Erie berjalan menuju ruang perpustakaan. Ia terus menggurutu ketika menapaki lantai marmer rumah itu. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sadari tadi diikuti oleh Dicken. Barulah saat ia menoleh, ia mendapati pria itu mengekor di belakangnya.
"Apakah kau akan terus mengikutiku?" tanyanya kesal.
"Maaf, Nyonya?" kata Dicken terkejut.
"Aku bertanya sampai kapan kau akan mengikutiku?"
"Tapi bukankah tadi Anda meminta saya untuk mengikuti Anda, Nyonya?" ujar Dicken sedikit bingung.
Ah! Iya! Erie memukul jidatnya sendiri. Ia mengerutuki kebodahannya. Bisa-bisanya ia lupa atas apa yang baru beberapa saat ia ucapkan.
"Sekarang kau boleh pergi! katanya lagi."
"Baik Nyonya. Saya undur diri," ucap Dicken sambil menundukkan kepalanya.
Baru pria itu mengangkat wajahnya, Erie menahannya. "Tunggu!" kata perempuan itu menghentikan langkah Dicken.
Dicken membalikkan tubuhnya dan kembali menghadap Erie. "Ada yang Anda butuhkan, Nyonya?"
"Kemarilah!" seru Erie sembari berjalan menuju kursi yang ada di ruangan itu, kursi kesukaannya. Dicken pun mengikuti majikan barunya itu dengan patuh. "Duduklah!" kata Erie yang langsung dituruti oleh Dicken. Pria itu duduk dengan sopan, mengikuti tata krama pelayan yang telah diajarkan.
"Berapa usiamu sekarang Dicken?" tanya Erie sambil mencondongkan dirinya ke depan. Ia ingin sedekat mungkin dengan pria itu agar bisa mengamati wajahnya, karena tubuhnya dan Dicken saat ini dibatasi oleh sebuah meja kaca yang cukup panjang.
"Saat ini usia saya dua puluh tiga tahun, Nyonya."
Erie mengangguk-anggukan kepalanya. Ternyata usia Dicken hanya terpaut empat tahun dari usianya. Ia melanjutkan percakapannya. "Sudah berapa lama kau bekerja untuk Elden?"
"Saya sudah bekerja untuk Tuan Elden sejak saya berumur sembilan tahun, Nyonya."
"Kau sudah menjadi pengawal sejak berusia sekecil itu?"
"Tidak, Nyonya. Saat itu saya bekerja di perkebunan milik keluarga Alvaro. Tapi hanya untuk membantu para pekerja lainnya.
Di mana orang tuamu?"
"Sejak kecil, saya sudah tidak memiliki orang tua, Nyonya."
DEG! Erie merasa terenyuh. Ia seperti melihat bayangan masa lalunya pada diri Dicken. Hidup sendiri tanpa orang tua itu sulit. Apalagi jika hanya meminta belas kasih orang lain seperti yang ia lakukan saat di panti asuhan dulu.
Erie semakin tertarik berbicara dengan Dicken. Ia menatap pria itu dengan seksama. "Kau tidak memiliki keluarga lain?"
"Semua saudara orang tua saya tidak mau menerima kami, Nyonya."
"Kami?"
"Ya. Saya dan adik perempuan saya.*
"Di mana adikmu sekarang?"
"Saya tidak tahu, Nyonya. Sejak kecil saya sudah terpisah darinya, Nyonya."
"Lalu, bagaimana bisa kau bekerja di keluarga Alvaro?"
"Tuan Besar Alvaro yang memungut saya, Nyonya."
Memungut?
Bahasa itu terdengar sangat kasar di telinga Erie. Apa maksudnya dengan memungut? Kenapa kesannya Dicken adalah benda yang harus dipungut?
"Maksudmu?" tanya Erie.
Dicken melihat wajah Erie yang penuh tanda tanya. Dari sana juga terlihat pancaran tidak terima atas kalimat yang tadi ia lontarkan. Pria itu secepat mungkin mengklarifikasi ucapannya. "Maksud saya, Tuan Besar Alvaro menemukan saya di jalan, Nyonya. Lalu, beliau menitipkan saya ke salah satu rumah pekerja di perkebunan. Dan keluarga itulah yang menjadi keluarga saya sekarang, Nyonya."
Erie mengangguk-angguk tanda bahwa ia mengerti. Ia memperhatikan lagi wajah Dicken dengan teliti. Ia seperti mengenal pria itu tapi berulangkali ia mencoba mengingatnya, maka berulangkali juga ia gagal menggali ingatannya.
"Apakah kita pernah bertemu?" tanya Erie lagi.
"Maaf Nyonya. Saya rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya."
"Tidak, aku yakin seperti pernah melihat wajahmu di suatu tempat. Tapi aku lupa."
"Tidak Nyonya. Saya memang belum pernah bertemu Anda sama sekali. Saya hanya ditunjukkan foto Nyonya oleh Mario, namun untuk pertemuan langsung, saya rasa tidak pernah, Nyonya."
Erie menghembuskan napasnya. Mungkin memang perasaannya yang salah. Meskipun sensasi bahwa ia mengenali wajah pria itu terus menghantuinya dan hal itu seperti nyata ada di sana, di hatinya, tapi jika pria itu saja membantah, bagaimana mungkin Erie merasa seyakin itu padahal ia tidak mengingatnya?
"Kau benar. Sepertinya aku salah mengenal orang. Kau boleh pergi Dicken."
"Baik, Nyonya. Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda boleh memanggil saya. Saya permisi, Nyonya. Selamat Sore, Nyonya," ucapnya sambil meninggalkan tempat itu.
Erie menghabiskan waktunya di perpustakaan itu dengan ditemani remang senja di sore itu. Ia membaca beberapa buku dan novel-novel serta membayangkan kisah-kisah yang tertulis di sana. Setelah malam datang barulah ia beranjak menuju kamarnya.
XXXXXX
Pagi itu kamar Erie terlihat sibuk. Para pelayan sibuk keluar masuk kamar untuk membawa beberapa dress baru. Erie yang melihat itu hanya duduk di atas ranjangnya tanpa melakukan apapun.
"Mau dibawa kemana baju-baju itu?" tanya Erie ketika melihat seorang pelayan hendak membawa keluar kamarnya beberapa pakaiannya.
"Kami akan membawanya keluar, Nyonya," jawab pelayan itu.
"Iya aku tahu. Tapi kenapa dikeluarkan?"
"Karena Anda sudah pernah memakainya, Nyonya."
"Apa?!" kata Erie terkejut. Ia memang sudah memakai pakaian-pakaian itu, tapi hanya sekali. Ia sangat menyukai mereka dan merasa tidak rela jika keluar dari lemarinya.
"Bisakah aku menelepon Elden?" kata perempuan itu lagi. Ia ingin protes kepada orang yang membuat kegaduhan di kamarnya itu.
"Maaf, Nyonya?"
"Aku bilang aku ingin berbicara dengan Tuan kalian. Bukankah dia sudah pergi ke kantor?" ujar Erie sambil mengarahkan telunjuknya ke jam dinding yang menunjukkan jam tujuh lewat tiga puluh menit.
"Iya Nyonya, Tuan memang sudah berangkat ke kantor."
"Nah, sekarang hubungi dia."
"Baik, Nyonya."
Dengan cepat pelayan itu berjalan ke arah telepon yang ada di nakas Erie. Ia menekan beberapa nomor untuk menghubungi Elden. Kemudian ia menyerahkan gagangnya kepada Erie.
“Masalah apa lagi yang kau buat kali ini?" kata Elden di seberang telepon setelah Erie mengatakan halo.
Erie tersentak. "Apa?"
“Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Kau tidak perlu membantah.”
"Tapi aku---"
“Lakukan, jika tidak kau akan melihat kemarahanku lagi kepada pelayan-pelayan itu," ucap Elden singkat. Setelah itu Erie tidak mendengar apa-apa karena pria itu sudah menutup sambungan teleponnya.
"Hey!" seru Erie seraya menatap gagang telepon di tangannya. Ia bahkan belum mengatakan apapun dan pria itu sudah memutus panggilannya. Erie meletakkan kembali gagang itu ke tempatnya semula.
Dengan perasaan bingung, pelayan tadi menghampiri Erie, "Apa yang harus saya lakukan dengan pakaian ini, Nyonya?" tanyanya.
Erie mendengus. "Lakukan saja perintahnya," ucapnya singkat. Ia berlalu menuju ke kamar mandi. Sebelum benar-benar menutup pintu kamar mandinya ia berujar, "Jika kalian sudah selesai, kalian boleh keluar dari kamar." Ia mengatakan itu agar para pelayanannya tidak menunggunya di dalam kamar untuk membantunya bersiap.
"Baik, Nyonya," ucap para pelayan yang ada di kamar itu secara serempak.
Erie telah selesai mandi dan kini ia membuka lemari pakaiannya. Ia terlihat kebingungan di sana. Pertama ia bingung kenapa Elden mengganti semua pakaian yang pernah ia pakai dengan pakaian baru? Yang kedua bagaimana orang-orang suruhan Elden bisa tahu ukuran bajunya?
Erie tidak mau berpikir terlalu pusing dengan masalah ini. Ia segera memilih pakaian yang pantas ia kenakan. Setelah beberapa saat, ia berjalan menuju beranda. Ia tertegun memandang bentangan perkebunan teh yang terlihat jelas. Beberapa hari berada di rumah itu, Erie seperti bisa memetakan rumah itu. Berandanya berada di samping rumah sehingga ia tidak bisa melihat rumah kaca yang sempat ia lihat di halaman belakang rumah.
Saat perutnya terasa lapar, Erie turun ke lantai dasar. Ia disapa oleh para pelayan yang ada di sana.
"Selamat Pagi Nyonya."
"Selamat Pagi Marline," kata Erie sambil berjalan menuju meja makan.
"Apakah Anda ingin saya menyiapkan sesuatu, Nyonya?"
"Tidak! Cukup kau siapkan roti dan susu seperti biasa saja."
"Baiklah, Nyonya."
Beberapa saat kemudian, sarapan yang Erie pesan pun datang. Erie menghabiskan sarapannya dengan cepat. Lalu ia membersihkan mulutnya.
"Marline!" seru Erie.
"Ya, Nyonya?" jawab Marline dengan cepat.
"Bisakah kau panggilkan Dicken untukku?"
"Baik, Nyonya."
Erie kemudian beranjak dari kursinya. Sekilas ia melihat makanan yang tersisa begitu banyak di atas meja. Namun, Erie memilih untuk tidak ikut campur dengan kebiasaan di rumah itu. Ia yang tidak peduli mulai berjalan ke perpustakaan. Di sana ia mengambil beberapa novel dan buku kosong serta peralatan tulis lainnya. Kemudian ia berjalan lagi ke ruang tamu.
"Selamat Pagi, Nyonya. Anda memanggil saya?" tanya seseorang kepada Erie.
"Pagi Dicken," sapa Erie kepada pria yang menjadi pengawalnya itu. Ia memperhatikan pakaian Dicken dengan kemeja biru mudanya, terlihat lebih baik dari kemarin.
"Bisakah kau bawakan ini?" lanjut Erie.
"Tentu, Nyonya."
Dicken mengambil barang-barang yang Erie pegang dan mengikuti Erie berjalan menuju taman di depan rumah mewah itu.
Cuaca pagi hari memang sangat menyejukkan, seru Erie. Meskipun sudah memasuki jam 10 pagi namun sinar matahari yang terhalang oleh pepohonan, membuat suasana di taman itu tetap sejuk.
Erie melepaskan alas kakinya dan berjalan di rerumputan menuju bangku dan meja batu yang terletak di tengah-tengah taman itu.
"Duduklah Dicken dan letakkan buku-buku itu disitu." Erie menunjuk pada meja yang berada tidak jauh dari mereka.
Dicken mengikuti perkataan Erie. Ia menyusun buku dan peralatan yang ada di tangannya dengan rapi di atas meja.
"Bagaimana menurutmu taman ini?" ujar Erie saat melihat Dicken sudah duduk di sebelahnya.
"Taman ini sangat indah dan cantik. Anda juga sangat cantik, Nyonya," kata Dicken sambil tersenyum.
Erie yang mendengar perkataan Dicken ikut mengangkat kedua bibirnya membentuk senyuman yang manis. Ia merasakan wajahnya mulai memerah.
"Terima kasih Dicken. Apakah kau pernah ke sini sebelumnya?"
"Tentu, Nyonya. Saat saya kecil, Tuan Besar Alvaro sering membawa saya ke sini untuk membantu pekerjaan beliau."
"Oh, begitu."
Erie sedikit merasa risih dengan perlakuan semua orang yang ada di sana. Ia masih belum terbiasa dengan penghormatan berlebihan dari para pelayan dan penjaga. Dulu, memang ia ingin dianggap manusia. Tapi ini tidak cocok untuk dirinya. Ia malah merasa seperti berada di posisi bibinya yang kejam itu.
"Emmm.. Dicken, aku ada permintaan kepadamu," kata Erie ragu.
"Katakan Nyonya. Permintaan Anda adalah perintah bagi saya."
"Bisakah kita berteman?"
"Maaf, Nyonya?"
"Kau tahukan di tempat ini aku selalu merasa sendiri. Marline dan semua pelayan hanya sibuk dengan apa yang aku butuhkan. Aku hanya merasa bosan karena tidak memiliki teman."
"Maafkan saya, Nyonya. Tapi Anda adalah majikan dan saya hanyalah pengawal Anda. Saya sama sekali tidak pantas menjadi teman Anda, Nyonya."
"Bukankah tadi berkata bahwa permintaanku adalah perintah untukmu?"
"Tapi Nyonya--"
"Aku tahu kau takut dengan Elden. Tenanglah, kau bisa menganggapku sebagai majikanmu di depan Elden dan Mario. Kau juga tetap memanggilku dengan sebutan Nyonya. Hanya jika kita berdua bisakah kau menjadi temanku?"
"Tapi mengapa saya, Nyonya?"
"Aku sangat bosan di sini. Lihatlah wajah mereka semua begitu datar. Seperti robot saja," ucap Erie sembari menunjuk ke arah para penjaga yang berjaga di gerbang masuk.
Dicken tersenyum mendengar penuturan Erie dan senyuman itu tertangkap oleh pandangan majikannya itu. "Lihat! Sudah kuduga kau berbeda. Kau bisa menunjukkan wajah lebih manusiawi," kata Erie senang. Ada hal-hal kecil yang mengusik perempuan itu, seperti betapa mudahnya ia dekat dengan Dicken dan rasa bahagia yang tercipta di antara mereka.
"Tapi Nyonya, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan jika saya menjadi teman Anda."
"Tidak banyak. Cukup dengarkan ceritaku dan aku mendengar ceritamu. Bagaimana?"
"Baiklah, Nyonya. Jika itu permintaan Anda."
Erie tersenyum puas. Erie memang baru mengenal Dicken. Tetapi entah mengapa ia merasa seperti telah lama mengenalnya. Setiap berbincang dengannya, Erie merasakan kenyamanan. Kenyamanan yang pernah ia rasakan beberapa tahun lalu.
Tepat saat Erie dan Dicken tengah berbincang-bincang, pintu gerbang utama tiba-tiba terbuka. Sebuah mobil mewah berwarna silver terlihat memasuki perkarangan rumah hingga ke depan rumah. Di belakangannya terdapat sebuah mobil jeep hitam mengikutinya. Dari mobil mewah itu tampak seseorang sedang keluar. Orang itu diyakini oleh Erie adalah Elden. Perempuan itu bisa menebak dari cara berpakaian dan berjalannya yang begitu kharismatik. Namun, saat pintu mobil hitam terbuka, sebuah tangan menghalangi pandangan Erie. Ternyata Dicken sedang berusaha menutupi kedua mata Erie dengan tangannya.
"Ada apa Dicken?" tanya Erie sembari menghalau tangan laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Hanya saja pemandangan ini tidak baik untuk Anda. Mohon tunggu beberapa saat, Nyonya."
Erie tak mau menunggu. Perkataan Dicken justru semakin membuatnya penasaran. Ia berusaha menarik tangan Dicken dengan sekuat tenaga. Saat tangan Dicken turun dan Erie sudah bisa melihat, ia sudah terlambat. Kedua mobil itu sudah berjalan menuju ke garasi.
"Kenapa kau menutupi mataku?" kata Erie kesal. Ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi tadi. Apakah itu sesuatu yang aneh? Ataukah Elden sedang melakukan sesuatu yang illegal?
"Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya berusaha melindungi Anda dari semua hal yang bisa membahayakan Anda, termasuk melindungi dari sesuatu yang mengganggu perasaan Anda."
Dicken melihat wajah penuh tanda tanya dari majikannya. Ia melirik buku yang ada di atas meja. Dari buku-buku itu ia menduga bahwa Erie adalah perempuan yang polos dan lembut. Perempuan itu menyukai kisah-kisah romantis dengan akhir kisah yang indah. Itulah sebabnya tadi ia berusaha melindungi Erie dari adegan yang ada di depan mereka.
"Apakah Anda sudah membaca novel A Farewell to Arms?" tanya Dicken mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum. Apakah kisahnya bagus?"
"Itu kisah yang romantis, Nyonya. Kisah tentang seorang prajurit yang jatuh hati pada perawat Inggris yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya."
"Apakah latar suasananya di medan perang?"
"Benar, Nyonya. Tepatnya pada perang dunia pertama."
Mendengar perkataan Dicken membuat mata Erie berbinar-binar. "Sepertinya menarik."
"Iya, Nyonya. Saat membacanya, saya juga merasa kisah itu sangat menarik."
"Apa kau membaca novel juga?" tanya Erie tak percaya. Ia tak menyangka bahwa seorang pengawal yang mempunyai kesan sangar dan kaku mau membaca kisah cinta yang terdengar melankolis seperti itu.
"Tidak sering, Nyonya. Hanya beberapa kali saat saya tidak ada pekerjaan. Jika Anda menginginkannya, saya akan membawa novel A Farewell to Arms untuk Anda."
"Benarkah?" ujar Erie memekik bahagia.
"Tentu, Nyonya."
Wajah Erie tersenyum senang. Ia menatap Dicken dengan mata cokelatnya. "Wah! Terima kasih!"
**XXXXX
Terima kasih masih setia membaca novel ini Jangan lupa berikan dukungan untuk penulis dengan memberikan like dan comment
Yuks lawan virus corona (COVID-19) dengan rajin mencuci tangan, menjaga kesehatan, tetap #dirumahaja dan jauhi keramaian
Danke!!! ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Liliana
Mereka bersaudara
2023-03-07
0
Nurma sari Sari
kenapa pengawal Erie menutup mata Erie, saat Elden turun dari mobil, apakah Elden punya kekasih lain
2022-11-20
0
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
teka teki banget ya,,tapi aku makin suka dan penasaran 😂
2022-03-20
0