💀💀💀
Aku berteriak, menggedor pintu, meminta dilepaskan, tapi tidak ada respons dari luar gudang ini.
Aku benar-benar merasa sesak dan pengap di dalam gudang yang penuh debu, dan sarang laba-laba serta banyak kecoak dan tikus.
Lampu bohlam yang nyalanya kekuningan sebesar 5 watt menggantung tepat di atas kepala dan berkedip sepertinya sudah soak. Hampir di semua ruangan yang kulewati tadi lampunya macam ini. Bohlam kecil yang nyalanya kekuningan. Lampu jadul. Sehingga menimbulkan kesan seram pada rumah ini.
Setelah capek berteriak dan tidak ada yang peduli, aku mencari sesuatu untuk alas tidur. Akhirnya nemu seperti sprei warna putih kusam. Meski kotor tak mengapa yang penting ada alas untuk tidur agar tidak bersentuhan dengan lantai yang terbuat dari semen. Enggak kuat dinginnya.
Mata lengket, mengantuk luar biasa, tapi dibawa berbaring nggak bisa-bisa merem. Banyak suara tikus, serta suara-suara aneh lainnya. Seperti ada suara rintihan, jeritan, erangan, dan masih banyak lagi dari arah ruang bawah tanah tadi. Aku pun kembali duduk dan bersandar pada sisi dinding serta memeluk lutut. Merinding plus dingin bukan kepalang.
💀💀💀
Aku terperanjat kaget. Entah dari kapan aku tertidur dalam posisi duduk dengan kepala bertumpu pada lutut. Mengamati ke segala penjuru gudang. Mendongak ke atas, rupanya lampunya sudah dipadamkan. Ini artinya sudah pagi, dong?
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa keluar dari gudang ini? Tidak ada jalan keluar lain, selain pintu yang saat ini ditutup dan dikunci dari luar oleh si empunya rumah ini.
Bangkit dari duduk, sekali lagi memeriksa sekeliling mencari jalan keluar. Tidak ada jalan keluar lain selain pintu. Hanya ada angin-angin kecil.
Aku memutar otak mencari cara untuk bisa keluar dari tempat ini. Menjentrikan jari saat sebuah ide muncul. Aku pun mulai menjalankan rencanaku.
Setelah berteriak-teriak sampai suaraku hampir habis, akhirnya si empunya rumah datang juga.
“Ada apa?” sentak seseorang yang baru saja membuka pintu gudang. Ia menggunakan panutup wajah sehingga hanya bagian mata saja yang terlihat. Dari suaranya dia seorang wanita.
“Sa-saya kebelet buang air kecil,” jawabku.
Wanita di hadapanku langsung menarik tanganku seperti semalam, dan langsung mendorong tubuhku ke dalam sebuah kamar mandi. Sialnya di kamar mandi ini juga tidak ada celah untuk jalan kabur.
“Sudah belum?” teriak wanita di luar, seraya menggedor-gedor pintu kamar mandi.
“Se-sebentar lagi,” sahutku.
“Buruan!” bentaknya dari luar masih sambil menggedor pintu.
Setelah selesai buang hajat, aku kembali diseret dan dimasukkan ke dalam gudang. Sepanjang perjalanan menuju gudang, aku terus bertanya di mana adikku disembunyikan. Namun, wanita yang menyeretku tidak menjawab. Ia hanya diam dan terus menyeretku lalu didorongnya tubuh ini dengan kasar ke dalam gudang. Hingga aku tersungkur ke lantai.
“Saya lapar!” pekikku, sesaat sebelum pintu benar-benar ditutup. Namun, wanita itu tidak bersuara dan tetap menutup pintunya lalu pergi.
Aku duduk di tempat semalam, memeluk lutut, bersandar pada sisi tembok yang terbuat dari bata meras. Menunduk lemas. Pupus sudah harapanku untuk keluar dari rumah ini.
Tidak lama kemudian pintu gudang ini kembali dibuka, dan tanpa berkata wanita tadi menaruh sepiring makanan beserta segelas air minum di lantai. Selepas itu ponsel jadulnya berdering, dan wanita itu langsung bergegas pergi dengan langkah tergesa-gesa sampai lupa menutup pintu gudangnya.
Perlahan aku bangkit dari duduk, dan mengikuti wanita si empunya rumah dengan langkah penuh kehati-hatian. Aku mengelus dada lega saat mendapati wanita itu pergi keluar meninggalkan rumahnya. Entah ke mana?
Aku pun mulai mencari jalan keluar. Sialnya semua jendela tidak ada yang bisa dibuka, dan pintunya juga dikunci.
Aku pun berinisiatif untuk mencari Tania di rumah ini. Belum juga beraksi perut terasa perih keroncongan. Lapar. Aku pun kembali ke gudang megambil makanan yang tadi tergeletak di lantai. Masa bodoh jika ternyata sudah diinjak-injak tikus atau semacamnya. Sikat saja sudah nggak tahan dengan rasa perihnya di perut.
Tapi gimana kalau ternyata ini makanan ada racunnya?
Ah, persetan dengan racun!
Satu suap nasi berhasil mendarat di mulut. Rasa masakan ini tidak asing. Lagi, aku menyuapkan nasi beserta lauk dan sayurnya ke dalam mulut. Bener, ini kayak masakannya ....
“Aaak!”
Aku hampir saja tersedak karena terkejut oleh suara jeritan dari arah ruang bawah tanah. Kuurungkan menyuapkan sesendok nasi lagi ke dalam mulut. Kutaruh piring ke lantai, meneguk minum, dan pergi memastikan ke ruang bawah tanah tadi itu suara apa?
Saat aku sampai di ruang bawah tanah, indra penciumanku langsung disuguhi aroma anyir serta busuk. Sehingga makanan yang tadi sudah mendarat di perut serasa mau kembali keluar. Mual.
Aroma anyir dan busuk apaan, ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Andin Yafa
Bodoh kali rania,bukanny cari tirta dl br masuk lorong,mah sok2an sndri mati sdh lah kauu
2022-12-13
1
👑Ria_rr🍁
Rania semangat Napa jangan lemah kaya daun pisang yg kering
2022-08-21
0
Nawan Damanik
Rania = Rajukan Manja, karakter lemah, MATI NI si mbok
2021-04-20
0