***
Akhirnya cairan infusnya habis juga, dan langsung diperbolehkan pulang oleh dokter.
Sesampainya di rumah aku dan ayah langsung disambut oleh tangisnya Tania. Takut katanya. Entah takut karena apa? Saat aku dan ayah tanyakan takut apa? Tania hanya terus menangis.
Sementara Mbok Tini juga tidak tahu penyebab ketakutan Tania.
“Sudah ya, tenang! Kakak sama Ayah kan sekarang sudah di sini,” ucapku seraya memeluk Tania yang masih terisak.
**
Sebelum Tania terlelap, aku kembali mengorek informasi. Menanyakan tadi sore takut sama apa? Tapi, Tania enggan bercerita. Membuatku khawatir saja.
Seperti biasa, setelah Tania terlelap aku pindah ke kamarku sendiri.
Sesampainya di kamarku sendiri, aku langsung menghempaskan tubuh lelahku di atas kasur.
Kembali bangun saat ingat titipan Tirta. Segera bangkit dari kasur dan bergegas ke meja belajar. Membuka paper bag dari Tirta.
Ternyata isinya buku pelajaran hari ini. Terdapat secarik kertas yang bertuliskan agar aku mencatat pelajarannya. Dan setelah selesai aku disuruh mengembalikan bukunya. Hanya itu.
Kupikir sesuatu yang spesial. Nyatanya cuma buku doang.
Bahkan di suratnya dia tidak mengucapkan semoga cepat sembuh atau semacamnya. Dasar nggak peka!
***
Kembali menjalani rutinitas seperti hari sebelumnya. Sekolah.
Selepas menaruh tas, aku melipat tangan di atas meja lalu menenggelamkan kepala di selanya.
“Bukunya mana?”
Itu suara Tirta. Setelah aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah suara. Ternyata benar itu Tirta.
“Nyatet juga belum,” ketusku.
“Buruan catet! Terus balikin!” titahnya dengan nada ketus dan wajah tanpa ekspresi. Dingin. Sedinging kutub utara.
“Kamu pikir aku robot! Kalau nggak ikhlas ngapain minjemin? Lagipula aku nggak ....”
Aku menghentikan ucapanku. Karena Tirta pergi begitu saja tanpa permisi. Ke luar kelas.
Enggak sopan! Orang lagi ngomong ditinggalin.
Mau ke mana, sih? Pasti mau nemuin si Dian itu.
Bener kan? Ketemuan sama si Dian itu. Kulihat Tirta berbincang dengan Dian di depan pintu kelas lalu pergi.
Aku jadi kepo. Sebenarnya mereka mau ke mana, dan ada hubungan apa?
Ikutin, ah.
Berjalan mengendap layaknya orang mau maling jambu. Mengikuti Tirta dan Dian dari jarak puluhan meter di belakangnya. Menyelinap di balik tempat sampah, tembok, daun pintu, saat mereka berdua menoleh ke belakang. Sepertinya mereka merasa diikuti.
Langkahku terhenti saat melihat mereka berdua berjalan menuju ke halaman belakang sekolah. Ke tempat pohon besar yang waktu itu dipasangi sesajen. Mau apa mereka ke sana?
Berhenti di ujung teras belakang kalas. Melihat aktifitas keduanya dari balik pohon bunga yang ditanam di pot-pot besar belakang sekolah.
Tanganku terkepal sempurna, hati kembali menghangat saat melihat Tirta menangkap tubuh Dian yang hampir terjatuh akibat tersandung akar pohon besar itu. Dasar genit!
Aku pikir kamu cowok yang berbeda Tirta, tapi nyatanya sama saja. ********! Modus! Ganjen! Nyebelin! Munafik!
Tanpa sadar aku menendang pot sebesar gentong dengan kuat.
“Aww!” ringisku. Sehingga menarik perhatian Tirta dan Dian. Berjongkok sambil membungkam mulut agar tidak ketahuan oleh mereka.
“Denger suara nggak?” tanya Dian, terdengar jelas dari tempatku bersembunyi.
“Iya, denger. Kayaknya dari arah sana.”
Kulihat dari sela daun bunga sepatu yang lumayan rimbun Tirta berucap seraya menunjuk ke arah sini.
Duh, enggak lucu kalau tercyduk mengintip.
Aku merangkak, saat sampai di ujung teras belakang bermaksud hendak berdiri dan berbelok menyusuri koridor kelas menuju ke halaman depan sekolah. Namun, Tirta sudah berdiri tepat di hadapanku dengan bersedekap tangan. Dan tatapan dingin sedingin freezer.
“Jadi orang jangan kepo! Atau kamu bakal menerima akibatnya!” ancamnya. Lalu pergi. Dian menahan tawa berjalan mengekori Tirta.
Sial, sial, sial! Huh, kenapa mesti ketahuan, sih!
Terlanjur malu. Aku memilih pergi ke kelas dan berdiam diri di dalam kelas.
Saat kulihat Tirta di ambang pintu hendak memasuki kelas, aku segera mengambil buku pelajaran dan pura-pura membacanya. Padahal aslinya hanya untuk menutupi wajah maluku.
Tanpa permisi dan tanpa bicara Tirta menyahut buku di tanganku yang kutaruh di depan wajah lalu membenarkan posisinya.
Yaelah, napa pake acara kebalik segala sih, ini buku? Kagak bisa diajak kompromi banget dah, ah!
Mengintip sedikit dari balik buku yang masih pura-pura kubaca. Tirta kembali keluar kelas setelah mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Dasar aneh.
Kuletakkan buku di atas meja lagi dengan sedikit bantingan. Entahlah, akhir-akhir ini kenapa aku mendadak sering uring-uringan begini.
***
“Ada titipan salam dari Bayu,” ucap Tirta, seraya berlalu di sampingku berdiri saat aku menunggu jemputan. Sepulang sekolah.
Aku hanya bergeming. Kemudian Tirta mengayuh sepedanya. Pulang mungkin. Entahlah.
“Hai,” sapa seseorang dari arah belakangku berdiri sambil menepuk bahuku. Saat aku sedang serius mengamati punggung Tirta yang semakin menjauh.
N E X T
⬇⬇⬇
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
isin aku bacanya😂😂😂😂
2022-08-06
0
Astuty Nuraeni
Malunya double nggak tuh hahaha
2022-08-04
0
Yeni Yulianti
semangat thoor
2021-01-25
0