Permaisuri menyambut kedatangan Xiao mei dengan senyum palsu miliknya. Sejujurnya wanita dengan pangkat tinggi itu, tidak menginginkan putranya menikahi Xiao mei.
Karena Xiao mei terkenal dengan rumor buruk yang beredar luas di kalangan bangsawan maupun rakyat kerajaan. Hal itu menjadi pemicu Permaisuri tidak menyetujui Xiao mei menjadi Putri mahkota. Jika untuk di jadikan seorang selir Putra mahkota masih bisa di pertimbangkan oleh nya.
Namun ia saat mengingat, kedudukan keluarga xiao yang mampu mendukung posisi putra Mahkota untuk naik tahta. Dengan enggan Permaisuri harus mendukung keinginan putra nya, yang menginginkan Xiao mei menjadi Putri mahkota nya.
Apa lagi Putra mahkota memiliki saingan yang cukup kuat yakni Pangeran ke tiga dan Pangeran Jiang lie yang sangat di sayangi oleh Kaisar.
Awalnya permaisuri sedikit terkejut, saat melihat penampilan Xiao mei jauh berbeda dari sebelumnya. Gadis kecil itu mengenakan gaun sederhana berbeda dari pertemuan mereka sebelum nya.
Beberapa bulan lalu, Permaisuri pernah melihat Xiao mei di tengah kota yang terlihat seperti sedang berbelanja. Gadis itu masih mengenakan gaun glamor dengan make up yang sangat tebal, layaknya seorang badut di tengah keramaian.
Cukup mengejutkan melihat wanita yang sering di juluki badut itu kini nampak berpenampilan lebih sederhana. Namun, memancarkan aura kecantikan yang luar biasa.
Meski telah melihat perubahan besar Xiao mei. Permaisuri tetap tidak menyukai nya. Ia mengira Xiao mei sedang merencanakan trik lain untuk bisa mendapatkan putranya melalui pengakuan nya.
"Gadis ini mempunyai banyak trik untuk bisa mencapai tujuan nya." sinis permaisuri dalam hati.
"Apa kau putri dari mentri Xiao?"
"Benar yang mulia." jawab Xiao mei dengan senyum yang di paksakan.
Tangan gadis itu mengepal erat di balik gaun yang ia kenakan. Berhadapan dengan Ibu mertua kejam di kehidupan masa lalu nya ini, menguras banyak emosi dalam dirinya. Xiao mei harus berusaha keras untuk bisa mengendalikan dirinya.
"Kau terlihat sangat cantik nona, berbeda dari yang di rumor kan banyak orang di luar sana." tutur Permaisuri menyindir Xiao mei.
"Rumor hanya lah rumor yang mulia. Lagi pula dulu hamba masih terlalu muda saat mencoba tren kecantikan. Sehingga sangat wajar jika penampilan hamba tidak sesuai yang di harapkan." Jelas Xiao mei santai.
"Aku baru menyadari, kalau kau sangat pintar Nona."
"Tentu tidak sebaik anda yang Mulia."
Permaisuri tertawa dengan kejujuran Xiao mei tentang dirinya. "Kau membuat ku tertarik nona."
"Sebentar lagi, akan di adakan pemilihan calon Permaisuri untuk para Pangeran. Aku sangat mengharapkan kau ikut Nona." to the points Permaisuri.
"Jika kau beruntung, kau mungkin bisa menjadi Putri Mahkota." lanjut nya.
"Mungkin anda akan merasa kecewa yang mulia." kata Xiao mei. "Sebab, hamba belum memiliki pemikiran untuk ikut serta di dalam nya. Lagi pula undangan itu belum tersebar." jelas nya.
"Bagaimana jika aku mengundang mu secara pribadi?"
"Suatu kehormatan bagi hamba yang Mulia."
"Datang lah di acara itu, mungkin kau benar-benar akan terpilih menjadi putri Mahkota kerajaan ku."
"Hamba tidak berani memimpikannya."
"Hahaha, kau memang sangat menarik Nona, Aku sangat terkesan."
Awalnya Permaisuri mengira Xiao mei, tidak akan berani menjawab perkataan nya. Gadis itu akan merasa di permalukan, dan berakhir menangis dalam pelukan putra nya. Tapi lihat lah wanita yang di hadapan nya ini. Bukan hanya berani menjawab, dia bahkan bisa menentang dengan begitu sopan dan elegan. Sungguh gadis yang sangat menarik
"Datang lah untuk mendaftar. Aku akan mendukung dirimu menjadi calon menantu ku." ucap Permaisuri lembut.
"Terimakasih atas kemurahan hati anda yang mulia." kata Xiao mei. "Hamba akan datang saat undangan resmi telah di kirim."
Setelah nya, kedua wanita itu berbincang sekedar basa basi sesaat. setelah hampir satu jam berlalu, Xiao mei meminta izin untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
Xiao mei meninggalkan kerajaan dengan langkah kaki yang cepat. Wanita itu tidak ingin terlalu lama tinggal di tempat, di mana ia terbunuh secara tragis bersama buah hatinya.
Langkah kaki nya terhenti. Saat kuda hitam milik Jiang lie memasuki gerbang Kerajaan. pandangan mereka saling bertemu. Jiang lie bergegas turun dari kuda milik nya, dan menghampiri Xiao mei.
"Xiao'er, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jiang lie lembut.
"Aku datang, atas undangan dari Permaisuri."
"Lalu mengapa kau tidak masuk? Apa urusan mu sudah selesai?"
"Yah, urusan ku telah selesai. Sekarang aku ingin pulang."
"Mari aku antar."
"Tidak perlu Kakak Jiang. Kau baru saja kembali dari tugas mu, aku tahu kau pasti sangat lelah hari ini." tolak Xiao mei lembut. "Lagi pula aku membawa kereta kuda. Aku akan pulang bersama kusir ku." jelasnya sambil tersenyum.
"Tidak masalah Xiao'er. Aku tidak lelah sama sekali. Naik lah, Kusir mu bisa dia pulang sendiri." kata Jiang lie tak ingin pendengaran penolakan. Lelaki itu mengulurkan tangan nya untuk membantu Xiao mei menaiki kuda milik nya.
...***...
Jiang lie mengantar Xiao mei kembali ke kediaman Xiao. Di perjalanan, sesekali mereka terlihat sangat santai mengobrol. Terkadang juga tertawa lepas, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi di mata semua orang yang melihat mereka.
Xiao mei tidak menyadari jika dirinya dan Jiang lie sudah semakin dekat. Rasanya tidak terlalu buruk berdekatan dengan lelaki itu. Hanya saja, Xiao mei masih tidak bisa membuka hati nya. Apa lagi fakta jika Jiang lie merupakan anggota Kerajaan, membuat Xiao mei enggan membuka hati nya untuk lelaki itu.
"Kak Jiang. Terimakasih karena telah mengantarkan aku pulang.''
"Iya sama sama. hmmm... Apa aku tidak di undang untuk masuk kedalam?"
"Apakah pangeran Jiang yang terhormat ingin masuk?" ledek Xiao mei.
"Tentu dengan senang hati Pangeran ini akan masuk. Jika Nona cantik yang mengundang saya." kata Jiang lie menggoda.
"Baiklah, mari masuk Yang Mulia Pangeran Jiang lie yang terhormat." ajak Xiao mei dengan nada meledek. Ia mengajak Jiang lie menuju taman di dalam kediaman milik nya.
Sie tang yang melihat Pangeran Jiang lie sedang berduaan dengan Xiao mei di taman. Langsung mengepalkan tangan nya. Wanita itu sangat kesal melihat kedekatan kedua sejoli itu yang terlihat sedang bercanda ria tanpa beban.
"Apa hebatnya wanita ****** itu? Sampai para anggota kerajaan lebih memperhatikan dia dari pada aku." Sinis Sie tang emosi.
Di pagi hari, saat ada seorang kasim utusan kerajaan yang datang. Sie tang dengan cepat langsung menghampirinya. Wanita itu berharap Putra Mahkota mau memikirkan tentang apa yang dia tawarkan waktu itu.
Tapi, saat mengetahui kasim itu merupakan utusan Permaisuri yang mengundang Xiao mei untuk datang ke Kerajaan. Sie tang langsung marah besar di kamar nya. Wanita itu sangat kesal kenapa Xiao mei juga bisa menarik perhatian Permaisuri, padahal wanita agung itu dulu sangat membenci Xiao mei. Terlihat dari cara Permaisuri menatap sinis Xiao mei di setiap kali pertemuan.
"Aku harus merebut semua perhatian itu kembali." geram Sie tang tak terima. "Semua yang wanita ****** itu miliki, akan aku rebut satu persatu." sinis nya, lalu pergi meninggalkan taman itu dengan emosi.
"Apa yang kau bahas bersama Permaisuri tadi?" tanya Jiang lie penasaran.
"Permaisuri memberiku undangan lisan. Tetang pemilihan calon permaisuri para pangeran, yang mungkin beberapa bulan lagi akan di adakan. " jawab Xiao mei seadanya.
"Apa kau berencana akan ikut serta?"
"Sejujurnya aku tidak berminat." Jawab Xiao mei jujur. "Selain umur ku yang masih sangat kecil. Aku juga tidak tahu akan mencalonkan diri kepada siapa?"
"Kau sebentar lagi akan memasuki umur 17 tahun Xiao'er, itu sudah tidak kecil lagi. Kau sudah memasuki usia menikah, kau tahu."
"Yah, kau memang benar. Hanya saja aku tidak berminat untuk ikut. Tapi mau bagaimana lagi, Permaisuri yang memberikan ku undangan itu. Aku tidak bisa menolaknya bukan?" jujur Xiao mei terlihat frustasi.
"Kau bisa saja menolaknya. Aku akan melindungi mu."
"Ku rasa tidak perlu. Mungkin ada baik nya juga jika aku ikut serta."
"Apa kau masih mengharapkan Putra Mahkota?"
"Oh Tidak, tentu saja tidak."
"Lalu?"
"Mungkin akan terasa menyenangkan, melihat seseorang merasa kesal." seringai Xiao mei.
"Kau ini." Jiang lie menghela napas kasar. "Baiklah aku akan mendukung mu sebisa yang ku mampu. Dan aku juga tidak akan membiarkan mu mendapatkan satu Pangeran pun. Kau ingat."
"Ya, aku akan mengingatnya. Dan terimakasih."
"Sudah hampir petang, aku harus segera kembali." ujar Jiang lie sambil mengelus puncak kepala Xiao mei.
"Berhati hati lah." kata Xiao mei yang hanya di jawab anggukan oleh Jiang lie.
Lelaki itu bergegas meninggalkan kediaman Xiao dengan wajah yang tidak enak di pandang. pikiran nya tertuju pada undangan yang Permaisuri berikan pada Xiao mei.
Jiang lie menebak, Putra Mahkota berencana akan merebut Calon permaisuri nya itu. Dan rencana itu telah di dukung oleh Permaisuri. Raut marah tergambar jelas di wajah lelaki itu. Dia tidak akan membiarkan siapapun, untuk bisa merebut Xiao mei dari genggaman nya.
...***...
Di sis lain, Jiang ciu langsung bergegas menemui ibunda nya, setelah tahu Xiao mei telah datang dan bertemu dengan Permaisuri.
"Bagaimana ibunda?"
"Gadis itu telah berubah putra ku. Dia tidak mudah untuk di hadapi."
"Ku rasa, kau harus berusaha lebih keras untuk bisa mendekatinya lagi. Sebelum acara pemilihan Permaisuri para pangeran di selenggarakan."
"Bukan kah ibunda bisa meminta dekrit pernikahan kepada ayahanda untuk ku? Dan menjadikan Xiao mei sebagai Permaisuri ku tanpa harus menunggu acara bodoh itu?"
"Kau benar. Tapi jika putri Mentri Xiao itu menolak. tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikan Keluarga Xiao, termasuk Ayah mu sendiri. Kau ingat?"
"Huh, baik lah. Aku akan mendekati wanita itu. Aku tidak percaya kalau dia sudah tidak lagi menginginkan ku." sinis Jiang ciu kesal, karena apa yang dia inginkan tidak bisa berjalan cepat.
"Kau tenang saja putraku. Wanita itu pasti masih menginginkan posisi di samping mu. Kita hanya perlu bersabar sebentar, agar rencana kita bisa berjalan lancar."
"Baiklah ibunda. Aku akan sedikit berusaha untuk mendapatkannya. Aku juga tak ingin adik ke tujuh memiliki kesempatan untuk bisa memperkuat posisinya."
"Kau juga harus memperhatikan adik ke tiga mu. Ibunda yakin, anak itu juga sudah mulai bergerak seperti pangeran ke tujuh."
"Ibunda tenang saja. Aku telah menaruh banyak mata mata di sekitar adik ke tiga. Dia tidak akan bisa bergerak di bawah pengawasan ku." kata Jiang ciu percaya diri.
Keduanya membuat perencanaan agar dapat menyingkirkan setiap orang, yang ingin menghalangi jalan mereka menuju kekuasaan.
🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
lily
bukannya kalo kaisar memberi dekrit pernikahan maka tidak bisa menolak alias mutlak
2024-10-12
0
aling linda
didikan orang tua sangat berpengaruh pada sikap dan sifat anaknya
2023-06-28
0
Septi Verawati
wah ibu dan anak sama2 error otaknya 🤦♀️🤦♀️😡😡
2022-11-12
0