🌺Masih lanjut POV. Tirta🌺
Selang beberapa saat datanglah seorang wanita mengenakan setelan jas warna putih memasuki rumah dengan langkah tergesa. Beliau adalah Bu Bidan dari desa sebelah. Mungkin bidan desa sini sedang keluar. Makanya menggunakan jasa bidan desa sebelah.
“Pak, korban hanyut tadi di mana, ya?” tanya Bu Bidan pada salah seorang warga.
Seketika mataku membulat. Kaget. Jadi, Rania hanyut? Kok bisa? Bukankah letak sungainya sangat jauh dari sini? Bagaimana bisa dia sampai sungai? Pertanyaan demi pertanyaan kemelut memenuhi otakku.
“Tadi dibawa ke lantai atas oleh orangtuanya, Bu.” Salah seorang warga menjelaskan.
Baru saja Bu Bidan hendak balik badan dan mengayunkan langkahnya ke lantai atas. Wanita bergaya modis yang tadi mengekori Devandra turun lalu buru-buru mengajak Bu Bidan naik ke atas.
Aku di sini menunggu dengan penuh kecemasan. Aku berharap nantinya akan ada kabar baik yang kudengar, dan bukan sebaliknya.
Setelah lima menit berlalu Om Devandra berjalan tergesa menuruni anak tangga sembari membopong Rania. Sementara Bu Bidan dan wanita modis tadi mengekori di belakangnya.
“Lho, Pak, Neng Rania mau dibawa ke mana?” tanya salah seorang warga. Aku antusias menunggu jawaban dari Om Devandra.
“Ke rumah sakit, Pak. Takutnya ada luka dalam,” jawab Om Devandra tergesa.
Aku bergegas membantu membukakan pintu mobil yang hendak dinaiki oleh keluarga Rania.
“Terima kasih,” ucap Om Devandra, seraya memegang sisi bahu ini. Aku mengangguk lemah sambil tersenyum kecut.
“Semoga Rania tidak apa-apa, ya, Om,” ucapku agak tertahan. Rasanya tenggorokan ini sakit dan sesak. Om Devandra mengangguk lalu menutup pintu mobil dan melajukannya.
Sementara para warga yang semula berkumpul di rumah Rania membubarkan diri. Termasuk aku, Dian dan Bayu. Hanyut terbawa suasana, aku sampai lupa menanyakan pada warga apa yang sebenarnya terjadi pada Rania. Biarlah nanti aku cari tahu sendiri.
“Ayo pulang!” ajak Dian dengan lembut. Aku mengangguk pelan. Lalu melangkah gontai. Pulang.
***
Ini hari kedua aku berdiri di depan gerbang rumah Rania, yang masih tampak sepi. Sepertinya Rania belum dibawa pulang oleh keluarganya. Apa separah itu kondisimu, Ran? Ingin sekali aku menjengukmu, melihat keadaanmu, tapi aku tidak tahu kamu dirawat di rumah sakit mana?
Menunduk lesu, balik badan bermaksud hendak melanjutkan langkah menuju ke sekolah. Tepat seusai membelakangi gerbang rumah Rania, aku langsung berhadapan dengan Mbok Tini. Aku terdiam sejenak seperti terhipnotis.
Hingga Mbok Tini sudah memasuki halaman rumah Rania, aku baru terbangun dari lamunan. Menoleh ke dalam area rumah Rania. Mbok Tini sudah melenggang hendak memasuki area teras.
“Mbok Tini!” panggilku, seraya memegangi jeruji gerbang.
Mbok Tini menoleh lalu menatapku tajam.
“Ada apa?” sahutnya dari kejauhan.
“Rania dirawat di mana, Mbok?” tanyaku. Aku pun antusias menunggu jawabannya.
“Mbok!” panggilku, saat Mbok Tini melengos dan nyelonong masuk ke dalam rumah Rania, tanpa meberikan jawaban dari pertanyaan yang kulontarkan.
Aku mengacak rambut. Frustasi. Lalu melangkah gontai menuju ke sekolah. Dalam hati kulambungkan do’a, semoga Rania baik-baik saja dan segera dibawa pulang ke rumahnya.
***
🌺POV. Rania🌺
Aku mendesis, melenguh, saat kubuka mata dan kurasakan sakit hampir di sekujur tubuhku.
Menoleh ke samping kiri dan kanan, sepi, tidak ada orang. Di mana aku?
Mataku menyelidik mengamati sekitar. Kalau dilihat dari nuansa ruangan ini serta aroma menyengat obat, kupastikan ini di rumah sakit.
Tapi, apa yang terjadi padaku sehingga aku bisa sampai di rumah sakit ini?
Mataku tertuju pada knop pintu yang bergerak. Sejurus kemudian pintu terbuka lebar menampakkan siapa pembukanya.
“Nak, Sayang, kamu sudah sadar?” tanya Ayah. Ia terlihat begitu senang, melangkah gusar ke sisi ranjang tempatku terbaring. Lalu mengusap pucuk kepala ini dengan lembut. Kulihat mata Ayah mengembun.
“Sadar?” tekanku. Ayah menganggukinya, sambil menyeka sudut matanya yang basah.
“Memangnya aku kenapa, Yah?” tanyaku, setelah berusaha mengingat apa yang terjadi dan aku tidak bisa mengingatnya.
“Kamu hilang selama dua hari dua malam. Setelahnya kamu ditemukan hanyut di sungai dan dalam kondisi tak sadarkan diri.”
Dahiku berkerut mendengar penjelasan Ayah. Sekuat tenaga berusaha mengingat kejadian sebelum aku pingsan. Tapi, aku masih belum mengingatnya.
“Berapa lama aku tak sadarkan diri, Yah?”
“Kalau dihitung sejak kamu ditemukan, dua hari dua malam.”
Aku ternganga mendengar penjelasan Ayah.
“Lama juga ya, Yah, aku pingsannya.”
“Bukan lagi. Ayah sama Mama sampai khawatir dan panik. Takut.”
“Mama? Mama di sini, Yah? Mana?”
“Ada, tapi sekarang lagi bersih-bersih diri dulu pulang ke rumah kita. Nanti mungkin bakal balik lagi ke sini.”
Aku tersenyum bahagia mendengar penjelasan Ayah. Setelah ini aku berharap mereka akan kembali bersama lagi, dan Mama berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
“Sakit ya, pusing, apanya yang sakit?” tanya Ayah gusar. Saat mendengar aku mendesis kesakitan.
“Hampir sekujur badan sakit-sakit semua, Yah.”
“Sabar ya, yang kuat. Namanya juga kamu habis hanyut di sungai, dan kemungkinan banyak membentur bebatuan kali. Tapi sudah diperiksa sama dokter, dan katanya tidak ada luka dalam yang serius.”
Ayah kembali mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.
“Sebentar ya, ayah panggilkan dokter biar kamu diperiksa lagi.”
Aku mengangguk saja. Selepas itu Ayah keluar, dan beberapa saat kemudian kembali dengan seorang wanita paruh baya mengenakan setelan jas berwarna putih. Kurasa beliau dokter yang Ayah maksud.
“Bagaimana badannya?” tanya Bu Dokter, ramah.
“Sakit semua, Dok,” jawabku apa adanya.
“Ya sudah, kita periksa lagi, ya!” ucap Bu Dokter lembut. Aku mengangguk. Selepas itu beliau menempelkan stetoskop ke dada ini. Juga memeriksa tekanan darahku.
Usai memeriksa, dokter menjelaskan kondisiku yang sudah mulai membaik. Lalu menyuruh suster agar mengganti perban yang melingkar membalut kepala. Ada luka lecet di kening akibat membentur batu. Sedikit perih sih, meski katanya tidak begitu parah lukanya.
***
“Kak, kamu sudah sadar?” ucap Mama, yang baru saja masuk. Mama memang biasa memanggilku kakak, dan adek pada Tania.
Tania?
Di mana dia?
Kenapa aku tidak melihatnya?
“Ta-Tania, di mana, Yah, Ma?” Kupandang mereka berdua secara bergantian.
“Tania ....” Ucapan Mama terjeda. Ia melihat ke arah Ayah berada. Seperti bingung hendak berkata apa. Mata indah Mama mengembun. Kesedihan mendalam tersirat dari wajah dan sorot matanya.
Sekarang aku sedikit mengerti. Secuek-cueknya sikap Mama ke aku dan Tania, di dalam lubuk hatinya ada cinta kasih yang begitu besar untukku dan adikku. Hanya saja Mama tipekal ibu yang tak pandai mengungkapkan dan mencurahkan rasa. Aku yakin itu. Aku juga melihat ada penyesalan terlukis di wajahnya.
Aku sangat berharap semua kejadian ini menjadi awal perbaikan untuk hubungan Ayah dan Mama. Semoga saja mereka berdua selepas ini mampu meredam ego masing-masing.
Tania pasti senang sekali kalau melihat perubahan sikap Mama yang sekarang.
"Tania di mana, Yah, Ma?" Sekali lagi aku bertanya. Namun, Mama dan Ayah gelagapan tak bisa menjawab. Lalu keduanya kembali saling adu pandang. Aku melihat kebingungan di wajah keduanya.
N E X T \=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
atmaranii
jiahhh...jd lp ingatan
2021-10-22
0
Wati Simangunsong
tania meninggal atw msh hdupp
2021-01-08
1
Liani.
pnuh misteri
2020-11-15
0