem segera memapah tubuh Nala Genggong bersama Walang Garing yang baru sadar dari pingsannya. Mereka berlima dengan tertatih tatih meninggalkan halaman rumah Ki Sentanu dan menghilang di balik gelapnya malam.
Ki Sentanu dan Klungsur yang bersembunyi di balik dinding kayu serambi segera mendekati Arya Pethak, Sekarwangi dan Paramita.
"Wah aku tidak menyangka,
Ternyata Ndoro Pethak hebat sekali ya", ujar Klungsur sambil bertepuk tangan.
"Iya jelas lah, beda dengan mu yang langsung sembunyi saat di ganggu orang", sahut Sekarwangi dengan sikap galaknya.
Klungsur langsung terdiam mendengar ucapan Ragil Kuning. Dalam hati dia menggerutu.
'Cantik sih cantik, tapi galaknya kayak macan'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Bang Jeck
rimba persilatan.. era singasari gk senaif itu thor... tpi saya maklumi.. terserah yg buat cerita
2024-02-16
0
irfan caul
Apalagi kalo di Balado 😋😋😋
2023-09-08
1
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-10-12
1