Mr. Drake telah pergi dari ruangan itu meninggalkan Elden dan Mario. Perbincangan Elden dengan Mr. Drake hanya memakan waktu satu jam. Waktu yang cukup lama untuknya hanya untuk mendapatkan informasi. Belum lagi ia harus kehilangan sebuah tanah yang cukup luas di wilayah utara sebagai bentuk timbal balik untuk Mr. Drake. Jika Elden tidak juga bisa menangkap pelaku meneror itu rasanya semua akan sia-sia saja.
Mario menghampiri Elden. "Tuan, apakah Anda akan pergi ke kantor?"
Elden melihat jam di tangannya. "Tidak. Kita pulang saja."
"Baik Tuan."
Elden mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan. Ia berjalan menuju mobilnya yang akan membawa pulang ke rumah. Mereka melewati jalan pintas yang hanya memakan waktu sekitar satu jam dari pusat kota menuju ke kediamannya.
"Di mana Erie?" tanya Elden kepada Mario yang duduk di kursi depan, di sebelah supir.
Dari arah depan Mario menyahut Elden. "Nyonya ada di toko buku yang berada di sekitar sini Tuan. Apakah kita perlu menyusul Nyonya?"
"Tidak perlu. Pastikan saja keamanannya kau perhatikan."
"Baik Tuan."
Sebenarnya ketika Elden mendengar kalimat Mario yang menawarkan untuk menyusul Erie, membuat Elden tergoda. Ia ingin melihat ekspresi Erie yang melakukan kegiatan yang disukainya. Karena selama perempuan itu berada di rumah, ia selalu menunjukkan wajah tertekan. Elden sama sekali tidak menyukainya.
Elden memperhatikan jalanan dari kaca mobilnya. Sudah bertahun-tahun Elden berada di sini. Ia merasa bosan menjalani kehidupan yang sama setiap hari. Rasanya ia ingin lepas kontrol dan mendekati Erie dengan cara yang lebih lembut. Namun, saat ini belum tepat. Sangat berbahaya jika Elden salah perhitungan.
Satu jam sudah berlalu, mobil yang membawa Elden sudah tiba di pekarangan rumah. Elden keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia duduk di atas sofa yang biasa ia duduki.
Sementara Mario yang mengetahui tentang kegiatan Erie kemarin dari penjaga, langsung menghampiri Elden. Ia membawa laptop yang berisi rekaman dari kamera pengawas. "Tuan, saya ingin melaporkan kegiatan Nyonya kemarin."
Elden yang baru memejamkan mata sambil bersandar di sofa, membuka matanya. "Baiklah, ceritakan kepadaku apa saja yang dilakukan Erie."
Mario membuka catatannya. "Tadi malam, sekitar pukul 12 malam, Nyonya berjalan dari kamarnya menuju ke perpustakaan. Seperti yang Anda duga Tuan, Nyonya memang tidak kembali ke kamarnya setelah itu karena Nyonya baru keluar dari perpustakaan ketika menemui Anda tadi." Mario meletakkan laptopnya di meja, di depan Elden. "Ini rekamannya, Tuan."
Elden memperhatikan layar di depannya yang menunjukkan pergerakkan Erie. Ia tersentak ketika melihat gambar di mana Erie sedang menghapus air matanya. Tidak. Ini pasti ada yang salah. Itu yang saat ini Elden pikirkan. "Coba putar kegiatan Erie sebelum ini," katanya kepada Mario.
Mario memutar semua rekaman Erie sejak pagi hari dari berbagai sudut kamera. Ketika layar itu menampilkan gambar di mana Erie mendekati rumah kaca, Elden terkejut. Ia menghentikan video itu. "Mario, apakah Erie pergi ke rumah kaca?" kata Elden menegang setelah mengetahui bahwa Erie memasuki taman bunga yang selama ini sengaja ia sembunyikan dari Erie.
Mario mengangguk. Ia juga kemarin bertemu dengan Nyonyanya di sana. Bahkan ia sempat menyelamatkan Erie yang akan terjatuh. "Benar Tuan, saya juga berjumpa dengan Nyonya di sana."
"APA?!" kata Elden marah. Mata hazelnya menatap Mario. "Kau tahu itu kawasan terlarang bagi Erie, kenapa kau tidak melarangnya?"
"Saya pikir Anda sudah mengizinkannya Tuan, karena pintu itu terbuka begitu saja. Bukankah hanya Anda yang memiliki kuncinya?"
"Tidak! Aku tidak membukanya kemarin."
Elden geram. Pantas saja Erie menangis. Pasti ada yang terjadi pada perempuan itu tadi malam hingga ia tidak bisa tidur. Apa Erie bermimpi buruk? Ah! Sial! Elden melewatkan hal ini. "Mario, bawa semua pengawal dan pelayan yang bekerja kemarin," katanya dengan tegas.
XXXXXX
Erie sekuat tenaga menahan air matanya untuk bisa berjalan menuju mobilnya. Kekesalan yang mengusik di hatinya sama sekali tidak bisa dideskripsikan oleh Erie. Ia ingin mengabaikan perasaan itu tapi semakin ia mencoba, semakin ia merasa terganggu.
Dicken meletakkan belanjaan Erie di bangku di samping Erie. Kemudian ia bertanya kepada Erie. "Nyonya, apakah kita akan pulang?" Perempuan itu menjawab dengan anggukan kepala. Dicken memerintahkan para pengawal yang mengikuti mereka untuk bersiap pulang.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Elden, Erie menangis. Ia menumpahkan semua kekesalan di hatinya melalui air matanya. Ia tidak peduli dengan tatapan khawatir dari Dicken dan supirnya yang sedari tadi memperhatikan kondisinya. Erie benar-benar sakit hati dan terluka saat ini dan menangis adalah cara yang terbaik baginya.
Namun saat tiba di rumah Elden, Erie menghentikan tangisannya. Perempuan itu menghapus air matanya dan menenangkan dirinya. Ia tidak mau lemah di hadapan suaminya. Apalagi di rumah itu ada sang kekasih dari suaminya, Jessie.
Saat Erie berjalan menuju rumah, Erie terkejut melihat semua pengawal dan pelayannya tengah duduk bersujud di hadapan Elden. Tubuh mereka gemetar ketakutan sambil terus menunduk di depan pria yang terlihat sangat murka itu.
"Kalian tahu akibat melanggar perintahku?" kata Elden dengan nada meninggi dan penuh penekanan.
"Am.. ampuni kami Tuan!" seru para pelayan dan penjaga itu.
"Tuan, ampuni mereka. Semua karena kelalaian saya," kata Marline mencoba membela mereka. Wanita tua itu juga ikut ada di sana. Hanya saja ia tidak bersujud melainkan berdiri sambil menunduk.
"DIAM! Kau juga akan mendapatkan hukumanmu!" bentak Elden kepada Marline.
Erie benar-benar terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat Elden semarah itu. Ia menjadi sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi. Ia berjalan mendekati Mario. "Apa yang tejadi Mario? Kenapa Elden sangat marah?" tanyanya kepada Mario yang kebetulan berada tak jauh dari Erie.
Mario menunduk untuk memberikan tanda hormat kepada Erie. Lalu ia berbicara kepada perempuan itu. "Tuan mengetahui bahwa Anda memasuki wilayah terlarang, Nyonya."
"Wilayah terlarang?"
"Ya, Nyonya. Wilayah terlarang yang saya maksud adalah rumah kaca di pekarangan belakang."
Erie menjadi sangat terkejut mendengar penjelasan Mario. "Ha? Jadi hanya karena itu?" Mario menjawab dengan anggukan kepala.
Erie tidak habis pikir dengan tindakan Elden. Mengapa pria itu sangat melarangnya masuk ke sana? Apakah karena tempat itu hanya dikhususkan untuk Jessie? Tapi ini tidak benar. Jika memang Erie yang bersalah, tidak seharusnya Elden melimpahkan kesalahan perempuan itu kepada mereka yang tidak bersalah.
Erie memperhatikan wajah para pelayan dan penjaga itu. Mereka sangat ketakukan. Bahkan Marline tak henti-hentinya menangis. Dengan penuh keberanian Erie mendekati Elden. "Itu bukan kesalahan mereka!" ucapnya lantang hingga membuat semua orang yang ada di rumah itu menoleh ke arahnya, termasuk Elden.
Elden berdiri dari sofanya. "Bukan kesalahan mereka katamu? Mereka telah membiarkan kau masuk ke daerah itu!" katanya sambil berkacak pinggang.
"Tapi ini adalah kesalahanku."
Elden berjalan mendekati Erie. "Benar. Ini adalah kesalahanmu. Kau juga akan mendapat hukuman. Tapi setelah menghukum mereka. Mario, bawa mereka ketempat penghukuman. Mereka akan dicambuk di sana."
Mendengar perkataan Elden, muka para pelayan dan penjaga itu menjadi pucat. Mereka tahu berada di tempat itu bisa mengancam nyawa mereka. Erie harus segera bertindak jika tidak, semua akan menjadi akhir untuk mereka semua.
"Hentikan Elden! Kau tidak berhak melakukan mereka seperti itu!"
"Tidak berhak katamu? Aku berkuasa atas mereka! Mereka adalah pelayan dan penjagaku!"
Elden semakin mendekatkan dirinya pada Erie. "Kau ingin melihat kekuasaanku lagi?" katanya di telinga perempuan itu. Erie tak bergeming. Ia merinding mendengar perkataan Elden yang begitu dingin.
"Baiklah. Sepertinya aku harus menunjukkan seberapa berkuasanya Elden Jacksen Alvaro," kata pria itu lagi. Elden menarik tangan Elden dengan kasar. Ia membawa perempuan itu ke dekat mobil miliknya. Ia membuka pintu depan, memasukkan Erie secara paksa ke dalam, lalu menghempaskan tangan perempuan itu. Erie merasakan sakit di tangannya akibat perbuatan Elden. Ia meringis sambil terus memegangi tangannya.
Erie melirik pria yang ada di sampingnya yang sedang menyetir mobil silver itu dengan kecepatan tinggi. Ia melihat wajah Elden yang sedang menahan emosinya. Wajah yang bisa membuat takut siapa saja yang memandangnya, termasuk dirinya.
Tak lama kemudian, mobil yang dibawa Elden masuk ke dalam sebuah kawasan perkebunan. "Keluarlah!" perintah Elden saat mobil mereka berhenti. Melihat Erie tak mau keluar, Elden segera berjalan menuju ke pintu di samping Erie dan memaksa perempuan itu untuk keluar dari mobilnya. "Buka matamu! Lihat dengan baik-baik!" ucap pria itu di samping Erie.
Sore itu, Erie melihat pemandangan yang sangat mengerikan di sana. Para pekerja perkebunan yang terluka tetapi masih diperintahkan untuk mengangkat karung-karung berisi teh ke pabrik. Jarak yang mereka tempuh pun sangat jauh. Kulit mereka juga terbakar akibat sinar matahari. Keringat yang menetes dari tubuh mereka pasti memberikan rasa perih yang teramat sangat.
"Ini belum seberapa," kata Elden sambil menarik Erie masuk ke dalam mobil. Elden membawa lagi mobil mereka ke pabrik yang ada di kawasan itu.
Sesampainya di sana, Elden dan Erie disambut dengan hormat oleh para pekerja. Erie menatap risih beberapa mandor yang memiliki tubuh kekar dengan cambuk di dalam tangannya. Erie mengikuti Elden masuk ke dalam pabrik. Ia takut berada di tempat itu.
Di sana Erie melihat pemandangan yang tidak kalah mengerikan, bahkan sangat tragis. Para pekerja dipukul, ditampar, ditendang dan dicambuk oleh para mandor. Tidak hanya laki-laki, wanita dan anak-anak juga mendapat perlakuan yang sama. Bahkan salah seorang anak mengangkat karung dengan keadaan tubuh yang mengenaskan. Darah keluar dari kepala dan tangannya.
Erie merasakan mual. Ia benar-benar tidak sanggup melihat penyiksaan itu. "Sudah Elden. Hentikan. Sudah cukup!" katanya memohon pada Elden.
Elden berbisik di dekat telinga Erie. "Kau ingin menghentikannya?"
Erie menjawabnya dengan mengangguk.
"Kalau begitu kau harus memiliki kekuasaan. Dengan begitu kau bisa menghentikan mereka," tutur Elden dengan santai. Erie menatap Elden dengan tajam. Ia tak menyangka pria itu sama sekali tak mempunyai belas kasih. Ia benar-benar tak percaya bahwa pria yang berdiri di sampingnya itu adalah suaminya.
Erie berjalan menuju ke mobil. Ia tak kuat lagi melihat pemandangan itu. Ia tak mempunyai kekuasaan seperti yang dikatakan oleh suaminya. Ia baru menyadari betapa lemah dan tak bergunanya dirinya.
Elden mengikuti Erie menuju ke mobil. Ia berlari agar bisa mengejar perempuan itu. Ketika mendapatkan Erie, ia memerintahkan Erie untuk masuk ke dalam mobilnya agar mereka bisa kembali ke rumah. Dan sesampainya di dalam rumah Erie langsung berjalan menuju dapur. Ia mengeluarkan isi perutnya di westafel dan meminum air untuk menenangkan perutnya.
Setelah merasa tenang, Erie berjalan menuju ke tangga. "Kau sudah melihat kekuasaanku, jadi jangan pernah membantah perintahku karena setiap pelanggaran yang kau lakukan, pelayan dan penjaga rumah inilah yang mendapat hukumannya," tutur Elden menghentikan langkah Erie.
Erie menghembuskan napas panjang. Ia berjalan menuju ke arah sofa tempat Elden duduk. Lalu Erie duduk bersujud di depan Elden. Tindakan Erie itu mendapatkan perhatian dari semua orang yang masih ada di sana, di tempat yang sama tanpa berpindah sedikit pun meskipun tadi Elden dan Erie sudah meninggalkan mereka.
Elden sangat terkejut dengan apa yang dilakukan perempuan itu. Ia mengangkat salah tangannya untuk memberikan isyarat agar semua orang itu menyingkir dari hadapannya.
"Aku mohon Elden, jangan hukum mereka. Aku berjanji semua perintahmu akan aku lakukan. Tidak ada lagi larangan yang aku langgar. Aku akan menuruti semua perintahmu," kata Erie sambil menangis.
Elden tersentak. Lalu ia tersenyum dan mengangkat tubuh Erie. "Baiklah, untuk kali ini aku mengampuni mereka. Sekarang istirahatlah di kamarmu. Karena besok kau harus menemaniku ke suatu tempat," katanya dengan nada yang lebih tenang.
Melihat ekspresi pucat di wajah Erie, membuat pria itu merasa bersalah. Sepertinya ia terlalu keras mengajari istrinya itu. Tapi Elden juga menangkap sesuatu yang lain dari Erie. Sorotan matanya jauh lebih berani dari terakhir kali ia menatapnya. Hal itulah yang membuat Elden puas dengan pelajaran yang ia berikan hari ini.
Erie hanya mengangguk dan tanpa berucap apapun. Erie mengikuti perkataan Elden. Ia beranjak dari tempat itu menuju kamarnya. Ia membersihkan badannya. Namun bayangan-bayangan penyiksaan di perkebunan dan pabrik masih terus menghantui Erie. Sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Ia bahkan kesulitan untuk memakai pakaiannya karena tangannya terasa lemas untuk meraih sesuatu. Berulangkali benda-benda yang ia pegang terjatuh begitu saja.
TOK TOK TOK!
"Siapa?" ujar Erie kepada orang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Saya Marline, Nyonya. Tuan meminta saya untuk membantu Anda."
Ketika Erie mendengar kata tuan, ia tidak lagi menolak Marline. "Masuklah," katanya membuka pintu dan membiarkan Marline untuk masuk.
Marline memperhatikan Erie yang begitu memprihatinkan. Ia langsung membantu Erie untuk berpakaian tanpa mengatakan apapun. Erie juga melakukan hal yang sama. Perempuan itu diam seribu bahasa. Hanya pikirannya saja yang melayang-layang ke dua tempat yang tadi ia kunjungi. Sangat sulit untuk menghilangkan kenangan buruk yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Usai membantu Erie, Marline keluar dari kamarnya. Sedangkan Erie duduk di atas ranjangnya. "Jangan takut, daddy dan mommy selalu ada bersamamu. Pejamkan matamu maka semua akan berlalu dengan cepat," katanya merapalkan perkataan mommynya lalu berbaring di tempat tidur. Erie terus menerus mengucapkan kalimat itu sampai ia tertidur.
*XXXXX
Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote*.
Danke. ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Evi Purvitasari
tak suka karakter eriiii.....lemahhhh....cengengggggg...wuek
2022-11-17
1
momazcha
jd ikut nangis,marah dan sakit hati yg dirasakan erie 🥺
2022-04-08
1
💕febhy ajah💕
masih misteri,sedikitpun jalan terang belum ada.
2022-04-04
1