***
Aku berdiri di depan pintu kamar Tania. Merasa bingung dengan semua kejadian ini. Siapa sebenarnya yang memasang sajen di kolong ranjang adikku itu. Sementara di rumah ini setiap ba’da isya tidak ada orang lain kecuali aku, Tania dan Ayah.
Apa iya, ayah yang memasang sajen itu? Ah, rasanya tidak mungkin.
“Rania, Nak, ngapain di situ? Kamu belum tidur? Sudah malam loh ini.” Ucapan ayah membuyarkan lamunanku.
“Eh, Yah, eum, belum Yah. Aku tadi ....” Aku menghentikan ucapanku. Karena percuma saja menjelaskan pada ayah soal sajen tadi. Ayah tidak akan percaya jika tanpa bukti nyata.
“Kenapa?” tanya Ayah, ia antusias menungguku bercerita.
“Enggak apa-apa, Yah,” jawabku seraya menggeleng.
“Yakin?” tekan Ayah, dan aku mengangguk.
“Iya Yah, hanya mimpi buruk saja,” jelasku kemudian.
“Makanya kalau mau tidur jangan lupa berdo’a, ya!”
“Iya, Yah.” Kemudian aku mengulum bibir. Setelah mengusap pucuk kepalaku dengan lembut, Ayah turun ke lantai dasar untuk mengambil minum. Haus katanya.
Aku masih bergeming di depan pintu kamar Tania. Lalu kembali membuka daun pintu, dan melongokkan kepala ke dalam. Memastikan di dalam sana sudah aman.
Setelah kupastikan aman, aku kembali ke kamarku sendiri. Cukup lama aku terjaga hingga akhirnya terlelap.
***
Saat sedang menikmati sarapan di meja makan, aku bercerita pada ayah perihal sajen semalam. Namun seperti malam sebelumnya, ayah tidak percaya.
“Enggak ada sajen, Nak. Semalam usai minum, ayah ke kamar Tania dan di sana tidak ada apa-apa.”
“Sajen itu dipasang sebelum Ayah keluar kamar. Ketika Ayah pergi minum itu memang sudah tidak ada, Yah.” Aku berusaha menjelaskan dan meyakinkan, tapi lagi-lagi ayah menganggapku halusinasi pasca mimpi buruk.
Aku melirik Mbok Tini yang sibuk di dapur yang terletak di samping ruang kami makan ini. Ia sedang membereskan perabotan usai digunakan untuk memasak tadi. Tingkahnya mendadak aneh saat aku membahas soal sajen. Mungkin Mbok Tini tahu sesuatu. Nanti coba kutanyakan padanya.
Sememtara Tania mendadak ketakutan. Sehingga ayah menyuruhku berhenti membicarakan soal sajen.
Selesai sarapan, aku menghampiri Mbok Tini. Menanyakan soal sajen.
“Saya ndak tahu!” jawabnya ketus tanpa menoleh ke arahku juga tanpa ekspresi. Sementara tangannya tetap sibuk beberes.
***
Hari ini, hari minggu. Aku tidak bersekolah, pun dengan Tania. Kami libur, tapi tidak dengan ayah. Ayah tetap ke pabrik meninjau sudah sampai mana proses pembangunannya.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan keliling desa bersama Tania. Tentunya setelah mendapat izin dari ayah.
“Kak, kita ke sana, yuk!” ajak Tania, seraya menunjuk salah satu gubuk yang terletak di tengah kebun singkong yang menghampar luas, berhektar-hektar. Aku mengangguk, Tania pun langsung berlari mendahuluiku. Dia tampak tak sabar ingin segera sampai di gubuk itu.
Saat sampai di gubuk Tania menjerit, aku yang tertinggal beberapa meter di belakang panik dan mempercepat langkahku.
“Ada apa, Dik?” tanyaku pada Tania, tapi tidak ada jawaban. Hening.
Berlari tergopoh ke arah gubuk, kudapati Tania sedang terpaku, ketakutan.
“Hei, ada apa?” tanyaku seraya memegang kedua sisi bahunya. Kemudian aku menoleh mengikuti arah telunjuk mungil Tania menunjuk.
Ya Tuhan, sajen lagi. Kenapa di mana-mana ada sajen? Ada apa dengan desa ini?
Kupeluk tubuh mungil Tania bermaksud menyalurkan ketenangan. Setelah Tania sedikit tenang, aku mengajaknya untuk pergi menjauh dari gubuk tersebut.
Namun, saat aku dan Tania balik badan kudapati seseorang telah berdiri di hadapan kami. Sontak aku dan Tania pun menjerit histeris.
🍁
Ma’af pendek dulu yah. Authornya masih oleng.
🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
eeh ritual apa
2022-08-02
0
Rizky Gak Neko Neko
sajennnnnnnnnnn ......
2021-01-06
0
Sri Banyu Bening
Aaaarg siapa mbak?
2020-10-06
0