“Nak, itu lenganmu kenapa?” tanya Ayah yang baru menyadari jika tanganku diperban.
“Eum, tadi jatuh terus lenganku membentur rak buku, Yah.”
“Sudah diobati?” Kujawab dengan anggukan sambil mengatupkan bibir.
“Apa perlu kita ke dokter?”
“Enggak usah, Yah. Ini hanya luka kecil kok. Sudah dikasih antibiotik sama obat merah tadi di UKS.”
“Oke, tapi kalau ada apa-apa nanti bilang ke ayah, ya!” Lagi, aku hanya mengangguk. Selepas menurunkan aku di depan gerbang rumah, Ayah kembali ke kantor. Bekerja.
Berdiri mematung di depan gerbang rumah, memikirkan kejadian di sekolah tadi. Terutama memikirkan keanehan sikap Tirta.
Grek!
Suara sepeda dijagang tepat di depanku berdiri, sontak membuatku tersadar dari lamunan.
“Tirta,” desisku. Lantas bergegas membuka gerbang. Namun, lenganku dicekalnya. Berusaha berontak, tapi tenagaku kalah kuat.
“Lepasin!” sentakku, seraya menatapnya tajam. Tapi dia bergeming.
“Dengarkan penjelasanku dulu!” ucapnya dengan ekspresi datar.
“Ada apa ini?” tanya Pak Ramat tukang kebun di rumahku dari balik gerbang seraya menatap kami berdua dengan tatapan tajam. Tirta pun melepaskan genggaman tangannya lalu pergi.
Dasar cowok aneh.
“Enggak ada apa-apa, kok Pak.” Aku mencoba menjelaskan. Kemudian berlalu dari hadapan Pak Ramat.
“Sebaiknya kamu hati-hati dengan bocah tadi!” Ucapan Pak Ramat membuat langkahku terhenti. Lalu menoleh ke arah Pak Ramat berada.
“Memangnya kenapa, Pak?” tanyaku sembari mengerutkan dahi. Heran mengapa semua orang berkata demikian. Apa Tirta seberbahaya itu.
Namun, Pak Ramat bukannya menjawab, ia malah berlalu. Pergi.
Kenapa semua orang di desa ini sikapnya aneh-aneh. Menggeleng, berusaha masa bodoh. Lalu masuk ke dalam rumah.
Saat aku memasuki rumah, Mbok Tini sedang beberes di ruang tamu. Diam tanpa kata, dia bahkan tak menjawab salamku. Tangannya sibuk mengelap meja.
“Mbok, di mana Tania?” tanyaku mencoba memecah keheningan.
“Di kamarnya,” jawabnya singkat, tanpa ekspresi.
“Terima kasih, Mbok,” ucapku. Namun jangankan menjawab, mengangguk saja tidak.
Berlalu meninggalkan Mbok Tini yang sedang beberes. Menaiki anak tangga ke lantai dua, melihat Tania di kamarnya. Namun, saat kubuka pintu kamarnya, tak kudapati Tania di sana.
“Tania! Dek!” panggilku sambil memeriksa ke segala penjuru kamar. Namun, tak ada yang menyahut.
Beberapa saat kemudian kudengar deritan suara pintu lemari terbuka perlahan. Saat aku menoleh ternyata benar, pintu lemari pakaian Tania terbuka perlahan. Seperti dibuka oleh seseorang dari dalam.
Aku mematung, menunggu siapa yang membuka keluar. Tak lama sebuah kepala menyembul dari dalam sontak membuatku teriak histeris. Kaget.
“Ini aku, Kak,” ucap Tania dengan nada berbisik.
“Ya Tuhan, Dek. Ngapain di situ? Bikin kakak jantungan saja. Kakak pikir hantu!” cerocosku. Kemudian duduk di pinggir ranjang Tania. Mengelus dada, menstabilkan detak jantung yang tak menentu.
“Ma’afkan Tania, Kak. Tania enggak bermaksud menakuti Kakak,” jelasnya, sambil turut duduk di sampingku. Dan kini kita duduk bersisian.
“Kamu ngapain sembunyi di sana, Dek? Aneh-aneh aja deh!”
“Aku takut, Kak.”
“Takut sama apa?” tanyaku tak sabar.
“Sama Mbok Tini. Orangnya aneh dan serem,” jelas Tania, seraya bergelayut di lengan ini. Meski sebenarnya aku juga takut, tapi aku berusaha menenangkannya. Bersikap seolah aku pemberani agar Tania tidak semakin ketakutan.
“Sudah ya, kakak mau ke kamar kakak dulu. Ganti baju. Habis ini kita makan siang. Oke!” ucapku, seraya mengacungkan jempol.
Tania mengangguk, lantas aku pun bangkit dari duduk lalu mengayunkan langkah hendak ke kamarku sendiri. Saat aku sampai di ambang pintu kamarnya, ia berlari menyusul. Merengek minta ikut ke kamarku. Takut sendirian katanya.
“Oke, ayo!” ajakku kemudian. Setelah tak berhasil membujuknya.
***
Setiap malam aku selalu menemani adikku di kamarnya. Sebelum dia terlelap, aku belum pindah ke kamarku sendiri.
Kulambaikan tangan di hadapan wajah adikku yang tengah terpejam. Memeriksa dia sudah terlelap atau belum. Setelah kupastikan dia sudah berkelana di alam mimpi, aku pun pergi ke kamarku sendiri.
Sesampainya di kamarku sendiri, aku merebahkan badan di atas pembaringan. Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa? Berpikir keras mencoba mengingat sesuatu yang mengganjal pikiran sedari tadi.
Akhirnya aku teringat kalau aku belum menutup pintu kamar Tania. Bangkit dari tidur beringsut turun lalu ke kamar sebelah. Kamar Tania. Dan benar, aku belum menutup pintunya.
Saat kutarik daun pintu hendak menutupnya, ekor mataku menagkap sesuatu di bawah ranjang Tania yang menarik perhatianku. Sehingga kuurungkan niatku untuk menutup pintunya. Lantas masuk dan memastikan benda apa yang ada di bawah ranjang Tania itu.
Aroma kemenyan menyeruak memenuhi ruangan bernuansa pink dan biru ini. Asap mengepul dari arang yang membara di dalam sebuah layah, piring yang terbuat dari tanah liat. Yang diletakkan di bawah ranjang adikku.
Sementara di samping layah berisi kemenyan yang dibakar tersebut ada segelas air yang di dalamnya terdapat aneka bunga. Lebih tepatnya mungkin bunga tujuh rupa.
Entah siapa yang menaruh sesajen di bawah ranjang adikku ini, dan entah apa tujuannya.
Aku segera bangkit dari jongkok. Lantas bergegas ke kamar ayah berniat hendak memberitahunya.
“Ada apa malam-malam ke kamar ayah?” tanya Ayah usai membuka pintu kamarnya pasca kuketuk berulang kali tadi.
“Sini Yah, aku mau menunjukkan sesuatu,” ucapku seraya menarik lengan ayah, ke kamar Tania.
“Ada apa?” tanya ayah, sembari mengekor di belakangku.
“Nanti juga Ayah tahu,” jawabku, masih sambil menarik lengan ayah. Berjalan tergesa ke kamar Tania.
Namun, anehnya saat sampai di kamar Tania, sesajen tadi sudah tidak ada di sana. Bahkan aroma kemenyan yang tadi memenuhi ruangan ini sudah tidak lagi tercium. Aneh. Ke mana hilangnya sesajen tadi?
“Apa yang mau kamu tunjukkan pada ayah?”
“Eum, ta-tadi di situ ada semacam sesajen, Yah,” jelasku seraya menunjuk kolong ranjang Tania. Ayah pun berjongkok memastikan. Kemudian menggeleng.
“Tidak ada apa-apa, Rania. Di kolong bersih.”
“Tapi tadi ada, Yah. Beneran, Rania enggak bohong.”
“Ya, tapi sekarang mana buktinya? Enggak ada apa-apa di situ.”
“Mungkin saja sudah dibersihkan sama Mbok Tini, Yah.”
“Mbok Tini itu setiap ba’da isya beliau pulang ke rumahnya, Rania. Di rumah ini selepas jam 7 malam tidak ada orang lain kecuali kita bertiga,” terang ayah.
“Tapi, Yah. Tadi ....”
“Sudahlah Rania, ayah capek. Sudah malam sebaiknya kita tidur. Itu mungkin hanya halusinasi kamu saja atau tadi kamu mimpi.” Ayah menyela ucapanku dengan cepat. Kemudian pergi ke kamarnya setelah mengusap dan mengecup pucuk kepala ini.
Aku menghela napas pajang. Berpikir keras, dan yakin betul kalau tadi itu nyata bukan halusinasi semata. Bukan juga mimpi, aku kan belum tidur barang sejenak. Jadi enggak mungkin aku bermimpi. Tapi, kok dalam hitungan menit bisa hilang sesajen tadi.
Kuputuskan untuk memeriksa seluruh ruangan rumah ini, dan hasilnya memang tidak ada orang lain di sini. Sesajen tadi pun menghilang tanpa bekas.
Lanjut memeriksa jendela dan pintu, semua sudah terkunci dengan benar. Kalau ada orang masuk pastinya salah satu pintu atau jendela ada yang terbuka. Kuperiksa semua tempat sampah mencari bekas sesajen. Hasilnya nihil. Tidak kutemukan baik wadahnya atau sisa pembakarannya. Pun dengan bekas kembang tujuh rupanya.
Aneh.
Apa benar tadi itu aku hanya berhalusinasi saja?
Tapi, rasanya nyata. Tidak mungkin hanya halusinasi. Aku bahkan sudah menyentuh layah dan gelas yang berisi air kembang tujuh rupa tadi.
B E R S A M B U N G
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
cerita kita
slalu jawab nya eum
2024-02-04
0
Shinta Teja
ibunya Rania sama Tania emang kena sih,Thor?! meninggal ya?!
2023-12-15
0
Biah Kartika
nah loh pada ketemu orang-orang aneh, jadi serem 🙁
2023-03-25
0