***
Setelah memarkirkan mobil sepulang dari pabrik, Ayah langsung berlari mendekati aku dan teman-teman yang tengah duduk di teras. Ayah terlihat begitu khawatir.
“Gi-gimana? Eum, Tania sudah ketemu?” tanya Ayah, gusar. Aku dan yang lain menggeleng lesu.
“Ya Allah, kamu ke mana, Nak?” ucap Ayah lirih, seraya mengusap wajah kemudian mengacak rambut dengan kasar. Lanjut berkacak pinggang, mengulum bibir, Ayah tampak bingung.
“Sudah cari ke mana saja?” tanya Ayah, setelah terdiam beberapa saat.
“Sudah dicari ke mana-mana, Yah, tapi nggak ada,” jawabku. Ayah menunduk sedih, pun denganku dan teman-teman lainnya.
Kami semua bingung harus melakukan tindakan apa lagi?
“Begini saja, Om. Kita lapor ke Pak RT. Minta bantuan warga untuk mencari Tania.”
Ayah mengangguk setuju dengan saran Tirta, dan langsung pergi ke rumah Pak RT. Sementara aku dan teman-teman kembali berusaha mencari Tania. Keliling desa lagi.
Namun, hingga menjelang magrib Tania belum ditemukan. Sesuai koordinasi dari Pak RT jika menjelang magrib Tania belum ditemukan maka pencarian dihentikan sejenak, dan akan dilanjutkan ba’da isya. Semua pun pulang ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri, makan, dan lain sebagainya. Pun dengan Tirta, Bayu dan Dian, mereka juga pulang ke rumah masing-masing.
Aku dan Ayah kembali ke rumah. Berharap saat sampai rumah Tania sudah pulang, tapi nyatanya di rumah sepi. Tak ada seorang pun. Bahkan Mbok Tini dan Pak Ramat juga sudah tidak ada di rumah. Padahal belum waktunya mereka pulang. Gelagat Mbok Tini dan Pak Ramat sejak siang tadi memantik rasa curigaku.
“Yah,” panggilku, dan Ayah menyahuti dengan gumaman. Setelah selesai membuka kunci pintu, Ayah lantas menoleh ke arahku.
“Ada apa?” tanyanya, seraya menatapku lekat. Saat aku hanya terdiam, Ayah menyentuh bahuku dengan lembut. Ayah antusias menunggu kalimat selanjutnya dariku, tapi aku ragu hendak melanjutkan kalimat yang terjeda ini.
“Ada apa? Kalau ada yang mau dibicarakan, bicaralah!”
Aku menggeleng, tidak berani melanjutkan tanya. Sebenarnya aku ingin bertanya soal obrolan Ayah dengan seseorang di ujung telepon kala itu. Yang membahas soal sajen dan tumbal untuk pabrik, tapi aku tak punya keberanian untuk melanjutkan tanya. Takut Ayah tersinggung dan marah.
“Aku hanya khawatir sama keadaan Tania, Yah.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Ayah juga khawatir, tapi mau bagaimana lagi. Kita nggak tahu Tania ada di mana. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah bersabar, berdoa, dan berusaha mencari adikmu sampai ketemu dalam keadaan apapun.”
Aku mengangguk setuju dengan yang Ayah katakan.
“Yah, apa nggak sebaiknya kita kabari Mama soal hilangnya Tania?” Aku lanjut mengulum bibir setelah berucap demikian, takut melukai perasaan Ayah.
Ayah termenung sejenak. Tampaknya sedang memikirkan saran dariku.
“Iya, nanti ayah kabari Mamamu,” ucapnya kemudian, sambil mengusap bahu dan lanjut mengusap pucuk kepala ini.
“Sekarang, ayo kita masuk dan bersih-bersih!” ajak Ayah. Aku mengangguk setuju.
Kemudian aku dan Ayah bergegas masuk ke dalam rumah, dan langsung menghidupkan semua lampu. Kemudian sama-sama pergi ke lantai atas, melihat ke kamar Tania. Masih kosong.
Aku dan Ayah menunduk lesu. Kemudian pergi ke kamar masing-masing.
***
Usai bersih-bersih diri, aku duduk di atas kasur sambil melihat video serta foto-foto Tania yang ada di ponselku. Baru saja sehari nggak ketemu rasanya rindu ini sudah begitu beratnya. Sejak dia lahir aku dan dia tidak pernah berpisah kecuali saat kami pergi bersekolah.
Aku terperanjat oleh suara pintu kamar yang diketuk dari luar. Beringsut dari atas ranjang, kubiarkan ponselku tergeletak di atas kasur, dan bergegas membuka pintu. Kupikir Tania, ternyata Ayah.
“Ada apa, Yah?”
“Ayah mau cari Tania lagi. Kamu di rumah saja, ya. Nanti kalau Tania pulang kabari ayah!”
“Tapi Yah, ini kan belum ba’da isya. Kata Pak RT ....”
“Kelamaan nunggu ba’da isya. Ayah takut Tania kenapa-napa.” Ayah menyela ucapanku dengan cepat.
“Iya, Yah. Hati-hati! Kabari Rania, kalau Tania sudah ketemu, Yah.”
“Iya, Sayang,” balas Ayah. Setelah mengusap dan mengecup pucuk kepala ini, Ayah pun bergegas pergi keluar rumah mencari Tania.
***
Malam semakin larut, Ayah belum pulang juga belum memberi kabar soal Tania. Aku mondar-mandir di depan pintu ruang tamu. Menyingkap gorden melihat keluar rumah. Namun, belum ada tanda-tanda Ayah datang. Pun dengan Tania. Menutup kembali rapat-rapat gordennya lalu bersandar di balik daun pintu. Rasa khawatirku akan keadaan Tania telah mencapai puncaknya.
Kamu di mana, Dek?
Pulang, Dek!
Tiba-tiba aku teringat soal lorong yang berada di bawah tanah itu. Apa iya, Tania ada di sana?
Bergegas mencari senter. Tanpa pikir panjang aku langsung menyusuri lorong bawah tanah yang gelap, pengap, dan mencekam. Demi Tania, aku berusaha menepis rasa takutku. Terus melangkah maju menyusuri lorong.
Namun, sudah berjalan cukup jauh aku belum juga mencapai ujung. Senter kusorotkan lurus ke depan. Sepanjang jangkauan sorot senter belum juga terlihat ujung lorong ini. Berapa jauh lagi aku harus berjalan?
Duh, mana daya senternya semakin menipis lagi. Lupa ini senter sudah lama nggak dicas. Aku pun merasa was-was. Kalau senternya habis dayanya maka aku akan terjebak di tengah lorong yang gelap gulita ini, dan entah apa yang akan terjadi padaku nantinya. Tanpa senter, di sini tidak ada pasokan cahaya sama sekali.
“Alhamdulillah,” ucapku lega. Saat akhirnya aku sampai di ujung lorong. Saat senter benar-benar sudah temaram sorotnya.
Di ujung sini terdapat sebuah pintu yang kuyakini kalau sudah dibuka maka akan langsung masuk ke dalam rumah seseorang. Entah rumah siapa? Tapi kemungkinan besarnya ini rumah pemilik si pemasang sajen di bawah kolong ranjang Tania itu.
Kudorong papan persegi berbentuk daun pintu berwarna cokelat kusam yang terletak tepat di depanku, tapi tak bisa. Lantas kucoba menggesernya ke kiri dan kanan. Sama tak bisa dibuka juga. Pun saat kutarik keluar. Tidak terbuka juga. Kurasa dikunci dari dalam pintu ini.
“Argh! Sial!” Emosiku tersulut hingga tanpa sadar aku menggebrak pintu di depanku.
Balik badan dan bersandar pada daun pintu sambil terus menyorotkan senter yang sudah meredup. Aku bingung. Menatap lurus ke depan, ke ujung lorong nun jauh dan gelap. Entah harus bagaimana lagi? Kalau balik pulang, aku yakin sebelum sampai rumah senterku pasti sudah mati. Aku nggak yakin bisa berjalan dalam lorong yang gelap gulita seperti ini.
Mau masuk dan memeriksa serta memastikan apa Tania ada di dalam sana, tapi nggak bisa. Diam di sini juga suasanya mencekam.
“Aww!” rintihku, saat pintu tiba-tiba terbuka entah oleh apa dan siapa? Aku jatuh dan langsung dalam posisi terduduk.
Kemudian aku bangkit dari duduk menebah pantat yang kotor akibat terkena debu dan sakit pasca membentur lantai.
Mataku membulat sempurna saat balik badan dan mendapati seseorang yang berdiri tepat di hadapanku. Orang di depanku berdiri tanpa berucap sepatah kata pun.
Menyipitkan mata menajamkan penglihatan. Memastikan siapa orang yang berdiri di depanku ini. Cahaya di ruangan ini redup, temaram, jadi tidak jelas siapa dia? Senterku juga sudah mati sekarang. Kuketuk-ketukkan ke telapak tangan satunya berharap senternya masih bisa menyala, tapi tetap tidak menyala juga.
Saat aku akan berusaha sekali lagi mengetukkan senter ke telapak tangan, orang di hadapanku merebutnya lalu melemparnya begitu saja ke sembarang tempat. Sehingga menimbulkan suara benda beradu dengan benda lainnya. Entah membentur tembok atau lantai.
Kemudian aku diseretnya setelah pintu lorong ditutup dan dikunci.
“Kamu siapa? Saya mau dibawa ke mana?”
Orang yang menyeretku tidak menjawab. Saat melintasi sebuah kamar yang kuyakini ini kamar di ruangan bawah tanah, aku mencium aroma anyir darah. Entah darah apa?
Perutku pun seketika bergejolak. Mual. Bahkan ada aroma busuk juga di sini. Seperti bau bangkai. Entah bangkai apa?
Setelah menaiki tangga, dan sampai di lantai atasnya ruang bawah tanah tadi, tubuhku didorong masuk ke dalam sebuah ruangan. Sepertinya ini sebuah gudang. Cepat aku menoleh keluar bertepatan saat orang yang menyeretku akan menutup daun pintu. Sekilas aku melihat wajahnya, tapi masih samar. Namun, terlihat tidak asing.
N E X T
⬇⬇⬇
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
👑Ria_rr🍁
cerita dibalik tirai selalu datang dan memberi jejak
2022-08-08
0
👑Ria_rr🍁
aneh sikap ayahnya,
2022-08-08
0
Irma Sari
Hrs nya Rania jgn gegabah, main masuk ruang bawah tanah, dg senter yg batre nya mo abis pulak...
klo gini kan mlh ilang 22 nya kan??
2021-09-08
1