Pagi ini benar-benar indah. Mentari bersinar begitu hangat. Erie melangkahkan kaki dengan riang menuju ruang makan. Menyapa para pelayan yang berdiri menunggu kehadirannya. Meminta sarapannya dan memakannya secara berlahan.
Hanya berselang beberapa menit, Erie melihat Elden berjalan menuju ke kursi yang biasa ia duduki. Erie terkejut ketika melihat Elden berada di rumah. Itu sudah tepat satu bulan Erie tidak menghabiskan sarapan bersama dengan pria itu. Apa gerangan yang terjadi hingga Elden kembali ke rumah itu dan melakukan kebiasaannya lagi?
Erie memperhatikan Elden dengan teliti. Perempuan itu menyadari perubahan riak wajah Elden. Wajah dan matanya yang tajam itu mempunyai aura dingin yang tidak menyenangkannya, tidak seperti Mario ataupun Dicken. Gerak gerik Elden dipandang lama oleh Erie sambil kepalanya memikirkan apa yang tengah ada dalam kepala pria itu.
"Ada apa?" kata Elden membuyarkan lamunan Erie.
"Ha?" jawab Erie tercengang.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?"
"Ohh.. Ti..tidak apa-apa. Hanya aneh sekali melihatmu ada di sini," jawab Erie gugup.
Bodoh! Mengapa Erie bisa memandangnya seperti itu? Lagi pula apa yang barusan keluar dari bibirnya? Oh sungguh! Ia tidak menyangka itu sama sekali. Apa lagi jika melihat aura seram yang terpancar dari kedua mata Elden. Sepertinya pria itu sedikit keberatan dengan ucapan Erie.
Erie segera membuang wajah darinya. Ia melanjutkan menyantap sarapannya. Sekilas perempuan itu melihat Elden yang juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Maaf Tuan, ada telepon untuk Anda," suara Mario menginterupsi kegiatan Elden dan Erie. Mario memberikan sebuah ponsel kepada Elden.
Elden meletakkan sendoknya. Ia mengambil ponsel dari Mario. Seketika ekspresinya sedikit berubah tatkala melihat nama si penelpon. "Hallo," ujarnya kepada orang di seberang.
"...."
"Hem, benarkah?"
"...."
"Baiklah, tunggu di sana, aku akan menjemputmu." Elden mematikan ponselnya. Erie melihat sekilas senyuman di paras tampannya. Senyum yang tak pernah perempuan itu lihat selama ini.
Siapa yang menelepon Elden?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak Erie. Perempuan itu penasaran siapa orang yang sukses membuat pria dingin di depannya itu tersenyum.
Beberapa menit kemudian Elden beranjak dari kursinya. "Ayo Mario! Aku harus menjemput seseorang," serunya sambil meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Mario.
Erie yang sedang menikmati makanan pencuci mulut, mendengar para pelayan berbisik-bisik di belakangnya. "Itu pasti Nona," kata seorang pelayan ke pelayan lainnya.
"Ssstttt!!! Jangan keras-keras! Nanti Nyonya mendengarnya," kata seorang pelayan lagi.
Nona? Nona siapa? Erie begitu penasaran. Seingatnya, Elden tidak memiliki saudara perempuan. Apakah Nona yang mereka maksud adalah sepupu atau saudara Elden? Bisa jadi, pikirnya.
Erie beranjak menuju ke para pelayan yang berbisik itu. Saat Erie ingin bertanya, tiba-tiba Dicken berjalan ke arahnya.
"Nyonya, semuanya sudah siap," katanya membawa beberapa kanvas.
"Bagus! Bagaimana jika kita melakukannya di taman kaca di belakang rumah?" ujar Erie senang.
"Maaf Nyonya. Sepertinya taman itu selalu dikunci oleh Tuan dan tidak sembarang orang boleh masuk ke sana."
Sebenarnya Erie kesal mendengar perkataan Dicken. Perkataan pria itu seolah ingin menyadarkan Erie bahwa ia bukan orang penting yang bisa pergi kemanapun yang ia mau. Bahkan Elden sendiri menyebutnya sebagai orang asing di depan para pelayan.
"Huuufff! Baiklah.. Di taman depan saja," ucap Erie pasrah. Perempuan itu berjalan ke taman dan Dicken mengikutinya.
Saat melintasi kolam ikan, Erie berhenti sejenak. Kali ini ia berjalan lebih pelan sembari mengulum senyum. Ia terbayang kejadian tempo lalu ketika Elden menyelamatkannya. Satu-satunya kenangan terbaik yang pernah ia miliki di rumah itu.
"Duduklah," kata Erie kepada Dicken setelah ia memasang kanvas tak jauh di depannya. Sebelumnya ia juga sudah memasang kanvas di depan Erie.
"Anda ingin saya melukis apa, Nyonya?" tanya Dicken sudah bersiap dengan kuas dan cat warna di sampingnya.
Erie berpikir sejenak. Ia memikirkan banyak hal yang menarik untuk Dicken gambar. Tapi di antara semua itu, ada satu hal yang lebih menarik. "Bagaimana kalau kau melukis aku dan aku akan melukis dirimu?"
"Apakah Anda juga bisa melukis?"
"Apa kau meremehkanku?"
"Maafkan saya, Nyonya. Saya sama sekali tidak pernah meremehkan Anda."
"Sudahlah. Berhenti meminta maaf. Bisakah kita mulai sekarang?"
*Baiklah Nyonya, jika itu permintaan Anda."
Dua orang perempuan dan laki-laki itu mulai melukis. Erie melihat pria di depannya yang tampak serius. Dicken terlihat sangat cekatan dengan benda-benda itu. Sedangkan dirinya bingung bagaimana melukis wajah pria itu.
Erie mengambil pensil dan mulai menggambar. Tapi ia tidak menggambar Dicken. Erie menggambar gerbang rumah yang berada cukup jauh di belakang Dicken. Dulu sewaktu disekolahkan oleh ayah angkatnya, guru-gurunya pernah memuji gambaran Erie. Perempuan itu dikatakan sebagai anak yang pandai membuat sketsa, terutama sketsa bangunan dan pakaian.
Setelah menghabiskan beberapa jam, akhirnya Erie menyelesaikan gambarnya. Tampak tidak terlalu buruk meskipun ia sudah lama tidak pernah menggambar.
"Aku sudah selesai. Bagaimana denganmu?" ucap Erie kepada Dicken yang masih berkutit dengan kanvas di depannya.
"Maaf, Nyonya. Saya belum selesai," kata Dicken sambil mengerlingkan matanya kepada Erie sebentar. Lalu, ia melanjutkan menyelesaikan lukisannya.
Erie berjalan mendekatinya. Erie terkejut melihat lukisan Dicken. Ia bahkan tidak menyangka bahwa gadis cantik di dalam lukisan itu adalah dirinya.
"Wah, bagus sekali lukisanmu!" puji Erie sembari menampilkan senyuman yang merekah.
"Tidak, Nyonya. Anda terlalu memuji saya."
"Tidak, tidak. Lukisanmu memang bagus."
"Mungkin karena orang yang saya lukis juga cantik, Nyonya."
Erie tertawa sambil menunjukkan sederetan giginya yang putih dan rapi. "Sekarang aku tahu kenapa para pelayan selalu senang ketika aku meminta mereka memanggilmu. Ternyata kau merayu mereka dengan gombalanmu itu."
Dicken tersentak. "Tidak Nyonya! Saya tidak punya waktu untuk melakukan hal seperti itu."
"Benarkah?"
Dicken mengangguk dengan mantap. Ia memang tak mempunyai banyak waktu karena banyak sekali yang harus ia lakukan belakangan ini.
"Apakah Anda bosan Nyonya?" tanya Dicken saat melihat Erie yang duduk di sebelahnya tengah menguap.
"Apakah terlihat sekali? Sebenarnya aku sedikit bosan."
"Sebenarnya saya sudah membawa novel A Farewell to Arms yang dulu saya ceritakan kepada Anda. Apakah perlu saya ambilkan, Nyonya? Karena saya meletakkannya di perpustakaan."
"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengambilnya, sekaligus aku ingin berjalan-jalan. Kau selesaikan saja lukisanmu."
"Baik, Nyonya."
Erie berjalan menuju perpustakaan. Ia melihat-lihat rak tempat buku yang baru saja dimasukkan. Perempuan itu hampir bisa mengingat setiap raknya karena nyaris setiap hari ia menghabiskan waktu di dalam perpustakaan.
"A Farewell to Arms karya Ernest Hemingway," gumam Erie ketika membaca judul dari novel terjemahaan dengan warna yang didominasi hitam. Ia membawa novel itu kemudian berjalan ke luar dari perpustakaan. Saat tengah berjalan, Erie mendengar perkataan para pelayan yang berdiri di dekat tangga.
"Marline sedang pergi. Bagaimana kita mengambilnya? Kata Tuan itu untuk bahan rapat."
"Aku juga tidak tahu. Kalau kita ambil, Tuan pasti memarahi kita yang lancang masuk ruangannya. Tapi kalau kita tidak ambil, Tuan juga akan memecat kita."
Erie menggeleng-gelengkan kepalanya melihat para pelayan itu. Bagaimana bisa mereka berdiskusi seperti itu di sana dengan suara yang cukup kencang, namun berharap bahwa dirinya tidak mendengar keluhan mereka? Itu sungguh tidak mungkin. Mau tak mau Erie mendekati pelayan-pelayan itu.
"Ada apa?"
"Begini Nyonya. Tuan menyuruh Marline untuk mengantarkan dokumen yang berada di kamar Tuan dan mengantarkannya ke kantor. Tapi beberapa jam lalu Marline telah pergi ke rumah utama di luar kota untuk mengecek para pelayan di sana," ucap salah satu dari mereka menjelaskan. Tampaknya mereka sudah mulai berani bercerita tentang masalah di rumah itu kepada Erie. Tidak seperti sebelumnya di mana mereka berusaha menutupi setiap masalah.
"Kenapa kalian tidak mengantarkannya?"
"Kami tidak berani melawan perintah Tuan, Nyonya. Semua pelayan kecuali Marline dilarang menginjak kamar Tuan."
"Kalau begitu, tunggulah sampai Marline pulang."
"Marline selalu pulang malam atau mungkin besok ia baru pulang, Nyonya."
"Heeemmmm.."
Erie berpikir sejenak. Ia masih ingat betul kemurkaan Elden atas insiden kelancangannya memasuki kamar Elden tanpa izin dari pria itu. Tapi Erie juga tidak mungkin membiarkan pelayan-pelayannya terkena amarah dari Tuan mereka. Sejauh ini, jika Elden marah kepada Erie, pria itu hanya membentaknya. Namun, jika pria itu marah kepada salah satu pelayan di rumah itu, maka keesokan harinya, Erie tidak akan melihat pelayan itu lagi. Jadi, lebih baik Erie yang mendapatkan sedikit murka dari pria itu dibandingkan para pelayannya.
"Aku yang akan mengambil dan mengantarkannya ke kantor Elden," ucap Erie pada akhirnya.
"Apakah Anda yakin, Nyonya?"
Erie melihat wajah cemas para pelayan itu. Mereka sebenarnya hanya gadis-gadis polos yang rata-rata seusianya yang entah mengapa bisa terjerat sebagai pelayan dari pria dingin seperti Elden.
"Tentu saja. Katakan pada Dicken untuk menyiapkan mobil."
"Baik, Nyonya."
Erie meninggalkan para pelayan, berjalan menuju kamar Elden, mengambil dokumen yang terletak di atas nakas. Perempuan itu heran mengapa pria perfeksionis seperti itu bisa meninggalkan dokumen sepenting itu di kamarnya? Lagi pula, mengapa ia tidak meminta Mario untuk mengambilnya? Bukankah itu lebih mudah dibanding menekan para pelayannya seperti itu? Ah sudah lah! Erie menghentikan pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang melintas di kepalanya dan berjalan ke luar.
"Nyonya, mobilnya telah siap," ucap Dicken saat melihat Erie turun dari tangga. Ia menuntun Erie menuju ke mobil merah yang pernah membawanya dulu. Sepertinya mobil itu memang mobil yang dikhususkan untuk perempuan itu.
Di dalam perjalanan, Erie merasakan sesuatu akan terjadi. Ia tidak tahu apa itu. Tapi rasa itu sungguh mengganjal dan membuat perasaannya tidak enak.
Beberapa jam kemudian Erie sampai di kantor Elden. Kantor besar milik pria itu sendiri karena kantor milik keluarga Alvaro berada di luar kota, kota yang sama dengan rumah utama Alvaro.
"Nyonya, Anda langsung saja menuju ke lantai 25. Ini ID card agar Anda bisa melewati sistem penjagaan di sini. Saya harus memakirkan mobil terlebih dahulu setelah itu saya akan segera menyusul Anda," kata Dicken sambil menyerahkan ID card miliknya kepada Erie.
"Baiklah."
Erie masuk ke dalam lobby. Di sana ia dicegat oleh dua orang petugas keamanan. Erie memberikan ID card Dicken kepada mereka dan menyebutkan lantai 25 ketika mereka menanyakan lantai tujuannya. Salah seorang petugas itu lalu menunjukkan lift khusus yang bisa digunakan oleh Erie. Setelah mengucapkan terima kasih, Erie berjalan ke arah lift yang ditunjukkan.
Erie menempelkan kartu di tangannya untuk membuka pintu lift. Ketika ia di dalam, perempuan itu juga harus menempelkan kartu itu pada scanner yang ada di atas tombol lantai lift. Sungguh keamanan yang ada di sana adalah yang terbaik. Bahkan melebihi yang ada di kantor ayah angkatnya dulu.
Tidak hanya sistem keamanannya yang canggih, jika dilihat-lihat, kantor itu memang menggambarkan pemiliknya yang dingin karena hampir semua karyawan yang bekerja di gedung pencakar langit itu memiliki wajah yang serius.
"Aku ingin bertemu dengan Elden," kata Erie ketika ia tiba di lantai 25 itu. Ia tengah berbicara dengan seorang wanita yang ia tahu adalah sekretaris Elden karena ia melihat papan keterangan yang ada di atas mejanya.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan Tuan?" ucap wanita itu sambil memandang Erie dari atas hingga ke bawah tubuhnya. Pandangan itu terlihat seperti merendahkan Erie.
"Kau katakan saja padanya, kalau aku ingin memberikan dokumen padanya," jawab Erie kesal. Ia tidak suka melihat tatapan wanita itu karena sejak ia menikah dengan Elden, semua orang di bawah Elden tidak akan berani memandangnya seperti itu. Lagi pula bagaimana bisa ia harus membuat janji untuk bertemu suaminya sendiri?
"Maaf. Tapi saat ini Tuan sedang sibuk," kata wanita itu dengan nada sinis. Ia tidak percaya gadis belasan tahun seperti itu punya hubungan dengan Tuannya. Paling juga gadis itu hanya salah satu dari para wanita yang mengejar-ngejar Elden.
Erie semakin kesal. Ia menyesal telah melangkahkan kaki ke gedung itu. Ia memutuskan untuk kembali dan melangkahkan kakinya ke lift. Saat hendak menempelkan kartunya, seketika pintu lift terbuka. Erie terkejut, begitu pula dengan Dicken yang berada di dalam lift itu.
"Nyonya, mobilnya sudah saya parkirkan. Maafkan saya terlalu lama. Apakah Anda sudah bertemu dengan Tuan?" kata Dicken keluar dari lift untuk mendekati Erie.
"Belum. Kata wanita itu, aku harus membuat janji dulu untuk bertemu Elden," ucap Erie menunjuk ke arah sekretaris Elden yang berada cukup jauh dari mereka, tapi masih memperhatikan mereka.
"Apa?!" Dicken berkata dengan geram. Ia berjalan menuju wanita itu. "Kau sangat lancang! Mengapa kau bisa berkata seperti itu?"
"Maaf Dicken. Tapi saya dipesankan bahwa semua orang yang ingin bertemu dengan Tuan harus membuat janji dahulu. Memangnya siapa dia? Kenapa kau begitu menghormatinya?"
"Kau tidak perlu tahu. Apa Tuan ada di ruangannya?"
"Ada. Tapi---"
Belum selesai wanita itu berkata, Dicken telah meninggalkannya dan mendekati Erie.
"Maaf Nyonya. Tuan memerintahkan kami semua untuk tidak memperkenalkan Anda kepada karyawan kantor. Maafkan atas ketidaknyamanan anda, Nyonya."
"Tidak apa. Kau tahu ruangan Elden?"
"Tentu, Nyonya. Mari saya antarkan."
Erie mengikuti Dicken. Setelah beberapa menit, Erie tiba di depan ruangan Elden. Ia mengetuk pintu itu. Namun tidak ada jawaban. Kemudian ia memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Dan betapa terkejutnya Erie melihat Elden tengah mencium mesra seorang wanita yang duduk di meja kerja Elden. Tiba-tiba Erie merasa hatinya sangat perih. Mata mulai terasa panas. Dengan sekuat tenaga, ia menahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Ehheemm.. Ma..maaf mengganggu. Aku hanya ingin memberikan dokumen yang Elden tinggalkan di rumah." Perkataan Erie tadi berhasil menghentikan aktivitas mereka berdua. Dengan malas Elden melepas pertautan bibir mereka. Kemudian ia memandang Erie dengan sorotan mata yang sulit diartikan.
Erie melihat penampilannya sangat kacau. Rambutnya berantakan, dasinya setengah terlepas dan kemejanya sangat kusut. Bibirnya bengkak dan terdapat lipstick di sudut bibirnya yang menggambarkan seberapa panasnya ciuman mereka. Pria itu melepaskan rangkulan wanita di depannya dan berjalan ke arah Erie. Ia menatapnya dengan lekat.
"Kenapa kau ke sini?" tanyanya dengan suara sedikit parau.
"Aku kan sudah bilang, aku hanya mengantarkan ini padamu." Erie menyerahkan dokumen itu sambil membuang wajah.
"Kau yang mengambilnya?" kali ini suara pria itu mulai meninggi.
Erie hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Kau sungguh lancang!!!! Sudah berulang kali aku melarang orang asing masuk ke kamarku!!! APA KAU TAK PAHAM?"
"Kenapa kau melarangku?"
"Kau ingin dengar?"
Elden mendekati Erie hingga tubuhnya tepat di depan wajahnya. Pria itu kemudian mengangkat dagu Erie dan memaksa perempuan itu untuk melihat wajahnya.
"Karena kau adalah orang asing."
Tiba-tiba air mata yang sedari tadi Erie tahan, mengalir dengan derasnya dari kedua matanya. Erie menepis tangan pria itu dan berjalan ke luar dari ruangannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dicken yang melihat Erie langsung berjalan mendekati perempuan itu. "Mengapa Anda menangis, Nyonya?" tanyanya kalut. Erie tidak menjawab pertanyaannya dan terus berjalan meninggalkan ruangan Elden.
**XXXXX
Yang #dirumahaja jangan lupa jaga kesehatan, sering cuci tangan, dan jauhi tempat ramai Jangan lupa juga untuk kasih dukungan dengan memberi like dan comment sebanyak mungkin hehehe
Danke
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Ny.costra
ngapain dinikahi kalo cuma dianggap buat disakit, sadisi😒😒😒
2022-04-19
0
momazcha
😤😤😤
2022-04-08
0
🚨⃟V༄༅⃟𝐐ᵇᵃˢᵉW⃠
eriiiie
2022-03-20
0