Bulu kuduk terasa meremang. Aku bergegas pergi, menjauh dari pohon yang terlihat semakin menyeramkan. Kembali mencari keberadaan Tirta. Setelah berkeliling ke sana kemari akhirnya makhluk misterius itu ketemu juga.
“Tirta, tunggu!” panggilku, dan dia pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku. Kemudian balik badan. Menungguku mendekat.
Setelah kami berdiri berhadapan, dia bergeming. Berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sok cool! Menunduk melihat ujung sepatu, sepertinya menunggu aku bicara terlebih dahulu.
Dasar cowok absurd. Tanya kek ada apa? Malah diam kayak patung.
“Ada apa? Tadi manggil ‘kan? Kok sekarang diam?” Akhirnya dia bersuara.
“Eum ....” Ucapanku terhenti karena bel tanda masuk bunyi. Tanpa permisi Tirta pun pergi ke kelas, meninggalkan aku yang masih bergeming di tempat semula. Bingung memikirkan sikap Tirta yang berubah-ubah.
Menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Menggeleng, berusaha menyadarkan diri dari lamunan. Lalu bergegas masuk ke kelas.
Kini aku duduk bersisian lagi dengan Tirta. Ingin sekali aku mengucapkan terima kasih karena tadi sudah menolongku, juga berterimakasih karena sudah dipinjami buku catatannya. Tapi tak sepatah kata pun yang terucap dari mulutku. Mendadak kelu. Terlebih saat kulirik dia hanya duduk diam sembari memainkan pulpen di tangannya seperti biasa.
Mengatur napas, mengumpulkan keberanian untuk bicara. Saat keberanianku terkumpul, guru datang. Lagi, aku urung berbicara pada Tirta.
***
Saat jam pelajaran usai, segera kucekal lengan Tirta ketika dia bangkit dari duduk hendak pulang. Langkahnya pun otomatis terhenti. Kemudian melirik lengannya yang kucekal. Segera kulepas dan meminta ma’af padanya. Kemudian aku terdiam. Entahlah mendadak jantungku berdebar-debar. Antara takut dan gerogi.
Tirta kembali melanjutkan langkahnya saat mendapati aku hanya diam.
“Tunggu! Aku ingin bicara,” pekikku saat Tirta sudah berada di ambang pintu kelas. Lantas segera menyusulnya. Kini kami berdiri di teras depan kelas.
“Soal apa?” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Ekspresinya datar. Sedatar jalan aspal.
“Aku mau ngucapin terima kasih ....”
“Ck, sesuatu yang sudah berlalu nggak usah dibahas. Dah basi!” selanya dengan nada ketus. Sontak membuatku terdiam lagi. Kemudian dia melenggang pergi. Meninggalkanku yang mengomel dalam hati. Geram, juga aneh akan sikapnya yang begitu cepat berubah. Menyebalkan.
Ini pertama kalinya aku menyesal telah mengucapkan terima kasih pada seseorang. Bukannya lega, tapi hati ini malah terasa dongkol setiap ingat sikapnya yang sombong.
***
Malam ini kuputuskan untuk tidur di kamar Tania sekalian menyelidiki siapa pelaku pemasang sesajen. Namun, hingga menjelang dini hari tidak ada yang masuk ke kamar adikku.
Sudah yang kesekian kalinya mengintip ke kolong ranjang, tapi tidak ada sesajen ditaruh di sana. Ini sungguh aneh. Apa hanya malam tertentu saja sajen itu dipasang?
***
Lagi, pikiranku kacau memikirkan soal sesajen. Hingga gagal fokus saat berjalan di koridor sekolah, dan tanpa sengaja menabrak Abdi yang hari itu mengobati lukaku di UKS.
“Hai, kalau jalan hati-hati! Jangan melamun!” ujarnya, sebelum aku meminta ma’af.
Menggaruk tengkuk kemudian nyengir. Malu. “Iya. Eum, ma’af enggak sengaja.”
Abdi dan teman-temannya menggeleng pelan seraya terkekeh melihatku yang salah tingkah. Mungkin aku terlihat aneh di mata mereka.
“Ada apa? Sepertinya kamu lagi banyak pikiran, ya?”
“Sok tahu,” kilahku.
“Kelihatan kali dari gelagat kamu yang sering melamun,” lanjut Abdi.
Aku hanya terkekeh, tak dapat lagi berdalih.
“Ada apa? Kalau misalnya butuh temen cerita, aku siap kok jadi pendengar yang baik. Jangan sungkan, cerita saja!” ucapnya, kemudian mengedikkan alis. Aku terkesima dibuatnya. Ups!
“Iya, cerita saja, Ran! Siapa tahu kita-kita bisa bantu cari solusi dari masalahmu itu,” imbuh Aksa.
Saat sedang asik mengobrol dengan Abdi and the geng tiba-tiba Tirta lewat, dan dia menunjukkan sikap juteknya. Seolah tidak suka melihat aku berbincang dengan Abdi dan teman-temannya. Tirta hanya melirik sekilas kemudian berlalu dari hadapan kami.
“Aku ke kelas dulu ya, mau meletakkan tas,” pungkasku seraya berlalu meninggalkan Abdi dan teman-temannya. Mereka pun tak ada pilihan lain kecuali mengangguk mengiyakan.
Bertepatan saat aku hendak masuk ke kelas, Tirta berjalan keluar. Kami berpapasan tepat di ambang pintu kelas.
“Sebaiknya kamu hati-hati dengan Abdi dan teman-temannya! Dia tidak cocok berteman denganmu,” ujarnya tanpa melihat ke arahku.
“Memangnya apa pedulimu?” ketusku seraya berlalu dari sampingnya. Aku merasa puas karena sudah membalas sikap jutek dan sombongnya kemarin. Sekarang kita impas ‘kan?
Menaruh tas ke atas meja dengan sedikit bantingan. Entahlah akhir-akhir ini aku menjadi uring-uringan nggak jelas. Semua membuatku depresi. Keanehan yang terjadi di dalam rumah juga semua yang terjadi di lingkungan sekolah ini.
Semua terasa membingungkan.
***
Sepulang sekolah saat menunggu jemputan, Abdi dan teman-temannya kembali mendekatiku. Kami berbincang banyak diselingi candaan juga gombalan. Lagi, Tirta menampakkan wajah kesalnya. Cowok misterius itu tidak langsung pulang, dia berdiri beberapa meter dari tempatku dan Abdi and the geng berada.
Dia bergeming meski sudah berulang kali diusir oleh Abdi dan teman-temannya. Aku hanya mampu menggeleng, tidak mengerti jalan pikiran si Tirta. Cowok aneh itu seolah tidak peduli dengan obrolan kami, tapi aku yakin betul dia menguping.
Setelah mobil ayah datang, Abdi dan kawan-kawannya salaman memperkenalkan diri. Sementara Tirta, ia bergeming di tempat semula.
“Aku duluan ya,” ucapku pada Abdi dan teman-temannya seraya melambaikan tangan.
“Oke, sampai ketemu besok,” balasnya seraya melambai jua.
Setelah mobil ayah melaju, aku menoleh ke belakang. Kulihat Tirta pun mulai mengayuh sepedanya. Mengekor di belakang mobil ayah. Hingga akhirnya menghilang tersalip kendaraan lain.
***
Sudah beberapa malam sesajen itu tidak ada lagi di kolong ranjang Tania. Aku kembali tidur di kamarku sendiri setelah menidurkan Tania.
Sebelum ke kamarku sendiri kupastikan sesajen di kolong ranjang Tania, benar, tidak ada. Barulah aku bergegas ke kamarku sendiri.
Dua puluh menit berlalu, entah kenapa perasaan ini mendadak gelisah. Kepikiran Tania, tidak bisa tidur. Menjelang tengah malam, aku kembali ke kamar Tania. Memastikan.
Saat pintu kamar terbuka lebar, aroma kemenyan kembali menyeruak. Memenuhi ruang kamar Tania. Segera kunyalakan lampu kamar, dan memeriksa bawah kolong ranjang. Aku membungkam mulutku yang menganga dengan kedua telapak tangan. Sesajen itu ada lagi.
Fokusku kini mencari pelaku, sampai lupa mengamankan barang bukti terlebih dahulu. Selesai keliling ke penjuru rumah mencari pelaku yang menghilang entah ke mana? Aku kembali ke kamar Tania bermaksud hendak mengamankan barang bukti, dan menunjukkannya pada ayah. Tapi, lagi-lagi sesajen itu sudah raib. Hilang tanpa bekas.
N E X T \=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
iih makin kesini makin serem wae
2022-08-02
0
Astuty Nuraeni
aku malah curiga sama pembantunya, jangan2 mereka bukan manusia
2022-07-15
0
Erni Sari
dari rindu pelukan mu Thor, hadir
2022-07-13
0