Pagi itu Erie terbangun oleh ketukan pintu dari luar kamarnya. "Nyonya, Tuan Elden telah menunggu Anda di ruang makan." Erie mendengar suara seorang pelayan dari luar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengumpulkan kesadaran. "Baiklah aku segera ke sana," ujarnya sedikit nyaring agar terdengar hingga ke luar.
Dengan malas ia berjalan menuju ke kamar mandi. Erie sempat berhenti di depan cermin di dalam kamar mandinya. Ia melihat matanya yang sembab akibat tangisannya semalam. Erie menanggalkan pakaiannya, menghidupkan shower dan mulai membersihkan tubuhnya. Ia benci dengan dirinya yang terlihat lemah ini. Tapi ia juga tak berdaya melawan kekuasaan Elden. Erie tak ingin lagi melukai para pelayan dan penjaga yang tidak bersalah itu.
Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian sekenannya, Erie berjalan menuju ke ruang makan. Di sana Erie melihat pemandangan yang memuakkan. Pemandangan yang setiap pagi harus ia saksikan. Pemandangan yang menunjukkan kemesraan antara Elden dan Jessie.
"Nyonya, ini sarapan Anda." Marline meletakan sarapan yang telah ia siapkan di depan Erie.
"Terima kasih Marline," jawab Erie sambil tersenyum.
Erie menikmati sarapannya yang sederhana. Jika tidak omelette atau salad, Erie akan memesan roti, pudding dan susu sebagai menunya. Sarapan yang selalu ia makan sejak usianya 12 tahun. Sarapan yang setiap pagi disiapkan oleh mommynya dulu. Walaupun rasanya berbeda, tetapi sarapan ini cukup mengingatkannya pada daddy dan mommy angkatnya yang sangat ia rindukan.
Begitu juga jika Erie bersama dengan Bibi Betty dulu. Meskipun ia menyiapkan makanan berat untuk bibinya, namun Erie akan memakan makanan yang ringan agar bisa di perutnya.
"Erie kau mau menyicipi ini?" tanya Jessie sambil memberikan semangkuk sup kepada Erie. Kalau diperhatikan, wanita itu tidaklah melakukan hal yang buruk. Ia selalu menyapa Erie jika mereka tak sengaja berpapasan, seperti ingin menanggapnya sebagai teman. Wajah Jessie juga sangat cantik dan menawan. Terlebih lagi ia pandai memasak. Pantas hampir semua pelayan dan pengawal di rumah ini sangat memujinya.
"Tidak. Aku tidak mau," kata Erie kepada Jessie. Erie bisa melihat wajahnya kecewa sebentar lalu wanita itu tersenyum. Senyuman yang selalu membuat Erie risih setiap kali melihatnya.
"Ehem!" suara Elden mengalihkan perhatian Erie. Dari tatapan pria itu Erie dapat mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia menghembuskan napasnya lalu berbicara. "Baiklah, aku akan mencobanya."
Jessie mengantarkan semangkuk sup ke depan meja Erie. Erie mencicipi sup yang dimasak kekasih Elden itu. Sebenarnya rasanya enak. Tapi itu justru membuat Erie semakin tidak menyukai kemampuan wanita itu.
"Bagaimana Erie? Apakah rasanya enak?" tanya Jessie sembari memperhatikan Erie.
"Iya," jawab Erie singkat. Ia melanjutkan kegiatannya untuk menghabiskan sarapannya.
Elden mengelap bibirnya dengan serbet. Ia melihat Erie yang melakukan hal sama dengannya. "Kau sudah selesai?" tanya Elden.
Erie mengangguk. "Sudah," katanya singkat.
"Ayo, kita harus pergi sekarang," ujar pria itu sambir beranjak dari kursinya. Erie mengikuti langkah Elden menuju ke mobil. Perempuan itu tidak tahu ke mana suaminya akan membawanya. Ia juga malas bertanya kepadanya. Sepanjang perjalanan Erie hanya memperhatikan jalanan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Elden yang duduk di sampingnya.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Erie terkejut ketika ia mengetahui di mana mereka sekarang berada. Ternyata Elden membawanya ke perusahaan Eduard, kantor milik ayahnya.
Sudah cukup lama Erie tidak menginjakkan kaki di tempat itu. Terakhir yang Erie ingat, ia ke sana saat Pak Robbert membacakan surat wasiat. Wasiat yang akhirnya menjerumuskan Erie ke dalam pernikahannya dengan Elden. Semua ini karena bibinya yang menyuruh perempuan itu untuk menikah.
Erie mengikuti langkah Elden menuju ruangan milik Bibi Betty. Langkah pria itu begitu mantap, seolah ia sering berada di sana. Bahkan Elden tidak bertanya pada siapa pun tentang lokasi ruangan pemimpin perusahaan itu. Benar-benar mencurigakan.
Begitu melihat keberadaan Elden, salah satu karyawan Eduard langsung menunduk hormat. Ia membukakan pintu yang ternyata di dalam ruangan itu sudah ada Bibi Betty dan Pak Robbert.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Alvaro," sapa Pak Robbert kepada Elden dan Erie. Laki-laki tua itu membungkuk untuk memberikan hormat kepada mereka.
Elden tidak menggubris perkataan Pak Robbert. Ia berjalan menuju sofa, duduk di sana dan mengambil ponselnya. Lalu pria itu memainkan ponselnya itu tanpa mempedulikan sekitarnya. Sungguh itu membuat Erie jengah. Menurutnya, pria itu sudah berlaku tidak sopan. Setidaknya ia menjawab sapaan Pak Robbert, meskipun dengan perkataan yang singkat.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabar Anda, Pak Robbert?" tanya Erie kepada pengacara perusahaan Eduard itu.
Pak Robbert tersenyum. "Baik Nyonya. Bagaimana dengan Anda?" katanya dengan ramah, sama sekali tidak ada perlakuan yang berbeda kepada Erie selain perubahan sebutan dari nona menjadi nyonya.
"Saya pun baik, Pak Robbert. Terima kasih." Erie duduk di sofa di samping Elden. Ia melihat wajah Bibi Betty yang ada di seberangnya. Wanita itu terlihat begitu kurus dan pucat. Sepertinya tidak ada lagi yang mengurus wanita itu.
"Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah meluangkan waktu untuk datang ke mari," kata Pak Robbert memulai. Ia membuka sebuah dokumen yang pernah dilihat oleh Erie dulu. Itu adalah dokumen yang berisi surat wasiat milik ayah angkatnya.
"Sesuai dengan surat wasiat Tuan Eduard, setelah pernikahan Nona Erie, pembagian warisan juga berubah. Dalam surat wasiatnya tertulis bahwa Nona Vallerie Leontyne Eduard akan memperoleh 20% dari harta kekayaan Eduard Company, Nona Betty Eduard akan memperoleh 30% dari harta kekayaan Eduard Company dan 50%nya akan diberikan kepada suami dari Nona Vallerie Leontyne Eduard, yaitu Tuan Elden Jacksen Alvaro," ucap Pak Robbert menjelaskan.
Erie tercengang. Ia begitu terkejut mendengar penuturan yang barusan disampaikan oleh Pak Robbert. Apa ia tidak salah dengar? Erie tak menyangka daddy akan menyerahkan 50% harta kekayaannya kepada suaminya. Menurut Erie, dirinya sendiri saja tidak pantas menerima harta itu karena ia bukanlah anak kandung ayahnya. Sekarang justru kekayaan itu diserahkan kepada Elden? Mengapa bisa begitu?
Dengan segudang pertanyaan yang menumpuk di kepalanya, Erie mencoba melirik ke arah bibinya. Ia juga bisa menangkap keterkejutan di wajah Bibi Betty.
"Tidak bisa! Apa-apaan ini?" kata Bibi Betty tidak terima. Ia menarik kerah dari pria tua yang duduk di sampingnya itu. "Kau ingin mempermainkanku?"
"Tidak Nona! Semua sesuai dengan isi surat wasiat Tuan Eduard," kata Pak Robbert.
"Aku tak bisa menerima ini! Kau pasti mempermainkanku kan?" Bibi Betty menguatkan cengkramannya di kerah Pak Robbert.
Erie merasa jengkel melihat perlakuan Bibi Betty. Pak Robbert yang malang itu harus menerima kemarahan dari Bibi Betty atas apa yang bukan kesalahannya. Erie berdiri dan menghempaskan tangan Bibi Betty dari tubuh Pak Robbert. "Sudahlah aunty. Ini bukan salah Pak Robbert!"
Bibi Betty menatap tajam ke arah Erie. "Kau! Ini adalah kesalahanmu! Kau telah menghasut kakakku yang bodoh itu! Kau pasti bekerja sama dengan pria ini untuk menghancurkanku!" ucap Bibi Betty sambil berteriak dengan histeris.
"Apa maksud aunty?"
"Awalnya aku tak mengerti kenapa seorang Tuan Muda Alvaro ingin menikahi gadis sampah seperti dirimu. Ternyata benar, keluarga Alvaro benar-benar ingin mengambil perusahaan kakakku. Alvaro dari dulu sudah mengincar perusahaan ini. Padahal kakakku berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya," ujar Bibi Betty di depan Erie.
Erie kembali tersentak mendengar perkataan Bibi Betty. Ia melirik Elden yang masih fokus dengan ponselnya. Benarkah pria ini menikahinya hanya untuk mengambil alih perusahaan Eduard Company?
"Tapi sekarang usaha kakakku sia-sia. Ia ditikam oleh sekretaris dan anak sial yang begitu ia sayangi. Aku sudah peringatkan kakakku itu untuk tidak mengangkatmu menjadi anaknya. Tapi ia benar-benar dibutakan oleh rasa sayangnya kepada anak sial sepertimu. Kakakku sangat bodoh. Ia pria terbodoh yang ada di dunia ini!"
"CUKUP AUNTY!" bentak Erie kepada Bibi Betty. Telinga Erie benar-benar panas mendengar hinaan Bibi Betty kepada ayah angkatnya.
"Apa kau sekarang berani membentakku?" kata Bibi Betty tidak terima. Ia begitu emosi dan hendak mengayunkan tangannya untuk menampar Erie. Namun, sebelum tangan itu mendarat di pipi Erie, tiba-tiba Elden berdiri dan langsung memegang tangan Bibi Betty.
"Sebenarnya aku tidak suka ikut campur. Tapi aku paling tidak suka milikku dirusak orang lain," kata Elden sambil menghempaskan tangan Bibi Betty. Ia menggenggam tangan Erie dan menyeretnya keluar dari ruangan itu menuju ke mobil. Ia membawa Erie tanpa melepaskan genggamannya.
Erie berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia melihat wajah Elden. Dan sialnya Erie tak bisa membaca ekspresi pria itu. Ia menatap tangannya yang ada di dalam genggaman Elden. Ketika Erie melihat wajah Elden lagi, secara kebetulan pria itu juga sedang melihat wajah Erie. Tak sengaja bertatapan dengan Erie, membuat Elden membuang wajahnya ke depan. Ia melepaskan tangannya dari tangan Erie lalu menghubungi seseorang lewat ponselnya.
"Kau sudah sampai di sana Dicken?"
"......"
"Baiklah," ucap Elden memutus panggilannya. Ia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
Erie masih memperhatikan gerak-gerik Elden. "Apakah yang dikatakan Bibi Betty benar?" kata Erie membuka suara. Ia mencoba menanyakan hal yang menghantui pikirannya saat ini.
"Berpikirlah sesukamu," jawab Elden singkat.
"Jadi itu benar?"
Elden menoleh ke arah Erie. Mata hazelnya menatap Erie dengan dingin. "Jika itu benar, apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin bergabung dengan bibimu itu dan bersaing denganku? Atau kau mau bergabung denganku untuk mengurus perusahaan Eduard?"
Erie terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika ia menyerahkan harta warisan yang ayahnya berikan kepada Bibi Betty, mungkin Elden bisa dikalahkan. Tapi itu hanya kemungkinan kecil. Jika Erie menyerahkan harta warisan sang ayah kepada Elden, benar yang dikatakan Bibi Betty. Pria ini bisa menghancurkan kerja keras daddy selama ini. Bahkan pria ini bisa memperkerjakan karyawan daddy dengan kejam sama seperti yang kemarin ia saksikan di perkebunan.
Elden melihat apa yang dilakukan istrinya. Perempuan itu sedang menggaruk kepalaku. Sepertinya kepalanya benar-benar pusing memikirkan hal ini. Ia mengangkat salah satu sudut bibirnya sebentar.
"Sudah kuputuskan kau akan pergi ke acara di kapal putih minggu depan. Dan jangan membantahku," ucap Elden.
Erie kembali terkejut. Apalagi ini? Mengapa pria itu mudah sekali berubah pikiran? Bukankah Jessie yang pergi ke sana? Erie begitu sulit menebak apa yang ada di benak Elden. Astaga! Ada berapa banyak hal lagi yang akan mengejutkan Erie hari ini?
"Lalu bagaimana dengan Jessie?"
"Kaki Jessie sedang cidera. Aku takut kakinya makin terluka. Jadi aku memutuskan kau saja yang pergi ke sana."
Oh jadi seperti itu. Pria itu sangat menghawatirkan wanitanya itu. Nyaris saja tadi Erie mengeluarkan suara tawanya yang miris. Tapi mungkin saja ini adalah sebuah kesempatan baginya. Jika ia memberikan sebuah penawaran kepada Elden, mungkin ia bisa menyelamatkan perusahaan ayahnya.
"Aku akan pergi tapi dengan satu syarat," kata Erie dengan penuh keyakinan. Ia sudah mengeluarkan suaranya. Tidak ada jalan lain untuk menyerah. Dengan sedikit takut, Erie memperhatikan wajah Elden. Pria itu hanya mengangkat satu alisnya, tidak mengerti maksud dari perkataan Erie.
"Serahkan warisan yang daddy berikan kepadaku, maka aku akan pergi," kata Erie lagi. Mendengar perkataan Erie membuat Elden semakin menatap istrinya dengan tajam. Jika boleh jujur, Erie sangat takut dengan tatapannya itu. Perempuan itu sedikit menundukkan kepalanya.
Elden menyeringai. Ia menyukai cara Erie meminta seperti itu. Benar-benar cara seorang Alvaro. Sepertinya semua rencananya telah berjalan dengan lancar. "Baiklah," kata pria itu tiba-tiba.
Erie membelalakan matanya. Ia benar-benar tidak yakin dengan jawaban yang ia dengar ini. "Benarkah?" tanya perempuan itu ragu.
"Tentu. Karena kau yang menginginkannya, maka kau harus pergi ke acara di kapal putih itu dengan identitasmu sebagai anak dari keluarga Eduard dan bukan sebagai istriku. Bagaimana?"
"Tidak masalah."
"Apapun yang terjadi di sana, kau tidak boleh melibatkanku."
"Tidak akan Tuan," kata Erie mantap.
Beberapa menit kemudian mobil Elden memerintahkan supir mereka untuk berhenti. Erie melihat Dicken membukakan pintu untuknya. Namun, sebelum melangkah turun, suara Elden kembali terdengar. "Siapkan dirimu dengan benar karena akan lebih baik kau tidak mempermalukanku di acara itu."
"Saya tidak akan mempermalukan Anda karena saya tidak akan membawa nama keluarga Anda di sana, Tuan," tutur Erie dengan penekanan. Perempuan itu keluar dari mobil Elden sambil tersenyum sinis. Ia tidak habis pikir bagaimana Elden bisa menganggapnya sebagai seseorang yang mempermalukan dirinya? Ya sudahlah! Ini tidak lagi menjadi masalah bagi Erie karena setidaknya perusahaan Eduard telah aman dari Bibi Betty maupun dari pria kejam itu.
Mobil Elden masih berhenti di tempat tadi. Elden belum memerintahkan supirnya untuk pergi karena ia masih memperhatikan langkah Erie yang memasuki sebuah butik yang telah ia pesan. Sejak awal pria itu sudah memperhitungkan segalanya untuk membuat istrinya mau pergi ke 'kapal putih'. Perusahaan dan harta milik keluarga Eduard bukanlah apa-apa baginya. Ia bahkan bisa menyerahkan yang lebih besar jumlahnya jika Erie meminta.
Pelajaran utama yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha adalah taktik. Dalam hal ini, Elden tidak hanya bisa membaca suasana, namun ia juga mampu membaca arah berpikir Erie. Ternyata perempuan itu tidak berubah sepenuhnya. Masih ada sifat-sifat dasar yang melekat darinya yang tidak menghilang.
Namun, ada satu hal yang tidak diduga oleh Elden, yakni tindakan Eduard. "Eduard, aku hanya meminta gadisku, tapi kau juga malah mengembalikan semua uangku. Tampaknya kau benar-benar tulus menyayangi Erie," gumam Elden sambil memegang dagunya.
"Kembali ke kantor," ucap Elden kepada supirnya. "Baik Tuan," jawab orang itu sambil menjalankan mobil mewah Elden.
*XXXXX
Tetap #dirumahaja dan dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote*...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Cintabuta45
makin tak paham dengan sikapmu elden. bacanya lanjoooot
2022-04-19
0
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
El susah di tebak hati nya..aneh
2022-03-20
0
Ҽɳσ8
lanjut lagi baca
2022-03-19
0