Aku urung masuk ke kamar ayah. Tiba-tiba badan ini bergetar hebat. Lutut terasa lemas serasa tak kuat menopang tubuh. Merambat berpegangan tembok kembali ke kamarku sendiri. Tidak ada minat untuk menyimak pembicaraan ayah sampai selesai dengan lawan bicaranya di ujung telepon.
Perasaanku mendadak tidak karuan. Ada rasa takut dan curiga pada ayah. Apa iya yang memasang sajen di kolong ranjang Tania itu adalah ayah? Lalu apa maksud ayah soal tumbal tadi?
***
“Sayang, kamu kenapa, Nak? Kok ayah perhatikan beberapa hari ini kamu agak aneh. Banyak diam. Apa ada masalah?” tanya ayah, saat kami berada di dalam mobil hendak ke sekolah.
Ya, sejak aku mendengar ayah menelepon seseorang dan membicarakan soal sajen serta tumbal kala itu. Aku agak merasa takut pada ayah dan berprasangka buruk padanya.
Aku tahu ini salah. Tidak seharusnya aku memiliki pemikiran seburuk ini pada ayah, tapi aku tak punya keberanian untuk menanyakan yang sebenarnya pada ayah. Takut menyinggung dan juga takut kalau ayah murka.
“Hemm, kenapa? Kalau ada masalah cerita dong sama ayah!” ujarnya seraya tangan kirinya mengelus lembut pucuk kepala ini. Sementara tangan kananya masih menempel di setir.
“Eum, enggak ada apa-apa kok, Yah,” balasku sekenanya.
Ma’af, Yah, kalau aku sudah berprasangka buruk terhadapmu.
Setelah mobil berhenti di depan gerbang sekolah, aku segera turun.
“Nak,” ucap ayah seraya mengulurkan tangannya. Ah, aku lupa mencium punggung tangannya.
“Ma’af Yah, lupa.” Aku pun segera mencium punggung tangannya, dan berdiri menyaksikan mobil ayah melaju, menjauh. Setelah mobil ayah tidak terlihat lagi, aku baru masuk ke area sekolah.
Saat aku berjalan dengan langkah lesu di koridor sekolah tiba-tiba Dian menarik lenganku.
“Sini aku mau bicara hal penting denganmu,” ucapnya dengan nada berbisik. Kemudian aku ditarik ke belakang sekolah. Ke tempat pohon besar yang konon angker itu.
“Ada kamu mengajakku kemari?” tanyaku setelah sampai di halaman belakang sekolah.
“Sebentar kita tunggu Tirta dulu,” balasnya.
Sekitar lima menitan akhirnya Tirta datang dan bergabung dengan kami.
“Tirta sudah di sini. Kalian mau ngomongin hal penting apa?” tanyaku gusar.
“Jadi gini ... tadi pas berangkat sekolah aku dan Tirta lewat depan rumahmu ....” Ucapan Dian terhenti membuatku semakin gusar.
“Terus?” tekanku.
“Aku melihat ada aura hitam menyelimuti rumahmu. Itu auranya sangat negatif. Bisa saja berakibat buruk jika keluargamu tetap tinggal di sana.”
Lagi, Dian menghentikan ucapannya, dan saling pandang dengan Tirta. Tatapan keduanya sangat aneh, seperti menyembunyikan sesuatu. Entah apa?
“Jadi, maksud kalian aku dan keluargaku harus pergi dari rumah itu?” tanyaku masih tak mengerti dengan penjelasan Dian. Dian mengangguk. Pertanda bahwa aku harus pergi dari rumah yang kami tinggali saat ini.
“Eum, baiklah. Nanti coba aku bicara pada ayahku.”
“Jangan nanti-nanti usahakan secepatnya kalau bisa!” ujar Tirta tegas.
Aku hanya mengangguk pelan. Karena sebenarnya masih belum begitu paham dan mengerti. Tapi mungkin saja aura hitam yang dimaksud Dian ada hubungannya sama pemasangan sajen di kolong ranjang Tania.
Tirta selepas bicara langsung memeriksa belakang pohon besar. Saat sampai di sana dan mendapati ada yang pasang sajen langsung diobrak-abrik dan dibuang ke tempat sampah.
“Sudah dibilang jangan pasang sajen. Masih saja ada yang pasang!” gerutunya seraya bersungut sebal.
Ternyata selama ini aku salah sangka terhadap Tirta. Kupikir dia yang pasang sajen, tapi ternyata justru dialah yang mencegah adanya tindakan musrik di sekolah ini.
“Eum, memangnya apa tujuannya dipasang sajen di situ?” Kalimat tanya yang semula hanya bergumul di dalam otak akhirnya terlontar juga. Penasaran mendominasi.
“Konon supaya murid di sini aman biar nggak diganggu dan dirasuki oleh jin penunggu pohon ini serta supaya murid yang mati akibat dibully di sekolah ini tenang. Padahal persepsi mereka itu salah. Justru hal semacam ini yang bisa mendatangkan balak.”
Mendengar penjelasan yang dipaparkan oleh Tirta, aku pun menceritakan soal sajen di kolong ranjang Tania. Dian dan Tirta pun saling pandang kemudian keduanya terlihat memikirkan sesuatu. Serta terlihat khawatir.
“Pokoknya kalau lagi di rumah usahakan jangan melamun ya, Ran!” Kuangguki titah Dian.
“Sebenarnya ada apa di rumahku? Apa kalian tahu yang sebenarnya?” cecarku tak sabar.
Lagi, Dian dan Tirta saling pandang dengan tatapan aneh menurutku.
“Kita belum tahu pastinya ada apa? Begini saja, kalau diperbolehkan biar nanti aku coba main ke rumahmu untuk menyelidiki. Boleh?”ucap Dian. Segera aku mengangguk mengiyakan.
“Iya, boleh banget. Tolong bantu saya mengungkap misteri sajen di rumah saya!” pintaku.
“Iya, kami siap bantu. Kita selidiki sama-sama ya,” sahut Dian seraya mengusap bahu ini.
***
Sepulang sekolah Dian dan Tirta pun mampir ke rumah, tapi keduanya tidak betah berlama-lama di dalam rumahku. Menurut mereka di dalam rumahku sangat panas udaranya serta sesak.
Dian dan Tirta pun menyarankan agar aku memasang kamera tersembunyi di kamar Tania supaya bisa tahu siapa pelaku pemasangan sajen itu.
Benar juga saran mereka. Kenapa selama ini aku nggak kepikiran ya?
Sesuai saran dari Dian dan Tirta, aku pun memasang kamera tersembunyi. Kebetulan aku bawa 3 kamera dari kota, dan semuanya masih berfungsi dengan baik.
Sengaja malam ini aku pindah lebih awal ke kamarku sendiri. Mengingat ini malam pon maka aku sangat yakin bakal dapat bukti akurat dari rekaman kamera yang kupasang di kamar Tania.
Menjelang tengah malam begini pasti sajennya sudah dipasang. Aku pun perlahan keluar kamar, dan memastikan ke kamar Tania. Benar ada sekelebat bayangan hitam yang lari menuju gudang bawah tanah seperti biasa. Kubiarkan saja orang itu pergi, aku masuk ke kamar Tania dan memeriksa kameranya.
Aku tertunduk lesu saat mendapati kameranya sudah tertata rapi di atas meja kecil samping ranjang Tania, dan dalam posisi mati.
Apa ini pelaku yang ngumpulin dan mematikan kameranya atau Tania?
“Dek, bangun!” ucapku dengan nada berbisik sambil menepuk-nepuk perlahan pipi Tania. Tak lama dia pun mengerjap dan bangun.
“Ada apa, Kak? Sudah pagi, ya?” sahutnya dengan suara parau kemudian menguap dengan lebarnya.
“Belum, ini masih tengah malam, Dek.”
“Terus ngapain Kakak bangunin aku? Aku masih ngantuk, Kak.”
“Iya, ma’af. Kakak Cuma mau tanya. Ini kameranya yang ngumpulin dan matiin kamu?”
Dengan santainya dia bergumam seraya mengangguk. Mengiyakan.
“Ya Tuhan, kenapa dimatiin sih, Dek. Kakak itu sengaja pasang kamera ini untuk menyelidiki sesuatu,” jelaksu.
“Ma’af Kak, aku pikir kakak lupa mematikannya,” sahutnya dengan nada lesu dan takut aku marahi.
“Ck, ya sudah. Sekarang tidur lagi gieh, masih malem.”
“Memangnya Kakak mau menyelidiki apa?”
“Nggak ada apa-apa. Sudah ayo sana tidur lagi. Kakak mau ke toilet dulu ya,” dalihku seraya menyelimuti Tania yang sudah kembali berbaring. Setelah dia mengangguk, aku segera keluar kamar. Memeriksa seluruh penjuru gudang bawah tanah. Kenapa orang misterius itu selalu menghilang setiap masuk ke gudang ini? Padahal tidak ada jalan keluar di sini. Kecuali hanya barang-barang kuno yang sudah tidak terpakai serta satu lemari jadul di sudut gudang ini.
Penasaran, aku pun membuka pintu lemari jadul nan berdebu itu. Setelah kubuka tidak ada yang aneh dengan lemari itu. Di dalamnya kosong tidak ada isi serta tidak ada raknya. Jadi jika orang masuk dan berdiri di dalamnya bisa.
Senter kusorotkan ke dinding dalam lemari. Kuamati dengan cermat. Di sana ada bekas tangan tentu saja memantik rasa penasaranku. Aku pun menempelkan tanganku dan mendorong serta menggeser ke atas, bawah, kiri, dan kanan.
Sreeeek!
Dinding lemari bagian belakang itu tergeser sedikit lalu kugeser hingga terbuka lebar, dan menampakkan sebuah lorong bawah tanah yang sangat hitam, dan gelap gulita.
Aku ternganga. Jadi si pemasang sajen itu keluar masuk lewat sini. Pantas saja meski semua akses masuk rumah sudah kukunci tetap bisa masuk juga.
Berbekal senter di tangan, kuberanikan diri untuk masuk dan menyusuri lorong bawah tanah itu dengan berjalan perlahan serta sedikit membungkuk. Namun, lorongnya sepertinya sangat panjang. Bulu kuduk meremang seketika. Membuatku urung meneruskan langkah, dan memilih kembali ke dalam rumah.
Aku memutuskan untuk memberitahu ayah soal lorong bawah tanah itu, tapi saat sampai di kamarnya ayah. Ia sudah tidur begitu pulasnya. Ayah terlihat sangat letih sehingga aku tak tega untuk membangunkannya.
Biarlah besok saja kuberitahu ayah soal lorong itu, dan setelah menyelimuti ayah, aku pergi ke kamarku sendiri.
Sesampainya di kamar aku terus memikirkan di mana ujung lorong itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
hadir Thor
2022-08-06
0
Irma Sari
hadech, bsk pagi aja nyelidikin lorong nya sama Ayah,,, jgn sendirian... ikut deg deg an nich baca nya ..
mana baca sendirian jam 2 mlm, jd tkt ke kmr mandi.. 🙈
2021-09-06
2
Wati Simangunsong
ok rania lnjut
2021-01-08
0