"Apa maksud guru bicara seperti itu?", ujar Kuda Laleyan yang kebingungan mendengar ucapan Dewi Bukit Lanjar. Bukan hanya dia, tapi semua murid Padepokan Bukit Lanjar juga terkejut bukan main.
"Aku sudah terlalu tua, Kuda Laleyan.
Padepokan Bukit Lanjar memerlukan pemimpin muda yang lebih baik. Lebih baik aku menjadi pelindung Padepokan ini saja, yang tidak berurusan langsung dengan dunia persilatan.
Aku ingin kau menggantikan ku sebagai pemimpin padepokan ini, Kuda Laleyan", ucap Dewi Bukit Lanjar dengan penuh keyakinan.
"Tapi guru...", sebelum Kuda Laleyan meneruskan omongan nya, Dewi Bukit Lanjar lebih dulu memotong ucapan nya.
"Selain kau, aku tidak bisa percaya pada orang lain lagi.
Mahesa Ireng tidak secakap kau dalam ilmu Kanuragan, Janeswari terlalu lembut, Walang Biru tidak bisa diandalkan sedangkan Sawitri tidak suka berhubungan dengan banyak orang.
Hanya kau harapan ku satu-satunya untuk memimpin Padepokan Bukit Lanjar ini kedepannya", Dewi Bukit Lanjar menatap ke arah Kuda Laleyan.
Hemmmm
"Baiklah guru,
Kalau itu sudah menjadi keputusan guru, murid hanya bisa menerima", ujar Kuda Laleyan dengan menghela nafas panjang.
Dewi Bukit Lanjar segera berdiri dari tempat duduknya.
"Dengarkan aku, wahai murid Padepokan Bukit Lanjar.
Mulai hari ini, aku bukan lagi pemimpin padepokan ini. Kuda Laleyan lah yang akan meneruskan pucuk pimpinan di Padepokan Bukit Lanjar", ujar Dewi Bukit Lanjar dengan lantang.
Kuda Laleyan segera berdiri dan melangkah ke arah kursi pimpinan Padepokan Bukit Lanjar. Dewi Bukit Lanjar mendudukkan dirinya di kursi pimpinan itu. Lalu menyerahkan sepucuk pedang yang merupakan lambang pemegang kekuasaan tertinggi di Padepokan Bukit Lanjar.
"Kuda Laleyan,
Kuharap kau mampu mempertahankan Padepokan Bukit Lanjar sebagai Padepokan golongan putih terkemuka seperti yang sudah kulakukan. Aku akan menemui seseorang yang menjadi beban pikiran ku selama ini. Aku pergi dulu", ujar Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum.
Perempuan tua itu segera berjalan keluar serambi utama Padepokan Bukit Lanjar. Semua mata menatap langkah wanita tua itu dengan penuh perasaan haru.
Nyi Sawitri segera mengejar langkah wanita tua itu diikuti oleh muridnya, Rara Larasati.
"Guru mau kemana? Ijinkan Sawitri menemani guru selama perjalanan", ujar Nyi Sawitri dengan mata berkaca-kaca.
"Sawitri,
Kau masih sama seperti saat pertama kali mengikuti ku hehehe..
Ada sesuatu yang harus ku kerjakan sebelum aku mati Sawitri, aku akan pergi jauh ke selatan. Menemui adik ipar ku, meminta maaf kepada nya atas kesalahan ku", ujar Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum menatap wajah Nyi Sawitri.
"Sawitri akan menemani guru ke selatan. Sudah menjadi tekad Sawitri untuk mengabdi pada guru", ujar Nyi Sawitri segera.
Dewi Bukit Lanjar menatap wajah Nyi Sawitri, dan kemudian menoleh ke arah Kuda Laleyan yang masih menatapnya.
"Kuda Laleyan,
Aku akan mengajak Sawitri ke selatan. Ku harap kau mengijinkan nya", ucap Dewi Bukit Lanjar dengan lantang.
"Baik Guru,
Laleyan patuh pada perintah Guru", ujar Kuda Laleyan sambil tersenyum tipis. Setidaknya sekarang dia bisa tenang melihat gurunya pergi ada yang menemani.
Tiga wanita beda usia itu segera mempersiapkan perbekalan yang diperlukan, kemudian mereka melangkah meninggalkan Padepokan Bukit Lanjar menuju ke arah selatan.
**
Di lereng Bukit Kahayunan, Arya Pethak yang baru mendapat Ajian Langkah Dewa Angin melesat cepat mengejar dua ekor ayam hutan yang terbang setelah mengetahui kedatangan nya.
Ajian Langkah Dewa Angin benar benar membuat tubuhnya seringan kapas.
Tangan yang dilambari tenaga dalam dengan cepat melempar 2 kerikil kearah kepala ayam hutan itu.
Whuuuuttt
Whuuuuttt
Pletakk!!
Keooggghhh!
Dua ekor ayam hutan itu langsung mati terkena lemparan kerikil yang dilemparkan oleh Arya Pethak. Kepala dua ekor ayam hutan itu nyaris hancur saking kuatnya lemparan Arya Pethak.
Sebelum jatuh ke tanah, Arya Pethak langsung menyambar dua ekor ayam hutan itu.
Whuuussshh
Arya Pethak kemudian mendarat di sebuah cabang pohon randu alas yang besar. Pandangan Arya Pethak terarah pada desa yang ada di kaki Bukit Kahayunan.
"Pethak,
Kau dimana?", suara panggilan itu membuat Arya Pethak segera menoleh kearahnya.
'Romo sedang mencari ku rupanya', batin Arya Pethak sambil tersenyum tipis kemudian melesat cepat kearah sumber suara yang memanggilnya.
"Kau darimana saja?", tanya Mpu Prawira pada Arya Pethak yang baru saja datang sambil menenteng 2 ekor ayam hutan.
"Cari ini Romo. Pethak pengen makan ayam hutan bakar", ujar pemuda tampan itu sembari mendekati Mpu Prawira.
"Serahkan pada biyung mu, Ngger biar dia yang mengurus ayam hutan mu itu.
Lekas lakukan, habis itu kau kemari lagi", perintah Mpu Prawira pada Arya Pethak. Pemuda tampan itu segera mengangguk dan melesat ke arah rumah kediaman mereka.
Tak berapa lama kemudian, Arya Pethak kembali ke hadapan Mpu Prawira.
"Pethak sudah siap Romo", ujar Arya Pethak begitu dia sudah sampai.
"Bagus,
Sekarang kau duduk bersila disini. Atur tenaga dalam mu dan jaga alur nafas mu", perintah Mpu Prawira yang kemudian berdiri di belakang Arya Pethak. Pemuda tampan itu segera duduk bersila di atas tanah.
Tangan Arya Pethak segera menangkup di depan dada. Perlahan dia membuka mata batin nya dan jalan nafas nya. Perlahan tenaga dalam nya tertata dan deru nafasnya menjadi teratur, tanda dia dalam konsentrasi tinggi.
Mpu Prawira segera memejamkan mata sejenak, kemudian pria sepuh itu komat-kamit membaca mantra.
Dari punggung Mpu Prawira, muncul sebuah sinar biru terang yang segera menyelimuti seluruh tangannya.
Dengan cepat, tangan kanan Mpu Prawira di letakkan pada ubun-ubun kepala Arya Pethak.
Sinar biru terang segera menyelimuti seluruh tubuh Arya Pethak.
Srerrrrrrrrrtttttthhhhhh!!
Hawa panas luar biasa seperti menggodok tubuh Arya Pethak. Rasa panas luar biasa seketika membuat tubuh Arya Pethak mengucurkan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
Setelah merasa cukup, Mpu Prawira segera menarik tangan kanannya dari ubun-ubun kepala Arya Pethak. Laki laki sepuh itu segera mengatur nafasnya yang tersengal akibat terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam.
Sementara Arya Pethak sendiri juga nyaris pingsan karena dahsyatnya kekuatan ajian yang baru diturunkan oleh Mpu Prawira kepadanya.
Nafas Arya Pethak terengah-engah. Pemuda tampan itu segera mengatur nafasnya dengan memutar telapak tangan nya dan menaruhnya pada kedua lutut kaki nya.
"Ilmu yang ku turunkan kepada mu ini adalah Ajian Tapak Brajamusti Ngger Cah Bagus..
Ini adalah ilmu penghancur yang luar biasa. Pergunakan sebagai senjata pamungkas jika menghadapi lawan yang berat.
Ini baru dasarnya. Kau harus banyak berlatih untuk mengendalikan nafas dan tenaga dalam mu jika kau ingin menjadi pendekar tangguh", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum tipis.
"Pethak mengerti Romo.
Semakin besar kekuatan yang kita miliki, semakin berat tanggung jawab yang kita hadapi", jawab Arya Pethak sambil menghormat pada Mpu Prawira.
"Bocah pintar...
Aku bangga kepada mu. Sekarang coba kau hancurkan batu besar yang ada disana itu", perintah Mpu Prawira pada Arya Pethak.
Pemuda tampan itu segera memusatkan tenaga dalam nya pada lengan. Segera sinar biru terang melingkupi seluruh tangan Arya Pethak yang menangkup di depan dada.
Arya Pethak segera berlari dan melompat tinggi ke udara sambil menghantamkan tangan kanannya.
Siiiiiuuuuuuutttt
Sinar biru terang melesat cepat kearah batu besar yang ada di dekat tempat mereka berlatih.
Blammmmm!!!
Batu sebesar kerbau meledak hancur berkeping keping akibat hantaman sinar biru terang yang terlontar dari tangan kanan Arya Pethak.
Arya Pethak sendiri kaget melihat kekuatan yang dia miliki. Pemuda tampan itu segera menatap kedua tangan nya lalu kearah batu besar yang hancur.
"Romo,
Aku bisa menghancurkannya", ujar Arya Pethak yang segera berlari menuju ke arah Mpu Prawira.
"Hehehe kau jangan senang dulu Ngger..
Lebih baik kau berlatih mengendalikan kekuatan itu dengan sebaik-baiknya", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum menatap wajah Arya Pethak yang kegirangan karena berhasil menghancurkan batu sebesar kerbau tadi.
Setelah berlatih, mereka kembali ke rumah kediaman Mpu Prawira yang tak jauh dari tempat latihan mereka.
Satu purnama berikutnya.
Arya Pethak sedang asyik mengejar seekor ayam hutan yang kabur saat dia mengincar nya gara gara kakinya tersangkut ranting kering yang menimbulkan suara berisik.
Ayam hutan itu terus terbang menuruni lereng Bukit Kahayunan mendekati desa yang ada disana.
Dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya, gerakan Arya Pethak bahkan mampu mengimbangi kecepatan terbang ayam hutan itu.
Arya Pethak dengan cepat melempar sebuah ranting pohon yang disambarnya sambil mengejar ayam hutan. Ranting pohon melesat cepat kearah sayap ayam hutan.
Creeppp
Keooggghhh!
Ayam hutan itu tetap berusaha untuk kabur, tapi akibat luka di sayap kiri nya burung itu lalu jatuh menimpa kepala seorang gadis muda berbaju hijau yang sedang duduk tak jauh dari dua orang wanita tua.
Bakkkk!
"Aduhhh apa sih ini?", gerutu si gadis muda berbaju hijau yang tak lain adalah Rara Larasati.
Gadis cantik itu mengelus kepalanya yang sakit karena di timpa ayam hutan.
"Ada apa Laras? Kenapa kau mengaduh seperti itu?", tanya Nyi Sawitri yang segera mendekati murid nya itu.
"Aku tidak tahu guru,
Tiba tiba ayam hutan itu jatuh dan menimpa kepala ku", ujar Larasati sambil menatap ke arah ayam hutan yang sudah sekarat. Pandangan nya tertuju bukan pada ayam hutan, tapi pada sebuah ranting pohon yang menancap menembus sayap ayam hutan.
Dari dalam hutan, Arya Pethak celingukan mencari kesana kemari ayam hutan yang diburunya.
"Sepertinya tadi terbang kearah sini, tapi kog tidak ada ya", Arya Pethak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Pandangan Arya Pethak langsung tertuju pada seorang gadis muda yang memegang ayam hutan tak jauh dari tempat nya berhenti. Arya Pethak segera mendekati mereka.
"Hei itu ayam hutan ku", teriak Arya Pethak yang membuat Nyi Sawitri dan Rara Larasati menoleh kearah nya.
"Ohhh jadi kamu yang melempar ayam hutan ini ke kepala ku ya? Hayo ngaku", tuduh Rara Larasati segera.
"Enak saja kau menuduh ku. Aku memburu ayam hutan itu dari atas sana. Dia kabur walau aku sudah melukai tubuhnya. Aku mengejar nya sampai kemari.
Sekarang serahkan ayam hutan itu padaku", Arya Pethak mengulurkan tangannya pada Rara Larasati.
Phuihhhh
"Seenaknya saja main minta. Ayam hutan ini sudah menyakiti ku, sekarang dia jadi milikku", Rara Larasati mendelik tajam ke arah Arya Pethak.
"Tidak bisa!
Aku sudah capek-capek mengejar nya malah mau kau ambil. Cepat serahkan pada ku", Arya Pethak tetap saja meminta ayam hutan itu.
"Kalau tidak ku berikan, kau mau apa?", Rara Larasati tidak juga mau mengalah.
"Dasar perempuan sinting.
Cepat serahkan ayam hutan ku, kalau tidak jangan salahkan aku jika bertindak kasar", ancam Arya Pethak dengan kesal.
"Coba saja kalau kau bisa.
Dasar pemuda aneh", Rara Larasati tidak takut ancaman dari Arya Pethak.
Saat mereka hendak bertarung, Nyi Sawitri segera mendekati mereka.
"Sudah Laras, hentikan!
Kau sudah mendengar penjelasan pemuda ini. Kenapa kau masih keras kepala juga? Apa kau ingin menjadi perampok yang mengambil hak orang lain secara paksa?", tanya Nyi Sawitri pada muridnya itu.
"Tapi guru, ayam hutan itu yang datang padaku. Bukan aku yang mendatangi nya. Menimpa kepala ku pula. Apa aku salah jika mengambil sesuatu yang datang kepada ku guru?", Larasati masih membela diri nya.
"Dengar Laras,
Kau boleh mengambil sesuatu yang kau dapat dari usaha keras mu. Bukan hanya mengharap sesuatu yang datang kepada mu. Ayam hutan itu di kejar susah payah oleh pemuda ini.
Coba kau bayangkan rasanya jadi dia, yang dari tadi mengejar ayam hutan itu, tapi setelah hampir dapat diambil orang?
Apa kau ini bukan perampok namanya?", nasihat Nyi Sawitri langsung membuat Rara Larasati termenung sejenak.
Lalu dengan muka cemberut, Rara Larasati melemparkan ayam hutan itu kearah Arya Pethak.
Whuuuuttt
Shaapp!!
Tangan Arya Pethak dengan cepat menangkap ayam hutan itu. Melihat kecepatan tangan pemuda tampan itu, Nyi Sawitri terkejut bukan main. Dia tahu bahwa Larasati masih dongkol sehingga melempar ayam hutan itu dengan memakai tenaga dalam. Dan pemuda tampan itu tanpa kesulitan menangkap ayam hutan itu dengan cepat.
Mata Nyi Sawitri langsung mengamati pemuda tampan yang ada di depannya itu.
"Nah begitu kan lebih baik.
Terima kasih Nyi, nisanak. Aku permisi dulu", ujar Arya Pethak yang hendak melangkah pergi menuju ke arah kediaman Mpu Prawira.
"Tunggu anak muda.
Aku ingin bertanya kepada mu. Kau sudah mengenal bukit ini tentu kau tahu yang kami cari", ujar Nyi Sawitri yang membuat Arya Pethak menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau cari Nyi? Aku hapal tempat ini", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
"Kami mencari tempat kediaman Mpu Prawira. Katanya dia tinggal di bukit ini", jawab Nyi Sawitri segera.
Mendengar itu, ada sedikit kekhawatiran di mata Arya Pethak. Selama ini tidak ada orang yang datang atau pun berkunjung ke rumah kediaman mereka.
"Memang nya kalian ini siapanya Mpu Prawira?", selidik Arya Pethak sambil memicingkan matanya.
"Kami adalah kawan nya. Sudah lama kami tidak bertemu dengan Mpu Prawira, jadi kami datang mengunjunginya. Kami datang dari jauh di Utara anak muda", jawab Nyi Sawitri yang membuat Arya Pethak merasa kasihan pada mereka.
Dengan senyum jahilnya, Arya Pethak berkata kepada Nyi Sawitri, Dewi Bukit Lanjar dan Rara Larasati.
"Akan ku tunjukkan jalan ke rumah Mpu Prawira,
Kalau kalian bisa mengejar ku"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung kak 🙏😁😁😁🙏
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Yang mau kasih kopi atau bunga author terima dengan senang hati 🤣
Selamat membaca kak 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Sang_Penyendiri
Tapak Brajamusti... Tapak yang digunakan oleh Gatotkaca...
2023-05-23
2
rajes salam lubis
mantap
2022-10-10
1
rajes salam lubis
kurang sopan
2022-10-10
1