Pagi menjelang. Namun, matahari belum menampakan diri, pertanda waktu masih dini hari. Udara terasa sangat dingin hingga menusuk tulang.
Lie tang terbangun dari tidurnya, merasakan ada seseorang di samping nya tanpa sehelai benang. Senyum merekah muncul di wajah cantik nya sebelum kesuraman datang menghampiri.
Awalnya Lie tang mengira, pria yang kini berada dalam pelukan nya adalah Mentri Xiao. Wanita itu bahkan sudah membayangkan akan menjadi seorang nyonya muda kediaman Xiao pagi ini. Tapi, khayalan nya langsung sirna, saat ia mulai memperhatikan raut wajah lelaki yang sedang bersamanya itu.
Lie tang merasa sangat marah. Amarahnya memburu saat mendapati pria itu bukan lah Mentri Xiao, melainkan seorang pria berwajah jelek tidur nyenyak di samping nya.
Lie tang langsung menendang pria kurang ajar yang telah melayaninya semalam. Wanita itu dengan kasar mengusir lelaki buruk rupa itu, pergi dari kediaman Xiao. Beruntunglah waktu masih sangat pagi, saat wanita itu menyadari bukan Mentri Xiao yang melayani hasratnya semalam. Jika Lie tang telat bangun sedikit lebih lama, mungkin saja reputasi nya pagi ini akan hancur. Impian nya menjadi Nyonya muda kediaman Xiao juga akan sirna dalam sekejap mata.
Lie tang merasa heran, mengapa bukan Mentri Xiao yang menemaninya. Bukan kah pria itu telah terpengaruh dupa perangsang sama seperti dirinya. Lie tang bahkan masih ingat saat Mentri Xiao dengan kasar berciuman dengan nya, sebelum dupa perangsang itu mengambil alih pikiran Lie tang.
"Sial, siapa yang berani menggagalkan kan rencana ku!"
...***...
Di sisi lain Xiao mei merasa lega, karena ayah nya berhasil dia selamatkan dari jebakan yang di buat adik ibundanya.
Xiao mei masuk di waktu yang sangat tepat. sehingga hal yang tidak di ingin kan tidak akan terjadi malam tadi. Wanita itu teringat akan kejadian di masa lalu, di mana ibundanya mengetahui perselingkuhan Mentri Xiao dengan Lie tang yang sedang bercumbu di kamar adiknya.
Perasaan Lie mei sangat hancur menyaksikan penghianatan itu. Wanita itu sangat depresi setelah nya, sehingga ia memutuskan untuk menghilangkan nyawanya beberapa hari kemudian. Dan parah nya, Xiao mei di kehidupan lalu, dia lebih mendukung perbuatan bibi nya, dari pada memikirkan perasaan ibu kandungnya.
Xiao mei yang sangat membenci Lie mei, mengatakan akan lebih baik jika Lie tang yang menjadi ibunda nya dari pada Lie mei. Kebencian yang di perlihatkan Xiao mei menambah depresi Lie mei semakin menjadi. Wanita itu tak bisa menahan beban dalam hati nya, hingga di akhir hayatnya pun Xiao mei tidak mau menatap wajah ibunda nya. Mengingat hal itu, Xiao mei merasakan rasa bersalah yang teramat besar pada ibundanya.
...***...
Mentri Xiao terbangun dari tidurnya. Ia sedikit mengingat kejadian semalam (yang mencium Lie tang dengan ganasnya meski hati nya menolak) dengan cepat ia menoleh ke arah wanita yang saat ini berada di sampingnya.
"Ada apa suami ku?" tanya Lie mei yang terbangun, karena pergerakan suami nya. Lelaki itu bahkan menatap tajam Lie mei saat ia menoleh kearahnya.
"Syukur lah" ucap Mentri Xiao lega, karena melihat Lie mei yang berada di samping nya saat ini, dan bukan Lie tang.
"Kenapa?"
"Bagaimana diriku bisa berada di sini sayang?" bukannya menjawab pertanyaan Lie mei, Mentri Xiao justru malah bertanya.
"Oh itu, Xiao'er yang mengantarkan anda kemari."
"Semalam Xiao'er datang membawa anda yang tidak sadarkan diri." jelas Lie mei.
"Tidak sadarkan diri?"
"Ya, anda tidak sadarkan diri saat Xiao'er mengantarkan anda. Katanya anda pingsan di taman, saat Xiao'er sedang mencari angin. Karena khawatir dia langsung membawa anda pada saya."
"Apa anda masih merasa pusing sekarang?"
"Tidak, aku merasa baik-baik saja."
"Untung lah tidak ada sesuatu yang buruk, yang terjadi semalam. Jika ada, pasti akan menjadi masalah besar nantinya." ujar Mentri Xiao dalam hati. "Tapi, bagaimana putri ku bisa menemukan ku? Bukan kah semalam aku berada di kamar Lie tang? Aku harus menanyakan hal ini padanya."
Pagi ini di dalam ruang makan kediaman Xiao terasa sangat hening. Tidak ada satu orang pun yang membuka suara mereka, hanya ada suara alat makan yang saling beradu satu sama lain.
Sesekali Xiao Mei melihat reaksi ayahnya dan juga Lie tang. Terlihat kedua orang itu sedang sibuk hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Xiao mei menduga, ayah nya mengingat kejadian semalam, sedangkan Lie tang pasti sedang sangat marah, karena mengetahui bukan Mentri Xiao yang bersamanya semalam, di pagi hari.
"Xiao'er, aku ingin kau datang ke ruang belajar ayah nanti. Ada sesuatu yang ingin ayah katakan padamu." perintah Mentri Xiao sebelum meninggalkan ruang makan.
Semua orang merasa bingung dengan sikap Mentri Xiao. Pasalnya pria itu memakan makanannya dengan cepat, memberi perintah pada Xiao mei, lalu pergi tanpa menunggu jawaban gadis itu.
Xiao mei tak menghiraukan kebingungan yang tergambar jelas di wajah semua orang, Gadis itu tetap melanjutkan makan nya dengan santai. Setelah selesai, baru ia beranjak menemui ayahnya di ruang belajar nya.
"Apa ada sesuatu, yang sedang mengganggu pikiran mu ayah?" tanya Xiao mei saat melihat ayah nya duduk termenung, di depan meja belajarnya.
"Ya, memang ada sedikit masalah yang sedang mengganggu pikiran ku, Nak."
"Apa itu ayah?" tanya Xiao mei, Gadis itu menghampiri meja kerja ayahnya, lalu duduk di kursi tepat di depan meja itu.
"Bagaimana kau bisa menemukan ayah semalam?"
"Apa aku boleh berkata jujur ayah?"
"Tentu saja putri ku."
"Aku melihat ayah masuk kedalam kamar bibi Tang dengan menggendong bibi, Awalnya aku berpikir kalau mungkin bibi sedang sakit, sehingga aku menyusul kalian untuk menanyakan keadaan bibi."
Mentri Xiao terus melihat Xiao mei dengan tatapan rumit. Jantung Mentri Xiao terus berpacu saat mendengar cerita Xiao mei. Dia takut, takut putri nya melihat tindakan buruknya semalam.
"Aku sempat menunggu ayah di luar pintu kamar bibi cukup lama. Tapi, karena ayah tidak kunjung keluar kamar, aku memaksa untuk masuk dan ternyata aku melihat ayah dan bibi..." Xiao mei tak bisa melanjutkan perkataannya, gadis itu menghembuskan nafas kasar. Matanya memandang Mentri Xiao dengan pancaran penuh kecewa.
"Katakan saja nak." bujuk Mentri Xiao, Lelaki itu merasa sangat yakin jika Xiao mei telah melihat kejadian memalukan itu. Tapi dia bisa membuktikan pada putri nya ini bahwa semua yang terjadi di malam itu, bukan lah kehendak nya.
"Aku melihat ayah sedang bercumbu dengan bibi. Dan di saat melihat ayah hendak membuka hanfu bibi. Aku yang sudah sakit hati melihat nya, dengan terpaksa memukul titik kesadaran ayah agar ayah menghentikan perbuatan itu."
"Lalu kau membawa ayah pada ibunda mu."
"Ya."
"Ya Dewa terimakasih putri ku, kau telah menyelamatkan ayah dari hal buruk."
"Mengapa ayah melakukan hal menjijikkan itu dengan bibi?" mata Xiao mei mulai berkaca-kaca. "Apa ayah tidak merasa kotor karena telah mengkhianati bunda dengan berselingkuh dengan adik bunda sendiri?" Kata Xiao mei dengan deraian air mata.
"Tidak sayang, tolong maafkan ayah nak. Ayah sungguh tidak sengaja melakukan hal itu sayang. Ayah tidak pernah mengkhianati ibundamu Xiao'er."
"Ayah berbohong! Aku akan mengatakan semua nya pada ibunda." Tangis Xiao mei semakin pecah, Mentri Xiao langsung mendekap tubuh Xiao mei yang hendak pergi dari ruangan nya.
"Tolong jangan beritahu kan hal ini pada ibunda mu Xiao'er. Ayah takut kondisinya akan memburuk setelah mendengar hal ini. Semua yang terjadi tidak seperti yang kamu bayangkan nak." Mentri Xiao memohon kepada Xiao mei.
"Baik, Demi ibunda aku tidak akan mengatakan apapun. Tapi ayah harus berjanji kepada ku, sampai kapan pun tidak akan berdekatan dengan bibi lagi."
"Ayah berjanji sayang. Ayah tidak akan berdekatan dengan Lie tang lagi. Ayah sangat mencintai ibunda mu, tolong percaya pada ayah yah."
Mentri Xiao mencengkeram erat tubuh Xiao mei. Wajah lelaki itu terlihat sangat frustasi.
"Baiik lah ayah, kali ini aku akan maafkan ayah. Tapi ini yang terakhir untuk ayah. Hati Xiao'er sakit melihat nya ayah, Hiks."
"Iya sayang, ayah berjanji hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi."
Menteri Xiao merasa sangat bersyukur karena Xiao mei masih mau mempercayai nya. Dia berjanji akan menyelidiki mengenai kejadian semalam.
Mentri Xiao juga menjelaskan pada Xiao mei kalau dirinya di jebak oleh seseorang, sehingga ia tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri semalam. Xiao mei mencoba mempercayai ucapan ayah nya, asalkan lelaki itu mau menyelidiki semuanya dengan jelas dan akan memberikan hukuman berat pada pelakunya.
Ditempat lain, Jiang ciu sedang mencaritahu penyebab kedekatan Jiang lie dan Xiao Mei yang terjadi akhir-akhir ini. Lelaki itu curiga jika Jiang lie ingin memanfaatkan kedudukan Mentri Xiao untuk menaiki tahta.
"Salam yang mulia." Seorang pengawal bayangan datang menghampiri Jang ciu.
"Bagaimana hasilnya?"
"Dari hasil pengamatan saya, hubungan pangeran Jiang Lie dengan nona Xiao memang terlihat cukup dekat yang mulia. Bahkan mereka sudah sangat akrab, sehingga tidak ada rasa formal di antara mereka lagi." jelas pengawal itu setelah memata matai jiang lie dan xiao mei beberapa waktu lalu.
"Sial! ini tidak boleh di biarkan, terus awasi mereka berdua." Perintah Jiang ciu marah. Dengan cepat pengawal itu berlalu pergi dari hadapan putra mahkota.
"Aku harus segera meminta bantuan kepada ibunda untuk memulai pergerakan."
"Waktunya sudah sangat dekat, cepat atau lambat pasti akan tiba waktu penentuan calon penerus kaisar selanjutnya. Aku harus segera menyingkirkan adik ke tiga dan juga adik ke tujuh. Hanya mereka berdua yang begitu memberatkan posisi ku, sedangkan pangeran yang lain akan sangat mudah untuk di runtuhkan setelah kedua orang itu bersih." sinis Jiang ciu.
Pangeran ketiga sangat di sayang oleh kaisar karena sangat pandai dalam mengurus urusan politik. Sedangkan pangeran ke tujuh sangat di sayang, karena dapat diandalkan saat memimpin sebuah peperangan.
Tidak hanya bisa memimpin sebuah perang, Pangeran ke tujuh juga memiliki paras yang sangat tampan di bandingkan para pangeran lain, sehingga bisa dengan mudah lelaki itu menjerat banyak nona bangsawan sebagai selirnya. Dan menjadikan kekuatan keluarganya sebagai pendukung kekuasaan nya kelak.
Hal itu tentu menjadi bumerang besar bagi Jiang Ciu yang terlahir sebagai Putra Mahkota sejak lahir. Dia tidak akan membiarkan satu orang pun bisa merebut tahta miliknya.
🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Bagus Prakoso
kalau melihat hal tersebut berarti yang menjadi putra mahkota bukan seorang jenderal di medan perang dan bukan ahli politik, trus punya kemampuan apa kalau begitu?
2025-03-13
0
HNF G
yaahh....berarti pangeran ke 7 udah punya selir ya? ☹️
2023-10-20
0
Septi Verawati
irinya di gedein 🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2022-11-12
0