Malam pasca acara persemayaman terakhir Tuan dan Nyonya Eduard, Erie sama sekali tidak bisa tidur. Padahal, ia sudah memasang penutup matanya. Ia juga sudah membawa foto orangtuanya ke dalam kamarnya. Namun, semuanya tidak juga membuatnya bisa tidur dengan nyenyak.
Tak terhitung berapa kali manik mata Erie menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Perasaannya begitu kacau. Kehadiran orang tua asuhnya dalam dua tahun ini membebaskan Erie dari rasa kesepian. Mereka menunjukan kasih sayang dan harapan kepadanya. Memberikan perhatian yang tiada batas. Tapi itu semua pergi begitu saja, seperti direnggut secara paksa.
Kehilangan orang yang dikasihinya lagi barang tentu mengejutkan Erie dan memberikan gadis itu kekosongan serta rasa hampa. Erie bersedih. Ia memimpikan ibunya yang selalu mengecup keningnya sebelum tidur. Ia merindukan senyuman ayahnya. Ia menginginkan lagi pelukan hangat dari keduanya.
Erie melepaskan penutup matanya dan menyibak selimutnya. Ia berjalan ke meja belajarnya. Di sana terdapat sebuah fotonya bersama kedua orang tuanya. Aneh sekali. Padahal foto itu baru diambil minggu lalu, saat mereka sedang berkebun di halaman belakang rumah. Erie masih tidak pecaya dengan kenyataan pahit ini. Rasanya bagaikan terbangun secara tiba-tiba dari mimpi yang begitu indah.
Erie terdiam sembari memandangi foto itu. Tak lama kemudian air matanya menetes dan membasahi kedua pipinya. Tangisnya semakin lama semakin deras. Segera Erie menutup mulutnya. Ia selalu menahan suara isakannya agar tidak terdengar bibinya. Aunty Betty -sapaan Erie padanya, tidak akan segan-segan menampar pipi Erie jika gadis itu menangis, sama seperti tadi saat acara pemakaman.
Bibinya tidak suka dengan Erie. Wanita yang berusia 30 tahun itu sangat membenci Erie yang tiba-tiba hadir dalam keluarga kakaknya. Bibi Betty merasa bahwa Erie adalah anak pembawa sial karena sejak pertama kali menginjak rumah kakaknya, masalah terus menerus datang ke dalam kehidupan mereka. Berulang kali Bibi Betty meminta Tuan dan Nyonya Eduard untuk mengusir Erie, tapi berulang kali juga mereka menolak.
Rasa benci Bibi Betty semakin hari semakin menumpuk sepanjang dua tahun ini. Dan puncaknya saat ia mengetahui bahwa kakak dan kakak iparnya tewas karena kecelakaan pesawat. Meskipun dikatakan kecelakaan, tapi Bibi Betty tidak percaya dengan hal itu. Menurutnya penyebab kejadian itu adalah kehadiran Erie di rumah itu. Dan dengan menggunakan alasan itu, Bibi Betty yang dengan rasa benci menggunung, sempat ingin mengusir Erie. Akan tetapi suatu alasan lain membuatnya mengurungkan niatannya. Jadi, mau tak mau ia harus rela membiarkan Erie tinggal dan mengurus rumah itu.
XXXX
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tak terasa sudah lima tahun Erie hidup bersama adik dari ayahnya itu. Kini, usia Erie sudah menginjak 19 tahun. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan senyuman dan sorotan mata yang memikat.
Erie bangun pukul lima pagi. Itu adalah rutinitasnya hari lepas hari. Setiap hari ketika bangun tidur, Erie buru-buru menyibak selimutnya, merapikan ranjangnya dan berjalan menuju meja belajar yang masih ada di kamarnya. Ia selalu menjadi tidak sabar ketika ingin melihat foto ayah dan ibunya yang ada di atas meja belajarnya. Wajah mereka yang tersenyum memberikan semangat bagi Erie. Gadis itu memejamkan matanya dan melipat tangannya.
"Daddy, Mommy, hari ini aku akan menjadi gadis yang baik," janjinya. Lalu ia membuka matanya dan mengecup foto yang berlapis kaca itu.
Saat ini Erie sudah terbiasa. Tidak ada lagi air mata yang menetes kala ia melihat foto daddy dan mommynya itu. Ia telah mampu mengendalikan keadaan karena rasanya sudah terlalu lama ia terlarut dalam kesedihan. Toh, keadaannya akan terus seperti ini dan tidak akan berubah.
Usai menyapa kedua orang tuanya, Erie bergegas menuju ke dapur. Ia melirik jam yang ada di ruang makan. Gawat, sudah pukul setengah enam! Dengan cepat Erie memulai kegiatan memasaknya. Pertama, ia menyiapkan segala bahannya terlebih dahulu. Jika ada bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari yang habis, ia akan mencatatnya dan menempelkannya di kulkas. Bibinya akan membawa kertas itu dan menyuruh orang untuk membelinya nanti. Lalu, ketika semua makanan yang ia masak sudah siap, Erie berjalan menuju kamar orang tuanya yang kini digunakan oleh bibinya.
“Aunty, sarapannya sudah siap," ujar Erie dari balik pintu. Karena tak mendapatkan jawaban, Erie menggedor dan berseru lagi.
“Aunty, sarapannya---"
"Berisik!" teriak Bibi Betty memotong ucapan Erie dari dalam pintu.
Erie menghembuskan napasnya dan melenggang pergi. Ia lega sudah menyiapkan sarapan dan membangunkan bibinya tepat waktu, karena kalau tidak, wanita itu akan mengurung Erie di dalam kamar selama sehari tanpa makan dan minum.
Erie masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia tidak bisa bertatapan muka dengan sang bibi. Wanita itu berkata bahwa jika ia melihat wajah Erie, maka kesialan akan segera menimpanya. Erie adalah gadis pembawa sial. Itu terus yang dikatakannya dan Itu juga yang menyebabkan wanita itu sangat kesal saat melihat Erie dan selalu bisa memancingnya untuk memukul Erie.
Tidak apa-apa. Erie sudah bisa menerima keadaannya. Ia tidak pernah mengeluh meski hampir setiap bertemu dengan bibinya Erie selalu mendapat cacian dan makian bahkan juga pukulan fisik. Erie tak pernah berontak dan ia juga tidak bisa keluar dari rumah, meskipun rumah itu memang bukan tempat terbaik untuk Erie.
Setelah mandi, Erie duduk di depan meja belajarnya. Ia mengambil sebuah buku tentang bisnis milik ayahnya. Erie membaca buku itu dengan seksama. Jika ada bahasa atau pembahasan yang tidak dimengerti, Erie mencatatnya, mengumpulkannya dan menanyakannya kepada Pak Robbert, pria yang merupakan sekretaris sekaligus pengacara perusahaan Eduard Company.
Tidak, bukan Erie yang menghubungi Pak Robbert. Erie tidak pernah diizinkan keluar rumah. Ia juga tidak memiliki alat komunikasi untuk berbicara kepada orang lain. Pak Robbert sendirilah yang datang ke rumah itu atas permintaan bibinya. Biasanya dua minggu sekali, atau yang paling jarang sebulan sekali.
Itu aneh memang. Walau Bibi Betty adalah wanita jahat, tapi ia tidak pernah melarang Erie membaca buku-buku milik kakaknya atau memarahinya saat Erie bertanya seputar bisnis kepada Pak Robbert. Bahkan Bibi Betty juga sering kali memaksa Erie untuk mendengarkan laporan yang disampaikan Pak Robbert kepadanya. Tak jarang Bibi Betty juga menyuruh Erie membereskan beberapa dokumen perusahaan yang ia bawa pulang.
Sudah satu jam Erie habiskan di dalam kamar. Kini ia harus keluar kamarnya untuk membersihkan rumah dengan dua lantai itu. Erie mengendap-endap, ia melirik ke arah ruang makan untuk memastikan bahwa bibinya sudah pergi bekerja. Ketika melihat makanan di atas meja sudah habis, Erie baru bisa bernapas lega. Sempat terbesit di benak Erie untuk berjalan ke arah pintu keluar, siapa sangka jika bibinya lupa mengunci pintu itu. Tapi beberapa detik kemudian, Erie menggelengkan kepalanya. Mana mungkin kan?
Erie kembali ke pekerjaannya. Tidak butuh waktu lama baginya agar mampu hidup mandiri seperti sekarang. Setiap hari ia belajar. Bukan hanya tentang pelajaran yang tidak ia dapat karena sekolah formalnya dihentikan oleh Bibi Betty, melainkan juga tentang mengurus keperluan rumah.
Memasak contohnya. Bibinya hanya mengizikan Erie untuk belajar dari asisten rumah tangga selama sebulan. Setelah itu, bibinya memecat orang itu. Mulai saat itu Erie lah yang memasak setiap hari, baik itu waktu sarapan, makan siang dan makan malam, meskipun Erie tidak pernah tahu kapan bibinya akan berada di dalam rumah. Sama halnya dengan pekerjaan rumah lainnya yang setiap hari harus dikerjakaan Erie seorang diri tanpa pertolongan siapa pun.
Memasak sudah, membersihkan dapur juga sudah dilakukan. Erie melanjutkan pekerjaannya dengan membersihkan perabotan rumah yang ada di ruangan keluarga. Ia memulainya dengan membersihkan TV. Dulu ia sering menghabiskan waktunya di sana bersama ibunya sambil menonton TV. Namun kini, TV LED dengan 55 inch itu bagi Erie hanya sebuah pajangan. Ia tidak pernah bisa menggunakannya lagi karena bibinya menggunakan kata sandi khusus untuk mengaksesnya. Begitu pula dengan komputer dan laptop yang ada di rumah itu. Dengan artian, Erie tidak dapat mengetahui tentang dunia luar kecuali melalui jendela rumah, Pak Robbert dan buku-buku daddynya.
Saat bertanya kepada sang bibi tentang alasan pengurungannya, wanita itu berkata, "Untuk apa kau bertanya? Dunia di luar sana sangat jahat. Tidak akan ada yang peduli denganmu. Bersyukurlah kau bisa punya tempat tinggal dan hidup di sini."
Begitu ucapnya berulang-ulang. Kalimat-kalimat kejam dan memprihatinkan itu membuat Erie berpikir, mungkin memang rumah ini adalah tempat teraman dan ternyaman untuknya.
XXXX
"Erie!" Sebuah panggilan menggema di seluruh penjuru rumah. "Erie! Cepat kemari anak sial!" teriak orang itu lagi yang mengusik telinga Erie yang tengah membaca sebuah majalah pakaian milik ibunya.
"Iya aunty!" sahut Erie. Ia meletakkan majalahnya dan langsung berlari menuju sumber suara.
"Ada apa aunty?" tanya Erie dengan napas tersengal akibat tergesah-gesah menuju ke pintu depan. Ia melihat penampilan bibinya yang berantakan. Wanita itu tak sendirian. Di sampingnya ada seorang pria yang sama berantakannya sedang memapah sang bibi. Dari tubuh keduanya tercium aroma alkohol yang sangat menyengat.
"Bawakan kami minuman ke kamar!" perintah Bibi Betty kepada Erie. Kemudian ia mengelus pipi pria di sampingnya. "Darius, ayo kita ke kamar," katanya pada pria itu. Wanita itu menoleh lagi ke arah Erie. "Dan kau, jangan sampai kau tidak membawa minuman kami!"
Tanpa berpikir panjang, Erie langsung menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Sekilas ia melihat bibinya dan pria barunya itu menaiki tangga menuju kamarnya. Bibinya melangkah dengan terhuyung-huyung. Beruntung pria di sampingnya tidak terlihat begitu mabuk sehingga masih sanggup memapah tubuh bibinya.
Erie berjalan ke dapur untuk melakukan apa yang diperintahkan. Ia berjinjit dan membuka lemari kaca yang berada di atas. Ia mengambil sebuah botol dari sana. Lalu ia membuka tutup botolnya dan terciumlah aroma menyengat dari sana. Wine. Itulah minuman yang dimaksud oleh Bibi Betty.
Setelah menuangkan minuman itu ke dalam dua gelas dan meletakkan botolnya di atas nampan, Erie melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamar bibinya. Ketika hendak mengetuk pintu, Erie mendengar suara erangan dari dalam sana. Walau hampir tiap malam ia mendengar suara-suara itu dari sana, tapi Erie tetap tidak terbiasa. Bulu kuduknya tetap berdiri dan ia selalu merasa takut.
Bibi Betty adalah wanita yang sangat menyukai one night stand dengan para CEO atau pengusaha yang menjadi partner kerjanya. Itu juga yang menjadi alasan Erie selalu mengurung diri di dalam kamarnya agar tidak melihat pemandangan atau mendengar hal-hal menjijikkan dari sana.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Erie mengetuk pintu.
"Aunty, aku membawa minuman," serunya.
"Maaa.. aaghh.. suukk.." suara pria yang sedikit mengerang menjawab perkataan Erie.
Gadis itu membuka pintu. Ia langsung melihat pria tadi duduk di atas ranjang dengan bertelanjang dada. Namun, Erie tidak melihat bibinya. Mungkin ada di dalam kamar mandi karena terdengar suara gemercik air dari sana.
Erie membawa nampan di atas tangannya masuk ke dalam. Aroma alkohol yang kuat menjadi wewangian di dalam kamar itu. Erie tak menyangka kamar daddynya yang dulu indah, sekarang menjadi saksi percumbuan panas adik perempuannya bersama para lelaki yang berbeda hampir tiap malam.
Erie hendak menaruh nampan itu di atas meja di dekat sofa, tapi satu suara menyergahnya.
"Mmmh... Tunggu!" Suara yang dibarengi desahan itu terdengar lagi. "Letakan di sini," katanya seraya menunjuk nakas yang ada di sebelahnya.
DEG
Erie merasakan sesuatu yang aneh. Gelagat pria itu tampak mencurigakan. Hatinya memperingatkan seperti ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi kepadanya.
"Kau tidaaakk mendengar? Argh, apa kau butuh auntymu untuk memerintahkanmu?" racau pria itu sambil menyeringai.
Erie tidak ingin ke sana. Tapi ia juga takut mendapatkan hukuman dari bibinya. Ia tidak mau mendapatkan cambukan lagi seperti bulan lalu.
Dengan ragu Erie mendekati nakas. Saat melewati pria itu, ia merasa bulu kuduknya semakin berdiri yang pertanda tidak baik untuknya.
Secepatnya Erie meletakkannya nampannya. Saat hendak pergi dari sana, tiba-tiba tangannya dipegang oleh pria itu. Erie yang terkejut berusaha melawan dan menjauh. Namun usahanya gagal, dalam sekejap Erie sudah berada dalam dekapan pria itu.
"Kau cantik. Badanmu juga bagus.. Rasanya aku ingin mencicipi tubuhmu," kata pria itu sambil mencoba mengelus-elus punggung Erie.
Erie berteriak, ia memandang pintu kamar mandi. "Aunty!" seruan Erie dengan suara gemetar itu langsung dihentikan oleh pria itu. Ia membungkam mulut Erie dengan menggunakan sebelah tangannya. Sedangkan sebelah tangannya lagi meneruskan aksinya.
Dengan wajah semakin pucat, Erie memohon di dalam hatinya agar bibinya segera keluar. Tapi itu hanya harapan belaka. Bibinya tak kunjung keluar dan itu semakin membuat pria itu tersenyum senang.
"Bibimu tidak dengar ya?" kata pria itu dengan nada mengejek. Tangannya mulai bergerilya di paha Erie dan membuat gadis itu berkeringat dingin. Sekuat tenaga Erie memberontak. Ia mengumpulkan tenaganya. Dengan sekeras mungkin Erie menginjak kaki pria itu. Setelah dekapan pria itu melonggar, Erie menggunakan celah itu untuk meraih botol wine yang ia bawa tadi dan memukul pria itu dengan keras. Membuat pria itu meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang berdarah.
Erie secepat mungkin pergi ketika melihat ada kesempatan untuk kabur. Ia berlari menuju kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Erie bersandar di depan pintu kamarnya. Air matanya tiba-tiba menetes. Tubuhnya berguncang hebat. Ia berjalan menuju kamar mandi. Perutnya terasa mual dan ia langsung memuntahkan isinya di dalam closet. Lalu ia berjalan ke bawah shower, menghidupkan shower itu dan membiarkan tubuhnya yang masih menggunakan pakaian lengkap, basah karena terkena air. Ia mengambil sabun dan menggosok-gosong tubuhnya. Ia merasa jijik dengan aroma pria itu yang menempel di tubuhnya.
Cukup lama Erie menangis di bawah pancuran air itu. Isakkannya terdengar begitu pilu. "Tolong, siapa saja, selamatkan aku! Tolong bawa aku keluar! Bawa aku keluar dari rumah ini!" teriak Erie sambil menangis.
XXXXXX
Jangan lupa berikan like dan comment kalian untuk perbaikan novel ini... Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
seru
2022-11-20
1
Aqua_Chan
dasar
2022-10-01
1
ᵇᵃˢᵉ™سامي
Ga ada anak yang membawa sial bibik 😒
2022-05-23
1