Minggu pagi itu terasa aneh bagi Erie. Ia benar-benar tidak yakin bahwa yang di depannya ini adalah suaminya. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti oleh Erie.
Awal cerita ini begini. Tadi sehabis sarapan, Erie ingin membaca di tepi kolam ikan seperti biasanya. Ia membawa banyak buku dari perpustakaan pribadi milik keluarga Alvaro. Dilihat dari tempat penyimpanannya yang khusus, Erie tahu bahwa semua buku itu sangat berharga sehingga ia tidak ingin orang lain membawanya. Sedangkan Dicken, ia diminta oleh Erie untuk membelikan kanvas dan cat. Saat dalam perjalanan pulang dari panti asuhan beberapa hari lalu, Dicken bercerita bahwa ia pandai melukis. Oleh sebab itulah perempuan itu ingin melihat lukisan Dicken.
Semua baik-baik saja pada mulanya. Erie tak menemukan kesulitan dengan membawa tujuh buku di tangannya. Namun sayang, saat Erie membawa buku-buku itu ke taman, kakinya tersandung batu dan membuat ia terjatuh ke dalam kolam ikan. Perempuan itu dengan sigap langsung melempar buku-buku dari tangannya agar tidak ikut terjatuh. Ia tidak mempedulikan dirinya sendiri yang terjebur ke dalam kolam.
Kolam itu memang tidak terlalu dalam. Hanya setinggi dagu Erie. Hanya saja perempuan itu tidak bisa berenang hingga menyebabkan ia yang panik sedikit demi sedikit mulai tenggelam.
Kejadian itu dilihat oleh para penjaga dan pelayan. Secara bersama-sama mereka berniat untuk membantu Erie, namun mereka mengurungkan niat mereka ketika melihat Tuan mereka berada di sana dan bergerak lebih dulu.
Elden baru saja pulang dari pekerjaannya. Ini lebih cepat karena ia hanya pergi untuk memantau sebuah proyek. Ketika Elden keluar dari mobilnya, ia yang melihat kejadian terjatuhnya Erie langsung bergerak untuk menyelamatkan Erie. Tanpa berpikir panjang, Elden menjeburkan dirinya ke dalam kolam dan menarik tangan Erie. Lalu ia membawa Erie ke tepi kolam. Erie tergolek lemas. Seluruh bajunya basah. Elden berlutut mengangkat tubuh Erie dan menyenderkannya di tubuhnya.
Beruntung Erie tidak mengalami kondisi serius. Hanya lemas saja. Buku-buku yang dibawa Erie juga berhasil diselamatkannya sehingga tidak ada buku yang basah karena terjatuh ke kolam.
Dengan sigap Elden membawa Erie dan menggendongnya ala bridal style. Semua pelayan dan penjaga yang menyaksikan kejadian itu terkejut melihat perlakuan tuan mereka. Karena biasanya, Elden tidak akan mau repot-repot menyelamatkan orang lain. Jika memang berniat membantu orang lain, ia lebih memilih memerintahkan salah satu dari mereka untuk melakukannya.
"Ambilkan handuk! Cepat!!!" perintah Elden kepada salah satu pelayan yang berdiri didekat mereka. Elden membawa istrinya itu ke dalam rumah. Kemudian ia mendudukan Erie ke sofa yang ada di sana. Ia tidak mempedulikan segala hal yang ada di sana menjadi basah. Bahkan ia juga tidak peduli sofanya akan basah dan kotor meskipun sofa itu adalah salah satu barang langka di dunia ini karena ia mendapatkannya langsung dari presiden. Bahannya juga terbuat dari kulit binatang kesayangan pemimpin negeri itu.
"Tuan, ini handuk yang Anda minta," kata seorang pelayan sambil memberikan dua handuk ke Elden.
Elden mengambil handuk tersebut, meletakkannya ke kepalanya dan meletakkannya ke kepala Erie. Tidak sampai di situ, ketika Erie ingin beranjak dari sofa, Elden melarangnya.
"Tunggu! Kakimu sedang terluka," ucap Elden sembari menarik tangan Erie dan mendudukkan perempuan itu kembali. "Cepat ambilkan kotak P3K!" perintahnya lagi.
Setelah kotak itu datang, Elden meletakkannya di atas meja kaca yang berada di dekat mereka. Elden kemudian berjongkok di depan Erie. Dengan perlahan dan penuh perhatian, Elden membersihkan luka yang cukup besar di lutut Erie. Luka yang perempuan itu dapatkan akibat terantuk batu pinggiran kolam.
"Awww!!!" jerit Erie ketika Elden mengoleskan antiseptik di atas lututnya.
"Apakah cukup menyakitkan?" tanya Elden dengan mimik wajah khawatir. Ia meniup luka Erie secara perlahan.
DEG DEG DEG
Erie merasakan debaran jantungnya. Ia belum pernah melihat Elden sekhawatir ini kepadanya.
"Ti..tidak.. Hanya sedikit perih," jawabnya gugup.
"Tahanlah sebentar. Jika tidak dibersihkan, lukamu akan semakin parah." Elden melanjutkan mengoleskan antiseptik itu ke luka Erie. "Kenapa kau bisa terjatuh, heemm?" kata Elden sambil memandang wajah Erie.
Tatapan mata Elden itu membuat Erie gugup. Ia merasakan wajahnya mulai memanas. "Aa..kuu ter..tersandung batu." Erie memalingkan wajahnya. Ia menahan gejolak dalam dadanya. Ia berusaha kuat menjauhkan diri dari pesona Elden. Ia benar-benar tidak sanggup melihat laki-laki itu.
"Kau selalu membuatku khawatir," ucap Elden. Ia menempelkan plester luka ke lutut Erie sebagai pengobatan terakhirnya.
Sekejap Erie tertegun. Apa? Elden khawatir? Bagaimana ia bisa mengkhawatirkannya? Pertanyaan itu berkecamuk di dalam benaknya. Ia sungguh terkejut dengan perlakuan dan perkataan Elden. Perempuan itu merasa saat ini pipinya mulai memerah.
"Kenapa kau tidak menyuruh pelayan untuk membawa buku-buku itu?" tanya Elden sambil membereskan obat-obatan dan memasukkannya ke dalam kotak.
"Buku itu sangat berharga bagimu. Aku tidak ingin buku itu dibawa orang lain."
Elden menghentikan aktivitasnya. Ia menatap wajah istrinya. "Dari mana kau tahu buku itu berharga bagiku?"
Erie memalingkan wajahnya lagi. Entah mengapa setiap kali beradu pandang dengan pria itu, jantungnya selalu berdebar kencang.
"Karena kau meletakkannya di rak khusus. Jadi aku pikir itu pasti berharga. Itu berharga bukan?" kata Erie dengan suara ragu. Ia menanyakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, sesuatu milik Elden yang tidak ada yang berani mempertanyakan.
Elden menghela napas. Ia terlihat kecewa dengan jawaban Erie. "Kau tahu itu berharga. Jangan lakukan hal ini lagi! Kau paham, heeemm?"
"Ma..maafkan aku." Erie menjawab cepat. Jika seperti ini terus ia tidak akan sehat. Jantungnya akan terus menerus berdebar dan memberikan rasa tak nyaman pada Erie.
Elden memberikan kotak obat itu kepada pelayan untuk disimpan. Ia duduk di samping Erie. Ia membuka jasnya yang basah dan menyerahkannya pada pelayan yang lain.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa? Maafkan saya Nyonya, saya seharusnya lebih cepat datang untuk membantu Anda," kata Dicken sambil menunjukkan rasa bersalahnya.
"Tidak apa-apa Dicken. Aku yang ceroboh," ucap Erie menenangkan pengawal pribadinya itu. Setelah itu ia berdiri dari sofa. Saat ia hendak berjalan, ia merasakan kakinya sangat perih.
Melihat hal itu, Dicken dengan cepat berkata, "Anda baik-baik saja, Nyonya? Saya akan membantu Anda kembali ke kamar Anda." Dicken berjalan mendekati Erie.
"Tidak perlu!" kata Elden menghentikan langkah Dicken. "Kau bereskan saja buku-buku yang ada di luar dan antarkan ke kamarnya."
Dicken menggangguk mendengar perintah Elden. "Baik Tuan," ucap lelaki itu sambil menunduk hormat. Ia berjalan ke luar dan mulai memunguti buku-buku yang berceceran akibat insiden tadi.
"Aku akan mengantarkanmu," ujar Elden kepada istrinya. Ia beranjak dari sofa untuk mendekati Erie.
"Ti..tidak usah. Aku bisa berjalan sendiri." Erie menolak. Ia mencoba berjalan sendiri, tapi ia merasakan lagi sakit di lututnya.
"Kau sangat keras kepala!" Tanpa aba-aba Elden langsung menggendong Erie sama seperti saat Elden menggendongnya tadi. Kemudian ia membawa Erie menuju kamar wanita itu. Ia mendudukan Erie di sofa yang ada di kamar itu.
"Ganti pakaianmu dan istirahatlah!" kata Elden sambil meninggalkan kamar Erie. Meninggalkan Erie dalam keterkejutan dan debaran jantung yang tidak mau berhenti sampai beberapa saat.
Saat hendak berjalan ke kamarnya, Elden melihat Dicken yang sedang membawa buku-buku ke kamar Erie. Elden menghentikan pria yang hendak mengetuk pintu kamar Erie itu. "Tunggu! Bawa saja ke dalam ruangan kerjaku. Nanti aku yang akan mengantarkannya."
"Baik Tuan," ujar Dicken patuh. Ia berjalan ke ruang kerja sedangkan Elden beranjak ke kamarnya.
Elden tak ingin berlama-lama dengan pakaian basah dan kotor yang melekat di tubuhnya. Ia langsung masuk ke dalam ke kamar mandi. Di sana terdapat sebuah cermin besar. Pria itu menatap bayangan tubuhnya yang basah dan kotor pada cermin itu.
Coba lihat dirinya sekarang? Citra perfeksionis yang selalu melekat padanya kini pudar begitu saja. Yang terlihat hanya seorang pria yang rela membuat dirinya basah dan kotor hanya untuk menyelamatkan seorang wanita. Elden tersenyum menyeringai. Dirinya dalam bayangan itu masih sama dengan dirinya yang dahulu. Tak berubah sama sekali meskipun dunia yang kejam sudah menekannya untuk berubah.
Elden menanggalkan seluruh pakaiannya. Ia menghidupkan shower dan menikmati air yang membawa kotoran-kotoran kolam pada tubuhnya. Pria itu menghabiskan beberapa waktu untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah memastikan tubuhnya telah bersih dan pakaiannya sudah rapi, Elden pergi ke ruangan kerjanya. Ia melihat setumpuk buku yang ada di atas meja. Buku-buku itu memang buku-buku yang langka karena merupakan terbitan pertama yang edisinya sangat terbatas. Dan juga penulisnya sendirilah yang menyerahkannya kepada Elden sebagai cindera mata atau ucapan terima kasih maupun apresiasi mereka kepada pria itu.
Elden memang terkenal kejam sebagai pribadi, tapi sebagai seorang pengusaha ia harus pintar memainkan peran. Jika memang ia tidak bisa bekerja sama dengan para pengusaha lain bahkan bermusuhan dengan mereka, Elden akan memilih menjalin hubungan dengan penguasa dan para tokoh terkenal. Jika semua orang yang menjadi opinion leader sudah bisa ia jinakkan, maka para pengusaha pecundang itu tak akan berkutik. Elden juga memakai segala cara untuk memastikan semua berjalan sesuai keinginannya. Tapi ini semua bukan Elden yang memulai. Cara licik dan picik itu sudah diterapkan oleh ayahnya. Elden hanya mengikuti alur yang sudah ditentukan.
Elden duduk di atas kursi kebesarannya. Ia mengambil salah satu buku yang berada di tengah-tengah tumpukan. Buku bersampul hitam itu merupakan sebuah buku tentang kiat-kiat menaklukan dunia yang ditulis oleh salah seorang pengusaha terkemuka dunia. Hanya saja ada yang istimewa bagi Elden. Pria itu membuka sampul bukunya dan menemukan sebuah foto yang ia tempelkan pada halaman pertama buku itu.
"Rupanya kau masih tidak mengingatnya," ucap Elden sedih. Semua kenangan itu hanya dirinya saja yang mengingatnya. Itu sangat tidak adil. Ia menyentuh foto itu dan mengelusnya. Foto seorang anak kecil yang berhasil diambil secara diam-diam olehnya dahulu.
XXXXX
Beberapa hari setelah kejadian di hari minggu itu, Erie jarang melihat Elden di dalam rumah. Pria itu berangkat lebih pagi dan pulang larut malam. Bahkan pernah dua hari Elden tidak pulang. Oleh sebab itulah, Erie mempunyai kebiasaan baru setiap pagi ketika ia berada di ruang makan untuk menyantap sarapannya, yakni menanyakan keberadaan Elden kepada Marline.
Anehnya hanya Elden saja yang tidak terlihat karena Erie sering melihat Mario berlalu lalang di rumah itu setiap hari. Dan setiap pria itu menyapa Erie, perempuan itu juga menanyakan keberadaan Elden. Tapi sama halnya dengan jawaban Marline, Mario juga menjawab bahwa Elden sedang lembur, sedang memantau pabrik perkebunan, sedang kunjungan ke luar negeri atau ke luar kota, atau mengatakan bahwa Elden sedang sibuk mengurus masalah yang ada di perusahaannya sehingga tidak bisa pulang. Intinya kedua orang itu dan seluruh orang di rumah itu mengatakan hal yang sama. Bahkan Dicken, pengawal pribadi yang sudah Erie anggap sebagai teman juga melakukan hal seperti itu.
Tapi dibalik itu yang terjadi adalah Elden kini berada di dalam suatu tempat. Di sebuah ruangan yang terdapat beberapa komputer dan sebuah layar besar. Ia tidak sendirian di sana. Beberapa orang ahli teknologi informasi juga berada di ruang yang mereka sebut sebagai ruang informasi.
Elden melakukan hal itu karena orang yang mereka tangkap beberapa minggu lalu berhasil kabur dari penjara bawah tanah di rumahnya. Baik Mario maupun orang lain di organisasi belum sempat mengintrogasi orang itu. Yang membuat Elden marah besar adalah orang itu berhasil kabur dari tempat dengan pengamanan nomor wahid di negeri ini. Ada dua kemungkinan, pertama sistem keamanan dengan basis teknologi yang ia punya saat ini memang sudah gampang diretas, atau kedua, ada seorang penghianat di antara mereka.
Itulah sebabnya Elden langsung turun tangan untuk memeriksanya sendiri. Ia tak percaya bahwa ada penghianat di dalam organisasinya. Ia sendiri yang ikut menyisihkan dan memilih mereka. Lagi pula sudah bertahun-tahun mereka mengabdikan diri kepada Elden dan tidak ada tanda-tanda penghianatan yang terlihat. Jadi Elden lebih meyakini kemungkinan pertamalah yang terjadi.
Berhari-hari Elden habiskan untuk menyelidiki sistem keamanan miliknya. Ia menunjuk orang-orang terbaik miliknya untuk menangani masalah ini. Ia juga sudah menyuruh beberapa orang kepercayaannya yang ia tempatkan sebagai pemimpin anak perusahaannya, untuk melakukan penyelidikan di wilayah mereka masing-masing. Dalam artian, Elden sudah mengerahkan hampir semua anggota organisasi untuk menginvestigasi kasus ini secara besar-besaran.
Ketika Elden memfokuskan diri dalam penyelidikan, ia menugaskan Mario untuk menggantikannya sebagai pemimpin perusahaan. Jika di dalam organisasi Elden tidak percaya adanya penghianatan, namun ini tidak berlaku di dalam perusahaan. Ia justu mencurigai adanya penyusup yang masuk di antara para pemegang saham. Untuk itulah Elden memerintahkan Mario menggantikannya agar pria itu bisa mendeteksi pergerakan dewan direksi dengan lebih leluasa.
Mario adalah bawahan satu-satunya yang Elden percayai lebih dari siapapun di dalam dunia ini. Sejak kecil Elden tumbuh dan besar bersama pria itu. Semua harta dan asetnya juga dikelolanya bersama dengan Mario.
Sedangkan Mario, ia telah bersumpah demi nyawanya untuk setia kepada Elden dan tidak ada yang meragukan sumpah itu. Mario juga orang yang handal dan unggul di dalam organisasi, tidak hanya dalam ilmu bela diri tapi juga dalam hal kecerdikan dan ketelitian. Ia bisa melihat hal lain yang tidak bisa dilihat oleh Elden. Itulah sebabnya Mario menjadi pemimpin yang mewakili Elden di dalam organisasi.
Jadi siapa orang itu? Siapa otak dari pesan berantai yang disampaikan kepada Elden? Mengapa ia begitu berani ketika hampir semua penguasa dan pesohor negeri tunduk kepadanya? Secanggih apa orang itu dan seberapa besar kekuasaannya? Elden benar-benar ingin memburu dan bertemu orang itu secara langsung.
*XXXXX
Masih #dirumahaja kan??? Untuk menemani teman-teman, aku akan update sesering mungkin deh... So, jangan lupa kasih dukungan melalui like dan comment*..
Ingat ya, jaga kesehatan, sering cuci tangan, jangan ke tempat ramai!!!
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
kemungkinan Dicken kakaknya Erie yg terpisah, , dan Elden pangerannya Erie diwaktu kecil
2022-11-20
1
Evi Purvitasari
hadeuhhh....terlalu berbelit2
2022-11-16
0
Rieenee
heeem... elden cemburu yaa sama dicken
2022-11-12
0