The Reason

Pagi itu Erie terbangun oleh ketukan pintu dari luar kamarnya. "Nyonya, Tuan Elden telah menunggu Anda di ruang makan." Erie mendengar suara seorang pelayan dari luar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengumpulkan kesadaran. "Baiklah aku segera ke sana," ujarnya sedikit nyaring agar terdengar hingga ke luar.

Dengan malas ia berjalan menuju ke kamar mandi. Erie sempat berhenti di depan cermin di dalam kamar mandinya. Ia melihat matanya yang sembab akibat tangisannya semalam. Erie menanggalkan pakaiannya, menghidupkan shower dan mulai membersihkan tubuhnya. Ia benci dengan dirinya yang terlihat lemah ini. Tapi ia juga tak berdaya melawan kekuasaan Elden. Erie tak ingin lagi melukai para pelayan dan penjaga yang tidak bersalah itu.

Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian sekenannya, Erie berjalan menuju ke ruang makan. Di sana Erie melihat pemandangan yang memuakkan. Pemandangan yang setiap pagi harus ia saksikan. Pemandangan yang menunjukkan kemesraan antara Elden dan Jessie.

"Nyonya, ini sarapan Anda." Marline meletakan sarapan yang telah ia siapkan di depan Erie.

"Terima kasih Marline," jawab Erie sambil tersenyum.

Erie menikmati sarapannya yang sederhana. Jika tidak omelette atau salad, Erie akan memesan roti, pudding dan susu sebagai menunya. Sarapan yang selalu ia makan sejak usianya 12 tahun. Sarapan yang setiap pagi disiapkan oleh mommynya dulu. Walaupun rasanya berbeda, tetapi sarapan ini cukup mengingatkannya pada daddy dan mommy angkatnya yang sangat ia rindukan.

Begitu juga jika Erie bersama dengan Bibi Betty dulu. Meskipun ia menyiapkan makanan berat untuk bibinya, namun Erie akan memakan makanan yang ringan agar bisa di perutnya.

"Erie kau mau menyicipi ini?" tanya Jessie sambil memberikan semangkuk sup kepada Erie. Kalau diperhatikan, wanita itu tidaklah melakukan hal yang buruk. Ia selalu menyapa Erie jika mereka tak sengaja berpapasan, seperti ingin menanggapnya sebagai teman. Wajah Jessie juga sangat cantik dan menawan. Terlebih lagi ia pandai memasak. Pantas hampir semua pelayan dan pengawal di rumah ini sangat memujinya.

"Tidak. Aku tidak mau," kata Erie kepada Jessie. Erie bisa melihat wajahnya kecewa sebentar lalu wanita itu tersenyum. Senyuman yang selalu membuat Erie risih setiap kali melihatnya.

"Ehem!" suara Elden mengalihkan perhatian Erie. Dari tatapan pria itu Erie dapat mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia menghembuskan napasnya lalu berbicara. "Baiklah, aku akan mencobanya."

Jessie mengantarkan semangkuk sup ke depan meja Erie. Erie mencicipi sup yang dimasak kekasih Elden itu. Sebenarnya rasanya enak. Tapi itu justru membuat Erie semakin tidak menyukai kemampuan wanita itu.

"Bagaimana Erie? Apakah rasanya enak?" tanya Jessie sembari memperhatikan Erie.

"Iya," jawab Erie singkat. Ia melanjutkan kegiatannya untuk menghabiskan sarapannya.

Elden mengelap bibirnya dengan serbet. Ia melihat Erie yang melakukan hal sama dengannya. "Kau sudah selesai?" tanya Elden.

Erie mengangguk. "Sudah," katanya singkat.

"Ayo, kita harus pergi sekarang," ujar pria itu sambir beranjak dari kursinya. Erie mengikuti langkah Elden menuju ke mobil. Perempuan itu tidak tahu ke mana suaminya akan membawanya. Ia juga malas bertanya kepadanya. Sepanjang perjalanan Erie hanya memperhatikan jalanan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Elden yang duduk di sampingnya.

Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Erie terkejut ketika ia mengetahui di mana mereka sekarang berada. Ternyata Elden membawanya ke perusahaan Eduard, kantor milik ayahnya.

Sudah cukup lama Erie tidak menginjakkan kaki di tempat itu. Terakhir yang Erie ingat, ia ke sana saat Pak Robbert membacakan surat wasiat. Wasiat yang akhirnya menjerumuskan Erie ke dalam pernikahannya dengan Elden. Semua ini karena bibinya yang menyuruh perempuan itu untuk menikah.

Erie mengikuti langkah Elden menuju ruangan milik Bibi Betty. Langkah pria itu begitu mantap, seolah ia sering berada di sana. Bahkan Elden tidak bertanya pada siapa pun tentang lokasi ruangan pemimpin perusahaan itu. Benar-benar mencurigakan.

Begitu melihat keberadaan Elden, salah satu karyawan Eduard langsung menunduk hormat. Ia membukakan pintu yang ternyata di dalam ruangan itu sudah ada Bibi Betty dan Pak Robbert.

"Selamat datang Tuan dan Nyonya Alvaro," sapa Pak Robbert kepada Elden dan Erie. Laki-laki tua itu membungkuk untuk memberikan hormat kepada mereka.

Elden tidak menggubris perkataan Pak Robbert. Ia berjalan menuju sofa, duduk di sana dan mengambil ponselnya. Lalu pria itu memainkan ponselnya itu tanpa mempedulikan sekitarnya. Sungguh itu membuat Erie jengah. Menurutnya, pria itu sudah berlaku tidak sopan. Setidaknya ia menjawab sapaan Pak Robbert, meskipun dengan perkataan yang singkat.

"Lama tidak bertemu, bagaimana kabar Anda, Pak Robbert?" tanya Erie kepada pengacara perusahaan Eduard itu.

Pak Robbert tersenyum. "Baik Nyonya. Bagaimana dengan Anda?" katanya dengan ramah, sama sekali tidak ada perlakuan yang berbeda kepada Erie selain perubahan sebutan dari nona menjadi nyonya.

"Saya pun baik, Pak Robbert. Terima kasih." Erie duduk di sofa di samping Elden. Ia melihat wajah Bibi Betty yang ada di seberangnya. Wanita itu terlihat begitu kurus dan pucat. Sepertinya tidak ada lagi yang mengurus wanita itu.

"Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah meluangkan waktu untuk datang ke mari," kata Pak Robbert memulai. Ia membuka sebuah dokumen yang pernah dilihat oleh Erie dulu. Itu adalah dokumen yang berisi surat wasiat milik ayah angkatnya.

"Sesuai dengan surat wasiat Tuan Eduard, setelah pernikahan Nona Erie, pembagian warisan juga berubah. Dalam surat wasiatnya tertulis bahwa Nona Vallerie Leontyne Eduard akan memperoleh 20% dari harta kekayaan Eduard Company, Nona Betty Eduard akan memperoleh 30% dari harta kekayaan Eduard Company dan 50%nya akan diberikan kepada suami dari Nona Vallerie Leontyne Eduard, yaitu Tuan Elden Jacksen Alvaro," ucap Pak Robbert menjelaskan.

Erie tercengang. Ia begitu terkejut mendengar penuturan yang barusan disampaikan oleh Pak Robbert. Apa ia tidak salah dengar? Erie tak menyangka daddy akan menyerahkan 50% harta kekayaannya kepada suaminya. Menurut Erie, dirinya sendiri saja tidak pantas menerima harta itu karena ia bukanlah anak kandung ayahnya. Sekarang justru kekayaan itu diserahkan kepada Elden? Mengapa bisa begitu?

Dengan segudang pertanyaan yang menumpuk di kepalanya, Erie mencoba melirik ke arah bibinya. Ia juga bisa menangkap keterkejutan di wajah Bibi Betty.

"Tidak bisa! Apa-apaan ini?" kata Bibi Betty tidak terima. Ia menarik kerah dari pria tua yang duduk di sampingnya itu. "Kau ingin mempermainkanku?"

"Tidak Nona! Semua sesuai dengan isi surat wasiat Tuan Eduard," kata Pak Robbert.

"Aku tak bisa menerima ini! Kau pasti mempermainkanku kan?" Bibi Betty menguatkan cengkramannya di kerah Pak Robbert.

Erie merasa jengkel melihat perlakuan Bibi Betty. Pak Robbert yang malang itu harus menerima kemarahan dari Bibi Betty atas apa yang bukan kesalahannya. Erie berdiri dan menghempaskan tangan Bibi Betty dari tubuh Pak Robbert. "Sudahlah aunty. Ini bukan salah Pak Robbert!"

Bibi Betty menatap tajam ke arah Erie. "Kau! Ini adalah kesalahanmu! Kau telah menghasut kakakku yang bodoh itu! Kau pasti bekerja sama dengan pria ini untuk menghancurkanku!" ucap Bibi Betty sambil berteriak dengan histeris.

"Apa maksud aunty?"

"Awalnya aku tak mengerti kenapa seorang Tuan Muda Alvaro ingin menikahi gadis sampah seperti dirimu. Ternyata benar, keluarga Alvaro benar-benar ingin mengambil perusahaan kakakku. Alvaro dari dulu sudah mengincar perusahaan ini. Padahal kakakku berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya," ujar Bibi Betty di depan Erie.

Erie kembali tersentak mendengar perkataan Bibi Betty. Ia melirik Elden yang masih fokus dengan ponselnya. Benarkah pria ini menikahinya hanya untuk mengambil alih perusahaan Eduard Company?

"Tapi sekarang usaha kakakku sia-sia. Ia ditikam oleh sekretaris dan anak sial yang begitu ia sayangi. Aku sudah peringatkan kakakku itu untuk tidak mengangkatmu menjadi anaknya. Tapi ia benar-benar dibutakan oleh rasa sayangnya kepada anak sial sepertimu. Kakakku sangat bodoh. Ia pria terbodoh yang ada di dunia ini!"

"CUKUP AUNTY!" bentak Erie kepada Bibi Betty. Telinga Erie benar-benar panas mendengar hinaan Bibi Betty kepada ayah angkatnya.

"Apa kau sekarang berani membentakku?" kata Bibi Betty tidak terima. Ia begitu emosi dan hendak mengayunkan tangannya untuk menampar Erie. Namun, sebelum tangan itu mendarat di pipi Erie, tiba-tiba Elden berdiri dan langsung memegang tangan Bibi Betty.

"Sebenarnya aku tidak suka ikut campur. Tapi aku paling tidak suka milikku dirusak orang lain," kata Elden sambil menghempaskan tangan Bibi Betty. Ia menggenggam tangan Erie dan menyeretnya keluar dari ruangan itu menuju ke mobil. Ia membawa Erie tanpa melepaskan genggamannya.

Erie berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia melihat wajah Elden. Dan sialnya Erie tak bisa membaca ekspresi pria itu. Ia menatap tangannya yang ada di dalam genggaman Elden. Ketika Erie melihat wajah Elden lagi, secara kebetulan pria itu juga sedang melihat wajah Erie. Tak sengaja bertatapan dengan Erie, membuat Elden membuang wajahnya ke depan. Ia melepaskan tangannya dari tangan Erie lalu menghubungi seseorang lewat ponselnya.

"Kau sudah sampai di sana Dicken?"

"......"

"Baiklah," ucap Elden memutus panggilannya. Ia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.

Erie masih memperhatikan gerak-gerik Elden. "Apakah yang dikatakan Bibi Betty benar?" kata Erie membuka suara. Ia mencoba menanyakan hal yang menghantui pikirannya saat ini.

"Berpikirlah sesukamu," jawab Elden singkat.

"Jadi itu benar?"

Elden menoleh ke arah Erie. Mata hazelnya menatap Erie dengan dingin. "Jika itu benar, apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin bergabung dengan bibimu itu dan bersaing denganku? Atau kau mau bergabung denganku untuk mengurus perusahaan Eduard?"

Erie terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika ia menyerahkan harta warisan yang ayahnya berikan kepada Bibi Betty, mungkin Elden bisa dikalahkan. Tapi itu hanya kemungkinan kecil. Jika Erie menyerahkan harta warisan sang ayah kepada Elden, benar yang dikatakan Bibi Betty. Pria ini bisa menghancurkan kerja keras daddy selama ini. Bahkan pria ini bisa memperkerjakan karyawan daddy dengan kejam sama seperti yang kemarin ia saksikan di perkebunan.

Elden melihat apa yang dilakukan istrinya. Perempuan itu sedang menggaruk kepalaku. Sepertinya kepalanya benar-benar pusing memikirkan hal ini. Ia mengangkat salah satu sudut bibirnya sebentar.

"Sudah kuputuskan kau akan pergi ke acara di kapal putih minggu depan. Dan jangan membantahku," ucap Elden.

Erie kembali terkejut. Apalagi ini? Mengapa pria itu mudah sekali berubah pikiran? Bukankah Jessie yang pergi ke sana? Erie begitu sulit menebak apa yang ada di benak Elden. Astaga! Ada berapa banyak hal lagi yang akan mengejutkan Erie hari ini?

"Lalu bagaimana dengan Jessie?"

"Kaki Jessie sedang cidera. Aku takut kakinya makin terluka. Jadi aku memutuskan kau saja yang pergi ke sana."

Oh jadi seperti itu. Pria itu sangat menghawatirkan wanitanya itu. Nyaris saja tadi Erie mengeluarkan suara tawanya yang miris. Tapi mungkin saja ini adalah sebuah kesempatan baginya. Jika ia memberikan sebuah penawaran kepada Elden, mungkin ia bisa menyelamatkan perusahaan ayahnya.

"Aku akan pergi tapi dengan satu syarat," kata Erie dengan penuh keyakinan. Ia sudah mengeluarkan suaranya. Tidak ada jalan lain untuk menyerah. Dengan sedikit takut, Erie memperhatikan wajah Elden. Pria itu hanya mengangkat satu alisnya, tidak mengerti maksud dari perkataan Erie.

"Serahkan warisan yang daddy berikan kepadaku, maka aku akan pergi," kata Erie lagi. Mendengar perkataan Erie membuat Elden semakin menatap istrinya dengan tajam. Jika boleh jujur, Erie sangat takut dengan tatapannya itu. Perempuan itu sedikit menundukkan kepalanya.

Elden menyeringai. Ia menyukai cara Erie meminta seperti itu. Benar-benar cara seorang Alvaro. Sepertinya semua rencananya telah berjalan dengan lancar. "Baiklah," kata pria itu tiba-tiba.

Erie membelalakan matanya. Ia benar-benar tidak yakin dengan jawaban yang ia dengar ini. "Benarkah?" tanya perempuan itu ragu.

"Tentu. Karena kau yang menginginkannya, maka kau harus pergi ke acara di kapal putih itu dengan identitasmu sebagai anak dari keluarga Eduard dan bukan sebagai istriku. Bagaimana?"

"Tidak masalah."

"Apapun yang terjadi di sana, kau tidak boleh melibatkanku."

"Tidak akan Tuan," kata Erie mantap.

Beberapa menit kemudian mobil Elden memerintahkan supir mereka untuk berhenti. Erie melihat Dicken membukakan pintu untuknya. Namun, sebelum melangkah turun, suara Elden kembali terdengar. "Siapkan dirimu dengan benar karena akan lebih baik kau tidak mempermalukanku di acara itu."

"Saya tidak akan mempermalukan Anda karena saya tidak akan membawa nama keluarga Anda di sana, Tuan," tutur Erie dengan penekanan. Perempuan itu keluar dari mobil Elden sambil tersenyum sinis. Ia tidak habis pikir bagaimana Elden bisa menganggapnya sebagai seseorang yang mempermalukan dirinya? Ya sudahlah! Ini tidak lagi menjadi masalah bagi Erie karena setidaknya perusahaan Eduard telah aman dari Bibi Betty maupun dari pria kejam itu.

Mobil Elden masih berhenti di tempat tadi. Elden belum memerintahkan supirnya untuk pergi karena ia masih memperhatikan langkah Erie yang memasuki sebuah butik yang telah ia pesan. Sejak awal pria itu sudah memperhitungkan segalanya untuk membuat istrinya mau pergi ke 'kapal putih'. Perusahaan dan harta milik keluarga Eduard bukanlah apa-apa baginya. Ia bahkan bisa menyerahkan yang lebih besar jumlahnya jika Erie meminta.

Pelajaran utama yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha adalah taktik. Dalam hal ini, Elden tidak hanya bisa membaca suasana, namun ia juga mampu membaca arah berpikir Erie. Ternyata perempuan itu tidak berubah sepenuhnya. Masih ada sifat-sifat dasar yang melekat darinya yang tidak menghilang.

Namun, ada satu hal yang tidak diduga oleh Elden, yakni tindakan Eduard. "Eduard, aku hanya meminta gadisku, tapi kau juga malah mengembalikan semua uangku. Tampaknya kau benar-benar tulus menyayangi Erie," gumam Elden sambil memegang dagunya.

"Kembali ke kantor," ucap Elden kepada supirnya. "Baik Tuan," jawab orang itu sambil menjalankan mobil mewah Elden.

*XXXXX

Tetap #dirumahaja dan dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote*...

Danke ♥️

By: Mei Shin Manalu**

Terpopuler

Comments

Cintabuta45

Cintabuta45

makin tak paham dengan sikapmu elden. bacanya lanjoooot

2022-04-19

0

Ita Widya ᵇᵃˢᵉ

Ita Widya ᵇᵃˢᵉ

El susah di tebak hati nya..aneh

2022-03-20

0

Ҽɳσ8

Ҽɳσ8

lanjut lagi baca

2022-03-19

0

lihat semua
Episodes
1 Time in The Past
2 Harassment
3 Shocked
4 The Day
5 The New Home
6 He is Angry
7 Squabbling
8 My Bodyguard
9 My Friend
10 Back To My Orphanage
11 I am Blushing
12 His Woman
13 Broken Heart
14 Tulpe
15 Nightmare
16 Go or Not?
17 Who is His Wife?
18 His Dominion
19 The Reason
20 Hate You
21 Meet An Old Friend
22 The Mockery
23 He Comes
24 Party Invitations
25 Tragedy
26 Afraid
27 Hell
28 Your Secretary
29 Is It Possible?
30 Whats Wrong With Me?
31 Sorry
32 Losing Him
33 Wrecked
34 Devil Man
35 Jealous?
36 The Truth
37 Misterious Man
38 Misterious Man (Part 2)
39 Pregnant
40 I Want To Kiss You
41 Don’t Tell Him
42 Separate
43 Separate (Part 2)
44 Looking For You
45 Mine
46 To Save You
47 Temptation
48 Be Myself
49 To Be Good
50 Wonderful Place
51 Wonderful Place (Part 2)
52 Wonderful Place (Part 3)
53 Is it A Wonderful Place?
54 Happy Birthday
55 Brother In Law
56 Brother In Law (Part 2)
57 A Clue
58 My Special Chef
59 The Truth (Part 2)
60 Distortion
61 Traumatic
62 Comeback Home
63 Jessica Felora
64 Jessica Felora (Part 2)
65 In His Care
66 Craving
67 Date
68 Anniversary
69 He Changes
70 Why?
71 Mess Up
72 Divorce?
73 Try To Believe
74 Memory
75 Memory (Part 2)
76 Memory (Part 3)
77 You’re Back
78 Together
79 Because of You
80 Our Love
81 I’m Not Evil
82 I’m Not Evil (Part 2)
83 I’m Not Evil (Part 3)
84 I’m Not Evil (Part 4)
85 Everything For You
86 Dream
87 My Lovely Husband
88 First Time
89 Please
90 Just A Gift
91 Must Go
92 Leave
93 Where Are You?
94 She Knew
95 She Knew (part 2)
96 A Box
97 Puzzle
98 Find Out
99 Find Out (Part 2)
100 Meet Him
101 Misunderstand
102 Misunderstand (part 2)
103 Misunderstand (Part 3)
104 The Dark Side of Him
105 The Dark Side of Him (Part 2)
106 The Dark Side of Him (Part 3)
107 Sacrifice
108 Sacrifice (part 2)
109 Crazy About You
110 Friend
111 I Miss You
112 Finally
113 Wait For Me
114 Wait For Me (part 2)
115 Prisoner
116 Prisoner (part 2)
117 The Truth (Part 3)
118 Betrayal
119 The Last Truth
120 A Tough Choice
121 Don’t Leave Me!
122 My Son
123 My Son (Part 2)
124 Back To Life
125 You Have To Pay (Extra part 1)
126 A Daddy (Extra part 2)
127 Daddy and Son (Extra part 3)
128 Miracle (Extra part 4)
129 Call You Back (Extra part 5)
130 This is My Family (Extra part 6)
131 Leave off! (Exta part 7)
132 Our Live (Exta part 8)
133 My Wife (Exta part 9)
134 A Little Secret (The End)
135 Secarik Pesan Dari Penulis
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Time in The Past
2
Harassment
3
Shocked
4
The Day
5
The New Home
6
He is Angry
7
Squabbling
8
My Bodyguard
9
My Friend
10
Back To My Orphanage
11
I am Blushing
12
His Woman
13
Broken Heart
14
Tulpe
15
Nightmare
16
Go or Not?
17
Who is His Wife?
18
His Dominion
19
The Reason
20
Hate You
21
Meet An Old Friend
22
The Mockery
23
He Comes
24
Party Invitations
25
Tragedy
26
Afraid
27
Hell
28
Your Secretary
29
Is It Possible?
30
Whats Wrong With Me?
31
Sorry
32
Losing Him
33
Wrecked
34
Devil Man
35
Jealous?
36
The Truth
37
Misterious Man
38
Misterious Man (Part 2)
39
Pregnant
40
I Want To Kiss You
41
Don’t Tell Him
42
Separate
43
Separate (Part 2)
44
Looking For You
45
Mine
46
To Save You
47
Temptation
48
Be Myself
49
To Be Good
50
Wonderful Place
51
Wonderful Place (Part 2)
52
Wonderful Place (Part 3)
53
Is it A Wonderful Place?
54
Happy Birthday
55
Brother In Law
56
Brother In Law (Part 2)
57
A Clue
58
My Special Chef
59
The Truth (Part 2)
60
Distortion
61
Traumatic
62
Comeback Home
63
Jessica Felora
64
Jessica Felora (Part 2)
65
In His Care
66
Craving
67
Date
68
Anniversary
69
He Changes
70
Why?
71
Mess Up
72
Divorce?
73
Try To Believe
74
Memory
75
Memory (Part 2)
76
Memory (Part 3)
77
You’re Back
78
Together
79
Because of You
80
Our Love
81
I’m Not Evil
82
I’m Not Evil (Part 2)
83
I’m Not Evil (Part 3)
84
I’m Not Evil (Part 4)
85
Everything For You
86
Dream
87
My Lovely Husband
88
First Time
89
Please
90
Just A Gift
91
Must Go
92
Leave
93
Where Are You?
94
She Knew
95
She Knew (part 2)
96
A Box
97
Puzzle
98
Find Out
99
Find Out (Part 2)
100
Meet Him
101
Misunderstand
102
Misunderstand (part 2)
103
Misunderstand (Part 3)
104
The Dark Side of Him
105
The Dark Side of Him (Part 2)
106
The Dark Side of Him (Part 3)
107
Sacrifice
108
Sacrifice (part 2)
109
Crazy About You
110
Friend
111
I Miss You
112
Finally
113
Wait For Me
114
Wait For Me (part 2)
115
Prisoner
116
Prisoner (part 2)
117
The Truth (Part 3)
118
Betrayal
119
The Last Truth
120
A Tough Choice
121
Don’t Leave Me!
122
My Son
123
My Son (Part 2)
124
Back To Life
125
You Have To Pay (Extra part 1)
126
A Daddy (Extra part 2)
127
Daddy and Son (Extra part 3)
128
Miracle (Extra part 4)
129
Call You Back (Extra part 5)
130
This is My Family (Extra part 6)
131
Leave off! (Exta part 7)
132
Our Live (Exta part 8)
133
My Wife (Exta part 9)
134
A Little Secret (The End)
135
Secarik Pesan Dari Penulis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!