***
“Haaaarrrrr!” Seseorang di depan kami mengaum layaknya singa, dan melakukan gerakan seolah ingin menerkam aku dan Tania. Sontak Tania pun semakin histeris lalu beringsut bersembunyi di balik badanku. Ketakutan.
Aku lalu menuntun Tania menjauh dari orang aneh tersebut. Saat jarak kami sudah lumayan jauh, kami kompak menoleh ke belakang dan kudapati orang tersebut sedang tertawa terbahak. Aku dan Tania saling pandang. Bingung dengan tingkah orang tersebut.
Kenapa hampir semua orang di desa ini aneh-aneh kelakuannya?
“Aaaaak!” Aku dan Tania kembali histeris, terlonjak, kaget. Saat balik badan dan tepat di hadapan kami terdapat seorang cowok berdiri tanpa ekspresi. Tirta.
“Kalian kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?” tanyanya.
Aku menggeleng, sementara Tania menunjuk ke arah cowok di dekat gubuk yang masih terpingkal-pingkal. Belum berhenti tertawa. Pandangan mata Tirta pun mengikuti arah yang ditunjuk Tania.
“Ada orang gila, Kak,” terang Tania dengan gaya polosnya. Masih sambil menunjuk ke arah gubuk.
Tirta tersenyum kecil seraya mengusap pipi cuby Tania. OMG! Ternyata dia manis juga kalau tersenyum. Ini kali pertama aku melihat dia tersenyum.
Aku pikir bibirnya kaku, tidak bisa tersenyum. Ternyata bisa juga dia tersenyum, tapi sangat irit dan pelit.
“Itu teman kakak, pasti tadi kalian dijahili sama dia, ya?” Cepat Tania mengangguk. Mengiyakan.
“Dia memang begitu orangnya. Jahil dan suka iseng,” terang Tirta.
“Bay, sini!” pekiknya, seraya melambai memanggil temannya yang sama anehnya dengan dirinya itu agar mendekat ke tempat kami berada.
“Oke,” jawab temannya dengan nada memekik di sela kekehan. Kemudian melangkah mendekat ke arah kami berada.
“Lu tadi apain mereka sampai ketakutan gini?” tegur Tirta, seraya menepuk bahu temannya itu. Dan lagi, temannya tertawa terbahak.
“Oh ya, kenalan dulu dong. Aku Bayu,” ucap teman Tirta seraya mengulurkan tangan setelah berhenti tertawa. Lantas kusambut uluran tangannya kemudian aku menyebutkan namaku juga memperkenalkan adikku.
“Oh, jadi ini cewek yang sering Lu ceritain ke gua?” ceplos Bayu.
Kemudian mereka berbisik, entah berbisik apa. Aku menunduk malu. Apa benar Tirta sering menceritakan soal aku ke temannya itu? Mendadak deg-degan.
“Sorry Bro, Lu tahu gue ‘kan. Mulut gue ini remnya nggak pakem,” ujar Bayu pada Tirta. Sontak membuatku menunduk menahan tawa. Tirta terlihat marah karena sahabatnya itu sudah membuka sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia di antara mereka saja.
Kemudian Tirta mengalihkan pembicaraan. Menerangkan siapa Bayu, padaku. Bayu sahabatnya Tirta, tapi bersekolah di sekolahan lain. Begitu terangnya.
“Oh, pantesan aku nggak pernah lihat Bayu sebelumnya,” ucapku.
“Sayang ya, coba aja kita dipertemukan lebih awal. Mungkin bakal beda lagi ceritanya,” gumam Bayu, tapi terdengar jelas di telinga ini. Dahiku berkerut dibuatnya. Tidak mengerti dengan ucapannya.
“Eum, maksudnya?” tanyaku kemudian.
“Ah, lupakan! Nggak penting,” balas Bayu seraya mengibaskan tangan di depan wajahnya.
Lagi, Bayu dan Tirta berbisik. Entah berbisik apa lagi.
“Bisa nggak kadar ketengilan Lu itu dikurangi?” sentak Tirta pasca berbisik.
“Ya elah, selow Bro. Gue kan cuma canda,” dalih Bayu.
Aku mengulum bibir menahan tawa.
Lantas mereka berdua mengajak aku dan Tania jalan-jalan keliling desa.
Saat ada kesempatan aku menanyakan soal sesajen yang diletakan di gubuk tadi. Ternyata sajen tersebut dipasang untuk mengusir hama. Warga desa sini masih kental dan percaya dengan hal-hal klenik semacam itu.
“Bukannya kalau mau mengusir hama itu pakai racun, ya.”
“Seharusnya begitu,” sahut Tirta.
“Itulah uniknya warga desa sini. Masih sulit meninggalkan klenik dan semacamnya.” Bayu menimpali.
“Apa tidak ada orang yang mengingatkan atau berusaha merubah tradisi di sini?” tanyaku. Kepo maksimal.
“Ada, tapi nggak mempan. Tradisi semacam ini sudah mendarah—daging di sini,” jelas Bayu. Aku hanya bisa mengangguk dan ber-oh ria.
Setelah capek keliling desa, Bayu mengajak kami semua untuk istirahat sejenak di pinggir sebuah danau. Tempatnya indah dan sejuk. Banyak aneka warna bunga rumput liar. Sehingga mengundang aneka kupu-kupu untuk berkumpul di sekitaran danau. Aku dan Tania terkesima dibuatnya.
Kami pun duduk berjejer di atas rumput yang menghampar di pinggir danau. Menghadap ke tangah danau.
“Eh, mau ke mana, Dik?” tanyaku pada Tania yang beranjak dari duduk.
“Mau ke sana,” jawabnya seraya menunjuk ke arah bunga rumput liar warna pink yang dikerubungi kupu-kupu.
“Oke, tapi jangan jauh-jauh ya, mainnya!” Tania merespon dengan gumaman seraya mengangguk. Kemudian berlari mendekati kupu-kupu yang beterbangan mengitari bunga rumput liar yang terletak beberapa meter di belakang kami duduk.
“Ternyata di desa ini banyak ya, tempat-tempat indah,” ucapku memecah keheningan.
“Banyak, masih banyak lagi tempat indah yang belum kita kunjungi,” jelas Bayu.
“Oh, ya?”
Bayu bergumam merespon tanyaku. Kemudian mengambil kerikil dan melemparnya ke tengah danau hingga berulang kali. Sehingga menimbulkan suara batu membentur air. Bak simfoni yang memecah keheningan.
Aku melirik ke arah Tirta yang duduk di samping kiriku, ia tampak menikmati suasana tempat ini. Kemudian menoleh ke arah Bayu yang duduk di samping kananku, ia masih asik melempari air danau dengan kerikil.
Kemudian aku mengedarkan pandanganku mencari keberadaan Tania. Adikku itu masih asik bermain dengan kupu-kupu yang beterbangan.
“Ada ulat!” pekik Bayu, seraya menunjuk sampingku duduk. Sontak membuatku terlonjak, kaget. Kemudian reflek beringsut dan bergelayut ke lengan Tirta.
“Ciyeeeee,” ledek Bayu, seraya menunjuk tanganku yang masih bergelayut di lengan Tirta. Sepersekian detik aku dan Tirta saling pandang. Segera kulepaskan dan mengalihkan pandangan. Mengulum bibir, menunduk malu.
“Ma-ma’af.” Aku mendadak gagap. Tirta bergeming, wajahnya datar tanpa ekspresi. Kemudian meyambar Bayu dengan tatapan elangnya.
“Sorry Broo, canda!” ucap Bayu. Kamudian dia mengulum bibir menahan tawa. Sepertinya Bayu merasa puas karena lagi-lagi sudah berhasil melancarkan aksi jahilnya.
Lagian aku kenapa sih, kenapa mesti bergelayut di lengan Tirta? Memalukan! Aku jadi tak punya keberanian untuk menoleh ke arah Tirta lagi.
Kemudian aku berdiri dan berpamitan hendak pulang. Salah tingkah.
“Tunggu!” panggil Tirta. Aku bergeming tidak berani menoleh ke arahnya.
Melirik sekilas ke arah Tirta, dia bangkit dari duduk. Kemudian berdiri di sampingku, pun dengan Bayu. Posisiku kini di tengah-tengah mereka berdua.
“Memangnya kamu ingat jalan pulang ke rumahmu?” tanya Tirta. Aku menggigit bibir bawahku. Kemudian nyengir lalu menggeleng. Bayu terkekeh sementara Tirta tersenyum kecil. Aku menunduk dalam. Malu.
“Ya sudah, biar Bayu antar!” ujar Tirta.
“Lah, kok gue?” Cepat, Bayu menyahut.
“Jangan gue sendirian, nanti timbul fitnah. Kita anterin bareng-barenglah,” imbuh Bayu. Kemudian tanpa berkata Tirta mengayunkan langkahnya. Mendahului kami berdua. Menghampiri Tania lalu menggandeng tangan adikku.
“Sudah sore. Yuk, kakak antar pulang,” ucapnya. Dan Tania pun mengangguk.
Lantas aku dan Bayu mengekor di belakang Tirta yang menuntun Tania. Pulang.
Sesampainya di depan gerbang rumah, aku mengucapkan terima kasih dan mengajak Tirta dan Bayu mampir. Namun, keduanya kompak menolak. Karena hari sudah sore.
“Lain kali kita jalan-jalan bersama lagi, ya,” ucap Bayu, dan kuangguki.
Kemudian aku dan Bayu menoleh ke arah Tirta memandang. Rupanya di teras rumahku ada Mbok Tini sedang menyirami bunga-bunga di pot.
“Itu Mbok Tini, asisten rumah kami,” jelasku.
“Iya, aku tahu. Sebaiknya kamu hati-hati dengannya,” ujar Tirta.
Aku menatap Bayu bermaksud meminta penjelasan akan ucapan Tirta barusan, tapi Bayu menjawab dengan kedikkan bahu. Tampaknya dia pun tidak tahu. Sama sepertiku.
“Memangnya kenapa dengan Mbok Tini?” tanyaku kemudian pada Tirta.
“Yang penting hati-hati dan selalu tingkatkan kewaspadaan,” pungkas Tirta. Lalu dia mengajak Bayu pergi. Karena mobil ayah datang.
Aku bergeming. Bingung. Sebenarnya siapa yang perlu aku waspadai? Waktu itu Mbok Tini bilang aku harus hati-hati dengan Tirta, dan kini sebaliknya Tirta memperingatkan agar aku berhati-hati dengan Mbok Tini. Yang harus aku percaya ucapan siapa?
Aku terkesiap mendengar ayah membunyikan klakson mobil.
“Kok malah bengong, ayo dibuka gerbangnya!” titah ayah.
Aku memasang sengir kuda lalu menuruti titah ayah. Sementara Tania, ia sudah masuk ke dalam rumah sejak tadi. Haus katanya, ingin segera minum.
***
Aku mematung di ambang pintu kelas saat hendak masuk meletakkan tas, dan kudapati Tirta sedang mengobrol dengan seorang cewek yang duduk di bangkuku.
Siapa cewek itu?
Baru kali ini aku melihatnya berbicara dengan cewek. Sepertinya mereka sudah saling kenal lama. Terlihat dari cara mereka berbincang. Penuh keakraban.
Entah kenapa mendadak hatiku juga turut menghangat melihat mereka berdua berbincang penuh kehangatan.
“Dooor!”
Abdi berhasil mengagetkan, aku terlonjak dibuatnya. Kemudian aku mengusap dada di mana di dalamnya jantungku berdebar-debar.
“Hehehe, ma’af! Tampaknya aku berhasil membuatmu deg-degan, ya?” ujar Abdi. Kemudian dia tersenyum menampakkan deretan giginya. Lantas mengacungkan jarinya membentuk huruf V.
“Kita ke kantin, yuk!” ajak Abdi.
“Boleh,” balasku. Lagipula aku sangat tidak ingin berlama-lama di sini. Jangan tanyakan kenapa? Aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Sebelum pergi aku menoleh sekali lagi ke arah Tirta dan cewek yang duduk di sampingnya. Mereka masih tampak seru berbincang. Entah kenapa aku mendadak kesal.
N E X T
⬇
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
lanjutkan cemburunya
2022-08-02
0
Astuty Nuraeni
mulai cemburu ni
2022-07-15
0
atmaranii
hoho...ada yg cmburu
2021-10-22
0