Curiga

***

“Haaaarrrrr!” Seseorang di depan kami mengaum layaknya singa, dan melakukan gerakan seolah ingin menerkam aku dan Tania. Sontak Tania pun semakin histeris lalu beringsut bersembunyi di balik badanku. Ketakutan.

Aku lalu menuntun Tania menjauh dari orang aneh tersebut. Saat jarak kami sudah lumayan jauh, kami kompak menoleh ke belakang dan kudapati orang tersebut  sedang tertawa terbahak. Aku dan Tania saling pandang. Bingung dengan tingkah orang tersebut.

Kenapa  hampir semua orang di desa ini  aneh-aneh kelakuannya?

“Aaaaak!” Aku dan Tania kembali histeris, terlonjak, kaget. Saat balik badan dan tepat di hadapan kami terdapat seorang cowok berdiri tanpa ekspresi. Tirta.

“Kalian kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?” tanyanya.

Aku menggeleng, sementara Tania menunjuk ke arah cowok di dekat gubuk yang masih terpingkal-pingkal. Belum berhenti tertawa. Pandangan mata Tirta pun mengikuti arah yang ditunjuk Tania.

“Ada orang gila, Kak,” terang Tania dengan gaya polosnya. Masih sambil menunjuk ke arah gubuk.

Tirta tersenyum kecil seraya mengusap pipi cuby Tania. OMG! Ternyata dia manis juga kalau tersenyum. Ini kali pertama aku melihat dia tersenyum.

Aku pikir bibirnya kaku, tidak bisa tersenyum. Ternyata bisa juga dia tersenyum, tapi sangat irit dan pelit.

“Itu teman kakak, pasti tadi kalian dijahili sama dia, ya?” Cepat Tania mengangguk. Mengiyakan.

“Dia memang begitu orangnya. Jahil dan suka iseng,” terang Tirta.

“Bay, sini!” pekiknya, seraya melambai memanggil temannya yang sama anehnya dengan dirinya itu agar mendekat ke tempat kami berada.

“Oke,” jawab temannya dengan nada memekik di sela kekehan. Kemudian melangkah mendekat ke arah kami berada.

“Lu tadi apain mereka sampai ketakutan gini?” tegur Tirta, seraya menepuk bahu temannya itu. Dan lagi, temannya tertawa terbahak.

“Oh ya, kenalan dulu dong. Aku Bayu,” ucap teman Tirta seraya mengulurkan tangan setelah berhenti tertawa. Lantas kusambut uluran tangannya kemudian aku menyebutkan namaku juga memperkenalkan adikku.

“Oh, jadi ini cewek yang sering Lu ceritain ke gua?” ceplos Bayu.

Kemudian mereka berbisik, entah berbisik apa. Aku menunduk malu. Apa benar Tirta sering menceritakan soal aku ke temannya itu? Mendadak deg-degan.

“Sorry Bro, Lu tahu gue ‘kan. Mulut gue ini remnya nggak pakem,” ujar Bayu pada Tirta. Sontak membuatku menunduk menahan tawa. Tirta terlihat marah karena sahabatnya itu sudah membuka sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia di antara mereka saja.

Kemudian Tirta mengalihkan pembicaraan. Menerangkan siapa Bayu, padaku. Bayu sahabatnya Tirta, tapi bersekolah di sekolahan lain. Begitu terangnya.

“Oh, pantesan aku nggak pernah lihat Bayu sebelumnya,” ucapku.

“Sayang ya, coba aja kita dipertemukan lebih awal. Mungkin bakal beda lagi ceritanya,” gumam Bayu, tapi terdengar jelas di telinga ini. Dahiku berkerut dibuatnya. Tidak mengerti dengan ucapannya.

“Eum, maksudnya?” tanyaku kemudian.

“Ah, lupakan! Nggak penting,” balas Bayu seraya mengibaskan tangan di depan wajahnya.

Lagi, Bayu dan Tirta berbisik. Entah berbisik apa lagi.

“Bisa nggak kadar ketengilan Lu itu dikurangi?” sentak Tirta pasca berbisik.

“Ya elah, selow Bro. Gue kan cuma canda,” dalih Bayu.

Aku mengulum bibir menahan tawa.

Lantas mereka berdua mengajak aku dan Tania jalan-jalan keliling desa.

Saat ada kesempatan aku menanyakan soal sesajen yang diletakan di gubuk tadi. Ternyata sajen tersebut dipasang untuk mengusir hama. Warga desa sini masih kental dan percaya dengan hal-hal klenik semacam itu.

“Bukannya kalau mau mengusir hama itu pakai racun, ya.”

“Seharusnya begitu,” sahut Tirta.

“Itulah uniknya warga desa sini. Masih sulit meninggalkan klenik dan semacamnya.” Bayu menimpali.

“Apa tidak ada orang yang mengingatkan atau  berusaha merubah tradisi di sini?” tanyaku. Kepo maksimal.

“Ada, tapi nggak mempan. Tradisi semacam ini sudah mendarah—daging di sini,” jelas Bayu. Aku hanya bisa mengangguk dan ber-oh ria.

Setelah capek keliling desa, Bayu mengajak kami semua untuk istirahat sejenak di pinggir sebuah danau. Tempatnya indah dan sejuk. Banyak aneka warna bunga rumput liar. Sehingga mengundang aneka kupu-kupu untuk berkumpul di sekitaran danau. Aku dan Tania terkesima dibuatnya.

Kami pun duduk berjejer di atas rumput yang menghampar di pinggir danau. Menghadap ke tangah danau.

“Eh, mau ke mana, Dik?” tanyaku pada Tania yang beranjak dari duduk.

“Mau ke sana,” jawabnya seraya menunjuk ke arah bunga rumput liar warna pink yang dikerubungi kupu-kupu.

“Oke, tapi jangan jauh-jauh ya, mainnya!” Tania merespon dengan gumaman seraya mengangguk. Kemudian berlari mendekati kupu-kupu yang beterbangan mengitari bunga rumput liar yang terletak beberapa meter di belakang kami duduk.

“Ternyata di desa ini banyak ya, tempat-tempat indah,” ucapku memecah keheningan.

“Banyak, masih banyak lagi tempat indah yang belum kita kunjungi,” jelas Bayu.

“Oh, ya?”

Bayu bergumam merespon tanyaku. Kemudian mengambil kerikil dan melemparnya ke tengah danau hingga berulang kali. Sehingga menimbulkan  suara batu membentur air. Bak simfoni yang memecah keheningan.

Aku melirik ke arah Tirta yang duduk di samping kiriku, ia tampak menikmati suasana tempat ini. Kemudian menoleh ke arah Bayu yang duduk di samping kananku, ia masih asik melempari air danau dengan kerikil.

Kemudian aku mengedarkan pandanganku mencari keberadaan Tania. Adikku itu masih asik bermain dengan kupu-kupu yang beterbangan.

“Ada ulat!” pekik Bayu, seraya menunjuk sampingku duduk. Sontak membuatku terlonjak, kaget. Kemudian reflek beringsut dan bergelayut ke lengan Tirta.

“Ciyeeeee,” ledek Bayu, seraya menunjuk tanganku yang masih bergelayut di lengan Tirta. Sepersekian detik aku dan Tirta saling pandang. Segera kulepaskan dan mengalihkan pandangan. Mengulum bibir, menunduk malu.

“Ma-ma’af.” Aku mendadak gagap. Tirta bergeming, wajahnya datar tanpa ekspresi. Kemudian meyambar Bayu dengan tatapan elangnya.

“Sorry Broo, canda!” ucap Bayu. Kamudian dia mengulum bibir menahan tawa. Sepertinya Bayu merasa puas karena lagi-lagi sudah berhasil melancarkan aksi jahilnya.

Lagian aku kenapa sih, kenapa mesti bergelayut di lengan Tirta? Memalukan! Aku jadi tak punya keberanian untuk menoleh ke arah Tirta lagi.

Kemudian aku berdiri dan berpamitan hendak pulang. Salah tingkah.

“Tunggu!” panggil Tirta. Aku bergeming tidak berani menoleh ke arahnya.

Melirik sekilas ke arah Tirta, dia bangkit dari duduk. Kemudian berdiri di sampingku, pun dengan Bayu. Posisiku kini di tengah-tengah mereka berdua.

“Memangnya kamu ingat jalan pulang ke rumahmu?” tanya Tirta. Aku menggigit bibir bawahku. Kemudian nyengir lalu menggeleng. Bayu terkekeh sementara Tirta tersenyum kecil. Aku menunduk dalam. Malu.

“Ya sudah, biar Bayu antar!” ujar Tirta.

“Lah, kok gue?” Cepat, Bayu menyahut.

“Jangan gue sendirian, nanti timbul fitnah. Kita anterin bareng-barenglah,” imbuh Bayu. Kemudian tanpa berkata Tirta mengayunkan langkahnya. Mendahului kami berdua. Menghampiri Tania lalu menggandeng tangan adikku.

“Sudah sore. Yuk, kakak antar pulang,” ucapnya. Dan Tania pun mengangguk.

Lantas aku dan Bayu mengekor di belakang Tirta yang menuntun Tania. Pulang.

Sesampainya di depan gerbang rumah, aku mengucapkan terima kasih dan mengajak Tirta dan Bayu mampir. Namun, keduanya kompak menolak. Karena hari sudah sore.

“Lain kali kita jalan-jalan bersama lagi, ya,” ucap Bayu, dan kuangguki.

Kemudian aku dan Bayu menoleh ke arah Tirta memandang. Rupanya di teras rumahku ada Mbok Tini sedang menyirami bunga-bunga di pot.

“Itu Mbok Tini, asisten rumah kami,” jelasku.

“Iya, aku tahu. Sebaiknya kamu hati-hati dengannya,” ujar Tirta.

Aku menatap Bayu bermaksud meminta penjelasan akan ucapan Tirta barusan, tapi Bayu menjawab dengan kedikkan bahu. Tampaknya dia pun tidak tahu. Sama sepertiku.

“Memangnya kenapa dengan Mbok Tini?” tanyaku kemudian pada Tirta.

“Yang penting hati-hati dan selalu tingkatkan kewaspadaan,” pungkas Tirta. Lalu dia mengajak Bayu pergi. Karena mobil ayah datang.

Aku bergeming. Bingung. Sebenarnya siapa yang perlu aku waspadai? Waktu itu Mbok Tini bilang aku harus hati-hati dengan Tirta, dan kini sebaliknya Tirta memperingatkan agar aku berhati-hati dengan Mbok Tini. Yang harus aku percaya ucapan siapa?

Aku terkesiap mendengar ayah membunyikan klakson mobil.

“Kok malah bengong, ayo dibuka gerbangnya!” titah ayah.

Aku memasang sengir kuda lalu menuruti titah ayah. Sementara Tania, ia sudah masuk ke dalam rumah sejak tadi. Haus katanya, ingin segera minum.

*** 

Aku mematung di ambang pintu kelas saat hendak masuk meletakkan tas, dan kudapati Tirta sedang mengobrol dengan seorang cewek yang duduk di bangkuku.

Siapa cewek itu?

Baru kali ini aku melihatnya berbicara dengan cewek. Sepertinya mereka sudah saling kenal lama. Terlihat dari cara mereka berbincang. Penuh keakraban.

Entah kenapa mendadak hatiku juga turut menghangat melihat mereka berdua berbincang penuh kehangatan.

“Dooor!”

Abdi berhasil mengagetkan, aku terlonjak dibuatnya. Kemudian aku mengusap dada di mana di dalamnya jantungku berdebar-debar.

“Hehehe, ma’af! Tampaknya aku berhasil membuatmu deg-degan, ya?” ujar Abdi. Kemudian dia tersenyum menampakkan deretan giginya. Lantas mengacungkan jarinya membentuk huruf V.

“Kita ke kantin, yuk!” ajak Abdi.

“Boleh,” balasku. Lagipula aku sangat tidak ingin berlama-lama di sini. Jangan tanyakan kenapa? Aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Sebelum pergi aku menoleh sekali lagi ke arah Tirta dan cewek yang duduk di sampingnya. Mereka masih tampak seru berbincang. Entah kenapa aku mendadak kesal.

N E X T

Terpopuler

Comments

👑Ria_rr🍁

👑Ria_rr🍁

lanjutkan cemburunya

2022-08-02

0

Astuty Nuraeni

Astuty Nuraeni

mulai cemburu ni

2022-07-15

0

atmaranii

atmaranii

hoho...ada yg cmburu

2021-10-22

0

lihat semua
Episodes
1 Rumah Baru
2 Sekolah Baru
3 Teman Baru
4 Sesajen Di Kolong Ranjang Tania
5 Sesajen Di Belakang Sekolah
6 Sajen Itu Ada Lagi
7 Ada Sajen Di Sawah
8 Curiga
9 Kesal
10 Pulang Dari Rumah Sakit
11 Tidak Mungkin Ayah Pelakunya
12 Mencari Pelaku
13 Pergi
14 Hilang
15 Tertangkap
16 Disekap
17 Ruang Pembantaian
18 Hanyut
19 Sadar
20 Sosok Yang Menyerupai Tania
21 Astral Projection
22 Kembali Dari Dunia Gaib
23 Mata Batin Bayu
24 Tolong
25 Mimpi Buruk
26 Gugur
27 Perpisahan
28 Mendadak Indigo
29 Sampai Tujuan
30 Kejanggalan
31 Misteri Keberadaan Tirta
32 Sihir Di Pabrik Singkong
33 Sepotong Kabar Soal Tirta
34 Pengendara Motor Ninja
35 Ke Danau
36 Mulai Menjalankan Misi
37 Tersesat Di Makam Angker
38 Bola Api
39 Gagalnya Rencana A
40 Rencana B
41 Ada Udang Di Balik Batu
42 Ritual Penumbalan
43 Tragedi Di Makam Tua
44 Teror Arwah Sekar
45 Angin Aneh
46 Tangisan Misterius
47 Minder
48 Sah!
49 Kerasukan di Malam Pertama
50 Bulan Madu
51 Gagal Romantis
52 Sesajen
53 Memancing
54 Tertangkap
55 Selamat
56 Disandera
57 Satu Ruangan dengan Hantu dan Hewan Berbisa
58 Bebas
59 Penunggu Rumah Sebelah
60 Kerasukan
61 Viral
62 Kecelakaan
63 Serangan
64 Gentayangan
65 Perjalanan
66 Tersesat
67 Terjebak di Dunia Lain
68 Penjara Jiwa
69 Banas Pati
70 Malih Rupa
71 Walik
72 Hantu Introvert
73 Telepon
74 Tipu Muslihat
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Rumah Baru
2
Sekolah Baru
3
Teman Baru
4
Sesajen Di Kolong Ranjang Tania
5
Sesajen Di Belakang Sekolah
6
Sajen Itu Ada Lagi
7
Ada Sajen Di Sawah
8
Curiga
9
Kesal
10
Pulang Dari Rumah Sakit
11
Tidak Mungkin Ayah Pelakunya
12
Mencari Pelaku
13
Pergi
14
Hilang
15
Tertangkap
16
Disekap
17
Ruang Pembantaian
18
Hanyut
19
Sadar
20
Sosok Yang Menyerupai Tania
21
Astral Projection
22
Kembali Dari Dunia Gaib
23
Mata Batin Bayu
24
Tolong
25
Mimpi Buruk
26
Gugur
27
Perpisahan
28
Mendadak Indigo
29
Sampai Tujuan
30
Kejanggalan
31
Misteri Keberadaan Tirta
32
Sihir Di Pabrik Singkong
33
Sepotong Kabar Soal Tirta
34
Pengendara Motor Ninja
35
Ke Danau
36
Mulai Menjalankan Misi
37
Tersesat Di Makam Angker
38
Bola Api
39
Gagalnya Rencana A
40
Rencana B
41
Ada Udang Di Balik Batu
42
Ritual Penumbalan
43
Tragedi Di Makam Tua
44
Teror Arwah Sekar
45
Angin Aneh
46
Tangisan Misterius
47
Minder
48
Sah!
49
Kerasukan di Malam Pertama
50
Bulan Madu
51
Gagal Romantis
52
Sesajen
53
Memancing
54
Tertangkap
55
Selamat
56
Disandera
57
Satu Ruangan dengan Hantu dan Hewan Berbisa
58
Bebas
59
Penunggu Rumah Sebelah
60
Kerasukan
61
Viral
62
Kecelakaan
63
Serangan
64
Gentayangan
65
Perjalanan
66
Tersesat
67
Terjebak di Dunia Lain
68
Penjara Jiwa
69
Banas Pati
70
Malih Rupa
71
Walik
72
Hantu Introvert
73
Telepon
74
Tipu Muslihat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!