Erie kembali ke rumah dengan keadaan menangis. Menangisi nasib buruk yang terus menimpanya. Betapa melankolis sekali hidupnya. Namun, seberapa lama dan sering ia menangis bahkah sampai air matanya mengering, semua tidak akan berubah. Ia harus menghadapinya. Setidaknya ia bisa pergi dari bibinya. Itulah yang membuat ia dengan cepat menyeka kedua matanya yang berair dan berhenti menangis.
Kekhawatiran Erie tentang siapa calon pendampingnya mulai terjawab keesokan harinya. Pak Robbert datang ke rumahnya dengan membawa sejumlah berkas, berkas-berkas yang berisi tentang pria yang akan menjadi suaminya itu.
Awalnya Erie berpikir ia akan dinikahkan dengan pria tua bangka atau pria yang sudah beristri. Hal itu wajar muncul dalam benaknya mengingat bagaimana bencinya sang bibi kepadanya. Akan tetapi, data-data tentang pria itu mengejutkan Erie.
Namanya Elden Jacksen Alvaro, pria berusia 27 tahun atau delapan tahun lebih tua di atas Erie. Ia adalah pria lulusan strata dua Fakultas Ekonomi, Ludwig Maximilians Universität München, Jerman. Pria itu adalah lulusan terbaik di universitasnya dan sering menjadi dosen tamu di beberapa universitas ternama di negeri ini. Tak hanya itu, ia juga membuka perusahaannya sendiri di bidang yang sama dengan perusahaan milik Eduard Company, yaitu perusahaan furniture. Namun, perusahaan itu jauh lebih luas cangkupan pasarnya karena sudah merambat ke puluhan negara. Pria itu juga berpotensi besar untuk meneruskan perusahan keluarganya yang cukup banyak. Walaupun terdengar hebat, tapi bagi Erie, pria itu sama sekali tidak sehebat itu. Dari beberapa foto yang diberikan pada Erie, pria itu hanya terlihat seperti pria tampan yang dingin dan tidak memiliki ekspresi.
Erie juga menemukan fakta lain tentang pria itu. Ia sepertinya hanya tinggal sendiri di negara itu karena Erie tidak menemukan satupun foto pria itu bersama keluarganya. Mungkin saja keluarganya tidak mau terpublikasi, atau mungkin pria itu memang tidak dekat dengan keluarganya. Setidaknya itu adalah kabar yang bagus untuk Erie. Jujur saja ia takut jika bertemu dengan orang-orang baru. Perkataan dan doktrinasi yang diberikan Bibi Betty tentang jahatnya dunia luar, masih tertanam di dalam otaknya.
Persiapan pernikahan terus dilakukan. Hal ini membuat Erie sangat sibuk karena calon suaminya itu secara khusus mengirimkan ke rumahnya beberapa dermatologis (spesialis medis yang mengurusi masalah tentang kulit, rambut, kulit kepala dan kuku berserta perawatannya). Mereka memaksa Erie untuk melakukan berbagai macam perawatan kulit.
Walaupun enggan, tapi Erie tetap harus menjalani semua perlakuan aneh di tubuhnya. Jika selama ini ia hanya mengenal sabun, pasta gigi dan shampoo sebagai bahan-bahan pembersih sekaligus perawatan tubuhnya, kini secara tiba-tiba ia dikenalkan berbagai macam alat dan bahan perawatan.
Erie menjalani rangkaian facial spa dan masker di wajahnya. Mereka menyediakan berbagai macam rempah-rempah wangi di dalam bak mandinya. Tubuhnya juga dilulur dan dipijat. Rambutnya diolesi serum dan vitamin rambut. Setiap malam sebelum Erie tidur, dua dermatologis yang secara khusus tinggal di rumahnya, mengoleskan minyak zaitun ke leher, tangan dan kakinya. Kuku-kuku tangan dan kakinya dibersihkan dan diolesi cat. Setiap jengkal dari tubuh Erie tak lepas dari yang mereka sebut sebagai perawatan itu. Bahkan mereka juga melakukan perawatan ratus, yaitu penguapan dengan mengunakan berbagai bahan rempah herbal pada organ paling privatnya.
Selama seminggu itu Erie diperlakukan bak seorang putri. Sang bibi yang entah dirasuki oleh setan baik apa, tiba-tiba menyewa beberapa pelayan untuk melayani Erie. Meski tetap tidak diperbolehkan untuk keluar rumah, tapi Erie tidak lagi melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya. Sehari-hari ia hanya menjalani perawatan tubuh, mencocokkan gaun pengantinnya, membaca buku, tidur, makan dan mandi. Ia melewati hari-hari yang begitu santai yang tidak pernah terjadi padanya dan itu pula lah yang menyebabkan tubuh Erie semakin berisi.
Setelah melewati berbagai hal aneh, kini tibalah saat di mana Erie akan menjalani kehidupan barunya. Pagi itu Erie dibangunkan sangat awal. Ia terbangun dengan melihat belasan orang mondar-mandir di dalam rumahnya. Memang sejak kemarin, orang-orang suruhan calon suaminya itu sudah mulai berdatangan. Ada yang mempersiapkan alat-alat dan bahan untuk merias wajah dan rambut Erie, ada juga yang sibuk membawa gaun pengantin yang akan ia gunakan beserta pernak-perniknya.
Bangun dan mandi di pagi-pagi buta membuat Erie merasa lemas. Tapi orang-orang kiriman itu tidak membiarkan Erie untuk tertidur. Padahal semua persiapan itu memakan waktu yang sangat lama. Bayangkan, hanya untuk riasan wajah dan kepala saja, Erie harus duduk di depan cermin selama empat jam. Belum lagi dengan gaun pengantin. Oh ya ampun! Itu adalah pakaian terumit yang pernah Erie gunakan.
Lebih dari enam jam waktu yang dibutuhkan untuk menghias Erie. Kini gadis itu sudah mengenakan pakaian lengkap dengan riasan pengantinnya. Erie berdiri di hadapan cermin besar yang menampilkan seluruh tubuhnya. Ia takjub dengan penampilannya sekarang. Bahkan ia merasa seperti orang asing karena tak mengenali siapa yang ada dalam bayangan cermin itu.
Gaun yang digunakan Erie memang terlihat kompleks. Perancang busananya memakai teknik artistik yang kaya akan tekstur. Erie pernah melihat beberapa bahannya dan ia ingat dengan nama-namanya karena ia sangat suka membaca majalah mode milik sang ibu. Dulu, mommynya juga pernah menunjukkan gaun pesta miliknya kepada Erie dan menjelaskan sedikit tentang bahannya.
Penutup wajah Erie menggunakan bahan tulle, yaitu campuran dari bahan sutra, rayon dan nilon, dengan taburan glitter untuk memberikan efek berkilau. Gaun atasnya menggunakan bahan perpaduan bahan sutra, katun, polyster dan viscose atau yang sering disebut brocade, dengan bentuk bunga. Taffera dengan serat sintetis halus, lembut dan sangat ringan, digunakan sebagai bahan luar gaun bawahnya. Pada bagian kedua kakinya, gadis itu dipakaikan sepasang sepatu round toe sederhana namun berkelas milik desainer sepatu yang menjadi idola sang ibu dulu. Sungguh semua hal yang melekat di tubuhnya adalah kombinasi bahan yang apik, apalagi ditambah warna rose gold yang mendominasi, membuat Erie terlihat sangat mewah dan elegan.
"Nona, mobil anda telah siap," ujar salah seorang pelayan sewaan Bibi Betty. Ia menuntun Erie menuju ke mobil. Ia tidak sendiri saja melakukan itu. Setidaknya ada lima orang lagi yang membantu Erie yang terlihat kewalahan berjalan dengan menggunakan gaun seperti itu.
Sang pelayan membuka pintu mobil. "Silakan Nona," katanya sambil menunduk hormat. Erie membalasnya dengan ucapan terima kasih sambil tersenyum. Omong-omong soal hormat, ada hal menarik yang terjadi selama seminggu persiapan pernikahan ini. Erie tahu jika pelayan sewaan memang akan menghormati orang yang menyewanya agar tidak mengecewakan dan meningkatkan citra perusahaan jasa mereka. Tapi mereka terlihat berlebihan setelah salah seorang dermatologis kiriman calon suaminya memarahi mereka karena membiarkan Erie menyiapkan makanannya sendiri. Dermatologis itu menyebutkan kata 'Tuan Elden' dalam kalimatnya untuk menghardik para pelayan. Apakah calon suaminya begitu berkuasa hingga membuat banyak orang begitu menghormatinya?
Lamunan Erie tentang serangkaian kehidupan dalam seminggu itu, buyar setelah supir menghentikan laju mobilnya. Beberapa orang yang melihat Erie, berdatangan untuk membantunya. Erie melihat sebuah gereja kecil berwarna putih di depannya dengan ornamen pernikahan yang menghias di luar gereja.
Erie keluar dari mobil. Seorang pria paruh baya menghampirinya. Ia mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Erie. "Nona, Anda sangat cantik," kata laki-laki itu sambil mengecup punggung tangan Erie.
"Terima kasih, Pak Robbert," ucap Erie kepada laki-laki itu.
Pak Robbert membawa Erie ke dalam gereja. Saat pintu gereja terbuka, Erie langsung disambut oleh karpet berwarna merah yang membawanya menuju seorang pria yang menunggunya di depan altar. Walau menggunakan tutup kepala, tapi Erie bisa melihat sedikit suasana di sana. Ia juga bisa melihat pria berjas hitam yang akan menjadi suaminya itu.
Dengan perlahan Pak Robbert menggiring Erie mendekati pria itu. Ia menyerahkan Erie, menunduk hormat kemudian berjalan menuju bangku jemaat.
Saat yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Sang pendeta berucap dan menanyakan sebuah pertanyaan kepada calon mempelai laki-laki.
"Elden Jacksen Alvaro, apakah saudara mengakui dihadapan Tuhan bahwa saudara bersedia menerima Vallerie Leontyne Eduard sebagai istri saudara satu-satunya dan mengasihinya sama seperti saudara mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudara berdua hidup?"
"Saya bersedia," ucap pria di samping Erie yang membuat jantung Erie berdebar kencang. Suara pria itu terdengar dalam dan dingin. Suara baritone yang khas.
Sang pendeta bertanya lagi. Kali ini kepada Erie tapi dengan pertanyaan yang sama. Erie juga menjawab hal senada dengan yang diucapkan oleh pria di sampingnya.
"Silakan para mempelai untuk mengucapkan janji setia suami istri," kata pendeta itu melanjutkan.
Tuan Elden yang berdiri di samping Erie, mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Dengan suara basnya itu, Tuan Elden berucap. "Saya, Elden Jacksen Alvaro menerima engkau, Vallerie Leontyne Eduard menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, sampai kematian memisahkan kita."
Entah mengapa Erie merasa debaran jantungnya semakin menjadi-jadi. Saat mengucapkan janji yang sama dengan yang diucapkan Tuan Elden saja, Erie merasa sangat gugup. Meski begitu, gadis itu dapat mengucapkan janji yang seminggu telah ia hafalkan itu dengan baik.
Usai mengucapkan janji setia, prosesi dilanjutkan dengan saling menyematkan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan masing-masing mempelai. Lalu, Tuan Elden membuka tutup kepala Erie. Ia terdiam sejenak. Ekspresi terkejut sempat hinggap sebentar di wajahnya. Namun itu tak berjalan lama karena paras tampan itu kembali berhias wajah dingin dan datar.
Tuan Elden mendekatkan dirinya pada Erie. Ia memegang punggung gadis itu dan mendekatkan wajahnya. Dari jarak sedekat itu, Erie bisa melihat dengan jelas bagaimana karya sempurna Sang Maha Kuasa di wajah tampan pria itu. Semakin lama semakin dekat. Hembusan napas pria itu semakin nyata di wajah Erie. Tak lama kemudian ia menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu.
Erie tersentak. Ia kaget karena itu pengalaman pertama di mana seorang pria mencium bibirnya. Jantungnya semakin berdebar. Ekspresi terkejut tergambar jelas di wajahnya.
Erie hanya diam. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ingin sekali rasanya ia mendorong pria itu. Tapi itu tidak mungkin. Ia bisa mengacaukan acara pernikahannya sendiri.
Tuan Elden mengeratkan dekapannya dan memperdalam ciumannya. Ia sedikit menyeringai saat mengetahui respons terkejut dari perempuan di depannya. Setelah beberapa saat, ia melepaskan tautan bibir mereka dan dekapannya di tubuh Erie.
Cukup memakan waktu lama agar Erie tersadar akan semua yang terjadi. Saat ini, di usianya yang masih 19 tahun, Erie sudah menyandang status sebagai istri. Hal yang tak pernah Erie bayangkan meski hanya di dalam mimpi saja.
Setelah acara pemberkatan mereka, acara dilanjutkan dengan resepsi yang diadakan di salah satu hotel di kota itu. Tak banyak orang yang hadir di sana, terhitung puluhan orang saja. Satu-satunya orang yang Erie kenal hanya Pak Robbert saja karena ia tahu Bibi Betty tidak akan hadir untuk melihat pernikahannya. Sisanya ia tidak tahu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang diundang oleh suaminya itu. Tapi anehnya, para tamu undangan itu hanya didominasi oleh laki-laki. Kaum perempuan bahkan bisa dihitung dengan jari.
Erie memandang pria yang berdiri di dekatnya. Suaminya yang tampan tetapi tetap dengan ekspresi dingin itu sempat memberikannya makanan sebelum acaranya dimulai. Apakah pria itu tahu bahwa Erie belum sempat makan sejak pagi?
Pria itu tengah berbincang dengan seorang pria lain. Mereka menggunakan bahasa asing yang sama sekali tidak dimengerti oleh Erie. Sesekali mereka memandang Erie. Orang yang diajak bicara itu menunduk hormat kala ia melihat Erie. Terus menerus. Kejadian itu berulang kepada semua tamu yang ada di sana. Mereka berbincang sebentar dengan Tuan Elden, kemudian memandang Erie dan menunduk hormat kepadanya.
Erie tidak mempermasalahkan itu. Ia memang tak mengerti apa yang mereka katakan. Jadi ia hanya terfokus memandang wajah suaminya saja. Menelisik semua yang ada di sana, mulai dari matanya, hidungnya, pipinya, dan bibirnya. Saat pandangannya jatuh ke bibir, tiba-tiba saja pipi Erie bersemu merah. Sial! Bibir itu adalah bibir yang mencuri ciuman pertama miliknya.
"Ada apa?" Suara baritone pria itu berhasil membuyarkan lamunan Erie. Perempuan itu tergagap ketika matanya beradu pandang dengan mata hazel milik Tuan Elden yang kini menghadap ke arahnya.
"Ehh! Ti..tidak apa-apa," jawab Erie terbata-bata sambil merutuki kebodahannya karena ketahuan mencuri pandang pada pria itu.
Tuan Elden mengernyitkan keningnya. Ia kembali fokus berbincang ketika tamu lain menghadapnya. Setelah tamu itu pergi, Erie mencoba membuka suara.
"Emmm.. Tuan!" panggilnya pelan.
"Elden!" ucap pria itu tegas.
"Ha?"
"Panggil saja aku Elden! Ada apa?" kata pria itu tanpa menoleh kepada Erie. Ia memainkan minuman di gelasnya sebelum meneguknya.
"Sampai kapan acara ini berlangsung?" tanya Erie.
Pria itu terdiam. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Erie. Ia justu sibuk dengan minumannya. Setelah habis, ia meletakkan gelasnya ke meja makanan yang ada di sana. Beberapa detik kemudian, ia baru bersuara. "Tidak tahu!" jawabnya singkat dengan nada yang dingin lalu ia melangkah pergi meninggalkan Erie di sana.
Apa?!
Teriak Erie di dalam hatinya. Ia melirik sekelilingnya dan mendapatkan pandangan aneh dari para tamu. Erie yang merasa tidak nyaman bergegas mengejar suaminya. Ia sangat kesal dengan perlakuan pria itu. Bagaimana mungkin pria itu meninggalkan Erie di sana seperti itu? Perempuan itu tidak mengenal orang-orang itu tapi suaminya malah begitu tega meninggalkannya. Dengan rasa kesal itu Erie berpikir bagaimana kehidupannya nanti bersama pria dingin itu.
*XXXXXX
Jangan lupa beri like dan comment* ya!!!
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
jangan2 laki2 itu pangeran Erie dimasa kecil, karena laki2 itu sempat keget waktu penutup wajah Erie dibuka
2022-11-20
1
Aqua_Chan
seru ini kayaknya
2022-10-03
1
Nengah Oka
visual ya mana kak
2022-08-02
0