Tidak Mungkin Ayah Pelakunya

Aku menoleh melihat siapa pemilik suara. Dian? Mau apa dia?

“Hai,” jawabku agak malas.

“Kenalin aku Dian,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Mau tak mau aku menyambut uluran tangannya lalu menyebutkan namaku.

“Oh ya, kamu ....” Ucapanku terhenti, mobil ayah sudah datang dan membunyikan klakson. Ayah menyuruhku agar cepat naik. Buru-buru katanya. Aku pun naik tanpa melanjutkan tanya yang sempat akan kulontarkan. Tentunya setelah pamitan pada Dian.

Sesampainya di depan gerbang rumah, ayah langsung pamit pergi untuk meninjau pabrik lagi. Ada masalah yang butuh penanganan cepat katanya. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan setiap ucapan dan titah Ayah. Setelah aku turun, ayah langsung pergi lagi.

*** 

Petang merangkak berganti malam menuju larut, aku masih terjaga. Ayah belum pulang, tadi saat kuteleponi katanya di pabrik masalahnya belum kelar. Jadi, kemungkinan larut baru pulang atau bahkan menjelang dini hari. Entah apa masalahnya?

Aku ditugaskan untuk menjaga Tania dan menjaga rumah. Selepas isya Mbok Tini pun pamitan pulang, sebelum pergi beliau menuturkan jika Pak Ramat ada di gardu depan.

“Pak Ramat ada di pos satpam depan. Kalau ada apa-apa panggil saja dia,” ucap Mbok Tini dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi. Aku hanya mengangguk. Setelah itu Mbok Tini benar-benar pergi.

Aku mengintip kepergian Mbok Tini dari jendela dengan menyingkap sedikit gordennya. Saat dia sampai di pos satpam di halaman depan rumah yang terletak di samping pintu gerbang, kulihat Mbok Tini berbincang sejenak dengan Pak Ramat.

Terlihat jelas aktivitas mereka karena tersorot lampu penerangan di pos  dan lampu taman depan rumah. Entah berbincang soal apa? Tidak terdengar sama sekali ucapan mereka karena jaraknya dari tempatku mengintip kini sekitar 20 meteran. Tapi, gelagat keduanya terlihat mencurigakan. Selepas berbicara keduanya terlihat celingukan mengawasi sekitar seolah takut ketahuan. Aneh.

Segera menutup kembali gordennya lalu bergegas ke kamar Tania yang sudah berteriak-teriak memanggil.

Menaiki anak tangga dengan langkah cepat. Sampai di lantai atas lumayan ngos-ngosan. Capek.

“Iya Dek, kenapa?” tanyaku seraya membuka pintu kamarnya dengan gusar.

“Ada apa, Kak?” Tania malah balik bertanya. Dia terlihat santuy di atas kasur bersandar pada sandaran ranjang sambil main game di ponselnya. Lah, perasaan tadi teriak-teriak manggil-manggil minta tolong dan lain sebagainya.

“Kamu ngerjain kakak ya, Dek?” ketusku. Tania pun menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arahku yang masih berdiri di ambang pintu.

“Ngerjain apa, Kak? Aku dari tadi di sini main game,” balasnya, meyakinkan.

“Eum, tapi tadi ....” Enggak, aku nggak boleh bilang ke Tania kalau tadi aku dengar suara gaduh di kamar ini, yang ada nanti dia malah semakin ketakutan lagi dari malam sebelumnya.

“Tadi apa, Kak?” cecarnya.

Cepat aku menggeleng. “Sudahlah,  lupakan! Sudah malam, ayo tidur!”

“Is, Kakak, baru juga habis Isya,” rengeknya.

“Terserah dah, tapi jangan berisik dan jangan ganggu ya, kakak mau ngerjain tugas dari sekolah di sini.” Tania hanya menyahuti dengan gumaman matanya asyik menatap layar gawai.

Aku segera ke kamarku sendiri mengambil buku dan alat-alat yang aku perlukan. Lalu kembali lagi ke kamar Tania. Kemudian menutup pintunya dan melangkah masuk.   Menyalin pelajaran dari buku Tirta di sofa yang terletak di samping ranjang Tania sekalian menemaninya.

“Tinggal satu pelajaran lagi,” gumamku. Kemudian menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Capek. Kulihat Tania dia sudah tertidur pulas. Kemudian melirik jam yang menempel di  dinding. Sudah jam 9 lebih, tapi belum ada tanda-tanda ayah pulang. Mendadak cemas.

Baru saja akan kembali mencatat, mata mendadak lengket seolah tersirep. Benar-benar nggak bisa kutahan lagi kantuk melanda begitu hebatnya. Aku pun merebahkan diri di atas sofa.

**

Aku terbatuk lalu terbangun dan duduk. Seperti ada asap yang masuk menerobos hidung. Melihat jam di dinding sudah lewat jam 12 malam. Cukup lama aku tertidur. Mengendus menajamkan penciuman. Aroma kemenyan menyeruak. Segera beringsut dari sofa dan melihat ke kolong ranjang Tania. Sesajen itu ada lagi. Celingukan melihat ke sekeliling, sepi tidak ada orang. Tania masih tidur dengan pulasnya.

Kemudian aku keluar kamar setelah memeriksa seluruh penjuru kamar Tania hingga kamar mandi, tapi tidak kutemukan orang di sini. Tidak lupa aku kunci pintunya dan kubawa kuncinya agar sesajennya aman di tempat. Ingin kutunjukkan pada ayah nanti.

Bergegas ke kamar ayah, tapi masih kosong. Benar, ayah belum pulang.

Kemudian memeriksa seluruh penjuru ruangan. Tidak kutemukan ada orang di dalam rumahku. Mengintip ke pos satpam depan, Pak Ramat juga sudah tidak ada di sana. Lagi pula pintunya sudah kukunci semuanya. Jadi, tidak mungkin Pak Ramat bisa masuk. Lalu siapa yang memasang sesajen di bawah kolong ranjang Tania?

Saat sedang kebingungan memikirkan siapa pelakunya. Kudengar mobil ayah datang memasuki halaman depan lalu masuk ke garasi. Memarkirkan mobilnya.

Saat perkiraan ayah sampai di teras segera kubuka pintunya.

“Loh, kamu kok belum tidur, Nak?” Ayah terkejut melihat aku menyambutnya padahal malam sudah sangat larut.

“Kamu seharusnya nggak perlu nungguin ayah. Ayah bawa kunci serep kok, jadi nggak perlu khawatir atau takut ayah nggak bisa masuk rumah,” jelas ayah panjang lebar.

“Bukan itu, Yah.” Aku segera menarik lengan ayah menuju ke kamar Tania.

“Ada apa?” tanya ayah, saat kami masih menapaki anak tangga.

“Nanti juga Ayah tahu. Ayo Yah, cepetan!” ajakku, sambil mempercepat langkah. Lalu dengan gusar kubuka kunci kamar Tania.

Kemudian lanjut menarik lengan ayah masuk ke kamar Tania.

“Lihat Yah!” titahku, seraya menunjuk bawah kolong ranjang Tania.  Ayah pun berjongkok melihat ke bawah kolong ranjang Tania.

“Lihat apa?” tanya ayah, masih sambil berjongkok mengamati kolong ranjang.

Aku pun langsung menyusul berjongkok. Whaaat?! Sesajennya hilang lagi? Kok bisa? Padahal kan pintunya aku kunci, jendelanya juga.

Aku terdiam dilanda kebingungan hebat.

“Memangnya tadi ada apa?” cecar ayah, seraya menatapku intens. Baru saja aku berniat hendak menjelaskan pada ayah, Tania terbangun. Pasti karena kebisingan yang aku dan ayah ciptakan. Sehingga ayah memintaku agar menemani Tania. Dan aku pun urung bercerita.

“Ya sudah, ayah ke kamar ya, mau bersih-bersih badan.” Setelah kuangguki, ayah pun pergi ke kamarnya sendiri.

Sementara aku berbaring di sebelah Tania, masih diliputi rasa bingung dan penasaran soal sajen tadi.

***

“Ini bukunya. Terima kasih,” ucapku seraya menyodorkan buku catatan milik Tirta yang waktu itu dipinjamkan padaku. Tidak ada jawaban, Tirta langsung mengambil bukunya begitu saja lalu memasukkan ke dalam tasnya. Lantas pergi keluar kelas.

Dasar aneh!

Kalau enggak ikhlas kenapa kasih pinjam, coba?

Sikapnya yang berubah-ubah membuatku semakin penasaran padanya.

Kadang aku merasa takut dengan dia, kadang kangen, kadang ingin berlama-lama dengannya, kadang ingin cepat menjauh dari dekatnya. Terkadang sebel dan masih banyak lagi. Rasanya nano-nano.

***

Sudah ke enam kalinya sesajen di pasang di bawah kolong ranjang Tania. Malam ini aku hampir berhasil menangkap pelakunya, tapi sayangnya menghilang saat kukejar hingga ke dalam gudang bawah tanah.

Kalau dilihat dari postur tubuh  pelaku, sepertinya dia seorang wanita. Menggunakan tudung kepala pashmina warna hitam yang  kedua ujungnya dililitkan ke leher, dan wajahnya ditutup memakai masker. Sehingga yang terlihat hanya bagian mata, itupun aku melihatnya hanya sekilas saja. Sulit kukenali.

*** 

“Bye, Sayang. Sekolah yang bener!” ucap ayah, selepas aku turun dari mobil.

Aku menautkan jempol dengan jari telunjuk membentuk huruf O. “Oke, siap Bos!” ucapku kemudian, lalu memberi hormat. Ayah pun pergi setelah mengantarku hingga depan gerbang sekolah.

Sementara aku memasuki area sekolah, dan langsung ke kelas.

Sesampainya di dalam kelas aku merasa heran dan bingung. Banyak sekali kartu ucapan yang ditaruh di atas mejaku. Padahal aku tidak sedang ulang tahun atau menang kompetisi dan semacamnya.

“Ini kartu apa?” tanyaku pada salah satu teman sekelas, seraya menunjuk ke atas meja.  Di sana ada beberapa kartu ucapan.

“Lihat aja!” titahnya.

Aku pun mulai membuka kartu ucapan itu satu persatu.

What?

Ucapan selamat karena aku orang pertama yang mampu bertahan duduk sebangku dengan Tirta hingga sebulan lamanya.

“Ini maksudnya apa, ya?” tanyaku pada teman sekelas. Dapat dipastikan dahiku berkerut.

Rahma teman sekelasku mendekat. “Iya, jadi, kamu itu orang pertama yang mampu bertahan duduk bersebelahan dengan Tirta hingga sebulan lamanya. Rekor ini,” ucapnya kemudian.

Aku nyengir, mengerutkan dahi, bingung. Masih belum paham maksudnya Rahma.

“Iya, kamu orang pertama yang betah duduk bersebelahan dengan Tirta hingga sebulan lamanya. Dulu-dulu ada yang kuat dengan segala keanehan Tirta hanya seminggu paling lama  kuat duduk di sini,” imbuhnya, seraya memegang sandaran kursiku.

Aku mencebikkan bibir, Memgedikkan bahu. “Menurutku Tirta nggak seseram itu sih,” ceplosku.

“Naaah, ini juga rekor. Baru kamu yang bilang begini.” Rahma menyahut dengan cepat. Aku menunduk. Entahlah, wajahku mendadak menghangat. Semakin menunduk malu saat Rahma dan beberapa teman sekelas yang lain pada bersorak ‘ciya-ciye'.

Sorakan mereka terhenti oleh bel tanda masuk dan kedatangan Tirta.

Berkali-kali aku melirik ke arah Tirta berada. Hingga akhirnya tatapan kami beradu dalam hitungan detik. Sorot matanya yang entahlah. Aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Yang pasti aneh. Kurasa dia menyadari lirikanku. Segera kualihkan pandanganku ke arah papan tulis di depan kelas. Salah tingkah.

Sekali lagi kulirik dia sedikit. Ia sedang menatapku tajam seolah tak suka kuperhatikan sedemikian rupa. Membuatku ketakutan saja. Ngeri kalau ia kambuh seperti saat dulu, saat dia tiba-tiba berteriak histeris atau saat mendorongku hingga terjengkang dulu.

Aku tak punya keberanian untuk menatap mata elangnya. Memilih fokus menulis dan menyimak penjelasan Bu Guru. Hingga akhirnya bel tanda istirahat berbunyi.

Aku segera berlari keluar kelas. Tidak tahan berlama-lama berada di samping Tirta. Rasanya panas sekali. Entahlah.

Setelah mengambil sebotol minuman dingin dari showcase lemari pendingin yang ada di kantin. Aku segera duduk di salah satu bangku kosong. Lalu menenggak isinya hingga menyisakan separuh. Lumayan membantu mendinginkan tubuh juga otak selepas menerima pelajaran di kelas dan perlakuan Tirta juga masalah yang terjadi di rumah.

Semua membuatku merasa lelah.

Sepertinya aku harus mulai lebih giat lagi mencari cara untuk mengungkap jati diri si pemasang sesajen itu. Takutnya di balik pemasangan sajen itu ada niat buruk yang terselubung.

“Hai,” sapa seseorang  dari arah belakangku duduk dibarengi dengan tepukan di bahu sisi kanan ini. Aku tersentak dari lamunan. Lalu menoleh memastikan siapa pemilik tangan dan suara yang sudah berhasil mengejutkan aku itu.

Dian?

Tangannya masih menempel di pundak ini. Sementara kedua matanya tertutup dan kepalanya menggeleng ke kirir dan kanan. Aneh sekali. Kenapa dia?

Setelah itu dia membuka matanya dan menarik napas pajang seperti habis tenggelam saja.

“Kamu kenapa?” tanyaku kebingungan.

Dian langsung menggeser kursi di sampingku yang kebetulan kosong lantas mendudukinya, dan menatapku intens.

“A-ada ap-apa?” Aku tergagap. Merasa risih karena diperhatikan sedemikian rupa.

“Kamu lagi banyak yang dipikirin, ya?” Dian malah balik bertanya. Masih sambil memperhatikan aku.

Sebelas duabelas nih dengan Tirta kayaknya. Aneh.

“Ma’af bukannya mau pamer kebisaan atau gimana-gimana, tapi aku melihat gambaran ada sajen, wanita bertudung, dan melihat kamu sedang mengejar wanita itu. Benar begitu?”

Whaat? Kok Dian bisa tahu? Dia anak paranormal kah?

“Kamu anak indigo, ya?” tanyaku asal nyeplos.

“Banyak yang menganggap seperti itu, tapi sebenarnya aku nggak suka disebut begitu,” jawabnya. Kemudian dia menghela napas pajang.

“Kalau begitu kamu bisa bantu aku mengungkap siapa pemasang sajen di bawah kolong ranjang adikku?” tanyaku. Berharap atas izin Tuhan dia bisa membantuku mengungkap masalah sajen ini.

Baru saja Dian hendak menjawab, bel tanda masuk kembali bunyi.

“Ah, sudah waktunya masuk kelas. Lain kali kita sambung lagi ya, obrolannya,” ucap Dian. Lantas dia berdiri dan mengayunkan langkahnya.

“Ran!” panggilnya.  Aku pun menoleh ke arah Dian berdiri. Urung membayar sebotol minuman dingin yang sudah habis kutenggak. Kemudian dia melangkah mendekatiku lagi.

“Iya, kenapa?” tanyaku tak sabar.

Dian kembali memegang sisi bahu ini. “Sebaiknya kamu berhati-hati, karena sepertinya orang yang memasang sajen di kolong ranjang adikmu itu punya niat jahat,” jelasnya kemudian.

Membuatku semakin khawatir dan takut saja. Selepas memberitahu hal itu dia pergi ke kelasnya. Pun denganku, selepas membayar minuman aku ke kelas.

Di kelas aku jadi tidak fokus mengikuti dan menyimak pelajaran terakhir. Terus kepikiran akan ucapannya Dian. Bagaimana kalau benar ternyata di balik pemasangan sajen itu terselubung niat jahat? Apa yang akan terjadi pada Tania?

*** 

Malam ini aku berpikir keras, mengingat kapan saja dan hari apa saja sajen itu dipasang. Setelah ingat aku segera melihat tanggalan yang tertempel di dinding.

Fix, terakhir kali sajen dipasang malam jum’at pon, lalu sebelumnya malam minggu pon. Kenapa sajen dipasang setiap malam pon?

Ada apa dengan malam pon hari pasaran jawa ke tiga itu?

Bergegas ke kamar ayah berniat hendak menanyakan soal malam pon. Kubuka perlahan daun pintu kamar ayah. Takut mengagetkan. Urung masuk saat kudengar ayah menelepon, dan sedang membicarakan soal sajen juga tumbal dengan seseorang di ujung telepon sana.

N E X T

👇👇👇

Terpopuler

Comments

👑Ria_rr🍁

👑Ria_rr🍁

Rania jangan terlalu anu

2022-08-06

0

Jony Putri

Jony Putri

Lagi maraton nih

2021-06-02

1

Yeni Yulianti

Yeni Yulianti

semangat trs

2021-01-25

0

lihat semua
Episodes
1 Rumah Baru
2 Sekolah Baru
3 Teman Baru
4 Sesajen Di Kolong Ranjang Tania
5 Sesajen Di Belakang Sekolah
6 Sajen Itu Ada Lagi
7 Ada Sajen Di Sawah
8 Curiga
9 Kesal
10 Pulang Dari Rumah Sakit
11 Tidak Mungkin Ayah Pelakunya
12 Mencari Pelaku
13 Pergi
14 Hilang
15 Tertangkap
16 Disekap
17 Ruang Pembantaian
18 Hanyut
19 Sadar
20 Sosok Yang Menyerupai Tania
21 Astral Projection
22 Kembali Dari Dunia Gaib
23 Mata Batin Bayu
24 Tolong
25 Mimpi Buruk
26 Gugur
27 Perpisahan
28 Mendadak Indigo
29 Sampai Tujuan
30 Kejanggalan
31 Misteri Keberadaan Tirta
32 Sihir Di Pabrik Singkong
33 Sepotong Kabar Soal Tirta
34 Pengendara Motor Ninja
35 Ke Danau
36 Mulai Menjalankan Misi
37 Tersesat Di Makam Angker
38 Bola Api
39 Gagalnya Rencana A
40 Rencana B
41 Ada Udang Di Balik Batu
42 Ritual Penumbalan
43 Tragedi Di Makam Tua
44 Teror Arwah Sekar
45 Angin Aneh
46 Tangisan Misterius
47 Minder
48 Sah!
49 Kerasukan di Malam Pertama
50 Bulan Madu
51 Gagal Romantis
52 Sesajen
53 Memancing
54 Tertangkap
55 Selamat
56 Disandera
57 Satu Ruangan dengan Hantu dan Hewan Berbisa
58 Bebas
59 Penunggu Rumah Sebelah
60 Kerasukan
61 Viral
62 Kecelakaan
63 Serangan
64 Gentayangan
65 Perjalanan
66 Tersesat
67 Terjebak di Dunia Lain
68 Penjara Jiwa
69 Banas Pati
70 Malih Rupa
71 Walik
72 Hantu Introvert
73 Telepon
74 Tipu Muslihat
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Rumah Baru
2
Sekolah Baru
3
Teman Baru
4
Sesajen Di Kolong Ranjang Tania
5
Sesajen Di Belakang Sekolah
6
Sajen Itu Ada Lagi
7
Ada Sajen Di Sawah
8
Curiga
9
Kesal
10
Pulang Dari Rumah Sakit
11
Tidak Mungkin Ayah Pelakunya
12
Mencari Pelaku
13
Pergi
14
Hilang
15
Tertangkap
16
Disekap
17
Ruang Pembantaian
18
Hanyut
19
Sadar
20
Sosok Yang Menyerupai Tania
21
Astral Projection
22
Kembali Dari Dunia Gaib
23
Mata Batin Bayu
24
Tolong
25
Mimpi Buruk
26
Gugur
27
Perpisahan
28
Mendadak Indigo
29
Sampai Tujuan
30
Kejanggalan
31
Misteri Keberadaan Tirta
32
Sihir Di Pabrik Singkong
33
Sepotong Kabar Soal Tirta
34
Pengendara Motor Ninja
35
Ke Danau
36
Mulai Menjalankan Misi
37
Tersesat Di Makam Angker
38
Bola Api
39
Gagalnya Rencana A
40
Rencana B
41
Ada Udang Di Balik Batu
42
Ritual Penumbalan
43
Tragedi Di Makam Tua
44
Teror Arwah Sekar
45
Angin Aneh
46
Tangisan Misterius
47
Minder
48
Sah!
49
Kerasukan di Malam Pertama
50
Bulan Madu
51
Gagal Romantis
52
Sesajen
53
Memancing
54
Tertangkap
55
Selamat
56
Disandera
57
Satu Ruangan dengan Hantu dan Hewan Berbisa
58
Bebas
59
Penunggu Rumah Sebelah
60
Kerasukan
61
Viral
62
Kecelakaan
63
Serangan
64
Gentayangan
65
Perjalanan
66
Tersesat
67
Terjebak di Dunia Lain
68
Penjara Jiwa
69
Banas Pati
70
Malih Rupa
71
Walik
72
Hantu Introvert
73
Telepon
74
Tipu Muslihat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!