Teriakan keras dari Paramita mengagetkan Begawan Tirta Wening yang sedang bercakap-cakap dengan Mahesa Parut di serambi rumah Lurah Pejarakan itu.
Buru buru kakek tua itu segera mendekati Paramita dan Gayatri yang tengah memapah tubuh Arya Pethak.
"Apa yang terjadi? Kenapa Arya Pethak bisa seperti ini?", tanya Begawan Tirta Wening yang segera menggantikan Gayatri yang nampak kelelahan memapah Arya Pethak. Pria tua itu segera bergegas menuju ke serambi rumah Mahesa Parut.
"Tadi kami di hadang oleh Sepasang Pendekar Pemetik Bunga, Eyang..
Kakang Pethak melawan mereka. Walaupun bisa mengalahkan mereka berdua, tapi Kakang Pethak terluka parah seperti ini.
Tolong dia Eyang", ujar Paramita yang terlihat begitu mengkhawatirkan keselamatan Arya Pethak.
Dengan cepat, Begawan Tirta Wening mendudukkan tubuh Arya Pethak. Kakek tua itu segera duduk bersila di belakang Arya Pethak dan segera menyalurkan tenaga dalam pada Arya Pethak dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menotok beberapa jalan darah si pemuda tampan itu dengan cepat.
Dheepp.. Dheepp..
Hawa hangat segera menyebar ke seluruh tubuh Arya Pethak. Nafas pemuda itu berangsur-angsur lega. Dan..
Huuoogghh!
Arya Pethak muntah darah kehitaman pertanda bahwa dia menderita luka dalam cukup serius. Begawan Tirta Wening terus menyalurkan tenaga dalam nya. Setelah muntah darah dua kali lagi, wajah Arya Pethak yang memucat berangsur membaik.
Paramita dan Gayatri terus menatap wajah Arya Pethak yang masih sedikit memucat. Perlahan Arya Pethak bisa duduk bersila, lalu pemuda itu dengan cepat mengatur nafas dan tenaga dalam nya.
Merasa Arya Pethak sudah membaik, Begawan Tirta Wening melepaskan tangannya dari punggung Arya Pethak.
Semua orang di serambi rumah kediaman Lurah Pejarakan menatap wajah Arya Pethak dengan harap-harap cemas.
Perlahan Arya Pethak membuka mata nya, membuat semua orang menarik nafas lega.
"Terima kasih atas bantuan mu, kakek tua.
Aku berhutang nyawa pada mu", ujar Arya Pethak pada Begawan Tirta Wening yang tengah mencari sesuatu di kantong baju nya.
"Jangan banyak bicara, Pethak. Kau belum pulih sepenuhnya.
Paramita,
Ambilkan secangkir air minum. Cepat", ucap Begawan Tirta Wening sambil menoleh ke arah Paramita. Gadis itu segera bergegas menuju ke meja yang ada kendi air minum nya di sudut serambi rumah Mahesa Parut.
Tak lama dia segera kembali sambil membawa secangkir air dan menyerahkannya kepada Begawan Tirta Wening.
"Minum ini. Ini obat penguat tenaga dalam", ujar Begawan Tirta Wening sambil menyerahkan sebutir pil berwarna merah pada Arya Pethak.
Pemuda tampan itu segera menerima pil berwarna merah itu dan memasukkan ke mulutnya. Dengan bantuan air minum, Arya Pethak menelan pil merah itu segera.
Sekejap saja, tubuh Arya Pethak terasa hangat. Peredaran darah nya yang sempat terganggu, seketika pulih kembali seperti sedia kala.
"Apa nama obat ini, kakek tua?", tanya Arya Pethak yang merasakan perubahan pada tubuh nya. Tubuhnya terasa begitu segar.
"Namanya Pil Darah Naga. Khasiatnya selain untuk menguatkan tenaga dalam, juga membantu memulihkan kondisi tubuh yang baru sakit", terang Begawan Tirta Wening si Dewa Obat dari Selatan.
Hari semakin sore, burung burung terbang kembali ke sarangnya. Langit memerah di ufuk barat, pertanda malam akan segera turun di Desa Pejarakan.
Arya Pethak yang masih bersemedi untuk memulihkan tubuhnya, mendengar ketukan pintu kamar yang di tempatinya.
Tok tok tok
Mata pemuda tampan itu perlahan terbuka. Dia segera menoleh ke arah pintu kamar tidur.
"Masuk saja. Tidak di kunci", ujar Arya Pethak yang tidak beranjak dari tempat duduknya.
Paramita datang bersama Gayatri. Dua perempuan cantik itu tersenyum sambil mendekati Arya Pethak yang masih bersemedi di atas tempat tidurnya.
"Kakang Pethak,
Aku mengucapkan terima kasih atas bantuannya tadi siang. Kalau tidak ada Kakang mungkin aku sudah menjadi korban kebejatan dari Pendekar Pemetik Bunga itu", ujar Paramita sambil tersenyum manis.
"Aku juga mengucapkan terima kasih, Kakang Pethak. Kau sampai terluka parah hanya demi menolong ku", ucap Gayatri dengan malu-malu.
"Sudahlah,
Itu hanya kewajiban ku sebagai pendekar untuk menolong sesama. Kalian sudah membawa ku untuk diobati oleh Dewa Obat, jadi kita impas", jawab Arya Pethak yang segera berdiri dari tempat duduknya.
"Oh iya Kakang,
Lurah Pejarakan meminta kita untuk makan malam bersama. Ayo sekarang kita kesana", ajak Paramita yang langsung menarik tangan Arya Pethak untuk mengikuti langkah nya.
Arya Pethak hanya bisa pasrah menerima tarikan tangan Paramita. Gayatri sedikit tidak senang dengan itu semua.
Di rumah tengah, Ken Sati istri Mahesa Parut dibantu dua abdi nya mulai menghidangkan pelbagai jenis makanan yang mereka masak sejak sore diatas tikar daun pandan yang mereka gelar. Mahesa Parut, Begawan Tirta Wening, Lembu Supa, Mahesa Cemeng, dan Badrawati sudah duduk melingkar di atas tikar daun pandan saat Arya Pethak, Paramita dan Gayatri masuk ke dalam rumah tengah.
Setelah Arya Pethak duduk, dari dalam dapur Ken Sati dan dua orang abdi membawa bakul nasi dan lauk pauk. Saat Setyawati masuk sambil membawa nampan berisi ayam panggang, kecantikan gadis itu membuat Mahesa Cemeng, Lembu Supa dan Arya Pethak terpaku beberapa saat. Meskipun masih sedikit pucat, tapi kecantikan kembang desa Pejarakan itu tetap mampu menarik perhatian semua orang.
Gayatri dan Paramita mendengus kesal karena itu. Walaupun mereka tidak kalah cantik, tapi perhatian Arya Pethak yang teralihkan pada Setyawati membuat mereka kesal.
Apalagi Setyawati sendiri berulang kali tertangkap basah sedang mencuri pandang ke arah Arya Pethak.
Gayatri dan Paramita berharap makan malam bersama itu cepat berakhir.
Usai makan bersama, semua orang kembali ke tempat peristirahatan masing-masing kecuali Arya Pethak yang memilih ke halaman depan menemani seorang penjaga kediaman Mahesa Parut.
"Tumben belum tidur, Den?", tanya si lelaki tua bertubuh kerempeng itu sambil melempar kayu kering ke perapian yang dia buat untuk mengusir dingin malam.
"Belum mengantuk paman,
Daripada bingung mau apa lebih baik ngobrol dengan paman disini", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Si lelaki bertubuh kerempeng itu segera mengambil jagung muda yang tadi sore dia dapatkan dari kebun Mahesa Parut.
Sambil membakar jagung muda, mereka mengobrol tentang keadaan sekitar desa itu. Saat malam semakin larut, dari dalam rumah Setyawati keluar sambil membawa kendi air minum dan mendekati mereka berdua.
Mendengar suara langkah kaki, Arya Pethak dan lelaki bertubuh kerempeng itu segera menoleh ke arah sumber suara.
"Ndoro Ayu,
Kenapa masih belum tidur?", tanya si lelaki bertubuh kerempeng itu segera.
"Aku belum bisa tidur, Paman Granti.
Mungkin karena aku lama tertidur akibat racun kemarin, jadi aku sedikit takut untuk memejamkan mata", ujar Setyawati sambil meletakkan kendi air minum yang di bawanya. Gadis cantik itu segera duduk di samping Arya Pethak yang kembali membolak balik jagung muda yang dibakarnya.
Lelaki bertubuh kerempeng yang bernama Ki Granti tersenyum simpul mendengar jawaban Setyawati. Dari sikap Setyawati, dia tahu bahwa putri Mahesa Parut itu jatuh hati pada Arya Pethak.
Arya Pethak mengulurkan jagung muda yang sudah matang pada Setyawati.
"Kau mau, Den Ayu?", tanya Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Setyawati segera mengangguk dan tersenyum penuh arti. Mereka bertiga menikmati jagung bakar bertiga sambil berbincang. Beberapa kesempatan, Setyawati mencuri pandang ke arah Arya Pethak. Dia begitu menyukai pemuda tampan itu.
Kebersamaan mereka malam itu rusak setelah dari dalam Paramita dan Gayatri ikut bergabung di halaman rumah.
'Dasar pengacau', gerutu Setyawati dalam hati melihat kedatangan Paramita dan Gayatri.
"Kakang Pethak,
Bakar jagung gak ajak ajak sih. Aku juga mau", ujar Gayatri yang nampak bersemangat mendekati Arya Pethak.
"Bukan kau saja yang mau, Gayatri.
Aku juga mau", ucap Paramita yang langsung duduk di sebelah Arya Pethak mendahului Gayatri.
Jadilah acara bakar jagung menjadi ramai dengan kehadiran mereka berdua. Ketiga gadis itu berlomba untuk menarik perhatian Arya Pethak.
Malam semakin larut.
Arya Pethak menguap lebar. Dia mulai mengantuk. Ketiga gadis itu juga terlihat sama.
"Kalian lanjutkan saja bakar jagung nya. Aku ngantuk, mau tidur", ujar Arya Pethak sambil melangkah menuju ke arah tempat tidur nya.
Setyawati buru buru mengikuti langkah Arya Pethak. Begitu juga Gayatri dan Paramita.
"Aku juga sudah mengantuk, Kakang", ujar Setyawati sambil tersenyum manis.
"Selamat tidur semuanya", ujar Arya Pethak seraya menutup pintu kamar tidur nya. Ketiga gadis cantik itu segera membalas ucapan Arya Pethak dengan senyum manisnya. Lalu mereka bertiga berpencar menuju ke kamar masing-masing.
Pagi menjelang tiba di Desa Pejarakan. Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan pergantian waktu. Langit timur mulai memerah, pertanda matahari akan segera terbit menghangatkan seisi bumi.
Arya Pethak bangun dari tempat tidur nya. Usai mengucek matanya, pemuda tampan itu segera menuju sebuah belik yang ada tak jauh dari kediaman rumah Mahesa Parut.
Disamping belik, terdapat sebuah sungai kecil yang berbatu. Airnya sangat jernih. Saat Arya Pethak sampai di sana, beberapa orang wanita tampak sedang mencuci baju mereka. Diantara mereka, ada Setyawati dan dua emban nya.
Kedatangan Arya Pethak membuat heboh para perempuan itu.
"Setyawati,
Itu ya pemuda yang menginap di rumah mu?", tanya seorang perempuan muda yang bertubuh mungil.
"Iya Ken Supi,
Itu pemuda yang datang bersama dengan rombongan tabib yang menolong nyawa ku", jawab Setyawati sambil mengucek baju nya dengan remasan biji klerak yang berbusa.
"Wah tampan sekali. Aku mau jadi istri nya", timpal seorang gadis muda berkulit sawo matang yang ada di sebelah Setyawati.
"Bukan hanya kau, Ginten. Aku juga mau. Pemuda setampan itu mana mungkin ada wanita yang bisa menolaknya", ujar Ken Supi sambil tersenyum tipis.
Setyawati hanya tersenyum mendengar ucapan mereka. Pandangan nya terus melekat pada Arya Pethak yang membasuh wajahnya di belik kecil.
Saat Arya Pethak selesai mencuci muka, pemuda tampan itu segera meninggalkan tempat itu. Setyawati yang masih memiliki sisa cucian, segera mengambil beberapa baju yang sudah selesai dicuci nya. Dengan tergesa dia segera menaruh baju pada keranjang bambu dan buru buru menyusul ke arah Arya Pethak.
Dua emban nya hanya melongo melihat tingkah anak majikannya itu.
"Tunggu aku, Kakang", ucap Setyawati yang setengah berlari menuju ke Arya Pethak.
Pemuda itu segera menoleh ke arah Setyawati.
"Kau mencuci baju, Ndoro Ayu?
Sini biar aku bawakan", ujar Arya Pethak sambil meraih keranjang bambu yang di gendong Setyawati. Putri Mahesa Parut itu hanya tersenyum saja dan membiarkan Arya Pethak memanggul keranjang bambu yang berisi pakaian basah.
Sesampainya di rumah, Arya Pethak meletakkan keranjang bambu di belakang rumah. Setyawati mengikuti langkah Arya Pethak ke belakang.
"Darimana saja kau, Kakang Pethak?", tanya Paramita dengan pandangan cemburu.
"Baru mencuci muka di belik, Paramita.
Memang ada apa?", tanya Arya Pethak segera.
"Eyang akan pulang ke Gunung Kidul, Kakang", jawab Paramita segera.
Mendengar jawaban itu, Arya Pethak segera meletakkan keranjang bambu dan bergegas menuju ke serambi kediaman Lurah Pejarakan.
Begawan Tirta Wening sudah berdiri hendak melangkah pergi saat Arya Pethak datang.
"Kakek tua, kau sudah mau pergi?", tanya Arya Pethak sambil menatap wajah sepuh Begawan Tirta Wening.
"Iya Pethak,
Aku akan pulang ke Gunung Kidul. Tolong kau jaga Paramita untuk ku, Pethak", jawab Begawan Tirta Wening sambil tersenyum simpul.
HAAAAHHHHHHH!!
"Apa maksud mu kakek tua? Aku tidak mengerti", Arya Pethak terlihat kebingungan. Sedangkan Paramita senyum senyum sendiri.
"Paramita ingin berkelana. Akan lebih aman jika dia bersama mu. Anggap saja ini bayaran ku karena sudah menyelamatkan nyawa mu kemarin", ucap Begawan Tirta Wening sambil melangkah menuju kuda nya.
Kakek tua itu segera melompat ke atas kuda nya dan memacunya menuju ke selatan. Arya Pethak hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Dewa Obat dari Selatan itu.
Pagi itu, usai sarapan, Lembu Supa dan anak murid Perguruan Kembang Biru juga berpamitan kepada Mahesa Parut. Arya Pethak pun juga ikut.
Air mata Setyawati langsung jatuh mendengar ucapan selamat tinggal dari Arya Pethak. Putri Mahesa Parut itu segera memberikan sapu tangan merah bersulam gambar bunga mawar untuk Arya Pethak.
"Jika urusan Kakang Pethak di Kadiri sudah selesai, kemari lah Kakang. Aku menanti kedatangan mu", ujar Setyawati sambil berurai air mata.
"Aku pasti kemari jika urusan ku sudah rampung, Setyawati", jawab Arya Pethak sambil mengelus rambut hitam Setyawati.
Arya Pethak segera menyimpan sapu tangan pemberian Setyawati. Pria itu segera melompat ke atas kuda nya. Sebelum berangkat, Arya Pethak menoleh kearah Setyawati lalu memacu kudanya mengejar rombongan Lembu Supa yang sudah lebih dulu berangkat.
Setyawati hanya bisa melihat punggung Arya Pethak yang sebentar kemudian menghilang di tikungan jalan.
"Aku akan menunggumu, Kakang Pethak"
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca 🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
rajes salam lubis
mantap
2023-03-13
2
rajes salam lubis
aahh curang si aki
2022-10-11
1
Elmo Damarkaca
kutunggu kedatanganmu kakang Pethak..🤣
2022-06-07
3