❤Part ini ada bonus POV Tirtanya, gees. Kuylah! Cekidot.❤
❤❤❤
“Aaap!” Teriakanku tertahan. Entah siapa yang membekap mulutku dari belakang menggunakan sapu tangan dengan aroma yang tidak asing. Aromanya lama kelamaan membuatku pusing. Aku yakin ini aroma bius.
Semakin lama kesadaranku semakin menipis, pandangan pun buram, tapi telingaku masih jelas mendengar suara obrolan seorang lelaki dengan seorang perempuan. Samar, suara mereka terdengar tidak asing di telinga ini.
“Kamu yakin itu obat bius? Kamu tidak salah ambil, ‘kan?” tanya salah seorang wanita.
Kemudian lelaki yang membekapku menjawab, “aku yakin tidak salah ambil. Benar kok ini bius.”
“Aku ambil langsung di klinik desa sebelah,” imbuh lelaki yang masih membekapku.
“Tapi aman kan, kamu tidak ketahuan saat ambil obat bius itu?” tanya sang Wanita.
“Tenang saja, aman.” Sang lelaki menjawab dengan penuh keyakinan.
Pandangan mataku semakin gelap, gelap, dan ....
❤❤❤
POV. Tirta
>>>>>>>>
“Tenang, Sob. Kita do’akan saja semoga Rania baik-baik saja!” ucap Bayu, menenangkan aku yang sedari turut hilangnya Rania, aku menjadi begitu gusar dan khawatir tanpa jeda.
Dian mengangguk, setuju dengan ucapan Bayu. “Nanti, sepulang sekolah kita cari Rania lagi, dan kali ini semoga membuahkan hasil, ya?” imbuhnya.
“Ya, tapi ini sudah dua hari Rania menghilang. Padahal adiknya juga belum ditemukan. Aku khawatir ... khawatir kalau mereka berdua menghilang untuk selamanya seperti enam orang warga desa kita sebelumnya.” Kemudian aku menunduk hampir putus asa. Sedih, takut, khawatir, berpadu menjadi satu dalam hati.
“Kalau aku yang hilang, apa kamu juga bakal sepeduli dan sesedih ini, Ta?” celetuk Dian, dan langsung kutatap dia tajam. Suka aneh-aneh aja kalau ngomong. Kesal aku dibuatnya.
“Stop bicara ngawur kayak gitu!” bentakku, setelah puas memelototinya. “Aku nggak mau kehilangan kalian berdua,” imbuhku.
“Iya, maaf!” ucap Dian lirih. Kemudian bibirnya mengerucut dan menunduk sedih.
“Apa kalian juga nggak mendapat potongan puzzle gambaran keberadaan Tania dan Rania?” tanyaku pada Dian dan Bayu. Mereka kompak menggeleng lesu.
“Ya Tuhan, mereka di mana, ya?” gumamku. Dian dan Bayu kompak mengusap sisi bahu ini. Menguatkan.
“Emangnya kamu juga nggak dapat info dari temanmu yang tak kasat mata itu, Ta?”
Kujawab dengan gelengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bayu. Karena teman tak kasat mata yang kupunya tak memberi informasi apa pun tentang Rania dan Tania. Mereka akhir-akhir ini hanya diam seribu bahasa.
“Kok, aneh, ya? Kejadian lain kadang kita bisa dapat firasat atau potongan gambaran, tapi kasus hilangnya orang-orang di desa kita secara misterius ini kok nggak terdeteksi sama sekali ya, oleh indra ke-6 kita?” ujar Dian. Aku pun memikirkan hal yang sama. Pun dengan Bayu.
“Entahlah. Aku pusing!” pungkasku. Lalu kami membubarkan diri. Aku ke kelasku, pun dengan Dian, ia ke kelasnya. Sementara Bayu, ia juga meninggalkan halaman depan sekolahku. Lantas kutoleh sekilas, ia mengayuh sepedanya kembali ke sekolahannya.
Di kelas aku duduk sendirian. Bangku yang seharusnya diduduki Rania, kosong. Pemiliknya entah di mana, dan bagaimana keadaannya? Aku masih belum tahu pasti, tapi besar harapanku dia baik-baik saja.
Ran, sejak kamu menghilang ... aku merasa seperti ada yang kurang dalam hidupku. Tanpamu, aku merasa kosong, laksana rumah tanpa penghuninya. Hampa.
Andai bisa ingin sekali aku ungkapkan rasa aneh yang menguasai relung hati ini sejak awal kita bertemu. Tapi sayangnya aku bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan rasa, Ran.
***
Pikiranku kacau, mengikuti pelajaran pun percuma. Tidak ada yang terserap oleh otakku sama sekali. Meski ragaku di sini, tapi anganku melayang entah ke mana?
Andai bisa ingin kuputar waktu lebih cepat lagi agar jam pelajaran ini segera berakhir, dan aku bisa segera pergi mencari Rania lagi.
🌹🌹🌹
“Akhirnya,” gumamku, lega. Jam pelajaran pun usai. Kumasukkan peralatan sekolahku ke dalam tas ransel dengan gusar. Lalu berlari keluar kelas. Pulang.
“Woy! Tungguin kita napa?!” pekik seseorang dari arah belakang, yang suaranya tidak asing di telinga ini. Sesuai dugaanku. Setelah aku menoleh ternyata itu benar suara Bayu dan Dian.
Aku pun menghentikan langkahku. Menunggu mereka berdua yang berjalan setengah berlari ke arahku sambil menuntun sepeda masing-masing.
“Buru-buru amat, sih?” ucap Dian.
“Mau lanjut cari Rania kapan?” tanyaku. Dian dan Bayu malah saling pandang. Setelahnya mereka berdua kompak mengarahkan pandangannya ke arahku.
“Sabar napa? Baru juga pulang sekolah. Ganti baju dulu, makan dulu, pulang dulu ke rumah,” cerocos Dian.
“Ck. Kalau kalian mau pulang dulu silakan! Aku mau langsung cari Rania.” Kemudian aku melanjutkan langkahku. Masa bodoh dengan ocehan mereka berdua.
“Oke, kita bantu cari Rania, tapi kita mampir dulu di warung makan pinggir jalan, yang di depan sana itu. Aku laper, Bray,” cerocos Bayu. Dian setuju dengan ajakan Bayu. Apa boleh buat, aku pun akhirnya menuruti kemauan mereka.
“Buruan pesen!” titahku pada Dian dan Bayu, setelah sampai di warung makan. Mereka berdua pun langsung memesan tiga porsi, dan menyodorkan yang seporsi untukku.
“Ck, aku nggak nafsu makan kenapa dipesenin?” ketusku. Lagi, mereka berdua memaksakan kehendaknya padaku. Pake acara ngancem nggak mau bantu nyari Rania segala kalau aku nggak makan dulu. Ya sudah, akhirnya aku pun makan bareng mereka. Meski sebenarnya nggak tertelan. Kepikiran Rania sudah makan apa belum di sana? Di sana ... entah di mana?
“Rasa-rasanya aku nggak habis,” ucapku. Lalu meneguk air minum yang sudah disediakan oleh pelayan warung.
“Eh, habisin! Nggak boleh nyisain makanan. Mubazir. Dosa loh!” omel Dian. Dan terpaksa mau tidak mau aku habiskan makananku.
“Oh ya, aku ingat sesuatu,” celetuk Bayu. Sejurus kemudian ia menghentikan ucapannya. Lantas menenggak es jeruk yang dipesannya tadi.
“Ingat apa?” tanyaku gusar.
“Yaelah, sabar napa! Orangnya juga masih minum.” Lagi, Dian mengomeliku.
“Lanjutin makan aja! Bawel banget dari tadi,” balasku. Kesal.
“Aku ingat sesuatu. Waktu itu ... Rania pernah cerita soal lorong bawah tanah. Kita coba cari dia di sana saja!” jelas Bayu.
Dahiku berkerut. Masih tidak paham dengan penjelasan yang Bayu paparkan.
“Lorong bawah tanah? Di mana?” tanyaku.
“Jadi, kata Rania dia menemukan lorong gitu di bawah rumahnya. Pintu keluarnya itu lewat gudang yang terletak di bawah tanah rumahnya gitu.”
Kali ini aku mulai paham akan penjelasan Bayu.
“Ya sudah, tunggu apa lagi. Kita segera meluncur ke sana!” ajakku, dan langsung bangkit dari duduk dengan sekali hentakan.
“Eit, tunggu dulu!” cekal Dian dan Bayu kompak.
“Ck, apa lagi?” ketusku kesal.
“Bayarin dulu makanan kita!” ucap Dian lirih, sambil memasang raut wajah menyedihkan. Bayu mengangguki ucapan Dian.
“Ck, ya udah, iya!” ketusku.
Setelah membayar makanan yang tandas kami lahap. Kami pun bergegas ke rumah Rania.
Sesampainya di depan gerbang rumah Rania langkah kami terhenti. Melihat ke dalam gerbang, keadaan di dalam sana sudah ramai oleh warga yang berkumpul di teras hingga di pelataran, dan tampaknya ada juga yang di dalam rumah Rania.
Sebuah mobil sedan warna merah terparkir di teras garasi. Mobil siapa itu? Perasaan mobil ayahnya Rania warna silver.
“Ada apa, ya? Kok rame?” tanya Bayu.
Apa Rania sudah ditemukan?
Atau ....
Kugeletakkan sepedanya begitu saja. Lalu berlari menerobos masuk. Tak menghiraukan omelan warga yang tanpa sengaja kutabrak. Juga tak kupedulikan pekikkan Bayu dan Dian.
Sesampainya di dalam rumah kulihat ayahnya Rania berjalan memunggungiku menaiki anak tangga menuju lantai atas, dan terlihat sedang membopong seseorang yang terlihat lemas tak berdaya. Di belakangnya Om Devandra ada seorang wanita dewasa berpenampilan modis mengekor sambil terus terisak. Menangis.
Sayangnya terlihat dari arah belakang sehingga aku tidak bisa melihat jelas siapa yang dibopong oleh Om Devandra itu.
“I-itu siapa, Pak, yang dibopong oleh Om Devandra?” tanyaku pada warga yang berdiri di sampingku.
“Itu anak sulung Pak Devandra.”
Aku langsung mengusap dada lega serta tak henti mengucap syukur.
“Tapi entah masih hidup atau tidak. Soalnya wajahnya terlihat pucat pasi gitu. Kayak udah nggak bernyawa,” imbuh Bapak yang tadi.
Seketika dunia terasa runtuh. Badanku lemas nyaris ambruk. Untunglah Dian dan Bayu datang tepat waktu menopang tubuhku yang oleng.
N E X T\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
cerita dibalik tirai datang dg like dan rate 5 🌟
2022-08-21
0
Nawan Damanik
,,,,,sudah 2 hari Rania pulang,,,,,(ada Tirta, Bayu, Dian)....aku.....siapakah aku???
2021-04-20
0
Wati Simangunsong
lnjut
2021-01-08
0