***
Sudah kucari keberadaan Tania ke rumah-rumah tetangga terdekat, tapi mereka semua tidak mengetahui keberadaan adikku itu bahkan mereka tidak merasa kedatangan tamu yang berciri-ciri seperti yang kuperlihatkan di foto dalam ponselku.
Saat berpapasan dengan warga yang kebetulan melintas di jalan yang sama dengan yang kujejaki, aku kembali menunjukkan foto Tania. Namun, tak satu pun dari mereka yang melihat Tania.
Langkahku terhenti di sebuah rumah yang terlihat sederhana dindingnya terbuat dari bata merah sementara di sekelilingnya ditumbuhi aneka warna bunga-bunga. Asri. Suasananya pun terlihat tenang dan damai.
Kuketuk daun pintu berwarna cokelat kusam, selang beberapa saat keluarlah yang kuyakini si empunya rumah nan nyaman ini.
Aku tertegun sejenak, pun dengan si empunya rumah. Ya ampun, jadi ini rumahnya Tirta. OMG! Kok aku bisa sampai di sini ya? Apa ini pertanda kalau dia itu ... is apaan sih, aku. Stop halu Rania!
“Ha-hai,” ucap kami nyaris bersamaan. Kemudian kami sama-sama nyengir salah tingkah.
“Ini rumahmu?”
“Ada apa ke sini?”
Tanya kami secara bersamaan. Sejurus kemudian kami sama-sama terkekeh.
“Iya, ini gubukku,” jawabnya kemudian. Aku mengangguk-angguk seraya mengamati sekeliling.
Biar kata orangnya aneh, tapi rumahnya nggak mistis seperti yang kuduga.
“Eh, iya, silakan masuk atau mau ....”
“Enggak usah, duduk di sini saja,” selaku. Lantas aku duduk di kursi yang terbuat dari bambu yang terletak di teras rumahnya.
Sementara Tirta masuk ke dalam rumahnya. Kudengar dia berkomunikasi dengan seseorang di dalam sana. Memberitahukan bahwa ada aku di sini. Kurasa memberitahukan pada orang tuanya.
Benar seperti yang kuduga. Selang beberapa saat keluarlah seorang wanita paruh baya, yang memperkenalkan diri sebagai ibunya Tirta. Setelah itu ibunya Tirta kembali masuk ke dalam dan mempersilakan aku berbincang dengan putranya.
“Ini silakan di minum teh hangatnya!” titah Tirta seraya menunjuk secangkir teh yang masih mengepulkan uapnya. Aku mengangguk lantas meraih cangkir itu dan menyeruputnya sedikit.
“Terima kasih,” ucapku kemudian. Lantas kutaruh kembali cangkir berisi sisa teh itu ke atas meja kecil yang terbuat dari anyaman rotan.
“Maaf merepotkan,” imbuhku.
“Enggak repot kok. Oh ya, ada apa kamu ke sini?”
“Astaghfirullah!” pekikku saat aku melupakan tujuan utamaku.
“Kenapa?” Tirta terlihat ikut panik.
Kamudian aku menceritakan bahwa Tania kemungkinan hilang.
“Oke, aku bantu cari Tania,” tawarnya.
“Kamu yakin? Apa aku nggak merepotkan?”
“Sama sekali nggak merepotkan,” sahutnya cepat.
“Sebentar ya, aku hubungi Bayu sama Dian biar bantu nyari.”
Aku hanya bisa mengangguk nurut.
Setelah Tirta menelepon Bayu dan Dian selang beberapa menit keduanya pun datang, dan kami mulai melakukan pencarian.
Setelah dicari hingga ke penjuru kampung, tapi Tania tak jua kuketahui keberadannya. Aku memutuskan untuk menelepon Ayah. Namun, Ayah terdengar masih sangat sibuk di pabrik. Bahkan Ayah terkesan menyepelekan ucapanku.
“Gimana?” cecar Dian.
“Ayah menyuruhku pulang memeriksa sekali lagi di rumah,” jelasku.
“Kurasa ada benarnya. Yuk! Kita antar kamu pulang kita coba cek di rumahmu kali aja kan Tania sudah pulang,” ujar Bayu.
Kami pun bergegas ke rumah.
“Aww!” ringisku, saat aku tergelincir kerikil dan terjatuh.
Tirta langsung merangsek mendekat memastikan. Sampai menarik tubuh Bayu serta menyuruh Dian menyingkir demi bisa melihat keadaanku. Kemudian bergegas mencari dedaunan setelah dapat langsung diremas-remas hingga hancur.
“Tahan ya! Ini akan sedikit perih, tapi nanti setelahnya akan terasa enakan,” ujarnya lembut. Kemudian menempelkan dedaunan ke lutut juga sikuku yang luka.
“Perih,” rintihku.
“Tahan! Lagian kalau jalan itu ati-ati napa!” omelnya, sambil merobek bajunya. Kemudian mengikat lukaku dengan robekan bajunya.
Aku terbengong mengamati serta menikmati perlakuan Tirta padaku. Sakit dan perihnya mendadak sirna saat diperhatikan sedemikian rupa olehnya. Ah, hari ini Tirta terlihat lebih manis dari hari biasanya. Aku terkesima dibuatnya. Ia sampai menyobek bajunya demi untuk membalut lukaku. So sweet.
“Gimana sudah enakan?” Ucapan Tirta terdengar samar di telingaku. Aku tidak langsung menjawab. Sibuk mengamati parasnya yang terlihat tampan dan cute. Sejurus kemudian tatapan kami beradu dalam jarak yang lumayan dekat. Dalam hitungan detik.
“Kheeem!” Bayu berdehem, pun dengan Dian. Aku dan Tirta pun salah tingkah dibuatnya.
“Sudah cukup ya, bucin-bucinannya. Sekarang ayo kita lanjut ke rumah Rania,” ejek Dian, seraya menahan tawa.
“Bisa berdiri nggak?” tanya Tirta. Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
Lantas aku mencoba berdiri, tapi lututku terasa kaku dan perih saat kubawa berdiri. Hingga tubuhku limbung dan jatuh ke dalam rengkuhan Tirta.
Dalam hitungan detik kami berdua terpaku. Jantungku bertalu-talu tak menentu. Hatiku menghangat timbul gelenyar aneh saat berada dalam jarak sedekat ini dengan Tirta. Aku bahkan bisa merasakan deru napasnya yang hangat menyapu wajah ini.
Dian segera menarik tubuhku dari dalam rengkuhan Tirta dengan gusar.
“Sadar woy! Bukan muhrim!” pekik Dian, seraya mengambil alih memapahku. Aku tertunduk malu serta ber-istighfar dalam hati. Menoleh ke belakang kulihat Tirta masih bergeming di tempat semula. Kemudian lanjut berjalan setelah ditarik secara gusar oleh Bayu.
***
Harapanku kembali pupus saat sampai di rumah, dan Tania belum pulang.
“Kita mau cari ke mana lagi coba? Seluruh penjuru desa sudah kita telusuri,” ucap Bayu. Kami berempat sama-sama duduk di kursi teras rumah, kebingungan.
“Eh, kamu kabari Ayahmu biar segera melakukan tindakan.”
Sesuai saran Dian, aku segera menelepon Ayah.
Ayah pun berjanji akan segera pulang.
“Ran, kok asisten rumah tanggamu gerak-geriknya mencurigakan gitu,” bisik Dian, seraya mengarahkan pandangannya ke arah Mbok Tini berada.
“Iya, dia memang begitu orangnya aneh dan misterius,” jelasku.
“Tapi, aku nelihat aura aneh, Ran. Hitam pekat,” jelas Dian.
“Memangnya kalau auranya hitam pekat begitu apa artinya?” tanyaku penasaran.
Setelah mendengarkan penjelasan yang Dian paparkan bahwa aura yang dimiliki Mbok Tini itu sangat buruk, aura kejahatan menyelimutinya. Semakin menguatkan rasa curigaku pada Mbok Tini.
Selama ini aku mencurigainya bahwa dialah si pemasang sajen itu, bahkan aku pernah mengadu pada Ayah akan keanehan sikapnya. Juga kuceritakan pada Ayah akan penemuan kerudung di kamar Mbok Tini yang sama persis dengan yang dipakai si pemasang sajen. Namun, Ayah memperingatkan aku agar jangan su’udzon karena kerudung semacam itu banyak yang sama. Menuduh tanpa bukti yang akurat sama saja fitnah, dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
N E X T
⬇⬇⬇
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
itu muda mudi umurnya berapa Thor? kok udah so sweet an begindang
2022-08-08
0
atmaranii
ayahnya Dnger anak ilang prsaan nyantai aj y..heran..
2021-10-22
0
Nawan Damanik
Mbok MATI NI, Ngatini, Ngatemi, Ngatini
2021-04-20
0