Langit nan biru dan awan putih yang terang mewarnai pagi ini. Tapi cerahnya pagi itu tidak secerah hati Erie. Kepalanya masih pusing akibat tangisannya semalam. Sebenarnya ia tidak mau kemana-mana. Ia ingin diam di dalam kamarnya untuk menenangkan pikirannya. Hanya saja, Erie merasa kasihan kepada Marline, koki dan para pelayan yang setiap hari bangun pagi dan menyiapkan segalanya untuknya. Akhirnya, ia memutuskan bersiap. Sebelum keluar dari kamarnya, Erie menemukan sebuah ponsel canggih di atas nakasnya. Ia mengabaikan ponsel itu dan berjalan keluar.
Dari lantai atas, Erie menyaksikan para pelayannya sibuk ke sana ke mari. Dengan gontai, ia menuruni anak tangga satu persatu menuju ruang makan. Di sana ia melihat hal yang sangat menyakitkan baginya. Pemandangan di mana Jessie tengah menyiapkan sarapan untuk Elden, sedang pria itu hanya duduk di kursinya sambil memainkan ponselnya.
"Selamat Pagi. Kau sudah bangun, Erie?" sapa Jessie padanya.
Erie hanya diam. Ia sama sekali tidak ingin melihat wanita itu berada di tempat itu. Dalam hatinya ia menginginkan bisakah Jessie tinggal di rumah itu tanpa mempedulikan dirinya? Akan lebih baik jika mereka tidak saling menyapa satu sama lain.
"Kau ingin sarapan apa, Erie? Aku menyiapkan sarapan untuk Elden, aku juga bisa menyiapkan sesuatu untukmu."
Erie masih tak menjawab. Ia hanya berjalan menuju Marline yang hanya berdiri di dapur tanpa melakukan apa pun. "Wanita itu yang menyiapkan sarapannya, Marline?" tanya Erie pada wanita paruh baya yang selalu melayaninya.
"Iya, Nyonya."
"Kenapa kau membiarkannya?"
"Nona Jessie selalu melakukan ini jika Nona berkunjung ke rumah ini, Nyonya."
"Apakah ia sering ke sini?"
"Ya, Nyonya. Jika Nona tak ada pekerjaan, Nona selalu berkunjung ke sini."
"Apa pekerjaannya?"
"Nona adalah seorang model internasional, Nyonya."
Seorang model ya?
Erie memperhatikan pekerjaan yang dilakukan Jessie. Tubuh wanita itu memang cocok sebagai seorang model. Belum lagi peragainya yang ramah itu membuat para pelayan menyukainya. Ia juga dapat berperan sebagai kekasih yang baik, bahkan lebih baik dari Erie
"Marline, siapkan sarapan yang biasa aku pesan."
"Baik, Nyonya."
Erie berjalan menuju ke kursinya. Ia duduk dan memperhatikan perlakuan yang Jessie berikan kepada Elden yang sedang memasak dan menyiapkan sarapan. Ternyata wanita itu tidak hanya terlihat sebagai kekasih tetapi cocok untuk menjadi istri Elden.
"Bagaimana Elden? Apakah terasa enak?" tanya Jessie ketika Elden tengah menyantap makanan yang telah dibuatkan oleh Jessie.
"Enak," jawab Elden singkat.
"Kau menyukainya?"
"Tentu."
Jessie tersenyum puas. Ia memandang Erie. Ia berkata padanya, "Kau ingin mencicipi masakanku, Erie?"
"Tidak," jawab Erie singkat, mengikuti cara suaminya berbicara.
"Kenapa? Kau harus mencobanya."
"Aku katakan tidak." Erie berkata lebih tegas dan dingin.
"Tapi kenapa?"
Astaga! Erie kesal dengan wanita itu. Mengapa ia sama sekali tidak mengerti jika Erie tidak menyukainya?
"Aku tidak biasa makan makanan seperti itu," ucap Erie ketus.
Marline meletakkan sarapan yang dipesan Erie ke depan perempuan itu. Erie memakan yang melihat makanannya sudah siap, segera menyantap makanannya. Namun, ia benar-benar tidak merasa nyaman dengan situasi seperti ini. Situasi di mana ia seperti orang ketiga di antara Elden dan Jessie.
"Tunggu sebentar Elden," cegat Jessie ketika Elden ingin beranjak dari kursinya. Wanita itu berjalan menuju dapur kemudian membawa satu mangkuk sup panas dan memberikannya kepada Elden.
"Aku juga menyiapkannya untukmu, Erie."
"Tidak perlu."
"Tidak apa Erie. Aku menyiapkannya khusus untukmu."
Jessie kembali membawa semangkuk sup panas dari dapur. Ia berkata pada Erie, "Kau harus mencobanya."
Erie jengah. Ia tidak ingin diganggu oleh wanita itu. "Aku bilang tidak perlu."
Saat Jessie ingin meletakkan mangkuk kaca yang berisi sup panas ke atas meja di depan Erie, di saat yang sama Erie bangkit berdiri dan membuat mangkuk kaca itu terjatuh dan pecah.
"AAAWWW!" Teriak Jessie saat tangannya terkena cipratan sup panas yang terjatuh itu.
Mendengar teriakan Jessie, Elden langsung berdiri dan mendekati diri wanita itu. "Kau terluka? Apakah ada yang sakit?" tanya Elden. Ia terlihat sangat panik. Bahkan ia berjongkok untuk memastikan tidak ada luka di tubuh Jessie.
"Aku tidak apa-apa, Elden. Lihatlah tidak ada yang terluka," jawab Jessie memenangkan Elden.
Elden menghembuskan napas karena kekhawatirannya, kemudian Elden memandang Erie. "Kau! Apa yang kau lakukan?" tanya Elden dengan penuh emosi.
Erie menatap mata Elden. Ia sangat terkejut. Dari mata pria itu terpancar rasa khawatir. Rasa khawatir yang pernah Elden tunjukkan ketika ia terjatuh di kolam ikan tempo lalu. Tapi saat ini, rasa itu Elden tunjukan kepada wanita lain, bukan padanya.
Erie tersenyum getir. Ia berucap dengan gemetar, "Aku tidak sengaja melakukannya."
Elden menatap Erie dengan tajam dan dingin. "Jika kau melakukannya lagi, kau akan tahu akibatnya," tukas Elden meninggalkan Erie dan membawa Jessie ke ruang keluarga.
Erie terdiam sejenak. Ia terperenyak di atas kursinya. Sungguh tak habis pikir, kesalahan apa yang sudah Erie lakukan hingga suaminya bisa melakukan hal sekejam itu? Erie melihat kakinya berdarah karena pecahan yang tertancap.
Marline yang melihat darah yang mengalir dari kaki Erie, membantu majikannya itu untuk mengobati lukanya. Erie merasakan perih di kakinya namun tak seperih yang hatinya rasakan. Dengan berusaha keras, Erie menguatkan hatinya. Ia melakukan itu untuk tidak terlihat lemah di depan Elden dan Jessie.
Setelah insiden itu, Erie menghabiskan waktu di perpustakaan. Sebenarnya ia ingin ke taman depan, tapi Erie tak ingin bertemu Jessie yang sedang duduk di sana. Jangankan untuk berpapasan, mengingat wanita itu berada di rumah Elden saja sudah membuat Erie muak.
Waktu terus berjalan, lama kelamaan Erie merasa bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman belakang rumah. Halaman di sana yang benar-benar luas dan sangat sejuk. Namun, sayang sekali yang ada di sana itu hanya pohon saja karena semua bunga terkurung di dalam rumah kaca.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Erie mendekati rumah kaca itu. Biasanya rumah kaca itu selalu dikunci oleh Elden, tapi beruntungnya saat ini tempat itu terbuka. Rumah kaca itu berisi aneka jenis tanaman dari berbagai negara. Semua tanaman itu disusun dan diurus dengan rapi oleh Elden.
Erie terus berjalan sambil menikmati pemandangan indah dalam rumah kaca itu. Bahkan saking terpesonanya, ia tidak menyadari bahwa ia akan menginjak anak tangga menuju ke bawah. Hampir saja Erie terjatuh jika tidak ada seseorang yang memegang tangannya.
"Huufftt hampir saja aku jatuh! Terima kasih--" Ucapan Erie berhenti sesaat untuk melihat wajah orang yang menyelamatkannya. "Mario?"
"Maaf Nyonya saya sudah lancang menyentuh Anda. Apakah Anda terluka?" tanya Mario memeriksa sekeliling tubuh Erie untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, Mario. Aku justru berterima kasih karena kau telah menolongku."
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Nyonya."
"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya kau sudah berangkat bersama Elden tadi?"
"Iya Nyonya. Tadi saya berangkat bersama Tuan Elden, tapi ada beberapa dokumen yang tertinggal. Jadi saya kembali untuk mengambilnya. Tapi sepertinya kaki Anda masih terasa sakit," kata Mario sambil memperhatikan kaki Erie yang di perban. Mario juga menyaksikan kejadian pagi ini di meja makan sehingga ia tahu bahwa kaki Erie tengah terluka.
"Tidak. Ini sudah tidak sakit lagi, Mario." Erie menarik kakinya ke belakang agar Mario berhenti menatap kakinya.
"Syukurlah kalau begitu. Mengapa Anda sendiri di sini, Nyonya? Apakah Anda tidak bertemu Dicken?"
Benar! Dicken! Pantas saja Erie merasa ada yang aneh. Ternyata sejak pagi tadi ia tidak melihat pengawalnya itu. Aku tidak tahu. "Sejak pagi aku belum melihatnya."
"Baiklah, Nyonya. Saya akan mencarinya untuk Anda. Saya undur diri, Nyonya," kata Mario sambil menundukkan kepala.
Erie melanjutkan aktivitasnya. Ia menyentuh beberapa kelopak bunga untuk menghirup aroma sedap dari sana. Beberapa saat kemudian, Erie terkejut melihat Dicken yang memakai jas mendekatinya. Penampilan laki-laki itu terlihat sama seperti Mario dan itu tidak biasa, karena biasanya pengawalnya itu hanya mengenakan kemeja saja.
Erie terus berjalan menyusuri rumah kaca itu di ikuti oleh Dicken, sampai langkahnya terhenti ketika ia melihat pintu kaca yang bertuliskan Tulpe. Erie sangat penasaran dan langsung masuk ke dalam ruang tersebut. Dan ternyata di dalam ruangan itu terdapat ratusan bunga Tulip yang berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu, dan ada juga yang mempunyai gradasi warna atau memiliki lebih dari satu warna.
"Siapa yang merawat bunga-bunga Tulip ini Dicken?" tanya Erie kepada Dicken.
"Semua tanaman yang ada di rumah kaca ini, dipilihkan oleh Tuan Elden dan pelayan kepercayaan Tuan Elden yang mengurusnya, Nyonya. Tapi khusus bunga-bunga Tulip yang ada di sini, Tuan Elden sendiri yang menyempatkan waktu untuk merawatnya."
"Aku tak menyangka ternyata pria itu bisa mengurus hal-hal seperti ini juga."
"Tentu, Nyonya. Semua bunga ini Tuan sediakan untuk seseorang."
"Apakah untuk Jessie?" ucap Erie sedikit kelu menyebutkan nama itu.
"Mungkin saja, Nyonya. Karena Nona Jessie sangat menyukai bunga tulip dan hanya Nona Jessie yang diperbolehkan Tuan untuk merawat bunga-bunga ini."
Erie tersenyum miris. Ternyata Jessie sangat diistimewakan oleh Elden. Semua larangan untuknya tidak berlaku untuk wanita itu. Tapi biar bagaimana pun Erie sangat bersyukur bisa melihat bunga-bunga tulip itu karena semua bunga itu memberikan kehangatan bagi Erie. Kehangatan yang seperti pernah ia alami dulu.
"Oh ya Dicken, apakah ada sesuatu yang istimewa hari ini?"
"Ya, Nyonya?"
"Maksudku pakaianmu terlihat rapi, apakah kau dari suatu tempat?"
Dicken memegang jasnya. "Saya memakai ini karena ingin mengawal Anda, Nyonya. Saya rasa untuk mengimbangi penampilan Anda, saya juga harus berpenampilan yang baik."
"Menurutku penampilanmu selama ini tidak ada masalah."
"Saya hanya tidak ingin Anda mengganti saya karena penampilan saya, Nyonya."
Erie tidak terima dengan perkataan Dicken. Ia memukul tangan pria itu hingga membuat Dicken mengeluh sedikit. Erie kaget melihat ekspresi Dicken dan bertanya, "Ada apa? Apakah kau terluka?" Erie mencoba memperhatikan tangan Dicken yang tadi ia pukul. Ia juga baru menyadari bahwa wajah Dicken terlihat pucat saat ini.
"Apakah Anda memiliki dendam pada saya, Nyonya? Anda memukul tangan saya begitu kencang Nyonya," ucap Dicken sambil menarik tangannya.
"Apa? Apa aku terlihat seperti orang yang memiliki dendam? Lagi pula, jika aku ingin balas dendam, aku tidak akan memukulmu begitu pelan."
"Ternyata Anda adalah orang yang begitu kejam, Nyonya," ucap Dicken sembari menunjukkan ekspresi sedikit takut di depan Erie.
"Hahaha!" Erie tertawa kencang. "Sekarang kau tahu siapa aku," katanya sambil terus tertawa. Beberapa detik kemudian Dicken tersenyum. Erie yang melihat senyuman Dicken juga ikut tersenyum. Mereka sambil saling bertukar senyum dari bibir masing-masing.
XXXXXX
"Tuan, apakah Anda menghukum Dicken?" ujar Mario ketika ia mengantarkan dokumen yang dibawanya dari rumah ke meja kantor Elden. Sesuai janjinya pada Erie, Mario tadi mencari keberadaan Dicken. Ia yang tidak menemukan Dicken di kamarnya, langsung mencari Dicken di tempat penghukuman. Di sana ia melihat pria itu tertidur di atas semen dengan beberapa luka cambukan di tubuhnya. Mario bisa menyimpulkan bahwa Dicken telah dicambuk oleh algojo di sana, dan satu-satunya orang yang bisa memerintahkan para algojo itu hanya Elden.
"Apa sekarang kau sedang mempertanyakan keputusanku?" tanya Elden tidak suka dengan perkataan Mario.
"Tidak Tuan."
Elden memandang wajah Mario yang aneh. Elden tahu setiap kali ia melakukan tindakan kekerasan pasti mendapatkan protes dari Mario. Meskipun Mario dibesarkan dan didik dengan kekerasan oleh ayah Elden, tapi pria itu punya prinsip kuat. Orang-orang yang tidak bersalah tidak boleh dihukum. Namun, jika orang-orang itu memang bersalah, maka Mario akan bertindak lebih kejam dari Elden. Ia tidak segan-segan akan menghilangkan nyawa orang-orang itu dengan cara yang tidak biasa.
"Aku memberikannya 20 cambukan karena tidak bisa menemukan Erie," jelas Elden kepada Mario.
"Baik Tuan, saya mengerti," ucap Mario tidak ingin memperpanjang masalah. Penjelasan Elden sudah menjawab pertanyaannya.
Mario mengambil sebuah kartu undangan berwarna emas dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Elden. "Tuan, saya menemukan ini di rumah. Sepertinya 'kapal putih' ingin mengundang wanita Anda," ucap Mario menyebut 'kapal putih' yang merujuk pada kapal Independence of the Seas, kapal yang digunakan untuk mengumpulkan para wanita bangsawan, wanita dari para pengusaha dan penguasa.
Elden mengambil kartu itu dan membukanya. "Untuk apa kau menyerahkannya padaku? Bukankah Jessie ada di rumah? Serahkan saja pada wanita itu," katanya sambil memberikan kartu berwarna emas itu kepada Mario.
Saat Mario hendak mengambil kartu itu, Elden mencegahnya. "Tunggu dulu," katanya sambil menarik kartu itu dan meletakkannya di atas meja. "Bagaimana jika Erie yang menghadiri acara memuakkan itu?"
Mario terperangah mendengar penuturan Elden. "Nyonya, Tuan?"
"Iya."
"Tapi Tuan, Nyonya sama sekali tidak pernah pergi kepergaulan kelas atas dan tempat itu sangat berbahaya untuk Nyonya."
Elden menyeringai. "Bukankah itu bagus Mario? Anggap saja ini sebagai latihan dasar untuknya."
"Apakah Nyonya akan menerimanya, Tuan?"
Pertanyaan Mario justru semakin membuat senyuman mengerikan di wajah Elden terlihat jelas. Elden mengetuk-ngetuk jemari tangannya di atas meja. "Aku punya sebuah permainan agar Erie bisa patuh padaku."
Mario bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Elden. Ia tahu dengan jelas alasan Elden menikahi Erie. Tapi ia sama sekali tidak bisa membaca isi kepala Elden jika menyangkut tentang perempuan itu.
"Satu lagi Mario, kirim ahli dari organisasi untuk meretas semua CCTV di kapal itu. Aku ingin melihat acara itu secara langsung," perintah Elden.
"Baik Tuan, akan saya lakukan."
**XXXXX
Tetap #dirumahaja ya, jaga kesehatan, rajin cuci tangan, jauhi tempat ramai dan pakai masker saat keluar rumah. Ingat loh itu kewajiban yang sudah diberikan oleh pemerintah kepada kita!
Nah kalau untuk novel ini, tidak ada kewajiban kok, hanya permohonan agar pembaca mau mendukung penulis dengan memberikan like, comment dan vote...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
kasihan kamu Eri GK dihargai sama sekali dgn Elden
2022-11-20
0
🍇Tati
isssh gemes pengen jitak pala elden, ga cukup kah bikin nangis erie
2022-04-19
0
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
jahat banget km El,,hati hati km jatuh cinta sama Erie
2022-03-20
0