❤❤❤
Mama mengusap kepalaku dari sisi kiri dan Ayah mengusap di sisi kanan.
“Tania kan masih belum ditemukan, Sayang. Hilang,” jelas Ayah.
Seketika ingatanku seolah terlontar, kembali teringat akan kejadian beberapa hari lalu. Semua terbayang jelas dalam benakku layaknya tayangan slideshow.
“Yah, Ta-Tania, Yah. Dia ... dia ....” Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku tatkala teringat terakhir kali melihat kondisi Tania yang ....
“Sayang, Tania kenapa? Kamu tahu di mana adikmu berada?” tanya Ayah. Sementara Mama antusias menungguku bercerita.
Aku menggeleng, tak sanggup lagi berkata. Air mataku menderas seketika. Membuat Ayah dan Mama bingung.
“Sayang, katakan di mana adikmu berada. Kalau memang kamu mengetahuinya. Kasihan dia ....”
“Yah, adik ada di ruang bawah tanah ....” Cepat aku menyela ucapan Ayah. Namun, ucapanku terhenti sebelum aku menyelesaikannya. Rasanya tak sanggup lagi menjelaskan.
“Di ruang bawah tanah rumah kita?” tanya Ayah, gusar. Aku menggeleng. Air mataku kembali menderas.
“Lalu di ruang bawah tanah rumah siapa?” Ayah semakin gusar. “Katakan yang jelas, Nak!” imbuhnya, tak sabar.
“Aku nggak tahu itu rumah siapa, tapi menurut fellingku itu rumah Mbok Tini, Yah.”
“Apaaa!” pekik Ayah dan Mama kompak. Keduanya lalu saling adu pandang tidak percaya.
“Rumahnya di mana, sayang?”
Aku menjawab pertanyaan Ayah dengan gelengan. Karena memang aku tidak tahu di mana letak pastinya rumah itu.
Ayah dan Mama saling pandang. Mereka berdua tampak bingung.
“Aku tidak tahu letak pastinya rumah itu, Yah, tapi bisa diakses melalui lorong bawah tanah.”
Dahi Ayah berkerut, ia masih belum mengerti. Pun dengan Mama. Mereka berdua memintaku menjelaskan secara detail. Perlahan aku pun menjelaskan di mana letak lorong, dan juga pintu keluarnya. Serta kujelaskan bagaimana kondisi dalam lorong, juga bagaiman kondisi rumah yang kuduga sebagai rumahnya Mbok Tini itu.
Ayah menunduk lemas, badannya limbung. Kaki kokohnya seolah tak mampu menopang tubuhnya. Ia terlihat sangat frustrasi. Setelah kujelaskan bagaimana kondisi Tania terakhir kali aku melihatnya. Badan mungilnya berlumuran darah. Entah darah apa? Di mana letak lukanya? Aku tidak tahu.
Belum sempat memastikan, aku sudah langsung dibekap oleh seseorang dari belakang. Selepas itu warga menemukanku hanyut di sungai. Entah apa yang mereka lakukan padaku? Aku tidak ingat.
“Sebaiknya pastikan dulu, jangan pesimis. Semoga Tania masih dapat diselamatkan,” ucap Mama, mencoba menguatkan Ayah. Suara Mama terdengar parau, tapi ia berusaha terlihat tegar di hadapan kami.
Ayah lalu mengangguk mantap. Kemudian pamit hendak memastikan ke rumah tersebut.
“Yah,” panggilku, saat Ayah sudah sampai di ambang pintu. Ayah pun menoleh, urung melanjutkan langkahnya.
“Iya, kenapa, Nak?” sahutnya.
“Sebaiknya Ayah bawa alat untuk merusak pintunya. Karena biasanya dikunci dari dalam.” Ayah mengangguki saranku. Lalu benar-benar pergi.
Di sini, aku dan Mama terus melambungkan do’a semoga Tania segera ditemukan dan masih dalam keadaan hidup.
🌺🌺🌺
❤POV Tirta❤
Aku, Dian dan Bayu berdiri di depan gerbang rumah Rania sepulang dari sekolah. Keadaan rumahnya masih sepi, sepertinya Rania belum dibawa pulang. Separah itukah keadaanya?
Untuk kesekian kalinya aku melangitkan do’a untuk kebaikan dan kesembuhan Rania. Lalu menunduk lesu.
Selang beberapa saat datanglah mobil Om Devandra. Aku ditarik menepi oleh Dian dan Bayu. Entah apa yang terjadi sehingga Om Devandra menyetir mobilnya mengebut, dan nyaris menabrak kami bertiga. Untunglah remnya pakem kalau tidak, entah apa yang bakal terjadi pada kami bertiga.
Om Devandra turun tergesa. “Maaf,” ucapnya pada kami. Lalu tergesa membuka gerbang. Bahkan mobilnya ia biarkan teronggok di depan gerbang dengan pintu masih menganga.
Aku yang penasaran pun berlari mengejar Om Devandra yang sudah sampai di teras rumahnya.
“Om, tunggu!” pekikku. Om Devandra pun berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Kami bertiga lalu mendekat, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Om Devandra lalu menjelaskan dengan tergesa tentang apa yang diceritakan oleh Rania.
“Kami siap membantu, Om.”
Om Devandra menatap kami satu persatu dengan mata penuh kaca-kaca. Lalu mengangguk setuju dan menerima bantuan kami.
Kami pun mulai menyiapkan segala peralatan. Setelah peralatan yang kami butuhkan dirasa sudah lengkap. Aku dan Om Devandra, Bayu juga Dian mulai menyusuri lorong bawah tanah yang gelap, pengap, dan mencekam berbekal senter.
Langkahku terhenti sejenak. Memikirkan saat Rania menyusuri lorong ini sendirian. Dia gadis yang pemberani. Aku salut padanya sekaligus menyayangkan tindakannya. Kalau sampai terjadi hal yang di luar dugaan gimana coba? Dasar keras kepala!
Lamunanku buyar seketika saat Bayu menarikku. “Ayo, kok malah bengong,” desisnya.
Benar sesuai seperti yang Rania ceritakan. Saat sampai di ujung lorong, kami langsung dihadapkan dengan sebuah pintu masuk ke dalam sebuah rumah.
Kami langsung merusak pintu dengan sebuah kapak yang tadi kami bawa. Kami berempat masuk ke dalam setelah pintu berhasil terbuka. Senter kami sorotkan ke seluruh penjuru ruang yang kotor, pengap, gelap, dan banyak sarang laba-laba bergelayut.
Aroma danur menyeruak tajam. Semakin dekat kami dengan ruang bawah tanah yang dimaksud oleh Rania, suasananya semakin mencekam. Aku mendengar banyak jeritan kesakitan, tangis memilukan, serta suara orang meminta tolong.
Entah yang lain juga mendengarnya atau tidak.
“Tania! Apa kamu ada di dalam?” teriak kami kompak.
Saat kami sampai di depan pintu ruang bawah tanah yang kami duga Tania ada di dalamnya. Namun, tidak ada yang menyahut. Senyap. Bahkan teriakan, tangisan, yang tadi ramai terdengar pun kini tak lagi kudengar.
“Sinikan kapaknya, Om!” pintaku. Setelah kapak diberikan padaku, aku mulai merusak pintunya.
Kami berempat pun mematung di tempat. Saat pintu sudah terbuka lebar, dan menampakkan kondisi dalam ruang tersebut.
Ruangan sudah kosong. Hanya ada seperti meja yang di setiap sudutnya terdapat tali tambang. Sepertinya tali untuk mengikat sesuatu.
Serta terdapat banyak bercak darah kering yang menempel di meja tersebut, juga di lantai dan di tembok. Aroma anyir khas darah kering sangat menyengat. Juga tercium aroma busuk menusuk hidung.
Kami mendekat ke arah meja tersebut. Om Devandra terlihat syok setelah melihat ada noda darah di mana-mana. Tubuhnya gemetar. Lalu beliau terisak sambil terus memanggil Tania.
Aku menyentuh mejanya dan langsung mendapat penglihatan seperti sekilas bayangan pembantaian di atas meja ini. Segera kusingkirkan tanganku dari sisi meja. Tak sanggup jika harus melihatnya lebih lanjut.
Dian histeris memejamkan matanya kemudian langsung berjongkok di lantai sambil menutup kedua telinganya menggunakan kedua telapak tangan. Seolah tak kuat mendengar dan melihat sesuatu.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Bayu. Lalu turut berjongkok sambil memegang kedua sisi bahu Dian.
Dian menggeleng, air matanya menetes. Ia tak sanggup menjelaskan.
“Dia kenapa?” tanya Om Devandra dengan suara parau.
“Tampaknya Dian melihat sesuatu, Om,” jelasku. Lalu kubantu Dian agar berdiri kembali.
“Sesuatu apa? Kosong begini,” sahut Om Devandra.
Aku pun menjelaskan kepada Om Devandra bahwa kami bertiga memiliki kelebihan bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata.
Entahlah, kami harus menyebutnya kelebihan atau penyakit. Tapi banyak orang menyebutnya sebagai kelebihan.
“Berarti kalian tahu di mana Tania berada?” tanya Om Devandra. Binar matanya penuh harap. Kami bertiga kompak menggeleng.
“Aku tidak tahu, Om. Aku hanya melihat sekilas serta mendengar jeritan seseorang yang dibantai di situ,” jelas Dian, sambil menunjuk atas meja.
“Aku juga melihatnya, tapi itu bukan Tania,” sahut Bayu.
“Iya, Om. Kami tidak melihat Tania di sini,” jelasku.
“Kak,” panggil seseorang dari arah belakang kami berdiri. Lebih tepatnya dari ambang pintu ruangan ini. Suaranya terdengar tidak asing di telingaku.
Aku pun balik badan, pun dengan Dian dan Bayu. Tampaknya mereka berdua juga mendengar suara itu.
Aku menoleh ke arah Dian dan Bayu. Lalu kami bertiga saling pandang satu sama lain. Memastikan penglihatan kami ini hanya ilusi kelakuan makhluk astral yang mencoba menyerupai atau nyata itu adalah Tania?
N
E
X
T
👇
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Irma Sari
ayolah Tania... di mana kamu...??
2021-09-08
2
Nawan Damanik
ini novel misteri
2021-04-21
0
Ummu Quinsha Quinsha
Sampek merinding bacanya😱
2020-11-27
0