Erie mengunci diri selama sehari. Ia tidak menceritakan peristiwa semalam kepada siapa-siapa. Juga kepada bibinya ia merahasiakan kejadian itu. Lagi pula percuma ia menceritakannya. Justu bibinya akan menggunakan kejadian itu untuk menyebutnya sebagai perempuan perayu.
Pagi itu, Erie dapat mendengar teriakan dan makian kencang dari Bibi Betty. Ia menggedor kamar Erie dengan kencang karena amarahnya. Erie tidak menyiapkan sarapan seperti biasa dan gadis itu berani tidak menjawab panggilannya. Jika saja hari ini ia tidak ada rapat penting, Bibi Betty tidak akan membiarkan Erie selamat begitu saja.
Erie takut. Ia khawatir pria itu masih ada di sana. Ingin rasanya Erie melarikan diri dari sang bibi. Tapi ke mana? Jangankan tempat tinggal, uang saja ia tidak punya. Ia memang bisa mengambil beberapa barang berharga milik Bibi Betty. Setelah itu apa? Tidak ada jalan keluar dari rumah terkunci itu. Belum lagi ucapan-ucapan Bibi Betty tentang dunia di luar rumah yang begitu kejam. Tak ada jaminan bahwa orang-orang di luar sana jauh lebih baik dari bibinya dan laki-laki brengsek itu.
Mengurung diri dengan menatap sinar matahari dari jendela yang berteralis itu menjadi kegiatan Erie sepanjang hari, dari pagi hingga sore. Tidak ada niatan baginya untuk keluar dari kamarnya. Rasa lapar dan hausnya telah hilang entah kemana. Gairahnya untuk membaca juga ikut pergi.
TOK TOK TOK!
"Nona Erie, saya Robbert."
Erie mengalihkan pandangannya dari jendela. Rasa bingung dan ragu hinggap di hatinya. Benarkah itu suara Pak Robbert? Tapi itu bukanlah jadwal Pak Robbert untuk datang. Lalu, suara siapa itu?
"Nona Erie, bisakah Anda membuka pintu?"
Benar! Itu adalah suara Pak Robbert. Erie bergegas berjalan menuju pintu kamarnya. Ia berpikir mungkin saja ia bisa meminta bantuan pria paruh baya itu untuk keluar dari rumah bibinya.
"Pak Robbert," kata Erie membuka pintu kamarnya.
Pak Robbert menunduk hormat. Hanya laki-laki itu saja yang menganggap Erie sebagai manusia.
"Apakah Anda baik-baik saja?" ucapnya setelah melihat tubuh Erie yang sekarang semakin kurus dan wajahnya yang juga terlihat pucat.
"Apakah aku terlihat baik, Pak?" tanya Erie. Pria berusia 53 tahun itu tidak bisa berkata-kata. Ia tahu apa yang dialami Erie. Tapi ia tidak punya kuasa untuk membebaskan Erie sekarang.
"Pak, apakah saya bisa keluar dari rumah ini?" Erie berkata lagi. Ia menatap Pak Robbert yang diam tertunduk. Beberapa saat kemudian, barulah Pak Robbert mengangkat suaranya.
"Nona Erie, sebenarnya---"
"Apakah perusahaan mengajimu untuk mengurusi anak sial itu, Pak Robbert?" ucap Bibi Betty memotong pembicaraan Pak Robbert dengan Erie.
"Maafkan saya, Nona Betty," ujar Pak Robbert meminta maaf.
"Cepatlah. Kita tidak punya waktu bermain-main. Dan kau!" kata Bibi Betty lalu menunjuk Erie.
"Kau ikut rapat kami. Jika kau membantahku lagi, aku pastikan kau tidak akan pernah keluar dari kamar itu hidup-hidup!" perintahnya tegas lalu berjalan pergi.
"Mari Nona, sebaiknya kita tidak membantah beliau," ajak Pak Robbert pada Erie. Gadis itu hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Pak Robbert.
Pak Robbert dan Bibi Betty memulai rapat mereka di ruang tamu. Erie memang tak banyak mengerti, tapi dari yang disampaikan Pak Robbert, Erie tahu bahwa ada masalah serius dalam perusahaan.
"Brengsek!!!" ucap Bibi Betty sambil melemparkan gelasnya ke lantai hingga menimbulkan suara pecahan yang keras. Ia tidak bisa menahan emosinya saat mengetahui produsen kayu nomor wahid di negara itu enggan memasok kebutuhan bagi perusahaannya. Padahal, bagi perusahaan mebel seperti perusahaannya, kayu merupakan kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi.
"Apa yang membuatnya memutuskan kerja sama dengan kita?" tanya Bibi Betty pada Pak Robbert.
"Saya tidak mendapatkan keterangan yang jelas Nona. Tapi kita harus mencari produsen lain."
"Tidak semudah itu Pak Robbert. Setidaknya butuh waktu tiga bulan untuk menyusun kerja sama baru, sedangkan cadangan kayu kita hanya bertahan untuk sebulan saja."
Bibi Betty berdiri dari sofa. Ia berjalan sebentar lalu berhenti dan berbalik. Ia menghadap Pak Robbert sambil menatap wajah lelaki itu.
"Sepertinya aku harus memohon pada Tuan Muda."
Tuan Muda? Erie mencoba mengingat nama produsen yang tengah diperbincangkan oleh Pak Robbert dan bibinya. Kini ia ingat siapa Tuan Muda yang dimaksud. Tuan Muda itu pernah ke rumah mereka dan melakukan kekerasan pada Bibi Betty. Bahkan ia juga beberapa kali menipu bibinya.
"Tapi aunty, bukankah pria itu hanya memanfaatkanmu?" suara Erie tiba-tiba yang langsung dibarengi oleh tatapan dari Pak Robbert dan Bibi Betty.
Pak Robbert menatap Erie sambil menyesalkan mengapa gadis itu berbicara padahal mereka tahu betul bahwa bibinya tidak suka Erie berkomentar.
"Apa kau bilang?" kata Bibi Betty berjalan mendekati Erie.
PLLAAAKK
Sebuah tamparan keras menyentuh pipi Erie. "Apa aku meminta pendapatmu? Bahkan menghitung anggaran bulan ini saja kau salah," kata Bibi Betty dengan kejam dan penuh kebencian. Tamparan itu perlu ia lakukan agar Erie tidak lancang terhadapnya.
Erie terdiam. Ia tadi hanya spontan berucap. Ia tahu bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Tak seharusnya ia ikut campur masalah bisnis seperti itu.
"Kau tahu apa tentang perusahaan? Kau itu anak sial! Jika saja kau tidak ada, pasti semua masalah ini tidak akan muncul. Jadi semua adalah salahmu. Sekarang berani sekali kau berkomentar atas tindakanku. Cih, kenapa tidak sekalian saja kau mati bersama dengan kakakku yang bodoh itu?!!!"
Erie menggenggam erat tangannya kesal. Hinaan yang ia dapatkan dari bibinya itu sungguh keterlaluan dan membuat Erie marah.
Bibi Betty mengangkat dagu Erie. "Kenapa? Kau merasa kesal, hhmmm? Dengarkan ini anak sial! Jika kau hanya menjadi perempuan yang lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa, semua orang akan menghinamu seperti ini." Bibi Betty melepaskan tangannya. Ia beranjak dari tempat itu tanpa berkata apapun lagi.
XXXXX
Eduard Company benar-benar dilanda krisis. Bibi Betty yang merupakan puncak pimpinan menjadi sangat sibuk dan jarang pulang beberapa hari belakangan. Terakhir kembali ke rumah itu adalah dua hari yang lalu.
Namun, tiba-tiba pada hari ini, Erie yang sedang membersihkan ruang tamu dikejutkan dengan suara pintu depan yang terbuka. Melihat hal itu, dengan buru-buru Erie berlari menuju kamarnya. Dari langkah kakinya, gadis itu bisa menebak bahwa Bibi Betty sudah kembali ke rumah.
Sebenarnya Bibi Betty hanya pulang beberapa menit untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Ia harus cepat-cepat kembali ke kantor dan pergi mengunjungi rekan bisnisnya. Bibi Betty sibuk dengan proyek ini dan itu. Semua proyek dikerjakan hanya untuk menyelamatkan perusahaan milik kakaknya.
Jika boleh jujur, Bibi Betty adalah orang yang bertanggung jawab atas perusahaan Eduard Company. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan lebih dari dua ribu orang pegawainya. Terkadang, rasa letih dan lelah sering tak dipedulikan wanita itu. Apapun ia sanggupi demi perusahaan. Bibi Betty juga termasuk orang yang menyelesaikan semua masalah dengan tangannya sendiri. Selain berkonsultasi dengan Pak Robbert, tak ada satupun yang tahu bagaimana cara Bibi Betty menyelesaikan masalah di kantor.
Erie menempelkan telinganya di pintu. Ia mencoba mendengarkan apakah bibinya sudah keluar dari rumah. Ketika tak mendengar suara berisik, Erie membuka pintunya. Namun, ia tersentak karena terkejut melihat Bibi Betty yang berada di depan pintunya.
"Astaga!" ujar Erie seketika. Ia memegang dadanya untuk menenangkan jantungnya yang nyaris saja copot. Sesaat kemudian ia tersadar. Ia memandang wajah Bibi Betty yang menatapnya dengan tajam.
"Ikut aku sekarang," kata Bibi Betty. Belum sempat Erie bersuara, Bibi Betty kembali berkata. "Jangan banyak bertanya. Ikut atau mati!" tegasnya.
Tubuh Erie merinding seketika. Gadis itu tidak ingin mati mengenaskan jadi ia memilih untuk mengikuti Bibi Betty. Erie melangkah keluar rumah. Itu adalah langkah pertamanya di luar setelah lima tahun terkurung di dalam rumah itu.
Erie mengikuti bibinya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping supir pribadi keluarganya. Sedangkan bibinya duduk seorang diri di kursi belakang.
Erie memandang keluar jendela mobil. Semua yang ada di jalanan itu berubah sama sekali. Dalam lima tahun, banyak gedung-gedung baru yang belum pernah Erie lihat dulu. Kendaraan yang lalu lalang juga jauh lebih banyak yang menandakan mobilitas penduduk yang semakin tinggi.
Satu jam kemudian, Erie tiba di depan kantor pusat Eduard Company. Awalnya ia merasa canggung untuk kembali ke sana. Terakhir kali ia menginjak kantor itu adalah tiga hari sebelum hari kematian orang tuanya. Tempat di mana hampir setiap hari ia bisa melihat daddynya bekerja karena hampir setiap hari mommynya mengajaknya ke sana untuk mengantar makan siang untuk sang ayah.
Setiap sudut di perusahaan itu mengingatkan Erie pada ayah dan ibunya. Walau hanya dua tahun, tapi itu adalah waktu-waktu terindah menurutnya. Ia tidak menyangka ia akan kembali lagi ke sana dan melihat semuanya masih sama, tidak ada yang berubah, mulai dari lobby hingga lantai ruangan daddynya dulu.
Erie masuk ke dalam ruangan sang ayah sendirian. Saat di lobby, Bibi Betty dicegat oleh seorang karyawannya yang akan melaporkan hal yang tidak boleh diketahui oleh orang asing. Bibinya lalu menyuruh Erie untuk ke ruangannya duluan. Itulah sebabnya Erie bisa melangkah ke sana sendiri.
Saat berada di ruangan itu, Erie langsung disambut dengan sebuah foto besar yang terpajang di salah satu dinding. Itu adalah foto sang ayah sebagai perintis dan juga tokoh yang berperan dalam membesarkan perusahaan. Di bawahnya, terdapat sebuah lemari kaca tempat berbagai macam penghargaan dan foto-foto kesuksesaan CEO.
Erie berjalan menuju meja kebesaran ayahnya. Semuanya terlihat sama dan tak berubah ataupun bergeser. Bahkan foto Erie bersama daddy dan mommynya masih melekat di atas meja CEO yang sekarang menjadi milik Bibi Betty itu. Sebenarnya apa alasan bibinya tidak memindahkan foto itu? Bukankah ia sangat membenci Erie?
Bicara tentang foto, Erie jadi ingat dengan boneka kecil yang menjadi gantungan kunci tasnya di dalam foto itu. Ia teringat bahwa gantungan kelinci itu sempat rusak dan ayahnya menyimpannya di dalam laci. Katanya sang ayah akan memperbaikinya. Namun, sampai sekarang, gantungan itu tak juga kembali. Mungkin daddynya tidak sempat karena tak punya waktu.
Erie merendahkan tubuhnya. Ia memegang laci bawah meja itu. Saat hendak mengambilnya, tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"Apa yang kau lakukan?" ujar sang bibi baru masuk ke dalam ruangan. Ia lalu memegang tangan Erie, menariknya agar menjauh dari mejanya.
"Bisakah kau sekali saja tidak membuat aku kesal?" kata bibinya lagi sambil menghempaskan tangan Erie.
Bibi Betty menghentikan pertengkarannya ketika melihat Pak Robbert masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat Siang, Nona Betty, Selamat Siang, Nona Erie," salam dari Pak Robbert di hadapan Erie dan bibinya.
"Duduklah Pak Robbert!" perintah Bibi Betty setelah ia dan Erie menjawab sapaan pria tua itu. Pengacara sekaligus sekretaris Eduard Company itu mengucapkan terima kasih sembari duduk di samping Erie.
"Jadi jelaskan padaku, kenapa tadi kau memintaku membawa Erie ke kantor?" tanya Bibi Betty tanpa basa-basi.
Sang pengacara mengeluarkan dokumen dari dalam tas yang sering ia bawa. "Saya di sini ingin menyampaikan surat warisan dari Tuan Eduard sebelum beliau meninggal--"
"Tunggu dulu!" sergah Bibi Betty. "Jadi kakak meninggalkan surat wasiat? Kenapa baru diberitahu sekarang?"
Pak Robbert menjelaskan. "Tuan memang meninggalkan surat wasiat Nona. Hanya saja surat itu baru boleh dibuka saat Nona Erie sudah berusia 19 tahun di hari ulang tahun perusahaan yang ke 20."
Hari ini memang hari ulang tahun perusahaan yang ke 20. Tapi perusahaan tidak bisa merayakan seperti biasa karena devisit anggaran. Belum lagi rumor PHK yang masif terdengar, membuat citra perusahaan tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya.
"Baiklah. Bacakan isi suratnya," kata Bibi Betty mempersilakan Pak Robbert melanjutkan membaca surat wasiat Tuan Eduard.
"Melalui surat ini, beliau menyampaikan bahwa perusahaan dan aset keluarga termasuk rumah, villa dan mobil, 90 persennya akan menjadi milik Nona Erie dan 10 persennya milik Nona Betty. Hal ini berlaku mulai saat ini sampai Nona Erie menikah. Namun, setelah Nona Erie menikah, Tuan Eduard mempunyai kebijakan lain."
"Kebijakan apa?" potong Bibi Betty.
"Maaf nona, Tuan Eduard telah memberikan mandat kepada saya untuk membacakan kebijakan yang selanjutnya hanya setelah Nona Erie menikah."
"Brengsek! Apa sebenarnya keinginan orang bodoh itu?" umpat Bibi Betty. Wajah kesalnya tidak bisa ia sembunyikan. Ia marah atas kebijakan yang diberikan kakaknya. Mengapa harus Erie? Padahal anak sialan itu tidak punya garis darah Eduard sepertinya. Ia tidak bisa menerima keputusan itu karena ia adalah orang yang mengurus perusahaan selama ini, tapi apa yang ia dapat? Hanya 10 persen dari warisan Eduard Company? Sialan! Ini sama sekali tidak masuk akal.
Hal serupa juga yang ada di pikiran Erie. Selama ini ia sudah sangat beruntung dengan pengangkatannya menjadi anak resmi keluarga Eduard dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah. Ia tidak meminta lebih dari itu. Ia juga tidak mengerti mengapa daddynya menyerahkan perusahaannya kepadanya yang bukan anak kandungnya? Semua hal itu berkecamuk di dalam batin Erie.
"Baiklah. Minggu depan Erie akan menikah!" kata sang bibi membuyarkan pikiran Erie.
"Ha?" ucap gadis itu terkejut.
Bibi Betty memandang wajah gadis yang terkejut di depannya. "Kenapa Erie? Bukankah usiamu sudah 19 tahun? Usia yang cukup untuk menikah!"
"Tapi aunty--”
"Tidak ada tapi-tapian! Pak Robbert, tolong urus semua keperluan pernikahan Erie," perintah wanita itu dengan tegas.
"Baik Nona akan saya persiapkan."
Pak Robbert memasukkan kertas wasiat itu ke dalam tasnya lalu berdiri.
"Jika tidak ada hal lain, saya undur diri untuk mengurus hal-hal selanjutnya. Selamat pagi Nona Betty dan Nona Erie," kata Pak Robbert sambil menundukkan kepala kepada sang bibi dan Erie sebagai tanda penghormatan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
“Aunty, aku akan menikah?" tanya Erie masih tidak percaya dengan keputusan bibinya.
"Iya!"
"Tapi aku masih--"
BRRAAKKK
Bibi Betty menggebrak meja. "Tidak usah membantah! Kau ingin keluar dari penyiksaanku kan? Maka menikahlah dan pergi dari kehidupanku."
"Tapi aku tidak tahu siapa yang harus aku nikahi aunty."
Erie berpikir keras. Jangankan untuk menjalin kasih dengan seorang pria, bertemu pria luar saja ia tidak pernah. Lalu bagaimana ia akan menikah?
Bibi Betty menyunggingkan senyumnya. "Kau tidak perlu khawatir anak sial. Aku akan menyiapkan seoarang pria untukmu," katanya sambil berdiri dari sofa.
"Tapi--" katanya sambil menarik tangan bibinya.
PPLLAAKK
Satu tamparan keras mendarat ke pipi Erie. Tamparan yang memberikan rasa panas yang menyakitkan di wajah gadis itu.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu bodoh!!!! Dan satu lagi, kau akan bertemu dengan pria itu di hari pernikahanmu," kata Bibi Betty sambil menepuk-nepuk lengannya, seolah-olah telah terkena kotoran.
XXXXXX
**Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan dengan memberi like dan comment...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Mina Rasi
aku kalau punya tante macam betty tu, udah ku kasih racun dia 😭😭
2023-03-31
0
Nurma sari Sari
mudah2n Betty Lapea kena karma, jadi perawan tua, UPS salah bukan perawan tua, soalnya sdh gak perawan lagi, jadi bujang lapuk
2022-11-20
1
Inaone Ina
Kisa yg bikin penasaran
2022-11-16
1