Selang beberapa saat kudengar ada orang datang.
“Heh, ngapain Lu di sini? Pergi sono!” Kudengar seseorang mengusir Tirta. Selepas itu seseorang di luar sana berusaha membuka pintu terlihat dari knop pintu yang diputar-putar dari luar.
“Siapa di dalam? Buka pintunya! Gua mau masuk!” pekik seorang cowok di luar sana. Perlahan kubuka pintunya. Setelah pintu terbuka lebar terpampang seorang cowok dengan postur badan jangkung serta berparas rupawan, dan penampilannya milenial.
“Hai, gue Abdi kelas 10 B,” ucapnya seraya mengulurkan tangan. Lantas kusambut uluran tangannya sejurus kemudian kusebutkan namaku juga kelasku.
“Rania, nama yang bagus. Cocok sama pemiliknya,” pujinya, masih sambil menggenggam tanganku.
“Ck, modus Lu!” sentak temannya yang lain seraya melepaskan genggaman tangan Abdi dari tanganku. Lalu teman-teman Abdi yang lainnya turut memperkenalkan diri, yang kini kuketahui nama mereka semua yakni ada Bayu, Arga, Vian, dan Aksa. Mereka satu geng.
“Kamu ngapain di UKS?” tanya Abdi.
“Eum, tadi sebenarnya cuma asal masuk saja sih, dan ternyata setelah aku perhatikan baru sadar kalau ini di UKS,” jelasku, dan disambut kekehan oleh mereka.
“Terus, itu lenganmu kenapa? Kok lecet gitu?” tanya Aksa yang melihat luka di lenganku.
“Eum, ini ... ini, ta-tadi ....”
“Pasti gegara si Tirta kan, si bocah aneh itu.” Abdi menyela ucapanku dengan cepat. Aku tak bisa lagi berkilah hanya diam menunduk sambil memegangi lenganku yang terasa perih.
“Ya sudah, ayo segera diobati lukamu. Sini!” ucap Abdi, seraya menarik lenganku lalu menepuk ranjang UKS agar aku duduk di sana.
Kemudian Abdi meminta bantuan teman-temannya yang lain untuk menyiapkan kotak P3K, dan mulai membersihkan lukaku dengan antibiotik menggunakan kapas.
“Eum ..., ma’af, tapi saya bisa mengobati lukaku sendiri. Sebaiknya kamu obati lukamu saja,” ucapku setelah melihat luka di bagian siku Abdi.
“Ah, gampang. Gua mah, bisa entar-entar. Cewek duluan,” balasnya seraya fokus mengobati lukaku.
“Tahan ya, aku kasih obat merah ini pasti akan terasa sedikit perih,” jelas Abdi. Aku mengangguk saja sambil meringis menggigit bibir bawah menahan perih.
“Sudah selesai,” ujar Abdi kemudian. Setelah kulihat lukaku kini sudah dibalut dengan perban kain kasa.
“Terima kasih,” ucapku.
“Sama-sama, Nona.” Abdi menaruh tangannya di depan dada seraya sedikit membungkukan badan. Aku terkekeh dibuatnya.
“Aku enggak suka berhutang budi. Biar impas kalau sekarang aku gantian obatin luka kamu gimana?” tanyaku. Abdi terdiam sejenak menatap temannya satu persatu.
“Yakin, mau mengobati lukaku? Apa enggak merepotkan?” Kujawab tanya Abdi dengan gelengan.
“Enggak repot kok,” imbuhku, seraya turun dari ranjang. Dan berganti posisi dengan Abdi.
“Kalau kamu bisa luka begini kenapa?” tanyaku iseng.
“Biasa anak laki. Main basket terus nyusruk ke lantai,” jelasnya.
Kudengar teman Abdi yang lain berdehem menggoda kami.
“Paan sih, berisik Lu pada!” sentak Abdi, sontak membuat teman-temannya berhenti berceloteh.
“Sudah selesai,” ucapku.
“Terima kasih, Nona manis.” Aku menggeleng sambil terkekeh sebelum akhirnya mengangguk.
“Iya, sama-sama. Sekarang sudah impas kan, jadi enggak ada utang budi di antara kita,” jelasku. Abdi mengangguk.
“Oke, deal!” sambubgnya, seraya mengulurkan tangan. Lagi, kami bersalaman.
“Kalau ngobatin luka hati bisa, nggak?” tanya Abdi, seraya menatapku sedemikian rupa. Sehingga aku salah tingkah dibuatnya.
“Kheeem, kheeem!” Teman Abdi yang lain riuh berdehem, sebagian bersiul sembari menatap langit-langit UKS.
“Ya elah, canda. Serius amat,” ucap Abdi, seraya mengedikkan alisnya lalu melepas genggaman tangannya. Kemudian aku menunduk malu. Menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
Bel tanda masuk bunyi, menyelamatkan aku dari bucinan yang akan dilayangkan lagi oleh Abdi.
“Eum, sudah waktunya masuk kelas lagi. Aku ke kelas dulu ya. Terima kasih,” pungkasku, lalu meninggalkan mereka semua. Mengabaikan Abdi yang memekik memanggilku entah ingin berkata apa lagi.
Sesampainya di kelas, aku agak merasa ngeri hendak duduk di samping Tirta yang sudah lebih dulu duduk di bangkunya. Cowok aneh itu diam menunduk sementara jemarinya memainkan pulpen.
Saat kubuka buku yang tadi kuletakkan di atas meja, ada kertas terselip di dalamnya. Bertuliskan kata permintaan ma’af, yang kuyakini dari Tirta. Aku memilih mengabaikan kertas itu, dan kubiarkan tergeletak di atas meja.
***
Sepulang sekolah saat aku menunggu jemputan di balik gerbang sekolah. Kulihat Tirta datang hendak menghampiriku sambil menuntun sepedanya. Untunglah mobil ayah segera datang. Cepat-cepat aku masuk ke dalam mobil sebelum Tirta mendekat. Lalu kuminta ayah melajukan mobilnya.
Menoleh ke belakang, kulihat Tirta mengejar mobil kami menggunakan sepeda BMXnya. Mulutnya mangap-mangap sepertinya memanggilku. Entahlah, suaranya tak kedengaran. Ditelan kebisingan jalanan.
“Dia siapa?” tanya Ayah, selepas melihat spion mobil. Cepat aku menggeleng.
“Kayaknya dia manggil kamu itu,” ucap Ayah, sambil melihatku sekilas. Kemudian fokus lagi nyetir.
“Eum, dia cuma teman sekelas, Yah. Kata teman-teman yang lain, dia agak begini,” jelasku pada Ayah, seraya menempelkan telunjuk di depan kening.
“Oh, ya. Wah, bahaya dong. Kalau benar dia anaknya enggak beres, kok diperbolehkan sekolah di sana. Seharusnya anak kayak dia di sekolahkan di sekolahan khusus.”
“Rania masih belum tahu kebenarannya, Yah. Itu baru kata teman-teman,” jelasku. Meski kusadari tingkah Tirta aneh, tapi sejatinya aku masih belum yakin kalau Tirta itu kurang waras.
Lagi, aku menoleh ke belakang. Kulihat Tirta menghentikan sepedanya. Mungkin dia lelah. Semakin jauh dari jangkauan netra. Kemudian menghilang ditelan kendaraan lainnya.
B E R S A M B U N G
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Keynan Milky
kasihan si tirta
2024-02-12
0
Biah Kartika
merasa kasihan dengan si Tirta 😔
2023-03-25
0
🦊⃫⃟⃤Haryani_hiatGC𝕸y💞🎯™
Anak Indigo itu istimewa jadi emang keliatan aneh
2022-07-17
0