***
“Loh, Mbok, di mana Ayah?” tanyaku pada Mbok Tini yang sibuk menyiapkan menu sarapan di meja makan. Biasanya jam segini Ayah sudah duduk menungguku dan Tania di ruang makan. Tentu memantik rasa penasaran saat Ayah tidak kudapati di kursinya.
“Sudah berangkat kerja,” jawab Mbok Tini dengan gaya khasnya dingin tanpa ekspresi.
Aku hanya mengangguk pelan kemudian ber-oh ria.
Tak berapa lama ponselku berdering, Ayah kirim pesan. Memberitahu jika ia harus ke pabrik lebih awal karena ada kerjaan yang perlu penanganan segera. Serta menyuruhku untuk berjalan kaki ke sekolah atau naik ojek.
***
“Kita jalan kaki, Kak, ke sekolahnya?”
“Iya, mau bagaimana lagi. Deket ini sekolahnya,” jawabku.
“Deket sih, Kak, tapi kan jalannya naik turun dan berkelok. Capek, Kak,” rengeknya.
“Ya sudah, ayo sini kakak gendong. Mau?” Cepat Tania menggeleng. Kemudian bersungut kesal, dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki.
“Kalau kamu jalannya macam itu yang ada malah cepet capek, Dek. Jalannya biasa aja, yang santai gitu loh.”
Tania malah menghentikan langkahnya. Dasar manja! Baru juga jalan sekali sudah banyak mengeluh.
“Hai, tumben kalian jalan kaki. Biasanya diantar,” tanya Bayu, yang kebetulan baru berangkat sekolah juga.
“Kok tahu kalau aku sama adekku biasa diantar? Kita kan beda sekolah,” sahutku.
“Tahulah, dari Tirta.”
Hatiku menghangat tiba-tiba saat nama Tirta disebut oleh Bayu.
“Kamu pasti capek ya, ya sudah, sini naik di sepeda kakak!” titah Bayu pada Tania, dan Tania pun langsung naik.
“Ya ampun, Dek. Ih, ngerepotin orang aja pagi-pagi!” omelku.
“Nggak repot kok,” sahut Bayu, sambil menuntun sepedanya yang di atasnya ada Tania duduk dengan santainya. Bak putri raja saja.
“Maaf ya, Bay!” ucapku tak enak hati.
“Santai aja kali,” sahut Bayu, sambil mengedikkan alisnya. Tengilnya mulai kumat nih, kayaknya.
“Sudah sampai. Ayo turun! Nyusahin orang aja!” omelku, sambil menurunkan Tania dari sepeda Bayu.
“Jangan diomelin terus adiknya, kasihan. Nggak repot kok. Aku ikhlas ngelakuinnya.”
“Ayo bilang apa sama Kak Bayu?”
“Terima kasih, Kak!” ucap Tania, kemudian.
Bayu mengangguk, kemudian mengusap pipi cuby Tania.
“Ya sudah, sana masuk ke sekolah. Kakak lanjut jalan ke sekolah kakak, ya.” Tania mengangguk lalu berlari masuk ke area sekolahnya.
Sementara aku melanjutkan langkah menuju ke sekolahku yang masih beberapa ratus meter ke depan lagi jauhnya. Pun dengan Bayu. Kami berjalan beriringan sambil bercerita banyak hal. Bayu sambil menuntun sepedanya.
Aku juga menceritakan tentang penemuan lorong bawah tanah di rumahku.
“Kalau begitu kita harus selidiki lorong itu!” ajak Bayu, dan aku pun mengangguk setuju.
“Aku sudah sampai di sekolahku,” ucapku. Lantas menghentikan langkah tepat di depan gerbang sekolah.
“Kalau aku masih harus melanjutkan langkah hingga bebeberapa ratus meter ke depan,” ujar Bayu, dan kami lanjut terkekeh.
“Oke, semangat dan hati-hati di jalan!” Bayu hanya menjawab dengan anggukan. Kemudian dia lanjut mengayuh sepedanya. Sementara aku masuk ke sekolah.
“Hai,” sapaku pada Tirta saat sampai di kelas dan dia sudah duduk di bangkunya, tapi tidak mendapat respon. Dia diam tanpa kata juga tanpa ekspresi.
Oke, baiklah. Tunggu pembalasanku!
“Tadi bareng Bayu?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam. Aku tak menggubrisnya. Biar dia juga tahu gimana rasanya dicuekin.
Braaak!
Tirta menggebrak meja secara tiba-tiba lalu tanpa merasa bersalah berjalan keluar kelas.
Aku terlonjak. Kaget. Pun dengan beberapa teman lainnya yang kebetulan ada di dalam kelas.
Emosiku tersulut, lantas kukejar dan kudorong dadanya dari arah depan hingga punggungnya membentur tembok.
“Mau kamu itu apa sih, hah? Kamu sendiri kalau ditanya, disapa, kadang nggak jawab. Giliran dibales dicuekin kamu marah!” omelku.
“Udah ngomelnya?” sahutnya dingin. Mataku membulat sempurna melihat tanggapannya.
“Kalau sudah, aku mau ke toilet. Mau ikut?” imbuhnya.
“Kalau mau ke toilet, ya, ke toilet aja!” ketusku.
“Ya, kalau gitu lepasin tangannya.”
“Ya ampun,” desisku, saat menyadari aku sudah lancang telah mencengkeram kerah baju Tirta, dan segera kulepaskan. Setelah itu dia pergi sambil membenarkan kerah bajunya yang berantakan akibat kebrutalanku.
Oh my God! Kenapa aku sebrutal tadi, sih? Aduh sumpah malu banget. Mana jadi perhatian siswa siswi lain lagi. Aku terduduk di bangku memanjang di depan kelas mengusap wajah dengan kasar.
Ck, kenapa aku tadi sampai lepas kontrol begitu, sih? Duh, malu banget dan merasa bersalah terhadap Tirta. Apa yang harus aku lakukan?
Berdiri dari duduk dengan sekali hentakan saat mendapati Tirta berjalan di depanku, dan segera kucekal lengannya. Otomatis langkah Tirta pun terhenti.
“Ak-aku em-min-minta maaf soal tadi. Ak-aku nggak tahu kenapa ... eum, kenapa aku jadi seperti tadi,” ucapku terbata. Gerogi, malu, merasa bersalah berpadu jadi satu.
Tirta tidak menjawab, hanya menepis perlahan tanganku yang menggenggam lengannya. Lalu masuk ke kelas.
Aku berjalan dengan langkah lesu ke kelas beberapa meter di belakangnya. Sedih, dan takut kalau Tirta marah dan jadi ilfeel padaku selamanya.
Saat sampai di bangku tempatku duduk, aku memutuskan untuk menulis kata ‘maaf' pada secarik kertas lalu kugeser perlahan ke depan Tirta. Dia bergeming hanya melihat kertas di depannya itu. Tidak adakah niat untuk membalas.
Argh, bodo amatlah yang penting aku sudah minta maaf. Akhirnya aku pasrah.
Guru sudah datang, dan kami pun mulai khusyuk mengikuti pelajaran pertama.
Saat aku sedang kebingungan memikirkan jawaban salah satu soal yang sangat sulit menurutku. Tiba-tiba Tirta menaruh secarik kertas di atas pangkuanku.
Sontak membuatku melirik ke arahnya sekilas. Selepas menaruh kertas yang dikepal itu Tirta pun kembali fokus menulis seolah tidak terjadi apa-apa.
Perlahan kuambil kertas di pangkuan dan membukanya perlahan. Ternyata rumus jawaban soal yang membuatku kesulitan. Senyum tersungging di bibirku. Ini kuanggap sebagai pertanda bahwa Tirta sudah memaafkan aku.
***
Sepulang sekolah saat aku sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah, Abdi dan teman-temannya datang menghampiriku.
“Gini Ran, aku dapat undangan ke acara ulang tahun temen sekelas. Kalau mau datang ke acara tersebut harus bawa temen atau gandengan gitu. Kira-kira kamu mau nggak ikut dan jadi temenku hadir di pesta itu,” ujarnya setelah sebelumnya kami saling basa-basi.
“Eum, gimana ya, aku nggak bisa janji soalnya Ayahku jarang ngizinin ke acara beginian,” jawabku apa adanya. Abdi mengangguk paham.
“Oke, tapi kalau ayahmu kasih izin berarti kamu mau dong ikut jadi pendampingku ke pesta itu.”
“Eum, mungkin,” jawabku, lanjut memasang cengir kuda.
“Ya sudah, kalau gitu aku ikut nunggu ayahmu deh, mau minta izin sama beliau,” ujarnya.
“Terserah,” sahutku.
Beberapa saat kemudian ponsel Abdi berdering. Setelah menerima telepon dia bergegas pamit pulang duluan. Konon ada yang urgen di rumahnya.
“Iya, hati-hati di jalan,” pungkasku, dan Abdi beserta gengnya pun pulang duluan.
Selepas itu gantian ponselku yang berdering notifikasi pesan masuk. Segera kubuka dan kubaca pesan dari Ayah yang memberitahukan bahwa dia tidak bisa menjemput.
“Coba kalau nggak bisa jemput itu bilang dari tadi, kan mayan aku udah dapat setengah jalan. Huh, pulang pergi jalan kaki,” dumelku.
“Tunggu!” panggil seseorang dari arah belakang saat aku hendak mengayunkan langkah. Aku pun menoleh ke belakang.
Tirta ....
“Sebaiknya kamu jangan mau pergi dengan Abdi!” celetuknya.
“Dih, nguping ya?” godaku, seraya menunjuk ke arahnya.
“Bukan nguping, tapi nggak sengaja dengar,” dalihnya.
Aku mencebik. “Memangnya kenapa nggak boleh?” tanyaku kemudian.
“Pokoknya jangan!” tegasnya.
“Cemburu, ya?” Lagi, aku menggodanya.
“Jangan GR kamu!” sentaknya.
“Aku Cuma nggak mau kamu bernasib sama dengan Lani,” imbuhnya.
“Lani itu siapa?” tanyaku penasaran, sambil mengekor berjalan di belakang Tirta yang tengah menuntun sepedanya. Saat Tirta hedak menjelaskan siapa itu Lani, aku menyejajarkan langkahku sehingga kini kami berjalan seiring.
Dan Tirta pun menceritakan siapa itu Lani. Lani siswi yang mati bunuh diri karena hamil, dan menurut penglihatan Tirta pelakunya adalah Abdi, tapi Tirta tak punya bukti untuk menuduh Abdi. Sehingga dia hanya bisa diam serta sambil terus mencari bukti.
Antara percaya dan tidak mendengar penjelasan dari Tirta. Soalnya selama ini kelakuan Abdi terlihat baik dan sopan tidak aneh-aneh. Tapi tidak ada salahnya mendengarkan nasehat dari Tirta.
“Kenapa berhenti?” tanyaku. Saat Tirta menghentikan langkahnya.
“Sudah sampai. Ini rumahmu ‘kan?” Aku mengamati sekitar. Kemudian nyengir kuda. Menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.
Saking asyiknya bercerita ini itu dengan Tirta, aku sampai tidak menyadari sudah sampai mana.
Aku terlalu menikmati momen bersama Tirta hari ini. Soalnya baru kali ini kami berbicara banyak di selingi canda dan tawa kecil. Rasanya ingin berlama-lama dengannya hari ini.
“Ya sudah, masuk sana! Kok malah bengong?” ujar Tirta.
“Oh iya, eum, mari mampir!” ajakku basa-basi, tapi penuh harap dia mau mampir barang sejenak.
“Terima kasih,” balasnya. Lalu menaiki sepedanya, dan pergi.
Sementara aku masuk ke halaman rumah dengan langkah lesu. Duduk sejenak di kursi yang ada di teras. Rasanya indah saat membayangkan momen perjalanan pulang bareng Tirta tadi.
“Non, kenapa senyum-senyum di situ?” Suara bariton Pak Ramat mengagetkan aku. Cepat aku menggeleng. Kemudian masuk ke dalam rumah.
Saat sampai di depan kamar Tania, aku merasa heran karena suasana di dalam sangat senyap. Perlahan kubuka pintunya dan melongokkan kepala ke dalam. Sepi, Tania tidak ada di dalam. Lantas kulihat ke dalam kamar mandi. Namun, di kamar mandi juga tidak ada. Lanjut mencari ke seluruh penjuru ruangan. Tania tak kutemukan.
Lantas kutanyakan pada Mbok Tini akan keberadaan Tania.
“Tadi izin main ke rumah temannya,” jawab Mbok Tini. Dingin.
“Hah?!” Aku terkejut dan melongo. Aneh, tidak biasanya Tania begini. Lagian main ke rumah temannya yang mana?
“Teman? Temannya yang mana, Mbok?”
“Saya ndak merhatikan!” ketus Mbok Tini.
“Oke, arah perginya ke mana, Mbok?” tanyaku gusar. Entah kenapa perasaanku mendadak khawatir. Setelah ditunjukkan ke mana arah perginya Tania, aku segera berlari pergi mencarinya.
N E X T
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
Eh Tania pergi ke mana Thor
2022-08-08
0
🎭sᷧaᷞN͢dh͠ya⁶⁹☣<em><big>
dkit² malu dkit² emosi gtu za trs
2021-01-16
0
Wati Simangunsong
mbok tini jd curiga.baik atw jahatt
2021-01-08
0