Sie tang sangat kesal dengan apa yang terjadi di hari ini, suasana hati nya sangat buruk saat wanita itu memasuki kamar ibunya.
"Ibu. aku sangat kesal!" ucap Sie tang dengan erangan marah.
"Ada apa lagi putri ku?" tanya Lie tang, kala melihat kemarahan putrinya.
"Aku tidak terima! Mengapa semua anggota kerajaan lebih memperhatikan Xiao mei dari pada diriku. Jelas-jelas aku jauh lebih baik dari wanita bodoh itu, dari segi manapun."
"Tenangkan diri mu putri ku, semuanya belum terlambat." kata Lie tang menenangkan putrinya. "Lagi pula, meskipun banyak anggota Kerajaan yang mendekati wanita bodoh itu, belum tentu ia akan menjadi bagian dari mereka."
"Tapi, kedekatan itu juga memberikan peluang besar untuk nya bu."
"Kalau begitu, kau harus segera merayu Putra Mahkota. Agar gadis bodoh itu tidak mempunyai peluang besar di kerajaan ini."
"Tapi, dia juga berusaha mendekati Pangeran Jiang lie. Ibu tahu bukan? Aku mencintai lelaki itu."
"Jika kau bisa mendapatkan posisi Putri Mahkota. Pangeran itu juga akan mendekati mu sayang. Kau harus mendapatkan kepercayaan Kaisar dan Permaisuri untuk bisa berkuasa di kerajaan."
"Yang ibu katakan memang benar. Dengan posisi Putri Mahkota serta dukungan dari Kaisar dan Permaisuri. Baik Jiang ciu atau Jiang lie, mereka akan bertekuk lutut di bawah kekuasaan ku. Keduanya akan menjadi milik ku."
"Dan akan aku pastikan. Aku akan membuat hidup Xiao mei menderita, setelah aku mendapatkan apa yang ku mau."
...***...
Jiang ciu mengirim surat undangan kepada Xiao mei agar mau bertemu dengan nya. Wanita itu menerima undangan dengan enggan. Ia tak ingin datang dan bertemu dengan lelaki yang di bencinya itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Xiao mei merasa sangat frustasi dengan keadaan nya. Ia berencana ingin menghalangi jalan Jiang ciu menuju tahta. Xiao mei tak ingin lelaki itu menjadi Kaisar. Tapi, yang mendukung langkah lelaki itu adalah Permaisuri yang memiliki kedudukan tinggi di kerajaan.
"Apakah aku harus meminta bantuan pada Kakak Jiang? Tapi bagaimana jika dia menolak? Mereka merupakan saudara." keluh Xiao mei bimbang.
Di kehidupan lalu. Xiao mengetahui jika para Pangeran sebenarnya, tidak ada yang menginginkan tahta. Hanya saja, ambisi dalam diri Jiang ciu dan Permaisuri terlalu besar untuk menerima kenyataan itu. Mereka berdua sangat terobsesi dengan kekuasaan, sehingga membuat mereka buta akan kenyataan.
Sedangkan Kaisar. Sedari awal lelaki itu sangat tidak setuju jika Jiang ciu menjadi Kaisar selanjutnya.
Kaisar menilai, putra dari Permaisurinya itu, terlalu berambisi akan kekuasaan, sehingga berpotensi akan menyengsarakan rakyat.
Diam-diam Kaisar mendidik Pangeran ke tiga dan Pangeran Jiang lie sebagai kandidat Kaisar selanjutnya. Tapi tak bisa di pungkiri, lelaki itu juga mencoba mendidik Jiang ciu ke arah yang benar. Tapi putranya itu tidak pernah mau menangkap apa yang di ajarinya. Dia lebih memilih mendengar apa yang ibunya perintahkan, di bandingkan dengan Ayahnya. (Bisa di bilang Jiang ciu anak mama banget)
"Tapi, jika di pikir dengan cermat. Sebenarnya Kak Jiang, merupakan kandidat yang lebih cocok menjadi Kaisar selanjutnya, di banding Pangeran ke tiga atau Jiang ciu sendiri." kata Xiao mei sambil berpikir, menilai kepribadian dari Jiang lie.
Meski begitu Xiao mei tetap tidak tahu harus berbuat apa? menghadapi keinginan nya dalam menyingkirkan Jiang ciu dari tahta kerjaan.
Jika dirinya masih berada di kehidupan dulu, mungkin ia masih mampu menggulingkan kedudukan Jiang ciu dari tahta. Karena Xiao mei memiliki banyak prajurit yang setia pada nya, saat ia menjadi Permaisuri. Terlebih jika ia memberontak tidak ada yang Xiao mei khawatirkan dalam hidupnya, karena keluarganya telah di lenyapnya oleh Jiang ciu kecuali Sie tang tentunya.
Tapi sekarang, kedudukan nya jauh berbeda dari kehidupan nya di masa lalu. Saat ini, Xiao mei hanya bergelar Nona Xiao, putri dari seorang perdana mentri yang setia pada Kerajaan.
Xiao mei tidak memiliki satu prajurit setia pun yang berdiri di belakang nya. Dan jika ia mencoba memberontak, keluarga nya akan terancam di eksekusi mati lagi di hadapan nya. Dan Xiao mei, tentu saja tidak akan pernah membicarakan hal itu sampai terjadi lagi.
...***...
Hari berlalu. Sie tang berencana akan menemui Jiang ciu di kediaman nya. Wanita itu ingin merusak citra Xiao mei di mata lelaki itu, untuk bisa mendapatkan perhatian nya.
"Salam Yang Mulia Putra bulan, semoga anda selalu panjang umur."
"Mengapa kau yang datang? Di mana Xiao mei? Bukan kah aku hanya mengundang nya seorang diri." sinis Jiang ciu menatap Sie tang jengkel.
"Kakak meminta saya, untuk memenuhi undangan anda Yang mulia. Dia berkata, dirinya tidak bisa menghadiri undangan anda, karena ada janji penting hari ini."
"Lancang! Wanita itu menganggap siapa aku ini!" marah Jiang ciu tidak terima.
"Tolong jangan marah pada Kakak yang mulia, mungkin dia memang ada urusan mendesak."
"Cih, urusan yang mendesak apa nya."
Jiang ciu menebak jika Xiao mei pasti sedang bersama dengan Jiang lie hari ini. Gadis itu telah berani menghina dirinya, dengan menolak undangan nya. Dia bahkan mengirim adik nya untuk meminta maaf, sangat tidak tahu diri. Pikir Jiang Ciu geram.
"Kau ikut aku. Aku akan membawamu melihat kesibukan apa yang di lakukan kakak mu haru ini." Ujar Jiang ciu sambil menarik tangan Sie tang pergi meninggalkan kediaman miliknya.
Meski cengkraman tangan Jiang ciu menyakitinya. Wanita itu terlihat sangat puas, dengan kemarahan Jiang ciu pada Xiao mei.
Sedangkan Xiao mei sedang duduk santai sambil membaca buku di dekat danau milik nya. Saat tiba-tiba Jiang ciu datang dengan wajah yang di penuhi amarah.
"Apa maksud anda nona? Apa anda mencoba mempermalukan saya?"
"Bukan kah saya yang seharusnya bertanya demikian kepada anda, Yang Mulia." ketus Xiao mei tidak terima dengan bentakan Jiang ciu pada nya.
"Saya dengan baik mengundang anda. Mengapa anda mempermalukan saya, dengan mengirim orang lain untuk datang ke kediaman saya?" desak Jiang ciu marah.
Xiao mei merasa sedikit bingung dengan apa yang di katakan Jiang ciu. Lalu ia melihat seorang wanita di belakang lelaki itu, sedang tersenyum penuh kemenangan kearah nya. Gadis itu langsung mengerti apa yang terjadi.
"Yah, memang benar Yang Mulia. Saya menyuruh adik saya untuk datang memenuhi undangan anda, sebagai permintaan maaf saya karena tidak dapat memenuhi undangan itu." jelas Xiao mei santai.
"Dan bukan kah dia sudah datang menemui anda. Kalian bahkan bergandengan tangan." sindir Xiao mei.
Jiang ciu yang tersadar tangan nya masih menggenggam tangan Sie tang, langsung melepaskan nya dengan kasar.
"Ini tidak seperti yang anda pikirkan Nona."
"Saya tidak memikirkan apapun Yang Mulia. Hubungan di antara kalian tidak lah penting di mata saya."
"Kakak, apa yang kau katakan. Aku dan yang Mulia tidak memiliki hubungan apapun."
"Ya itu benar."
"Bukan kah sudah saya katakan. Saya tidak perduli."
"Baik lah, Aku memaafkan kesibukan mu, yang mengharuskan kau tidak bisa menghadiri undangan ku." kata Jiang ciu
"Tapi, karena aku sudah di sini. Kita bisa melanjutkan undangan itu di kediaman Xiao saja." lanjut nya sambil mendudukkan bokongnya di kursi tepat di depan Xiao mei.
Xiao mei hanya mendengus kesal. Tapi ia tidak bisa langsung mengusir pria ini begitu saja. Benar-benar sangat merepotkan, pikirnya.
"Baiklah anda bisa menikmati waktu sebanyak mungkin di taman ini, yang mulia."
"Tapi, jujur saja saya memiliki undangan lain, yang mengharuskan saya untuk pergi."
"Apa maksud anda nona, saya datang ke sini untuk menemui anda." Jiang ciu mulai kesal.
"Kakak, bukankah tidak sopan bersikap seperti itu pada Yang Mulia."
"Tapi aku benar-benar ada janji adik ku. Bukan kah kau bisa menggantikan ku lagi. Ini akan tetap terlihat sopan." ujar Xiao mei.
Sedangkan Sie tang mulai merasa kesal juga, karena di anggap sebagai pengganti oleh Xiao mei.
Xiao mei beranjak untuk meninggalkan tempat itu, tapi di cegah oleh Jiang ciu. Pria itu mencengkram kuat tangan Xiao mei.
"Kau akan pergi kemana setelah ini?"
"Aku akan menemui Pangeran Jiang. Kami telah memiliki janji sebelum anda mengirim saya undangan." jelas Xiao mei mencoba melepaskan tangan nya yang terasa sakit.
Sebenarnya Xiao mei berbohong pada Jiang ciu. Tapi sepertinya pria itu marah dengan alasan yang dia gunakan, sehingga ia melepaskan tangan nya dengan kasar. Dan langsung berlalu pergi tanpa mengatakan apapun.
"Tunggu Yang Mulia." Sie tang menyusul Jiang ciu.
"Tolong maafkan sikap lancang kakak ku. Dia memang terbiasa hidup bebas sesuka hati nya. Sehingga wajar jika dia melakukan kesalahan seperti ini." kata Sie tang dengan nada penuh perhatian.
"Kau memang jauh lebih baik dari kakak mu nona." ujar Jiang ciu, lalu pergi menaiki kuda milik nya.
Sie tang merasa senang dengan pengakuan Jiang ciu. Senyum bahagia tergambar jelas di wajah wanita itu. Ia berlalu bergi menuju kamar ibunya.
...***...
Setelah meninggalkan taman. Xiao mei memilih untuk mengunjungi kediaman ibundanya. Ia ingin melihat perkembangan kesehatan Lie mei.
"Salam ibunda."
"Uhuk anak ku, kemari lah." kata Lie mei lembut.
"Bagaimana keadaan ibunda?"
"Ibunda merasa jauh lebih baik sayang."
"Apa rasa sakitnya kembali lagi ibunda?" Xiao mei terlihat khawatir.
"Tidak putri ku. Tenanglah, ibunda yakin, aku akan segera sembuh."
"Penyakit ibunda sudah sangat lama, dan tidak ada perubahan sedikit pun. Bagaimana jika kita pergi berobat, pada orang yang lebih hebat lagi."
"Tidak perlu sayang. Ayah mu sudah berusaha membawa banyak tabib yang hebat, untuk mengobati penyakit ibunda ini."
"Tapi, aku sangat khawatir ibunda."
"Percaya lah pada ibunda sayang. Ibunda akan baik-baik saja."
"Baik lah. Tapi ibunda harus berjanji. Untuk meminum obatnya secara rutin dan tepat waktu. Agar ibunda bisa lebih cepat sembuh."
"Xiao'er ingin, kita bisa berkumpul seperti sediakala lagi." kata Xiao mei sedih.
Sudah beberapa tahun, Lie mei terserang penyakit aneh, yang membuat wanita itu di haruskan berada didalam kamarnya terus menerus. Daya tubuhnya begitu lemah sehingga ia tidak kuat untuk sekedar berjalan atau bahkan duduk terlalu lama. Xiao mei merasa sangat prihatin dengan kondisi ibundanya.
"Ya sayang ku. Ibunda janji, ibunda akan meminum obatnya tepat waktu." kata lie mei.
Sejujurnya Lie mei juga menginginkan dirinya segera sembuh dan bisa berkumpul bersama keluarga nya lagi. Tapi perkataan tabib membuat semangat nya luntur. Kondisi tubuhnya telah sangat buruk dan di prediksi tidak akan bertambah cukup lama lagi.
Umur Lie mei juga sudah tidak muda lagi. Karena itu dia bisa menerima takdirnya. Wanita itu bahkan telah berencana, akan menjodohkan suaminya dengan adik nya Lie tang. Agar suaminya tidak merasa kesepian setelah kepergiannya dan Lie tang adiknya akan bisa merasakan hidup bahagia bersama anak dan juga suami nya.
...***...
Di dalam ruang belajar milik Jiang lie. Pria itu sedang di sibukkan dengan banyaknya dokumen yang menumpuk di hadapan nya. Wajahnya terlihat sangat serius membaca setiap lembar dokumen yang ia ambil, saat
pengawalnya datang menghampiri nya.
Pria itu menginformasikan pada Jiang lie apa yang sedang di rencanakan permaisuri bersama Jiang ciu. Yang ingin mendapatkan Xiao mei menjadi pendamping Jiang ciu, sekaligus akan menyingkirkan banyak Pangeran, yang menurut perhitungan mereka mengganggu jalan Jiang ciu menuju tahta.
"Keberanian Putra Mahkota sangat besar ternyata. Sampai dia berani mendekati Permaisuri ku." Sinis Jiang lie marah.
🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
lily
apa in yg namanya ipar adalah maut
2024-10-12
1
HNF G
lie tang janda ya? koq punya anak gak ada suami? 🙄🤔
2023-10-20
0
Yuli Yanti
❤️
2023-05-09
0