Di dalam ruangannya, Elden menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia mengusap-usap wajahnya lalu memegang keningnya.
"Jadi dia istrimu?" tanya wanita yang baru ia jemput tadi. Wanita yang di sebut oleh para pelayan di rumah Elden sebagai Nona.
"Benar," jawab Elden singkat.
Wanita itu turun dari meja kerja Elden dan berjalan ke arah Elden, lalu duduk di samping pria itu. "Namanya?"
"Namanya Vallerie Leontyne. Kau bisa memanggilnya dengan Erie."
"Aku sedikit kecewa ketika mendengar kau menikah."
Elden mengerutkan keningnya seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan. "Apa yang kau katakan Jessie?"
"Tidak ada. Lupakan saja," ucapnya sambil tersenyum.
Sementara di tempat lain, Erie yang emosi langsung menutup pintu lift tanpa membiarkan Dicken untuk masuk. Ia meremas dress bawahnya untuk menahan sesuatu yang sedari tadi ingin terus keluar dari matanya.
Saat pintu liftnya terbuka, ia dengan cepat menuju ke lobby, lalu keluar dari pintu utama kantor itu. Kebetulan, di dekat pintu ada sebuah halte bus yang mengantarkan para karyawan. Perempuan itu melihat para karyawan yang menempelkan kartu identitas kantor mereka untuk bisa masuk ke dalam bus. Erie melirik kartu yang ia pegang. Ia mencoba mengikuti para karyawan dan berhasil, pintunya terbuka. Erie pun masuk ke dalam.
Semenit kemudian, bus itu berjalan. Kekalutan dalam benaknya, membuat Erie tak berpikir panjang. Ia hanya ingin menjauh dari Elden. Ia mengikuti ke mana bus itu membawanya. Ketika bus berhenti di salah satu halte, Erie memutuskan untuk turun.
Erie berjalan lamban. Ia menapaki jalanan beraspal itu. Udara di sekitarnya semakin lama semakin dingin. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan karena awan hitam mulai menutupi langit senja itu. Erie terus berjalan dan menelusuri kota. Ia berjalan tanpa menyadari bahwa saat ini dirinya tengah berada di tengah-tengah kota tanpa ditemani Dicken. Perempuan itu bahkan tak membawa apapun selain ID card berwarna emas yang ia genggam dengan erat.
Kesedihannya semakin lama semakin bertambah dan tidak kunjung berhenti. Perasaannya begitu terkoyak. Hatinya benar-benar perih. Mengapa? Mengapa dia benar-benar hancur? Apakah itu karena Elden yang menganggapnya hanya orang asing atau karena dirinya melihat perbuatan Elden dan wanita itu?
Pertanyaan itu saja yang terus berputar-putar di kepala Erie saat ini. Walau dengan cara apa pun, tetap tidak akan bisa membuat Erie percaya pria itu tega berbuat seperti ini padanya.
Ke mana? Ke mana ia akan pergi?
Erie berjalan tidak terarah. Saat hari mulai gelap, Erie mulai menyadari bahwa ia telah berjalan terlalu jauh. Yang ia tahu saat ini ia sedang berada di pinggir jalan protokol kota. Ia melihat ke atas. Langit semakin gelap dan awan menutupi bintang-bintang yang menggelayut di langit.
Tiba-tiba, samar-samar Erie mendengar suara. Suara seseorang yang memanggil namanya. Sepertinya ia mengenal suara itu. Erie melihat bayangan mobil bersamaan dengan suara klakson mobil. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berlari ke arahnya, memeluknya dengan erat.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" ujar laki-laki itu dengan suara khawatir.
Dengan susah payah, Erie mulai menyadarkan dirinya. Ia kemudian melihat pria itu. Sebuah nama terucap dari bibirnya. "Dicken."
"Ya, Nyonya, ini saya. Apakah Anda terluka?" kata Dicken sambil melepaskan pelukannya. Ia memandang penampilan Erie dari kaki sampai ke kepala. Perempuan itu benar-benar berantakan dan tidak terlihat baik.
Erie tidak menjawab. Ia hanya menggeleng lemah. Melihat majikannya yang seperti itu membuat Dicken geram. Ia segera berjongkok di depan Erie. Ia menyentuh kaki Erie dan melepaskan kaki Erie dari heels hitam yang perempuan itu gunakan. Ia semakin geram pada dirinya sendiri karena terlambat menemukan Erie.
"Maafkan saya Nyonya. Karena saya terlalu lama menemukan Anda, kaki Anda sampai terluka seperti ini," ucap Dicken penuh penyesalan.
"Tidak Dicken." Erie menyentuh tangan Dicken untuk melepaskan tangan pria itu dari kakinya. Ia menggunakan kembali sepatunya dan mulai berjalan. Namun, hanya beberapa langkah saja, Dicken memegang tangan Erie dan menghentikan langkahnya.
"Anda tak bisa berjalan dengan kondisi seperti ini, Nyonya. Naiklah ke punggung saya."
"Tidak. Aku bisa berjalan sendiri."
"Saya mohon, Nyonya. Bukankah Anda berkata bahwa kita teman? Bisakah Anda mendengar saya sebagai teman?"
"Teman?"
"Ya, Nyonya. Sebagai teman."
"Baiklah."
Dengan ragu Erie menerima permintaan Dicken. Perempuan itu menempelkan tubuhnya ke punggung Dicken sambil menautkan tangannya ke leher pria itu. Dicken yang melihat Erie berada di belakang punggungnya pun tersenyum. Tidak hanya Dicken, Erie juga merasa sedikit tenang berada didekat Dicken.
"Kau mengenalnya Dicken?" kata Erie memulai percakapan.
"Apa yang Anda maksudkan tentang wanita yang berada di ruangan Tuan, Nyonya?"
"Iya. Aku melihat mereka sangat mesra."
"Benar, Nyonya. Mereka memang terlihat serasi."
"Serasi..." Suara Erie bergetar. Tiba-tiba air matanya menetes dan membasahi kemeja putih milik Dicken. Ia memenumpahkan semua rasa sedihnya kepada pria itu.
"Namanya Jessica Felora, Nyonya. Tuan telah mengenalnya sejak mereka kuliah. Nona Jessie dan Tuan kuliah dan tinggal di tempat yang sama. Sehari-hari Nona Jessie membantu Tuan Elden dalam mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan kantor yang Tuan Besar Alvaro berikan. Tuan Elden sangat senang dengan kehadiran Nona karena selain Mario, Tuan tidak memiliki teman. Keluarga Alvaro adalah donatur terbesar universitas itu dan inilah yang membuat semua orang yang ada di universitas itu sangat segan dengan Tuan Elden," jelas Dicken sambil berjalan dengan menggendong Erie.
"Tuan sangat menyayangi dan mempercayai Nona Jessie. Setelah lulus, mereka memutuskan untuk bertunangan. Bahkan tiga tahun lalu, Tuan telah melamar dan memperkenalkan Nona Jessie sebagai calon istrinya di perusahaan," lanjut Dicken.
Mendengar kata-kata pria itu, menambah luka di hati Erie. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Ia menahan isakkan yang hendak keluar dari bibirnya, dan tetap mendengarkan penuturan Dicken yang masih menjelaskan tentang hubungan Elden dan Jessie.
"Namun Nona Jessie menolak lamaran Tuan Elden. Tuan merasa terpukul dan kecewa. Tapi rasa sayang dan percaya Tuan tidak berkurang bahkan sampai saat ini."
Perih. Rasa perih terus menerus menyerang Erie. Mungkinkah ini alasan Elden tidak menganggapnya ada? Menganggapnya sebagai orang asing dan memperlakukannya dengan semena-mena? Apakah karena wanita itu?
"Kenapa Dicken? Kenapa Elden menikahiku?" ucap Erie dengan nada bergetar.
"Mengenai hal itu saya tidak tahu, Nyonya. Tapi Tuan Elden pasti memiliki alasan kuat mengapa ia memilih Anda menjadi istrinya."
Erie membenarkan perkataan Dicken. Ia menghapus air matanya dan berusaha untuk tetap kuat. Ia tidak ingin lagi menangisi hal-hal yang tidak pantas ia tangisi.
Tiba-tiba Dicken menghentikan langkahnya tepat di samping mobil hitam. Itu bukan mobil merah yang tadi ia naiki. Itu adalah mobil dari kantor milik Elden.
Dicken menurunkan Erie dan membukakan pintu mobil itu. "Silakan masuk, Nyonya," ucap pria itu sangat sopan.
Erie mengikuti perkataan Dicken. Ia duduk di bangku belakang sedangkan Dicken langsung duduk di kursi supir di depan.
"Kau mencariku sendirian, Dicken?" tanya Erie ketika ia tidak melihat pengawal lain yang mengikutinya seperti biasa.
"Tidak Nyonya. Mario dan pengawal lainnya juga ikut mencari Anda di tempat lain."
"Kapan kau bertemu dengan Mario?"
"Tadi sewaktu saya mengejar Anda, saya bertemu dengan Mario di pintu masuk perusahaan dan ia menawarkan mobilnya untuk saya gunakan."
"Jadi ini mobil Mario?"
"Benar, Nyonya."
Erie mengangguk-angguk mengerti. Di rumah Elden juga terdapat dua garasi untuk kendaraan. Satu garasi yang berisi mobil-mobil milik Elden, termasuk mobil merah yang beberapa kali Erie gunakan, satu lagi adalah garasi yang berisi kendaraan para pengawalnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di depan rumah Elden. Walaupun hatinya masih sangat terasa sakit tapi Erie tidak bisa menyerah saat ini. Ia belum tahu alasan Elden menikahinya.
Dengan susah payah Erie menguatkan hatinya dan menenangkan pikirannya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan pria itu.
Melihat Erie yang belum juga keluar dari mobil meskipun sudah dibukakan pintu, Dicken berjongkok di samping Erie. "Apakah Anda perlu saya gendong lagi, Nyonya?"
"Tidak. Tidak. Aku bisa berjalan sendiri. Tapi aku merasa takut."
"Anda tidak perlu takut, Nyonya. Anda adalah istri sah Tuan. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Anda. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu kalau Elden tidak akan menceraikanku?"
"Apakah Anda mau bertaruh lagi dengan saya, Nyonya? Kali ini saya mempertaruhkan nyawa saya atas ucapan saya tadi."
Erie tersenyum mendengar keyakinan Dicken yang entah mengapa membuat hatinya jauh lebih tenang. "Tidak perlu bertaruh Dicken. Aku percaya padamu."
Dicken mengangkat bibirnya dan tersenyum. "Wajah Anda memang lebih cocok jika dihiasi dengan senyuman dibandingkan air mata, Nyonya."
Lagi, Erie tersenyum. Kali ini kedua pipinya juga ikut merona. Ia tidak ingin berlama-lama mendengarkan rayuan dari Dicken. Ia beranjak dari mobil dengan langkah yang mantap.
Namun, saat Erie memasuki rumah itu, alangkah terkejutnya ia melihat Jessie, wanita yang pernah menjadi kekasih suaminya itu tengah duduk di ruang keluarga rumah itu. Wanita itu duduk di sofa yang biasa diduduki oleh Elden.
Kekesalan yang tadi sudah mereda kini kembali membuncah. "Kenapa kau ada di sini?" ucap Erie yang sukses mengejutkan Jessie. Wanita itu melirik ke arah Erie. Lirikan mata yang sarat akan makna pada Erie. Kemudian Jessie tersenyum, ia berkata dengan suara yang lembut. "Kau pasti Erie. Kenalkan aku Jessica, kau bisa memanggilku dengan Jessie." Wanita itu dengan penuh percaya diri berjalan mendekati Erie dan mengulurkan tangannya.
"Kenapa kau di sini?" kata Erie mengulangi perkataannya. Ia juga mengabaikan uluran tangan Jessie.
Merasa terabaikan, wanita itu menarik tangannya kembali. Tidak ada kekesalan di hatinya. Ia justru semakin menunjukan senyuman di paras campurannya yang cantik. "Aku akan tinggal beberapa hari di sini. Elden saat ini membutuhkanku, jadi aku akan tinggal di rumah ini untuk membantunya. Tentu saja aku sudah mendapat izin Elden."
Elden? Ternyata wanita itu sudah sedekat itu hingga bisa memanggil suaminya dengan nama depannya. Tanpa embel-embel tuan atau panggilan kehormatan yang lain. Lagi-lagi Erie merasa kesal dan marah mendengar perkataan wanita itu. "Baiklah, terserah kau!" ucapnya walau terkesan tak acuh, tapi sebenarnya Erie sangat terganggu dengan kehadiran Jessie.
"Terima kasih," ujar Jessie dengan kembali tersenyum.
Erie berjalan tak mempedulikan senyuman dan perkataan Jessie. Ia terus melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Membasahi tubuhnya dengan shower. Tekad awal untuk tidak menangis, kini runtuh sudah. Bersama dengan tetesan air dari pancuran, air matanya rebas seketika. Ia kembali menangis. Menangisi kemalangannya dan kelemahannya. Menangis untuk meluapkan semua rasa sakit yang ada dalam hatinya.
XXXXXX
Tak lama sesudahnya, Elden masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. "Elden!" Sebuah suara menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau tadi bilang ingin istirahat?" tanya Elden kepada Jessie, orang yang memanggilnya.
"Aku menunggumu pulang," ucap Jessie sambil tersenyum.
"Tidak perlu menungguku." Elden melirik ke arah para pelayan yang menunduk di dekat mereka. "Kau kemari!" ucap pria itu sambil menunjuk salah satu dari para pelayan. Pelayan itu segera mendekat. "Kau siapkan kamar tamu dan bawa Nona Jessie ke dalam. Pastikan semua kebutuhannya selama di rumah ini terpenuhi, kau paham?"
Pelayan itu mengangguk pelan. Ia berucap, "Baik Tuan, saya mengerti."
"Bagus," kata Elden kepada pelayan itu. Ia menoleh ke arah Jessie yang sedang duduk santai di atas sofa. "Istirahatlah Jessie, kau telah menempuh perjalanan yang panjang."
"Baiklah Elden, selamat malam," katanya beranjak dari sofa dan mengikuti pelayan yang ditunjuk Elden.
Elden menoleh ke arah Mario yang berada di belakangnya dan berkata, "Bawa Dicken ke ruang kerjaku."
"Baik Tuan," ucap pria itu sambil berjalan keluar dari rumah.
Elden kembali melanjutkan kegiatannya. Ia berjalan ke ruangan kerjanya. Tanpa membuka jasnya, ia menghempaskan pantatnya di atas kursi. Pria itu meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya sebentar. Ketika terdengar suara ketukan pintu, Elden membenarkan posisinya.
"Selamat malam Tuan, saya Dicken," ujar orang yang mengetuk pintu ruangan Elden.
"Masuklah," kata Elden dengan suara yang dalam dan dingin.
Dicken membuka pintu, masuk ke dalam dan menutup pinti itu dari dalam. Ia berjalan hingga berada tepat di depan meja kerja Elden.
"Berapa lama waktu yang kau gunakan untuk menemukan istriku?" tanya Elden tanpa basa-basi kepada Dicken.
"Tiga jam Tuan."
"Apa kau tidak berpikir waktu itu terlalu lama, ha?!" kata Elden dengan nada yang meninggi.
Dicken menunduk. "Maafkan saya Tuan. Waktunya memang sangat lama itu karena Nyonya tidak membawa tasnya yang sudah ditanamkan GPS. Nyonya juga tidak memiliki peralatan elektronik yang bisa dilacak posisinya."
"Apakah aku butuh alasan Dicken?"
"Tidak Tuan."
"Sudah berapa tahun kau berada di organisasi?"
"Lebih dari 10 tahun, Tuan."
Elden mengambil gelas yang ada di mejanya dan melemparkannya di samping Dicken hingga menimbulkan suara pecahan yang keras. Meskipun Dicken tahu bahwa Elden akan melemparnya, ia tidak menghindar. Ia tahu bahwa ia telah gagal dalam melakukan kewajibannya. Jadi ia pantas mendapatkan perlakuan apa saja dari Elden.
"Dicken, kau tahu bahwa organisasi tidak membuang banyak uang untuk mendidik orang yang tidak berguna seperti itu."
"Maafkan saya, Tuan."
"Apakah maaf saja bisa mengulang waktu yang terbuang? Kau kutugaskan untuk melindungi Erie karena aku mengakui kemampuanmu. Tapi kau bahkan tidak bisa melindungi istriku."
Dicken menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di depan Elden. "Ampuni saya, Tuan. Saya berjanji ini tidak akan terjadi lagi."
Elden mengatur napasnya. "Pergilah dan dapatkan hukumanmu," ucapnya dingin.
Dicken berdiri, ia menunduk hormat kepada Elden dan berjalan ke luar dari ruangan itu.
**XXXXX
Jangan lupa jaga kesehatan, sering cuci tangan, jauhi tempat ramai dan #dirumahaja sambil aku temani dengan kisah Erie dan Elden...
Untuk memberikan semangat kepadaku, yuukkss kasih dukungan dengan memberi like dan comment sebanyak mungkin hehehe...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Ny.costra
elden oh elden apa maumu yg sebenarnya dari erie 🤔
2022-04-19
0
Yulvita Darnel
siapa sebenarnya elden dan apa hubungannya dengan Erie
2022-04-09
0
💕febhy ajah💕
yeeee itu gara2 kamu elden, dasar suami nga ada akhlak.kesalahan dilimpahkan ke orang lain.
msh misteri
2022-04-04
0