Sinar matahari dari balik tirai membangunkan Erie. Cahaya cerahnya menusuk matanya yang terpejam. Erie memicingkan mata dan mengangkat tangannya untuk melindungi kedua matanya dari sinar itu. Udara hangat sedikit menembus gorden dan masuk ke dalam kamar, mengusik anak-anak rambut Erie dan membuatnya berterbangan.
Erie bangkit, memaksakan tubuhnya untuk beranjak dari tempat tidurnya. Awalnya ia memang enggan, tapi ia mengingat statusnya di rumah itu. Erie berjalan ke arah beranda kamarnya, membukanya pintu kacanya dan keluar. Ia menghirup udara segar. Dari berandanya itu, Erie menyaksikan hamparan perkebunan teh yang luas dengan beberapa pekerja yang tengah sibuk bekerja di sana.
Setelah cukup puas menikmati sapaan udara pagi dan pancaran sinar matahari, Erie masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan menuju ke lemari. Ia akan mempersiapkan baju yang nanti ia gunakan sehabis mandi.
Erie membuka lemari dan melihat beraneka pakaian cantik yang ada di lemari. Aneh. Itu bukan pakaiannya. Erie mencoba mencari pakaian-pakaiannya di antara pakaian indah itu. Tapi ia tidak bisa menemukannya. Dengan masih memakai baju tidurnya, Erie berjalan secepat mungkin menuju ke lantai dasar. Di sana ia bertemu dengan seorang pelayan yang sedang membersihkan lantai.
"Di mana Marline?" kata Erie tiba-tiba.
Pelayan itu terkejut namun dengan cepat ia bisa menyesuaikan dirinya. "Selamat Pagi, Nyonya. Marline ada di dapur di sebelah sana," kata pelayan yang ditemui Erie itu sambil menunjuk ke sebuah ruangan.
Pandangan Erie mengikuti arah yang diberikan sang pelayan. Ia mengangguk. "Baiklah, terima kasih," katanya lalu berjalan. Sebenarnya pelayan itu mengucapkan sesuatu, tapi karena terburu-buru, Erie tidak sempat mendengarnya.
"Marline!" panggil Erie ketika ia sampai di dalam dapur. Semua orang yang ada di sana, termasuk sang empunya nama, menoleh ke arah Erie. Mereka terkejut melihat penampilan Erie. Dengan cepat mereka menundukkan kepala.
Marline langsung menghampiri Erie. "Selamat Pagi, Nyonya," katanya sembari membungkuk hormat. Ia memerintahkan semua orang yang ada di sana untuk meninggalkan ruangan itu.
"Nyonya, Anda tidak boleh keluar kamar hanya dengan menggunakan gaun malam setipis ini," ujar Marline lagi.
Erie memperhatikan baju tidurnya yang terlihat baik-baik saja, sama sekali tidak tipis. Baju ini baik-baik saja, gumam Erie. Sedetik kemudian ia teringat tujuannya mencari Marline.
"Marline, apakah aku pindah kamar lagi?"
"Maaf, Nyonya?"
"Aku tidak menemukan baju-bajuku. Apakah aku akan dipindahkan lagi?"
"Tidak Nyonya. Kamar yang Anda gunakan sekarang adalah kamar Anda. Mengenai pakaian Anda, Tuan sudah menyumbangkannya."
"Apa? Kenapa?"
"Tuan berkata pakaian Anda tidak sesuai digunakan di sini."
"Apa maksudnya?"
"Tuan tidak ingin Anda memakai pakaian Anda yang dulu, Nyonya."
Erie terdiam. Memang apa masalahnya dengan pakaian-pakaiannya itu? Semua masih terlihat baik-baik saja dan layak digunakan. Pikirnya dalam hati.
"Nyonya, sebaiknya Anda mengikuti perkataan Tuan karena itu semua demi kebaikan Anda," kata Marline menyarankan.
"Baiklah aku akan menggantinya," ucap Erie pasrah. Ia sudah berada di rumah Elden dan ia juga tak punya pilihan. Semua bajunya sudah tidak ada sekarang. "Aku akan kembali ke kamar."
"Baik Nyonya. Satu jam lagi sarapan akan siap, Nyonya."
"Aku mengerti," kata Erie lalu melangkah menuju anak tangga untuk kembali ke kamarnya.
Erie membersihkan dirinya di dalam kamar mandi dan setelah itu ia kembali membuka lemari pakaian yang berwarna hitam itu. Pakaiannya yang ada di sana memang tampak bagus dan indah. Amat kontras dengan pakaian milik Erie dulu, yang kusam dan sederhana.
Erie mengambil salah satu pakaian yang terlihat santai dan nyaman. Ia memakainya kemudian ia berdiri di depan cermin untuk melihat bayangan dirinya di sana. Tubuhnya yang ramping tampak cantik dalam balutan dress berwarna ungu itu. Selintas senyum muncul di bibirnya.
Memang banyak benda di meja riasnya, tapi Erie tak tahu kegunaan mereka semua. Jadi ia memutuskan untuk menghias rambutnya seperti biasanya saja. Erie telah selesai menyisir dan menggelung rambutnya. Ia turun menuju ke ruang makan dengan dandanan yang sudah rapi dan bersih. Mukanya kelihatan lebih segar meskipun tanpa riasan wajah. Marline tersenyum lalu mendekati Erie.
"Selamat Pagi, Nyonya. Maafkan saya karena tadi tidak menyampaikan salam dengan benar," kata Marline kepada Erie sambil menunduk hormat.
"Pagi Marline, eummm, apa tadi aku membuat keributan? Maafkan aku," ujar Erie menuangkan rasa bersalah di dadanya. Bahkan gara-gara perbuatan Erie, para pelayan di dapur harus terhambat pekerjaannya tadi.
"Anda tidak perlu meminta maaf, Nyonya karena ini adalah kesalahan kami yang tidak segera memberi tahu Anda."
"Tidak apa-apa Marline, aku mengerti."
"Silakan duduk Nyonya. Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Anda."
Erie menuruti perkataan Marline dan duduk di kursi yang ia berikan. Erie melihat banyak sekali makanan di meja makan itu. Menurutnya makanan sebanyak itu lebih tepat disuguhkan di acara pesta bukan untuk sarapan.
"Ada apa Nyonya? Apakah makanan ini tidak enak? Atau Anda menginginkan makanan lain?" tanya Marline saat melihat Erie yang bergeming menatap makanan yang ada di sana.
"Ah, tidak. Ini saja sudah lebih dari cukup. Tapi aku penasaran, kenapa memasak makanan sebanyak ini hanya untuk sarapan?"
"Ini adalah permintaan Tuan Alvaro, Nyonya. Sejak kecil Tuan Elden selalu pilih-pilih makanan. Jadi untuk mengantisipasinya, Tuan Alvaro memerintahkan saya untuk menyiapkan berbagai jenis makanan."
"Tuan Alvaro?"
"Iya Nyonya. Tuan Alvaro adalah ayah dari Tuan Elden," jelas Marline.
Ah, benar! Erie baru ingat bahwa nama keluarga Elden adalah Alvaro. Erie tidak tahu sama sekali tentang ayah dan ibu Elden. Dari data-data yang pernah ia baca, tidak ada satu pun informasi mengenai mereka. Kata Robbert, saat acara pernikahan kemarin sampai saat ini, mereka sedang berada di Australia. Jadi, Erie sama sekali belum bertemu dengan mereka.
"Lalu, di mana Elden sekarang?" tanya Erie pada Marline, karena sedari tadi ia belum melihat pria itu.
"Beliau sudah pergi ke kantor, Nyonya. Tuan Elden selalu berangkat sebelum jam 7 pagi."
"Oh, begitu, pantas saja," jawab Erie sekenannya tanda bahwa ia mengerti ucapan Marline. Erie pun melanjutkan kegiatannya untuk menyantap makanan yang ada di depannya. Memang Erie sedang dalam keadaan kelaparan saat ini. Huh! Acara kemarin benar-benar menyita tenaga gadis itu.
Tidak banyak yang dapat Erie lakukan di rumah itu. Jika di rumah sang ayah dulu, ia biasa memulai harinya dengan membersihkan rumah, namun sekarang semua pekerjaan itu telah dilakukan oleh pelayan. Jika bersama Bibi Betty Erie sangat jarang beristirahat, sekarang ia tidak melakukan apapun. Jika dahulu semua Erie melakukan apapun sendiri, sekarang ia selalu dilayani oleh para pelayan. Bahkan saat ia hendak menggambil gelas saja, Marline memintanya untuk memerintahkan pelayan. Yang Erie kerjakan hanya berkeliling rumah dan meminta Marline untuk menerangkan ruangan-ruangan yang ada di rumah itu.
Erie memeriksa setiap sudut rumah. Terdapat dua lantai memiliki luas bangunan 110.000 meter persegi dengan luas keseluruhan dengan pekarangan mencapai 63 hektar. Sungguh itu adalah rumah yang sangat besar. Berbagai fasilitas tersedia di rumah Elden. Mulai dari teater kedap suara yang digunakan Elden untuk menonton film secara pribadi, ruangan yang berisi alat-alat kebugaran milik Elden, hingga perpustakaan besar yang di dalamnya terdapat buku-buku yang selalu diperbarui setiap bulan.
Erie tiba di halaman belakang. Ia duduk di sebuah kursi batu yang berukir indah di sana. Ia sendirian berada di sana karena Marline sedang pergi ke dapur untuk menyiapkan cemilan sore untuk Erie.
Erie memandang sekelilingnya. Tampak begitu indah dan rapi. Erie tidak menyangka bahwa Elden memiliki waktu untuk memikirkan konsep halaman belakang di rumahnya seperti itu. Yah, walaupun memang rumahnya juga terlihat begitu artistik. Jika dipikir-pikir Elden memang memiliki segalanya di rumah itu, tapi pria itu tidak memiliki satupun binatang peliharaan. Biasanya yang didengar dari Erie tentang teman-teman daddynya, hampir semua orang kaya akan berlomba-lomba memelihari binatang, mulai dari binatang buas hingga binatang langka. Hal itu untuk menuntukkan seberapa besar kekayaan mereka.
Dari semua yang ada di halaman belakang rumah itu, Erie sangat tertarik dengan rumah kaca besar yang berada 300 meter dari tampatnya sekarang. Terlihat indah dan cantik. Kira-kira tanaman apa saja yang ada di sana?
Erie berdiri. Ia ingin berjalan menuju ke sana, namun seekor kupu-kupu hinggap di tangan Erie. Saat hendak menangkapnya, kupu-kupu itu terbang. Perempuan itu mengikuti kupu-kupu berwarna biru dan hitam itu. Erie berjalan dan terus berjalan cukup lama hingga ia sadar jika ia sudah berjalan terlalu jauh dari tempatnya tadi.
Erie menoleh ke kanan dan kiri. Semuanya terasa asing. Dengan sedikit kalut, Erie berjalan menuju ke sebuah rumah kecil yang ada di depan matanya. Ada sebuah lorong di sana. Ia mengikuti lorong itu yang membawanya ke sebuah pintu berwarna hitam. Erie menyentuh pintu itu dan mencoba membukanya namun tak bisa. Pintunya terkunci dengan gembok.
"Nyonya!" seru seorang pelayan dari belakang Erie. "Astaga Nyonya! Kami mencari Anda kemana-mana. Apakah Anda tidak apa-apa?" ucapnya lagi dengan wajah cemas.
"Aku tidak apa-apa. Emm.. Ini rumah siapa?"
Pelayan itu terdiam. Bukannya menjawab pertanyaan Erie, pelayan itu justru menarik tangan Erie untuk menjauh dari rumah itu. "Nyonya, kita harus kembali ke rumah utama. Kami akan mendapatkan hukuman jika tidak membawa Nyonya segera."
"Baiklah, baiklah. Pelan-pelan."
Erie mengikuti langkah pelayan itu. Tapi sebelum benar-benar jauh, Erie menoleh ke belakang untuk melihat rumah kecil itu. Tampaknya ada yang mencurigakan di sana.
XXXX
Selama dua jam Erie menghabiskan waktu di dalam perpustakaan. Kebiasaannya selama lima tahun membuatnya tidak bisa melepaskan kegiatan kesehariannya membaca buku. Ia memilih-milih beberapa buku yang ia rasa menarik. Beberapa saat kemudian, pilihannya jatuh kepada salah satu buku tentang fashion.
Erie membawa bukunya ke sebuah bangku dan meja yang berada di sudut ruangan. Dari sudut itu, ia bisa melihat dua pemandangan menarik. Jika ia mengalihkan matanya ke arah luar jendela, ia akan melihat taman depan rumah secara keseluruhan yang ditanami berbagai macam pohon dan bunga yang menyejukkan. Namun, jika ia melihat ke arah dalam perpustakaan, ia akan menyaksikan sebuah pola bunga mawar dari susunan rak buku di sana. Wah, itu sangat menakjubkan.
Setelah hari mulai beranjak malam, Erie yang tadinya sangat menikmati harinya berada di dalam perpustakaan, harus kembali ke kamarnya. Sepanjang perjalanan menuju kamar, ia berpikir bahwa hari yang telah ia lewati saat ini tidak terlalu buruk. Semuanya berjalan dengan baik. Mungkin ia bisa dengan segera menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
Erie telah masuk ke dalam kamarnya dan sudah membersihkan dirinya. Kali ini ia tidak langsung menggunakan pakaian tidurnya karena ia tidak mau membuat kehebohan seperti tadi pagi. Kemudian ia pergi ke lantai bawah untuk menghabiskan makan malam yang telah disiapkan. Berbeda dengan sarapan, makan malam yang disiapkan oleh pelayan cenderung lebih sederhana. Mereka berkata saat malam hari, Elden sangat jarang berada di dalam rumah. Pria itu akan pulang larut malam, meskipun pulang tepat waktu, Elden pasti sudah makan di luar.
Erie sudah menghabiskan makanannya. Ia mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mempersiapkan makan malam untuknya dan memberi mereka senyuman. Para pelayan di sana tersipu. Sudah bertahun-tahun mereka bekerja di rumah Elden tapi baru Erie sajalah yang menghargai jasa mereka dengan mengucapkan terima kasih.
Saat berjalan kembali ke kamarnya. Erie berpapasan dengan Marline yang hendak menaiki anak tangga menuju ke lantai atas. "Tunggu!!!" seru Erie mendekati Marline. "Kau ingin ke atas?" katanya lagi.
"Iya Nyonya. Saya ingin mengantarkan barang-barang Tuan yang tertinggal di mobil."
"Kalau begitu biar aku saja yang mengantarnya."
"Tidak Nyonya. Saya yang akan mengantarkannya karena ini adalah pekerjaan saya."
"Tidak apa-apa Marline. Aku juga ingin kembali ke kamarku," kata Erie sembari mengambil kotak yang ada di tangan Marline.
"Tapi Nyonya--"
Erie tidak mendengar lagi ucapan Marline. Ia hanya melangkahkan kakinya menuju kamar Elden. Hingga tiba di depan pintu kamar Elden, Erie sempat ragu untuk masuk ke sana. Namun akhirnya ia memutuskan untuk tetap masuk ke kamar Elden. Sesampainya Erie di dalam kamar Elden, ia meletakkan kotak itu di atas nakas.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. "Apa yang kau lakukan di sini?" kata seseorang mengagetkan Erie. Orang itu adalah Elden. P?Erie tidak tahu bahwa Elden sudah berada di kamar itu. Tadi ia berpikir pria itu masih bersama Mario di ruang pertemuan.
"Emm.. Aku hanya meletakkan kotak itu," jawab Erie menunjuk ke arah nakas.
Pria yang hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya itu mendekati nakas. Ia langsung mengambil kotaknya dan memeriksanya. Setelah memastikan bahwa kotak itu masih tersegel, ia melirik ke arah Erie.
"Kenapa kau yang melakukannya? Bukankah aku menyuruh Marline?" ucap pria itu dengan memberi tatapan tajam kepada Erie.
"Aku hanya membantu Marline."
"Dengar! Aku sangat benci asing mencampuri dan mengusik urusan pribadiku, termasuk masuk ke dalam kamarku!" seru Elden sambil terus menatap Erie.
Mendapatkan kalimat pedas dan tatapan tajam dari Elden, membuat Erie merasa kaget. "Ma..maafkan aku," jawabnya gugup.
Pria itu berkata lagi dengan tatapan tajam penuh kemarahan. "Keluar! Dan jangan pernah masuk ke dalam kamarku lagi!"
"Ba..baiklah," kata Erie. Saat hendak keluar, Erie sedikit menoleh. Ia melihat Elden sedang memijat keningnya.
Erie masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan marah dan kecewa. Orang asing. Bagaimana bisa Elden menganggapnya sebagai orang asing? Argh! Kekesalan Erie membuat sebersit umpatan menyelinap di dalam kepalanya.
**XXXXX
Cerita ini hadir untuk menemani kamu-kamu yang #dirumahaja... Ingat ya jangan lupa untuk selalu cuci tangan, jaga kesehatan dan menghindari tempat ramai...
Oh ya, berikan juga dukunganmu kepada penulis dengan menekan tombol like dan berkomentar di kolom comment...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Rieenee
terima kasih mei sudah membuat novel yg bagus ini aku mampir lagi k sini setelah cukup lama ga buka aplikasi ini
2024-01-07
0
Inaone Ina
mantap
2022-11-16
0
💕febhy ajah💕
alamak part ini bikin nyesek, keterlaluan kamu elden. jd alasan apa kau menikahi valeria
2022-04-04
0