Squabbling

Sepeninggalan Erie dari kamarnya, Elden beranjak ke ruang kerjanya. Ia memanggil Marline melalui sambungan telepon dan kini wanita tua itu sudah berada di ruang kerja Elden yang berada di samping kamar pria itu.

"Bagaimana dengan keadaan seminggu ini Marline?" kata Elden bertanya tentang situasi rumah dan para pelayan.

"Tuan, semua pelayan sudah melakukan seperti yang Anda perintahkan. Beberapa penjaga juga sudah diganti dengan orang baru. Biaya kebutuhan rumah dan gaji para pelayan dan penjaga sudah saya kirimkan rinciannya kepada Mario."

"Baguslah. Bagaimana dengan Erie?"

"Nyonya hanya menghabiskan waktu untuk berkeliling rumah dan membaca buku di perpustakaan."

Elden menatap Marline. Matanya menelisik wajah wanita tua yang telah mengurusnya selama beberapa tahun itu.

"Itu saja? Dia tidak membuat masalah?"

"Iya, Tuan," jawab Marline dengan wajah menunduk.

Elden mengerti gelagat yang ditunjukkan oleh Marline. Pria itu menegakkan tubuhnya dari sandaran kursinya. Ia masih menatap Marline dengan tajam.

"Marline, kau tahu aku tidak suka kebohongan," ujarnya tegas.

Marline mengangkat kepalanya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Elden. Tapi ia juga merasa sedikit iba dengan Erie.

Marline menghembuskan napasnya dan pasrah. "Tuan, Nyonya tadi tersesat di halaman belakang dan kami menemukan Nyonya di dekat perkebunan."

Tubuh Elden tiba-tiba menegang mendengar perkataan Marline. Ia memegang pelipisnya sebentar. "Tersesat? Kenapa kau tidak menemaninya? Kau tahu kan apa yang ada di perkebunan?"

"Maafkan kelalaian saya Tuan. Tadi saya menyiapkan cemilan untuk Nyonya sehingga pengawasan saya terlepas dari beliau."

"Apakah pelayan di rumah ini hanya kau, Marline? Apakah aku perlu memecat semua pelayan tidak becus itu?"

Marline tersentak. Ia segera menunduk dan memohon kepada Elden. "Ampuni kami, Tuan. Saya berjanji kejadian ini tidak akan terjadi lagi."

"Baiklah. Aku memegang perkataanmu. Sekarang pergilah."

"Baik, Tuan."

Setelah melihat Marline pergi dari ruangannya, Elden memanggil Mario untuk menghadap kepadanya. Sambil menunggu, Elden membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan beberapa pucuk surat yang ada di sana. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah.

Selang lima menit, Mario masuk ke dalam ruang kerja Elden. Ia sedikit kaget melihat ekspresi Elden yang terlihat seperti memendam amarah.

"Tuan," ucap Mario setibanya di depan meja Elden.

Elden mengangkat wajahnya untuk melihat Mario. "Duduklah Mario," ujar pria itu kepada Mario. Elden memang selalu memperlakukan Mario dengan istimewa. Tidak sekedar sebagai sekretaris dan penjaga pribadinya, tapi juga sebagai seorang teman.

Mario duduk di depan Elden yang wajahnya tampak gusar dan marah. "Ada apa, Tuan?"

Elden menyerahkan sebuah kotak bersegel yang tadi dibawa oleh Erie. Mario terkejut melihatnya. "Lagi? Kapan Anda menerimanya?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya mendapakannya dari petugas resepsionis. Kau periksa isinya dan laporkan kepadaku segera."

Mario mengangguk. "Baik Tuan. Apakah kali ini dia meninggalkan surat?"

Elden menggeleng. "Hanya itu saja, atau mungkin suratnya ada di dalam. Kau periksa baik-baik."

"Baik Tuan."

"Bagaimana hasil penyelidikan barang minggu lalu? Apakah sudah ada informasi lebih lanjut?"

"Tidak ada Tuan. Bahkan kurir yang mengantarnya tewas beberapa hari yang lalu."

Elden mengetuk-ngetuk jemari tangannya di atas meja tanda bahwa ia sedang berpikir keras. "Bagaimana mungkin kurir itu mati?"

"Mungkin karena dia nyaris tertangkap oleh kita, Tuan."

"Jadi seperti itu caranya menutup mulut orang itu."

"Benar, Tuan."

"Kau harus segera mencari tahu tentang semua informasi mengenai orang itu Mario, jika perlu kau bisa mengerahkan beberapa orang terbaik di organisasi."

"Baik Tuan. Akan saya laksanakan perintah Anda."

"Satu lagi Mario, carikan seorang bodyguard untuk Erie."

"Baik Tuan. Saya akan mencari yang terbaik dari organisasi untuk Nyonya."

"Lakukan dengan cepat Mario."

"Tentu Tuan."

"Baiklah. Kau boleh pergi."

Mario menunduk hormat sebelum ia meninggalkan Elden. Sambil menghubungi seseorang, Mario membawa kotak tersegel itu ke suatu tempat. Sedangkan Elden kembali ke dalam kamarnya. Di sana ia merogoh salah satu saku celananya dan meletakkan sebuah benda ke dalam lemari, tempat di mana ia menyimpan berbagai macam beda berharga dan rahasia miliknya. Setelah itu Elden beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian pergi tidur.

XXXXX

Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Namun, rasa dahaga membuat Erie terpaksa terbangun dari mimpinya. Perempuan itu membuka matanya dan melihat gelas yang ada di atas nakas telah kandas. Tak ada setetes air pun terisi di sana. Erie mengayunkan kakinya turun dari ranjang. Ia berpikir bahwa ia harus turun ke bawah jadi ia langsung mengganti baju tidurnya dengan baju santai yang ada di lemari. Setelah itu, dengan langkah gontai, perempuan itu berjalan menuju ruang makan.

Ketika meneguk segelas air mineral yang ada di ruang makan, tiba-tiba telinga Erie menangkap sesuatu yang gaduh.

"Bagaimana ini?"

"Aku tidak tahu, kenapa ia bisa tiba-tiba sakit?" Kata beberapa beberapa pelayan yang sedang berkumpul di dapur. Erie yang penasaran mulai berjalan menuju dapur.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Erie mengagetkan semua pelayan yang ada di sana.

"Maafkan kami Nyonya. Kami sudah mengganggu istirahat Anda." Salah seorang menjawab pertanyaan Erie. "Apakah ada yang Anda butuhkan Nyonya?" kata salah satu pelayan yang ada di sana.

"Tidak ada. Aku hanya kebetulan ingin minum. Kalian belum menjawab kenapa kalian berkumpul di sini?"

"Maafkan kami Nyonya. Tapi kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami perbuat," jawab pelayan lain.

"Apa yang terjadi?"

Salah seorang pelayan tertunduk dan memberanikan diri untuk berbicara kepada Erie. Begini Nyonya. "Tadi malam, setelah kembali dari kamar Tuan, Marline tiba-tiba sakit."

"Apakah kalian sudah membawanya ke rumah sakit?"

"Dokter sudah memeriksanya Nyonya." "Sekarang ia hanya butuh istirahat."

"Syukurlah. Lalu, apa kenapa kalian masih gelisah?"

"Kami gelisah karena kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat, Nyonya. Selama ini hanya Marline lah yang diperbolehkan Tuan Elden untuk menyiapkan makanan beliau."

"Apakah hal ini pernah terjadi?"

"Pernah Nyonya. Tapi saat itu, Nyonya Alvaro kebetulan sedang berada di rumah ini. Jadi, beliau lah yang menyiapkan hidangan untuk Tuan Elden. Selain itu, tidak ada lagi Nyonya. Karena Marline adalah wanita yang selalu menjaga kesehatannya."

Erie berpikir sejenak. "Hemm.. Apakah kalian tahu masakan apa saja yang biasa disiapkan Marline?"

"Tidak Nyonya. Hanya Marline dan koki yang sering membantunya lah yang mengetahui resepnya," sambung pelayan itu lagi.

"Kalau begitu, panggil koki itu sekarang."

"Baik Nyonya." Salah seorang dari para pelayan berjalan cepat menuju ke pintu belakang dapur.

Beberapa menit kemudian, seorang koki yang tadi disebutkan pun datang menghadap Erie. "Selamat pagi, Nyonya. Apakah Anda memanggil saya, Nyonya?" katanya pada Erie.

"Iya aku memanggilmu." Erie mendekati koki laki-laki itu. "Apakah kau tahu resep masakan yang sering Marline buat untuk Elden?"

"Tentu Nyonya. Saya selalu membantu Marline memasaknya untuk Tuan."

"Bagus! Sekarang kau bantu aku memasak."

"Tapi Nyonya, saya tidak berani menyiapkannya tanpa Marline."

"Jadi kau bermaksud untuk tidak menyiapkan sarapan Tuanmu?"

"Ampun, Nyonya. Saya mana berani untuk berpikir seperti itu."

"Benar, makanya kau harus membantu aku menyiapkan sarapannya sebelum Elden bangun."

"Baik, Nyonya," kata sang koki mengiyakan perkataan Erie.

Sekarang Erie dan sang koki sedang berkutat dengan alat-alat dan bahan-bahan di dapur. Erie mulai sibuk dengan pekerjaannya dan dengan teliti ia mengikuti arahan dari koki tersebut. Erie mengiris-iris bawang, mengaduk-aduk tepung, memotong-motong daging segar dan merebusnya. Setelah beberapa saat, satu persatu bahan-bahan mentah yang ada di dapur itu diolahnya menjadi berbagai macam masakan berkelas yang lezat. Bahkan koki dan para pelayan pun kaget karena jarang sekali mereka menjumpai perempuan kaya yang pandai memasak. Biasanya mereka dengan sombongnya akan menyuruh pelayan untuk pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, daripada berurusan dengan dapur yang mereka anggap sebagai tempat yang kotor.

Dengan dibantu oleh pelayannya, Erie membawa makanan yang telah ia masak ke ruang makan. Baiklah. Semuanya sudah siap! seru Erie sembari meletakan piring terakhir yang berisi makanan di atas meja makan.

"Anda sangat hebat, Nyonya," kata koki yang tadi membantu Erie sambil menyusun hidangan mereka di atas meja.

Erie tersenyum, "Aku hanya mengikuti resepmu."

"Tidak Nyonya. Tidak semua orang yang membaca resep itu bisa menerapkannya dengan baik seperti Nyonya."

"Terima kasih. Kau terlalu menemujiku. Dulu aku selalu memasak untuk bibiku. Jadi aku sudah terbiasa."

"Saya harap Tuan Elden akan menyukainya, Nyonya."

"Ya, semoga saja," jawab Erie pelan.

Erie duduk di atas meja makannya. Ia mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata Elden sedang berjalan ke ruangan itu. Pria itu terlihat tampan dengan jas biru tua, berbeda dengan dua hari ini ketika pria itu selalu memakai jas hitam kebanggaannya. Sejenak Erie membeku saat matanya beradu dengan mata hazel pria tampan itu.

"Kau yang menyiapkan makanan ini?" kata Elden tanpa basa-basi kepada Erie.

"Iya," jawab Erie dengan semangat.

PRAAANGG

Tiba-tiba Elden melemparkan gelas di depan Erie. Membuat semua orang yang berada di rumah itu terkejut atas perbuatannya, termasuk Erie. Perempuan itu seketika menutup kedua telinganya dengan tangannya.

"Kenapa kau melakukan ini, HAAA?" bentak Elden di hadapan Erie.

Erie menurunkan tangannya. "Aaa.. ap..a maksudmu?" katanya tergagap.

"Kenapa kau yang menyiapkan sarapan?!!!"

"Memang apa salahnya?"

"Kau mau tahu apa salahnya? Ini salah karena kamu yang menyiapkannya!!! PANGGIL MARLINE KEMARI!!!" kata Elden dengan suara yang meninggi.

Salah seorang pelayan yang mendengar kalimat perintah itu langsung membawa Marline yang sedang sakit kehadapan Elden.

PRAAANNGGG

Elden kembali membanting piring ke lantai. Kali ini ia melemparkannya di depan Marline.

"Tu.. Tuan, ma..af maafkan saya," kata Marline dengan tubuh yang gemetar. Ia menunduk untuk memohon ampun di depan tuannya. Ia sudah tahu duduk permasalahannya dari pelayan yang menjemputnya tadi.

"Marline, kau tahu kan aku tidak menyukai orang asing menyampuri urusanku!"

"Sa.. saya tahu Tuan."

"Lalu, kenapa kau membiarkan wanita ini menyiapkan sarapan, HHAAA?"

Erie yang melihat perlakuan Elden kepada Marline merasa tak terima. Ada amarah yang mendidih ketika ia tahu ada ketidakadilan di depannya. Ia seperti melihat masa lalunya dulu di rumah Bibi Betty. Erie angkat suara. "Berhenti membentaknya! Marline sedang sakit! Kau tahu!"

Erie mendekati Marline. Ia tahu bahwa wanita itu sangat takut dengan Elden.

"Berhenti membelanya!!!! Apa kau tidak tahu posisimu di rumah ini?" ucap Elden sembari menatap Erie dengan tajam.

"Apa kau juga pantas melakukan ini?" kata Erie tak ragu membalas ucapan dan tatapan Elden.

"Mereka adalah pelayanku!!! Aku bisa melakukan apa pun kepadanya, kau dengar?!!!"

Erie tersentak. Entah kenapa keberaniannya yang tadi melingkupinya tiba-tiba saja lenyap ketika melihat Elden berjalan menuju ke arahnya. Perempuan yang tadi berani membalas Elden, kini hanya bisa menundukkan kepalanya dan menampilkan wajah yang pucat pasi.

"Ingat hal ini! Kau adalah Nyonya di rumah ini! Kau tidak boleh melakukan pekerjaan mereka! Kau mengerti?!" Elden menggeram ketika tak mendengar jawaban dari Erie. Ia memegang dagu Erie untuk melihat wajah perempuan yang tertunduk itu. "Jawab aku!"

Erie melihat mata Elden. Badannya memang gemetar kecil karena takut, tapi matanya masih memancarkan aura kemarahan. "Aku akan mengingat perkataanmu jika kau memaafkan Marline," ucap Erie lantang.

Elden menyeringai. Sudut bibirnya yang terangkat itu terlihat begitu menyeramkan di mata Erie. "Jadi kau berani bernegosiasi denganku?" kata pria itu masih dengan mengangkat dagu Erie.

"Anggap saja begitu."

"Baiklah." Elden melepaskan tangannya dari wajah Erie. Ia mengalihkan pandangannya ke Marline.

"Marline! Kali ini kau kumaafkan! Tapi jika kau melakukan kesalahan lagi, kau pasti tahu apa akibatnya!"

"Ba..baik, Tuan," jawab Marline.

"Dan kau!!! Jika kau melakukan pekerjaan mereka, aku tidak akan segan-segan memecat mereka semua!!!"

Elden menatap tubuh gemetar Erie. Perempuan itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya meskipun amarahnya tadi terlihat begitu jelas dari wajahnya.

"Aaarrrggghhhh!!!! Kau sungguh membuatku muak!" kata Elden lagi sambil meninggalkan rumah itu.

Setelah kepergian Elden, Marline mendekat dan memperhatikan Erie dengan lekat. Perempuan itu melangkah mundur dengan tubuh gemetaran hebat. Ia bahkan memegang tangan Marline yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh. Ia tengah ketakutan saat ini.

"Nyonya!" Marline berseru. Ia khawatir melihat keringat yang menetes dari pelipis majikannya itu. "Nyonya, Anda tidak apa-apa?"

Telinga Erie tak mampu menangkap kalimat yang dilontarkan Marline. Rasanya, Erie tak mampu mendengar apa pun sekarang karena terlalu terkejut. Marline langsung menuntun Erie untuk duduk di salah satu kursi. Ia memberikan segelas air mineral kepada Erie.

"Terima kasih Marline. Aku sudah lebih baik sekarang."

Marline mengambil gelas dari tangan Erie dan meletakkannya di atas meja. "Syukurlah, Nyonya."

"Marline, apakah Elden selalu bersikap seperti itu?"

"Tuan Elden memang mempunyai jiwa yang keras Nyonya. Tapi itu memang kesalahan saya."

"Tapi menurutku kau tidak melakukan hal yang salah. Jika dia memang tak suka aku menyiapkan makanan untuknya, seharusnya dia tidak membentak seperti itu."

"Terima kasih sudah membela saya, Nyonya. Tapi jika saya boleh meminta, sebaiknya Anda tidak melanggar lagi perintah dari Tuan."

Erie menghembuskan napasnya. "Baiklah," ucapnya. Di dalam pikirannya penuh dengan berbagai macam pertanyaan. Apakah Elden memang seperti itu tabiatnya? Bukankah itu sama dengan hidup Erie yang dulu? Tapi Erie merasa sedikit berbeda antara menghadapi Elden dan Bibi Betty. Ia seperti memiliki keberanian untuk melawan Elden meskipun ketakutan melingkupinya.

**XXXX

Jangan lupa dukung penulis dgn memberikan like atau comment...

Dan jangan lupa juga untuk terus menjaga kesehatan dan sering cuci tangan serta menjauhi tempat ramai...

Danke ♥️

By: Mei Shin Manalu**

Terpopuler

Comments

Nurma sari Sari

Nurma sari Sari

kasihan baru keluar dari sarang Mak lampir Betty Lapea, masuk ke sarang Sri gala

2022-11-20

0

💕febhy ajah💕

💕febhy ajah💕

novel seperti ini nyesel klau di anngurin

2022-04-04

0

Ita Widya ᵇᵃˢᵉ

Ita Widya ᵇᵃˢᵉ

nangis Bombay kalo aku di bentak gitu,,apalagi di bilang orang asing..😭😭

2022-03-20

0

lihat semua
Episodes
1 Time in The Past
2 Harassment
3 Shocked
4 The Day
5 The New Home
6 He is Angry
7 Squabbling
8 My Bodyguard
9 My Friend
10 Back To My Orphanage
11 I am Blushing
12 His Woman
13 Broken Heart
14 Tulpe
15 Nightmare
16 Go or Not?
17 Who is His Wife?
18 His Dominion
19 The Reason
20 Hate You
21 Meet An Old Friend
22 The Mockery
23 He Comes
24 Party Invitations
25 Tragedy
26 Afraid
27 Hell
28 Your Secretary
29 Is It Possible?
30 Whats Wrong With Me?
31 Sorry
32 Losing Him
33 Wrecked
34 Devil Man
35 Jealous?
36 The Truth
37 Misterious Man
38 Misterious Man (Part 2)
39 Pregnant
40 I Want To Kiss You
41 Don’t Tell Him
42 Separate
43 Separate (Part 2)
44 Looking For You
45 Mine
46 To Save You
47 Temptation
48 Be Myself
49 To Be Good
50 Wonderful Place
51 Wonderful Place (Part 2)
52 Wonderful Place (Part 3)
53 Is it A Wonderful Place?
54 Happy Birthday
55 Brother In Law
56 Brother In Law (Part 2)
57 A Clue
58 My Special Chef
59 The Truth (Part 2)
60 Distortion
61 Traumatic
62 Comeback Home
63 Jessica Felora
64 Jessica Felora (Part 2)
65 In His Care
66 Craving
67 Date
68 Anniversary
69 He Changes
70 Why?
71 Mess Up
72 Divorce?
73 Try To Believe
74 Memory
75 Memory (Part 2)
76 Memory (Part 3)
77 You’re Back
78 Together
79 Because of You
80 Our Love
81 I’m Not Evil
82 I’m Not Evil (Part 2)
83 I’m Not Evil (Part 3)
84 I’m Not Evil (Part 4)
85 Everything For You
86 Dream
87 My Lovely Husband
88 First Time
89 Please
90 Just A Gift
91 Must Go
92 Leave
93 Where Are You?
94 She Knew
95 She Knew (part 2)
96 A Box
97 Puzzle
98 Find Out
99 Find Out (Part 2)
100 Meet Him
101 Misunderstand
102 Misunderstand (part 2)
103 Misunderstand (Part 3)
104 The Dark Side of Him
105 The Dark Side of Him (Part 2)
106 The Dark Side of Him (Part 3)
107 Sacrifice
108 Sacrifice (part 2)
109 Crazy About You
110 Friend
111 I Miss You
112 Finally
113 Wait For Me
114 Wait For Me (part 2)
115 Prisoner
116 Prisoner (part 2)
117 The Truth (Part 3)
118 Betrayal
119 The Last Truth
120 A Tough Choice
121 Don’t Leave Me!
122 My Son
123 My Son (Part 2)
124 Back To Life
125 You Have To Pay (Extra part 1)
126 A Daddy (Extra part 2)
127 Daddy and Son (Extra part 3)
128 Miracle (Extra part 4)
129 Call You Back (Extra part 5)
130 This is My Family (Extra part 6)
131 Leave off! (Exta part 7)
132 Our Live (Exta part 8)
133 My Wife (Exta part 9)
134 A Little Secret (The End)
135 Secarik Pesan Dari Penulis
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Time in The Past
2
Harassment
3
Shocked
4
The Day
5
The New Home
6
He is Angry
7
Squabbling
8
My Bodyguard
9
My Friend
10
Back To My Orphanage
11
I am Blushing
12
His Woman
13
Broken Heart
14
Tulpe
15
Nightmare
16
Go or Not?
17
Who is His Wife?
18
His Dominion
19
The Reason
20
Hate You
21
Meet An Old Friend
22
The Mockery
23
He Comes
24
Party Invitations
25
Tragedy
26
Afraid
27
Hell
28
Your Secretary
29
Is It Possible?
30
Whats Wrong With Me?
31
Sorry
32
Losing Him
33
Wrecked
34
Devil Man
35
Jealous?
36
The Truth
37
Misterious Man
38
Misterious Man (Part 2)
39
Pregnant
40
I Want To Kiss You
41
Don’t Tell Him
42
Separate
43
Separate (Part 2)
44
Looking For You
45
Mine
46
To Save You
47
Temptation
48
Be Myself
49
To Be Good
50
Wonderful Place
51
Wonderful Place (Part 2)
52
Wonderful Place (Part 3)
53
Is it A Wonderful Place?
54
Happy Birthday
55
Brother In Law
56
Brother In Law (Part 2)
57
A Clue
58
My Special Chef
59
The Truth (Part 2)
60
Distortion
61
Traumatic
62
Comeback Home
63
Jessica Felora
64
Jessica Felora (Part 2)
65
In His Care
66
Craving
67
Date
68
Anniversary
69
He Changes
70
Why?
71
Mess Up
72
Divorce?
73
Try To Believe
74
Memory
75
Memory (Part 2)
76
Memory (Part 3)
77
You’re Back
78
Together
79
Because of You
80
Our Love
81
I’m Not Evil
82
I’m Not Evil (Part 2)
83
I’m Not Evil (Part 3)
84
I’m Not Evil (Part 4)
85
Everything For You
86
Dream
87
My Lovely Husband
88
First Time
89
Please
90
Just A Gift
91
Must Go
92
Leave
93
Where Are You?
94
She Knew
95
She Knew (part 2)
96
A Box
97
Puzzle
98
Find Out
99
Find Out (Part 2)
100
Meet Him
101
Misunderstand
102
Misunderstand (part 2)
103
Misunderstand (Part 3)
104
The Dark Side of Him
105
The Dark Side of Him (Part 2)
106
The Dark Side of Him (Part 3)
107
Sacrifice
108
Sacrifice (part 2)
109
Crazy About You
110
Friend
111
I Miss You
112
Finally
113
Wait For Me
114
Wait For Me (part 2)
115
Prisoner
116
Prisoner (part 2)
117
The Truth (Part 3)
118
Betrayal
119
The Last Truth
120
A Tough Choice
121
Don’t Leave Me!
122
My Son
123
My Son (Part 2)
124
Back To Life
125
You Have To Pay (Extra part 1)
126
A Daddy (Extra part 2)
127
Daddy and Son (Extra part 3)
128
Miracle (Extra part 4)
129
Call You Back (Extra part 5)
130
This is My Family (Extra part 6)
131
Leave off! (Exta part 7)
132
Our Live (Exta part 8)
133
My Wife (Exta part 9)
134
A Little Secret (The End)
135
Secarik Pesan Dari Penulis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!