Erie terbagun. Pancaran sinar mentari pagi menusuk ke dalam ruangan dan menyilaukan mata wanita itu. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Ia melihat jam dinding di ruangan itu yang telah menunjukkan pukul 10 pagi. Erie tidak pernah bangun sesiang itu. Ia meregangkan tubuhnya dan seketika itu pun selimut yang melekat di tubuhnya terjatuh. Erie mengambil selimut itu dengan perasaan yang aneh. Kenapa ada selimut di sini? Bukankah semalam tidak ada?
"Nyonya!" Suara seseorang dari balik pintu membuyarkan pikiran Erie. "Nyonya, ini saya Dicken. Tuan sudah menunggu Anda, Nyonya," kata orang itu lagi.
"Baiklah Dicken. Aku ke sana," seru Erie kemudian ia menepuk keningnya karena tersadar bahwa ruangan itu kedap suara.
Dengan cepat Erie bangkit berdiri. Ia melipat selimut itu dan meletakkannya di atas sofa yang ada di ruangan itu. Ia kemudian membuka pintu. Ia bertemu Dicken yang memakai pakaian rapi berdiri menunggunya. Laki-laki itu menundukkan kepala sebagai tanda hormat. "Selamat pagi, Nyonya," ujar Dicken.
"Selamat pagi," balas Erie.
Dicken menyerahkan jaket milik Erie kepada perempuan itu. "Ini Nyonya."
Erie mengambil jaket itu sambil bertanya-tanya, bukan alasan mengapa Dicken memberikan jaket kepadanya. Itu sudah jelas karena Erie saat ini hanya memakai pakaian malamnya. Tapi yang hendak dipertanyakan Erie adalah mengapa Dicken tahu bahwa Erie berada di dalam perpustakaan dengan hanya menggunakan baju tidurnya?
Erie memakai jaket yang diberikan Dicken. Saat hendak bertanya, Dicken kembali berucap. "Mari Nyonya," ajak Dicken ingin mengantarkan Erie untuk bertemu dengan Elden. Perempuan itu mengikuti Dicken yang membawanya menuju ke ruang keluarga.
Erie kembali bertanya-tanya di dalam hatinya. Elden ada di rumah? Apakah dia tidak bekerja? Banyak pertanyaan aneh yang ada di benaknya sejak tadi dan satu pun belum terjawab.
"Tuan, Nyonya sudah ada di sini." Dicken berkata sambil menunduk hormat kepada Elden.
Elden yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya menghentikan pekerjaannya. Ia meletakkan benda itu ke atas meja. Lalu ia memandang Erie.
"Kalian boleh pergi," perintah pria itu kepada para pelayan dan pengawal yang ada di sekitar mereka tanpa melepaskan pandangannya kepada wanita itu.
Erie mulai gelisah dengan tatapan Elden. Kenapa pria itu menatapnya seperti itu? Erie mencoba mencari jawaban dengan menatap wajah Elden. Namun hasilnya nihil. Ekspresi suaminya itu sangat sulit dibaca.
"Kenapa kau memanggilku?" kata Erie mencoba memecah kesunyian. Ia risih dengan tatapan Elden yang memandangnya dari atas kepala sampai ujung kakinya.
Elden menghembuskan napas panjang. Ia melonggarkan dasi yang mengikat kerah kemejanya. Lalu ia mengambil sesuatu dari saku jasnya. "Pergilah ke tempat ini!" ujar Elden sembari menaruh sebuah kartu di atas meja.
Erie mendekati meja dan mengambil benda yang diletakkan Elden. Itu semacam kartu undangan kelas atas. "Apa ini?" kata Erie sembari mengambil kartu elegan itu.
"Undangan untuk para bangsawan, putri dan istri pengusaha. Acaranya di kapal pesiar." Elden mencoba menjelaskan sambil terus memperhatikan lawan bicaranya.
"Lalu?"
"Kau harus ikut ke sana. Kau akan berada di sana selama sepuluh hari."
"Kenapa aku harus ikut?"
"Karena aku yang memerintahkanmu."
"Bagaimana jika aku tak ingin ikut?"
Elden bangkit berdiri dan berjalan menuju Erie. Ia menatap mata wanita itu dengan intens. "Sebaiknya kau ikuti perintahku atau kau akan menyesal."
"Aku tidak akan menyesal." Erie membalas tatapan Elden. Entah mengapa, saat ini Erie benar-benar tidak merasakan takut. Ia masih merasa kesal dengan apa yang ia dengar tadi malam. Rasanya ia jadi tidak ingin lagi mengindahkan perintah Elden.
Elden tersenyum sinis. Ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Erie. Tangannya yang besar merengkuh tubuh kecil Erie. "Kau harus pergi dan itu sudah kuputuskan," tutur Elden kepada Erie.
"Aku tidak akan pergi! Itu keputusanku!" ujar Erie dengan tegas sambil membalas tatapan dari bola mata hazel itu.
Elden merendahkan wajahnya hingga hembusan napasnya bisa dirasakan oleh Erie. "Istriku, kau harus pergi," ucap Elden di dekat telinga Erie. Pria itu mengucapkan kalimatnya sembari menatap kerlingan mata Erie yang terlihat terkejut.
Istriku?
Baru pertama kali ini Elden menyebutnya seperti itu. Biasanya Elden akan memanggilnya dengan namanya. Belum lagi posisi mereka saat ini begitu dekat. Erie merasakan pipinya bersemu merah. Warna yang kontras dengan kulitnya yang putih.
Sebelum ia merasa perasaannya mulai kacau, dengan cepat Erie mendorong Elden. Setelah menjauh, perempuan itu segera melangkah pergi dari Elden. Ia menuju tangga dan berlari ke kamarnya.
Erie menggerakkan kakinya ke kamar mandi. Jam sudah mendekati pukul 11 siang dan ia masih memakai pakaiannya yang semalam. Itu sebuah rekor baru untuknya. Tentu saja rekor buruk bagi seorang perempuan sepertinya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Erie menggunakan handuk dan keluar dari kamar mandi. Dan alangkah terkejutnya Erie, ternyata ia tak sendirian di dalam kamarnya. Perempuan itu mendapati Elden sedang duduk di sofa yang menghadap ke depan kamar mandi sambil bermain dengan ponselnya.
"Kyaa! Kenapa kau ada di sini?" teriak Erie. Ia yang panik berlari kembali ke kamar mandi.
Elden mendengar teriakan dari istrinya. Ia bersikap santai dan memasukkan ponselnya ke dalam jasnya. "Aku hanya ingin memberikan kartu undangan itu kepadamu," katanya sambil menunjuk kartu undangan tadi yang ada di atas ranjang Erie.
"Aku bilang aku tak akan pergi! Dan kenapa kau bisa masuk kamarku? Aku sudah menguncinya tadi," tutur Erie dari balik pintu kamar mandi.
"Kau harus pergi karena kau adalah Nyonya Elden! Dan masalah bagaimana aku masuk ke kamarmu, itu masalah mudah karena ini adalah rumahku!" ucap Elden tegas kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Erie.
Setelah mendengar pintu kamarnya tertutup. Erie keluar dari kamar mandinya. Mengunci kamarnya rapat-rapat dan segera mengenakan pakaiannya. Ia harus mulai hati-hati sekarang. Ia tidak mau Elden melihatnya seperti tadi.
Elden berjalan menuju ke ruang keluarga. Ia kembali membaca dokumen. Saat tengah serius, Mario datang menghapirinya. "Tuan, dua jam lagi Mr. Drake akan berada di tempat perjanjian," kata Mario di dekat Elden. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Elden sedari tadi yang membuat ia tidak pergi ke kantor. Ia bahkan sudah memakai pakaian rapi untuk bertemu dengan salah satu penguasa pasar gelap. Hal ini dilakukan oleh Elden dalam rangka penyelidikannya tentang teror yang menimpanya beberapa minggu belakangan.
Sistem keamanan sudah Elden perbaiki dan ia sudah memastikan hanya ia dan beberapa anggota saja yang bisa membobol sistem keamanan itu. Mario juga sudah menyaring beberapa tikus pengkhianati perusahaan. Hanya tinggal menunggu waktu saja agar mereka terjerat dan mendapatkan balasannya. Tidak ada yang boleh berkhianat dari Elden atau tidak hanya orang itu saja yang dihukum, melainkan semua orang yang berada di dekat pengkhianat itu juga akan terkena hukuman. Itulah cara Elden dalam menaklukan bawahannya. Pria itu menggunakan rantai yang menjerat, rantai yang dinamakan dengan ketakutan.
Elden berbicara kepada Mario tanpa teralihkan dari pekerjaannya. "Kau sudah menyiapkan keamanannya?"
"Sudah Tuan. Kami telah menyiapkan beberapa anggota di sana. Saya juga sudah memastikan tempat itu steril," ucap Mario meyakinkan. Ia benar-benar teliti. Ia tidak mau ada sesuatu yang salah yang nanti akan membuat Tuannya celaka. Oleh sebab itu, ia memastikan keamanan Elden. Bahkan nanti, ia sendiri yang akan menjadi pendamping Elden ketika bertemu dengan Mr. Drake. Elden memang orang yang terlatih sama sepertinya tapi Mario mempunyai kemampuan yang melebihi Elden. Ia bisa membunuh orang lain hanya dengan tangan kosong saja.
Elden menyeringai. "Bagus," katanya senang. Elden memperhatikan dokumennya lagi. Ia menandatangani beberapa surat-surat perjanjian kerja sama yang telah ia baca dengan teliti. Kemudian ia berhenti sejenak. Ia meletakkan pulpen dan kertasnya di atas meja lalu memandang Mario.
"Mario," panggil Elden.
"Ya, Tuan?"
"Cari tahu apa yang terjadi pada Erie kemarin."
"Maaf, Tuan?"
"Tadi malam Erie tidak tidur di dalam kamarnya," kata Elden sambil mengingat lagi suasana kamar Erie yang ia datangi tadi. Tempat tidur itu begitu rapi. Ia sudah bertanya kepada para pelayan dan tak satu pun dari mereka yang memperbaiki tempat tidur Erie. Dalam artian hanya satu hal yang terjadi, Erie tidak tidur di kamar itu tadi malam. Belum lagi penampilan Erie tadi yang masih menggunakan pakaian tidurnya, membuat Elden bertanya-tanya.
"Dan juga berikan padaku rekaman CCTV rumah ini tadi malam," sambung Elden.
"Baik Tuan. Lalu, bagaimana dengan undangan kapal putih Tuan?"
"Jika cara lembut tidak bisa, sepertinya aku harus mencari cara lain."
Lagi, Mario melihat perubahan ekspresi yang mengerikan dari wajah Elden. Paras yang selalu datar meski membicarakan tentang kematian orang lain itu berubah ketika membicarakan tentang Erie. Namun, meskipun begitu Mario percaya akan satu hal bahwa Tuannya tidak akan pernah menyakiti Erie secara langsung.
Melihat tatapan Elden yang tajam memandangnya, Mario kembali bertanya. "Apa yang harus saya lakukan Tuan?"
"Hubungi pengacara Eduard," kata Elden membicarakan tentang Pak Robbert. "Katakan padanya aku ingin surat wasiat Eduard besok pagi."
"Baik Tuan."
Sesaat kemudian, percakapan mereka berhenti. Elden sibuk dengan ponselnya sedangkan Mario sibuk mengatur jadwal Elden. Pengawalnya itu harus membatalkan sejumlah janji pertemuan Elden dengan beberapa pengusaha karena Tuannya membuat janji baru dengan Pak Robbert.
Keheningan rumah itu terhenti saat terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Elden. Terlihat dua orang pengawal membuka pintu dan menuntun Jessie masuk ke dalam.
"Di sana saja," ujar Jessie kepada para pengawal yang memapahnya. Ia menunjuk ke arah sofa di samping Elden. Kedua pengawal itu mengantar Jessie dan mendudukkan Jessie di dekat Elden.
"Terima kasih," kata Jessie lagi kepada mereka.
"Sama-sama Nona. Kami permisi Tuan, Nona," ucap salah satu dari mereka lalu mereka membungkuk sebentar dan pergi.
"Ada apa dengan kakimu?" tanya Elden sembali memperhatikan kaki Jessie yang bengkak dan membiru.
"Aku terjatuh," kata Jessie singkat.
Elden terkejut. "Apa?!"
"Tadi aku salah melangkah saat memakai merek sepatu X saat acara pameran. Sepertinya aku kurang menyesuaikan diri dengan sepatu itu."
"Kau terjatuh saat pameran?"
"Tidak, aku terjatuh di belakang panggung, saat pameran sudah selesai."
Elden memerintahkan salah satu pelayannya untuk memanggil dokter. Hanya memakan waktu lima belas menit, dokter pribadi Elden datang dan memeriksa Jessie. Elden memperhatikan sang dokter yang memberikan perawatan kepada wanita itu. Elden terlihat geram ketika melihat Jessie merintih menahan sakit di kakinya. Setelah dokter itu pergi, Elden memanggil Mario.
"Mario, aku beri waktu tiga hari padamu untuk membuat merek sepatu X hancur!" ucap Elden dengan nada dingin dan tegas.
"Elden," sergah Jessie. Ia ingin melarang Elden, tapi sorotan tajam dari kedua mata pria itu membuatnya menghembuskan napasnya kemudian diam.
"Kau mendengarkan aku Mario?" ucap Elden lagi setelah tidak mendengarkan jawaban apapun dari Mario.
Pengawal pribadi Elden itu langsung bersuara. "Baik Tuan."
"Kau boleh pergi," kata Elden untuk membiarkan Mario melanjutkan pekerjaannya.
"Elden jika begini terus, bagaimana aku bisa bekerja?" gerutu Jessie pada Elden.
"Aku sudah berjanji akan melindungi Jessie. Jangan buat aku melanggar janjiku."
Jessie memegang tangan kiri Elden. "Tapi tidak seperti ini Elden. Sudah lima kali kau membuat aku kehilangan pekerjaan."
Elden menyentuh tangan Jessie dengan sebelah tangannya. "Aku akan menyuruh Mario untuk mencari produk baru untuk kau iklankan. Kau tidak perlu khawatir."
Jessie tidak mau mendebat Elden karena itu percuma. Jadi wanita itu memilih untuk mengalah. "Baiklah."
Jessie melilitkan perban ke kakinya. Meskipun para pelayan terlihat ingin membantu Jessie, tapi wanita itu tidak ingin sembarangan orang menyentuh tubuhnya. Ia lebih nyaman jika merawat dirinya sendiri apalagi saat ia terluka seperti ini. Itulah sebabnya, Elden menyuruh orang-orang khusus untuk mengurus semua keperluan Jessie. Bahkan Elden juga memerintahkan dokter pribadinya sendiri untuk merawat Jessie jika wanita itu sakit. Persis seperti kejadian tadi.
Elden kembali pada tumpukan kertas di depannya. Waktunya tinggal satu jam lagi sebelum ia bertemu dengan Mr. Drake. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya di perusahaan agar Mario bisa fokus melaksanakan semua perintahnya.
Beberapa menit kemudian, telinga Elden menangkap tapak kaki yang mendekat ke arahnya. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang berani membuat suara nyaring ketika berjalan itu. Elden tidak menyukai suara-suara bising yang mengganggunya saat ia bekerja. Para pelayan dan penjaga juga sudah mengetahuinya dan mereka sebisa mungkin menghindari Elden.
Saat Elden mengangkat kepalanya, matanya menatap Erie yang memakai dress berwarna biru berjalan dengan santai. Tenyata suara langkah kaki yang didengar oleh Elden itu berasal dari heels berwarna emas yang wanita itu gunakan.
Melihat penampilan Erie membuat Elden tanpa sadar mengangkat bibirnya dan tersenyum. Ia senang pakaian yang ia pilihkan terlihat indah di tubuh Erie. Cara istrinya memakainya juga benar meskipun terdapat beberapa tali di bagian atasnya yang membuatnya sedikit kompleks. Ia tidak tahu bagaimana Erie bisa mengerti cara menggunakan dress itu. Mungkin saja itu adalah naluri seorang perempuan.
Berbicara soal pakaian Erie, jangan sangka pakaian yang digunakan perempuan itu akan dapat ditemukan oleh orang lain di luar sana. Hanya Erie saja yang memiliki koleksi itu karena Elden yang menyiapkannya. Elden bahkan memanggil desainer terbaik untuk membuat pakaian khusus bagi Erie. Pria itu memastikan bahwa pakaian yang dipakai oleh istrinya tidak dipakai oleh orang lain.
Erie semakin dekat ke arahnya. Bukannya berbicara kepada Elden, perempuan itu justru berjalan dengan angkuh melewatinya. Membuat sesuatu di hati Elden bertanya-tanya. Dengan pakaian seperti itu, Erie tak mungkin hanya pergi ke taman depan. Pria itu tak bisa menahan rasa penasarannya dan mengangkat suara.
"Kau mau ke mana?" katanya menghentikan langkah istrinya.
*XXXXX
Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote*...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
💕febhy ajah💕
jgn menoleh erie, bersikaplah tegas ke elden jgn lemah hnya untuk laki2 seperti itu.
2022-04-04
1
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
hahahaa,, emang enak di buat penasaran sama Erie
2022-03-20
1
Ҽɳσ8
terpesona ya kau elden dgn penampilan Erie 😅
2022-03-19
1