Di saat hari sudah larut malam, ketika semua orang sedang menikmati nyamannya bersantai di tempat tidur, Erie memainkan ponsel barunya. Tidak sulit baginya untuk mengoperasi berbagai macam aplikasi pada ponsel berwarna putih itu karena dulu, ia sering memainkan ponsel milik Tuan Eduard.
Erie menemukan banyak gambar pada galeri fotonya. Mulai dari foto pemandangan hingga foto-foto kelinci berwarna putih. Tapi yang aneh adalah Erie yakin bahwa kelinci itu adalah kelincinya yang ada di panti asuhan dulu. Belang pada mulutnya adalah tanda yang meyakinkan Erie.
Aneh. Ini aneh sekali. Kapan foto-foto itu diambil? Dua bulan setelah ia diadopsi oleh Tuan Eduard, Erie mendapatkan kabar bahwa panti asuhan itu tiba-tiba di tutup. Daddynya sudah berusaha untuk mencari tahu penyebabnya tapi tak ada kejelasan yang pasti. Ibu Tere dan anak-anak lain dipindahkan ke panti asuhan di daerah lain dan bangunannya dibiarkan terbengkalai begitu saja. Siapa pelakunya dan apa motifnya? Itu menjadi pertanyaan yang terus muncul di kepala Erie.
Ponsel putih yang ada dalam genggaman Erie juga merupakan ponsel keluaran baru karena perempuan itu melihat iklannya beberapa minggu lalu di televisi. Selain itu, nomor-nomor di kontak ponsel itu hanya berisi nomor-nomor orang yang ada di rumah Elden. Mulai dari nomor ponsel Elden, Mario, Dicken dan Marline serta nomor telepon kantor Elden. Tampaknya memang ponsel itu diberikan untuk Erie, dan Elden lah yang memberikannya.
SREEKK SRREEKKK
Perhatian Erie teralihkan oleh suara gorden yang terhembus oleh angin. Angin yang masuk ke dalam kamarnya semakin kencang, jadi ia pun meletakkan ponselnya di atas nakas, turun dari ranjang dan menutup jendela. Kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Ketika Erie kembali, ia mengambil penutup matanya dan memakainya. Ia berbaring di atas ranjang, mencoba untuk tidur. Ia harus tidur karena memaksa diri untuk terjaga sepanjang waktu tidak akan membantu apa-apa. Ia menarik selimut sampai ke dadanya, berguling menyamping dan memejamkan mata.
Hari semakin larut. Erie merasakan panas dan perih menjalar di tubuhnya. Walaupun matanya terpejam, tetapi Erie sangat gelisah dalam tidurnya. Ia bermimpi. Mimpi yang awalnya indah.
XXXX
Flashback On
Siang itu di sebuah taman bunga, ada seorang gadis kecil yang sedang bermain di kursi taman. Ia tidak sendiri karena ada seorang pria di dekatnya. Pria itu terlihat memakai baju santai dengan memakai topi. Ia sedang mengecat sebuah kursi kayu.
"Papa. Apakah papa yang menanam bunga ini?" kata anak itu mendekati setangkai bunga.
"Bukan," ujar pria yang berumur nyaris 32 tahun itu.
"Lalu siapa yang menanamnya? Mama?" tanya anak itu dengan menampilkan kerutan di keningnya, tanda bahwa ia tengah penasaran.
"Tidak. Bukan Mamamu. Semua bunga ini ditanam oleh Paman Olis. Kau ingat Paman Olis kan?" ujar pria itu memandang ke arah gadis kecilnya yang sedang menyentuh setangkai bunga.
"Oh paman tampan itu! Iya aku ingat!" ucap gadis itu ceria ketika diingatkan pada paman yang beberapa kali berkunjung ke rumah mereka untuk berbincang dengan ayah dan ibunya.
"Apa kau menyukai bunga itu sayang?"
"Suka. Aku sangat suka papa!"
Pria itu menghentikan pekerjaannya. Ia mendekati anaknya dan duduk di samping putri kecilnya itu. "Nama bunga ini adalah bunga Tulip. Kau tahu dari mana asal bunga ini, nak?"
Putri kecilnya menggeleng. Ia melanjutkan ucapannya. "Bunga ini berasal dari Asia Tengah."
"Asia Tengah itu di mana papa?"
"Itu adalah sebutan untuk negara-negara yang ada di benua Asia yang sangat jauh dari negara ini."
Anak itu mengangguk-anggukan kepalanya. "Jika aku sudah besar nanti, aku mau ke sana. Aku mau lihat banyak bunga tulip."
"Bukankah kau bilang ingin seperti papa?"
"Tidak! Aku berubah pikiran! Aku tidak mau mengambar dan terus membuat rumah seperti papa. Aku mau keliling dunia."
Pria itu tersenyum. Ia menepuk kepala putrinya lalu membelainya dengan lembut. "Baiklah, lakukan apa yang kau suka dan ingat ini, apapun yang putri kecil papa ini lakukan, papa dan mama akan selalu mendukungmu."
Gadis kecil itu tersenyum. "Iya, aku akan ingat itu papa."
Usai perbincangan itu, sang ayah kembali bekerja sedangkan anak itu berjalan menelusuri taman bunga itu. Ia sangat senang bisa melihat taman itu bisa berubah seindah ini. Tidak hanya bunga, ternyata di taman itu juga terdapat kupu-kupu. Dengan susah payah, akhirnya gadis kecil itu dapat menangkap kupu-kupu itu. Ia tersenyum melihat kupu-kupu itu ada di tangannya. Ia akan menunjukkannya kepada papanya.
"Papa aku menemukan kupu-kupu!" seru gadis kecil itu sambil mendekati papanya. Namun, bukan ekspresi senang yang ia dapatkan dari ayahnya, melainkan ekspresi ketakutan. "BERHENTI!" teriak papanya.
Anak itu terkejut mendengar perkataan papanya. Ia terdiam dan tak tahu harus melakukan apa. Ia ingin berucap tapi sesuatu seperti menutup bibirnya.
"Lari, nak! Kau harus pergi dari sini!" Pria itu terus berkata untuk menjauhkan putrinya. "Pergilah! Papa mohon!" seru pria itu lagi. Ia menjatuhkan kursi yang tadi ia warnai dengan cat. Ia berdiri dan berjalan mundur menjauhi putrinya.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki lain yang mendekati papanya. Wajah laki-laki itu tidak terlihat karena ia memakai masker dan penutup kepala berwarna hitam. Gadis itu tidak tahu apa yang dilakukan sang lelaki terhadap papanya. Tetapi ia melihat tubuh papanya terjatuh dengan darah mengalir deras dari tubuhnya.
"Paapaaa!" Gadis kecil itu berteriak dengan keras. Air matanya berjatuhan karena melihat papanya yang terkapar tak berdaya.
Mendengar teriakan dari gadis kecil itu membuat laki-laki tadi menoleh. Ia melihat anak itu dan mendekatinya. Ia berjalan perlahan-lahan dengan tubuhnya yang bermandikan darah akibat perbuatannya tadi. Anak kecil itu berjalan mundur. Ia sangat ketakutan. Tubuhnya gemetar.
Gadis itu terus berjalan mundur hingga tubuhnya menabrak dinding pagar. Laki-laki itu tersenyum puas. Gadis kecil itu melihat mata laki-laki itu yang begitu merah, semerah darah. Mata yang menunjukan kebencian dan hasrat ingin membunuh. Laki-laki itu terus mendekati anak itu hingga tepat di depannya. Saat tangan pria itu hendak mencekiknya, sang anak berteriak.
"TIIDDAAAKKKK!!!"
Flashback On
"TIIDDAAAKKKK!!!"
Erie terbangun dibarengi dengan suara gemuruh hujan dari luar kamarnya. Ia merasa sesak dan sulit bernapas. Ia gemetar akibat mimpi yang baru ia alami tadi. Tubuhnya basah bermandikan keringat. Dengan ketakutan Erie menyentuh lehernya. Ia segera beranjak ke depan cermin. Ia memperhatikan lehernya dengan seksama. Tidak ada! Lehernya baik-baik saja. Ternyata itu hanya sebuah mimpi buruk.
Erie mengambil gelas di atas nakas dan menghabiskan air mineral yang ada di dalamnya hingga kandas. Ia mencoba menghilangkan bayangan dari mimpinya dengan berjalan-jalan di dalam kamarnya. Memang, berjalan-jalan dapat membantu, tetapi jika Erie berbaring lagi, perasaan itu pun akan datang lagi. Ia ingin tidur, tetapi tidak bisa. Pikirannya tentang mimpi itu membuatnya ketakutan.
Erie mencoba mengingat-ingat ucapan yang diberikan oleh ibu angkatnya ketika ia bermimpi buruk. Dulu, Erie pernah bermimpi dikejar-kejar oleh seseorang yang membawa pisau. Ia tidak tahu apa penyebab mimpi itu muncul. Tapi itu terlihat begitu nyata. Bahkan ia harus jatuh dari ranjangnya untuk bisa bangun dari mimpi itu. Ketika ia menceritakannya kepada mommynya, wanita itu berkata, "Jangan takut, daddy dan mommy selalu ada bersamamu. Pejamkan matamu maka semua akan berlalu dengan cepat."
Erie merapalkan perkataan mommynya, tapi tidak berhasil. Hatinya masih gelisah dan ia tidak bisa memejamkan matanya. Akhirnya Erie memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia ingin menenangkan diri di perpustakaan. Mungkin di sana ia bisa lebih baik karena ia tidak punya siapa-siapa sekarang. Ia tidak bisa mengadu lagi pada kedua orang tua angkatnya.
Dengan masih memakai baju tidurnya Erie berjalan. Namun, saat hendak melewati kamar Elden, Erie mendengar suara dari kamar suaminya itu. Kejadian yang selalu ia dengar ketika ia masih tinggal bersama Bibi Betty. Suara itu adalah suaran erangan dan desahan yang dikeluarkan oleh Elden dengan seorang wanita. Erie yakin wanita itu adalah Jessie.
Tiba-tiba air mata Erie terjatuh. Ia merasa hatinya tertusuk-tusuk duri. Sangat perih dan sakit. Ia tidak tahu mengapa ia sebegitu hancurnya dengan perbuatan mereka. Padahal Erie tahu mereka adalah sepasang kekasih.
Ini menjijikkan bukan? Erie tidak membicarakan tentang Elden dan Jessie, namun ia berbicara tentang dirinya sendiri. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Bibi Betty adalah benar. Di dunia ini tidak ada orang yang menginginkannya. Mungkin benar karena ia adalah anak pembawa sial.
Erie berjalan menuju perpustakaan sambil menangis. Hatinya dimasuki berbagai perasaan. Marah, kesal, sedih, takut dan perasaan bahwa dirinya tak berguna. Semuanya itu membuat Erie tak lagi memperhatikan langkah kakinya. Sempat ia hampir tersandung dan terjatuh dari tangga karena penglihatannya yang remang akibat tertutup air matanya.
Saat tiba di perpustakaan, Erie menekan tombol untuk menghidupkan lampunya. Namun lampu di perpustakaan itu tidak menyala. Erie mengabaikannya. Dengan mendapatkan bantuan cahaya lampu dari taman, ia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang baca yang biasa ia tempati. Beruntung tempat itu sedikit kedap suara sehingga tidak akan ada satu orang pun bisa mendengar suaranya. Ia terduduk di dekat jendela. Ditemani dengan rintik hujan, ia menangis dan berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan semua kepahitan, kesakitan dan kepedihan hatinya ke dalam tangisannya.
Sekelibat Erie teringat wajah pria yang ada di mimpinya tadi. Wajah itu terlihat begitu familiar bagi Erie. Walaupun kepalanya begitu sakit, namun Erie mencoba. "Papa..." ucap Erie. Seketika air matanya rebas, berjatuhan membasahi kedua pipinya. "Papa..." kata Erie lagi dalam tangisannya.
Erie memukul-mukul dadanya karena kesesakkan yang menghantamnya. Ia terisak. "Papa Kenapa kau pergi dan meninggalkan aku sendirian? Kenapa kau biarkan aku menderita seperti ini?"
Erie menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. "Aku merindukanmu papa," katanya lagi.
Berjam-jam sudah Erie habiskan dengan tangisan. Rasa takut dan cemas karena bayangan dari mimpinya, sudah tidak ia rasakan lagi. Hatinya juga sudah mulai tenang. Ia sangat kelelahan dan kedua kelopak matanya mulai terasa berat. Lama kelamaan ia terlelap. Namun, kali ini ia hanya terlelap tanpa bermimpi buruk lagi.
Tanpa Erie sadari, dari tadi ada seseorang yang mengikuti peremuan itu. Dengan diam-diam. Dengan sembunyi-sembunyi. Ia mengikuti langkah Erie. Kadang ia ingin membantu Erie saat perempuan itu berjalan dengan gontai dan hendak tersandung. Kadang ia ingin menopang tubuh Erie yang tadi nyaris sekali terjatuh akibat salah melangkahkan kaki pada anak tangga. Tapi ia mengurungkan semua niat baiknya itu.
Di tengah malam yang dingin itu, ia tahu ke mana Erie akan pergi dan tebakannya benar. Perpustakaan. Perempuan itu tengah berjalan ke perpustakaan. Ia mengikutinya dengan hati-hati. Saat Erie hendak membuka pintu perpustakaan, ia buru-buru berjalan menuju saklar listrik yang ada di sebuah ruangan. Ia melakukan itu untuk membiarkan Erie berada di tempat itu tanpa gangguan dari orang lain, karena biasanya akan ada beberapa pelayan yang mengitari rumah untuk memeriksa seluruh ruangan. Ia tidak mau Erie kehilangan tempat untuk mencurahkan isi hatinya.
Setelah itu ia berjalan lagi menuju ke perpustakaan. Ia membuka pintu itu dengan sangat pelan hingga tak menimbulkan sedikit pun suara. Ketika berada di ruang baca, ia menghentikan langkahnya. Ia memilih menyembunyikan dirinya di salah satu rak buku. Walaupun malam itu terasa dingin, tapi ia tetap duduk di atas lantai marmer itu.
Dari sana ia melihat bagaimana perempuan yang selama ini ia amati itu menangis. Entah mengapa ucapan perempuan itu terasa begitu pilu dan menyayat hati. Ingin rasanya ia mendekati perempuan itu, mendekapnya dan menghapus air matanya. Namun, sekali lagi, ia ragu. Ia tidak memiliki keberanian sebesar itu. Jadi, ia akan menemani perempuan itu dari kejauhan saja.
Sudah berjam-jam ia memandangi Erie yang menangis. Sedikit demi sedikit mata sayu perempuan itu mulai menutup. Ia melihat jam tangannya. Jam 5 subuh. Itu artinya sudah lima jam Erie menangis. Ternyata perempuan itu merasa kelelahan akibat menangis hampir semalaman.
Ia melihat lagi wajah Erie. Perempuan itu tidur dengan gelisah. Tampak tidak tenang. Tubuhnya menggigil. Wajar saja perempuan itu kedinginan, ia saja merasa kedinginan apalagi perempuan yang hanya memakai pakaian tidur yang tipis seperti itu.
Pelan-pelan orang itu bangun dari tempat duduknya. Ia keluar dari perpustakaan ke ruangan tempat di mana pakaian yang baru dicuci oleh pelayan, akan disetrika. Ia mengambil sebuah selimut tebal dari tumpukan selimut dan membawanya ke perpustakaan.
Ia masuk lagi ke dalam perpustakaan dengan langkah yang hati-hati. Ia mendekati Erie yang tengah tidur dengan posisi kepala menyender ke jendela. Dengan pelan, ia meletakkan selimut ke atas tubuh Erie. Saat hendak menarik selimut untuk menutupi tubuh permpuan itu, ia merasakan gerakan Erie. Perempuan itu menjatuhkan selimutnya ke atas lantai.
Orang itu memungut selimut itu dan meletakkannya lagi ke atas tubuh Erie hingga ke dagu perempuan itu. Ia terkejut ketika tangan Erie secara tidak sengaja menggenggam tangannya. Ia duduk di samping Erie sambil memperhatikan wajah Erie untuk memastikan apakah perempuan itu benar-benar tertidur. Ternyata Erie memang masih tidur. Namun, bibir perempuan itu seperti berbicara sesuatu. "Papa..." racau Erie dalam tidurnya.
Mendengarkan hal itu membuat wajahnya tiba-tiba memerah. Apa perempuan itu menganggapnya sebagai ayahnya? Pikirnya. Meskipun begitu, ia tidak ada niatan untuk melepaskan tangan Erie darinya sampai wanita itu sendiri yang melepaskan tangannya.
Orang itu menutup tangan Erie yang ada pada tangannya dengan selimut. Ia memperbaiki tempat duduknya untuk membuat perempuan itu tidak terganggu. Ia tidak peduli jika akan berjaga semalaman di sana, meskipun ditemani rintik hujan dan dinginnya malam. Ia hanya merasa senang bisa melihat wajah Erie yang tertidur pulas walau tidak bisa memeluk perempuan itu.
**XXXXX
Masih #dirumahaja kan? Walaupun bosan, tapi kita harus patuh ya supaya wabah ini cepat selesai. Jangan lupa jaga kesehatan, rajin cuci tangan, jauhi tempat ramai dan pakai masker saat keluar rumah. Masker kain juga boleh kok. Yang penting pakai masker.
Dan satu lagi, yang mau dukung novel ini, yuukkss jangan lupa tinggalkan like, comment dan vote!
Danke... ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
babyanzely
aduh siapa yah,bikin penasaran aja nih🤔🤔masih belum ada kejelasan nya,masih banyak teka teki
2022-11-17
0
momazcha
bikin penasaran trs 😁
2022-04-08
0
💕febhy ajah💕
uwaaaaa jahatnya dikau tor bikin mataku bengkak
2022-04-04
0