Betty Eduard mengunci diri di dalam ruangan. Ia duduk kursi pemimpin kantor itu. Tangannya mengepal, bibirnya gemetar. Amarahnya kini memuncak tinggi. Sudah lama ia menghabiskan waktu hanya untuk mengurus perusahaan Eduard Company. Ia bahkan rela melakukan banyak cara agar perusahaan itu tetap bisa berdiri. Tapi apa yang ia dapatkan sekarang hanya sebuah kesia-siaan belaka.
Betty menatap wajah sepasang suami istri yang sedang tersenyum bahagia bersama dengan seorang anak perempuan kecil. Foto itu sudah berumur lima tahun tapi wanita itu tidak memindahkannya karena ia masih menghargai kakaknya.
Andai dulu sang kakak ipar yang bernama Brisa Eduard, tidak mengalami kecelakaan dan kehilangan bayinya, pasti anak yang mereka angkat itu tidak akan pernah masuk ke dalam keluarga Eduard.
Dulu, Brisa adalah seorang desainer terkemuka. Ia berhenti dari pekerjaannya setelah bertemu dengan Eduard. Mereka adalah rekan kerja yang awalnya dipertemukan tidak sengaja oleh waktu. Brisa membutuhkan furniture sebagai propertinya dalam acara foto modelnya, sedangkan Eduard membutuhkan sesuatu untuk mengiklankan produk dagangannya. Akhirnya mereka bekerja sama.
Dalam dua tahun, percikan api asmara semakin membara di hati keduanya. Mereka memutuskan untuk menikah ketika mereka sudah saling mengenal selama tiga tahun. Tidak lama setelah menikah, mereka diberikan anugerah dari Sang Kuasa. Brisa hamil dan itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi keduanya. Namun kebahagiaan itu tidak berjalan lama karena beberapa bulan kemudian, Brisila mengalami kecelakaan mobil yang membuat ia keguguran dan divonis tidak bisa memiliki anak lagi.
Brisa mengalami pukulan berat. Setiap mengingat anaknya, ia menjadi depresi. Tangannya akan mengelus perutnya yang rata itu tanpa sadar. Air mata akan mengumpul di pelupuk matanya yang tidak bisa ia keluarkan karena suaminya. Ia berusaha tegar untuk bisa menyenangkan pria itu.
Berbeda dengan Brisa yang memaksakan diri di depan Eduard, sang suami justru tidak ingin istrinya tersenyum dengan tatapan kosong seperti itu. Ia tidak ingin melihat Brisa yang berusaha untuk baik-baik saja tapi setiap malam menangis seorang diri di dalam kamar mandi. Bahkan istrinya itu juga sering melamun dan berjalan tanpa tujuan.
Apa yang dirasakan istrinya itu juga dirasakan oleh Eduard. Ia tak tahu harus melakukan apa. Hal ini berpengaruh terhadap kinerjanya. Sering kali ia lalai hingga menyebabkan perusahaannya diambang kehancuran.
Di tengah kemalangan yang menimpa mereka, seorang teman Eduard menyarankan agar mereka mengadopsi anak. Eduard awalnya ragu. Ia tidak yakin istrinya akan menerima saran itu atau tidak, namun ia mencobanya. Setelah tiga kali berdiskusi dengan istrinya, akhirnya mereka setuju untuk mengadopsi anak.
Saat melangkahkan kaki di salah satu panti asuhan di negeri itu Eduard dan Brisa memiliki satu tujuan, yakni mengadopsi seorang bayi. Namun, pilihan Brisa berubah kala ia melihat Erie yang tengah bermain dengan seekor kelinci di dalam sebuah kandang. Senyuman dari bibir anak itu begitu polos dan menyenangkan. Membuat Brisa juga ikut tersenyum melihatnya.
Senyuman yang ada di bibir Brisa dapat ditangkap dengan baik oleh penglihatan Eduard. Itu adalah senyuman terbaik yang dimiliki oleh istrinya pasca kematian anak mereka. Ia yakin anak perempuan itu bisa mengembalikan istrinya yang dulu. Tapi keyakinan Eduard mulai memudar ketika anak itu diperkenalkan oleh pemilik panti asuhan kepada mereka. Ia ragu bukan karena latar belakang anak perempuan yang berusia 12 tahun itu. Yang ia ragukan adalah apakah benar anak itu bisa memberikan kebahagian kepada Brisa karena ekspresi anak itu jauh berbeda dari sebelumnya. Anak itu terlihat begitu pendiam.
"Aku akan memilih Erie, sayang," kata Brisa kepada suaminya. Mereka diberikan waktu untuk berdiskusi oleh pemilik panti asuhan jika mereka memang mau mengadopsi salah satu dari anak-anak yang ada di sana.
Eduard memegang tangan Brisa. "Tapi anak itu terlihat begitu pendiam," ucapnya.
"Erie terlihat sepertiku. Sepertinya ia memiliki luka yang harus disembuhkan. Biarkan aku mengurusnya ya?"
Eduard melihat mata istrinya yang berbinar-binar memohon padanya. Syukurlah, setidaknya Eduard dapat memandang kehidupan lagi dari dua bola mata indah itu. Ia tidak peduli dengan apapun lagi kecuali istrinya. Akhirnya Eduard menyetujui untuk mengangkat Erie sebagai anak mereka.
Vallerie Leontyne adalah anak pembawa keberuntungan. Begitulah Eduard memandang Erie. Setelah menyematkan nama keluarganya pada anak perempuan itu secara resmi, semuanya berubah menjadi lebih baik. Tidak hanya kebahagiaan istrinya yang kembali, Erie juga memberikan keceriaan di rumah itu. Meskipun Eduard tidak tahu ini kebetulan atau tidak, tapi kehadiran Erie juga membuat perusahaannya kembali bangkit.
Saat itu, ia begitu beruntung karena seorang pengusaha tersukses mau membantunya. Elden, salah satu anak dari pengusaha paling berpengaruh di negeri itu menawarkan kerja sama sekaligus suntikan dana untuk Eduard Company. Itu benar-benar kejadian langka karena perusahaan Elden dan perusahaannya merupakan rival karena sama-sama bergerak di bidang furniture.
Eduard dan Brisa begitu menyayangi Erie. Mereka selalu menghabiskan waktu akhir pekan bersama. Jika sekolah Erie sedang libur, Eduard akan mengambil cuti beberapa hari untuk liburan bersama istri dan anak mereka keluar kota.
Brisa juga kerap kali membawa Erie ke kantor Eduard. Hampir tiap hari ia dan Erie mengantarkan makan siang untuk pria itu. Mereka akan makan siang bersama-sama, atau jika Brisa tidak memasak, mereka akan makan siang di salah satu restoran yang dipilih melalui sebuah permainan sederhana yang mereka mainkan.
XXXXX
Satu tahun setelah Brisa dan Eduard membawa Erie, adik perempuan satu-satunya yang dimiliki oleh Eduard kembali. Betty Eduard, wanita berusia 24 tahun itu telah menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh gelar sarjana dari falkultas bisnis di salah satu universitas terbaik di luar kota. Betty tak punya keluarga lain selain kakaknya. Semua biaya hidup dan sekolahnya ditanggung oleh Eduard. Oleh sebab itu, ketika ia sudah selesai menempuh pendidikan, ia kembali ke rumah kakaknya.
Selama menempuh masa kuliahnya, Betty sangat jarang pulang ke rumah kakaknya. Waktu libur pun ia habiskan untuk bermain dengan teman-temannya. Itu adalah salah satu bentuk pemberontakannya pada Eduard karena harapannya untuk menempuh pendidikan kedokteran mendapatkan pertentangan keras. Kakaknya bahkan mengancam tidak akan membiayai Betty jika wanita itu tidak memilih fakultas bisnis sama sepertinya.
Betty masuk ke dalam rumah yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun itu. Siang itu, sang kakak iparlah yang menyambutnya karena kakaknya sedang bekerja seperti biasa di kantor. Betty bukannya tidak tahu dengan apa yang terjadi pada keluarga kakaknya. Keguguran yang dialami oleh Brisa sudah terdengar sampai ke telinganya. Juga masalah kakaknya yang mengangkat seorang anak dari panti asuhan.
"Erie, ini aunty Betty, adik dari daddy," ujar Brisa memperkenalkan Betty pada Erie. Brisa mengelus kepala Erie dengan lembut dan penuh kasih sayang. Anak yang berusia 12 tahun itu mendekati Betty. Ia membungkukkan kepalanya dan memberikan salam. Tak lama kemudian anak itu tersenyum.
Ada rasa ketidaksukaan di hati Betty saat pertama kali melihat Erie. Anak itu terlihat begitu lemah. Menurut Betty, anak itu memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk mendapatkan kasih sayang dari kakak dan kakak iparnya. Tapi Betty tak bisa protes pada Brisa, karena sejak kecil, wanita itulah yang sudah mengurus Betty. Ia begitu sayang pada kakak iparnya itu.
Hari-hari berlalu tanpa ada perkara yang berarti sampai pada hari itu. Hari di mana Betty dan Eduard terlibat adu mulut karena Erie. Awalnya mereka hanya berbicara santai, sama seperti pembicaraan yang selalu dilakukan seorang kakak terhadap adiknya.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau tidak berpikir untuk bekerja?" ucap Eduard pada malam itu. Malam setelah 10 hari Betty pulang ke rumahnya.
"Aku akan bekerja di waktu yang tepat kak. Kakak tidak perlu khawatir dengan kehidupanku," ucap Betty sambil menunjukan senyumnya kepada sang kakak. Mereka berbincang-bincang berdua di ruang tamu. Brisa sedang mengantarkan Erie ke kamarnya. Setiap malam Brisa selalu memastikan Erie untuk tidur tepat waktu.
"Apakah kau sudah menemukan perusahaan yang tepat? Pertanyaan Eduard membuat Betty tidak suka. Kenapa kakak menanyakan hal itu?" kata Betty dengan kesal. Ia tahu maksud kakaknya. Eduard tidak pernah mengizinkan Betty bekerja di tempat lain karena ia begitu peduli dengan kehidupan adik satu-satunya itu.
"Kau harus mendapatkan pelatihan untuk masuk ke dalam perusahaanku."
"Aku tidak mau bekerja di perusahaan kakak."
"Betty, untuk apa bekerja di tempat orang lain jika kau masih punya kakak?"
"Aku akan mencari pekerjaanku sendiri."
"Orang di luar sana sangat sulit dipercaya, Betty."
"Benar sekali kak, jadi kakak tidak boleh membawa orang asing ke sini," ujar Betty sambil memandangi wajah pria di depannya.
Dahi Eduard berkerut. "Apa maksudmu?"
"Kakak tidak boleh memasukkan Erie ke dalam keluarga kita," kata Betty berusaha menyadarkan kakaknya bahwa kakaknya telah melakukan sesuatu yang salah.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Anak itu akan menjadi bumerang bagi keluarga kita. Lihatlah, keluarga kak Brisa saja tak menerima Erie."
Itu benar. Eduard bukannya tidak tahu akan hal itu. Tapi ia melakukannya demi istrinya. Ia bisa melihat betapa Brisa sangat menyayangi anak itu. Wanita itu sudah menganggap Erie sebagai putri kandungnya sendiri. Hanya Erie yang bisa menghibur hati istrinya saat ini.
"Kakak harus mengembalikan anak itu ke panti asuhan sebelum terlambat. Sejak anak itu ada di sini, orang tua kak Brisa jadi jarang ke mari."
"Diam! Kau tidak boleh membantah keputusanku, Betty. Ini kehidupanku dengan istriku."
"Tapi kak---"
"Sudah aku bilang diam!" bentak Eduard kepada Betty. Wajah pria itu terlihat begitu murka.
Beberapa detik kemudian Betty menghembuskan napasnya dengan kasar. Walau berat, tapi Betty harus berpura-pura bisa menerima Erie di rumah itu demi kakaknya. "Kak, maafkan aku. Aku akan menerima keputusan kakak."
Eduard melihat adik semata wayangnya itu. Ia tidak bisa mengabaikannya meskipun ia sangat marah saat ini. "Bersumpahlah atas nama ayah dan ibu bahwa kau tidak akan mengusir anak itu dari rumah ini," ucap Eduard tegas.
Betty terkejut. Kakaknya tidak pernah membawa nama orang tua mereka meskipun Betty bersikap kurang ajar sekali pun. Tapi sekarang, hanya demi anak yang tidak tahu asal usulnya itu, kakaknya memaksanya bersumpah di atas nama ayah dan ibu mereka. Untuk pertama kalinya Betty mengucapkan nama kedua orang tuanya setelah sekian lama mereka berusaha melupakan mendiang keduanya.
Sejak saat itu, setiap Betty memandang wajah Erie, detik itu juga ia merasa muak. Wajah ceria anak itu ternyata tak mampu membuatnya tulus untuk menerima Erie. Ia membenci Erie. Saking bencinya ia ingin sekali menyingkirkan anak itu.
XXXXX
Beberapa bulan kemudian Betty mengikuti permintaan kakaknya dan masuk ke dalam perusahaan. Hari itu Betty jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang dikenalkan kakaknya di dalam ruangan itu. Namanya Elden Jacksen Alvaro. Pria yang masih berusia muda tapi sudah menjadi pemimpin perusahaan. Bahkan pria yang tiga tahun lebih muda dari Betty itu digadang-gadang sebagai penerus dari konglomerat Alvaro. Bukankah itu menakjubkan?
Betty semakin penasaran dengan pria yang bernama Elden itu. Apalagi kakaknya sangat mempercayainya. Wajar saja karena Elden adalah lumbung uang bagi Eduard Company. Sejak hari itu, Betty menjadi rajin berangkat ke kantor. Tapi sayangnya, Betty yang masih baru selalu ditugaskan oleh atasannya ke luar kota. Ia menjadi jarang melihat Elden. Jika dipikir-pikir, ia tiga kali bertemu dengan Elden dan itu pun hanya membicarakan soal bisnis.
Betty selalu memanfaatkan kesempatan untuk berbicara dengan Elden. Mulai dari menanyakan kesukaannya, mengajaknya untuk makan siang ataupun ajakan untuk pergi di luar jam kantor. Tapi semua itu tidak digubris oleh Elden. Pria itu selalu menatapnya dengan pandangan dingin. Ketika berbicara, pria itu bahkan enggan untuk menunjukkan ekspresi apapun padanya, kecuali ekspresi datarnya.
Semua itu masih bisa Betty terima. Tatapan dan ekspresi pria itu. Tapi ada satu hal yang ia tidak suka pada pria itu. Elden adalah pria yang terkenal tidak hanya dalam prestasinya, bahkan kisah cintanya juga kerap diketahui oleh publik. Ia bukanlah tipe pria yang setia dengan satu wanita saja. Sudah banyak wanita dari kalangan pengusaha, penguasa dan bangsawan yang menyatakan diri pernah menghangatkan ranjang pria itu.
Betty juga melakukan hal yang sama. Dalam sebuah acara pertemuan di malam itu, ia sengaja menggunakan pakaian seksi untuk menggoda pria itu. Namun, bukannya tergoda, pria itu justru menghinanya dengan menyuruh salah satu bawahannya untuk menidurinya. Dari situlah Betty menyimpan dendam pada pria itu.
Beruntungnya, setelah kematian kakak dan kakak iparnya, Betty tak pernah bertemu lagi dengan Elden. Sebelumnya, pria itu nyaris setiap minggu datang ke ruangan Eduard. Kekuatan Elden sangat besar dan Betty menyadari itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain membenci pria itu dalam ketidakberdayaannya.
Barulah lima tahun pasca kematian kakaknya, Elden muncul lagi. Dengan seenaknya ia masuk ke ruangan pimpinan yang sekarang menjadi milik Betty, tanpa izin darinya. Yang membingungkan, saat Betty tengah pusing memikirkan cara untuk menyelamatkan perusahaan kakaknya yang sedang krisis, ditambah dengan wasiat tidak jelas dari kakaknya yang mengharuskannya mencari pasangan untuk Erie, Elden justru menawarkan kerja sama.
Elden mengatakan bahwa ia akan memberikan suntikan dana yang besar bagi Eduard Company jika ia menikah dengan Erie. Betty tidak ragu menerima tawaran itu. Bukankah tawaran itu seperti rejeki nomplok baginya? Ia bisa menyelamatkan perusahaan, menyelesaikan masalah wasiat sekaligus menyingkirkan Erie, anak sialan yang ia benci kepada pria brengsek yang juga ia benci.
Namun, apa yang Betty dapatkan sekarang? Ia justru dijebak oleh permainan yang diciptakan oleh Elden. Ia tidak menyangka surat wasiat kakaknya akan berisi seperti ini. Ia benar-benar merasa dibodohi oleh semua orang. Sia-sia sudah perjuangan kakaknya dan dirinya dalam mengurus perusahaan itu jika pada akhirnya, akan dimiliki oleh kedua orang sialan itu.
*XXXXX
Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote*...
Danke... ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
oh berarti si Tante Betty dan El sudah mengenal lebih dulu,,makanya dia mau nikahin si Erie
2022-03-20
0
Ҽɳσ8
oohh begindang kisah masa lalu Betty dan elden...
cinta tak bersambut
2022-03-19
0
⏤͟͟͞R𝐈𝐍𝐃𝐔ᵇᵃˢᵉ𝕸y💞🍀⃝⃟💙
ko ada org jahat ky Betty??
2022-03-19
0