Sepeninggalan Erie dari kamarnya, Elden beranjak ke ruang kerjanya. Ia memanggil Marline melalui sambungan telepon dan kini wanita tua itu sudah berada di ruang kerja Elden yang berada di samping kamar pria itu.
"Bagaimana dengan keadaan seminggu ini Marline?" kata Elden bertanya tentang situasi rumah dan para pelayan.
"Tuan, semua pelayan sudah melakukan seperti yang Anda perintahkan. Beberapa penjaga juga sudah diganti dengan orang baru. Biaya kebutuhan rumah dan gaji para pelayan dan penjaga sudah saya kirimkan rinciannya kepada Mario."
"Baguslah. Bagaimana dengan Erie?"
"Nyonya hanya menghabiskan waktu untuk berkeliling rumah dan membaca buku di perpustakaan."
Elden menatap Marline. Matanya menelisik wajah wanita tua yang telah mengurusnya selama beberapa tahun itu.
"Itu saja? Dia tidak membuat masalah?"
"Iya, Tuan," jawab Marline dengan wajah menunduk.
Elden mengerti gelagat yang ditunjukkan oleh Marline. Pria itu menegakkan tubuhnya dari sandaran kursinya. Ia masih menatap Marline dengan tajam.
"Marline, kau tahu aku tidak suka kebohongan," ujarnya tegas.
Marline mengangkat kepalanya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Elden. Tapi ia juga merasa sedikit iba dengan Erie.
Marline menghembuskan napasnya dan pasrah. "Tuan, Nyonya tadi tersesat di halaman belakang dan kami menemukan Nyonya di dekat perkebunan."
Tubuh Elden tiba-tiba menegang mendengar perkataan Marline. Ia memegang pelipisnya sebentar. "Tersesat? Kenapa kau tidak menemaninya? Kau tahu kan apa yang ada di perkebunan?"
"Maafkan kelalaian saya Tuan. Tadi saya menyiapkan cemilan untuk Nyonya sehingga pengawasan saya terlepas dari beliau."
"Apakah pelayan di rumah ini hanya kau, Marline? Apakah aku perlu memecat semua pelayan tidak becus itu?"
Marline tersentak. Ia segera menunduk dan memohon kepada Elden. "Ampuni kami, Tuan. Saya berjanji kejadian ini tidak akan terjadi lagi."
"Baiklah. Aku memegang perkataanmu. Sekarang pergilah."
"Baik, Tuan."
Setelah melihat Marline pergi dari ruangannya, Elden memanggil Mario untuk menghadap kepadanya. Sambil menunggu, Elden membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan beberapa pucuk surat yang ada di sana. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah.
Selang lima menit, Mario masuk ke dalam ruang kerja Elden. Ia sedikit kaget melihat ekspresi Elden yang terlihat seperti memendam amarah.
"Tuan," ucap Mario setibanya di depan meja Elden.
Elden mengangkat wajahnya untuk melihat Mario. "Duduklah Mario," ujar pria itu kepada Mario. Elden memang selalu memperlakukan Mario dengan istimewa. Tidak sekedar sebagai sekretaris dan penjaga pribadinya, tapi juga sebagai seorang teman.
Mario duduk di depan Elden yang wajahnya tampak gusar dan marah. "Ada apa, Tuan?"
Elden menyerahkan sebuah kotak bersegel yang tadi dibawa oleh Erie. Mario terkejut melihatnya. "Lagi? Kapan Anda menerimanya?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya mendapakannya dari petugas resepsionis. Kau periksa isinya dan laporkan kepadaku segera."
Mario mengangguk. "Baik Tuan. Apakah kali ini dia meninggalkan surat?"
Elden menggeleng. "Hanya itu saja, atau mungkin suratnya ada di dalam. Kau periksa baik-baik."
"Baik Tuan."
"Bagaimana hasil penyelidikan barang minggu lalu? Apakah sudah ada informasi lebih lanjut?"
"Tidak ada Tuan. Bahkan kurir yang mengantarnya tewas beberapa hari yang lalu."
Elden mengetuk-ngetuk jemari tangannya di atas meja tanda bahwa ia sedang berpikir keras. "Bagaimana mungkin kurir itu mati?"
"Mungkin karena dia nyaris tertangkap oleh kita, Tuan."
"Jadi seperti itu caranya menutup mulut orang itu."
"Benar, Tuan."
"Kau harus segera mencari tahu tentang semua informasi mengenai orang itu Mario, jika perlu kau bisa mengerahkan beberapa orang terbaik di organisasi."
"Baik Tuan. Akan saya laksanakan perintah Anda."
"Satu lagi Mario, carikan seorang bodyguard untuk Erie."
"Baik Tuan. Saya akan mencari yang terbaik dari organisasi untuk Nyonya."
"Lakukan dengan cepat Mario."
"Tentu Tuan."
"Baiklah. Kau boleh pergi."
Mario menunduk hormat sebelum ia meninggalkan Elden. Sambil menghubungi seseorang, Mario membawa kotak tersegel itu ke suatu tempat. Sedangkan Elden kembali ke dalam kamarnya. Di sana ia merogoh salah satu saku celananya dan meletakkan sebuah benda ke dalam lemari, tempat di mana ia menyimpan berbagai macam beda berharga dan rahasia miliknya. Setelah itu Elden beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian pergi tidur.
XXXXX
Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Namun, rasa dahaga membuat Erie terpaksa terbangun dari mimpinya. Perempuan itu membuka matanya dan melihat gelas yang ada di atas nakas telah kandas. Tak ada setetes air pun terisi di sana. Erie mengayunkan kakinya turun dari ranjang. Ia berpikir bahwa ia harus turun ke bawah jadi ia langsung mengganti baju tidurnya dengan baju santai yang ada di lemari. Setelah itu, dengan langkah gontai, perempuan itu berjalan menuju ruang makan.
Ketika meneguk segelas air mineral yang ada di ruang makan, tiba-tiba telinga Erie menangkap sesuatu yang gaduh.
"Bagaimana ini?"
"Aku tidak tahu, kenapa ia bisa tiba-tiba sakit?" Kata beberapa beberapa pelayan yang sedang berkumpul di dapur. Erie yang penasaran mulai berjalan menuju dapur.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Erie mengagetkan semua pelayan yang ada di sana.
"Maafkan kami Nyonya. Kami sudah mengganggu istirahat Anda." Salah seorang menjawab pertanyaan Erie. "Apakah ada yang Anda butuhkan Nyonya?" kata salah satu pelayan yang ada di sana.
"Tidak ada. Aku hanya kebetulan ingin minum. Kalian belum menjawab kenapa kalian berkumpul di sini?"
"Maafkan kami Nyonya. Tapi kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami perbuat," jawab pelayan lain.
"Apa yang terjadi?"
Salah seorang pelayan tertunduk dan memberanikan diri untuk berbicara kepada Erie. Begini Nyonya. "Tadi malam, setelah kembali dari kamar Tuan, Marline tiba-tiba sakit."
"Apakah kalian sudah membawanya ke rumah sakit?"
"Dokter sudah memeriksanya Nyonya." "Sekarang ia hanya butuh istirahat."
"Syukurlah. Lalu, apa kenapa kalian masih gelisah?"
"Kami gelisah karena kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat, Nyonya. Selama ini hanya Marline lah yang diperbolehkan Tuan Elden untuk menyiapkan makanan beliau."
"Apakah hal ini pernah terjadi?"
"Pernah Nyonya. Tapi saat itu, Nyonya Alvaro kebetulan sedang berada di rumah ini. Jadi, beliau lah yang menyiapkan hidangan untuk Tuan Elden. Selain itu, tidak ada lagi Nyonya. Karena Marline adalah wanita yang selalu menjaga kesehatannya."
Erie berpikir sejenak. "Hemm.. Apakah kalian tahu masakan apa saja yang biasa disiapkan Marline?"
"Tidak Nyonya. Hanya Marline dan koki yang sering membantunya lah yang mengetahui resepnya," sambung pelayan itu lagi.
"Kalau begitu, panggil koki itu sekarang."
"Baik Nyonya." Salah seorang dari para pelayan berjalan cepat menuju ke pintu belakang dapur.
Beberapa menit kemudian, seorang koki yang tadi disebutkan pun datang menghadap Erie. "Selamat pagi, Nyonya. Apakah Anda memanggil saya, Nyonya?" katanya pada Erie.
"Iya aku memanggilmu." Erie mendekati koki laki-laki itu. "Apakah kau tahu resep masakan yang sering Marline buat untuk Elden?"
"Tentu Nyonya. Saya selalu membantu Marline memasaknya untuk Tuan."
"Bagus! Sekarang kau bantu aku memasak."
"Tapi Nyonya, saya tidak berani menyiapkannya tanpa Marline."
"Jadi kau bermaksud untuk tidak menyiapkan sarapan Tuanmu?"
"Ampun, Nyonya. Saya mana berani untuk berpikir seperti itu."
"Benar, makanya kau harus membantu aku menyiapkan sarapannya sebelum Elden bangun."
"Baik, Nyonya," kata sang koki mengiyakan perkataan Erie.
Sekarang Erie dan sang koki sedang berkutat dengan alat-alat dan bahan-bahan di dapur. Erie mulai sibuk dengan pekerjaannya dan dengan teliti ia mengikuti arahan dari koki tersebut. Erie mengiris-iris bawang, mengaduk-aduk tepung, memotong-motong daging segar dan merebusnya. Setelah beberapa saat, satu persatu bahan-bahan mentah yang ada di dapur itu diolahnya menjadi berbagai macam masakan berkelas yang lezat. Bahkan koki dan para pelayan pun kaget karena jarang sekali mereka menjumpai perempuan kaya yang pandai memasak. Biasanya mereka dengan sombongnya akan menyuruh pelayan untuk pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, daripada berurusan dengan dapur yang mereka anggap sebagai tempat yang kotor.
Dengan dibantu oleh pelayannya, Erie membawa makanan yang telah ia masak ke ruang makan. Baiklah. Semuanya sudah siap! seru Erie sembari meletakan piring terakhir yang berisi makanan di atas meja makan.
"Anda sangat hebat, Nyonya," kata koki yang tadi membantu Erie sambil menyusun hidangan mereka di atas meja.
Erie tersenyum, "Aku hanya mengikuti resepmu."
"Tidak Nyonya. Tidak semua orang yang membaca resep itu bisa menerapkannya dengan baik seperti Nyonya."
"Terima kasih. Kau terlalu menemujiku. Dulu aku selalu memasak untuk bibiku. Jadi aku sudah terbiasa."
"Saya harap Tuan Elden akan menyukainya, Nyonya."
"Ya, semoga saja," jawab Erie pelan.
Erie duduk di atas meja makannya. Ia mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata Elden sedang berjalan ke ruangan itu. Pria itu terlihat tampan dengan jas biru tua, berbeda dengan dua hari ini ketika pria itu selalu memakai jas hitam kebanggaannya. Sejenak Erie membeku saat matanya beradu dengan mata hazel pria tampan itu.
"Kau yang menyiapkan makanan ini?" kata Elden tanpa basa-basi kepada Erie.
"Iya," jawab Erie dengan semangat.
PRAAANGG
Tiba-tiba Elden melemparkan gelas di depan Erie. Membuat semua orang yang berada di rumah itu terkejut atas perbuatannya, termasuk Erie. Perempuan itu seketika menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"Kenapa kau melakukan ini, HAAA?" bentak Elden di hadapan Erie.
Erie menurunkan tangannya. "Aaa.. ap..a maksudmu?" katanya tergagap.
"Kenapa kau yang menyiapkan sarapan?!!!"
"Memang apa salahnya?"
"Kau mau tahu apa salahnya? Ini salah karena kamu yang menyiapkannya!!! PANGGIL MARLINE KEMARI!!!" kata Elden dengan suara yang meninggi.
Salah seorang pelayan yang mendengar kalimat perintah itu langsung membawa Marline yang sedang sakit kehadapan Elden.
PRAAANNGGG
Elden kembali membanting piring ke lantai. Kali ini ia melemparkannya di depan Marline.
"Tu.. Tuan, ma..af maafkan saya," kata Marline dengan tubuh yang gemetar. Ia menunduk untuk memohon ampun di depan tuannya. Ia sudah tahu duduk permasalahannya dari pelayan yang menjemputnya tadi.
"Marline, kau tahu kan aku tidak menyukai orang asing menyampuri urusanku!"
"Sa.. saya tahu Tuan."
"Lalu, kenapa kau membiarkan wanita ini menyiapkan sarapan, HHAAA?"
Erie yang melihat perlakuan Elden kepada Marline merasa tak terima. Ada amarah yang mendidih ketika ia tahu ada ketidakadilan di depannya. Ia seperti melihat masa lalunya dulu di rumah Bibi Betty. Erie angkat suara. "Berhenti membentaknya! Marline sedang sakit! Kau tahu!"
Erie mendekati Marline. Ia tahu bahwa wanita itu sangat takut dengan Elden.
"Berhenti membelanya!!!! Apa kau tidak tahu posisimu di rumah ini?" ucap Elden sembari menatap Erie dengan tajam.
"Apa kau juga pantas melakukan ini?" kata Erie tak ragu membalas ucapan dan tatapan Elden.
"Mereka adalah pelayanku!!! Aku bisa melakukan apa pun kepadanya, kau dengar?!!!"
Erie tersentak. Entah kenapa keberaniannya yang tadi melingkupinya tiba-tiba saja lenyap ketika melihat Elden berjalan menuju ke arahnya. Perempuan yang tadi berani membalas Elden, kini hanya bisa menundukkan kepalanya dan menampilkan wajah yang pucat pasi.
"Ingat hal ini! Kau adalah Nyonya di rumah ini! Kau tidak boleh melakukan pekerjaan mereka! Kau mengerti?!" Elden menggeram ketika tak mendengar jawaban dari Erie. Ia memegang dagu Erie untuk melihat wajah perempuan yang tertunduk itu. "Jawab aku!"
Erie melihat mata Elden. Badannya memang gemetar kecil karena takut, tapi matanya masih memancarkan aura kemarahan. "Aku akan mengingat perkataanmu jika kau memaafkan Marline," ucap Erie lantang.
Elden menyeringai. Sudut bibirnya yang terangkat itu terlihat begitu menyeramkan di mata Erie. "Jadi kau berani bernegosiasi denganku?" kata pria itu masih dengan mengangkat dagu Erie.
"Anggap saja begitu."
"Baiklah." Elden melepaskan tangannya dari wajah Erie. Ia mengalihkan pandangannya ke Marline.
"Marline! Kali ini kau kumaafkan! Tapi jika kau melakukan kesalahan lagi, kau pasti tahu apa akibatnya!"
"Ba..baik, Tuan," jawab Marline.
"Dan kau!!! Jika kau melakukan pekerjaan mereka, aku tidak akan segan-segan memecat mereka semua!!!"
Elden menatap tubuh gemetar Erie. Perempuan itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya meskipun amarahnya tadi terlihat begitu jelas dari wajahnya.
"Aaarrrggghhhh!!!! Kau sungguh membuatku muak!" kata Elden lagi sambil meninggalkan rumah itu.
Setelah kepergian Elden, Marline mendekat dan memperhatikan Erie dengan lekat. Perempuan itu melangkah mundur dengan tubuh gemetaran hebat. Ia bahkan memegang tangan Marline yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh. Ia tengah ketakutan saat ini.
"Nyonya!" Marline berseru. Ia khawatir melihat keringat yang menetes dari pelipis majikannya itu. "Nyonya, Anda tidak apa-apa?"
Telinga Erie tak mampu menangkap kalimat yang dilontarkan Marline. Rasanya, Erie tak mampu mendengar apa pun sekarang karena terlalu terkejut. Marline langsung menuntun Erie untuk duduk di salah satu kursi. Ia memberikan segelas air mineral kepada Erie.
"Terima kasih Marline. Aku sudah lebih baik sekarang."
Marline mengambil gelas dari tangan Erie dan meletakkannya di atas meja. "Syukurlah, Nyonya."
"Marline, apakah Elden selalu bersikap seperti itu?"
"Tuan Elden memang mempunyai jiwa yang keras Nyonya. Tapi itu memang kesalahan saya."
"Tapi menurutku kau tidak melakukan hal yang salah. Jika dia memang tak suka aku menyiapkan makanan untuknya, seharusnya dia tidak membentak seperti itu."
"Terima kasih sudah membela saya, Nyonya. Tapi jika saya boleh meminta, sebaiknya Anda tidak melanggar lagi perintah dari Tuan."
Erie menghembuskan napasnya. "Baiklah," ucapnya. Di dalam pikirannya penuh dengan berbagai macam pertanyaan. Apakah Elden memang seperti itu tabiatnya? Bukankah itu sama dengan hidup Erie yang dulu? Tapi Erie merasa sedikit berbeda antara menghadapi Elden dan Bibi Betty. Ia seperti memiliki keberanian untuk melawan Elden meskipun ketakutan melingkupinya.
**XXXX
Jangan lupa dukung penulis dgn memberikan like atau comment...
Dan jangan lupa juga untuk terus menjaga kesehatan dan sering cuci tangan serta menjauhi tempat ramai...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
kasihan baru keluar dari sarang Mak lampir Betty Lapea, masuk ke sarang Sri gala
2022-11-20
0
💕febhy ajah💕
novel seperti ini nyesel klau di anngurin
2022-04-04
0
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
nangis Bombay kalo aku di bentak gitu,,apalagi di bilang orang asing..😭😭
2022-03-20
0